
























Siapa yang tidak penasaran saat mengetahui sejumlah aktor ternama yang hidup di jalur action bekerjasama untuk sebuah film action yang menjanjikan hiburan yang menyenangkan dan dikomandoi oleh Sylvester Stallone ? Rasanya hampir semua pria dan para pecinta action bersemangat menantikan film tersebut. Menariknya lagi, proyek ambisius dari Sylvester Stallone tersebut didekasikan untuk genre action tahun 80-an yang penuh dengan ledakan, brutal, keras, menegangkan sekaligus menyenangkan tanpa peduli plot. Film berjudul The Expendables tersebut diramaikan oleh sejumlah bintang action yang memiliki basis fans yang cukup kuat, semisal Sylvester Stallone, Jet Li, Jason Statham, Dolph Lundgren, Mickey Rourke, Eric Roberts, Gary Daniels hingga penampilan cameo dari Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger. Menggiurkan, bukan ? Sayangnya Van Damme, Kurt Russell dan Steven Seagal menolak untuk bergabung, padahal dengan hadirnya mereka mungkin The Expendables bakal lebih terasa menyenangkan dan tentu saja komplit. Ah, sayang sekali. Bahkan aktor laga favorit saya semasa masa kecil semacam Mark Dacascos, Chuck Norris dan Michael Dudikoff juga tak hadir.








Sebelumnya saya ingin beritahukan kepada kalian bahwa saya bukanlah fans dari Avatar : The Last Airbender dan hanya pernah menontonnya sesekali, jadi ulasan berikut tak akan membandingkan filmnya dengan versi serial animasinya. Saya menulis ulasan ini berdasarkan apa yang saya lihat dari kacamata seorang penggemar film, bukan fans serialnya. Menulis ulasan film ini sendiri cukup membingungkan bagi saya karena saya tidak tahu harus memulainya darimana. Satu hal yang pasti, saya tidak menemukan kenikmatan dan kepuasan saat menyaksikan The Last Airbender. Film ini sukses membuat saya merasa depresi, bosan, mual, pusing dan menyesal. Di awal film memang The Last Airbender cukup enak untuk dinikmati dan lumayan menjanjikan, namun menginjak pertengahan hingga akhir, penggarapannya malah semakin semrawut saja. Bahkan Dragonball Evolution masih lebih mending jika saya dipaksa untuk membandingkannya dengan film semenjana ini. Mengutip dari komentar yang biasa diucapkan oleh Simon Cowell, "terrible".


Killers merupakan film komedi romantis terbaru besutan Robert Luketic yang dirilis khusus untuk dikonsumsi sebagai hiburan di musim panas. Untuk memeriahkan suasana dan menarik minat penonton, maka dipasanglah dua idola Amerika, Katherine Heigl dan Ashton Kutcher, sebagai bintang utama di Killers. Ini merupakan kedua kalinya bagi Heigl untuk bekerjasama dengan Luketic setelah sebelumnya pernah diarahkan di The Ugly Truth yang cukup manis. Sebelum membuat Killers, Luketic sudah pernah menelurkan beberapa film yang kualitasnya bisa dibilang lumayan, semisal Win a Date with Tad Hamilton!, Monster in Law, Legally Blonde dan 21. Berbeda dengan film - film yang pernah diarahkan oleh Luketic sebelumnya, Killers akan mengusung genre action meski sajian utamanya tetaplah komedi romantis. Akankah reuni Luketic dan Heigl bisa menyajikan hiburan yang manis dan menghibur ?
Ashton Kutcher dan Katherine Heigl memang pilihan yang cukup tepat dan bagi kebanyakan orang tentu menyenangkan bisa melihat mereka beradu akting bersama, apalagi karakter mereka adalah pasangan. Namun saya pribadi sebal melihat mereka. Bukan karena benci, melainkan bosan melihat mereka terus bermain di film ringan seperti ini. Heigl dan Kutcher bukanlah aktor sembarangan dengan kualitas akting ecek - ecek, mereka bisa berakting dengan sangat baik. Buktinya adalah Heigl menang Emmy berkat aktingnya di Grey's Anatomy dan Kutcher pernah bermain apik di Butterly's Effect. Sementara di Killers ? Jangan berharap banyak. Karakter yang dimainkan oleh Heigl disini tak jauh berbeda dengan peran dia yang biasanya dalam komedi romantis, begitu pula dengan Kutcher. Saya akui chemistry keduanya disini lumayan mengena, tapi saya sudah mulai bosan melihat keduanya melakoni peran yang setipe. Sementara cast yang lain tidak membantu. Jika kalian sudah terbiasa melihat karakter bodoh dalam film komedi aksi, maka di Killers kalian akan kembali menemuinya dengan jumlah yang relatif banyak.



Jika membicarakan masalah akting, maka jagoan utama tertuju kepada Lea Michele dan Jane Lynch. Mereka yang membuat Glee terasa hidup. Karakter Rachel yang ambisius dan Sue yang kejam berhasil mereka wujudkan dengan sempurna. Deretan cast lain yang bermain bagus yaitu Matthew Morrison sebagai Will yang bijaksana, Chris Colfer menjadi Kurt yang gay, Cory Monteith memerankan Finn yang lugu dan Jayma Mays sebagai Emma yang takut akan kotor. Masih didukung pula oleh sederetan bintang tamu yang berakting ciamik seperti Neil Patrick Harris, Kristin Chenoweth, Idina Menzel dan Molly Shannon. Sayangnya, beberapa karakter utama malah mendapat porsi yang kurang untuk bisa mengeksplor kemampuan akting mereka. Sejauh ini saya belum dibuat terpukau oleh Dianna Agron dan Jenna Ushkowitz. Karakter Quinn yang cenderung flat membuat Dianna kurang mendapat tantangan. Saya tahu Dianna bisa bermain bagus karena ada sedikit momen yang menguras emosi dan melibatkan Quinn, Dianna cukup bagus disana. Sementara untuk Jenna, entahlah, karakter Tina sulit untuk melekat di hati saya. Meski sudah mendapat porsi yang cukup besar, nyatanya Jenna kurang berhasil menghidupkan Tina. Tidak buruk, tetapi juga tidak bagus.

erry

epada Glee : The Music, Vol. 1. Memuat 17 track yang ear-catchy dan cenderung populer dibandingkan vol setelahnya. Saya akrab dengan hampir semua track di album ini, bahkan beberapa diantaranya sudah menjadi favorit saya sejak lama. Itulah alasan utama saya memilih album ini disamping karena hanya album Glee inilah yang nyantol di telinga keluarga saya, haha. Vol. 2 terlalu serius dengan dipenuhi tembang lawas yang bertempo slow dan mendayu - dayu sementara vol. 3 kurang akrab di telinga karena banyaknya lagu Broadway.design and code by CSSReflex, supported by SloDive. Converted by Smashing Blogger for LiteThemes.com.