October 25, 2016

REVIEW : BRIDGET JONES'S BABY


“Well, I can always find time to save the world. And Bridget, you're my world.” 

Pasca bersatunya Bridget Jones (Renee Zellweger) dengan Mark Darcy (Colin Firth) di penghujung Bridget Jones: The Edge of Reason – sebuah sekuel kebablasan nan menggelikan bagi Bridget Jones’s Diary – ditambah resepsi kurang memuaskan bagi film kedua, sebetulnya tidak banyak yang mengantisipasi keberadaan jilid ketiga terlebih rentang waktunya sudah terlampau panjang (lebih dari satu dekade lho!). Namun ternyata pihak studio, Working Title, belum siap untuk memberhentikan franchise ini begitu saja. Mereka lantas merekrut kembali dream team dari seri-seri terdahulu, termasuk Hugh Grant yang kemudian memutuskan hengkang di tengah-tengah pengembangan proyek, dan melahirkan film ketiga bertajuk Bridget Jones’s Baby yang sekali ini materi ceritanya tidak diekranisasi dari novel buatan Helen Fielding selayaknya dua film pertama melainkan hasil urun rembuk Fielding bersama Dan Mazer dan Emma Thompson. Hasilnya, sebuah nostalgia manis pula menhangatkan hati yang akan mengingatkanmu kembali mengapa sosok Bridget Jones banyak dicintai oleh beragam kalangan.

Dibuka dengan gaya khas franchise ini – Bridget Jones tenggelam dalam kesendiriannya seraya menenggak alkohol dan diiringi langgam mendayu-dayu All by Myself – secara cepat kita disuguhi informasi bahwa protagonis kita telah menapaki usia 43 tahun. Di usia kepala empat, Bridget seolah telah memperoleh kebahagiaannya: dia tumbuh lebih dewasa dalam hal pemikiran, mendapatkan berat badan yang selama ini dianggapnya ideal (yay!) dan menduduki jabatan prestisius sebagai produser televisi. Tapi dibalik sederet pencapaian tersebut, kehidupan asmara Bridget masih saja berantakan. Sang pangeran, Mark Darcy, meninggalkannya dan membina rumah tangga bersama perempuan lain, sedangkan Daniel Cleaver diduga tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Demi merayakan kelajangannya, Bridget mengiyakan ajakan rekan kerjanya, Miranda (Sarah Solemani), untuk gila-gilaan di festival musik yang lantas mempertemukannya dengan Jack Qwant (Patrick Dempsey). Keduanya sekadar berhubungan seksual satu malam saja tanpa pernah ada tindaklanjut di kemudian hari. 

Kita pun bertanya-tanya, “dimana si bayi yang menjadi tajuk utama dari film?.” Nah, itulah akar permasalahan yang dikulik oleh film arahan Sharon Maguire (turut menyutradarai Bridget Jones’s Diary) ini. Selepas berasyik masyuk bersama Jack, dilanjut dengan Mark yang mengaku sedang mengurus berkas-berkas perceraian, Bridget mendapati dirinya berbadan dua. Lantaran jarak waktu kedua hubungan badan berdekatan plus heroine film romansa komedi kesayangan masyarakat Britania Raya ini secara sembrono mengenakan kondom kadaluarsa, Bridget tak bisa benar-benar memastikan sperma siapa yang berkontribusi besar atas terbentuknya janin. Penonton pun dibuat menerka-nerka, “siapa ya kira-kira ayah kandung dari bayi Bridget?.” Dari pertanyaan tersebut, tim peracik skenario mengembangkannya menjadi plot mengikat yang didalamnya bertaburan ranjau-ranjau tawa yang siap meledak saban menit. Candaan-candaannya segar pula cerdas – beberapa kemunculan mengejutkannya akan membuatmu guling-guling hebat di lantai bioskop (and I won’t spoil that!) – yang alih-alih mendistraksi justru kian memperkuat bangunan kisah maupun karakteristik tokoh-tokoh tertentu. Sedikit banyak melemparkan ingatan pada Diary

Selain itu, ada pula cita rasa manis yang terbentuk dari relasi antara Bridget bersama Mark serta Jack dan sensitifitas bernuansa hangat saat Bridget menapaki babak baru dalam hidupnya yang sempat absen dari film kedua. Menguatnya naskah, dibarengi pula oleh performa bagus dari setiap pemainnya. Renee Zellweger adalah Bridget Jones yang kita kenal dari film pertama dengan segala pesona berbalut kekikukan menghiburnya dan presisi comic timing yang jitu, Colin Firth memberi kita gambaran atas seorang gentleman sejati khas Inggris melalui karismanya, sementara Patrick Dempsey menguarkan kesan charming kuat sebagai miliarder asal Amerika yang digilai para perempuan. Dempsey tampil serasi kala disandingkan dengan dua lawan mainnya tersebut – utamanya Zellweger, tentu saja, sehingga kita maklum mengapa Bridget kesengsem pula padanya – sekaligus menghadirkan kesegaran tersendiri sampai-sampai penonton tidak merasakan kekosongan berarti lantaran ditinggal pergi Hugh Grant. Jika benar Bridget Jones’s Baby adalah jilid penutup bagi franchise, maka ini jelas adalah penutup yang memuaskan. Meski hati sebetulnya memberontak menginginkan adanya seri lain bagi Bridget Jones karena masih ingin menghabiskan waktu untuk bercengkrama lebih lama lagi bersama Bridget, Mark, Jack, dan... ehem, Daniel?

Exceeds Expectations (3,5/5)

Previous installments: Bridget Jones's Diary (4/5) and Bridget Jones: The Edge of Reason (2,5/5).

5 comments:

  1. Maaf agak melenceng. Tolong jawab bang, saya sangat suka film-film adam sandler, tapi kenapa kritikus membencinya, contoh film blended itu film yg asik tapi kata kritikus itu film jelek dan dari rottentomatos mendapat rate sampah. Why ? Because jokes hit-mis ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @film kamar: Ya, salah satunya karena faktor bahwa selera humor itu sifatnya relatif. Bagi kritikus, candaan Sandler itu mungkin nggak berkelas, repetitif dan cenderung kasar. Kalau ngikutin filmnya dari awal, bakal kerasa kok polanya gitu-gitu saja. Blended juga buatku termasuk oke buat hiburan, tapi nggak bisa dipungkiri film ini juga seragam dengan film Sandler terdahulu. Tak heran kritikus membencinya. Tapi, nggak semua film Sandler dapet ulasan buruk kok. Yang muatan dramanya cukup banyak malah rata-rata positif. Ya mungkin para kritikus ini terlampau serius.

      Delete
  2. Pertanyaannya sama: mana baby-nya :)) harusnya ini film judulnya: Bridget Jones's Pregnancy kok ya
    Anyway, nice write up, bro!

    ReplyDelete
    Replies
    1. @paskalis: baby-nya malah baru diomongin setelah film udah mau separuh jalan. Hahaha. Mungkin kalau pakai judul Pregnancy nggak menjual ya, bro.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch