April 22, 2014

REVIEW : THE LAST EXORCISM PART II


“There's a whole bunch of people out there who are definitely convinced that they are possessed.”

Tampaknya, jaringan bioskop terbesar di Indonesia sedang melakukan cuci gudang – Yeah, I’m talking to you, Cinema 21!. Tepat setelah parade film penggenggam penghargaan berakhir, satu persatu film yang telah mendarat di meja LSF sejak lama dan mengendap di gudang 21 hingga diselimuti jamur dinaikkan. Yang teranyar adalah The Last Exorcism Part II. Walau tak seusang ‘film gudang’ lainnya, jika Anda meyakini data yang tertera di laman Imdb, Indonesia adalah negara terakhir yang menayangkan film arahan Ed Gass-Donnelly ini di layar lebar. Sungguh mengesankan, bukan? Tentu saja penundaan berulang kali untuk melemparnya ke pasar ini bukannya tanpa alasan yang jelas. Berkaca kepada seluruh film gudang yang rilis pada kuartal pertama tahun 2014 ini, sebuah kesimpulan dapat ditetapkan; film-film tersebut berkualitas medioker dan tak terlampau menjual. The Last Exorcism Part II, sayangnya, juga mengalami nasib serupa. Mengharapkan film ini akan seseram pendahulunya adalah sebuah kesalahan. Memang tidak buruk, namun juga jauh dari kesan istimewa. 

Melanjutkan apa yang terjadi di penghujung The Last Exorcism, Nell Sweetzer (Ashley Bell) yang telah terbebas dari cengkraman setan Abalam mencoba untuk memulai kehidupan baru. Tinggal di sebuah asrama untuk gadis-gadis bermasalah pimpinan ahli terapi, Frank (Muse Watson), Nell yang senantiasa tampak pucat, aneh, dan ketakutan ini bersosialisasi bersama para gadis, bekerja di sebuah hotel, dan menjalin hubungan dengan Chris (Spencer Treat Clark). Hari demi hari berlalu, kehidupan Nell berangsur-angsur mulai membaik. Berdasar pengamatan Frank, ada kemajuan yang dicapai oleh Nell. Akan tetapi, tentu saja Anda tidak mengharapkan segalanya menjadi normal seperti sedia kala, bukan? Karena ya, itu tidak akan terjadi. Abalam masih setia mengikuti kemanapun Nell pergi, mengawasinya, dan merencanakan sesuatu yang tak pernah sekalipun terpikirkan oleh gadis kesayangannya ini. 

Ketika dihadapkan pada sebuah sekuel dari film horor, apa yang Anda harapkan? Teror yang lebih menggemparkan, jumlah korban yang kian membengkak, atau jalinan kisah yang lebih kompleks? Mendapat suntikan dana 3 kali lebih besar dari jilid pertama, The Last Exorcism Part II seharusnya bisa mewujudkan itu semua. Seharusnya. Tapi yang justru terjadi, film tak pernah benar-benar terasa menggigit. Menanggalkan presentasi mockumentary (found footage) dan mengaplikasikan format konvensional, secara tidak langsung memiliki dampak pada tingkat keseraman yang untuk sekali ini terkikis. Apabila Anda adalah penggemar film horor sejati, maka sederetan teror dan pencipta efek kejut di sini terasa begitu kadaluarsa, mudah ditebak, dan tidak menakutkan. Memang masih ada satu dua yang terbilang berhasil – termasuk klimaksnya yang menghentak namun kelewat singkat – tapi itu tidak cukup untuk menjadikan film ini mengesankan. Jeritan ketakutan gagal dipicu. 

Beruntung, The Last Exorcism Part II masih memiliki Ashley Bell yang menampilkan performa impresif sebagai Nell. Perasaan takut, gelisah, serta tidak nyaman tergurat meyakinkan melalui air muka dan gerak tubuh – seperti sebuah tiruan dari Sissy Spacek di Carrie, in a good way. Melalui dia dan sinematografi yang tergarap cukup baik oleh Brendan Steacy, atmosfir tak mengenakkan berhasil terbangun. Kombinasi dari keduanya inilah yang setidaknya mampu menyelamatkan The Last Exorcism Part II dari keterpurukan, meski secara keseluruhan masih berada di kelas medioker. Pada akhirnya, ketimbang terhidang sebagai kelanjutan yang superior, The Last Exorcism Part II malah justru menjelma sebagai kelanjutan yang inferior. Apabila Anda berniat untuk menyaksikan film ini di bioskop namun waktu dan uang tidak memungkinkan, menontonnya di rumah pun sama sekali tidak masalah. Pengalaman yang akan didapat tidak jauh berbeda.

Acceptable

No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch