May 26, 2015

REVIEW : TOMORROWLAND


“Every day is the opportunity for a better tomorrow.” 

Ada banyak materi terhampar dalam katalog The Walt Disney Company yang bisa dipergunakan untuk diolah menjadi sebuah film. Entah itu berwujud film animasi berstatus klasik yang lantas didekonstruksi agar tetap memiliki cita rasa segar atau wahana bermain ramai pengunjung yang biasa dijumpai di Disneyland. Khusus untuk yang terakhir, Walt Disney Pictures telah melakukan beberapa kali eksperimen melalui Tower of Terror, The Country Bears, dan The Haunted Mansion yang kesemuanya memperoleh resepsi dingin dari khalayak ramai. Satu-satunya keberhasilan dalam ‘percobaan’ dicicipi oleh Pirates of the Caribbean yang bahkan menjelma sebagai salah satu franchise terbesar bagi studio ini. Berharap mampu mendulang kesuksesan serupa, terlebih lagi dibekali oleh premis ambisius yang dikreasi oleh dream team terdiri atas Brad Bird (The Iron Giant, The Incredibles) dan Damon Lindelof (Lost, Star Trek Into Darkness), diciptakanlah Tomorrowland yang terinspirasi dari themepark bernama serupa yang mengakomodir tetek bengek berkenaan dengan nuansa futuristik. 

Dimulai pada tahun 1964, penonton lantas diperkenalkan kepada seorang bocah pemimpi bernama Frank Walker (Thomas Robinson) yang mencoba peruntungan di sebuah event kompetisi teknologi dengan jetpack rakitannya. Sayangnya, saat dipresentasikan di hadapan ilmuwan Nix (Hugh Laurie), jetpack tersebut mengalami malfungsi sehingga kesempatan melenggang membawa trofi seketika pupus. Di saat Frank mulai mencoba menerima kenyataan, Athena (Raffey Cassidy) yang diam-diam memperhatikan, memberinya harapan dalam bentuk pin misterius bersimbol T. Berkat pin ini, Frank dapat melangkahkahkan kaki ke dunia utopia yang memungkinkannya dalam mewujudkan imajinasi liarnya. Untuk sesaat, impian Frank mendapat kehidupan lebih baik sepertinya terpenuhi, sampai kita dilompatkan ke masa kini yang menunjukkan Frank (George Clooney) hidup kesepian tanpa keluarga di pedalaman. Mencoba menghempaskan masa lalu, tiba-tiba Frank kedatangan tamu seorang gadis remaja bernama Casey Newton (Britt Robertson) yang mengaku merasakan pengalaman serupa berkat pin T yang diberikan oleh Athena. 

Beranjak dari premis raksasa, “bagaimana seandainya ada sebuah tempat yang memungkinkan bagi para ilmuwan dan pemimpi untuk bersatu menciptakan apapun yang ingin mereka ciptakan tanpa terusik oleh birokrasi rewel serta pemerintah korup?,” Tomorrowland jelas terdengar menggugah selera. Terlebih lagi materi promosinya yang pelit memberi informasi terkait plot – proyeknya saja dikenal sebagai top secret Disney’s sci-fi movie – dengan penekanan pada visualisasi mengagumkan negeri utopianya membangkitkan ekspektasi yang semakin lama semakin membumbung tinggi. Keterlibatan duo jenius Brad Bird-Damon Lindelof kian mengukuhkan harapan bahwa Tomorrowland akan menjelma sebagai tontonan mind-blowing tingkat tinggi seolah-olah memberi teriakkan lantang, “hei, ini film yang keren!.” Ya, idenya memang harus diakui sangat menarik, malah bisa dikata luar biasa, tetapi pada akhirnya eksekusilah yang berbicara banyak. Dan memperbincangkan soal eksekusi, nyatanya Tomorrowland tidaklah sedahsyat selayaknya bayangan yang terpatri di pikiran banyak penonton. 

Well, Tomorrowland memang masih jauh dari kesan buruk. Brad Bird yang bertindak sebagai sang nahkoda kapal bersedia meladeni permintaan penonton untuk bersenang-senang, paling tidak di paruh pertama. Semenjak takdir mempertemukan Casey dengan pin T, sisi excitement pada film satu persatu mulai dihampar. Bermula pada pengenalan terhadap penampakan Tomorrowland yang tak bisa dipungkiri divisualisasikan secara menakjubkan (ada yang merasa kolam renang bertingkatnya begitu keren?), penyerangan di toko cinderamata yang sedikit banyak menguarkan nuansa Men in Black, sampai gelaran aksi yang memberi kita adegan melarikan diri yang seru melibatkan Casey-Athena. Saat Casey berjumpa untuk pertama kalinya dengan Frank, tensi sedikit diturunkan. Lebih banyak elemen komikal dimainkan, tetapi tidak berlangsung lama sebelum sekelompok pria berjas hitam memaksa dua tokoh utama ini yang kemudian ditemani oleh Athena melakukan pelarian. Menegangkan dan mengasyikkan, tentu saja. Belum lagi di menit-menit ini pertanyaan besar soal “apa sih sejatinya Tomorrowland itu?” beserta “apa yang diinginkan Athena pada Casey-Frank?” masih mengemuka. Kesenangan mencapai puncaknya tatkala kita menjadi saksi megahnya pameran efek khusus melalui perwujudan menara Eiffel yang terbelah. 

Seusai penonton diajak menapaki Tomorrowland, seketika nada penceritaan mulai berkelok. Inilah saatnya Bird harus berkompromi dengan naskah (maunya) thought-provoking buatan Lindelof. Semua gegap gempita yang kita rasakan sebelumnya tergantikan oleh penyampaian bernada menceramahi berisi sederet pesan moral mengenai harapan dan sikap optimis ditambah kritik sosial terhadap peradaban manusia saat ini. Terdengar berat? Bagi penonton cilik yang bersorak sorai memperoleh suguhan menyenangkan khas Disney di paruh pertama, ya. Memberi kebingungan dengan dahi berkerut-kerut. Sementara penonton dewasa – setidaknya bagi saya – mendatangkan rasa tidak puas lantaran visi Lindelof dihidangkan setengah matang oleh Bird. Imbasnya ada pada laju film yang tersendat-sendat, membawa kejenuhan. Penjabaran si pembuat film soal dunia futuristis yang diciptakannya pun lebih banyak memunculkan pertanyaan ketimbang jawaban. Untung saja, Tomorrowland punya departemen akting yang solid – pengecualian untuk George Clooney yang kelewat depresif – efek khusus kelas premium, serta paruh awal yang memberi petualangan mengasyikkan, sehingga sedikit banyak masih termaafkan. Seandainya saja Tomorrowland tidak mencoba untuk berpintar-pintar ria, fokus sepenuhnya pada aspek hiburan, hasilnya bisa jadi akan lebih memuaskan.

Acceptable

No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch