November 17, 2015

REVIEW : THE GIFT


“You're done with the past, but the past is not done with you.” 

Menilik jalinan pengisahannya yang berceloteh mengenai seseorang asing yang terlalu dalam mencampuri kehidupan pribadi sang karakter utama – telah dalam tahapan, terobsesi – sampai-sampai menciptakan teror tatkala dirinya mendapatkan penolakan atas ‘bantuannya’ tersebut, sepintas The Gift memang tidak ubahnya film thriller kebanyakan dari era 1990-an yang guliran konfliknya banyak mempergunakan template dari Fatal Attraction. Bahkan sang sutradara, Joel Edgerton, secara terang-terangan menyebut Fatal Attraction sebagai salah satu sumber inspirasinya untuk karya perdananya ini. Klise? Pada mulanya, begitulah tanggapan saya terhadap The Gift yang di atas permukaan memang menampakkan diri sebagai epigon lainnya dari film ‘percintaan maut’ Michael Douglas dengan Glenn Close ini dengan plot yang (sepertinya) masih seputar kucing-kucingan antara dua kawan lama. Akan tetapi, alih-alih patuh sepenuhnya pada formula dari film sejenis, Joel Edgerton justru memilih untuk sedikit berkreasi terhadap plot The Gift... dan inilah yang membuatnya berasa mengasyikkan buat disimak! 

Saat pasangan suami istri, Simon Callum (Jason Bateman) dan Robyn Callum (Rebecca Hall), tengah berbelanja kebutuhan rumah tangga, seorang pria kikuk bernama Gordo (Joel Edgerton) tiba-tiba menghampiri keduanya dengan memperkenalkan diri sebagai teman Simon semasa duduk di bangku SMA. Mencoba untuk bersikap ramah, terlebih lagi mereka belum memiliki banyak teman karena baru saja pindah ke Los Angeles, pasangan ini mengundang Gordo untuk makan malam. Penyambutan penuh basa basi ini nyatanya disalahartikan oeh Gordo yang belakangan rutin mengirimi hadiah-hadiah kecil bagi pasangan ini. Merasa tidak nyaman kedatangan seseorang dari masa lalu yang sejatinya kesulitan untuk diingatnya secara jelas, Simon pun meminta Gordo untuk menjauhi keluarganya walau Robyn tidak menyetujui keputusan suaminya karena menganggap pertemanan yang diminta Gordo tulus adanya. Tepat seusai Simon menjatuhkan ultimatum pada Gordo, teror demi teror mulai membayangi keluarga kecil ini yang lantas turut menggoyahkan kehidupan pernikahan mereka seiring tersibaknya masa lalu kelam Simon yang coba disimpannya rapat-rapat dari sang istri. 

Agar buah hati pertamanya ini mengendap manis di ingatan – bukan sekadar thriller berplot formulaik – Joel Edgerton tak membawa tuturan The Gift ke arah kelewat konvensional yang mana penonton bisa menebak dengan mudahnya muara dari persoalan semacam ini; Robyn melakukan investigasi untuk mengorek rahasia besar sang suami, lalu berujung pada konfrontasi akhir dengan Gordo (setidaknya, penonton berasumsi dialah si peneror). Edgerton mencoba memberi pendekatan berbeda terhadap konflik beserta penguraiannya yang menambat perhatian penonton melalui pembubuhan twist beserta komentar sosial terkait sisi gelap dari manusia yang mengaburkan benar-salah. Tanpa sedikitpun membocorkan plot dari film lebih jauh karena saya tidak ingin menghancurkan kesenanganmu menyaksikan film ini, ada sejumlah kelokan-kelokan menghadang pada tuturan kisah semenjak teror mulai menyergap keluarga Callum yang memunculkan rasa keingintahuan besar pada diri penonton untuk kemudian mempertanyakan motif dari setiap karakter sampai-sampai pertanyaan (bernada gemas) seperti, “siapa sih sebetulnya si jahat dan siapa sih sebetulnya yang berada di posisi korban?,” turut mencuat ke permukaan. 

Berkat pertanyaan ini, kita mengetahui bahwa The Gift terlahir dari perpaduan antara naskah berkualitas premium, penyutradaraan jempolan dan lakon kelas wahid. Ya, di balik kemasan sederhananya, tidak disangka-sangka The Gift mempunyai kekuatan hebat untuk mengoyak emosi penontonnya keras-keras nyaris di sepanjang durasi khususnya lewat adegan pamungkas yang membuat diri ini terhenyak. Coret-coretan cerdas di atas kertas sanggup diterjemahkan Joel Edgerton ke dalam bahasa gambar beraroma thriller kuat dengan tensi ketegangan yang terjaga begitu rapi – setiap menitnya terasa semakin mencengkram erat, erat, dan erat – sehingga enggan rasanya memalingkan perhatian dari layar bioskop barang sejenak. Kekuatan Edgerton dalam bercerita ini lantas memperoleh sokongan akting-akting hebat dari jajaran pemainnya seperti Rebecca Hall yang mengombinasikan kehangatan, kerapuhan, sekaligus ketegaran dalam karakter Robyn menjadikannya sebagai tokoh paling simpatik di The Gift, lalu duo Jason Bateman dan Edgerton sendiri yang menggiring penonton pada perasaan bimbang untuk berada di tim Simon atau tim Gordo lantaran keduanya secara silih berganti menghadirkan rasa ngeri, kesal bukan kepalang, hingga iba pada diri masing-masing. Seru!

Outstanding

4 comments:

  1. beberapa twist yg di hadirkan cukup buat penasaran...
    tpi ending nya gak se wow yg di bayangkan tadinya saya mengira bakal ada pembalasan dendam yg kuat di ending nyata nya cuma segitu doang.. tpi cukup buat tokoh yg di balas dendam merasa tersiksa..

    ReplyDelete
  2. Warning: Yang belum nonton jangan baca komen ini dulu yaa!

    Endingnya malah buatku nonjok banget lho. Kesannya memang "kok cuma gitu?" tapi coba tempatkan dirimu dalam posisi Simon. Setelah istrimu akhirnya bisa memiliki anak dan mengetahui bahwa mungkin saja anakmu ini bukanlah anakmu (berasa judul sinetron) setelah melihat video 'pemerkosaan' sang istri, bagaimana perasaanmu? Pembalasan dendam Gordo lebih menyerang ke pikiran alih-alih fisik yang mana itu justru lebih kuat efeknya. IMO.

    ReplyDelete
  3. iya mungkin aku ajah yg kurang fokus nonton nya maklum nonton lewat tablet bkn di bioskop jadi efek nya gak sedasyat saat nonton di bioskop...

    ReplyDelete
  4. Menonton film ini sedikit mengingatkan saya dengan "Oldboy" original, nyeseeek banget sama twist nya :D WOW buat buah hati pertama Edgerton !!

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch