April 30, 2016

REVIEW : ADA APA DENGAN CINTA? 2


“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu... jahat.” 

Empat belas tahun silam, Cinta (Dian Sastrowardoyo) melepas kepergian sang kekasih hati, Rangga (Nicholas Saputra), yang bertolak ke New York di bandara. Diabadikan dalam sebuah adegan yang ikonis, perpisahan dramatis tersebut berujung kecupan pertama. Rangga pun meninggalkan secarik kertas berisi puisi berlarik manis untuk Cinta yang dalam salah satu baitnya berbunyi, “aku akan kembali dalam satu purnama untuk mempertanyakan kembali cintanya.” Tersisip janji besar yang meredakan kegundahan hati Cinta lantaran ditinggal Rangga melintasi benua lain. Paling tidak, ada sedikit kejelasan dari sang pujangga untuk Cinta – serta penonton – bahwa dirinya tidak akan membiarkan api asmara tersebut padam begitu saja hanya karena jarak. Happily ever after? Dalam harapan kita sebagai pengamat kisah percintaan Cinta dan Rangga selepas menonton Ada Apa Dengan Cinta?, tentu saja demikian. Namun kita perlu mengingat, realita tidak selalu berbanding lurus dengan ekspektasi terlebih tidak sedikit pula cerita pedih dibalik sebuah long distance relationship. Kemungkinan demi kemungkinan dalam perjalanan asmara keduanya pun terbuka lebar. Apakah benar mereka akhirnya bersatu? 

Bagi Miles Films – atau dalam hal ini, Mira Lesmana dan Prima Rusdi sebagai otak di belakang naskah – kemungkinan paling masuk akal untuk diangkat di Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2) adalah hubungan antara Cinta dengan Rangga tidak berjalan semestinya. Indikasi kegagalan mereka dalam membina hubungan jarak jauh memang telah terendus semenjak film pendek LINE dua tahun silam dan akhirnya melalui AADC2, dikonfirmasi secara resmi. Saya tidak perlu menjabarkan detil sabab musabab retaknya tali cinta diantara mereka karena akan sangat berpengaruh terhadap kesenanganmu dalam menonton AADC2. Dua hal yang bisa ditegaskan, mereka tidak lagi bersama dan tidak lagi berkomunikasi. Masing-masing memilih untuk menjalani hidupnya di Jakarta dan New York seraya berusaha keras menekan memori-memori yang masih terus menerus menyeruak ke permukaan. Ya, sejatinya masih tersisa rasa sekalipun hubungan asmara tersebut telah dinyatakan kandas. Ketidaksanggupan Cinta dan Rangga untuk berdamai dengan masa lalu karena ada persoalan yang belum tuntas diantara mereka merupakan pemicu utama bergulirnya konflik di AADC2

Mengapa kisah cinta mereka tidak berjalan semestinya? Adakah orang ketiga diantara Cinta dan Rangga? Lalu, apapun jawaban untuk pertanyaan kedua, kenapa keduanya masih terjebak nostalgia serta enggan move on? Bagaimana juga kehidupan pula kepribadian mereka setelah empat belas tahun berlalu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkecamuk hebat di benak semenjak AADC2 membuka gelarannya yang sekaligus membuktikan kekuatan karakter Cinta maupun Rangga sampai-sampai kepenasaran kita pun ikut terusik. Dengan bahasa gambar mengalir begitu lancar yang menjadikan setiap menitnya terasa renyah buat dinikmati, Riri Riza menjlentrehkan satu demi satu jawaban atas segala pertanyaan yang mungkin kamu pertanyakan sebelum menyimak AADC2. Jawaban-jawaban tersebut mempunyai landasan motif kuat dan dilontarkan secara masuk akal, termasuk alasan setiap karakter menginjakkan kaki di Jogja dan pemanfaatan Jogja sebagai latar utama film. Dalam AADC2, Jogja tidak semata-mata dimanfaatkan sebagai pemanis – untuk mendapatkan tangkapan gambar cantik, misalnya – melainkan mempunyai kontribusi untuk mempertajam konflik. Menguatkan karakter. Menilik betapa besar kecintaan dua karakter utama terhadap seni, maka adakah kota lain lebih tepat sebagai ajang pertemuan kembali Cinta dengan Rangga selain Jogja yang notabene adalah kota budaya? Rasa-rasanya kok tidak ada. 

AADC2 merupakan upaya Miles Films mendefinisikan kembali genre ‘film romantis’ yang belakangan ini bersinonim erat dengan “untaian dialog-dialog indah, puitis, nan berima” maupun “mendayu-dayu nggak ketulungan”. Tentu bahasa-bahasa puitis masih menghiasi, tapi masih sesuai konteks cerita menilik kegemaran Rangga dalam merangkai puisi dan tidak pula diaplikasikan menyeluruh ke percakapan-percakapan antar karakter. Apa yang diobrolkan oleh Cinta dan Rangga kala mengitari Jogja semalaman, ada kalanya ngalor ngidul tak jelas. Mulanya bersitegang demi mengonfirmasi alasan kepergian tanpa pamit salah satu dari mereka, lalu setelah masing-masing berdamai kisaran bahan percakapan tidak jauh-jauh dari “bagaimana kehidupanmu saat ini?” dengan sesekali usil semacam “kamu pilih siapa saat pemilu?.” Terkesan remeh temeh, memang, tapi jelas sangat natural seperti layaknya percakapan dua orang yang pernah memiliki cerita istimewa dan tidak berjumpa selama ratusan purnama. Tidak pernah terasa membosankan untuk didengarkan karena pergerakannya yang dinamis, sangat hidup, dewasa, penuh kejenakaan, dan tidak jarang menyentuh yang akan membawamu memasuki fase ‘baper’. Romantis? Jelas. 

Chemistry hebat Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra adalah kunci dari AADC2. Seperti halnya jajaran pemain lini utama lain – seperti Adinia Wirasti (Karmen), Titi Kamal (Maura), dan Sissy Priscillia (Milly) – jiwa keduanya telah menyatu dengan karakter yang mereka mainkan seolah-olah mereka memang Cinta dan Rangga di kehidupan nyata. Keromantisan film bersumber dari chemistry bernyawa antar dua karakter utamanya. Interaksi keduanya dengan segala kecanggungan mereka, adalah hal paling menarik, bagi saya, untuk disimak dari AADC2. Perhatikan baik-baik ekspresi Cinta yang kerap salah tingkah atau Rangga yang seperti ada percampuran antara bingung dengan malu kala mereka saling bertukar dialog. Sebuah interpretasi tepat sasaran untuk dua jiwa yang diam-diam masih menyimpan rasa satu sama lain. Laju pengisahan pun sengaja dilambatkan demi memberi kesempatan lebih bagi penonton untuk mengobservasi pasangan yang telah tumbuh dewasa ini. Penonton pun dibuai, ikut merayakan nostalgia manis diantara mereka sehingga keinginan melihat keduanya rujuk kembali mengangkasa. Perasaan yang persis seperti saat menyaksikan Jesse dan Celine bertemu kembali setelah terpisah hampir satu dekade di Before Sunset. Dengan demikian, bukankah AADC2 sudah bisa dikatakan sukses sebagai sebuah film romansa karena kemampuannya untuk membuat para penontonnya terhubung ke dua karakter utamanya? 

Penonton mudah terhubung selain karena bangunan karakter kokoh, AADC2 mengusung pula problematika yang dekat dengan realita seperti sulitnya melupakan mantan yang menggoreskan banyak cerita indah dalam kenangan, peliknya berkata jujur kepada pasangan karena terhalang tingginya ego, sampai susahnya berdamai dengan masa lalu yang telah melukai hati. Menariknya, mengingat persoalan utama seserius ini, si pembuat film tidak lantas membenamkan AADC2 ke dalam kemuraman durja melainkan memilih nada cenderung lebih cerah dibanding sang pendahulu diikuti bejibunnya sempalan humor-humor yang kebanyakan diserahkan kepada Milly sekalipun hampir setiap tokoh utama mendapatkan kesempatan untuk ngelaba di hadapan penonton mengikuti suasana persahabatan Genk Cinta yang terasa lebih lekat dan lebih hangat. Dan kehangatan persahabatan Genk Cinta inilah yang memberikan greget untuk AADC2 disamping tentunya kisah percintaan Cinta dengan Rangga yang membuai. Kombinasi keduanya – masih ditambah satu dua subplot – menghantarkan penonton merasakan berbagai macam emosi selama menyaksikan AADC2 sehingga penantian panjang untuk sekuel ini terbayar memuaskan. Jika ada dua kata paling pas untuk mendeskripsikan AADC2, maka itu adalah “juarak!” dan “ngangenin” karena setelah menontonnya ada rasa rindu besar untuk ingin kembali menontonnya lagi, dan lagi.

Outstanding (4,5/5)

13 comments:

  1. Udah berkali2 buka cinetariz buat baca review film ini, akhirnya ada juga.. wah om buruan review captain america dong, biar gak bingung mesti milih nonton ini atau civil war :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Susilawati: Wah, senangnya ada yang nungguin reviewku. Maaf banget ya sekarang suka telat. Lagi banyak kesibukan sih :(

      Delete
  2. memang beberapa adegan radah mirip before trilogi apalagi scane pas ngobrol sambil jalan2..
    dan film ini benar2 membuat saya bernoslagia atas kisah cinta dan rangga tapi kalo ending nya dibikin macam aadc pertama atau before sunset mungkin lebih bagus lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Angga: Iyap. Walau saya mengerti sih kenapa endingnya dibikin jelas. Digantung tanpa kejelasan itu nggak enak, to? Apalagi udah ditungguin selama 14 tahun.

      Delete
    2. iya sich digantung tuh emang gak enak apalagi kalo harus nunggu 14 tahun lagi...hehehe

      Delete
  3. ah, aku kembali bernostalgia di dlm pikiranku ketika menyaksikan AADC2.

    semuanya begitu indah disajikan secara sederhana dan realistis. cuma agak kecewa dengan ending karena terkesan seperti... "oke, durasi udah mau abis, ayo selesaikan". terkesan seperti terburu-buru dan disingkat. overall bagus, cuma endingnya aja sih, kurang nendang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Awan: Sepakat. Setelah akhir yang ikonis di film pertama memang agak mengecewakan sih adegan penutupnya tidak segreget itu meski tetap punya sensasi 'manis' dan kali ini juga 'lucu'.

      Delete
  4. Aq belum nonton, bioskop di tempatku cuma 1. Itu penuh trus dari premier kamis kemarin.
    Penasaran bgttt

    ReplyDelete
  5. masih penasaran dengan film ini.. disatu sisi menunggu antrian di bioskop biar sedikit lengang :D

    ReplyDelete
  6. bikin baper ya filmnya..

    nice review #thumbsup

    lanjutkan bloggingnya dan jangan lupa blogwalking bro.

    ReplyDelete
  7. Dapatkan lirik lagu AADC2 disini:

    http://perfectmusiclyrics.blogspot.com/2016/05/melly-goeslaw-marthino-lio-ratusan.html

    ReplyDelete
  8. yukk mampir ke website kita, ada banyak informasi tentang Smartphone hehe :)

    DEMAK KENDAL SEMARANG UNGARAN

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch