December 28, 2012

REVIEW : JACK REACHER


"You think I'm a hero? I am not a hero. And if you're smart, that scares you. Because I have nothing to lose." - Jack Reacher 

Saat sedang menghabiskan masa liburan di rumah, selonjoran di depan televisi, dan tidak menemukan acara yang menarik untuk ditonton, saya dengan sigap akan mengambil remote dan berpindah ke kanal manapun yang menayangkan serial hukum atau kriminal investigasi; NCIS, CSI, Criminal Minds, Law & Order, Castle, Bones, The Mentalist, you name it! Ada kepuasan tersendiri kala menyimak serial semacam ini. Disodori sebuah kasus, melakukan penyelidikan dengan terjun ke lapangan, merumuskan hipotesis, dan menebak siapa si ‘perpetrator’. Benar-benar mengasyikkan. Film teranyar dari Tom Cruise, Jack Reacher, memiliki pola penceritaan yang serupa dengan serial-serial kegemaran saya. Well... sebelum saya menyaksikannya langsung di layar lebar, tidak ada gambaran bagaimana film ini akan bertutur. Hanya menilik dari poster dan trailer, bayangan yang terbersit adalah, ini film aksi. Namun sebagai informasi tambahan untuk Anda, Jack Reacher beranjak dari novel berseri ‘Jack Reacher’ jilid ke-9 bertajuk ‘One Shot’ buatan Lee Child yang notabene bergenre misteri pembunuhan. Jadi, Anda tahu bukan apa yang seharusnya diharapkan? 

December 25, 2012

REVIEW : HABIBIE & AINUN


"Setiap terowongan pasti memiliki ujungnya. Setiap ujungnya pasti ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu." - Rudy Habibie

Begini, anggap saja saya sedang tidak ingin bertele-tele dalam menyampaikan maksud tulisan atau Anda sedang tidak rela membuang waktu untuk membaca tulisan saya ini yang mungkin akan melebar kemana-mana di paragraf-paragraf selanjutnya. Maka, dengan menimbang dua alasan tersebut, saya akan memulai ulasan teranyar buatan saya ini dengan sebuah kesimpulan dari hasil menyantap Habibie & Ainun selama kurang lebih dua jam di layar lebar tempo hari. Dengan senyum manis terurai dari bibir saya yang indah, saya akan berkata kepada Anda, Habibie & Ainun adalah sebuah film yang cantik. Salah satu dari sejumlah film Indonesia yang berhasil tampil mengagumkan di tahun 2012. Bersanding dengan 5 cm, yang sejatinya agak mengecewakan saya, Habibie & Ainun menggoreskan catatan manis bagi perfilman nasional di penghujung tahun. Saya cukup yakin, Bapak B.J. Habibie menyunggingkan senyum penuh kelegaan di kursi bioskop yang empuk kala mengetahui bahwa buku memoir yang digarapnya dituangkan ke dalam bahasa gambar oleh Faozan Rizal secara bersahaja. 

December 21, 2012

REVIEW : 5 CM


"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang mau kamu kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu."

Seusai Air Terjun Pengantin yang mencetak kesuksesan luar biasa di tangga box office meski kudu menerima cercaan dari sejumlah penikmat film, Rizal Mantovani ‘anteng-anteng saja’ dan malah membesut beberapa film yang nyaris tak tercium keberadaannya. Diprediksi karirnya akan kian memburam, tak dinyana-nyana di penghujung tahun 2012 Rizal Mantovani mencetak sebuah rekor raihan penonton melalui garapan teranyarnya, 5 cm, yang diangkat dari novel laris hasil buah karya Donny Dhirgantoro. Di tengah musim paceklik penonton yang melanda perfilman nasional, 5 cm berhasil menggiring 500 ribu penonton ke bioskop hanya dalam tempo 5 hari pertama penayangan! Sungguh sebuah prestasi yang menakjubkan. Jika ditelusuri lebih lanjut, hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. 5 cm adalah sebuah ‘popcorn movie’ dimana para penonton dimanjakan dengan sinematografi yang cantik, asupan komedi yang tinggi, serta mengusung jalinan kisah yang dekat dengan kehidupan anak muda zaman sekarang. Bisa jadi, saat ini Rizal Mantovani sedang tersenyum seraya berkata, “saya tahu apa yang kalian semua inginkan!.” 

December 20, 2012

MALAM PUNCAK PIALA MAYA 2012


Setelah melalui jalanan yang terjal dan berliku, gelaran pertama Piala Maya akhirnya mencapai puncaknya pada 15 Desember 2012 di The Bridge Function Rooms, Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta. Perhelatan yang resmi dimulai pada pukul 19.00 WIB berlangsung dengan sederhana, lancar, dan cukup meriah. Beberapa insan perfilman yang terlihat oleh pandangan mata saya menghadiri ajang penghargaan independen ini adalah Atiqah Hasiholan, Jajang C. Noer, Adinia Wirasti, Edward Gunawan, Gia Partawinata, Gesata Stella, Sunny Soon, Geraldine Sianturi, Ichwan Persada, Paul Agusta, hingga Sammaria Simanjutak. Sungguh menjadi salah satu pengalaman tidak terlupakan - dan kehormatan tentunya, bagi saya turut menjadi bagian dari keluarga besar Piala Maya. Bahkan saya tidak kuasa menahan haru di belakang panggung setelah nama saya disebut sebagai pemenang dari 'Kritik Film Terpilih'. Alhamdulillah... 

December 19, 2012

REVIEW : JAKARTA HATI


"Oh, ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?"

‘Ini jantung ibukota, dimana hatinya?’. Begitulah tagline dari film panjang kedua karya Salman Aristo, Jakarta Hati. Setelah menelurkan sebuah karya yang apik melalui Jakarta Maghrib, Salman Aristo nampaknya ketagihan untuk mengulik serba-serbi kehidupan Jakarta yang sebelumnya telah dia paparkan secara garis besar melalui film perdananya. Ya, Jakarta dalam Jakarta Maghrib tak ubahnya kota-kota besar lain di Indonesia. Apa yang terjadi di sana dapat pula terjadi di kota lain terlebih permasalahan yang diangkat umum terjadi di kota besar. Penggambarannya pun hanya sebatas pada gang-gang sempit dan perumahan. Nah, melalui Jakarta Hati, kesalahan-kesalahan dari film sebelumnya mencoba untuk ditebus. Nyaman dengan apa yang telah diperbuatnya, di sini pun pak sutradara yang juga merangkap sebagai penulis naskah, lagi-lagi menerjemahkan ide-idenya dalam bentuk film omnibus. Tak lagi terbagi ke dalam lima kisah pendek, akan tetapi meningkat menjadi enam kisah pendek. Isu yang diapungkan pun lebih serius. Meski belum mencapai sebuah kesempurnaan, namun Salman Aristo sedikit banyak telah berhasil menggambarkan kerasnya kehidupan di Jakarta melalui enam kisah berbeda warna. 

December 13, 2012

MARI BERKENALAN DENGAN PIALA MAYA!


Anda mungkin sudah mengenal apa itu Festival Film Indonesia (FFI) atau yang terbaru, Apresiasi Film Indonesia (AFI), namun saya meyakini beberapa dari Anda, khususnya yang bukan pengguna Twitter, masih asing dengan Piala Maya. Bukan sesuatu yang mengherankan sebetulnya mengingat gelaran ini pada tahun-tahun sebelumnya tak lebih dari sekadar apresiasi kecil-kecilan untuk perfilman nasional yang berlangsung di dunia maya dan diselenggarakan oleh akun @film_indonesia. Setelah dua tahun berturut-turut hanya membatasi diri dalam lingkup jejaring sosial, dan hanya sedikit meluas pada laman web, maka pengurus utama akun ini, Hafiz Husni, merasa perlu untuk melebarkan sayap Piala Maya. Caranya, dengan memboyong keluar gelaran ini dari dunia maya ke dunia nyata tempat dimana kita menjalani kehidupan yang sesungguhnya. 

December 9, 2012

DAFTAR PEMENANG FESTIVAL FILM INDONESIA 2012


"Seorang aktor itu pandai menggunakan topeng." - Slamet Rahardjo

Akhirnya Festival Film Indonesia 2012 (FFI 2012) yang konon kabarnya menghabiskan dana hingga mencapai Rp 16 Milyar berakhir sudah. Perhelatan akbar bagi insan perfilman nasional yang untuk tahun ini mengambil tempat di Benteng Vrederburg, Jogjakarta, masih dihiasi oleh pro dan kontra yang setia mengikuti sejak kemenangan Ekskul yang membuat banyak pihak meragukan kredibilitas acara ini. Untuk penyelenggaraan tahun ini, saya menilai telah ada kemajuan di beberapa hal meski secara keseluruhan tetap jauh dari kata memuaskan terlebih dari kacaunya pengaturan acara dan kamera yang membuat FFI 2012 menjadi bahan cemooh di dunia maya terutama dari kalangan insan perfilman sendiri. Dengan hasil akhir yang terkesan tak terorganisir dengan baik, banyak pihak kemudian bertanya-tanya, kemana larinya uang belasan milyar rupiah dari pemerintah? Saya pribadi sih, sebodo amat. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Saya nikmati saja Malam Puncak FFI 2012 yang tayang secara ‘live delay’ di SCTV dengan penuh semangat meski acara yang berlangsung nyaris tidak menunjukkan semangat. Hah... 

Baiklah, baiklah... Daripada saya berpanjang lebar mengulas acaranya itu sendiri yang mana telah banyak dibahas oleh mereka yang lebih mengerti mengenai ‘dunia kelam FFI’ di jejaring sosial, mari kita intip siapa-siapa saja yang berhasil menggondol Piala Citra semalam. Inilah para pemenang Festival Film Indonesia 2012 : 

December 2, 2012

REVIEW : LIFE OF PI


"In the end we will lose something. But the worse is not taking a chance to say goodbye." - Pi 

Saya masih duduk terdiam di bangku bioskop saat satu demi satu penonton mulai berdesak-desakan meninggalkan tempat duduk mereka menuju ke pintu keluar. Kacamata 3D yang hitam dan tebal berhasil menutupi air mata yang mengalir membasahi pipi sehingga penonton di sebelah saya tidak terheran-heran seraya menaikkan alis, “kenapa ini anak?”. Selama beberapa menit ke depan, eh bukan, errr... beberapa jam ke depan, saya masih kesulitan untuk melupakan apa yang telah saya saksikan selama 2 jam lebih itu. Bahkan, saya kehilangan kata-kata untuk bisa mendeskripsikan betapa mengagumkannya Life of Pi karya Ang Lee. Sungguh, ini adalah sebuah film yang luar biasa indah. Jika saja ‘gerimis lokal’ tidak turun usai menyaksikan film ini, mungkin saya akan seketika berdiri dan bertepuk tangan sekencang mungkin seperti yang saya lakukan ketika menyimak The Artist awal tahun ini. Anda mungkin akan merasa bahwa tulisan saya ini nantinya akan terkesan hiperbola, namun itulah kenyataan yang ada. Inilah yang saya rasakan. Anda boleh setuju atau tidak, Anda pun boleh percaya atau tidak. Akan tetapi bagi saya, Life of Pi adalah sebuah pencapaian sinematis yang sangat luar biasa. 

November 30, 2012

REVIEW : HELLO GOODBYE


"Kamu jangan marah sama perpisahan. Memaki perpisahan sama aja kamu mengutuk pertemuan." - Indah

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Korea Selatan melesak ke posisi atas sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler, setidaknya bagi warga Asia. Popularitas negara ini terbantu oleh produk dari industri hiburan mereka yang tergabung dalam ‘Korean Wave’ yang telah hampir satu dekade menjadi virus yang menginfeksi generasi muda. Tidak hanya Indonesia yang mengakui pesona Negeri Gingseng ini. Sebelumnya, Thailand melalui film bertajuk Hello Stranger telah menyoroti bagaimana fenomena demam Korea merebak di kalangan muda-mudi negara yang dipimpin oleh Raja Rama IX tersebut. Alurnya klasik, dua orang asing yang berasal dari negara yang sama tidak sengaja berjumpa dengan rasa benci atas satu sama lain sebelum akhirnya benih-benih cinta tumbuh. Akan tetapi cara kemasnya yang menarik membuat film menjadi enak untuk disimak. Beberapa tahun berselang setelah Hello Stranger dilempar ke pasaran, Indonesia mengikuti langkah dari negara tetangga. Film perdana Titien Wattimena sebagai sutradara, Hello Goodbye, memboyong setting ke Korea Selatan – atau dalam film ini bertempat di Busan. Konflik yang diangkat pun tak berbeda jauh dengan Hello Stranger hanya saja dituturkan lebih kalem, lebih dewasa, dan lebih manis di sini. 

November 28, 2012

REVIEW : MOUSEHUNT


"He's Hitler with a tail. He's "The Omen" with whiskers. Even Nostradamus didn't see him coming!" - Ernie 

Beberapa hari terakhir ini saya terhinggapi virus ‘susah move-on’ yang tengah mewabah di berbagai penjuru dunia dan menyerang manusia tanpa mengenal batasan usia, agama, suku, status sosial, maupun jenis kelamin. Sebuah ‘virus’ yang sangat berbahaya. Hanya saja, bukanlah persoalan asmara yang saya hadapi, melainkan... ya Anda tahu sendiri, berkaitan dengan hobi, yang ya Anda tahu sendiri... film. Di tengah pikiran yang sumpek lantaran tak kunjung menemukan gairah membara untuk menyelesaikan omong kosong bernama skripshit, mendadak saya ingin menyaksikan ulang film-film penuh kenangan manis. Maksudnya disini, film-film yang saya tonton di tiga tahun pertama tatkala rasa cinta kepada film mulai bersemayam di hati mungil ini. Maka Anda jangan terheran-heran jika dalam beberapa minggu ke depan Cinetariz akan dihiasi film-film yang disorotkan pertama kali ke layar putih lebar pada tahun 1996 hingga 1998. Dalam perjalanan melongok ke masa lampau, pilihan pertama jatuh kepada MouseHunt yang memasuki bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 1998. Ketertarikan saya kepada film ini lebih disebabkan oleh rasa ingin tahu dan kepolosan anak SD. Bagaimana mungkin sebuah film yang nampaknya aman dan ditargetkan untuk konsumsi keluarga – dinilai dari tampilan poster utama dan poster ‘movie stills’ – mendapat cap ‘Dewasa’ dari LSF? Hmmm... Dan saat saya menyaksikannya, pertanyaan itu masih belum terjawab. Jawaban baru saya dapatkan, 14 tahun kemudian! Ouch. 

November 24, 2012

REVIEW : LANGIT KE-7



"Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu." - Dania 

Jika pada akhirnya Langit Ke-7 tidak memenuhi harapan sejumlah pihak, setidaknya film ini masih bisa berbangga karena memiliki trailer yang menarik, sinopsis resmi yang bebas spoiler, serta desain poster yang rupawan. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film Indonesia kebanyakan. Ditunjuk untuk mengomandoi Langit Ke-7 adalah Rudi Soedjarwo yang akhir-akhir tengah menikmati menjadi sutradara film untuk konsumsi keluarga terutama setelah memperoleh respon positif dari berbagai kalangan. Dalam film panjangnya yang ke-22 ini, Rudi Soedjarwo kembali ke genre yang melambungkan namanya dalam percaturan perfilman Indonesia. Di sini, sekali lagi, beliau menjadikan lima gadis yang tergabung dalam suatu ‘geng’ sebagai sorotan utama layaknya Ada Apa Dengan Cinta?. Hanya saja, kelima gadis ini telah duduk di bangku kuliah dan persoalan yang mereka hadapi... jauh lebih pelik. Para gadis yang beruntung ketiban peran utama ini pun merupakan wajah-wajah segar yang belum pernah seliweran di layar lebar. Mereka adalah hasil dari penjaringan ‘Clear Hair Model’ yang di perhelatan sebelumnya telah bekerja sama dengan Rudi Soedjarwo dan membuahkan sebuah film televisi. Dan kali ini, memanfaatkan bakat-bakat baru – termasuk penulis naskah debutan, Virra Dewi – hadirlah sebuah film drama romantis dengan balutan fantasi berjudul Langit Ke-7 yang dilempar ke bioskop-bioskop nasional sejak 22 November 2012 silam. 

November 21, 2012

REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 2


"I thought we would be safe forever. But "forever" isn't as long as I'd hoped." - Bella

Tidak ada franchise yang beranjak dari novel berseri yang lebih fenomenal ketimbang The Twilight Saga. Bagaimana tidak, dari sejumlah franchise yang mengambil sumber dari karya sastra, hanya kisah percintaan terlarang antara manusia dan vampir ini yang mampu mengumpulkan basis massa dan pembenci dalam jumlah yang sama besarnya. Ketika salah satu seri dilempar ke bioskop, para penggemar dengan segera berbondong-bondong menyesaki bioskop seolah itu adalah satu-satunya hari dimana film tersebut diputar sementara ‘haters’ memenuhi linimasa dengan segala nyinyiran dan cibiran terbaik mereka untuk seri ini. Anda tidak akan menemukan segala kehebohan ini dalam Harry Potter, The Hunger Games, apalagi The Lord of the Rings. Dan, franchise yang fenomenal ini pun telah memasuki edisi terakhirnya dalam The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II. Layaknya seri penutup dari penyihir remaja asal Inggris, seri penutup dari ‘sparkling vampire’ ini pun sejatinya dibuat untuk satu film yang kemudian diputuskan untuk dipecah menjadi dua demi memuaskan hasrat ‘fans’ yang tentunya mengharapkan perlakuan istimewa sebelum berpisah dengan sang idola. Saya sesungguhnya cukup penasaran dengan cara Bill Condon menutup franchise yang jilid terakhirnya ini mengusung tagline yang terbilang berani, ‘the epic finale that will live forever’. Akankah The Twilight Saga: Breaking Dawn Part II menjadi sebuah penutup yang epik atau malah justru anti-klimaks? 

November 15, 2012

REVIEW : WRECK-IT RALPH


"I'm bad, and that's good. I will never be good, and that's not bad. There's no one I'd rather be then me." - Ralph 

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya kerap mencuri-curi waktu untuk bermain ding dong di bioskop usai jam sekolah. Saya tidak bisa mengingat secara pasti judul game yang kerap saya mainkan – hanya bisa mengingat bahwa kebanyakan berjenis ‘fighting games’, namun satu yang jelas adalah Street Fighter. Oh tentu saja, ini permainan semua orang, bukan? Ketika akhirnya ‘rahasia kotor’ saya ini terbongkar, orang tua membelikan Nintendo sehingga saya tidak lagi keluyuran dan membuang-buang recehan. Dan, Nintendo ini berjasa merekatkan hubungan antar anggota keluarga. Kami memiliki hari dan jam tertentu untuk bertanding melawan satu sama lain memainkan game mengenai tank yang sialnya lagi-lagi saya lupa judulnya. Tahun demi tahun berlalu, teknologi berkembang sedemikian pesat, Nintendo perlahan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh PlayStation dimana pada tahun-tahun awal saya berhasil diracuni oleh unyu-unyu ‘racing games’ macam Chocobo Racing dan Crash Team Racing. Setelah sempat menjadi maniak game selama beberapa tahun, saya akhirnya meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan demi game demi fokus kepada pendidikan *uhuk!*, dan tentunya hobi saya yang utama, film. Sekian lama tidak menyentuh konsol permainan, hati ini mendadak rindu kala beberapa hari lalu menyimak Wreck-It Ralph di layar bioskop. Tidak menyangka sama sekali jika film yang awalnya sempat saya remehkan ini ternyata mampu merebut hati saya dengan mudahnya dan seketika bertengger di posisi puncak ‘Film Animasi Terfavorit 2012’ bersanding bersama Frankenweenie

November 13, 2012

REVIEW : PARANORMAL ACTIVITY 4


"There's something in the street." - Alex 

Seusai sebuah franchise dimana muncratan darah dan alat-alat penyiksa tubuh manusia digeber sedemikian rupa serta menjadi sebuah pemandangan yang biasa dikhatamkan pada instalmen ketujuh pada tahun 2010 silam, Halloween tidak bermurung hati lantaran sang pengganti telah ditemukan. Paranormal Activity, sebuah film horor berbujet murah yang menerapkan teknik kamera handheld layaknya The Blair Witch Project, secara mengejutkan sanggup mencetak ‘hit’ di tangga box office setelah mengundang jutaan penonton untuk ditakut-takuti di dalam bioskop. Tak hanya penonton, para kritikus pun mencintai film ini. Dengan raihan angka yang terbilang sangat tinggi – terutama jika diukur menggunakan perbandingan bujet yang harus digelontorkan – maka bukan sesuatu yang mengejutkan saat sang kreator, Oren Peli, memutuskan untuk melanjutkan aktivitas paranormal di layar lebar. Didukung oleh basis penggemar yang besar, Paranormal Activity pun rutin menelurkan sekuel setiap tahun dengan hasil yang memuaskan meski jilid-jilid yang mengikutinya ini ditanggapi dingin oleh kritikus. Dan memang, setelah jilid awal yang cukup seram, kelanjutan dari seri ini tidak lebih dari sekadar repetisi. Kecuali Anda adalah penggemar berat, maka setiap sekuel, khususnya Paranormal Activity 4 yang baru saja dilempar ke pasaran, hanya akan membuat Anda tertidur pulas di dalam bioskop dan baru terbangun di menit-menit terakhir. 

November 5, 2012

REVIEW : SKYFALL


"Mommy was very bad." - Silva

Seperti biasa, saya duduk manis di dalam bioskop ditemani segelas minuman bersoda serta berondong jagung asin yang menggoyang lidah hanya beberapa menit sebelum film utama dimulai demi menghindari trailer yang kerapkali mengumbar spoiler tanpa diminta. Untuk sesi kali ini, saya mengajak partner in crime tercinta untuk melahap Skyfall bersama supaya dapat berdiskusi ringan seusai menonton. Setelah beberapa iklan dari sponsor berseliweran di depan saya, lampu mulai diredupkan pertanda film segera dimulai. Dengan tampuk kepemimpinan ditempati oleh Sam Mendes, rasa penasaran pun menguasai diri. Akan seperti apa jadinya James Bond di tangan seorang sutradara yang terbiasa mengolah sajian drama bernuansa muram penuh pendalaman karakter dengan konflik utama yang seringkali tidak jauh-jauh dari kehidupan rumah tangga atau keluarga? Berdasarkan apa yang diutarakan oleh Mendes dalam sebuah wawancara, Skyfall sedikit banyak terinspirasi kepada cara Christopher Nolan memerlakukan Batman dalam The Dark Knight. Maka bukan sesuatu yang mengejutkan apabila film ini akan terasa lebih gelap ketimbang dua pendahulunya dari ‘generasi Daniel Craig’, Casino Royale dan Quantum of Solace

October 31, 2012

20 FILM HOROR PILIHAN CINETARIZ UNTUK HALLOWEEN


Fuh, akhirnya kelar juga menuntaskan tulisan '20 Film Horor Pilihan Cinetariz Untuk Halloween' setelah berhari-hari lamanya saya mengalami dilema mengenai film-film yang mana saja yang lolos ke 20 besar dan mana saja yang terpaksa dieliminasi. It's not easy, Man. Banyak film bagus yang terpaksa saya singkirkan karena satu dan lain hal, namun yang jelas mayoritas film yang menduduki kursi empuk di '25 Film Paling Mencekam Dekade Lalu' Bagian 1 dan Bagian 2 tidak saya sertakan di sini kecuali Shaun of the Dead, Drag Me to Hell, dan Trick 'r Treat.

Nah, yang menjadi pertanyaan utama... Apa yang menjadi dasar mengapa film ini terpilih sementara film ini gugur? Tidak ada patokan utama, namun yang pasti, ini semua disusun berdasarkan selera saya secara pribadi. Daftar ini tidak memuat film-film horor terbaik menurut saya, melainkan film-film horor mana saja yang mengasyikkan dijadikan sebagai tontonan di 'Halloween Night'. Oh, tentu saja ini bersifat subyektif. Karena yang mengasyikkan bagi saya, belum tentu mengasyikkan bagi Anda, bukan? Begitu pula sebaliknya. Dan film-film yang gagal lolos pun bukan berarti tidak mengasyikkan, hanya saja... kurang beruntung. Menyeleksi lebih dari 50 film untuk dijadikan 20 film butuh pengorbanan. Saya berderaian air mata saat harus menyingkirkan film A, film B, maupun film C (Oke, ini lebay). Ketika daftar akhir muncul, saya pun masih diliputi penyesalan mengapa film tertentu tidak saya loloskan saja. 

Well... Ketimbang saya berceloteh kesana kemari hingga melebar kemana-mana dan membuat Anda jenuh setengah hidup, maka lebih baik saya langsung saja masuk ke inti tulisan ini. Jika kemudian Anda menginterupsi dan bertanya "apakah Halloween itu?", maka saya akan menjawab "Google!". Dengan penuh rendah hati, semangat membara, dan kepala pusing tidak karuan, saya mempersembahkan "20 Film Horor Pilihan Cinetariz Untuk Halloween". Cekidot, Gan!

** Beberapa film lain yang wajib Anda coba:

- Suspiria
- The Blair Witch Project
- The Sixth Sense
- Hellraiser
- Creepshow
- The Haunting
- Alien
- Dawn of the Dead
- Rosemary's Baby
- An American Werewolf in London
- Final Destination
- Poltergeist


#20 I Know What You Did Last Summer 
Screw the critics! I love this movie. Sudah tidak terhitung berapa kali saya menontonnya, tidak ada sedikit pun rasa bosan yang menghinggapi dan tetap mengasyikkan untuk ditonton ulang. Tonton bersama teman-teman atau orang terkasih di malam Halloween, dijamin akan menjadi malam ‘nonton bareng’ yang menyenangkan. 


#19 Ginger Snaps 
Kehidupan dua gadis penyendiri dengan minat dan perilaku yang aneh sontak berubah drastis setelah seekor ‘werewolf’ menggigit salah satu dari mereka. Dengan ‘dark comedy’ melingkupi dan tone yang senantiasa muram, film ini memberi perasaan tidak nyaman kepada penonton sebelum akhirnya digiring kepada klimaks yang mendebarkan. 


#18 Jeepers Creepers 
Ini adalah salah satu film horror seram asal negeri Paman Sam yang sayangnya kurang mendapat pengakuan di ranah internasional. Victor Salva berhasil menyajikan teror tiada henti sejak film dimulai hingga berakhir. Dengan si makhluk misterius yang malu-malu menampakkan diri, atmosfir yang mencekam serta diringi lagu ‘Jeepers Creepers’, bulu kuduk seketika merinding. Hiii... 


 #17 Idle Hands 
Kritikus boleh saja mencaci film ini, hasil box office pun boleh saja flop, tapi Anda jangan melupakan Idle Hands saat hendak merayakan ‘Halloween Night’. Ini adalah pilihan yang sangat cocok, terlebih untuk Anda yang menghindari tontonan yang terlalu seram. Filmnya memang kadang menjijikan dan bodoh, namun disitulah letak kesenangannya. 


#16 Jelangkung 
Inilah salah satu film yang dianggap sebagai tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. Hanya dengan bermodalkan ide yang sederhana, duo Rizal Mantovani dan Jose Poernomo sanggup menyajikan sebuah tontonan yang mampu membuat siapapun bergidik ngeri dan sulit memejamkan mata di malam hari. Sebuah pencapaian yang sayangnya gagal diulang oleh mereka berdua di film-film mereka selanjutnya. 


#15 Sleepy Hollow 
Saya menonton film ini kala masih duduk di bangku kelas 5 SD dan sukses terbayang-bayangi hingga beberapa tahun ke depan. Sleepy Hollow menjadi cikal bakal munculnya rasa kagum saya kepada Tim Burton. Kekuatan utama dari film ini terletak pada ‘art direction’ yang megah dan performa dari Johnny Depp. Dalam visualisasi Burton, desa ‘Sleepy Hollow’ nampak bagaikan mimpi buruk. Dan jangan lupakan ‘The Tree of the Dead’ serta si penunggang kuda yang menyeramkan itu. 


#14 Night of the Living Dead 
Ada sedikit perasaan geli saat menyaksikan film ini terutama jika sudah terbiasa dengan zombie ganas tak kenal ampun yang wara wiri di zaman modern ini. Tapi, bagaimanapun, sulit untuk menampik bahwa ini adalah salah satu film zombie terbaik yang pernah dibuat. Menegangkan, jelas. Bahkan, meski untuk masa kini tak terlalu sadis, masih ada beberapa momen yang lumayan bikin jijik dan memalingkan muka dari layar. Setelah menyaksikan Night of the Living Dead, akan semakin seru jika dilanjut dengan melahap sekuel-sekuelnya yang juga tak kalah menegangkan, khususnya Dawn of the Dead (baik versi asli maupun remake).


#13 Shaun of the Dead 
Oh, saya suka sekali dengan film zombie asal Inggris yang satu ini. Salah satu film horor komedi terbaik dari dekade lalu... bahkan, mungkin, sepanjang masa. Sangat menghibur, menegangkan, dan menyenangkan untuk ditonton. Menyaksikan film ini membuat saya melupakan kepenatan hidup untuk sejenak. Duo Simon Pegg dan Edgar Wright memang belum pernah membuat saya kecewa. 


#12 The Changeling 
The Changeling adalah film horor asal Kanada yang dikomandoi oleh Peter Medak. Tidak ada hantu banci tampil dalam film horor mengenai teror rumah berhantu ini. Murni hanya mengandalkan nuansa rumah yang membuat bulu kuduk berdiri dan suara derap langkah kaki. Saksikan sendiri di malam hari saat rumah sedang kosong dengan volume maksimal, maka Anda akan mendapat satu pengalaman tak terlupakan. Hati-hati saat Anda mendengar suara derap langkah kaki, jangan-jangan itu adalah... 


#11 Trick ‘r Treat 
Tidak ada yang menduga jika film antologi horor yang penayangannya berulang kali ditunda hingga akhirnya langsung dipasarkan via home video ini ternyata cukup mengerikan juga. Michael Dougherty menghadirkan kengerian khas film-film horor tahun 1990-an dengan bumbu ‘twist ending’ yang tepat sasaran. Menonton film ini bersama teman, atau sendirian, setelah ber-trick or treat ria tentu menjadi pilihan yang tepat. 


 #10 The Texas Chainsaw Massacre 
Dibiayai dengan dana yang terbilang rendah, Tobe Hooper menelurkan sebuah karya yang menggemparkan, menghantui sekaligus mengganggu. Tanpa memerlukan galonan darah, Hooper mampu membuat penonton merasa ngeri melihat aksi biadab dari Leatherface dan keluarganya kepada para tamu yang bersilaturahmi ke rumah mereka. 


#9 A Nightmare On Elm Street 
Apabila diminta untuk menulis satu nama yang kehadirannya sama sekali tidak saya inginkan di dalam mimpi saya, maka itu adalah Freddy Krueger. Bagaimana tidak. Dia tidak hanya merubah mimpi indah menjadi mimpi buruk, tetapi juga membuat Anda berhenti bermimpi untuk selamanya. Dan itulah yang terjadi kepada sejumlah remaja dalam A Nightmare On Elm Street. Sebuah ide yang terbilang unik ini diejawantahkan ke dalam bentuk tontonan yang meneror dan menyeramkan oleh Wes Craven.


#8 Drag Me to Hell 
Ini adalah salah satu film horor anyar yang sangat saya sukai. Benar-benar menikmatinya saat menontonnya di layar lebar. Berteriak dan tertawa keras di waktu yang nyaris bersamaan. I really had a good time. Sam Raimi tahu betul bagaimana caranya mencampurkan horor dengan komedi. Porsinya berimbang dan tidak saling melukai satu sama lain. Alih-alih ketakutan kala menyaksikannya, saya malah justru sangat terhibur. 


#7 The Evil Dead / The Evil Dead II 
Oh, sebelum melahap Drag Me to Hell, ada baiknya Anda mencicipi dwilogi The Evil Dead yang membesarkan nama Sam Raimi. Sebagai salah satu sumber inspirasi The Cabin in the Woods, The Evil Dead membawa penonton ke dalam teror satu malam yang mencekam, sadis, mengerikan, sekaligus mengundang tawa. Bukti bahwa jika ditangani secara tepat, horor dan komedi bisa menjadi rekanan yang serasi. 


#6 Scream 
Sungguh, susah untuk melupakan adegan pembuka dari Scream yang sedemikian memorable. Anda pun pastinya masih belum bisa menyingkirkan bayangan topeng ‘Ghostface’ yang luar biasa beken itu dari benak Anda, ya kan? Inilah pelopor munculnya film slasher dengan tokoh utama para remaja. Scream menggabungkan teror pembunuhan dengan satir yang mengejek keklisean film-film horor klasik ke dalam satu wadah. Hasilnya... sebuah film yang brilian. 


#5 The Omen 
Lupakan versi remake-nya yang kering itu, saksikan saja The Omen versi original keluaran tahun 1976 yang mencekam. Kisah seorang bocah ‘anti-Kristus’ berwajah innocent namun mengerikan ini ditangani oleh Richard Donner dengan cermat dan berpadu dengan apik bersama naskah yang rapi, akting menawan, dan musik skor yang menghantui. Anda berani menyaksikan film ini sendirian di rumah? 


#4 Ringu 
Ketika saya membaca versi novelnya, saya sempat berhenti selama beberapa hari karena terlalu menyeramkan dan mengganggu untuk saya. Dalam versi film, untungnya (atau malah sialnya) tidak semengerikan sumber aslinya. Pun begitu, Ringu dengan dukungan atmosfirnya yang suram, dingin, nan menakutkan, berhasil membuat saya terperanjat dari kursi beberapa kali dan menutup mata dengan bantal terlebih di 15 menit terakhir. Sadako merangkak keluar dari televisi dan potongan-potongan gambar dari video terkutuk masih membekas di ingatan hingga sekarang. 


#3 The Shining 
Film arahan Stanley Kubrick ini memiliki durasi yang terbilang panjang, mencapai 144 menit! Lah, apa saja yang hendak disampaikan dalam sebuah film horor hingga durasinya membengkak? Kesabaran Anda benar-benar diuji disini. Kubrick membangun ketegangan secara perlahan-lahan. Jack Nicholson dengan aktingnya yang brilian berhasil menampilkan perubahan kejiwaan tokoh yang diperankannya setapak demi setapak. Dan jika Anda adalah termasuk orang yang sabar, maka nikmatilah gelaran 30 menit terakhir yang mencekam. Here's Johnny... 


#2 The Exorcist 
Jauh sebelum film horor yang mengangkat tema pengusiran setan populer di tahun 2000’an, telah muncul The Exorcist yang tingkat kengeriannya belum bisa dilampaui hingga kini oleh film-film tersebut. Menyeramkan, mengganggu, dan mengejutkan. Tingkah polah Regan kala dirasuki oleh setan dan atmosfir kamarnya masih menghantui hingga kini. Sulit untuk dilupakan begitu saja. 


#1 Halloween 
Untuk yang satu ini saya tidak perlu menjelaskan alasannya dalam bentuk puluhan kata. Jelas ada sesuatu yang salah – dan tentunya kurang afdol – jika merayakan ‘Halloween Night’ tanpa menyaksikan Halloween karya John Carpenter, salah satu film horor klasik terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood dan kerap dijadikan pijakan oleh berbagai film ‘slasher’ yang rilis setelahnya, ini.

Ini pilihanku, apa pilihanmu?

October 27, 2012

REVIEW : END OF WATCH


"We're cops, everyone wants to kill us." - Taylor 

Apakah Anda pernah menyaksikan Cops yang ditayangkan oleh kanal berbayar, Fox Crime, saban hari? Acara realita tersebut mengikuti beberapa petugas polisi yang tengah berpatroli dan memerlihatkan sepak terjang mereka kala berjibaku dengan sejumlah pelaku tindak kriminal. Film ketiga dari David Ayer setelah Harsh Times dan Street Kings yang diberi titel End of Watch ini mempunyai gaya tutur yang nyaris senada dengan acara realita peraih empat nominasi Emmy tersebut. Selama kurang lebih 109 menit, Anda akan diajak oleh Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Pena), rekanan di Los Angeles Police Department, menyusuri jalanan di Los Angeles bagian selatan dimana kriminalitas merajalela sehingga memaksa para petugas yang diterjunkan ke wilayah ini untuk senantiasa waspada setiap saat. Ayer menyampaikan kisah dua sahabat ini dengan menerapkan teknik kamera handheld yang membuat film menyerupai sebuah tayangan reality show. Ya, seperti yang saya tulis di awal paragraf, End of Watch mengingatkan pada Cops. Apabila Anda menggemari Cops, maka tentu sulit bagi Anda untuk menampik pesona dari End of Watch

Tidak seperti film bergaya mockumentary kebanyakan, film garapan Ayer ini menghindari sebuah pola penceritaan yang runtut dengan tata waktu simetris. End of Watch diperlakukan selayaknya sebuah acara realita. Seolah-olah ada seorang produser dengan kewenangan penuh dalam menentukan potongan-potongan peristiwa mana saja yang sekiranya mampu mengundang perhatian penonton yang akan dimasukkan ke dalam film. Itulah mengapa film loncat kesana kemari. End of Watch mengawali kisah dengan sebuah ‘car chase scene’ yang cukup seru dimana aktivitas tersebut direkam oleh Brian untuk proyek filmnya. Pengejaran tersebut berakhir petaka setelah Brian dan Mike memberondong para tersangka dengan tembakan. Aksi kedua polisi ini mendapat teguran, terlebih keputusan Brian untuk memfilmkan setiap hela nafas kehidupannya mengganggu para rekan kerjanya terutama Van Hauser (David Harbour). Menit demi menit berikutnya, penonton digiring untuk menyaksikan rangkaian tindakan heroik – dan tidak jarang, tolol, iseng, dan menjengkelkan – dari kedua tokoh utama film ini. 

Di sela-sela rutinitas pekerjaan yang beresiko tinggi, Ayer tidak lupa untuk memperkenalkan latar belakang dari Brian dan Mike walau hanya sebatas pada kehidupan asmara mereka. Mike telah memiliki seorang istri, Gabby (Natalie Martinez). Keduanya tengah menanti momongan pertama mereka. Sementara Brian yang terbiasa gonta-ganti pasangan akhirnya bertekuk lutut saat bertemu dengan Janet (Anna Kendrick). Dikemas dalam bentuk percakapan santai penuh humor, subplot ini menjadi pencair ketegangan seusai mengikuti duo sahabat ini berpatroli di kawasan yang penuh dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Dengan adanya persaingan panas antara kartel dari Mexico dengan kartel kulit hitam untuk menguasai wilayah, maka sudah jelas nyaris tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bersantai. Berhenti di pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan melahap donat? Bisa saja dilakukan jika Brian dan Mike memutuskan untuk menjadi polisi malas atau polisi korup. Untungnya, Ayer tidak menggambarkan mereka seperti itu. Brian dan Mike dikisahkan sebagai sosok yang gemar menantang maut dan mengambil resiko saat tengah bertugas. Inilah yang kemudian menuntun mereka kepada ‘villain’ utama dari film ini yang.... harus Anda cari tahu sendiri. 

Sungguh menyenangkan menyaksikan sebuah film dimana Anda merasa seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Tidak ada satupun momen dalam End of Watch yang membuat saya terkulai lemas kebosanan atau menguap lebar-lebar di dalam bioskop. Kerjasama yang solid antara pemain dan kru membuat Ayer mampu mengarahkan film ketiganya ini secara maksimal. Kekuatan utama dari film ini terletak pada naskahnya yang patut mendapat acungan jempol dimana dialog-dialognya yang mengalir lancar mampu menggambarkan keintiman dari setiap tokoh di film ini; baik Brian, Mike, Gabby, maupun Janet. Dari sinilah Ayer membangun ikatan antara penonton dengan setiap tokoh di film ini. Menyaksikan mereka berinteraksi dengan dialog-dialog yang seru, menggelikan, sekaligus menyentuh. Dengan hadirnya ikatan, maka rasa empati penonton pun secara otomatis tumbuh. Apapun yang dilakukan oleh keempat tokoh utama film ini, saya peduli. Saya merasa kenal dekat dengan mereka. Saya merasa menjadi bagian dari lingkaran kehidupan mereka. Dan ini membuat film terasa menyenangkan. 

Chemistry yang terjalin antara Jake Gyllenhaal dan Michael Pena luar biasa padu, intim dan believable. Dengan sokongan naskah dan pengarahan yang mumpuni dari Ayer, mereka kian bersinar. Kala menyaksikannya, saya benar-benar dibuat percaya bahwa mereka adalah rekanan yang telah bekerjasama selama bertahun-tahun. Dinilai dari cara mereka beraksi di lapangan, berkomunikasi maupun bersenda gurau. Dua aktris, Natalie Martinez dan Anna Kendrick, dengan porsi tampil tidak terlalu banyak dan mengiaskan bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi pemanis mata, sanggup mengimbangi Gyllenhaal dan Pena. Anna Kendrick sekali lagi berteriak lantang, “berikan aku peran apapun, meski kecil sekalipun, aku akan melahapnya dengan habis!.” Di luar skrip yang matang dan dalam serta para pemain yang bermain apik, keunggulan lain dapat ditilik dari pengambilan gambar serta editing cekatan dari Dody Dorn. 

Memang, dengan mengaplikasikan teknik kamera handheld yang senantiasa bergerak dan penuh goncangan, konsekuensi yang kudu dihadapi adalah tidak semua penonton bisa menerimanya. Cukup memusingkan. Jika Anda mudah mual, bukan tidak mungkin akan muntah. Selain itu, sudut pandang yang terkadang kurang tepat – dimana seharusnya tidak ada kamera bertengger di beberapa sudut mengingat film ini mengusung gaya mockumentary – terasa mengganggu di beberapa kesempatan dan sedikit banyak menodai konsep realistis yang ingin diusung Ayer. Akan tetapi, dengan teknik inilah penonton justru lebih terkoneksi dengan apa yang tersaji di hadapannya. Seolah apa yang tengah disaksikan adalah peristiwa nyata, bukan sebuah film. Tentu saja hal ini sia-sia belaka jika tidak mendapat sokongan dari departemen lain, khususnya akting dan skrip. Maka sesuatu yang wajar jika Ayer melayangkan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada para aktor yang telah berakting natural dan membangun chemistry yang meyakinkan serta intim. Pada akhirnya, End of Watch bukanlah ‘another buddy cop movie’ dengan konsep yang usang dan mudah ditebak. Memilih pendekatan baru untuk genre ini dengan mencampurkan found footage dan mockumentary, menyuntikkan hati, dan menyeimbangkan antara aksi, drama serta sedikit ‘teror’, End of Watch pun berakhir sebagai sebuah hidangan yang sederhana namun lezat. It’s gripping, intense, and fun. It brought every single one of my emotions out. I highly recommend it.

Exceeds Expectations



October 22, 2012

HALLOWEEN QUIZ


















Bukan, bukan. Kuis ini bukan diadakan dengan tujuan menyogok Anda supaya bersedia meluangkan waktu untuk vote, berpromosi ria dan berdoa untuk Cinetariz di ajang Axis Blog Awards 2012 dimana Cinetariz dinominasikan untuk kategori ‘Blog Film Terfavorit’. Saya sudah merancang kuis ini sejak jauh-jauh hari, namun karena kesibukan yang menguras energi serta waktu (Ceileh...) saya terpaksa menundanya dan baru memiliki kesempatan mempublikasikannya di blog saat ini. Kuis Cinetariz ini diselenggarakan demi memeringati Halloween yang jatuh pada tanggal 31 Oktober. Karena berhubungan dengan Halloween, tentu saja kuis ini akan berhubungan dengan film horor. Hadiah yang bisa Anda dapatkan dari ‘Halloween Quiz’ ini adalah DVD original The Orphan dan A Nightmare On Elm Street. Menggiurkan, bukan? Dan untuk bisa meraih kedua DVD tersebut secara cuma-cuma, Anda tidak perlu banting tulang kesana kemari hingga keringat mengguyur tubuh. Cukup dengan mengikuti instruksi yang akan saya berikan di bawah ini. 

Begini caranya. 

Sebutkan minimal satu judul film horor yang paling berkesan bagi Anda! Sertakan juga alasannya. 

Jawab pertanyaan di atas dan kirimkan melalui email ke Cinetariz@gmail.com dengan subject ‘Halloween Quiz’. Jangan lupa sertakan pula nama lengkap, usia, alamat lengkap, no telepon, serta akun Twitter. Untuk bisa mengikuti kuis ini, Anda wajib untuk terlebih dahulu follow @Cinetariz di Twitter. Mudah sekali, bukan? Kita tunggu email dari Anda paling lambat tanggal 31 Oktober 2012 pukul 24.00 WIB. Nanti akan saya pilih 2 pemenang beruntung yang akan diumumkan beberapa hari setelah batas akhir pengiriman kuis. 

Good luck!

October 17, 2012

AXIS BLOG AWARDS 2012


Jujur, saya termasuk orang yang paling malas membuka e-mail. Bukan apa-apa sih, cuma karena kesalahan di masa lalu sehingga kotak masuk dipenuhi dengan notifikasi yang seringkali tidak saya harapkan. Jarang sekali ada e-mail yang penting dan menggugah selera. Mungkin akhir-akhir ini saya mulai mencoba untuk rutin mengintip e-mail, setidaknya seminggu sekali, setelah saya ikut terlibat dalam sebuah acara yang akan digelar dua bulan lagi (Tunggu infonya, Guys!). Nah.. Entah angin apa yang berhembus di sekitar saya, hari Minggu kemarin (tanggal 14 Oktober 2012), saya mendadak bersemangat untuk melongok ke akun e-mail saya di GMail. Seperti biasa, notifikasi menumpuk... eh, menggunung! Duh. Hapus satu, dua, tiga, hingga belasan, saya menemukan sebuah judul yang membuat saya tergelitik untuk segera membukanya. Axis Blog Awards 2012. Apa pula ini. Segera saja, saya langsung melahap isinya. Kata demi kata, paragraf demi paragraf berlalu, saya kehilangan kata-kata. Tidak mampu berbicara. Benarkah ini? Dalam surat tersebut tertulis, Cinetariz dinominasikan untuk kategori Blog Film Terfavorit di AXIS Blog Awards 2012! 

Ini pasti bercanda. Saya cari kesana kemari info perihal acara ini dengan memanfaatkan Mbah Google dan jejaring sosial, namun saya tak menemukan apapun. Selesai membalas e-mail sesuai dengan permintaan, saya menghabiskan dua hari ke depan untuk menyelidiki acara ini. Rasanya, too good to be true. Maklum, blog saya kan digarap ala kadarnya. Masa sih bisa masuk nominasi? Setelah sabar menanti.... (Penantian yang panjang sebenarnya karena saya dihinggapi rasa penasaran yang teramant sangat) hari Rabu pun tiba. Kata pihak Axis, hari Rabu akan menjadi hari dimana jalur untuk vote dibuka. Menanti dengan sabar sambil gelundungan, menyeruput air limun, menyelesaikan sebuah pekerjaan, hingga (ini yang tidak aku suka) membaca ulang cerpen yang akan saya kaji sebagai Final Project. Ketika apa yang ditunggu-tunggu tiba, saya pun segera membuka link yang diberikan oleh pihak Axis. Dan benar saja... Cinetariz mendapat nominasi! Wow! Eits... itu masih belum seberapa. Setelah melihat siapa ketiga nominator lainnya, saya benar-benar tidak mampu melakukan apapun selama beberapa menit ke depan. Antara terkejut, bangga, dan minder. Saya dinominasikan bersama dengan dua rekan saya yang luar biasa, Amir at the Movies dan Cinema Poetica, serta... seorang kritikus film Indonesia bernama Eric Sasono! Baiklah, ini mimpi. Saya tutup saja akun Facebook saya dan menjalani kehidupan normal. Hahahaha... 

Kenyataannya, ini memang sungguh terjadi. Dan saya pun memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada AXIS serta tentu saja, kalian, para pembaca setia Cinetariz! Tanpa dukungan para pembaca setia, Cinetariz tidak akan ada apa-apanya. Makasih, teman-teman. Inilah deskripsi singkat mengenai Axis Blog Awards 2012: 

"AXIS Blog Awards adalah bentuk apresiasi AXIS terhadap dunia blog di Indonesia yang pertumbuhannya kian pesat setiap tahunnya. Semua nominasi merupakan blog-blog favorit pilihan AXIS, yang menurut kami telah sukses dalam memberikan informasi, hiburan dan kisah-kisah inspiratif sesuai bidangnya masing – masing serta telah memiliki pembaca setia." 

Oia, ini baru nominasi lho. Perjalanan untuk meraih kemenangan masih panjang. Dan untuk mencapai kesana, saya sangat membutuhkan dukungan dari kalian semua. Cara untuk mendukung Cinetariz sangat mudah kok. Klik link yang saya taruh di bawah ini, pilih kategori Film, dan vote! Semudah itu. Satu IP Address hanya bisa sekali vote dalam sehari, maka dari itu, ajak teman-teman ya buat bantu vote. Hahaha. Kalau kalian bersedia vote, besok Cinetariz akan bagi-bagi hadiah! Asyikkkkk.... (#Eh). 

Link --> http://www.facebook.com/AXISgsm/app_291600877615083

Bagi yang hendak vote melalui ponsel, bisa melalui --> http://bit.ly/filmfav

October 13, 2012

REVIEW : LOOPER

"I'm gonna fix this! I'm gonna find him, and I'm gonna kill him!"

Sekali lagi, salah satu sineas Hollywood menyuguhkan ramalannya mengenai masa depan dalam film terbaru garapannya. Tidak terlalu berbeda dengan para pendahulunya, ramalan ini pun bersifat pesimistis. Perekonomian di negeri adidaya Amerika Serikat runtuh yang berimbas pada munculnya organisasi-organisasi yang bergerak di bidang kriminalitas. Kekacauan terjadi dimana-mana, meski dalam imajinasi Rian Johnson, belum sampai pada tahapan seperti yang diperlihatkan oleh Children of Men. 30 tahun dari sekarang, selain kehancuran di sektor ekonomi, tidak banyak perubahan fisiologi. Untuk menggambarkan setting futuristik, Rian Johnson menambahkan sepeda motor terbang, penyemprot tanaman masa depan, ponsel tablet transparan nan pipih, serta masyarakat yang dianugerahi kemampuan telekinesis. Sebagai akibat dari tingginya ‘angka kelahiran’ pelaku tindak kriminal, maka muncul semacam institusi yang memekerjakan sejumlah orang yang disebut ‘looper’ yang memiliki fungsi untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Sayangnya, institusi ini pun merupakan milik dari bos kriminal kelas kakap sehingga kehadiran ‘looper’ tidaklah melegakan bagi masyarakat. 

Sang ‘looper’ yang beruntung kebagian sorotan lebih dalam film ketiga bikinan Rian Johnson bertajuk Looper ini adalah Joe Simmons (Joseph Gordon-Levitt). Joe bekerja sebagai ‘looper’ untuk sebuah gembong Mafia di Kansas. Dalam pekerjaan, Joe termasuk seseorang yang berdedikasi. Dia menumpuk ribuan bilah perak, yang diberikan kepadanya sebagai upah, sebagai bekalnya untuk menghabiskan masa tua di Prancis. Tapi namanya juga bekerja di ranah kriminal, tentu saja bahaya akan senantiasa mengintai dan rencana futuristis pun perlu diberi cadangan sebagai langkah untuk mengantisipasi kegagalan yang memiliki peluang besar menanti. Awal dari bencana yang siap memporakporandakan kehidupan Joe dimulai saat rekannya, Seth (Paul Dano), mendadak muncul di apartemennya meminta pertolongan. Joe dihadapkan pada dilema antara memilih untuk menyelamatkan teman atau menyelamatkan harta. Sang bos mengancam, perak milik Joe akan disita jika tidak menyerahkan Seth. Satu informasi yang terekam di ingatan Joe kala menyembunyikan Seth, nasib ‘looper’ tengah terancam. Di masa depan, tahun 2074, muncul seseorang (atau sesuatu) bernama The Rainmaker yang memegang kontrol penuh atas semua organisasi kriminal serta berambisi untuk melenyapkan para ‘looper’. 

Hal ini seakan bukan masalah besar bagi Joe karena tidak berdampak pada kehidupan pribadinya. Setidaknya itu yang bersemayam di pikirannya sebelum segalanya dijungkirbalikkan keesokan harinya. Jam kemunculan target dari masa depan telah berada di tangan. Joe pun sudah siap sedia di lokasi ‘eksekusi’ dengan pelatuk di tangan. Dalam benaknya, hari itu adalah hari biasa seperti sebelum-sebelumnya. Hingga kemudian target yang dinanti ‘mendarat’ di atas karpet plastik. Selama beberapa detik, Joe tercekat. Ternyata, target teranyarnya adalah... dirinya sendiri (Bruce Willis)! Looper memulai kisah dengan tensi yang meninggi. Semakin jauh Anda diajak ke dalam, maka pergerakan grafik tensinya pun turut meningkat. Ini adalah tipe film yang sebaiknya Anda jangan tahu terlalu banyak mengenai seluk beluknya. Dengan informasi serba sedikit yang dibawa ke dalam gedung bioskop, maka misteri yang digulirkan Rian Johnson sedikit demi sedikit akan membuat Anda betah memandangi layar bioskop seraya mencoba untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi kemudian atau apa yang sesungguhnya terjadi. Durasi yang memanjang hingga 118 menit pun tidak lagi menjadi soal. 

Menonton Looper pun menjadi salah satu pengalaman menonton paling mengasyikkan yang saya dapatkan, setidaknya untuk tahun ini. Johnson mampu memadukan thriller, romansa, dan sedikit bumbu komedi menjadi satu kesatuan yang apik. Sekalipun mengusung genre fiksi ilmiah, Johnson pun berusaha sebisa mungkin untuk mengindari istilah-istilah rumit nan njelimet yang biasanya menjadi masalah utama bagi penonton awam untuk bisa menikmati film dari genre sejenis. Pun begitu, Anda tetap diminta untuk berkonsentrasi agar dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang sutradara secara utuh. Johnson sengaja menebar dan membiarkan puzzle berceceran dimana-mana guna Anda susun sendiri. Inilah yang membuat Looper sedap untuk disantap. Bagi yang mengharapkan tontonan serba aksi full tembakan dan ledakan, bersiap kecewa. Peningkatan tensi yang saya maksud dalam paragraf sebelumnya tidaklah merujuk pada aksi, melainkan misteri yang melingkupi film. Sesekali memang terasa memusingkan, namun seringkali Johnson sanggup membawa saya melewati fase deg-degan yang menyenangkan. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mencintai film ini. Looper telah membawa saya ke dalam sebuah perjalanan seru yang penuh dengan hal-hal mengejutkan yang di dalamnya mengandung naskah cerdas berisi, akting menawan para pemain, serta kandungan hiburan dengan takaran yang pas.

Outstanding



October 12, 2012

REVIEW : CITA-CITAKU SETINGGI TANAH


 "Rezeki itu nggak pernah pergi. Dia cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali."

Ada perasaan miris ketika saya bertandang ke salah satu bioskop di Semarang siang kemarin untuk menyaksikan Cita-Citaku Setinggi Tanah. Bagaimana tidak, hanya ada empat penonton yang menemani saya di dalam gedung bioskop menyaksikan film sepanjang 75 menit ini. Padahal saat itu adalah hari pertama film ini dilempar ke pasaran. Apakah promosi kurang gencar sehingga publik belum menyadari keberadaannya atau publik telah benar-benar masa bodoh dengan film Indonesia? Kemana perginya kalian yang selama ini berkoar-koar membutuhkan film buatan anak bangsa yang berkualitas? Seriously, It’s a good movie. Ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kepedulian kalian. Bahkan, penjualan tiket untuk film ini seluruhnya akan didonasikan untuk anak-anak penderita kanker. Niatan tulus yang seharusnya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Terlepas dari apakah donasi ini hanya dipergunakan sebagai alat untuk menarik perhatian penonton atau tidak, Cita-Citaku Setinggi Tanah tetaplah sebuah sajian yang sebaiknya tidak Anda lewatkan begitu saja. 

Film perdana buatan Eugene Panji ini tidak mencoba untuk menjadi sebuah film yang ambisius dengan mengapungkan permasalahan-permasalahan pelik nan memusingkan yang pada akhirnya hanya membuat sang pembuat kebingungan dalam mengurai benang yang telah mengusut. Apa yang disoroti di sini sangatlah sederhana, ini adalah ‘everybody’s story’. Saya yakin, Anda pun pernah mengalaminya. Masih ingatkah Anda ketika duduk di bangku sekolah dasar pernah ditanya oleh guru Bahasa Indonesia, “apa cita-citamu?”. Saat mendapat pertanyaan seperti demikian, bagaimana Anda menjawabnya? Jawaban yang umum diterima dari bocah-bocah SD, seperti halnya yang diperlihatkan dalam segmen singkat mengenai “cita-citaku adalah...” di awal dan penutup film ini, tidak jauh-jauh dari profesi seperti dokter, pilot, penegak hukum, artis, pramugari hingga presiden. Semuanya tinggi-tinggi. Saat ada yang memberikan jawaban yang agak nyeleneh, konsekuensi yang diterima adalah cenderung ditertawakan. Lihat saja apa yang terjadi pada Agus (M Syihab Imam Muttaqin). Setelah dia mengemukakan cita-citanya untuk bisa makan di restoran Padang, ledakan tawa dengan nada mengejek pun membahana. Bagi teman-temannya, mimpi Agus dianggap terlalu dangkal. 

Cita-cita yang dikemukakan secara lisan oleh para siswa di dalam kelas diminta oleh sang Guru Bahasa Indonesia untuk dituangkan ke dalam bentuk karangan pada akhir semester. Tugas yang sekilas terlihat remeh temeh ini nyatanya membuat Agus dan ketiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana), Puji (Iqbal Zuhda), dan Mey (Dewi Wulandari), kelimpungan. Mereka menanggapinya dengan serius, seolah-olah sedikit kesalahan dalam tulisan dapat memengaruhi kesempatan mereka dalam menggapai cita-cita. Ketika ketiga sahabat Agus asyik menggores kata-kata di atas kertas dengan melayangkan angan-angan, Agus memilih pendekatan lain setelah mendengar nasihat dari seorang tetangga, “cita-cita bukan cuma untuk ditulis saja, tetapi diwujudkan.” Tanpa sepengetahuan keluarga dan teman-temannya, Agus banting tulang kesana kemari untuk menumpuk receh dalam celengan bambunya demi merasakan nikmatnya makanan Padang. Menuntaskan tugas sekolah bukan lagi menjadi tujuan akhirnya, melainkan berubah haluan menjadi bagaimana cara mewujudkan cita-citanya yang hanya setinggi tanah itu. 

Naskah hasil kreasi pemikiran Satriono yang beranjak dari sebuah premise yang sangat sederhana tidak berbelit-belit dalam menyampaikan kisah. Lancar dan mengalir apa adanya. Satriono dan Eugene Panji memasukkan banyak sekali kesederhanaan, kejujuran, dan cinta kasih untuk film ini yang membuat Cita-Citaku Setinggi Tanah menjadi sebuah film yang sangat hangat dan membumi. Pesan moral dan sindiran-sindiran sosial disampaikan secara halus tanpa perlu dijabarkan dalam bentuk dialog beratus-ratus kata namun tetap mengena di hati penonton. Kesederhanaan memang menjadi kunci utama dari film produksi Humanplus Production ini. Tidak hanya dari segi naskah, ditilik dari sisi teknis pun film ini sangatlah sederhana. Bisa jadi, karena keterbatasan biaya. Bagusnya, menyadari bahwa sokongan dari sisi teknis tidaklah memadai, Eugene Panji dan tim memaksimalkan kinerja dari departemen lain yang hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Naskah buatan Satriono yang berbicara lantang berpadu manis dengan akting dari para pemainnya, khususnya para aktor cilik pendatang baru, yang natural serta soundtrack yang ‘easy listening’ dan ditempatkan secara pas. Namun yang benar-benar membuat saya jatuh hati dengan film ini adalah alur cerita dan para tokohnya yang merakyat yang dapat saya jumpai dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini adalah kisah tetangga, keponakan, anak, cucu, sepupu, atau malah justru Anda sendiri. Ini bukan sebuah fantasi kehidupan, bukan juga sebuah halusinasi kehidupan, tapi ini sebuah realita kehidupan. Dekat sekali di hati. Maka saya sungguh menyayangkan jika film sebagus, sejujur, dan sehangat Cita-Citaku Setinggi Tanah ditanggapi dingin oleh masyarakat.

Exceeds Expectations



Mobile Edition
By Blogger Touch