December 29, 2016

REVIEW : CEK TOKO SEBELAH


"Nggak usah janji dulu kalau nggak yakin bisa menepati."

Dalam Cek Toko Sebelah, kita diperkenalkan kepada seorang pemilik toko kelontong bernama Koh Afuk (Chew Kin Wah). Memasuki usia senja yang menyebabkan dirinya sering sakit-sakitan, Koh Afuk berniat mewariskan tokonya ke putra bungsunya, Erwin (Ernest Prakasa). Mendengar keputusan ini, si sulung, Yohan (Dion Wiyoko), tentu naik pitam karena merasa dilangkahi terlebih lagi dia dan istrinya, Ayu (Adinia Wirasti), selama ini telah banyak mendedikasikan waktu mereka untuk merawat Koh Afuk. Bukannya tanpa alasan Koh Afuk lebih memilih Erwin ketimbang Yohan sebagai penerus kepemilikan toko. Masa lampau si sulung yang carut marut serta sifat cenderung temperamentalnya menyebabkan sang ayah sulit mempercayakan bisnis keluarga ke Yohan. Satu kalimat berbunyi, “mengurus hidup kamu sendiri saja belum bener, bagaimana kamu mengurus karyawan-karyawan toko?,” bentuk penegasan keputusan Koh Afuk. Di lain pihak, Erwin yang memperoleh kepercayaan justru mengalami kebimbangan. Karirnya tengah meroket dan kekasihnya, Natalie (Gisella Anastasia), terang-terangan menunjukkan keberatan menyusul kebersediaan Erwin untuk menjajal mengurus toko selama sebulan. Tak bisa terelakkan lagi, konflik dalam keluarga kecil ini yang sejatinya telah tersulut sedari bertahun-tahun silam pun akhirnya meledak juga. 

December 23, 2016

REVIEW : HANGOUT


Apakah kamu familiar dengan jalan penceritaan dari novel ternama Agatha Christie berjudul And Then There Were None (atau disini dikenal sebagai Sepuluh Anak Negro)? Apabila tidak, secara garis besar tuturannya berkisar pada sepuluh orang asing tanpa relasi satu sama lain yang memperoleh undangan dari seorang kaya nan misterius untuk berkunjung ke huniannya di sebuah pulau. Berharap memperoleh sambutan gegap gempita, nyata-nyatanya undangan ini tidak lebih dari sekadar jebakan yang menuntun kesepuluh tamu tersebut menemui ajalnya masing-masing. Nah, disamping belasan judul adaptasi resmi bersifat langsung – merentang dari film hingga miniseri televisi – And Then There Were None yang mengusung pola whodunnit (tebak-tebak manggis siapa pembunuhnya) pun telah diutak-atik puluhan sineas untuk diekranisasi secara lepas. Salah satu gelaran terbaru yang menerapkan jalinan kisah senada adalah Hangout, sebuah film bergenre komedi thriller arahan Raditya Dika. Hangout sendiri tampak begitu menggoda lantaran tiga faktor; premis, upaya memadupadankan genre komedi dengan thriller, serta fakta bahwa ini pertama kalinya Dika mencoba sedikit keluar dari zona nyamannya yang tidak jauh-jauh dari persoalan kegundahan hati.

December 10, 2016

REVIEW : THE ISLAND FUNERAL


Menandai kembalinya Pimpaka Towira ke ranah film fiksi panjang usai dua belas tahun terakhir berkutat dengan karya dokumenter dan film pendek, The Island Funeral yang setahun silam berhasil memboyong penghargaan Best Asian Future Film Award di Tokyo International Film Festival adalah sebuah sarana sempurna untuk kembali ke dunia layar lebar. Sepintas, ini bak film berpendekatan road movie biasa yang mengetengahkan pencarian jati diri dari barisan karakter utamanya, namun seiring penonton semakin terlibat ke dalam film, nyata-nyatanya The Island Funeral lebih dari sekadar itu. Malahan ada upaya juga dari si pembuat film untuk mencampurbaurkan dengan elemen genre lain semacam horor bersifat supranatural dan dokumenter yang justru menginjeksikan daya tarik tersendiri bagi film bersisipan kritik sosial halus mengenai problematika sosial politik yang beranak pinak di Negeri Gajah Putih dibalik upaya mengadvokasi keberagaman serta kebebasan menyuarakan pendapat ini. 

December 8, 2016

REVIEW : YOUR NAME


“There's no way we could meet. But one thing is certain. If we see each other, we'll know. That you were the one who was inside me. That I was the one who was inside you.” 

Setidaknya ada dua alasan kuat mengapa Your Name (atau dalam judul asli, Kimi No Na Wa) banyak memantik rasa keingintahuan besar dari khalayak ramai. Pertama, film ini menempati urutan teratas tangga box office selama 12 pekan (!) dan sekarang telah nyaman berada pada posisi keempat film terlaris sepanjang masa di Negeri Matahari Terbit. Kedua, Your Name merupakan buah karya terbaru dari Makoto Shinkai. Kalau kamu tidak pernah mendengar namanya, beliau adalah sutradara anime papan atas di Jepang saat ini dengan barisan karya menakjubkan bermuatan sentimentil tinggi semacam 5 Centimeters per Second, Children Who Chase Lost Voices, serta The Garden of Words, dan digadang-gadang sebagai penerus sang maestro Hayao Miyazaki. Mendengar Shinkai-sensei merilis film baru saja sebetulnya telah membangkitkan excitement, maka coba tambahkan dengan kabar bahwa karyanya sekali ini direspon luar biasa hangat oleh kritikus maupun penonton. Memang sebagus apa sih Your Name ini sampai-sampai hype di sosial media pun bisa sedemikian tinggi? Apabila itu pertanyaanmu, jawaban yang kemudian bisa saya tawarkan setelah menyaksikan filmnya di layar lebar adalah “believe the hype” 

December 6, 2016

DAFTAR NOMINASI PIALA MAYA 2016


Deretan peraih nominasi Piala Maya 2016 baru saja diumumkan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu (30/11) siang. Turut hadir memeriahkan acara pengumuman nominasi antara lain Acha Septriasa, Morgan Oey, Niniek L Karim, Marcella Zalianty, serta Nazyra C. Noer. Film arahan Riri Riza, Athirah, memimpin raihan nominasi dengan total sebanyak 13 kategori dari keseluruhan lebih dari 30 kategori yang dikompetisikan oleh Piala Maya tahun ini. Beberapa kategori utama yang menempatkan Athirah di jajaran nominasi antara lain Film Terpilih, Sutradara Terpilih, Skenario Adaptasi Terpilih, Aktris Utama Terpilih, serta Aktor Pendukung Terpilih.

December 5, 2016

REVIEW : MOANA


“If you wear a dress and have an animal sidekick, you're a princess.” 

Tahun 2016 menjadi saksi bisu atas pembuktian diri bagi divisi animasi Walt Disney bahwa mereka secara resmi telah mengambil alih kembali posisi sebagai pembuat film animasi paling terkemuka dari Pixar dengan diluncurkannya dua produk hebat, yakni Zootopia dan Moana. Ya, tatkala tetangga sebelah tengah menghadapi problematika bernama ‘inkonsistensi’ yang menyebabkan beberapa karyanya lewat begitu saja tanpa kesan, Disney justru kian menggeliat dari tahun ke tahun terhitung sedari Tangled (2010). Zootopia memancangkan standar tinggi bagi film animasi dengan penceritaan cerdas pula terhitung berani untuk ukuran Disney, sementara Moana hasil arahan duo Ron Clements dan John Musker (The Little Mermaid, Aladdin) yang menerapkan pola tutur “back to basic” mengingatkan kita sekali lagi kenapa studio ini dapat menjadi raksasa animasi di dunia film. Moana menunjukkan bahwa tontonan mengikat tidak melulu harus bersumber dari gagasan serba bombastis, malah seringkali kesederhanaan dengan eksekusi dan pengemasan yang tepat lebih mampu menghadirkan kejutan-kejutan menyenangkan. 

December 4, 2016

REVIEW : CITY OF JADE


Melalui film dokumenter bertajuk City of Jade, sutradara Taiwan berdarah Myanmar, Midi Z, menghamparkan potret realistis, buram, sekaligus personal mengenai kehidupan para penambang batu giok ilegal di suatu daerah yang kerap disebut Kota Giok. Tidak seperti karyanya terdahulu, Jade Miners, yang lebih banyak menaruh perhatian terhadap siklus kehidupan para penambang dengan gaya bertutur kurang bersahabat bagi penonton kebanyakan – hanya mengandalkan 20 shots selama rentang durasi 100 menit, City of Jade secara spesifik menempatkan saudara laki-laki sang sutradara, Zhao De-chin, sebagai subjek dan adanya dinamika dalam penuturan membuat film akan lebih mudah terhubung ke khalayak luas. Terlebih, kulikan Midi Z disini terhitung sangat menarik karena bukan semata-mata mempergunjingkan soal situasi politik dari tanah kelahirannya yang sarat akan intrik berlarut-larut tetapi juga membahas bagaimana impak besarnya terhadap kehidupan masyarakat Myanmar atau dalam hal ini, keluarganya sendiri.  

November 23, 2016

REVIEW : UNDER THE SHADOW


"They travel on the wind, moving from place to place until they find someone to possess"

Sebelum lahirnya A Girl Walks Home Alone at Night (2014), tidak sedikit publik internasional yang dibuat bertanya-tanya, “bagaimana sih wajah sinema Iran dalam film horor?,” lantaran selama ini referensi atas film asal Iran mayoritas terbatas di sektor drama. Memang sih film vampire berhijab ini merupakan keluaran Negeri Paman Sam, namun paling tidak khalayak ramai memperoleh cukup pandangan bakal seperti apa wujudnya kalau-kalau sineas Persia mencoba mempermainkan rasa takut penonton dalam produk kreatif. Tontonan terbaru kreasi sutradara debutan Babak Anvari yang mewakili Inggris Raya di ajang Oscars tahun depan, Under the Shadow, pun tak beda jauh kasusnya dengan A Girl Walks Home Alone at Night. Memperoleh banyak dukungan dari pemain serta kru berdarah Iran, nyatanya film ini merupakan hasil kerjasama antara Inggris dengan Qatar dan Yordania alih-alih produk lokalan seperti kerap dikira banyak pihak. Berita buruk? Sama sekali tidak. Malahan adanya keuntungan tersendiri tidak terbentur dengan persoalan sensor membuat Under the Shadow lebih lugas dan bebas dalam menyuarakan kegundahan hati si pembuat filmnya terkait mimpi buruk yang terlahir dari situasi sosial politik dan represi terhadap perempuan di Iran. Yang membuatnya terdengar semakin menarik, segala bentuk komentar sosial ini disampaikan melalui film bergenre horor. 

November 18, 2016

REVIEW : FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM


“Yesterday, a wizard entered New York with a case. A case full of magical creatures. And unfortunately, some have escaped.” 

Gagasan mengalihrupakan buku Fantastic Beasts and Where to Find Them hasil tulisan J.K. Rowling (menggunakan nama samaran Newt Scamander) ke medium audio visual sebetulnya sudah terdengar maksa, apalagi merentangkannya menjadi franchise baru dengan total jenderal lima seri. Jelas sudah jauh lebih gila pula ambisius dari The Hobbit tempo hari. Pasalnya, Fantastic Beasts bukanlah berbentuk novel konvensional yang didalamnya mengandung plot runtut melainkan sebuah ensiklopedia mini berisi panduan atas satwa magis yang dijadikan buku teks wajib bagi siswa-siswi Hogwarts. Jadi pertanyaannya adalah, akankah versi filmnya berceloteh mengenai petualangan si pengarang dalam berburu binatang-binatang fantastis ini seperti, errr... Pokemon? Bisa jadi. Pun demikian, segala bentuk skeptisisme terhadap spin-off sekaligus prekuel bagi kedelapan seri film Harry Potter ini perlahan tereduksi begitu dikonfirmasi bahwa J.K. Rowling ikut turun tangan secara langsung sebagai penulis skrip. Keterlibatan ibunda, disamping sedikit banyak memberikan jaminan bahwa Fantastic Beasts tidak akan melenceng jauh dari jalurnya, juga membantu meningkatkan excitement di kalangan Potterhead karena ini kesempatan emas untuk bernostalgia pula mengeksplor lebih jauh wizarding world dalam semesta Harry Potter rekaan Rowling. 

November 12, 2016

REVIEW : HACKSAW RIDGE


“While everybody is taking life I’m going to be saving it, and that’s going to be my way to serve.” 

Mengistirahatkan diri dari karir penyutradaraan selama satu dekade tercatat sedari Apocalypto (2006) dan lantas mengalihkan energinya ke bidang lakonan maupun produser yang kurang menuai sukses, Mel Gibson akhirnya memutuskan untuk kembali menekuni karir yang telah menghadiahinya satu piala Oscars (berkat Braveheart) lewat Hacksaw Ridge. Masih mengusung elemen epik kolosal seperti ketiga garapan terdahulunya – termasuk pemenang Oscars, Braveheart, dan film kontroversial tentang Yesus, The Passion of the ChristHacksaw Ridge didasarkan pada kisah nyata menakjubkan dari seorang prajurit bagian medis bernama Desmond T. Doss yang dianugerahi Medali Kehormatan atas jasa-jasanya menyelamatkan puluhan nyawa pada Perang Dunia II. Apabila fakta yang menyebutkan dia bisa membawa pulang sebanyak 75 prajurit (malah ada kemungkinan lebih dari itu!) secara selamat dari medan peperangan belum cukup membuatmu takjub, tunggu sampai kamu mengetahui kenyataan bahwa Doss sukses melakukan aksi penyelamatan tersebut sekalipun dirinya sama sekali enggan memanggul senjata selama diterjunkan mengikuti pertempuran melawan Nippon. 

November 8, 2016

REVIEW : OUIJA: ORIGIN OF EVIL


“He's gone. He lives in the dark and the cold, and he screams, and screams, and screams...” 

Ouija (dibaca wee-jah) adalah sebutan untuk sebuah papan kayu datar yang diukiri huruf-huruf beserta angka-angka, dibubuhi kata berbunyi “yes” “no” maupun “goodbye”, serta berhiaskan ornamen matahari serta bulan di kedua sisi atas. Kegunaannya, sebagai media berkomunikasi dengan arwah – ya mirip-mirip Jelangkung gitu deh. Terdapat tiga peraturan yang kudu dipatuhi selama bermain dengan Ouija; dilarang memainkannya sendiri, dilarang mempergunakannya di atas kuburan, dan wajib mengucap salam perpisahan saban mengakhiri sesi tanya jawab bersama para lelembut. Ketiga peraturan ini sifatnya mutlak, tidak mengenal kompromi dalam bentuk apapun. Jika berani melakukan pelanggaran, bersiaplah menerima konsekuensi mengerikan seperti biasa dialami oleh karakter-karakter mengenaskan di film horor. Kebenaran mengenai Ouija sendiri sebetulnya masih dipertanyakan, namun board game keluaran Hasbro ini sempat mengalami lonjakan popularitas di era 60-an dan perlahan tergerus keberadaannya oleh modernitas. Belakangan Hasbro berniat mempopulerkannya kembali lewat medium film berjudul Ouija di tahun 2014 dan disusul prekuelnya dua tahun kemudian, Ouija: Origin of Evil, yang berupaya memperbaiki citra film pendahulu yang memprihatinkan. 

November 4, 2016

REVIEW : SHY SHY CAT


“Buat apa saya minta ke kamu? Minta itu ke Allah. Dan dari dulu yang saya minta ke Allah cuma kamu.” 

Apabila kamu berasal dari kota kecil, atau malah pelosok desa, rasa-rasanya pernah berada di fase diteror dua perkara. Pertama, kesulitan menjumpai pekerjaan sesuai minat bakat dengan gaji memadai sehingga bayangan soal meninggalkan kampung halaman lalu menjajal cari peruntungan hidup di metropolitan terus menerus menyembul. Dan kedua, diburu-buru menikah dengan ‘ancaman’ akan dijodohkan jika belum kunjung menemukan calon pendamping hidup kala menapaki usia tertentu. Melalui kolaborasi ketiganya bersama Adhitya Mulya setelah Test Pack: You Are My Baby dan Sabtu Bersama Bapak, Monty Tiwa mencoba merangkum (plus menertawakan) kegelisahan-kegelisahan ini ke bentuk sebuah tontonan komedi romansa sarat kritik sosial yang dimeriahkan barisan bintang-bintang ternama berjudul Shy Shy Cat. Dalam kaitannya sebagai sentilan sentilun, film memang cenderung terbata-bata untuk memenuhi segala potensinya. Tapi dalam tatarannya sebagai sajian yang diperuntukkan bagi para pencari obat pelepas penat, Shy Shy Cat terhitung merupakan salah satu yang paling berhasil tahun ini. 

November 1, 2016

REVIEW : AE DIL HAI MUSHKIL


“We can’t choose when to fall in love, but we can choose when to walk away.” 

Sudah cukup lama diri ini tidak mendapati nama Karan Johar mengemban kredit sebagai sutradara. Selepas meluncurkan Student of the Year (2012), putra dari sutradara legendaris, Yash Johar, yang kini mengelola rumah produksi Dharma Productions ini lebih asyik menempati kursi produser. Baru menjelang perayaan Diwali (hari raya bagi umat Hindu di India) di tahun 2016, Karan yang memulai karir penyutradaraannya dengan menggarap film fenomenal Kuch-Kuch Hota Hai kembali menyapa para penikmat tontonan Bollywood. Lewat kreasi termutakhirnya bertajuk Ae Dil Hai Mushkil, atau mempunyai makna this heart is complicated, sekali lagi Karan bermain-main di zona yang membesarkannya, disayanginya, serta dikuasainya betul-betul. Itu berarti, film tersusun atas elemen-elemen berikut ini: 1) pelakon utama bertampang rupawan, 2) lokasi pengambilan gambar mengagumkan yang kebanyakan berada di luar India, 3) plot terkait hubungan percintaan rumit, 4) nomor-nomor musikal renyah di telinga, 5) melodrama penguras air mata, 6) tata produksi diatas rata-rata, dan 7) durasi melampaui 2,5 jam. Pengecualian untuk My Name is Khan, kamu bisa mendapati adanya tujuh unsur tersebut di film-film Karan termasuk Ae Dil Hai Mushkil

October 30, 2016

REVIEW : DOCTOR STRANGE


“You think you know how the world works. You think this material universe is all there is. What if I told you the reality you know is one of many?” 

Dengan pustaka film kepunyaan Marvel Studios telah mempunyai sejumlah koleksi terhitung sangat impresif semacam Iron Man 2, Captain America: Winter Soldier, sampai The Avengers, sejatinya sudah cukup sulit membayangkan langkah apa selanjutnya yang bakal mereka tempuh guna mempertahankan posisi sebagai penghasil adaptasi film komik terkemuka di dunia saat ini. Di kala pesimistis mulai mengusik, serentetan kejutan satu demi satu menyeruak berwujud Guardians of the Galaxy yang berjasa mempopulerkan kembali tembang-tembang dari era 60-70’an, Ant-Man mencuplik elemen heist movie, hingga paling anyar, Doctor Strange, yang menguatkan kembali keyakinan bahwa studio ini tidak akan membuat film buruk... setidaknya dalam waktu dekat. Tajuk utama dari film keempat belas dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe ini sendiri telah berteriak cukup lantang untuk menggambarkan seperti apa tontonan yang bakal kita dikonsumsi, yaitu strange (aneh) – meski kata “strange” disini merujuk pada nama belakang si karakter utama, bukan berfungsi sebagai kata sifat. Akan terdengar cenderung hiperbolis memang menyebut Doctor Strange sebagai sebuah “the strangest mainstream movie I’ve ever seen!”, tapi memang begitulah adanya. Mendobrak segala batasan-batasan yang ada, film arahan Scott Derrickson ini membawamu menjelajahi dunia imajinasi yang boleh jadi tak pernah kamu bayangkan akan bisa dicicipi di film superhero sebelumnya. 

October 25, 2016

REVIEW : BRIDGET JONES'S BABY


“Well, I can always find time to save the world. And Bridget, you're my world.” 

Pasca bersatunya Bridget Jones (Renee Zellweger) dengan Mark Darcy (Colin Firth) di penghujung Bridget Jones: The Edge of Reason – sebuah sekuel kebablasan nan menggelikan bagi Bridget Jones’s Diary – ditambah resepsi kurang memuaskan bagi film kedua, sebetulnya tidak banyak yang mengantisipasi keberadaan jilid ketiga terlebih rentang waktunya sudah terlampau panjang (lebih dari satu dekade lho!). Namun ternyata pihak studio, Working Title, belum siap untuk memberhentikan franchise ini begitu saja. Mereka lantas merekrut kembali dream team dari seri-seri terdahulu, termasuk Hugh Grant yang kemudian memutuskan hengkang di tengah-tengah pengembangan proyek, dan melahirkan film ketiga bertajuk Bridget Jones’s Baby yang sekali ini materi ceritanya tidak diekranisasi dari novel buatan Helen Fielding selayaknya dua film pertama melainkan hasil urun rembuk Fielding bersama Dan Mazer dan Emma Thompson. Hasilnya, sebuah nostalgia manis pula menhangatkan hati yang akan mengingatkanmu kembali mengapa sosok Bridget Jones banyak dicintai oleh beragam kalangan.

October 21, 2016

REVIEW : ME VS MAMI


Dengan dibekali skrip, pengarahan beserta lakonan ciamik dan bukan semata-mata bentuk perpanjangan dari video pariwisata, probabilitas sebuah road movie berakhir menggelorakan semangat dalam artian asyik buat disantap sebetulnya cenderung lebih besar ketimbang kering kerontang. Me Vs Mami, keluaran teranyar MNC Pictures, mempunyai modal mumpuni untuk tegak berdiri diantara jajaran film-film yang mengambil pendekatan road movie. Betapa tidak, film ini mempunyai Cut Mini (salah satu aktris terbaik di perfilman Indonesia) di lini utama, disutradarai Ody C. Harahap yang berjasa memberi penonton kekacauan seru nan menyenangkan dalam wujud Kapan Kawin? maupun Skakmat, dan premisnya perihal perjalanan darat penuh lika-liku pasangan ibu-anak perempuan yang tidak akur begitu menggiurkan. Jaminan mutu seolah telah jelas ada dalam genggaman. Dengan rilisan pekan lalu bertajuk Wonderful Life yang mengangkat semangat senada – hanya saja aura sentimentilnya lebih pekat – melampaui ekspektasi, ada sejumput euforia menyertai buat sesegera mungkin menyantap Me Vs Mami yang ternyata oh ternyata, sayang beribu sayang, merupakan anggota baru dari klub “film yang kesulitan memenuhi potensi besarnya”. 

October 18, 2016

REVIEW : ADA CINTA DI SMA


Mudah untuk menganggap sebelah mata Ada Cinta di SMA arahan Patrick Effendy. Menilik sejarah ketidakberhasilan Patrick Effendy, manajer CJR, dalam mengarahkan anak-anak asuhnya di film debutannya bertajuk CJR the Movie yang tak ubahnya film jalan-jalan banal adalah salah satu alasan. Alasan lain, menjumpai film remaja berbasis percintaan buatan sineas tanah air yang nyaman buat ditonton sudah teramat sangat sulit. Jika bukan epigon dari Ada Apa Dengan Cinta? yang simpul penceritaannya sengaja dirumit-rumitkan padahal pokok konfliknya sederhana, ya berusaha terlalu keras menjadi romantis lewat untaian dialog-dialog yang harus banget bisa dikutip. Boleh dikata, skeptisisme atas film romansa muda mudi sudah sama tingginya dengan skeptisisme pada film horor dalam negeri. Itulah mengapa Ada Cinta di SMA yang dijual sebagai film perpisahan CJR kepada para Comate (sebutan untuk jajaran penggemar beratnya) tidak secara instan mencuri perhatian begitu dilepas, kecuali bagi basis penggemarnya. Dilingkungi sikap suudzon bahwa ini hanyalah film remaja menjemukan nan menjengkelkan lainnya, Ada Cinta di SMA nyatanya justru membawa kejutan besar bagi mereka yang telah meremehkannya. Manis, menggemaskan, dan menghibur, ini adalah film yang akan membuat para penontonnya tersenyam-senyum bahagia sepanjang menontonnya. 

October 12, 2016

REVIEW : MISS PEREGRINE'S HOME FOR PECULIAR CHILDREN


“You don't have to make us feel safe, because you've made us feel brave.” 

Seperti telah kehilangan mojo-nya, Tim Burton tergagap-gagap dalam memberikan impresi mendalam melalui beberapa film terakhirnya terkhusus selepas era Sweeney Todd (2007). Memang tidak ada satupun yang sampai berakhir mengenaskan bahkan terhitung tetap berada di level “diatas rata-rata”, hanya saja mengingat kita mengetahui reputasi serta seberapa tinggi kapabilitas sutradara berciri khas gothic ini tentu film-film ‘kering’ yang lebih menekankan pada permainan visual daripada substansi adalah suatu kemunduran. Dengan kekecewaan berulang, tentu tidak banyak pengharapan tersemat ke film terbarunya, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, yang didasarkan pada novel young adult bertajuk serupa karya Ransom Riggs walau sekali ini Burton kembali menceburkan diri ke ranah kegemarannya: petualangan bernuansa fantasi yang gelap bagi bocah-bocah terpinggirkan. Membawa sejumput ekspektasi saja ke gedung bioskop – apalagi saya belum pernah sedikitpun menyentuh novel buatan Riggs tersebut – nyatanya menghadirkan keuntungan tersendiri. I quite enjoyed it. Terdapat kesenangan berikut sekelumit excitement dalam Miss Peregrine yang belakangan cenderung agak sulit ditemukan di film-film Burton. 

September 30, 2016

REVIEW : ATHIRAH


Tradisi Miles Films sedikit berubah tahun ini. Jika biasanya mereka hanya mempersembahkan satu karya untuk khalayak ramai, maka sekali ini dua film diluncurkan dengan pendekatan cenderung berbeda; Ada Apa Dengan Cinta? 2 dan Athirah. Adanya perbedaan pun tidak sebatas terhenti pada tradisi maupun bagaimana kedua buah hati diperlakukan, melainkan sampai menyasar ke lantunan kisah. Athirah, film terbaru dari Miles Films yang disarikan dari novel bertajuk sama racikan Alberthiene Endah serta dikomandoi oleh Riri Riza, pada dasarnya adalah sebuah film biografi. Didalamnya, terdapat konflik terkait istri dimadu (atau bahasa kerennya, poligami) dan elemen religi yang melingkungi. Dalam menafsirkan ulang kisah Athirah, ibunda dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, ke bahasa gambar gerak Riri sebisa mungkin tidak ingin terkungkung pada pakem film biografi, poligami, maupun religi yang jamak diaplikasikan oleh mayoritas sineas dalam negeri. Biografi condong ke arah glorifikasi, poligami identik dengan isak tangis tak berkesudahan, dan religi sekadar untuk alat hias belaka. Riri mencoba memberi warna lain lewat penuturan lebih puitis nan elegan dalam Athirah sehingga sulit disangkal memberikan kesegaran tersendiri bagi film yang sejatinya mengusung tema usang ini. 

September 28, 2016

REVIEW : ONE DAY


Masih ingat dengan film komedi romantis asal Thailand yang bikin geli-geli gregetan, Hello Stranger? Apabila masih mengingatnya jelas – bahkan dirimu adalah salah satu yang dibuat jatuh hati olehnya – maka One Day yang juga menjamah ranah komedi romantis tentunya harus menduduki peringkat teratas dalam daftar “film yang wajib ditonton secepat mungkin, begitu ada waktu senggang”. Alasannya sederhana; One Day menandai kolaborasi reuni antara sutradara Banjong Pisanthanakun (Shutter, Pee Mak) bersama aktor sekaligus peracik skenario Chantavit Dhanasevi yang sebelumnya bertanggungjawab atas lahirnya Hello Stranger. Mereka bekerjasama dibawah naungan rumah produksi GDH (Gross Domestic Happiness) yang merupakan jelmaan GMM Tai Hub setelah pecah kongsi akhir tahun lalu. Guliran penceritaan diajukan di karya terbaru ini pun sejatinya tidak jauh berbeda. Apabila Hello Stranger mempersilahkan dua orang asing untuk saling merajut kasih dalam tempo sepekan di Korea Selatan, maka One Day mempersingkatnya ke batasan maksimal: satu hari saja. Kali ini, Jepang adalah saksi bisunya. Mencuplik elemen dongeng berbumbu fantasi, sang protagonis laki-laki disini yang berasal dari kalangan nobody diceritakan memperoleh kesempatannya untuk membuat perempuan idamannya bertekuk lutut hanya dalam waktu sehari. 

September 17, 2016

REVIEW : BAD MOMS


“You're so not a failure as a mother. In fact, you're the best mother that we've ever seen.” 

Siapa bilang para ibu rumah tangga tidak bisa berpesta gila-gilaan? Dijerat rutinitas menjemukan nan melelahkan yang berkutat di kisaran mengurusi anak entah itu menyiapkan sarapan, mengantarkan ke sekolah, sampai memenuhi segala kebutuhan mereka termasuk membantu mengerjakan tugas sekolah, lalu menghadiri rapat pertemuan wali murid yang pokok bahasannya berpotensi bikin menguap lebar-lebar, kemudian membereskan pekerjaan rumah seperti menuntaskan cucian menumpuk atau memasak makan malam untuk seluruh anggota keluarga di malam hari walau energi telah terkuras habis seharian, dan belum lagi jika dirongrong kejadian-kejadian tak terduga yang membutuhkan perhatian lebih... well, mereka bisa melakukan apa saja guna melepaskan kepenatan hidup asalkan diberi kesempatan. Duo pencetus trilogi The Hangover, Jon Lucas dan Scott Moore, memberi kita gambaran bagaimana seandainya para ibu-ibu tersebut akhirnya memperoleh kesempatan emas kemudian memanfaatkannya semaksimal mungkin di kreasi teranyar keduanya, Bad Moms, yang bak perpaduan antara The Hangover dan Mean Girls

September 12, 2016

REVIEW : NERVE


“Are you a Watcher? Or a Player?” 

Venus ‘Vee’ Delmonico (Emma Roberts) mempunyai wajah ayu, kemampuan membidik kamera yang apik, tapi dia bukanlah gadis paling digilai para lelaki di sekolahnya. Ketakutannya untuk keluar dari zona nyaman menyulitkannya berterus terang kepada sang ibu (Juliette Lewis) mengenai masa depannya dan memerangkapnya sebagai dayang-dayang dari Sydney (Emily Meade), seorang pemandu sorak yang populer. Kehidupan Vee yang bisa dibilang monoton mendadak berubah 180 derajat ketika sebuah kejadian memalukan memicu kemarahannya hingga mencapai titik kulminasi, membuatnya nekat mendaftarkan diri menjadi salah satu kontestan di permainan ilegal berbasis dunia maya bernama Nerve yang tengah digandrungi generasi muda. Aturan permainan Nerve sendiri terbilang sederhana. Saat kamu memasuki laman utama, muncul dua opsi untuk dipilih; pemain atau penonton. Melibatkan diri sebagai pemain berarti menuntaskan setiap tantangan demi merebut hadiah berupa uang sekaligus popularitas, sementara memilih sebagai penonton berarti membayar guna menyaksikan para pemain beraksi via ponsel pintar maupun komputer. Pemain dapat mencapai level lebih tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilannya menaklukkan tantangan, tetapi juga seberapa besar respon penonton terhadapnya. 

September 9, 2016

REVIEW : WARKOP DKI REBORN - JANGKRIK BOSS PART 1


“Ini bukan taplak meja sembarangan lho. Pernah dipakai sama Katy Perry. Jadi kalau makan di meja ini, serasa makan sama Katy Perry. Gitu!” 

Pasca melepas 30 judul film, grup lawak legendaris, Warkop DKI, yang tersusun atas Dono, Kasino, dan Indro, memutuskan mengakhiri atraksi kelakarnya dalam medium film bioskop pada dua dasawarsa silam lewat Pencat Sana Pencet Sini (1994) menyusul situasi perfilman nasional yang tidak kondusif. Selepas itu, mereka bertransmigrasi ke layar beling sampai kemudian Kasino dan Dono menghadap ke Yang Maha Satu. Merek dagang Warkop sempat terhenti di periode awal 2000-an dengan Indro lebih memilih berkonsentrasi ke solo karir alih-alih merekrut personil anyar guna mempertahankan eksistensi grup yang membesarkan namanya tersebut. Vakum selama belasan tahun, adalah rumah produksi Falcon Pictures (Comic 8, My Stupid Boss) yang melontarkan gagasan untuk mengaktivasi Warkop DKI – tentunya dengan jajaran personil baru. Tiga nama terpilih dalam regenerasi Warkop DKI (atau Warkop DKI Reborn) yakni Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, serta Tora Sudiro. Saking ikoniknya sosok Dono, Kasino, maupun Indro, penunjukkan ini jelas memicu beragam reaksi keras dari kalangan netizen yang ceriwis mengingat tampilan fisik diantara mereka jauh berbeda. Namun segala kebisingan ini mulai mereda tatkala trailer resmi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dilepas, disusul oleh film utuhnya yang lantas cukup ampuh membungkam lontaran skeptisisme pula hina dina.

September 6, 2016

REVIEW : TRAIN TO BUSAN


“I’ll take you to mom no matter what.” 

Belum ada sepekan memproklamirkan 2016 sebagai tahun yang ngertiin banget para pecinta film horor – hati masih dibuat bungah oleh Don’t Breathe – muncul satu lagi judul film seram yang menyita perhatian. Sekali ini penyuplainya bukan Negeri Paman Sam, melainkan dekat-dekat saja berasal dari Korea Selatan dan konon kabarnya telah merengkuh 11 juta penonton selama penayangan di bioskop dalam negeri (wuedan!). Train to Busan, demikian film ini disebut, bermain-main dalam teritori zombie yang ulik punya ulik baru kali pertama dijadikan bahan kupasan film besar buatan sineas Negeri Gingseng dan ngobrol-ngobrol soal pertama, kursi penyutradaraan film ini diduduki sutradara pendatang baru dalam ranah live action, Yeon Sang-ho, yang jejak rekamnya meliputi animasi-animasi panjang seperti The King of Pigs dan The Fake. Hmmm... meragukan? Well, sekalipun serba pertama, kenyataannya Train to Busan bukanlah ‘film hijau’ yang bisa kamu olok-olok sesuka hati. Menyatukan elemen penggedor jantung dengan elemen penggelitik saraf haru secara sempurna berbalut efek khusus meyakinkan, Train to Busan merupakan bukti lainnya bahwa perfilman Korea Selatan seharusnya di tingkatan teratas untuk diwaspadai oleh Hollywood. 

September 3, 2016

REVIEW : INI KISAH TIGA DARA


Pertama kali mendengar Nia Dinata akan meng-upgrade film klasik Tiga Dara (1956) gubahan Usmar Ismail yang baru-baru ini dipertontonkan ulang ke khalayak ramai, dua reaksi meluncur bersamaan: bahagia dan was-was. Bahagia karena Nia akhirnya kembali menelurkan sebuah karya setelah lima tahun lamanya vakum dari kursi penyutradaraan terhitung semenjak Arisan! 2, sedangkan was-was lantaran materi sumbernya adalah sebuah mahakarya dari seorang Bapak Perfilman Nasional. Tentunya kekhawatiran ini tanpa bermaksud sedikitpun meremehkan kapabilitas Nia. Hanya saja, bukankah ada pepatah mengatakan bahwa “jangan pernah sekali-sekali perbaiki sesuatu yang tidak rusak”?. Well, Nia sih mengaku film terbarunya yang bertajuk Ini Kisah Tiga Dara hanya sekadar terinspirasi dari Tiga Dara alih-alih merekonstruksi, namun mengingat garis utama ceritanya kurang lebih serupa mengenai tiga bersaudari lajang yang kehidupan personalnya direcoki sang nenek – bahkan turut mengambil treatment sebagai film musikal dengan satu dua tembang digubah ulang – komparasi keduanya pun sulit dielakkan. 

August 31, 2016

REVIEW : DON'T BREATHE


Cenderung kesulitan menjumpai film horor yang terpatri kuat di ingatan tahun lalu, eh tidak dinyana-nyana pecinta genre ini dimanjakan sekali di 2016 dengan bertebarannya film seram berkesan mendalam. Hampir setiap bulan terwakili oleh satu judul film – kebanyakan diantaranya enggan menyambangi bioskop tanah air kecuali The Conjuring 2 beserta Lights Out – dan khusus bulan Agustus, menghadirkan Don’t Breathe arahan Fede Alvarez yang sebelumnya memberi kita ‘pesta darah’ kala mengkreasi ulang The Evil Dead. Bertolak belakang dengan debut film panjangnya, Don’t Breathe tidak meneror penonton lewat kekerasan berlevel tinggi yang memerahkan layar sekaligus bikin ngilu melainkan nuansa klaustrofobik sangat mengganggu bertabur ketegangan yang mengalami eskalasi di setiap menitnya. Ya, daya cekam hebat adalah kunci utama dari keberhasilan Don’t Breathe. Saking hebatnya, saya bahkan cukup berani untuk mencalonkan Don’t Breathe sebagai kandidat utama film horor terbaik sepanjang tahun 2016. 

August 25, 2016

REVIEW : DETECTIVE CONAN: THE DARKEST NIGHTMARE


Let me just say, The Darkest Nightmare adalah salah satu seri terbaik dari rangkaian film Detective Conan. Secara personal, saya akan menempatkannya di jajaran lima besar terbaik bersama Captured in Her Eyes, The Phantom of Baker Street, Crossroad in the Ancient Capital, serta The Eleventh Striker – kamu sangat mungkin akan mempunyai pendapat berbeda soal ini. Dalam jilid ke-20 ini, Kobun Shizuno menghamparkan plot rapat berelemen spionase pekat yang mengikat atensi penonton. Tidak hanya itu, keberadaan serentetan laga seru pun bisa kamu endus keberadaannya disini. Keduanya, telah mengemuka sedari menit pertama atau katakanlah prolog yang gegap gempita. Seorang perempuan misterius (disuarakan oleh Yuki Amami) diperlihatkan mendobrak masuk ke Biro Keamanan Publik guna mencuri NOC (Non-Official Cover), sebuah data penting berisi nama-nama agen rahasia dari seluruh dunia yang menyusup ke tubuh Organisasi Hitam. Tak berselang lama, yang kita saksikan berikutnya adalah kejar-kejaran mobil berkecepatan tinggi di jalanan Tokyo yang berujung pada terlemparnya mobil si perempuan ke sungai. 

August 21, 2016

REVIEW : TIGA DARA


“Nunung merenung, Nana merana, dan Neni bersedih hati.” 

Rupa-rupanya penduduk negeri ini tak pernah lelah meributkan soal cari jodoh. Pertanyaan “kapan kawin?” dilanjut tawaran membantu mencarikan pasangan yang kerap diajukan kepada para lajang di usia kepala dua keatas masih menjadi teror psikologis terhebat dalam era serba digital sekalipun enam tahun lalu sudah diungkit-ungkit oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail, melalui Tiga Dara (1956). Hanya Tuhan yang tahu sejak kapan persisnya pertanyaan mengusik tersebut tumbuh berkembang di bumi pertiwi, namun satu hal yang jelas, Tiga Dara yang merupakan rekaman sejarah bangsa Indonesia berbentuk produk kebudayaan menunjukkan bahwa problematika dikejar tenggat waktu menuju ke pelaminan tetap berasa relevan sampai setengah abad kemudian. Tidak peduli telah melewati tiga periode pembangunan politik maupun pergantian tampuk kepemimpinan sebanyak enam kali, persoalan mencari jodoh tetap dianggap mempunyai urgensi setara dengan mencari sesuap nasi bagi sebagian masyarakat Indonesia. 

August 20, 2016

[Special] KRITIK FILM BUKAN SEKADAR CACI MAKI


Persinggungan saya dengan website Qubicle yang singgah di halaman http://qubicle.id terjadi untuk pertama kalinya sekitar dua bulan silam menyusul disebarkannya pintasan ke sebuah artikel menarik terkait minat saya terhadap dunia perfilman melalui jejaring sosial Twitter. Meski ketertarikan pada Qubicle tidak serta merta terbentuk, tanpa disadari, sebetulnya hampir saban minggu saya melakukan kunjungan kesana entah untuk sekadar iseng-iseng belaka atau dilandasi keinginan mencari artikel informatif sebagai bahan menambah wawasan (duileeee!). 

August 17, 2016

REVIEW : LIGHTS OUT


“Sometimes the strongest thing to do is to face your fear.” 

Tahun lalu, seorang kawan mengenalkanku pada sebuah film horor pendek berjudul Lights Out yang diunggah oleh akun bernama ponysmasher di YouTube. Durasinya singkat saja, sekitaran tiga menit, tapi daya teror yang dibawanya sanggup membuat penonton-penonton berhati lemah enggan lagi untuk mematikan lampu sampai kurun waktu cukup lama. Efektifitas penempatan metode menakut-nakutinya di tengah terbatasnya durasi dan (pastinya) bujet layak memperoleh acungan dua jempol. Ponysmasher atau David F. Sandberg tidak hanya memberi rasa takjub lewat Lights Out semata karena penelusuran didasari kepenasaran tingkat tinggi akan karya-karyanya mempertemukanku dengan film-film seram lain darinya yang tidak kalah menggedor jantung, seperti Pictured, Cam Closer, serta Coffer. Dengan popularitas kian menjulang akibat masifnya penyebaran Lights Out lewat media sosial, tinggal menunggu waktu bagi sang sutradara untuk mendapat ajakan berkolaborasi dari para petinggi Hollywood. Benar saja, hanya terhitung tiga tahun sejak versi pendeknya mulai menjumpai penggemarnya, Lights Out mendapatkan kesempatan menghiasi layar-layar bioskop dunia dalam wujud film panjang. 

August 16, 2016

REVIEW : SADAKO VS. KAYAKO


Pernah menjumpai sebuah film yang kadar ketololannya maksimal sampai-sampai terasa menghibur buat ditonton? Jika belum, deskripsi tersebut tepat buat dilekatkan pada Sadako vs Kayako. Hanya dengan mendengar gagasan mempertarungkan dua hantu ikonik asal negeri Sakura saja sudah bikin geli-geli gimana gitu. Terlalu naif kalau menduga Sadako vs Kayako akan memberimu kengerian selayaknya jilid awal dari franchise yang dibintangi kedua demit ini – Sadako dari Ring, sementara Kayako dari Ju-On – mengingat sejarah mencatat pertandingan satu lawan satu antar karakter film horor legendaris seperti tampak dalam Freddy vs Jason (2003) maupun Alien vs Predator (2004), kesemuanya berakhir sebagai lawakan alih-alih teror nyata. Dan ya, meski dipunggawai Koji Shiraishi yang pernah memberikan mimpi buruk lewat The Curse (2005), Sadako vs Kayako memang sama sekali tidak mencoba untuk tampil serius. Jadi jangan heran jika kamu akan mendapati serentetan keganjilan-keganjilan menggelikan bertebaran sepanjang durasi merentang. 

August 14, 2016

REVIEW : THE SHALLOWS


“Get out of the water. Shark!” 

Setelah puas ‘ngerjain’ Liam Neeson melalui tiga film berturut-turut; Unknown, Non-Stop, sampai Run All Night, Jaume Collet-Serra membutuhkan sedikit penyegaran. Dia mencari korban baru untuk disiksanya habis-habisan secara fisik dan mental di film teranyarnya. Pilihan jatuh kepada istri cantik Ryan Reynolds, Blake Lively, yang ndilalah tengah berburu peran menantang lantaran terinspirasi oleh kinerja hebat sang suami di Buried. Dalam The Shallows – begitu judul dari proyek film termutakhir yang ditangani oleh Collet-Serra – Blake Lively diposisikan pada satu situasi yang serupa tapi tak sama dengan Reynolds, yakni terisolasi. Jika Buried sepenuhnya memutuskan interaksi sang pemeran Deadpool bersama makhluk hidup lain mengingat dia terkubur cukup dalam, maka Lively di The Shallows masih sedikit lebih beruntung karena dia bisa menghirup udara segar, pandangan tak terbatas dan mendapat ‘teman ngobrol’ walau tetap saja beruntung adalah kata yang terlalu bagus buat mendeskripsikannya karena Lively terdampar di batu karang dengan goresan luka serius menghiasi sekujur kaki seraya dikelilingi hiu putih ganas yang siap kapanpun buat mencaploknya hidup-hidup. 

August 6, 2016

REVIEW : 3 SRIKANDI


“Bukan untuk kalian, medali ini untuk negerimu.” 

Siapa menduga 3 Srikandi akan semenghibur ini buat ditonton? Ya, mengedepankan tema “from zero to hero” berbasis dunia olahraga cabang panahan yang disarikan dari kisah nyata kemenangan pertama atlet Indonesia di ajang bergengsi Olimpiade, memang telah sangat mengindikasikan bahwa 3 Srikandi akan sangat melibatkan emosi penonton. Dalam hal ini, terinspirasi dan tersentuh – dua kesan yang bisa dicium dari premisnya saja. Tapi tertawa terbahak-bahak berulang kali? Nyaris dapat dipastikan, sebagian besar calon penonton tidak mengantisipasi 3 Srikandi bakal mempunyai kandungan humor cukup tinggi ditilik dari materi promosi maupun tema dramatis mengenai “perjuangan menuju puncak” yang diusungnya. Sang sutradara, Iman Brotoseno, menentukan pilihan untuk melantunkan film layar lebar perdananya ini menggunakan nada penceritaan cenderung “ringan nan cerah” ketimbang penuh uraian air mata sejalan dengan jiwa-jiwa muda dari tiga tokoh sentral; Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, serta Kusuma Wardhani, yang ceria, dipenuhi energi bergejolak, pula sepertinya mengagungkan prinsip "girls just wanna have fun". And it works! Bahkan bisa dikata, 3 Srikandi adalah salah satu film paling menyenangkan yang saya tonton di layar lebar dalam delapan bulan terakhir. Sangat, sangat menikmati setiap menitnya. 

August 4, 2016

REVIEW : SUICIDE SQUAD


“Let’s do something fun” 

Tatkala pertarungan dua pahlawan komik paling ikonik berakhir luar biasa lempeng – sangat jauh dari kesan gegap gempita seperti diperkirakan – begitu diinterpretasikan ke bahasa gambar oleh Zack Snyder, skeptisisme terhadap film-film adaptasi DC Comics selanjutnya menggelembung. Tidak terkecuali kepada rilisan terbaru dari DC Extended Universe, Suicide Squad, yang dikomandoi sutradara jempolan, David Ayer (End of Watch, Fury). Munculnya pemberitaan mengenai pengambilan gambar ulang menyusul dikecamnya Batman v Superman: Dawn of Justice di beragam media hiburan telah mengirimkan sinyal mengkhawatirkan terkait hasil akhir Suicide Squad. Betul saja, begitu gerombolan penjahat kelas kakap berkarakter nyeleneh ini dilepas ke pasaran, setidaknya terdapat dua kabar bertolak belakang dihantarkan sekaligus kepada mereka yang telah mengantisipasi kemunculannya; menggembirakan dan berada di ambang memilukan. Menggembirakan karena Suicide Squad sedikit lebih baik ketimbang Dawn of Justice (setidaknya sekali ini tidak dibuat terkantuk-kantuk. Silahkan bernafas lega!), sedangkan memilukan lantaran problematika yang menggerusnya tidak jauh berbeda dari film pendahulu kendati telah memperoleh sokongan dari tim-tim hebat. 

July 29, 2016

REVIEW : JASON BOURNE


“I know who I am. I remember everything.” 

Di penghujung The Bourne Ultimatum, Jason Bourne telah mengetahui jati dirinya, apa yang telah dilaluinya selama ini, dan sang agen mata-mata super menghilang ditelan arus setelah terjun ke sungai. Sebuah konklusi yang sempurna, sebetulnya. Kala itu kita semua beranggapan bahwa petualangan Bourne telah menjumpai ujungnya menyusul keputusannya untuk menghilang dari peradaban. Tapi kemudian pundi-pundi dollar angkat bicara yang mendorong Universal Pictures tetap menghidupkan franchise ini dengan atau tanpa Bourne. Berselang lima tahun, percobaan pertama mereka diluncurkan lewat The Bourne Legacy yang menampilkan karakter baru – disebabkan Matt Damon emoh bergabung lantaran sutradara dua jilid sebelumnya, Paul Greengrass, hengkang. Legacy memperoleh respon beragam yang kebanyakan menilai kemampuan bercerita maupun tingkatan ketegangannya tidak setinggi trilogi awal. Meski menuai resepsi kurang memuaskan, nyatanya pihak studio tetap tancap gas dan melalui percobaan kedua, direkrut kembalilah ujung tombak franchise; Damon dan Greengrass. Dengan keterlibatan mereka berdua, kita pun akhirnya bisa berkata, “ladies and gentlemen... Jason Bourne is back!.” 

July 28, 2016

REVIEW : GHOSTBUSTERS


“It's really easy sit there and be the naysayer when you don't actually do anything.” 

Sebelum akhirnya diputuskan sebagai reboot dengan konfigurasi pemain lini utama dirombak drastis – termasuk beralih gender yang kemudian ditengarai sebagai pemantik kontroversi di kalangan penggemar setia – pada mulanya Ghostbusters direncanakan menjadi film kelanjutan kedua dari film asli rilisan tahun 1984. Terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya lantaran pengembangan naskah yang rumit menyusul keinginan hasil lebih baik dari film kedua, ketidaksetujuan salah satu pemain inti Bill Murray untuk bergabung, sampai meninggalnya Harold Ramis, memaksa Sony putar otak agar proyek ini tetap berjalan sesuai rencana. Solusinya adalah reboot yang membutuhkan penantian sepanjang dua dasawarsa lebih untuk direalisasikan oleh Sony Pictures terhitung sejak Ghostbusters II (1989). Dengan sang nahkoda dua jilid pertama, Ivan Reitman, memilih menduduki kursi produser tanggung jawab penyutradaraan diserahkan kepada Paul Feig (Bridesmaids, Spy) yang lalu merekrut aktris langganannya, Melissa McCarthy dan Kristen Wiig, guna mengisi jajaran pemain bersama duo komedian, Kate McKinnon dan Leslie Jones. Hasilnya, sekalipun memperoleh tentangan keras dari para penggemar bahkan jauh sebelum filmnya dirilis ke pasaran, nyatanya Ghostbusters versi Feig adalah salah satu tontonan musim berkadar hiburan paling tinggi tahun ini. 

July 26, 2016

SHORT REVIEWS : SABTU BERSAMA BAPAK + ILY FROM 38.000 FT


“Menjalin suatu hubungan itu butuh dua orang yang kuat. Dan untuk menjadi kuat, itu adalah tanggung jawab masing-masing.” 

Diadaptasi dari novel bagus bukan jaminan sebuah film akan bagus juga. Sabtu Bersama Bapak adalah contohnya. Film arahan Monty Tiwa berdasarkan novel rekaan Adhitya Mulya yang bercerita mengenai kehidupan kakak beradik, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra), selepas mangkatnya sang ayah (Abimana Aryasatya), memang tidak berada dalam golongan presentasi yang buruk namun mengingat materi aslinya, terbilang mengecewakan. Kombinasi sisi drama penguras air mata dengan sisi komedinya tidak menyatu dengan baik, malah cenderung jomplang, dan peralihannya pun kurang mulus, terkadang janggal. Sabtu Bersama Bapak lebih bersinar saat ngebanyol daripada termehek-mehek. Bisa jadi, selain disebabkan pengarahan maupun naskah yang kurang matang, kekuatan dari dua kubu tidak berimbang. Dari kubu komedi ada Deva Mahenra yang tidak dinyana-nya jago ngelawak plus duet Ernest Prakasa – Jennifer Arnelita yang menjadi tombak kembar, sementara dari kubu drama murni hanya Acha Septriasa sebagai istri Satya yang sanggup menciptakan momen emosional. Arifin Putra? Terbata-bata menghadapi Acha. Ira Wibowo sebagai ibu Satya dan Cakra, lalu Abimana Aryasatya kurang mendapat ruang untuk mengeksplorasi kemampuan olah peran mereka. Penggunaan lens flare tidak pada tempatnya dan performa ganggu dua bocah yang memerankan anak-anak Satya adalah faktor lain yang membuat Sabtu Bersama Bapak urung tampil kuat seperti seharusnya. 

July 25, 2016

REVIEW : KOALA KUMAL


“Jodoh jangan ditunggu, tapi dicari. Kamu boleh patah hati, tapi jangan tutup hati kamu.” 

Suka atau tidak, sulit untuk menyangkal bahwa Raditya Dika telah mempunyai basis penggemar yang terhitung masif dan loyal. Apapun buah karyanya dilahap habis. Satu kunci keberhasilan Dika merangkul banyak pengikut dari beragam lapisan usia dan jenjang sosial adalah materi kupasannya yang dekat dengan keseharian. Siapa sih belum pernah jatuh cinta? Siapa sih belum pernah dibuat galau lantaran naksir seseorang yang bahkan tidak menyadari keberadaan kita? Siapa sih belum pernah merasakan sakitnya patah hati? Rasa-rasanya, serentetan problematika ini pernah dirasakan hampir seluruh umat manusia. Dalam Koala Kumal – karya terbaru Dika yang menandai kembalinya dia ke Starvision – Dika berbincang secara spesifik soal patah hati yang berangkat dari satu pertanyaan, “apa sih patah hati terhebat kamu?.” Jawaban atas pertanyaan tersebut memang berisi masalah tipikal sang komika: hubungan percintaan berakhir tragis. Namun satu hal menarik, ada pemberian solusi yang lebih dewasa, manis, sekaligus hangat dari persoalan tersebut ketimbang sekadar ujug-ujug turun bidadari dari kayangan menuntaskan segalanya. 

July 22, 2016

REVIEW : JILBAB TRAVELER: LOVE SPARKS IN KOREA


“Kamu mencuri mimpi-mimpiku. Tapi aku suka kamu yang mencuri mimpi-mimpiku.” 

Surprise, surprise. Siapa menyangka diantara sejumlah rilisan baru film Indonesia di libur Lebaran tahun ini, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea bakal tampil paling kuat dan meninggalkan kesan paling dalam? Tentu saja, tidak ada niatan mengucilkan atau meremehkan – bahkan Jilbab Traveler termasuk salah satu yang menarik perhatianku sedari awal berkat faktor Morgan Oey, adaptasi novel Asma Nadia, dan Korea Selatan – hanya saja menilik konten yang diusungnya kemudian menyandingkan dengan rilisan lain, agak sulit sebetulnya membayangkan Jilbab Traveler akan hadir begitu menonjol. Nyatanya, tanpa banyak berekspektasi kala menyimak film arahan Guntur Soeharjanto ini di layar perak, membawa keuntungan tersendiri. Jilbab Traveler tidak semata-mata membuai mata melalui hamparan pemandangan alam Korea Selatan maupun Indonesia yang keelokkannya sungguh menakjubkan, namun turut membuai hati berkat guliran pengisahan yang terhidang hangat, manis pula renyah buat dikudap. 

July 19, 2016

REVIEW : RUDY HABIBIE


“Jadilah seperti mata air. Jika air yang keluar dari sana jernih, maka semuanya akan ikut jernih. Jika yang keluar dari sana kotor, maka semuanya jadi kotor.” 

Kala dipasarkan di bioskop-bioskop tanah air empat tahun silam, Habibie & Ainun produksi MD Pictures mencatat rekor gemilang. Setidaknya 4,5 juta pemirsa berduyun-duyun memenuhi gedung bioskop guna menjadi saksi kebesaran cinta Bacharuddin Jusuf Habibie bersama sang cinta sejati, Hasri Ainun Besari, selisih tipis dengan pencapaian jumlah penonton Laskar Pelangi yang sebelumnya telah ditahbiskan sebagai film Indonesia paling banyak disimak. Dengan torehan segemilang ini maka terdengar wajar saat MD Pictures mencetuskan gagasan adanya film kelanjutan. Tentu bukan meneruskan guliran kisah asmara Pak Habibie dengan almarhumah istrinya, melainkan membedah sisi lain dari kehidupan Pak Habibie atau dengan kata lain mengkreasi ‘Habibie Universe’. Upaya pertama diberlakukan di Rudy Habibie. Meski dijual menggunakan embel-embel Habibie & Ainun 2, kenyataannya film arahan Hanung Bramantyo ini lebih mengarah prekuel ketimbang sekuel. Fokusnya pun berbeda karena sekali ini lebih ditekankan pada perjuangan-perjuangan awal mantan Presiden Republik Indonesia tersebut kala berusaha memperjuangkan mimpinya untuk menjadi kenyataan. 

June 11, 2016

REVIEW : THE CONJURING 2


"After everything we’ve seen there isn’t much that rattles either of us anymore. But this one, this one still haunts me."

Umumnya, sekuel dari sebuah film yang sukses secara kualitas mengalami hambatan berarti dalam melampaui – atau well, minimal menyamai – pencapaian dari instalmen pertama. Hanya segelintir judul yang sanggup membuyarkan ‘kutukan’ ini dan semakin mengerucut begitu kita membicarakan film dari teritori horor mengingat bukan perkara mudah untuk mengkreasi trik menakut-nakuti yang tidak sekadar pengulangan dari seri pendahulu demi memenuhi keinginan khalayak yang pastinya berharap lebih. Sulitnya menjumpai sekuel film seram dalam level “bagus” inilah yang mendasari skeptisisme menyambut kehadiran The Conjuring 2 sekalipun masih ada nama James Wan (Insidious, The Conjuring) di belakang kemudi. Ya mau bagaimana lagi, jilid perdananya merupakan salah satu film horor terbaik dalam beberapa dekade terakhir dengan teknik menebar teror kelas wahid dan ungkapan ‘lightning never strikes the same place twice’ lebih sering terbukti benar ketimbang keliru. Jadi untuk meminimalisir kekecewaan, satu-satunya pengharapan yang kemudian diboyong masuk ke gedung bioskop hanyalah, “semoga masih ada satu-dua momen pemantik jeritan lepas!.” 

June 6, 2016

REVIEW : MONEY MONSTER


“The name is Lee Gates, the show is Money Monster. Without risk, there is no reward. Should I sell? Should I a loan? Get some balls!” 

Pernah nonton film thriller dari Negeri Gingseng berjudul The Terror Live arahan Kim Byung-woo? Kalau belum, begini garis besar ceritanya. Seorang mantan news anchor ternama bernama Yoon Young-hwa (Ha Jung-woo) yang kini dimutasi ke radio mendapatkan telepon gelap bernada ancaman. Mulanya menganggap hanya sekadar perbuatan iseng, tak disangka-sangka ancaman tersebut diwujudkan dalam bentuk pengeboman jembatan hingga menewaskan puluhan sipil tak bersalah. Alih-alih melaporkan ke pihak berwenang, Yoon Young-hwa justru melihat teror yang didapatnya sebagai kesempatan untuk melambungkan kembali karirnya. Didukung pula oleh sang atasan yang gila rating, telepon gelap ini diboyong ke siaran langsung program berita nasional tanpa menyadari besarnya bahaya yang mengintai mereka. Si protagonis tiba-tiba menjadi sandera dalam program televisi yang dipandunya dan menjadi tontonan seantero Korea Selatan. Sampai disini kamu mungkin bertanya-tanya, lalu apa keterkaitannya dengan Money Monster? Nah, nasib kurang lebih serupa dialami oleh Lee Gates (George Clooney), seorang pembawa acara seputar dunia saham dari film layar lebar keempat yang digarap Jodie Foster usai The Beaver ini. 

May 22, 2016

REVIEW : AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA


"Sebaik-baiknya sarjana adalah yang mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Sementara sarjana yang sekedar bekerja itu sarjana kelas dua."

Walau sejatinya secara personal telah mengalami kejenuhan teramat sangat menyaksikan film berembel-embel reliji, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mempunyai dua daya tarik cukup kuat yang membuat saya tak kuasa memberi penolakan. Pertama, keterlibatan Laudya Cynthia Bella yang permainan lakonnya tengah menguat, dan kedua, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mengusung isu agak berbahaya di bawah penanganan salah kaprah mengenai toleransi antar umat beragama. Sempat ketar ketir film ini akan berakhir seperti selayaknya sederet film religi buatan sineas tanah air dalam beberapa tahun belakangan yang guliran penceritaannya kelewat tendensius serta penyampaian pesan moral serba verbalnya justru bikin telinga panas alih-alih bikin hati adem, kenyataannya Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (baiklah, biar tidak terlalu panjang, sebut saja Aisyah BKB) justru tidak demikian. Dihantarkan elegan tanpa terlihat kelewat bernafsu untuk mengkhotbahi penonton menjadikan Aisyah BKB terasa begitu indah, hangat, menyentuh sekaligus penting. Mungkin masih terlalu dini, namun saya memiliki keyakinan kuat Aisyah BKB akan menjadi salah satu kandidat kuat peraih kategori Film Terbaik di berbagai ajang penghargaan film pada akhir tahun ini. 
Mobile Edition
By Blogger Touch