June 11, 2015

REVIEW : JURASSIC WORLD


“Monster is a relative term. To a canary, a cat is a monster. We're just used to being the cat.” 

Apakah kamu masih ingat bagaimana perasaan yang muncul saat menyaksikan Jurassic Park garapan Steven Spielberg untuk pertama kalinya? Apabila sajian ini kamu tonton di era 1990’an – tak peduli melalui medium bioskop atau televisi – hampir bisa dipastikan terperangah dengan ‘rahang terjatuh ke lantai’ adalah pendeskripsian paling tepat. Sulit untuk menampik, efek khusus yang dipergunakan dalam memvisualisasikan dinosaurus pada Jurassic Park terbilang luar biasa (tentu, menurut ukuran kala itu). Spielberg mampu membuat kita berdecak kagum, selain meneteskan keringat dingin lantaran injeksi serum ketegangan pada film yang tidak main-main, yang menjadikan film tersebut sebagai salah satu blockbuster movie terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Lalu, mengharapkan kesuksesan serupa dengan suntikan dana lebih tinggi, Universal Pictures luncurkan The Lost World dan Jurassic Park III yang, well, tak sehebat sang pionir. Mengendurnya kualitas jilid ketiga seketika mematikan franchise laris ini (atau setidaknya itu yang kita kira) hingga diputuskan untuk dihidupkan kembali 14 tahun kemudian dengan upgrade sana sini berwujud Jurassic World

Ditinjau dari penceritaan, sejatinya minim pembaharuan yang bisa kamu jumpai di Jurassic World. Secara garis besar, apa yang hendak dicelotehkan oleh Colin Trevorrow masih seputar “arogansi berlebih manusia membawa petaka.” Ya, meski taman rekreasi Jurassic World di Isla Nublar yang telah dibuka untuk umum telah mendatangkan dollar berlimpah ruah bagi InGen, tapi pihak korporasi dan investor mengharapkan lebih. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke taman bertema prehistorik ini tiap tahunnya, mereka pun mengkreasi spesies dinosaurus baru, Indominus Rex, dengan genetika dicomot dari beragam binatang yang digadang-gadang lebih beringas dari sekumpulan dinosaurus dalam katalog Jurassic World. Tapi tentu saja, rencana untuk menjadikan si hewan buas nan cerdas ini sebagai komoditas utama harus dibayar mahal saat Indominus Rex melepaskan diri dari kandangnya dan secara membabi buta menelan siapapun yang menghalangi langkahnya. Tak ingin korban terus menerus berjatuhan, sekaligus menyelamatkan sang keponakan yang tersesat entah kemana, manajer operasional taman, Claire (Bryce Dallas Howard) pun terjun ke lapangan dengan bantuan Owen (Chris Pratt), salah satu pekerja di taman yang melatih kawanan Raptor. 

Jika kamu termasuk satu dari sekian juta penggemar berat Jurassic Park yang ketar ketir terhadap penanganan Trevorrow film kelanjutan ini, silahkan bernafas lega. Jangankan kita, Spielberg maupun mendiang Michael Crichton – sang pencetus ide – bakal menyunggingkan senyum penuh kebanggaan menilik perlakuan penuh penghormatan dari sutradara pembesut Safety Not Guaranteed ini kepada si franchise. Atmosfir (dan semangat) serupa dari instalmen pertama dapat kamu rasakan di sini, begitu pula dengan setumpuk referensi yang pastinya akan membuat para pecinta trilogi sebelumnya berjingkat gembira. Trevorrow jelas telah menghasilkan sebuah homage yang sempurna. Akan tetapi, apakah itu berarti Jurassic World hanya akan ‘mengetuk hati’ mereka yang pernah merasakan hype dari seri pembuka pada 20 tahun silam? Silahkan (sekali lagi) hembuskan nafas kelegaan karena, well... tidak. Sekalipun penonton belum pernah berkenalan dengan franchise ini, kesenangan masih dapat dicicipi. Jurassic World tak ubahnya taman rekreasi yang di dalamnya dipenuhi wahana permainan mengasyikkan, menegangkan, sekaligus menghibur. Gairah dari para newbie mungkin tidak akan langsung memanas saat pertama kali menjejakkan kaki di taman – seperti halnya dialami salah satu tokoh – tapi begitu merasakan nikmatnya atraksi yang ditawarkan, bisa jadi kamu enggan meninggalkan taman ini. Berkunjung sekali ke Jurassic World juga tidak akan terasa cukup. 

Betapa tidak, kunjungan ke Jurassic World memberi cinematic experience yang sungguh mengesankan. Laju pengisahan memang tak langsung menukik malah cenderung slowburn, menit-menit awal film berfungsi sebagai ‘tour guide’ yang memberi penonton gambaran soal taman kepunyaan Trevorrow. Terima kasih banyak kepada teknologi, mimpi besar John Hammond, sang penggagas taman wisata dinosaurus, dapat diejawantahkan secara cantik ke dalam bahasa gambar. Bangunan dari Jurassic World lengkap beserta isinya berupa fasilitas, wahana, serta dinosaurus, tentunya, sanggup memunculkan kesan ‘wow!’ yang lantas membuat Disneyland tampak terlihat seperti pasar malam. Seusai berjalan-jalan santai kesana kemari seraya mengagumi visualisasi dinosaurus anyar yang lebih besar, lebih seram, dan lebih bergigi (maaf, Indominus Rex, tapi Mosasaurus lah yang membuatku terkesima), penonton memasuki atraksi utama yang ditandai oleh ketegangan mengalami eskalasi. Terhitung sedari si dinosaurus antagonis memutuskan jalan-jalan mencari udara segar, aroma teror semerbak terasa. Ketenangan melenakan di babak awal berangsur-angsur berubah menjadi nuansa mencekam. Kamu yang mendambakan ketegangan selayaknya diumbar di film pertama, berbahagialah. Permainan kucing-kucingan dengan Indominus Rex memberi sensasi menghela nafas panjang, deg-degan, sampai gregetan. Mengingat adanya perluasan skala disana sini, maka jumlah korban yang dicaplok si dinosaurus tidak lagi satu dua... melainkan puluhan (bahkan mungkin ratusan)! 

Dan inilah letak keasyikan dari menyaksikan Jurassic World. Naskah yang tak lagi inovatif atau memberi kedalaman (well, ini problematika utama franchise ini), dapat diampuni berkat kecakapan si pembuat film dalam menggeber ketegangan ke titik maksimal sampai-sampai kursi bioskop pun dicengkram erat-erat. Kita berhasil dibawa larut ke dalam petualangan mendebarkan menjelajahi Jurassic World seraya menghindari kejaran Indominus Rex maupun pertempuran maut antar dinosaurus ditemani oleh duo karakter utama yang begitu mudah untuk dicintai. Bryce Dallas Howard bertransformasi sempurna dari tante workaholic menyebalkan menjadi badass heroine (hey, jangan pernah meremehkan perempuan yang sanggup berlarian di medan berat memakai high heels!) dan Chris Pratt membawakan perannya sebagai sang jagoan yang sedikit arogan secara menawan. Jurassic World tidak saja mengingatkan pada jilid pertama dari franchise tetapi juga summer blockbuster di era 1990’an yang menomorsatukan ketegangan serta kesenangan. Walau memang pada akhirnya Trevorrow tidak mampu mengungguli pencapaian Spielberg di Jurassic Park, tetapi dia jelas telah mengembalikan nama baik franchise ini dengan melampaui pencapaian The Lost World dan Jurassic Park III. Jurassic World, jelas salah satu summer movie tahun ini yang sebaiknya tidak kamu lewatkan begitu saja kehadirannya. Rasakan cinematic experience yang ditawarkannya!

Outstanding



20 comments:

  1. "Walau memang pada akhirnya Trevorrow tidak mampu mengungguli pencapaian Spielberg di Jurassic Park, tetapi dia jelas telah mengembalikan nama baik franchise ini dengan melampaui pencapaian The Lost World dan Jurassic Park III."
    Sepakat dengan kalimat tersebut, Jurassic Park terhebat pada jamannya, tapi film-film soal monster banyak, mesti belum dibilang overloaded, sehingga Jurassic World tak menghentak sebagaimana yang pertama itu.

    ReplyDelete
  2. Seperti biasa, merasa beruntung karena menonton tanpa ekspektasi. Dan beneran terpuaskan, meski sekali lagi emang tetep Jurrasic Park classic tetep the best!

    ReplyDelete
  3. wah reviewnya keren mas.
    saya juga mau revieww jurassic world di blog saya, nanti kunjungi ya hehe

    ReplyDelete
  4. ^ Wah, terima kasih banyak, Radhian.

    Nanti dibaca deh review Jurassic World buatanmu :)

    ReplyDelete
  5. @Doel: Yup, Jurassic Park emang tergolong dahsyat untuk ukuran zamannya... bahkan hingga saat ini lho. Saat menontonnya ulang di bioskop dalam format 3D, masih ngerasain sensasi yang sama seperti pertama kali menontonnya. Tegang banget!

    @WewW: Menonton tanpa ekspektasi itu emang seringkali berakhir memuaskan sih, karena nothing to lose yah.

    ReplyDelete
  6. dah nonton dan gw treak2 sendiri (beneran sendiri sampe di liatin) saking serunya ahahahaha
    salut sama si tante claire, medan gimanapun takluk sama tuh high heels
    don't under estimate girls who can walk on high heels literally everywhere! ahahahaha

    ReplyDelete
  7. Film "Jurassic Park" jelas sebuah film fenomenal. "The Lost World" masih bisa dibilang oke, meski "Jurassic Park III" jelas sebuah kemunduran menurut gua. So, begitu film "Jurassic World" ini dirilis, otomatis gua memasang ekspektasi rendah. Hasilnya? Wow, di luar dugaan. Ternyata filmnya masih mampu memberikan sensasi ketegangan tersendiri saat melihat bagaimana dinosaurus ciptaan manusia menjelma menjadi monster mengerikan.

    Bener kata Mas, "Trevorrow jelas telah menghasilkan sebuah homage yang sempurna." Ada beberapa momen dalam film ini yang kembali ngingetin sama Jurassic Park. Satu hal lagi, emang mantep melihat kekuatan Bryce Dallas Howard berlari melintasi berbagai medan dengan high heels, haha.

    ReplyDelete
  8. ^ Makanya nggak setuju dengan dialog "your boyfriend is a badass" yang diucapin dua bocah itu. Jelas-jelas tante mereka lebih badass daripada Owen. Hahaha.

    Dan yup, Jurassic World emang asyik banget terutama soal homage ke film pertama. Saat mereka berkunjung ke taman lama. Ah, langsung terbayang-bayang pada jilid pertama. Beberapa adegannya juga ngingetin ke Jurassic Park seperti raungan di ending, melompat dari air terjun, sampai rekan kerja Owen yang dicaplok.

    Seketika langsung ingin menonton ulang Jurassic Park.

    ReplyDelete
  9. @Goomse: Hahaha, responnya persis seperti penonton di sebelahku. Teriak-teriak heboh sepanjang film. Tapi hey, itulah yang bikin suasana bioskop jadi hidup dan ngangenin :)

    Dan ya, Claire itu memang heroine sejati. Salut bisa berlarian kesana kemari menghindari kejaran dinosaurus pakai high heels. Itu epik! Lulz.

    ReplyDelete
  10. kalo saya sih pribadi nganggepnya film ini bagus, tapi masih baaaanyaaaakkkk bgt film lain yg jauh lebih bagus, malah saya masih lebih kagum sama jurrasic world tahun 90an itu. Oh ya kenalin mas, saya penggemar film yg baru usia 17tahun :D

    ReplyDelete
  11. Halo, Meuthia, salam kenal! :D

    Oh jelassss... Jurassic Park itu udah dapat status klasik. Kamu tonton sekarang pun masih tetap berasa wow kok. Sempat merasakannya beberapa tahun lalu saat rilis ulang di 3D dan tetap berasa greget.

    ReplyDelete
  12. menurut saya sih yang sekarang juarasic world kurang kena.. dan ceritanya juga kurang seru.

    ReplyDelete
  13. jurasic park yang ini mungkin lebih memperlihatkan keindahan alamnya.

    ReplyDelete
  14. Iya kl aku bilang sih kurang bagus n tdk seseru jurrasic park sblmnya :(

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch