June 6, 2014

REVIEW : VIVA JKT48


“Kalian itu satu-satunya group idol yang bisa kita temui setiap hari. Yang lain mana bisa seperti kalian.” 

Dengan rekan-rekan seprofesi di blantika musik telah terlebih dahulu mengepakkan sayap ke panggung sinema, hanya soal waktu JKT48 akan mengikuti jejak mereka. Memiliki basis penggemar yang terbilang besar, kuat, dan loyal, maka tidak ada alasan bagi para produser film di Indonesia untuk menolak mendapuk idol group ini sebagai bintang utama dalam sebuah film layar lebar. Benar saja, berjarak sekitar kurang dari 3 tahun terhitung sejak pertama kali debut, JKT48 telah dihadiahi film sendiri yang bahkan tidak dimiliki oleh sister group-nya yang bertempat di Jepang, AKB48. Mengambil haluan berbeda dari film-film yang mengedepankan grup musik di garda depan, film berjudul Viva JKT48 yang diproduksi oleh Maxima Pictures ini sepenuhnya dimaksudkan sebagai film fiksi fantasi tanpa sedikitpun mencuplik kisah perjalanan hidup para member-nya dalam membangun karir profesional. 

Viva JKT48 membuka kisah dengan delapan member JKT48; Melody, Nabilah, Haruka, Ayana, Shania, Rona, Yuvia, dan Naomi, terdampar di sebuah kebun binatang tanpa bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi kepada mereka sebelumnya. Merasa tidak ada yang salah, mereka pun bergegas kembali Jakarta untuk tampil di Teater JKT48 hanya untuk mengetahui bahwa Miss Kejora (Ayu Dewi) telah mengambil alih teater mereka dan memberikannya kepada idol group anyar binaannya, BKT48. Seolah belum cukup, berita buruk lain menghampiri mereka; Takeshi-san (Nobuyuki Suzuki), manajer JKT48, resmi mengundurkan diri dan mengabarkan bahwa JKT48 telah dibubarkan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan posisi mereka kembali adalah dengan menyetorkan uang sebesar Rp 1 miliar kepada Miss Kejora. Mendapatkan bantuan dari tiga Wota setia, mereka pun berjuang untuk memenangkan kembali teater sekaligus menunjukkan kepada para penggemar (dan Miss Kejora, tentunya) bahwa JKT48 masih bersatu dengan teguh. 

Well... apakah tuturan penceritaan ini terdengar, errr... usang? Harus saya katakan ya. Tapi ini bukanlah permasalahan utama yang memunculkan sikap skeptisisme dalam diri. Landasan fakta bahwa masa produksi Viva JKT48 hanya memakan waktu dua minggu dengan editing sekitar sebulan adalah pemicunya. Apa yang bisa Anda harapkan dari sebuah film dengan ritme kerja serba kejar-kejaran semacam ini? Jelas yang harus dilakukan pertama kali yakni menekan ekspektasi serendah-rendahnya untuk meminimalisir kekecewaan. Kekacauan hasil dari proses pembuatan yang tergesa-gesa memang terpampang jelas di Viva JKT48; skrip yang kurang dimasak hingga matang, editing yang lompat kesana kemari, hingga (tentu saja) penampilan dari para member yang tak luwes saat berlakon di depan kamera akibat kurangnya waktu untuk mendalami karakter saat reading. Apabila tidak mendapat penanganan yang sigap dan teliti, segala kekacauan ini bisa jadi berkembang menjadi bencana besar yang mengerikan. 

Beruntung, Awi Suryadi (Claudia/Jasmine, Street Society) menyadari betul potensi itu dan dia pun mengenal betul pangsa pasar yang ditujunya. Hasilnya, walau tak disokong ‘dream team’ yang sempurna, Awi berhasil meluncurkan Viva JKT48 sebagai sebuah tontonan yang gegap gempita, penuh dengan kesenangan, dan mengasyikkan. Para penggemar berat (atau katakanlah, wota) akan menyenangi hidangan dari Awi ini, terlebih para member terlihat lebih cantik dari biasanya, sementara mereka yang masih awam perihal idol group ini akan tetap mampu menikmatinya karena sekalipun film memang ditujukan oleh para fans – terlihat dari humor sarat referensi yang kebanyakan hanya bisa dimengerti oleh kalangan penggemar – ada banyak pula kelucuan yang mewakili penonton awam. Salah dua yang menonjol adalah celetukan dari tokoh yang diperankan oleh Soleh Solihun dan Babe Cabiita mengenai kostum yang dikenakan oleh para member. 

Kehadiran humor yang memantik gelak tawa secara konsisten – berkat Ayu Dewi yang menjengkelkan (begitu pula dengan intonasi dialognya!) sebagai sang antagonis a la Cruella de Vil, Muhadkly Acho, serta trio wota yang diperankan dengan tepat oleh Mario Maulana, Bobby Samuel dan Stephanus Tjieproet – dalam tempo penceritaan yang melaju kencang, membuat sederet kekacauan yang menghiasi Viva JKT48 sedikit banyak masih bisa dimaafkan. Terlebih, film menemui momen terbaiknya dalam tarian ‘River’ dan adegan konser di penghujung film yang divisualisasikan secara megah, bergaya, dan bersemangat, dengan cita rasa selayaknya menonton konser betulan bisa jadi adalah salah satu momen klimaks terbaik yang pernah hadir dalam film buatan dalam negeri. Walau Viva JKT48, pada akhirnya, masih jauh dari sempurna, tujuan utama Awi Suryadi untuk menghidangkan film ini sebagai tontonan hiburan yang seru setidaknya telah tercapai. Viva JKT48 akan terasa menyenangkan bagi penggemar dan informatif bagi penonton awam yang ingin mengenal lebih jauh idol group fenomenal ini.

Acceptable

1 comment:

Mobile Edition
By Blogger Touch