September 21, 2012

REVIEW : RADIO GALAU FM


"Kenapa ya cewek itu terlihat lebih cantik ketika dia udah bukan milik kita lagi ?" - Bara 

Ada apa dengan galau? Mengapa kata yang satu ini bisa sedemikian populernya di kalangan generasi nunduk? Apa yang membuatnya spesial hingga nyaris di setiap ucapan, terselip kata yang satu ini? dan yang lebih penting, apa sebenarnya definisi yang tepat dari galau? Baiklah, saya akan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan mengubek-ubek berbagai laman di dunia maya untuk mencari tahu definisi dari galau, kata terpopuler di tahun 2010’an. Tik tok, tik tok *satu jam kemudian...* Baiklah, setelah saya membaca kamus secara intensif dan berselancar di dunia maya selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya menemukan pengertian galau. Galau mempunyai arti sibuk beramai-ramai, sangat ramai, dan berkacau tidak karuan. Jadi, dapat disimpulkan berdasarkan kamus, seseorang yang sedang galau adalah seseorang yang dalam keadaan atau pikiran yang tidak karuan. Kacau. Sumpek. Dilema. Jika dikaitkan dengan film Radio Galau FM, maka galau yang dimaksud berkaitan erat dengan problematika asmara. 

G-word ini sejatinya bukanlah sesuatu yang baru di industri hiburan. Sejumlah lagu telah mempergunakannya. Namun galau baru menemukan ketenarannya ketika laman jejaring sosial yang memungkinkan penggunanya untuk terus berkicau digemari oleh masyarakat. Selebritis dunia maya mengapungkannya kembali. Segera saja, publik mengikuti. Memanfaatkan momentum, lahirlah sebuah akun bernama Radio Galau FM yang mengkhususkan untuk berkicau perihal kegalauan dalam hal asmara, sebuah topik yang mudah menggaet perhatian remaja. Setelah berhasil mengumpulkan pengikut hingga mencapai ratusan ribu, versi buku pun segera diluncurkan, dan tidak perlu menunggu lama untuk melihatnya diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengolah naskah versi film dari radio yang senantiasa galau ini adalah Haqi Ahmad, penulis skenario muda berbakat yang juga menggarap naskah versi film dari fenomena Twitter lainnya, Poconggg Juga Pocong. Kali ini dia bekerja sama dengan Iqbal Rais. Mengumpulkan barisan pemain berwajah segar, Radio Galau FM, secara mengejutkan, lebih sedap untuk disantap ketimbang si Poconggg. 

Jalan ceritanya klise. Anda bisa menemukannya dengan mudah di FTV yang tayang saban hari, seputar kisah cinta segibanyak di kalangan pelajar yang mengenakan seragam putih abu-abu. Bara Mahesa (Dimas Anggara) yang bermimpi menjadi penulis, tengah galau. Hingga tahun keduanya di SMA, belum ada gadis yang nemplok padanya (Kayak nyamuk aja, nemplok...). Sang kakak dengan tingkah lakunya yang luar biasa ajaib, kerap meledeknya. Meski diberkahi wajah yang rupawan, Bara tetap menghabiskan malam Minggunya di dalam kamar, duduk menghadap layar laptop, dan mengejar mimpinya menjadi penulis. Tak sekalipun berkencan. Segalanya berubah saat seorang adik kelas bernama Velin (Natasha Rizki) mengajaknya berkenalan. Dari yang awalnya malu-malu meong, secara perlahan Bara dan Velin menjadi semakin lengket. Muncullah percikan asmara. Bara memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Velin setelah beberapa hari hubungan mereka tiada kejelasan. Velin menerima. Bersama Velin, Bara memasuki hidup baru yang penuh warna, indah dan menyenangkan. Kegalauan Bara berakhir... hanya untuk sementara. Setelah memasuki bulan kedua, mulai terlihat peringai asli masing-masing. Velin tidak lagi gadis manis yang polos dan ceria. Bara gerah. Di saat hubungan mereka memburuk, hadir Diandra (Alisia Rininta). Bara menjadikan Diandra sebagai pelarian, padahal dia dan Velin masih belum putus. Nah lho! 

Di bawah penanganan Iqbal Rais, kisah klise tentang sejumlah ABG yang galau karena cinta tidak terkesan murahan. Sekalipun jalan cerita semacam ini sudah berulang kali ditampilkan, namun dia sanggup mengemasnya dengan menggoda sehingga penonton betah untuk duduk di kursi bioskop hingga film berakhir. Konfliknya mengalir wajar tidak berlebihan, dan humor serta situasi kocak yang disajikan pun mampu mengundang tawa renyah tanpa perlu mengambil jalur slapstick. Yang menjadikan Radio Galau FM lebih bersinar ketimbang kisah Poconggg yang absurd adalah para pemainnya yang mampu bermain apik, tak hanya menjual tampang belaka. Dimas Anggara, Alisia Rininta, dan Indri Giana boleh saja berusaha keras untuk menarik perhatian penonton, akan tetapi Natasha Rizki yang ekspresif, senantiasa mencuri perhatian setiap kali dia tampil. Jengkel melihat kelakuannya yang manja dan penuntut, namun iba ketika Bara meminta putus kepada Velin. Sulit untuk menyangkal bahwa gadis ini memiliki bakat. Saya pun penasaran dengan kiprah Natasha Rizki berikutnya di dunia akting. Yang cukup saya sayangkan, sepanjang film, penonton tidak diberi tahu latar belakang Velin dan Diandra, semuanya tentang Bara. Andaikan para karakter pendukung ini diberi porsi lebih, film akan menjadi lebih menarik. Radio Galau FM memang bukanlah film romansa dari Indonesia yang termanis tahun ini, namun yang jelas, merupakan salah satu yang menghibur. Setidaknya isi filmnya tidak seburuk desain posternya.

Acceptable



2 comments:

  1. Radio galau fm emang nagus lucu kocak dan yang jelas setelah nonton ini film , pasti kita juga ikutan jadi nyesek karna galau =D

    ReplyDelete
  2. galau y ceritanya..jadi ikutan galau. .memang kalau sudah tiada baru kerasa. Dan bener kta bara "Kenapa ya cewek itu terlihat lebih cantik ketika dia udah bukan milik kita lagi ?"ok dah radio galau fm. . Buat lagi dong lanjutannya.

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch