September 6, 2011

REVIEW : TEMPLE GRANDIN


"My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them." - Temple Grandin

Ada yang mencuri perhatian di perhelatan Emmy Awards tahun lalu. Bukan mengenai kemenangan Modern Family atas Glee atau kemenangan besar The Pacific, tetapi Temple Grandin. Film Televisi (FTV) produksi HBO ini menggondol 7 piala yang menjadikannya sebagai pemenang terbesar kedua setelah The Pacific. Bahkan Temple Grandin asli menyempatkan diri untuk hadir. Setelah kemenangan besar di Emmy Awards, Temple Grandin agak terseok-seok di beberapa penghargaan berikutnya. Akan tetapi piala untuk Claire Danes selalu tersedia. Akting luar biasanya sebagai penyandang autis yang jenius mendapat pengakuan banyak pihak. Mendampingi Danes dalam FTV apik ini adalah pemain-pemain watak seperti Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn. Sementara yang ditunjuk sebagai nahkoda adalah pembesut Volcano dan The Bodyguard, Mick Jackson. FTV yang memulai syuting sejak bulan Oktober 2008 ini pertama kali tayang di kanal HBO pada 6 Februari 2010.

Mick Jackson kerap menggunakan teknik flashback untuk menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami oleh Grandin di masa mudanya. Yang perlu dicermati, Jackson terkadang menerapkannya sesuka hati sehingga dibutuhkan sedikit ekstra konsentrasi untuk menikmati FTV ini. Leo Trombetta memang berhasil menyambungkan potongan-potongan gambar dengan luar biasa, namun perpindahan setting waktu acapkali tanpa didampingi oleh penjelasan sehingga cukup membingungkan terlebih banyak lompatan waktu disini. Christopher Monger dan Merritt Johnson memulai kisah Grandin pada musim panas di tahun 1960-an saat Temple Grandin (Claire Danes) dikirim oleh ibunya, Eustacia (Julia Ormond), ke peternakan sang bibi, Anne (Catherine O'Hara) untuk menghabiskan libur musim panas. Seraya memikirkan akan melanjutkan pendidikan kemana, Grandin menemukan ketertarikan dengan hewan-hewan ternak. Sebuah kejadian yang membuatnya terserang rasa panik yang luar biasa menjadi semacam langkah awal Grandin untuk menemui kesuksesannya. Sementara orang-orang sekitar tak berhenti mencemoohnya karena tingkah lakunya yang berbeda dan Eustacia cenderung kurang memercayai kemampuan putrinya, Professor Carlock (David Strathairn), guru Grandin di sekolah asrama, justru memberi dukungan penuh. "Setiap pintu adalah sebuah kesempatan," kata Carlock pada Grandin. Pintu diartikan secara harfiah oleh Grandin. Tapi ini pun tidak sepenuhnya salah. Di balik pintu ada sesuatu yang baru yang mungkin saja kita tidak pernah sangka-sangka isinya, Grandin berani mengambil resiko untuk membukanya karena dia ingin melangkah maju.


Pintu-pintu inilah yang kemudian membawa Grandin kepada kesuksesan. Keberaniannya dalam mempertahankan pendapat, memelajari kesalahan dan terus melangkah ke depan menjadi kunci kesuksesannya. Kekurangan tidak menjadi hambatan baginya. Di dunia peternakan dimana para pria berkuasa, Grandin justru berjaya dan menaklukkan para pria yang semula meremehkannya dan segala penemuannya. Grandin menciptakan sebuah revolusi terhadap dunia peternakan di Amerika Serikat. Jackson memakai sudut pandang orang pertama dalam menuturkan kisah. Karakter pendukung mempunyai peranan penting dalam hidup Grandin, namun tidak bagi penonton. Yang harus penonton perhatikan hanyalah narasi Grandin. Itu pun tidak disampaikan dengan panjang lebar. Trio Jackson, Monger dan Johnson ingin agar Anda mendapatkan sensasi bagaimana rasanya menjadi Temple Grandin selama 2 jam. Bahkan terkadang apa yang dipikirkan oleh Grandin divisualisasikan ke dalam bentuk adegan yang unik. Naskah yang kuat bukanlah satu-satunya cara agar penonton merasa dilibatkan dalam film. Akting cemerlang dari Claire Danes adalah kuncinya. Ini adalah penampilan terbaik dari Danes dalam sejarah karir aktingnya. Temple Grandin memang film yang bagus, namun film ini tidak akan ada artinya tanpa akting Claire Danes yang luar biasa.

Rasanya juri Emmy Awards tak perlu menonton FTV ini hingga selesai untuk menobatkan Danes sebagai aktris terbaik. Hanya butuh 15 menit pertama bagi saya untuk segera berlari menemui Danes dan memberinya sejumlah piala. Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn pun bermain hebat dan hampir tanpa cela. Departemen akting yang begitu gagah perkasa ini untungnya memperoleh dukungan penuh dari departemen teknis yang memberi sumbangsih berupa editing yang rapi, sinematografi yang memikat dan tata kostum yang cantik. Ini adalah kombinasi yang tepat untuk menghasilkan sebuah film yang berkelas tinggi. Pada akhirnya Temple Grandin menjadi sebuah film yang sangat layak ditonton bukan hanya karena kualitasnya yang mumpuni, namun juga kisahnya yang menginspirasi disampaikan dengan halus tanpa kesan menceramahi. Grandin telah membuktikan kepada dunia bahwa kesuksesan seseorang berasal dari tekad yang kuat. Kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk menghambat seseorang untuk maju. Dibalik sebuah kekurangan pasti ada sebuah kelebihan. Temple Grandin juga menunjukkan bahwasanya tidak mudah hidup sebagai penyandang autis, beban yang dipikul sangat berat. Maka alangkah bijaknya jika kata 'autis' tidak lagi disematkan sebagai bahan tertawaan.

Outstanding

No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch