February 6, 2011

REVIEW : ONCE


Saya sudah menonton Once sebanyak tiga kali dan saya memang sangat menyukai film dari Irlandia ini. Sebuah film musikal berbalut drama romantis yang sederhana namun sejatinya sama sekali tidak sederhana. Yang paling menarik perhatian tentu saja adalah soundtrack-nya, karena ini film musikal, yang sangat indah dan mengena, khususnya 'Falling Slowly' peraih Best Original Song di Oscar tahun 2007. Sebuah fakta dipaparkan, Once dibuat dengan masa syuting hanya 17 hari dan memiliki bujet yang terhitung rendah, sekitar $ 160 ribu. Tidak mengherankan karena memang Once memiliki setting yang sederhana, tak ada ledakan atau adegan yang membutuhkan spesial effect serta dibintangi oleh bintang - bintang amatir, kecuali kedua pemeran utamanya yang merupakan musisi. John Carney yang menjabat sebagai sutradara sekaligus penulis naskah memang ahlinya membuat film yang memiliki bujet yang sangat rendah namun kuat dalam hal cerita.

Yang unik, kita tidak akan mengetahui nama dari dua karakter utamanya di sepanjang film. Credit title hanya menyebut mereka sebagai Guy (Glen Hansard) dan Girl (Marketa Irglová), pun dialog terkesan sengaja menghindari percakapan yang mengharuskan mereka untuk saling memanggil nama. Jika diperhatikan, hanya segelintir saja yang diberi nama oleh Carney. Mengutip apa yang dikatakan oleh Shakespeare, apa arti sebuah nama ? Disini, Carney seakan menyiratkan sesuatu dengan tidak memberi nama kepada dua karakter utamanya. Menjadikan film romantis memiliki sedikit kesan 'misterius' di dalamnya. Guy dan Girl langsung diperkenalkan kepada penonton sejak menit awal, tanpa basa basi. Guy adalah anak seorang pemilik toko yang khusus memperbaiki pembersih debu dan memiliki passion yang tinggi terhadap musik. Mengamen di jalanan demi mendapat uang tambahan namun para pejalan kaki tak ada yang menghiraukannya karena Guy cenderung lebih suka memainkan musiknya sendiri ketimbang musik populer. Namun karena inilah dia kemudian bertemu dengan Girl, seorang imigran dari Ceko, yang menyukai musiknya dan pintar bermain piano.


Persahabatan dan benih - benih asmara mulai tumbuh diantara keduanya seiring film berjalan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai teman tapi mesra karena baik Guy dan Girl tak pernah secara eksplisit menyatakan perasaan mereka, malah lebih sering curhat mengenai pasangan masing - masing yang pergi jauh dari mereka. Guy memiliki impian untuk merekam demo musiknya dan Girl bersedia menawarkan bantuan kepadanya. Kisah cinta yang terjalin diantara mereka terbilang unik dan cukup menyentuh. Yang membedakan Once dari film romantis lain adalah tidak adanya rayuan penuh dengan dialog gombal nan memuakkan, bahkan keduanya tak saling menggoda, meski secara teknis iya. Bagi yang agak sensitif dengan adegan seks dan ciuman, bisa bernafas lega karena Guy dan Girl tidak melakukannya. Once adalah mengenai dua orang kesepian yang membutuhkan cinta dan disatukan karena memiliki hasrat yang sama terhadap musik.

Musik memang selalu cocok jika dipasangkan dengan cinta. Terkadang musik mampu berbicara lebih banyak ketimbang dengan kata - kata. Once yang merupakan film musikal ini memang tergolong minim dialog, berbeda jauh dengan apa yang dihadirkan oleh film paling romantis dekade ini, Before Sunset. Namun jangan salah sangka, musikal yang hadir disini bukan berarti para pemainnya mendadak bergoyang dan melantunkan lagu secara spontan di berbagai tempat yang tak lazim, namun lebih seperti ungkapan isi hati dari Guy dan Girl yang akan terasa aneh apabila dituturkan melalui dialog. Glen Hansard dan Marketa Irglová bermain natural dan meyakinkan meski pengalaman akting mereka masih minim, utamanya Irglová yang menjadikan Once sebagai debut aktingnya. Chemistry diantara keduanya terjalin begitu kuat.

Sulit untuk menjelaskan keapikan dari Once karena jujur saja meski saya sudah menontonnya sebanyak tiga kali, tetap saya temukan sesuatu yang baru dan perasaan yang diciptakan seusai menonton Once selalu sama. Kalian harus menontonnya sendiri untuk membuktikannya. Sebuah film romantis yang bertutur mengenai kisah cinta dari dua musisi kesepian ditampilkan secara tulus, realistis dan tidak berlebihan. Perasaan yang hangat dan tersentuh berhasil didapat seusai menyaksikannya. Mungkin kita akan tak nyaman dengan cara Carney mengakhiri film ini. Tapi, itulah solusi terbaik yang bisa dihadirkan dan itu menjadikan Once, bagi saya, sebagai salah satu film yang memiliki ending terbaik. Berbagai macam perasaan campur aduk saat menyaksikan scene terakhir yang memperlihatkan piano untuk si gadis dan ekspresi si pria. Sungguh sulit untuk dilupakan.

Outstanding

Trailer :



8 comments:

  1. Jadi ingat ketika kali pertama nonton film ini... Dan jatuh cinta dengan Falling Slowly. Ceritanya sih, kalo bagi saya, cukup dapat dinikmati. Tapi gak sampai buat saya terkagum-kagum. Hmmm... jadi ingin nonton lagi.

    ReplyDelete
  2. curang...
    review na di post setelah aq mau minjem film na..

    pinjam dong, zal..

    ReplyDelete
  3. I always love this kind of movie*thumbsup*
    best ending buat mreka bdua ya, we can call it happy ending 4 both of them :)

    lagu2nya enak gilak, mau yg kaya bgini lagi XD XD

    ReplyDelete
  4. Ternyata banyak juga yang suka dengan film ini, kirain hanya saya saja *malu*
    Falling Slowly emang mantab tuh, aku juga suka dengan If You Want Me. Ahhhhh, soundtrack film ini emang jagoan! Ceritanya aku akui emang biasa saja, tapi entah kenapa terasa special. Halah..

    ReplyDelete
  5. sesuatu yang biasa kalo diolah dengan tidak biasa akan meninggalkan kesan karena lewat kesederhanaan itulah segalanya akan terlihat keindahannya*halah*

    ReplyDelete
  6. I LOVE THIS MOVIE :)
    ceritanya simpel, tapi bener2 keren filmnya, lagu2nya juga romatis! :)

    ReplyDelete
  7. pengen download, d youtube g ada yg full, ada rekomen dmana gt g gan?

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch