December 30, 2015

REVIEW : NEGERI VAN ORANJE


“Cukup satu kejadian. Cukup satu. Untuk mengingat seseorang.” 

Sulit untuk menahan godaan untuk tidak mencicipi Negeri Van Oranje saat bintang-bintang berbakat sinema Indonesia masa kini berkumpul menjadi satu dalam satu layar; ada Abimana Aryasatya, Chicco Jerikho, Arifin Putra, Tatjana Saphira, hingga Ge Pamungkas, untuk memerankan lima sahabat yang di sela-sela padatnya jadwal perkuliahan S-2 dan problematika-problematika perihal asmara mengajak kita berjalan-jalan menikmati eloknya pemandangan Eropa (dalam hal ini, Belanda dan Republik Ceko). Ya, mereka dikumpulkan oleh Falcon Pictures dalam sebuah film arahan Endri Pelita (Dawai 2 Asmara, Air Mata Terakhir Bunda) yang dasar pengisahannya dinutrisi dari novel laris berjudul serupa. Walau materi aslinya turut menguliti perihal perjuangan barisan karakternya – kesemuanya adalah mahasiswa pascasarjana – dalam bertahan hidup selama menimba ilmu di negeri orang, jangan harap kamu bisa memperoleh tuturan inspiratif serupa pada versi film Negeri Van Oranje karena Endri dan tim sendiri lebih memfokuskannya kepada kisah persahabatan berbalut percintaan segi rumit diantara mereka. 

Negeri Van Oranje memperkenalkan kita kepada lima sahabat, yakni Geri (Chicco Jerikho), Wicak (Abimana Aryasatya), Lintang (Tatjana Saphira), Banjar (Arifin Putra), dan Daus (Ge Pamungkas). Menempuh kuliah S-2 di kota berbeda-beda, pertemuan kelimanya bermula dari obrolan tentang rokok saat masing-masing ‘terdampar’ di sebuah stasiun kereta api. Merasa cocok satu sama lain – well, pada dasarnya kesamaan kultur dan asal membuat mereka mudah nyambung – Geri beserta konco-konco barunya ini pun sepakat menjalin tali persahabatan dan menamai kelompok mereka ‘AAGABAN’. Mengingat salah satu personil dari AAGABAN adalah perempuan, belum lagi ini merupakan film yang membutuhkan konflik pelik, maka permasalahan tentang cinta pun tak terelakkan. Lintang diam-diam menaruh cinta ke Geri, sedangkan kawan-kawannya yang lain pun sama-sama naksir kepada Lintang dan berusaha memenangkan perasaan Lintang melalui caranya masing-masing. Persoalan hati inilah yang lantas menggoyahkan persahabatan mereka terutama setelah sebuah rahasia besar terungkap. 

Sebelum memasuki tahapan konflik mencengangkan (dengan catatan, kamu memang sama sekali buta soal Negeri Van Oranje) serta cukup memberi tonjokkan pada emosi meski dalam waktu relatif singkat, tuturan yang dilantunkan oleh Endri Pelita berdasarkan skrip racikan Titien Wattimena beserta Annisa Rijadi sejatinya cenderung aman-aman saja. Dalam artian, nyaris tidak ada gelombang besar berwujud konflik yang ditemukan menghantam sehingga keasyikkan menikmati film murni bergantung kepada keahlian Yoyok Budi Santoso membingkai lanskap cantik Belanda plus Republik Ceko (pada dasarnya pemilihan lokasi latar pun sudah jitu), iringan skoring indah dari Andhika Triyadi, lantunan tembang-tembang easy listening, penataan busana luar biasa cakep yang menegaskan karakteristik barisan tokohnya dan kekuatan lakon ensemble cast-nya. Setidaknya sepanjang paruh pertama film, penonton diajak berkenalan singkat ke setiap karakter laki-laki (Lintang bertindak sebagai narator) seraya berjalan-jalan menelusuri sudut-sudut kota Leiden, Utrecht, Rotterdam, Wageningen, plus Den Haag tanpa pernah ada persoalan berarti pula mencengkram erat yang mengiringi. 

Dan film pun tidak pernah terasa lempeng sekalipun minim konfik lantaran, sulit dipungkiri, ada kesenangan tersendiri menyaksikan Negeri Van Oranje berkat segenap elemen yang telah saya jabarkan di paragraf sebelumnya dapat terkombinasikan secara sempurna khususnya pada poin pemandangan serba membuai mata (ehem, termasuk penampilan fisik para pemainnya). Dengan setiap jajaran pemainnya mempersembahkan chemistry lekat, muncul pula kepercayaan bahwa Chicco Jerikho, Abimana Aryasatya, Arifin Putra, Ge Pamungkas, serta Tatjana Saphira betul-betul menjalin hubungan persahabatan. Bukankah menyenangkan menyaksikan sekelompok sahabat berkepribadian sungguh likable berkumpul bersama untuk saling melempar senda gurau lalu berkelana ke beberapa tempat di negeri orang berpanorama indah dengan sesekali konflik meletup? Ya, kuncinya terletak pada chemistry. Saat kita sanggup terhubung kepada mereka, merasakan kedekatannya, dan pada akhirnya ingin ikut berpetualang bersama mereka, itu artinya chemistry bekerja semestinya. Negeri Van Oranje sangat diuntungkan oleh keberadaan chemistry, selain konklusi sangat manis, yang pada akhirnya mengangkat film ke level lebih terhormat daripada sekadar film jalan-jalan penjual keindahan luar negeri semata.

Exceeds Expectations



5 comments:

  1. ada beberapa review film katanya alur nya tdk mantap banyak loncat2 sehingga tdk terarah ...
    saya pribadi blm menonton film ini...

    ReplyDelete
  2. Plotnya memang agak berantakan, tapi melihat materi aslinya bisa dimengerti. Keasyikkan menonton film lebih disebabkan apiknya chemistry dan well, pemandangan Eropa. Tetap menghibur kok secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  3. baru sempat nonton paling indah pemandangan belanda nya sangat2 memanjakan mata hahaha...
    pas kejutan nya itu walau bentar tapi cukup mencengangkan...

    ReplyDelete
  4. yg kurang di film ini menurut saya pada dialog nya biasa saja kayak sehari2 jadi kurang berkesan..

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch