January 17, 2015

REVIEW : THE WOMAN IN BLACK 2: ANGEL OF DEATH


Kemunculan The Woman in Black 2: Angel of Death, bisa dibilang, cenderung mendadak di layar lebar. Tanpa banyak hembusan disana-sini, hidangan olahan Tom Harper ini seolah tiba-tiba menghiasi sejumlah bioskop tanah air. Apa yang salah? Jawaban paling memungkinkan, hanya segelintir yang mengantisipasi kehadiran film lanjutan dari The Woman in Black – rilis tiga tahun silam – tersebut atau malah... no one cares! Coba tanyakan sekeliling, apakah masih ada yang bisa mengingat secara jelas seperti apa kengerian dari film pertama? Kebanyakan penonton sebatas mengenangnya sebagai ‘film seram yang dibintangi oleh Daniel Radcliffe’, tidak lebih dari itu. Memang, adaptasi dari novel berjudul sama rancangan Susan Hill ini tidaklah buruk karena masih terbilang berhasil memunculkan suasana mencekam lewat atmosfir suram serba tidak mengenakkan alih-alih sekadar penampakan narsis perempuan bergaun hitam penuh dendam, namun istimewa juga tidak. Maka ketika The Woman in Black 2: Angel of Death dicetuskan, sikap skeptis pun bermunculan. Apa lagi yang hendak dibahas terlebih segala misteri telah tuntas terjawab di film pertama? 

Kenyataannya, tidak ada jaring penghubung antara Angel of Death dengan sang predesesor. Satu-satunya kesamaan diantara kedua film ini adalah sumber teror yang bermukim di Eel Marsh House. Sekali ini, para ‘korban’ adalah seorang guru muda bernama Eve Parkins (Phoebe Fox) beserta sejumlah anak didiknya yang terpaksa diungsikan ke Crythin Gifford untuk menghindari serangan bom yang tak henti-hentinya menghujani London selama Perang Dunia II berlangsung. Sesampainya di kota kecil tersebut, Eve beserta rombongan termasuk kepala sekolah, Jean (Helen McCrory), dibawa menuju rumah tak berpenghuni yang seketika disulap menjadi sekolah darurat. Walau rumah ini dianggap tak cocok untuk menyokong kegiatan belajar mengajar, Eve dan Jean tak mempunyai pilihan lain. Mau tidak mau, mereka harus mendiami rumah tersebut tanpa sedikit pun mengetahui ada bahaya yang tengah mengincar mereka. 

Dalam upayanya menakut-nakuti penonton, Tom Harper menerapkan formula yang telah teruji keberhasilannya di film pertama. Memanfaatkan nuansa gothic yang senantiasa muram – penuh kabut serta minim pencahayaan matahari – terciptalah atmosfir mengganggu. Tanpa perlu ada kelebat-kelebat misterius, hanya sekadar bergantung pada kesunyian dengan sesekali iringan musik, bulu kuduk berhasil dibuat merinding. Kita mencium aroma ketidakberesan semerbak dimana-mana saat mulai menapaki Eel Marsh House. Di setidaknya paruh pertama, Harper banyak mempergunakan metode penguji nyali semacam ini untuk memunculkan sensasi cemas, gemas, dan takut pada rentang waktu bersamaan. Memainkan imajinasi penonton di setiap sudut-sudut, lorong-lorong, maupun ruangan-ruangan di rumah tersebut. Membuat kita senantiasa bersiaga kalau-kalau si perempuan bergaun hitam menampakkan wujudnya yang mengerikan. 

Hanya saja, setelah awalan meyakinkan, perlahan-lahan Angel of Death mulai kehilangan daya pikatnya setelah si pembuat film terlalu memaksakan jump scares yang tidak perlu, konyol dan bercita rasa, errr... murahan. Kentara sekali upaya Harper menggeber hentakan-hentakan untuk mengejutkan penonton demi menutupi lemahnya tata penceritaan rancangan Jon Croker. Sekali dua kali tergolong efektif dalam membuat penonton terperanjat dari kursi bioskop, namun begitu triknya berjalan di tempat – hanya repetisi belaka – kengerian yang telah susah payah dibangun menguap secara cepat dan menyisakan rasa jenuh. Dengan sisi kejut begitu minim, apa yang kemudian dinanti usai penampakan yang kian berlebihan seiring bergulirnya durasi adalah titik klimaks. Mencapai tahapan ini, Angel of Death yang sebelumnya tampak telah kehabisan energi menciptakan jerit ketakutan menunjukkan sedikit taringnya dengan memberi penutup yang cukup pantas dan tidak memalukan. Setidaknya saat lampu dinyalakan penonton tidak akan menggerutu, “apa-apaan sih ini?!”.

Acceptable

1 comment:

  1. Iya, saya juga tahunya mendadak kalo the women in black ada sequelnya, beberapa hari sebelum rilis. Dan baru mau nonton. Semoga lebih serem dari film pertamanya. Meskipun gada danielnya hehe

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch