December 30, 2014

REVIEW : NIGHT AT THE MUSEUM: SECRET OF THE TOMB


“Why don't you take a picture, it'll last longer!” 

Jika kamu menggemari petualangan seru menjelajahi museum bersama para penghuni Museum of National History yang hidup berkat kekuatan dari sebuah lempeng emas ajaib, kehadiran kembali geng ini di layar lebar melalui Night at the Museum: Secret of the Tomb tentunya menjadi berita membahagiakan bagimu... sekaligus menyedihkan karena kemungkinan besar ini adalah instalmen penutup bagi trilogi Night at the Museum. Dengan kepergian mendiang Robin Williams yang merupakan salah satu pemberi jiwa bagi kelangsungan hidup franchise ini, maka sulit membayangkan Fox nekat melanjutkannya ke babak berikutnya – kecuali, tentunya, dengan konfigurasi pemain sama sekali baru. Lalu, sebagai film perpisahan, paling tidak ke sosok Theodore Roosevelt, apa gegap gempita yang akan ditawarkan oleh Shawn Levy sekali ini setelah sebelumnya membawa keseruan berkat kemunculan tokoh-tokoh bersejarah? Jawabnya mudah saja; mari bawa para karakter ini ke benua lain dan... keluar museum! 

December 27, 2014

REVIEW : PADDINGTON


“In London, everyone is different, but that means anyone can fit in.” 

Di Indonesia, popularitas beruang menggemaskan dari pedalaman Peru bernama Paddington boleh jadi kurang bergema dibandingkan rekan-rekan sejawatnya semacam Winnie the Pooh, Yogi, atau Barney. Tidak banyak yang betul-betul mengenalnya meski Paddington tergolong salah satu karakter fiksi paling digemari di berbagai belahan dunia lain sejak kemunculan pertamanya di buku literatur anak asal Inggris kreasi Michael Bond pada tahun 1958. Semenjak itu, sosok beruang penggemar selai jeruk ini telah menghiasi puluhan edisi buku yang diterjemahkan ke 30 bahasa, beberapa judul serial animasi khusus televisi, hingga mendapat kesempatan untuk beraksi di layar lebar lewat proyek ambisius berbujet mahal milik Studio Canal berjudul yah, apalagi jika bukan Paddington. Sempat terkatung-katung tanpa adanya kepastian selama 5 tahun lamanya, versi bioskop Paddington akhirnya dilepas ke publik pada akhir 2014 sebagai sajian untuk keluarga pengisi libur Natal dan Tahun Baru. 

December 26, 2014

REVIEW : PK


“Are you tipsy?” 

Mulanya, antisipasi terhadap PK (Peekay) sebatas pada reuni antara Aamir Khan dan Rajkumar Hirani setelah berkolaborasi untuk pertama kalinya lewat film Bollywood fenomenal, 3 Idiots. Akan tetapi, menilik kebiasaan perfilman India yang gemar tutup tahun dengan ‘film raksasa’, poster pemercik kontroversi, dan ditutup rapatnya plot dari PK, perlahan tapi pasti kepenasaran membumbung perlahan. Ini masih belum ditambah oleh faktor bahwa PK memiliki trailer yang menarik perhatian, penampilan berbeda dari Sanjay Dutt, dan kegemaran Rajkumar Hirani bermain-main dengan realitas sosial bersifat menyentil di tuturan kisahnya. Dengan dipersatukannya alasan-alasan ini, semakin sulit mengontrol ketertarikan terhadap PK yang lantas memunculkan satu pertanyaan (sebetulnya klasik), “apa yang akan diperbuat oleh Hirani di garapan terbarunya?”. Pose telanjang Aamir Khan di salah satu desain poster yang memunculkan nada-nada sumbang dari para konservatif sebetulnya telah sedikit banyak menyiratkan seperti apa konten cerita yang dimiliki PK: berani, sensitif, tapi lucu. 

December 24, 2014

REVIEW : THE HOBBIT: THE BATTLE OF THE FIVE ARMIES


“One day I'll remember. Remember everything that happened: the good, the bad, those who survived... and those that did not.”

Perjalanan panjang nan melelahkan dari seorang Hobbit tanpa keistimewaan berlebih, Bilbo Baggins (Martin Freeman), akhirnya mencapai ujungnya dalam The Hobbit: The Battle of the Five Armies. Setelah memulai petualangan tak terduga lewat An Unexpected Journey lalu berlanjut pada pertemuan dengan naga terbang berukuran raksasa yang lihai bersilat lidah melalui The Desolation of Smaug, kini Bilbo bersiap untuk mengakhiri petualangannya yang fantastis untuk kemudian dituangkan ke dalam bentuk hikayat di The Battle of the Five Armies. Tentu saja, selayaknya babak penutup dari mitologi Middle-earth sebelumnya – ya, kita berbicara tentang The Lord of the Rings: The Return of the King – serta sederet film fantasi petualangan lainnya, tidak serta merta kedamaian yang diidam-idamkan oleh para protagonis dapat direngkuh begitu saja. Ujian akhir yang diberikan oleh Peter Jackson kepada paman dari Frodo ini berupa peperangan akbar yang melibatkan nyaris seluruh kaum penghuni Middle-earth 

December 22, 2014

DAFTAR PEMENANG PIALA MAYA 2014


Bertempat di Museum Nasional Jakarta pada 20 Desember silam, Piala Maya 2014 digelar. Memasuki usia penyelenggaraan ketiga, ajang penghargaan tahunan untuk mengapresiasi film Indonesia ini semakin meriah terasa. Setidaknya, sekitar 340 Komite Pemilih dari berbagai macam profesi dilibatkan dan ratusan tamu diundang untuk turut serta menghadiri malam puncak Piala Maya 2014 yang berlangsung selama 3,5 jam. 

Petang itu, mereka menjadi saksi kemenangan besar Cahaya Dari Timur Beta Maluku arahan Angga Dwimas Sasongko yang memborong sebanyak 8 piala dari total 10 nominasi termasuk Film Terpilih, Sutradara Terpilih, Aktor Utama Terpilih untuk Chicco Jerikho, Skenario Asli Terpilih, dan Lagu Tema Terpilih. Menguntit ketat di belakang adalah The Raid: Berandal yang menggenggam kemenangan di 6 kategori sedangkan 3 Nafas Likas, Soekarno, dan Killers membawa pulang 2 piala. 

Berikut adalah daftar lengkap para pemenang di Piala Maya 2014:

December 21, 2014

REVIEW : STAND BY ME DORAEMON


"Jika kamu tidak mencoba, kamu tidak akan berubah."

Bersamaan dengan air mata yang mengalir membasahi pipi, senyuman penuh kebahagiaan turut tersungging di bibir ini seusai menyaksikan Stand By Me Doraemon. Seandainya kala itu tak disibukkan oleh urusan menyeka buliran air, boleh jadi tepuk tangan akan digemakan. Mungkin saya akan menyimpannya untuk tontonan kedua. Tidak peduli akan ada yang mengatakan bahwa ungkapan kegembiraan ini terdengar berlebih-lebihan, akan tetapi pada kenyataannya seperti itulah yang terjadi. Sebagai seseorang yang tumbuh dewasa ditemani robot berbentuk kucing biru dari masa depan bernama Doraemon – nyaris tak pernah terlewatkan saban Minggu melakoni ritual mingguan memandangi layar kaca untuk menjadi saksi keajaiban lainnya dari Doraemon, hingga kini – maka berkesempatan untuk menyaksikan persembahan khusus menyambut ulang tahun ke-80 dari sang pengarang, Fujiko F. Fujio, adalah keberuntungan yang boleh jadi hanya akan terjadi sekali seumur hidup. 

December 7, 2014

DAFTAR PEMENANG FESTIVAL FILM INDONESIA 2014


Cahaya Dari Timur: Beta Maluku garapan Angga Dwimas Sasongko berhasil membawa pulang gelar Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2014 yang dihelat pada Sabtu (6/12) di Palembang Sports & Convention Center. Seperti halnya Argo yang berjaya di Academy Awards tahun lalu, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku pun memenangkan kategori paling prestisius tanpa memperoleh nominasi di kategori penyutradaraan. Selain Film Terbaik, film ini turut merebut Pemeran Utama Pria Terbaik yang dihadiahkan kepada Chicco Jerikho. 

December 5, 2014

DAFTAR NOMINASI PIALA MAYA 2014


Setelah memberi kita sedikit bocoran Kandidat Nominasi beberapa hari silam, Piala Maya 2014 akhirnya secara resmi mengumumkan deretan peraih nominasinya pada Selasa (2/12) di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Tercatat setidaknya ada 32 kategori yang diperebutkan terbagi ke dalam divisi film panjang, film daerah, film pendek, film animasi, film dokumenter, dan penghargaan khusus. 

Memimpin raihan nominasi adalah 3 Nafas Likas dengan menggenggam 16 nominasi yang diikuti secara ketat di belakangnya oleh Soekarno (15 nominasi), dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (11 nominasi). Pengumuman pemenang Piala Maya 2014 akan dilaksanakan pada 20 Desember mendatang di Museum Nasional, Jakarta Pusat. Berikut adalah daftar para penerima nominasi Piala Maya 2014:

November 30, 2014

REVIEW : 7 HARI 24 JAM


“The foundation of everything is a good family.” 

Tidak perlu menuliskannya berderet-deret karena 7 Hari 24 Jam (7/24) hanya memiliki satu alasan kuat yang menggarisi mengapa film ini begitu layak untuk disaksikan: Dian Sastrowardoyo kembali berakting di layar lebar! Setelah vakum selama kurang lebih 6 tahun, aktris yang angkat nama lewat film fenomenal Ada Apa Dengan Cinta? ini mencoba untuk mengasah lagi kemampuan berlakonnya yang diistirahatkan menahun dengan mengambil peran di luar zona nyamannya. Ya, terbiasa berperan di film-film yang berada di ranah drama, untuk sekali ini Dian Sastro bersedia menerima tantangan berlaga di genre komedi romantis. Lewat 7 Hari 24 Jam arahan Fajar Nugros – baru saja menyuguhi kita dengan Bajaj Bajuri the Movie – perempuan yang terakhir kali bermain di 3 Doa 3 Cinta ini ditantang untuk mengocok perut penonton dengan keahlian komikalnya. Akankah ini menjadi sebuah comeback yang memuaskan atau justru, yah, sebaiknya dianggap tidak pernah terjadi saja? 

November 22, 2014

REVIEW : THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY - PART 1


“I never wanted any of this, I never wanted to be in the Games, I just wanted to save my sister and keep Peeta alive.” 

Jilid sebelumnya dari franchise laris The Hunger Games yang diadaptasi dari rangkaian novel berjudul sama rekaan Suzanne Collins, Catching Fire, memberi penutup menggantung yang membuat penonton gemas-gemas penasaran dibuatnya. Kebanyakan mempertanyakan tentang bagaimana nasib dari dua jagoan utama seri ini, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson), yang diceritakan dipaksa untuk berpisah. Memberi porsi berimbang terhadap sisi laga, romantisme, maupun intrik politik, tak pelak banyak yang menobatkan Catching Fire sebagai seri terbaik dari franchise ini. Dengan daya tarik yang kian membesar dari seri ke seri – utamanya usai perlakuan Francis Lawrence terhadap Catching Fire yang menaikkan ekspektasi penonton – maka tiada mengherankan hype yang menyertai Mockingjay sebagai babak terakhir perjuangan Katniss melawan kelaliman Capitol pun membumbung tinggi... hingga diketahui bahwa jilid ini dipecah menjadi dua bagian. Well, dengan hasil kurang membahagiakan yang menimpa Harry Potter maupun Twilight, akankah bagian pertama dari Mockingjay ini mengalami nasib yang serupa atau justru lebih beruntung? 

November 13, 2014

REVIEW : INTERSTELLAR


“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” 

Bagi sejumlah penggila film, Christopher Nolan adalah ‘dewa’ yang sepatutnya dipuja-puja. Usai menciptakan sederet twist cerdas pada karya-karya di awal karir, perlakuannya dalam memanusiawikan Batman serta menyisipkan teori mimpi ke penceritaan di Inception yang memicu perdebatan sampai detik ini, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika setiap ciptaan anyar dari sutradara yang angkat nama lewat Memento ini begitu diantisipasi kemunculannya. Maka ketika trilogi si kelelawar hitam tutup buku, kepenasaran berbalut antusiasme untuk mengetahui langkah Nolan berikutnya pun menyeruak. Terlebih, sekali ini Nolan kembali pada cerita orisinal (bukan franchise) yang dikerjakannya bareng sang adik, Jonathan Nolan, dan berhubungan dengan ruang antariksa. Satu pertanyaan yang lantas membarengi proyek ini adalah kecerdasan – atau katakanlah, kegilaan – macam apa lagi yang akan diperbuatnya? Siapapun tentu berharap, film terbaru Nolan ini akan melampaui, atau setidaknya menyamai, kualitas yang ditorehkan oleh Inception yang dianggap sebagai sebuah mahakarya. 

November 9, 2014

REVIEW : BIG HERO 6


“Wait 'til my brother sees you! You're going to help so many people, buddy. So many!” 

Dengan merapatnya Marvel ke kubu Disney, apakah pernah terlintas di benakmu ide gila soal film animasi yang mempertemukan tuturan klasik khas Disney dengan kisah superhero khas Marvel? Apabila ya, well... ternyata kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membayangkannya terwujud menjadi kenyataan karena itulah yang akan kamu kudap di film animasi ke-54 produksi Walt Disney Animated Classic, Big Hero 6. Usai menyeret penonton memasuki dunia dongeng kerajaan antah berantah lewat Tangled dan Frozen serta dunia game penuh ‘penghormatan’ dalam Wreck-It Ralph, kini saatnya bagi mereka untuk mengikuti tren yang tengah digandrungi di industri perfilman – sekaligus memanfaatkan koleksi komik Marvel – dengan memboyongmu ke dalam dunia superhero. Terinspirasi dari salah satu komik rilisan Marvel berjudul sama, maka lahirlah sebuah film animasi penuh kesenangan berjudul Big Hero 6 yang seperti mengombinasikan Spider-Man, Fantastic Four, dan The Avengers

November 3, 2014

REVIEW : OUIJA


“Keep telling yourself it's just a game.” 

Apabila kamu mendengus kecewa terhadap Annabelle lantaran tak cukup membuatmu ketakutan dan berharap Ouija mengobati luka hatimu, maka sebaiknya redam saja ekspektasimu karena, yah... hanya akan memercikkan kejengkelan lebih mendalam. Dipersiapkan sebagai salah satu dari sedikit film memedi untuk menyambut datangnya Halloween, produksi horor pertama dari perusahaan mainan Hasbro yang bekerja sama dengan Platinum Dunes kepunyaan Michael Bay ini hanya menerapkan kembali resep yang telah dipergunakan oleh, errr... seabrek film horor yang menyasar remaja sebagai target utama pasar. Coba saja intip plotnya; sekelompok remaja iseng-iseng melakukan pemanggilan arwah menggunakan papan permainan supranatural, Ouija, hanya untuk diserang serentetan teror yang berujung pada tewasnya satu persatu dari mereka. Bukankah ini sesuatu yang bahkan telah sering kamu jumpai di film-film horor buatan dalam negeri? 

November 1, 2014

REVIEW : JOHN WICK


“People keep asking me if I'm back. Yeah. I'm thinking I'm back.” 

Kebanyakan dari kita mungkin telah menghapus predikat ‘bintang laga’ yang sempat tersemat pada sosok Keanu Reeves sejak bertahun-tahun lalu khususnya semenjak trilogi The Matrix tutup buku. Setelah melepaskan diri dari karakter ikonik bernama Neo, Reeves lebih banyak berkecimpung di ranah drama dan memang karir keaktorannya perlahan tapi pasti mulai meredup. Ketika dirinya memutuskan untuk berlaga ria lewat Man of Tai Chi dan 47 Ronin dengan harapan bisa bangkit, hasilnya malah sungguh memalukan yang semakin menodai deretan filmografinya. Maka ketika Keanu Reeves mencoba menebus kesalahannya lewat gelaran aksi bertajuk John Wick, siapa yang peduli? Hanya beberapa yang betul-betul memperhatikan. Akan tetapi, perspektifmu terhadap Reeves mungkin akan sedikit banyak berubah setelah menyaksikan apa yang bisa diperbuatnya di John Wick. Mungkin masih ada harapan baginya tetap menyandang predikat ‘bintang laga’. 

October 31, 2014

REVIEW : FURY


“Ideals are peaceful. History is violent.” 

Tersusun atas setumpuk kisah menarik dengan sudut-sudut yang belum sepenuhnya tereksplorasi, tidak mengherankan apabila Perang Dunia II menjadi salah satu topik perbincangan yang digemari oleh para sineas perfilman dunia. Bukan sebatas disukai di kalangan Blok Sekutu, tetapi merembet pula ke Blok Poros. Setiap tahun, kamu akan menjumpai film yang meletakkan perang akbar ini sebagai landasan utama untuk bertutur dengan kualitas yang beraneka ragam. Walau banyak pula yang tergarap secara baik, akan tetapi Steven Spielberg telah menetapkan standar tinggi untuk ‘war movies’ bersetting Perang Dunia II lewat Saving Private Ryan dua dekade silam sehingga film apapun dari genre ini yang terlahir paska 1998 tidak cukup sekadar berada di tingkatan ‘baik’ melainkan kudu mencapai ‘hebat’. Usai serangkaian rilisan yang timbul tenggelam – bahkan seringkali berlalu begitu saja – dalam beberapa tahun terakhir, David Ayer (U-571, End of Watch) dengan segala keambisiusannya melontarkan Fury yang diharapkan mampu menumbuhkan kembali semangat bagi war movies. Mampukah? 

October 29, 2014

REVIEW : HAPPY NEW YEAR


“In this world there are two types of people, winners and losers. But life definitely gives every loser that one chance in which he can become a winner.”

Apabila kamu mencari orisinalitas pada Happy New Year, nyaris mustahil untuk memperolehnya. Tengok saja pada plotnya: sekelompok pecundang yang terdiri atas sejumlah bintang Bollywood kelas A menyamar sebagai peserta kejuaraan tari tingkat dunia untuk mencuri sebuah berlian berharga. Terdengar, errr... begitu familiar? Sekilas akan membuatmu teringat kepada Ocean’s Eleven, Now You See Me, dan Step Up. Tetapi jika tujuanmu adalah memperoleh hiburan – tentunya ini adalah alasan mayoritas penonton bertandang ke bioskop – dan enggan peduli bahwa sebuah film harus memiliki tuturan kisah yang cerdas pula padat berisi, maka terimalah undangan dari Farah Khan – sebelumnya telah beberapa kali berkolaborasi bersama Shahrukh Khan lewat Kuch Kuch Hota Hai (sebagai koreografer), serta Main Hoon Na dan Om Shanti Om (sebagai sutradara) – untuk ikut berpesta pora dalam film arahannya selama kurang lebih 3 jam. Untuk bisa menikmati ‘pesta’ yang meriah dalam Happy New Year, Farah hanya memberi satu persyaratan kepada penonton: tinggalkan otakmu di luar gedung bioskop. Bersenang-senanglah! 

October 27, 2014

REVIEW : TAK KEMAL MAKA TAK SAYANG


Apabila diperkenankan untuk mengucap kejujuran, sebetulnya hati ini tiada memiliki ketertarikan untuk menyaksikan Tak Kemal Maka Tak Sayang. Well, selain bukan penggemar gaya Kemal Palevi dalam berkelakar di atas panggung, traumatis terhadap film teranyar Raditya Dika – sebagai sesama pelaku stand up comedy – yang begitu mengecewakan ditinjau dari berbagai sisi masih belum sepenuhnya mengenyahkan diri dari pikiran. Lagipula, apa yang menjadi bahan kupasan film yang beranjak dari buku laris berjudul sama rekaan Kemal Palevi ini yah, masih berkisar di kehidupan si comic yang dipenuhi oleh keabsurdan lengkap dengan tragedi percintaannya. Tidak benar-benar ditemui pembaharuan lantaran kurang lebih hanya mempergunakan formula yang diciptakan oleh Dika di film-film miliknya. Dengan hanya berpatokan pada ini, gairah menonton pun gagal terbentuk. Lalu, saya pun memutuskan untuk memberi kesempatan pada Tak Kemal Maka Tak Sayang yang tiada disangka-sangka... ternyata menghibur! Don’t judge a book by its cover, eh? 

October 25, 2014

REVIEW : CHEF


“I may not do everything great in my life, but I'm good at this. I manage to touch people's lives with what I do and I want to share this with you.” 

Saat memutuskan untuk menyantap film yang dikategorikan sebagai ‘food porn’ – well, kurang lebih ini film kuliner – kamu tentu telah mengetahui apa yang akan dihadapi. Pemandangan makanan menggiurkan mata bertebaran sepanjang durasi, menggoda iman perutmu yang senantiasa merintih-rintih memohon untuk diisi dengan sepiring makanan lezat yang kamu saksikan di layar lebar. Godaan yang jelas sangat sulit untuk ditolak. Glek. Bahkan mengantisipasinya dengan mengenyangkan diri bukanlah sebuah solusi terbaik karena pada akhirnya, yah, kamu akan kembali kelaparan. Coba saja saksikan apa yang telah diperbuat oleh Jon Favreau (Elf, Iron Man) di Chef ini. Tanpa memiliki sedikit pun belas kasihan, Favreau membiarkan para penonton ‘tersiksa’ dengan ‘panorama’ cantik yang dihidangkannya sepanjang 100 menit yang akan membuat siapapun mengurungkan niat untuk berdiet... setidaknya pada hari menyaksikan film ini. 

October 21, 2014

REVIEW : 3 NAFAS LIKAS


"Memilih cita-cita yang terpenting adalah apa yang mau kita capai di hari esok dengan cita-cita itu."

Mungkin, mayoritas penonton yang bersedia menyisihkan sedikit uang dan meluangkan sedikit waktu untuk menyaksikan film dengan salah satu desain poster tercantik tahun ini tidak benar-benar mengetahui siapa sosok Likas Tarigan dijadikan sebagai bahan pergunjingan di sini. Namanya begitu asing di telinga. Bahkan ketika kamu mengubek-ngubek buku sejarah untuk mencari latar belakangnya, kemungkinan akan dihadapkan pada jalan buntu saking minimnya (atau bahkan tidak ada!) informasi yang tersedia. Hal ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya terlebih film biopik di Indonesia selama ini umumnya memfokuskan diri terbatas pada tokoh-tokoh besar yang namanya telah dikenal seantero nusantara. “Siapa sesungguhnya Likas Tarigan? Apa yang membuatnya begitu istimewa sehingga dirasa perlu mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar?” adalah pertanyaan umum yang menyertai penonton kebanyakan sebelum melangkahkan kaki ke dalam gedung bioskop. Jika kamu benar-benar tidak tahu, biarkan ketidaktahuan itu menyertaimu hingga selesai menyaksikan 3 Nafas Likas untuk memberi daya tarik lebih pada guliran kisah. 

October 15, 2014

REVIEW : THE JUDGE


“My father is a lot of unpleasant things, but murderer is not one of them.” 

Kerinduan cukup besar terhadap sajian courtroom seru a la film dekade 90-an semacam A Time to Kill beserta adaptasi-adaptasi dari novel John Grisham (The Firm, The Rainmaker) yang berisi pengacara-pengacara kelas kakap bersilat lidah mengeluarkan jurus bujuk rayu untuk membuai para juri dengan sesekali diselingi investigasi adalah alasan utama yang mendasari saya menyaksikan The Judge. Tentu, selain ingin menyimak kolaborasi akting Robert Duvall bersama Robert Downey, Jr dalam peran berbedanya di luar Tony Stark maupun Sherlock Holmes di beberapa tahun terakhir ini. Akan tetapi, apa yang lantas tidak disangka-sangka adalah mampu memperoleh lebih dari sekadar keinginan untuk bernostalgia. The Judge bukan saja soal pertarungan sengit antara dua pengacara handal dalam memenangkan perkara di meja hijau, tetapi juga pertarungan ayah-anak dalam meredam ego masing-masing demi melepas masa lalu kelam yang selama ini senantiasa membayangi.  

October 11, 2014

REVIEW : STRAWBERRY SURPRISE


“Aku janji untuk menelan manis, asam, dan pahit hidup ini sama kamu. Aku siap hidupku meledak-ledak nggak tertebak bareng kamu.” 

Sulit untuk mengenyahkan begitu saja dari ingatan duet maut yang diperagakan oleh Reza Rahadian bersama Acha Septriasa melalui Test Pack: You’re My Baby, dua tahun silam. Bahkan, berkat penampilan emosional – sekaligus kemampuan membangun chemistry ciamik bersama lawan main – Acha Septriasa diganjar Piala Citra pertamanya di sini. Keduanya memberikan performa kelas wahid yang membuktikan kelayakan mereka untuk menempati posisi singgasana sebagai aktor-aktris muda terbaik di sinema Indonesia masa kini. Posisi Reza semakin dimantapkan, sementara khusus untuk Acha, tidak ada lagi yang berani meremehkan kemampuan berolah perannya. Ketika ‘pernikahan’ mereka bubar jalan, ada semacam kerinduan untuk menengok kembali pasangan penuh kemesraan ini dipersatukan kembali lewat film layar lebar. Inilah salah satu reuni yang dinanti-nantikan. Starvision yang menyadari penuh keinginan publik untuk melihat Acha dan Reza sekali lagi disandingkan dalam satu frame, mempertemukan keduanya lewat Strawberry Surprise

October 10, 2014

REVIEW : DRACULA UNTOLD


Tunggu, kita mendapat satu lagi film tentang, errr... Drakula? Sepertinya para sineas dunia begitu terobsesi mengeksploitasi makhluk pengisap darah dari novel klasik rekaan Bram Stoker ini sehingga tidak tanggung-tanggung ada banyak bermunculan versi dalam 5 tahun terakhir – termasuk film animasi yang disulih suara oleh Adam Sandler serta serial televisi yang menampilkan Jonathan Rhys Myers. They just can’t get enough of Dracula. Dengan beragam pendefinisian yang telah dilakukan terhadap kehidupan Count Dracula selama ini, maka boleh jadi tidak ada lagi sisi si vampir yang tersisa untuk dicelotehkan. Tapi, kamu tentu tidak berpikir Hollywood akan kehabisan akal, bukan? Jika mereka bisa mengacak-acak sejarah presiden favorit masyarakat Amerika, mengapa tidak untuk sebuah karakter literatur yang memang telah terbiasa menghadapi dekonstruksi? Lagipula, Gary Shore bersama dua rekan penulis skrip, Matt Sazama dan Burk Sharpless, menemukan sisi lain yang terlupakan dari Dracula untuk diceritakan di berbagai filmnya melalui Dracula Untold, yakni asal-muasalnya. 

October 7, 2014

REVIEW : HAJI BACKPACKER


“Ketika kamu mengharap sesuatu, kamu merasa Tuhan mendukungmu. Ketika harapan itu tidak kunjung tercapai, kamu menganggap bahwa Tuhan meninggalkanmu. Itu bukan cinta.” 

Tidak sedikit yang memperkirakan Haji Backpacker adalah perwujudan gambar dari buku panduan bertamasya dengan bujet secekak mungkin – secara spesifik, naik haji tanpa merogoh kocek dalam-dalam – yang akhir-akhir ini banyak kamu jumpai tersusun rapi di rak-rak toko buku. Dugaan ini beralasan mengingat buku berjudul sama rekaan Aguk Irawan pun berceloteh kurang lebih serupa, walau memoar ini lebih mengisahkan pada perjuangan seorang mahasiswa Indonesia berekonomi lemah yang tengah menimba ilmu di Mesir untuk menyempurnakan rukun Islam lewat cara ‘ngebolang’. Jika kamu benar-benar berharap Haji Backpacker akan memberikanmu tips bagaimana caranya beribadah haji murah meriah, maka bersiaplah buat kecewa karena jelas bukan itu yang ingin diutarakan oleh Danial Rifki (La Tahzan). Ini lebih kepada perjalanan spiritual seorang Hamba Allah dalam menemukan kembali keimanannya yang sempat terenggut oleh luapan amarah yang tak terbendung. 

October 3, 2014

REVIEW : THE EQUALIZER


“Progress. Not Perfection.” 

Seberapa jauh kamu mengenal orang yang nyaris setiap hari berada di sekelilingmu; rekan kerja, teman seperjuangan dalam menimba ilmu, atau tetangga? Ketika kamu mengira telah mengetahui semua tentangnya, sejatinya tanpa disadari... itu hanyalah sebagian kecil. Bahkan bisa jadi bukan kenyataan sebetulnya. Mungkin dia memang memiliki hati yang tulus, tetapi mungkin saja dia pembunuh berdarah dingin. What do we know? The Equalizer yang diadaptasi dari serial televisi angkatan 80-an berjudul sama adalah contoh sempurna bagaimana kita merasa telah mengenal baik rekan kerja yang duduk di meja sebelah, tetapi sesungguhnya tidak sama sekali. Dikemas melalui gelaran action-thriller, kolaborasi reuni bagi Denzel Washington dan Antoine Fuqua setelah Training Day (2001) yang menghantarkan piala Oscar untuk Washington ini jelas bukanlah sesuatu yang seharusnya kamu pandang sebelah mata karena sajiannya yang begitu seru, menegangkan, serta brutal. Sulit untuk menolak daya pikatnya. 

October 2, 2014

REVIEW : ANNABELLE


Ada banyak motivasi menyertai saat penonton memutuskan menyisihkan uang dan waktu untuk menyaksikan The Conjuring. Bisa dipastikan, salah satunya adalah kepenasaran terhadap sosok Annabelle, boneka berbentuk gadis cilik, yang keseramannya digadang-gadang mampu menyaingi Chucky yang memiliki kegemaran membantai manusia. Sebagai salah satu magnet utama yang menarik penonton untuk berduyun-duyun mendatangi bioskop, maka tiada mengherankan saat The Conjuring memperoleh respon menggembirakan dari berbagai kalangan, Annabelle pun kena getahnya. Jatah tampil yang minim – sementara keingintahuan terhadap sepak terjang boneka setan ini masih begitu besar – membuat pihak studio memutuskan untuk menciptakan film tersendiri untuknya. Mengeksplorasi lebih jauh kekejaman dari si boneka yang kalah saing dari Bathsheba di film arahan James Wan tersebut. 

October 1, 2014

[Preview] DAFTAR FILM INDONESIA SIAP RILIS OKTOBER 2014


Selamat datang di bulan Oktober dan bersiaplah untuk menyambut Halloween. Walau tradisi tahunan ini tidak dirayakan secara khusus di Indonesia, namun sejumlah sineas dalam negeri tidak ingin kehilangan momentumnya sehingga, yah, Anda akan menjumpai sederetan film seram bulan ini. Tetapi jika genre ini bukan selera Anda, tak usah risau karena masih banyak pilihan lain seperti film tentang dunia sepak bola, drama penguras air mata, kisah reliji, biopik, romansa remaja, hingga komedi yang menyasar penggemar stand up comedy

Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis pada Oktober 2014:

September 28, 2014

REVIEW : TABULA RASA


"Memasak itu harus dirasakan dengan tangan. Itu namanya rasa tangan," - Mak 

Kekayaan ragam kuliner di bumi pertiwi ini tak perlu dipertanyakan lagi. Tersebar dari Sabang hingga Merauke, Anda akan menjumpai beraneka macam racikan sajian yang berupa-rupa dari bentuk tampilan maupun cita rasa dengan ciri khas menonjol menyesuaikan kultur dari masing-masing daerah. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kuliner terkaya di dunia, sekaligus mencerminkan pluralitas budaya bangsa ini. Anehnya, sekalipun jumlah makanan tradisional di Indonesia kesulitan dihitung mempergunakan jari, tak ada sineas dalam negeri yang terpikat mengangkat soal kuliner nusantara... setidaknya sampai saat ini. Jikalau ada yang nyerempet, katakanlah Brownies, Saus Kacang, atau Madre, cenderung memanfaatkan makanan sebagai hiasan di balik kisah utamanya perihal percintaan dan ketiganya pun tak betul-betul mencerminkan kuliner Indonesia. Menyadari masih terlalu banyak potensi kuliner Indonesia yang bisa dijamah lewat medium film, Sheila Timothy bersama rumah produksi Lifelike Pictures pun menghidangkan Tabula Rasa yang membawa penonton menyelami ragam masakan khas Minang dan Papua. 

September 21, 2014

REVIEW : THE MAZE RUNNER


“WICKED is good.” 

Labirin raksasa menyesatkan, makhluk penjaga mematikan, dan komunitas taat peraturan yang terisolir dari modernitas. Sekilas, terdengar seperti versi pembaharu dari The Village milik M. Night Shyamalan. Tetapi kenyataannya, wilayah aneh di dunia distopia ini berasal dari novel young adult rekaan James Dashner, The Maze Runner, yang mengikuti rekan sejawatnya semacam The Hunger Games dan Divergent untuk ditransformasikan ke dalam bahasa gambar. Garis besar tuturannya pun tidak terlampau jauh berbeda; seorang remaja kemarin sore bertindak berani melanggar batasan yang telah disepakati, melakukan pemberontakan terhadap sistem mengekang yang dianggapnya sangat tidak adil, dan (akhirnya) menciptakan pergerakan revolusioner. Tipikal. Membuat The Maze Runner seolah-olah terlihat tak lebih dari sekadar pengekor yang berharap bisa memperoleh kesuksesan serupa. Apakah betul demikian? 

September 19, 2014

REVIEW : THE PURGE: ANARCHY


“Welcome to America where one night a year all crime is legal.” 

Tidak jauh di masa depan, Amerika Serikat memprakasai sebuah tradisi yang dipercaya ampuh mengikis angka pengangguran, kemiskinan, maupun kriminalitas secara signifikan, membentuk ‘wajah baru’ bagi negara adidaya tersebut yang memungkinkan sebagian besar warganya mencapai American Dream dengan tingkat kemakmuran melesat tinggi. Untuk mempertahankan tatanan hidup sempurna ini, sekali dalam setahun tradisi ‘pembersihan’ digelar yang memperkenankan masyarakat bertindak kriminal dalam kurun waktu 12 jam terhitung sejak pukul 7 malam. Para partisipan dilegalkan berbuat apa saja, dengan catatan tidak melukai pejabat tinggi maupun menggunakan senjata pemusnah massal. Bagi warga yang enggan berburu umumnya mencari aman dengan mengunci rapat-rapat rumahnya meski sayangnya ini juga tidak menjamin akan terbebas dari sasaran empuk. 

September 15, 2014

REVIEW : AKU, KAU & KUA


“Setiap orang punya caranya masing-masing buat ngedapetin jodoh.” 

Starvision Plus bukanlah pemain baru dalam blantika film pernikahan. Salah satu franchise andalan mereka, Get Married, mempergunjingkan soal dua hati yang menautkan janji dalam ikrar suci. Begitu pula dengan beberapa rilisan lainnya semacam Honeymoon, Test Pack, maupun Operation Wedding. Mungkin merasa ‘berjodoh’, sang nahkoda dari judul terakhir, Monty Tiwa, kembali diboyong untuk mengomandoi keluaran terbaru dari rumah produksi bentukan Chand Parwez Servia ini yang sekali lagi mengupas tema serupa berdasar buku laris karya @TweetNikah. Hanya saja, tidak seperti deretan judul di atas, Aku, Kau & KUA memiliki cakupan kisah yang lebih kompleks, panjang, dan... banyak! Well, desain posternya yang disesaki oleh pasukan ensemble cast-nya telah mengindikasikan itu. Kini yang menjadi pertanyaan bagi Aku, Kau & KUA adalah, apakah rentetan pernikahan di dalam film akan membawa kemeriahan yang mengasyikkan seperti saat berjumpa kawan-kawan lama atau kekacauan menyesakkan selayaknya bertemu mantan yang telah menggandeng pasangan baru? Let’s see

September 13, 2014

REVIEW : HERCULES


"You don't need to be a demi-god to be a god, but you just have to believe you can be a hero."

Hercules garapan Brett Ratner adalah bukti bahwa Hollywood masih belum bosan merekonstruksi ulang cerita klasik dengan tokoh fiksi ikonik di dalamnya yang telah melekat di benak khalayak ramai. Seperti para sedulur yang mengambil jalur serupa – katakanlah yang terhangat, Maleficent – film pun memulai penceritaannya dengan sebuah pertanyaan bernada menantang untuk penonton, “apakah kamu betul-betul yakin telah mengetahui semua kebenaran tentang cerita ini?”. Dengan pembuka semacam ini, tentu bisa langsung diketahui apa yang bisa penonton harapkan mengingat Ratner tidak akan mencelotehkan mitologi Yunani Kuno melalui cara yang sudah akrab di telinga kita. Kenyataan ini semakin diperkuat oleh fakta bahwa Hercules yang dimaksud di film ini berasal dari tokoh gubahan Steve Moore untuk novel grafisnya yang diterbitkan oleh Radical Comics, The Thracian Wars dan The Knives of Kush 

September 10, 2014

[Preview] DAFTAR FILM INDONESIA SIAP RILIS SEPTEMBER 2014


September ceria... September ceria. Apakah deretan film Indonesia yang dilepas sepanjang bulan September ini akan membawa keceriaan bagi para penonton?We'll see later. Setidaknya telah ada 9 film yang dipersiapkan untuk menghibur Anda di waktu senggang dengan beragam genre ditawarkan dari mulai kisah percintaan remaja, teror seram memedi, laga yang menjadi ajang kembalinya Willy Dozan ke layar lebar, food movie pertama dari Indonesia, hingga komedi pengocok perut. 

Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis pada September 2014:

August 25, 2014

REVIEW : GUARDIANS OF THE GALAXY


“I am going to die surrounded by the biggest idiots in the galaxy.” - Gamora 

Walau sama-sama mengusung tim superhero sebagai peranan utamanya, Guardians of the Galaxy tidaklah setenar saudara seperguruannya di semesta Marvel semacam The Avengers maupun Fantastic Four. Hanya segelintir orang – kebanyakan adalah penggemar berat komik – yang tahu betul soal tim yang terdiri atas sekawanan kriminal berhati keras ini. Jika ada yang menarik minat penonton terhadap Guardians of the Galaxy, hampir bisa dipastikan itu dipicu oleh brand dari Marvel Studios yang telah begitu menjual setelah rangkaian film produksinya sukses menjerat hati penonton maupun kritikus. Maka ketika mereka merilis film baru dengan tokoh seekor rakun bermulut tajam dan sebuah pohon yang bisa berbicara berlatar luar angkasa, “siapa yang peduli, ini film Marvel!”. Itulah yang dianggap paling penting. Dan memang, sekalipun Guardians of the Galaxy masih terbilang asing bagi penonton awam, sekali lagi Marvel tak membuat penggemar yang memuja-mujanya kecewa. Ini adalah salah satu film terbaik dalam koleksi mereka. 

August 24, 2014

REVIEW : YASMINE


“Air dalam cawan akan menjadi cawan. Air dalam gelas akan menjadi gelas. Air dalam tangan, akan menjadi tangan. Jadilah seperti air.” 

Bagi sebagian orang, Yasmine boleh jadi tidak mempunyai daya tarik maksimal. Pertama, premis yang dikedepankan berkenaan ‘from zero to hero’ sudah terlampau kuno, berulang kali mengalami bongkar pasang di beragam film. Kedua, ini film asli buatan Brunei Darussalam (ingat, bukan Malaysia!) yang tentunya masih asing bagi selera penonton sini terlebih Yasmine adalah percobaan pertama dari rumah produksi Origin Films dalam setengah abad terakhir untuk membangunkan perfilman Brunei yang telah terlalu lama terlelap. Ketiga, desain poster di peredaran khusus Indonesia... errr, tak menggugah selera. Jika ada magnet utama yang tersisa, maka itu terletak pada masifnya dukungan sejumlah pekerja film asal Indonesia terhadap proses pembuatan film ini dimulai di posisi pemeran pendukung, penulisan skrip, editing, tata musik, hingga pengisian soundtrack. Sepintas tidak terlalu menggiurkan, memang, tapi jika Anda berani-berani meremehkan kemampuan Yasmine, maka bersiaplah untuk ditonjok keras-keras olehnya. 

August 16, 2014

REVIEW : THE EXPENDABLES 3


“You were stupid enough to get yourself into this mess! And we're the only ones crazy enough to get you out of it!” 

The Expendables is back! Sekumpulan kakek-kakek tua berotot yang dulunya rajin mengokang bedil di era 80 hingga 90’an kembali bereuni setelah The Expendables 2 yang menghebohkan. Beberapa nama, sayangnya, dipensiunkan atas berbagai macam alasan, namun personil kelompok yang dipimpin oleh Sylvester Stallone ini tetap belum kehilangan taringnya karena anggota baru pun turut direkrut. Chuck Norris boleh saja ‘say goodbye’, tapi kali ini kita mendapatkan Harrison Ford, Mel Gibson, Kelsey Grammer, Wesley Snipes, serta Antonio Banderas! Terbilang ramai, bukan? Bahkan, untuk sekali ini demi meningkatkan daya tarik The Expendables 3 sekaligus minat penonton generasi muda yang tidak banyak mengenal para sesepuh film aksi ini, diboyonglah sederet aktor berusia 20-an untuk turut memeriahkan layar dengan salah satunya kita kenal sebagai jebolan franchise laris Twilight, Kellan Lutz, serta seorang perempuan pemegang piala UFC, Ronda Rousey. 

August 15, 2014

REVIEW : TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES


"Cowabunga!"

Menyapa para manusia pertama kali di dekade 80-an dalam wujud komik, empat kura-kura mutan penggemar berat pizza yang lihai bela diri ciptaan Mirage ini lantas berkembang pesat sebagai salah satu produk pop culture yang popularitasnya merambah ke televisi, permainan video, hingga tiga jilid film layar lebar berbentuk live action. Keberadaannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil sebagian masyarakat dunia yang tergabung dalam generasi 80 dan 90’an sampai-sampai keempat reptil yang namanya dijumput dari pelukis Italia era Renaissance ini dielu-elukan bak pahlawan. Ah, sungguh masa kecil yang indah. Setelah popularitasnya semakin meredup – seiring berkembangnya zaman (dan teknologi) – percobaan untuk menghidupkan kembali ketenaran para kura-kura pun dilakukan lewat film animasi TMNT (2007) dan serial animasi produksi Nickelodeon yang tidak disangka-sangka memperoleh respon memuaskan dari khalayak ramai. Merasa bahwa tokoh fiksi ini memiliki masa depan cerah, Nickelodeon pun nekat memboyongnya ke layar lebar. 

August 14, 2014

REVIEW : INTO THE STORM


“That's the biggest tornado I've ever seen.” 

Bagaimana jadinya saat sebuah film yang mengambil format found footage dipertemukan dengan disaster movie? Sekilas, terdengar seperti ide bagus. Fantastis. Gambaran bencana alam akan terasa lebih autentik sehingga memungkinkan penonton untuk terserap ke dalamnya dan memberi mimpi buruk seburuk-buruknya hingga sulit mengenyahkannya jauh-jauh dari ingatan. Terlebih jika ditayangkan di layar bioskop terbesar atau mungkin melepasnya di 3D. Boom! Bisa jadi itulah yang terlintas di benak pemikiran para petinggi di New Line Cinema saat memutuskan untuk memberi lampu hijau kepada Into the Storm. Seperti melihat perpaduan antara Twister dan Cloverfield – masing-masing salah satu film terbaik di genrenya. Jika sudah begini, siapa yang tidak tergoda? Rasa-rasanya penonton pun akan tergiur untuk mencicipi setelah mengetahui Into the Storm adalah semacam versi pembaharuan dari Twister dengan efek khusus lebih halus dan pemanfaatan found footage sebagai metode penceritaan. 

August 8, 2014

REVIEW : CURSE OF CHUCKY


"You wanna play, motherfucker? Let's play!" 

Semoga Anda belum lupa terhadap Chucky. Boneka seram berjiwa pembunuh berdarah dingin yang terakhir kali menyapa penggemarnya pada sepuluh tahun silam lewat Seed of Chucky, yang begitu konyol dan menghina habis-habisan wibawa si boneka, ini telah dibangunkan dari tidur panjangnya untuk kembali melancarkan kutukan-kutukan kepada para manusia tanpa ampun melalui Curse of Chucky. Tidak seperti kedua instalmen sebelumnya, Bride of Chucky dan Seed of Chucky, yang banyak membubuhkan humor ke dalam penceritaan, jilid keenam dari rangkaian seri Child’s Play yang pertama kali memperkenalkan diri di tahun 1988 ini mencoba kembali ke akarnya sebagai upaya penebusan dosa dari salah satu kreator, Don Mancini, dengan menerapkan formula jilid awal yang cenderung menekankan pada teror, keseraman, serta kesadisan. Untuk itu, guyonan-guyonan tak penting direduksi sebanyak mungkin, digantikan oleh banjir darah dan anggota tubuh yang terlepas. 

August 4, 2014

REVIEW : RUNAWAY


Begini. Sebelum Anda memutuskan melenggang cantik (atau tampan) ke gedung bioskop terdekat guna menyaksikan Runaway, tanyakan terlebih dahulu ke lubuk hati paling dalam tentang: 1) apa keinginan yang ingin Anda genggam usai melahap film ini?, dan 2) apakah Anda adalah penggemar berat Al Ghazali sehingga menganggap melewatkan Runaway adalah sebuah kesalahan tak termaafkan?. Apabila jawaban atas pertanyaan pertama memiliki keterkaitan kuat dengan sesudahnya, maka Runaway bukanlah pilihan meragukan. Malah cenderung bersifat wajib. Tetapi jika tidak, hanya tergiur pada materi promosinya semata – harus diakui, Maxima Pictures adalah rumah produksi paling jagoan untuk perkara satu ini – bolehlah dipikir ulang. Kecuali, Anda memang sama sekali tidak keberatan melahap film yang isiannya tidak lebih dari jualan Al Ghazali yang tengah berkibar popularitasnya dan panorama indah Hong Kong. 

August 1, 2014

REVIEW : SEPUTIH CINTA MELATI


“Allah Maha Penerima Taubat”

Saban tahun, terhitung sejak Liburan Seru! di tahun 2008, Alenia Pictures tak pernah absen mempersembahkan karya untuk mengisi liburan sekolah yang menyasar pangsa pasar keluarga (khususnya anak-anak). Sarat akan pesan moral, menghibur, serta berhiaskan panorama alam Indonesia yang amboi cantiknya adalah ciri khas utama film-film dari rumah produksi kepunyaan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen ini yang telah ditampakkan dari era Denias, Senandung di Atas Awan hingga Leher Angsa. Lewat rilisan terbaru mereka yang dirilis bertepatan dengan momen Idul Fitri, Seputih Cinta Melati, kekhasan itu tetap dipertahankan. Yang membedakan, untuk sekali ini, Alenia menjajal bermain di ranah reliji yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya. Hasilnya? Bolehlah Seputih Cinta Melati ini disebut sebagai salah satu film terbaik milik Alenia setelah beberapa karya terakhir terbilang mengecewakan. 

July 30, 2014

REVIEW : HIJRAH CINTA


“Maukah kamu menjadi saksi perubahan hidupku?” 
“Aku mau, sampai kapanpun...” 

Lewat tatapan penuh makna di sebuah dermaga, Uje (Alfie Affandy) melontarkan pertanyaan yang menyiratkan keinginannya membawa Pipik (Revalina S Temat) naik ke pelaminan, untuk mendampinginya dalam menemukan kembali jalan seharusnya setelah tersesatkan di neraka duniawi yang sekilas menawarkan kenikmatan tiada tara. Tanpa ada keraguan, meyakini bahwa lelaki di hadapannya memiliki tekad kuat untuk berubah sekaligus kemampuan menuntun ke arah yang diridhoi Allah SWT, Pipik memastikan kesediaannya. Air mata penonton pun serta merta berlinangan. Inilah salah satu momen terbaik yang bisa Anda kenang di Hijrah Cinta... dan bukan menjadi satu-satunya. Sebuah kejutan telah menanti bagi siapapun yang penuh kerelaan menyisihkan sedikit waktu pula uangnya yang berharga untuk menyimak Hijrah Cinta di layar lebar. Ini tidak seperti bayangan kebanyakan orang yang mengantisipasinya sebagai ‘film biopik berbumbu reliji lainnya, tak berbeda dengan sudah-sudah’, karena Hijrah Cinta lebih dari itu. 

July 27, 2014

REVIEW : BAJAJ BAJURI THE MOVIE

“Berhati-hatilah bukan terhadap mereka yang jelas membencimu, tetapi berhati-hatilah terhadap mereka yang sangat baik di depanmu.” 

Apakah Anda masih teringat pada Bajaj Bajuri? Pertama kali mengudara di stasiun televisi Trans TV pada awal dekade 2000’an, sitkom ini begitu fenomenal dan digandrungi oleh beragam lapisan masyarakat kala itu lantaran tuturan kisahnya yang erat kaitannya dengan keseharian berpadu mulus bersama guyonannya yang membumi. Terwujud sebagai salah satu budaya populer di dunia hiburan Indonesia babak milenium baru, Bajaj Bajuri pun memproduksi barisan karakter ikonis yang meninggalkan kesan mendalam, melekat kuat di ingatan, berkat keunikannya masing-masing semacam Bajuri, Oneng, Ucup, Emak, Mpok Hindun, hingga Mpok Minah. Beberapa karakter ini pun telah merasuki jiwa – atau katakanlah, identik – dengan Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka, serta Nani Wijaya sehingga beberapa kalangan memunculkan ‘fatwa haram’ merekonstruksi Bajaj Bajuri tanpa melibatkan ketiga pemain utamanya. Akan tetapi, lewat bendera Starvision Plus, Chand Parwez bersama Fajar Nugros malah justru nekat melanggar, mengambil resiko besar dengan hadirkan wajah-wajah baru saat mewujudkan Bajaj Bajuri the Movie

July 26, 2014

REVIEW : STEP UP: ALL IN


Menapaki instalmen kelima, franchise Step Up yang memulai langkahnya delapan tahun silam ini jajal hadir dalam suasana lebih gegap gempita dari sebelumnya. Caranya? Bukan saja lewat pertarungan tari yang dipersiapkan (sekaligus diharapkan) epik, tetapi juga lewat reuni akbar. Ya, Trish Sie mengambil alih posisi Scott Speer di tampuk penyutradaraan mengundang wajah-wajah lama pemeriah franchise dari angkatan pertama hingga Step Up: Revolution untuk diajak bernostalgia bersama para penggemar berat. Tidak semuanya bisa hadir, memang, seperti Channing Tatum, Jenna Dewan, Rick Malambri, Kathryn McCormick dan Robert Hoffman yang sungguh disayangkan malah absen (damn!). Tapi tenang, sekalipun kesan ditimbulkan mungkin tak secetar seharusnya, Step Up: All In masih memberikan suasana meriah yang diharapkan. Ya, seperti yang sudah-sudah, jilid ini pun dibekali rangkaian pertarungan tari apik walau untuk sekali ini tidak cukup kuat mengangkat film ke tataran terpuji dan menghapuskan kehampaan yang melingkupi. 

July 16, 2014

REVIEW : DAWN OF THE PLANET OF THE APES


“Apes do not want war!” – Caesar 

Nyaris tidak ada yang peduli saat proyek reboot film legendaris Planet of the Apes – berjudul Rise of the Planet of the Apes, rilis 3 tahun silam – diumumkan ke khalayak ramai. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh versi remake-nya yang diolah Tim Burton bisa jadi menjadi salah satu kuncinya. Hingga... orang-orang menontonnya. Tiada yang kemudian menyangka bahwa jilid yang memulai franchise baru ini akan mencuat sebagai summer blockbuster sukses, gegap gempita, tetapi tetap memiliki kecerdasan dalam penuturannya. Sikap skeptisisme pun seketika lenyap, tergantikan oleh optimisme. Terlebih, masih banyak ruang bagi franchise ini untuk berkembang setelah klimaks epik di Golden Gate yang sulit dilupakan itu. Mungkin satu-satunya yang memberikan (sedikit) keraguan atas Dawn of the Planet of the Apes adalah Matt Reeves (Cloverfield, Let Me In) yang menggantikan posisi Rupert Wyatt di kursi penyutradaraan. Bukan sutradara yang buruk, tentu saja, tetapi sejauh manakah dia akan membawa jilid ini setelah instalmen sebelumnya telah menetapkan standar yang cukup tinggi? 

July 8, 2014

REVIEW : BLENDED


“He's a bad daddy he made me look like The Walking Dead.” 

Ada satu alasan kuat yang melandasi mengapa Blended adalah sebuah film yang seharusnya tidak saya lewatkan begitu saja: ini adalah reuni kedua dari Adam Sandler dan Drew Barrymore di sebuah film beraliran romantic-comedy setelah pertemuan mereka yang begitu romantis, sulit terlupakan, dan membekas di hati lewat The Wedding Singer serta 50 First Dates. Ya, keduanya adalah raja dan ratu di film komedi romantis yang popularitasnya bahkan boleh disandingkan dengan pasangan Tom Hanks-Meg Ryan ataupun Richard Gere-Julia Roberts. Dengan tambahan kehadiran Frank Coraci (The Waterboy, Click) yang sebelumnya berkolaborasi bersama mereka dalam The Wedding Singer di kursi penyutradaraan, maka sudah barang tentu ajang temu kangen setelah 10 tahun terpisah ini wajib untuk dihadiri. Bukankah selalu mengasyikkan bisa berjumpa kembali dengan kawan lama yang begitu dicintai dalam suasana yang telah dikenal? 

July 3, 2014

REVIEW : DELIVER US FROM EVIL


“You haven't seen true evil.” 

Jika sineas dalam negeri gemar mengeksploitasi pocong, kuntilanak, dan rekan-rekan sebangsanya dalam film seram, maka sineas Hollywood memiliki hobi bermain-main dengan exorcism (pengusiran setan). Sejak salah satu dedengkot, The Exorcist, yang sulit dilupakan itu hingga The Last Exorcism Part II yang ‘ya gitu deh’, entah sudah berapa judul diproduksi menyangkut upacara usir mengusir setan ini. Ada yang berhasil memuaskan semacam The Exorcism of Emily Rose, namun lebih banyak yang berakhir memprihatinkan hingga keberadaannya menguap begitu saja. Belum juga kapok meski jejak rekam film-film sejenis seringkali enggan mencatat keberhasilan, Screen Gems nekat melempar Deliver Us From Evil yang masih berada pada lajur sama di tengah riuhnya persaingan film musim panas. Melihat adanya nama sekelas Scott Derrickson dan produser kenamaan Jerry Bruckheimer di belakang layar bisa dimengerti darimana munculnya rasa percaya diri itu. Meski, kehadiran dua nama ini tidak lantas menjamin kualitas dari Deliver Us From Evil

June 30, 2014

REVIEW : THE FAULT IN OUR STARS


“You gave me a forever within the numbered days, and for that I am eternally grateful.”

Komedi bukanlah sahabat terbaik bagi romansa tragis berembel-embel penyakit mematikan. Kerap diwujudkan penuh derita dan uraian air mata seolah kebahagiaan telah sirna, khususnya di khasanah melodrama Asia, penderita dieksploitasi sedemikian rupa sampai-sampai menyunggingkan senyuman pun membutuhkan perjuangan tersendiri untuk dilalui. Akan tetapi, Hollywood sepertinya sudah lelah dengan rengekan tak berkesudahan sehingga mencoba memandang subjek pahit ini lewat nada yang lebih positif. Anda mungkin paling mengingatnya paling jelas di 50/50, dan kali ini, Josh Boone pun mengaplikasikan formula yang sama kala menuangkan novel young adult sarat puja puji dari banyak kalangan karya John Green, The Fault in Our Stars, ke dalam bahasa gambar dengan meminimalisir kecengengan dan mengalunkan penceritaan secara dewasa pula bijaksana. Hasilnya? Malah justru lebih membekas di hati. 

June 28, 2014

REVIEW : TRANSFORMERS: AGE OF EXTINCTION


“This is not war... it's human extinction!” 

Apa yang bisa Anda harapkan dari franchise film Transformers yang beranjak dari mainan laris keluaran Hasbro? Jawaban yang paling bisa diterima adalah pameran visual yang mewah megah di balik gelaran aksinya yang habis-habisan. Selain itu, sebaiknya lupakan saja karena mustahil akan dituai di seri ini. Transformers: Age of Extinction pun bukan pengecualian. Sekalipun Michael Bay – yang sempat berulang kali berencana mengundurkan diri dari posisi sutradara semenjak, yah, Revenge of the Fallen – telah sesumbar bahwa instalmen keempat ini akan dicanangkan sebagai semacam era baru, tetapi pada kenyatannya tidak banyak yang berubah di sini kecuali konfigurasi para pemain. Transformers: Age of Extinction masih seperti versi layar lebar dari Transformers yang Anda kenal; megah secara tampilan, namun begitu berisik, kelewat panjang, dan dangkal. Untuk sekali ini, Bay meningkatkan ‘kegilaan’ itu sehingga bagi Anda yang memang sedari awal tidak menggemari franchise ini (namun tetap memaksa untuk menontonnya), bersiaplah untuk menggelepar tak berdaya di dalam gedung bioskop. 

June 24, 2014

REVIEW : CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU


"Seng ada Passo, Seng ada Tulehu. Seng ada Islam, Seng ada Kristen. Beta disini Maluku. Kalo ada yang tanya ose siapa, ose jawab Beta Maluku!" 

Gemuruh sorak sorai dan tepuk tangan membahana di stadion, warung pinggiran, rumah penduduk, bahkan tempat ibadah. Sebuah pertanda bahwa tim jagoan telah merengkuh kemenangan, menghempas seluruh pandangan sarat skeptisisme. Segala keraguan yang tadinya hadir membayangi perlahan-lahan beralih rupa menjadi elu-elu pujian penuh kebanggaan. Pergulatan berhiaskan peluh keringat, air mata, dan pengkhianatan yang menyakitkan pun terbayar lunas, tersimpan di ingatan sebagai kenangan pahit... sekaligus manis. Berstatus sebagai tim ‘underdog’ dengan tipe perjuangan ‘from zero to hero’, pencapaian gemilang yang diukir oleh Tim U-15 Maluku dalam usaha mereka untuk berjaya di kompetisi tingkat nasional tentulah banyak memiliki cerita yang patut dibicarakan di belakangnya. Atas dasar inilah, Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda) bersama Visinema Pictures merasa perlu untuk menerjemahkan kisah perjuangan mereka ke dalam bahasa gambar melalui Cahaya Dari Timur: Beta Maluku
Mobile Edition
By Blogger Touch