February 15, 2015

REVIEW : KAPAN KAWIN?


“Seneng yang kamu kasih ke mereka itu kayak cek kosong. Kalau kamu mau kasih duit orang, kamu harus punya duit dulu. Kalau kamu mau bikin seneng orang, kamu dulu yang seneng.” 

Bagi mereka yang menapaki usia 20 tahunan, masih betah melajang, sementara tanggung jawab menyelesaikan masa studi telah tergenapi dan (bahkan) memiliki pekerjaan memadai untuk menopang kebutuhan pokok sehari-hari, ada satu pertanyaan sederhana yang dianggap sebagai suatu momok mengerikan: “kapan kawin?”. Umumnya, senjata pembungkam mulut yang membuatmu seolah-olah tersambar petir ini diluncurkan saat keluarga besar menggelar temu reuni tahunan di perayaan hari-hari besar keagamaan atau sekadar arisan rutin. Jika sudah memiliki gandengan sih dibombardir pertanyaan ini tak terdengar begitu menyakitkan, tapi jika belum... aduh, sakitnya bisa berlipat-lipat ganda. Jangankan mikir mengucap ijab kabul, calon pasangan yang bersedia diajak hidup bareng saja belum ketemu, bagaimana coba? Meminjam istilah generasi muda pengguna Twitter, “rasanya huft banget!”, dan sepertinya memang inilah problematika utama para jomblo-jomblo bahagia yang telah selamat melewati fase “kapan wisuda?”serta “sudah punya pekerjaan?”. 

Menyadari betapa pertanyaan “kapan kawin?” adalah salah satu bentuk fenomena sosial paling menggemparkan saat ini sekaligus memiliki efek beragam pada setiap penerima pertanyaan, Ody C. Harahap ditemani oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny mengemasnya ke dalam sebuah gelaran komedi romantis berjudul Kapan Kawin? Inti cerita dari film ini sebetulnya sederhana. Dinda (Adinia Wirasti), seorang perempuan dengan karir mapan di bidang perhotelan, masih belum memutuskan untuk melenggang ke pelaminan di usianya yang telah mencapai 33. Pencapaian karir yang membanggakan ini sayangnya dianggap kurang bagi kedua orang tuanya, Gatot (Adi Kurdi) dan Dewi (Ivanka Suwandi), yang berharap besar putri bungsunya tersebut telah mempunyai calon pendamping hidup. Guna meredam kegelisahan, Dinda menyewa aktor teater idealis bernama Satrio (Reza Rahadian) untuk berpura-pura sebagai kekasihnya selama berkunjung ke Jogja dalam rangka ulang tahun pernikahan orang tua Diana. Sederet rencana yang telah dirancang rapi oleh Dinda seketika berantakan saat maksud terselubung dari Gatot dan Dewi terbongkar. 

Menciptakan sebuah film komedi yang lucu atau film romantis yang manis menghanyutkan itu tidak mudah. Ketika kedua genre ini ditabrakkan, maka tingkat kesulitannya pun meningkat cukup signifikan sehingga tidak mengherankan jika banyak sineas – bahkan paling berpengalaman sekalipun – gagal memberi racikan tepat. Pada dasarnya, selain memberi keseimbangan pada porsi ngelawak dan romantis, kunci terpenting (dan mutlak!) dimiliki untuk menciptakan film komedi romantis yang bagus adalah chemistry kuat antara dua pelakon utama. Kapan Kawin? adalah satu dari segelintir film jenis ini dari perfilman Indonesia yang memenuhi persyaratan tersebut. Masih teringat jelas bagaimana Adinia Wirasti dan Reza Rahadian memberi chemistry mencengkram saat berperan sebagai sepasang kekasih di Jakarta Maghrib, kini mereka mengulanginya sekali lagi lewat Kapan Kawin?. Sungguh mengasyikkan melihat sosok Dinda dan Satrio berduaan, terutama saat berantem kecil-kecilan, karena penonton berhasil diyakinkan dilihat dari cara mereka berinteraksi satu sama lain maupun memandang bahwa keduanya memang betul-betul pasangan yang ditakdirkan buat saling melengkapi satu sama lain. Keduanya adalah sosok nyata yang begitu kita pedulikan kebahagiaan perjalanan kisah cintanya. 

Ketika penonton berhasil dibuat yakin sekaligus peduli terhadap pasangan tokoh utama, itu artinya Kapan Kawin? telah mengarah ke jalan yang benar. Dan memang, semenjak menit pembuka, film nyaris tak pernah menyentuh nada yang salah. Premis diusung boleh saja terkesan klise – bahkan beberapa kawan membandingkannya dengan The Proposal maupun Pretty Woman – mempergunakan template film komedi romantis kebanyakan, namun dalam perjalanannya, kekhawatiran bahwa Kapan Kawin? akan menjadi ‘another romantic comedy movie’ yang mudah dilupakan tak terbukti. Selain memiliki chemistry hebat yang dibangun oleh dua pemain dengan kredibilitas tak perlu diragukan lagi, jalinan penceritaan dari film yang diracik oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny bukan sekadar menempatkan pertanyaan paling menjengkelkan di dunia ini sebagai guyonan belaka melainkan mengupasnya lebih mendalam yang menghantarkan penonton pada sindiran-sindiran mengupas soal kesempurnaan palsu, stereotip masyarakat, dan adat istiadat yang disadari atau tidak memainkan peranan sangat besar dalam mengatur kehidupan kita dengan merumuskan standar kebahagiaan yang harus dicapai. Tidak ketinggalan pula diselipkan sentilan terhadap industri perfilman Indonesia yang cenderung kurang manusiawi dan tidak ramah pada what-so-called idealisme. 

Walau membawa pokok kupasan serius, Ody C. Harahap tak lantas membawa Kapan Kawin? ke gelaran sarat akan dramatisasi berlebihan. Well, tidak bisa dihindari momen dramatis mengharu biru tetap membayangi, dan memang diperlukan buat hadir, yang difungsikan sebagai titik balik bagi perubahan sikap para tokoh-tokohnya. Namun untuk menghantarkan ke klimaks yang mencampurkan sensasi haru dan romantis, Kapan Kawin? menyuguhkan gelaran adegan penuh kekocakan yang tiada henti-hentinya mengundang tawa renyah penonton dimulai dari perkenalan absurd Dinda dan Satrio melalui sosok Eva (Ellis Alisha) hingga persiapan ulang tahun pernikahan orang tua Dinda. Jika kamu berpikir bahwa semua bagian terbaik dari film telah dibocorkan oleh trailer yang tampaknya membeberkan informasi kelewat banyak, jangan khawatir. Rupanya film masih memiliki segudang stok untuk mengencangkan pipimu karena terlampau sering tertawa, termasuk adegan-adegan yang melibatkan suara serak Reza Rahadian (trust me, it’s freaking hilarious!). Dan memang, Kapan Kawin? tidak pernah berusaha terlalu serius dalam mengapungkan problematikanya dengan gulirannya dituturkan secara ringan penuh kejenakaan namun tetap terasa hangat, romantis, sekaligus mengena khususnya bagi siapapun yang telah mendapatkan pertanyaan “kapan kawin?”. Dibekali oleh skrip cerdas yang ditopang pula production value yang tertata cantik dan performa keren dari jajaran pemainnya – sekaligus membuktikan bahwa Reza Rahadian memang bisa menjadi apa saja! – Kapan Kawin? adalah salah satu film komedi romantis terbaik yang pernah ada di khasanah sinema Indonesia. Sebuah film yang sebaiknya tidak kamu lewatkan begitu saja.

Outstanding



2 comments:

  1. baru sempat nonton di tv film ini...
    Saya mengakui chemistry pasangan ini cukup meyakinkan tapi beberapa scane comedy yg di hadirkan ada beberapa hal tdk bikin ketawa. dari sisi drama juga cukup bagus dgn ending yg cukup manis...
    satu setuju dgn pendapat nya kalo reza rahardian memang cocok jadi peran apa saja salah satu aktor indonesia berbakat..

    ReplyDelete
  2. Keseluruhan, sangat menghibur. Saya suka. Ada 2 hal lain yang menarik perhatian saya. Pertama, reza berani bernyanyi di film ini dengan cukup bagus. Kedua, asti dan reza tampil sangat fashionable hampir di sepanjang film. Salut deh. Film bagus.

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch