June 23, 2017

REVIEW : TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT


“It has been said throughout the ages, that there can be no victory, without sacrifice.” 

Ladies and gentleman, Transformers is back. 

Berkaca pada kualitas dari Transformers: Age of Extinction yang letoy, banyak pihak – terutama mereka yang bukan berasal dari kalangan penggemar – bertanya-tanya, “kenapa sih Michael Bay tidak berkenan membiarkan franchise Transformers beristirahat dengan tenang? Apa lagi sih yang hendak dikulik lewat pertempuran antar robot yang plotnya begitu-begitu saja?.” Well, sekalipun kritikus kerap mencibirnya sinis dan Bay seolah telah mengendur semangatnya dalam menggarap instalmen keempat, pihak studio tentu tak akan secara sukarela memberhentikan franchise tarung robot yang didasarkan pada produk mainan ciptaan Hasbro ini terlebih saat masih sanggup mengumpulkan miliaran dollar dari peredaran di seluruh dunia. Hey, bagaimanapun juga ini adalah bisnis sehingga ketika uang masih mengalir deras ke brankas, kenapa mesti berhenti? Dilandasi alasan “money talks” – yang secara implisit bermakna, banyak khalayak ramai yang tetap menginginkan Transformers berlanjut – dikreasilah jilid kelima oleh Paramount Pictures yang diberi subjudul The Last Knight. Konon kabarnya, The Last Knight akan menjadi salam perpisahan bagi Michael Bay kepada anak asuhnya ini. Jikalau benar demikian, maka The Last Knight merupakan salam perpisahan yang layak dari Bay untuk Transformers

June 18, 2017

REVIEW : IN THIS CORNER OF THE WORLD


“Thank you for finding me in this corner of the world.” 

Pada tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom atom uranium jenis bedil yang dikenal dengan nama Little Boy dijatuhkan oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima, Jepang. Pengeboman yang menelan ratusan ribu korban jiwa tersebut – sebagian besar diantaranya adalah masyarakat sipil – memberikan pukulan telak bagi Jepang sehingga tidak berselang lama mereka pun menyerah kepada pihak sekutu yang secara otomatis mengakhiri berlangsungnya Perang Dunia II. Inilah salah satu peristiwa penting dan berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Saking pentingnya, industri perfilman di Jepang pun tak ingin kelewatan untuk mengabadikannya melalui bahasa audio visual, baik berkenaan langsung dengan sejarahnya atau sekadar menjumputnya sebagai latar belakang penggerak kisah seperti dilakukan oleh film animasi pemenang beragam penghargaan berjudul In this Corner of the World (atau berjudul asli Kono Sekai no Katasumi ni). Ya, film arahan Sunao Katabuchi (Princess Arete, Mai Mai Miracle) yang disarikan dari manga bertajuk serupa ini bukanlah sebentuk rekonstruksi sejarah dengan alur kisah maupun karakter-karakter yang bisa dijumpai di buku teks melainkan sebentuk hikayat dengan bangunan cerita fiktif yang mencoba menawarkan perspektif perihal impak perang terhadap kemanusiaan. 

June 13, 2017

REVIEW : DETECTIVE CONAN: CRIMSON LOVE LETTER


Selepas The Darkest Nightmare yang merupakan salah satu seri terbaik dalam rangkaian film layar lebar Detective Conan, antisipasi terhadap jilid ke-21 yang diberi tajuk Crimson Love Letter pun seketika meninggi. Terlebih, dua karakter kesayangan para penggemar; Heiji Hattori dan Kazuha Toyama, yang terakhir kali menampakkan diri dalam Private Eye in the Distant Sea (2013) akan memiliki andil besar dalam penceritaan bukan sebatas numpang lewat untuk memeriahkan suasana. Terdengar menggoda, bukan? Tingginya antisipasi terhadap Crimson Love Letter arahan Kobun Shizuno (yang juga menyutradarai enam jilid terakhir) dapat dibuktikan melalui besarnya raihan pundi-pundi uang yang diperoleh selama masa pemutaran di bioskop-bioskop Jepang. Mengantongi $59 juta dalam 9 pekan, Crimson Love Letter tercatat sebagai seri film dari Detective Conan dengan pendapatan tertinggi melibas pencapaian jilid sebelumnya. Berkaca dari respon memuaskan yang diperolehnya ini, satu pertanyaan lantas terbentuk: apakah hype sedemikian kuat yang melingkungi instalmen ke-21 ini berbanding lurus dengan kualitas penceritaan yang diusungnya?

June 11, 2017

REVIEW : MANTAN


“Pernah nggak kamu kepikiran, orang yang deket sama kamu itu jodoh yang dikasih Tuhan apa nggak?” 

Setiap mantan kekasih pastinya menggoreskan cerita dan pengalaman berbeda-beda untuk dikenang. Ada yang menyenangkan, memilukan, menjengkelkan, sampai biasa-biasa saja. Tatkala kenangan buruk lebih sering menghinggapi selama menjalin tali asmara, umumnya hubungan berakhir secara tidak baik yang berdampak pada keinginan untuk tidak lagi saling berkomunikasi demi menghempaskan memori-memori buruk. Kurang lebih, seperti diutarakan Geisha dalam tembang “Lumpuhkan Ingatanku”. Akan tetapi, pernahkah terlintas di pikiran bahwa jalan terbaik untuk berdamai dengan masa lalu agar dapat melanjutkan hidup tanpa ada beban di hati adalah memaafkan alih-alih melupakan? Gandhi Fernando (The Right One, Midnight Show) agaknya mempunyai pemikiran senada karena seperti apa yang dituangkannya dalam film terbaru keluaran Renee Pictures, Mantan, yang menampilkannya sebagai pelakon sekaligus penulis skrip, mantan tidak semestinya dihempas begitu saja dari ingatan terlebih jika menyisakan persoalan belum terselesaikan di masa lampau. Semestinya kita bersilaturahmi dengan mantan, lalu mengajaknya untuk berkonsiliasi. Siapa tahu soulmate yang sesungguhnya untuk kita ada diantara mereka. Dalam? Ya. Tapi jelas tidak mudah untuk dilakukan. 

June 8, 2017

REVIEW : THE MUMMY


“Welcome to a new world of gods and monsters.” 

Disamping keranjingan mengeruk pundi-pundi dollar melalui sekuel, remake, reboot, atau apalah-apalah itu sebutannya, studio-studio raksasa di Hollywood tengah menggemari cara lain untuk membentuk sebuah franchise yakni menciptakan shared universe yang menghubungkan sejumlah judul film menggunakan ‘tali pengait’ berbentuk karakter, plot, sampai bangunan dunianya. Semesta-semesta film yang mengemuka dalam beberapa tahun terakhir antara lain Marvel Cinematic Universe, DC Extended Universe, MonsterVerse, hingga paling anyar Dark Universe yang menyatukan sederet makhluk jejadian legendaris dari dunia fiksi semacam Dracula, Frankenstein, Invisible Man, serta Wolf Man. Diinisiasi oleh Universal Pictures, Dark Universe mencoba mengawalinya dengan versi paling mutakhir The Mummy yang menggaet Tom Cruise untuk menempati garda terdepan menggantikan posisi Brendan Fraser dari trilogi sebelumnya dan menempatkan Alex Kurtzman yang lebih berpengalaman sebagai produser di kursi penyutradaraan. Apakah ini berhasil? Well, sayangnya saya harus mengatakan bahwa The Mummy versi Tom Cruise yang mengawinkan beragam genre ini bukanlah suatu upaya yang berhasil untuk memperkenalkan penonton kepada sebuah semesta film baru. Tidak buruk, hanya saja jauh dari kata greget. 

June 7, 2017

REVIEW : MINE


“My next step will be my last.” 

Coba bayangkan dirimu berada dalam situasi semacam ini: tersesat di padang gurun tanpa membawa persediaan hidup mencukupi, lalu tanpa sengaja menginjak sesuatu yang besar kemungkinan adalah sebuah ranjau. Apa yang akan kamu lakukan? Memutuskan berdiam diri hingga batas waktu tertentu seraya menunggu bala bantuan yang mungkin saja tidak akan pernah datang karena lokasimu amat terpencil dan berada di sekitar area konflik atau nekat memutuskan untuk melangkah dengan resiko akan kehilangan anggota tubuh tertentu? Situasi ini, kemudian pertanyaan-pertanyaan yang melanjutinya merupakan gambaran penceritaan secara garis besar dari film debut penyutradaraan duo Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro (memakai nama panggung Fabio & Fabio), Mine, yang promonya mengisyaratkan akan berada di jalur survival thriller. Hanya saja, berbeda dengan film-film yang mempunyai pokok persoalan serupa mengenai bertahan hidup di alam liar semacam 127 Hours (2010), Buried (2010), hingga paling anyar The Shallows (2016), Mine tidak semata-mata berceloteh mengenai upaya sang protagonis untuk bertahan hidup. Si pembuat film turut sibuk menyisipinya dengan muatan filosofis yang membicarakan tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. 

June 3, 2017

REVIEW : WONDER WOMAN


“I used to want to save the world, this beautiful place. But the closer you get, the more you see the great darkness within. I learnt this the hard way, a long, long time ago.” 

Sejujurnya, kepercayaan terhadap film-film hasil adaptasi komik keluaran DC Comics yang tergabung dalam DC Extended Universe (DCEU) telah menguap semenjak dikecewakan secara berturut-turut oleh dua film terakhirnya yang menjemukan serta sarat akan pesimisme, Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad. Kemuraman nada maupun pesan yang menghiasi kedua film tersebut nyatanya berimbas ke diri ini yang ditandai pupusnya harapan bakal memperoleh tontonan superhero berkualitas jempolan dari penghasil pahlawan-pahlawan fiktif berkekuatan mahadahsyat yang ikonik ini. Semacam, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan masa depan DCEU. Tatkala ekspektasi tidak lagi ditanamkan, keragu-raguan lebih sering mencuat, keajaiban yang didambakan justru datang menghampiri. Keajaiban yang diiringi setitik harapan tersebut dihantarkan oleh sutradara perempuan Patty Jenkins (Monster) melalui Wonder Woman yang menandai debutnya dalam mengarahkan film berskala blockbuster. Seolah telah belajar dari kesalahan film terdahulu, Wonder Woman menjauhkan diri dari nada penceritaan bermuram durja dan merangkul erat sikap optimistis yang menjadikannya terasa berenergi sekaligus menguarkan rasa beserta emosi yang kuat. Ya, Wonder Woman bukan saja akan membuatmu bersemangat oleh rangkaian aksi plus pesan positifnya tetapi juga tertawa oleh humornya dan tersentuh oleh sederet momen emosionalnya. 

May 30, 2017

10 FILM YANG COCOK DITONTON SAAT NGABUBURIT SELAMA RAMADHAN


Jika kamu berada di halaman ini – serta berencana membaca tulisan sampai tuntas – itu berarti kemungkinan besar kamu tengah menjalani puasa Ramadhan, kebelet ingin nonton film, namun merasa khawatir tidak bisa memilih tontonan aman yang tidak mengundang hawa nafsu. Kalau betul demikian, maka ya, ini adalah tempat yang tempat. Cinetariz telah mengurasi rentetan judul yang hilir mudik di pikiran (sejauh ingatan bisa mengingat) untuk ditempatkan dalam daftar ini. Mengingat daftar disusun di kala bulan Ramadhan, tak pelak film-film yang terpilih pun mayoritas bernafaskan Islami. 

[Special] DAFTAR FILM BIOSKOP YANG DIRILIS SEPANJANG RAMADHAN 1438H


Ada yang berencana buat ngabuburit di bioskop pada bulan Ramadhan tahun ini dan khawatir tidak ada pilihan tontonan menarik? Tak perlu risau. Mengingat kali ini masa-masa berpuasa berlangsung bersamaan dengan musim panas di Amerika Utara, maka rentetan film dengan label ‘blockbuster’ siap menemanimu. Setidaknya ada tiga judul besar siap hadir memeriahkan bioskop tanah air sepanjang Ramadhan kali ini; Wonder Woman, The Mummy, serta Transformers: The Last Knight. Sedangkan Cars 3 yang rilis pada pertengahan Juni di negara asalnya, kemungkinan baru akan tayang pada bulan Agustus dan Despicable Me 3 direncanakan rilis di Indonesia pada bulan Juli berdasarkan informasi dari perwakilan United International Pictures Indonesia. 

May 28, 2017

REVIEW : PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR'S REVENGE


“The dead have taken command of the sea. They're searching for a girl, a Pearl, and a Sparrow.” 

Ladies and gentleman, Jack Sparrow is back...!!! Setelah dibiarkan berhibernasi selama 6 tahun, salah satu franchise paling menguntungkan bagi Walt Disney, Pirates of the Caribbean, akhirnya dibangunkan dari tidur panjangnya. Mengingat raupan dollar dari franchise ini terbilang stabil, bahkan cenderung meningkat – instalmen keempat bertajuk On Stranger Tides sanggup menembus angka keramat $1 miliar dari peredaran seluruh dunia! – tentu tidak mengherankan jika pihak studio kekeuh memintanya berlayar sekalipun tiada lagi area tersisa untuk dijelajahi yang pada akhirnya menyebabkan tuturan terus berputar-putar di satu tempat. Repetitif. Memasuki jilid kelima yang diberi tajuk Salazar’s Revenge (atau Dead Men Tell No Tales di negara asalnya), tanya “apa lagi yang hendak dikedepankan sekali ini?” tentu tidak bisa terhindarkan. Agaknya belajar dari kesalahan On Stranger Tides yang kekurangan tenaga, duo sutradara Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon Tiki) mencoba mengusung lagi semangat dari trilogi awal yang sempat pupus seraya merekrut kembali karakter kunci dari franchise ini; Will Turner (Orlando Bloom) beserta Elizabeth Swann (Keira Knightley), dengan harapan dapat mencegah franchise Pirates of the Caribbean ditenggelamkan oleh kritikus maupun penonton. 

May 23, 2017

REVIEW : THE AUTOPSY OF JANE DOE


“All these mistakes, my mistakes, and you had to pay for them.” 

Seperti halnya Last Shift yang sempat mampir di bioskop tanah air tahun lalu, nasib The Autopsy of Jane Doe bisa dibilang apes. Betapa tidak, mengingat jajaran pelakon utamanya bukanlah nama sembarangan, sang sutradara punya jejak rekam membanggakan dimana karya sebelumnya yakni Trollhunter disambut sangat hangat oleh para pecinta film horor dunia, dan premis usungannya terdengar menggoda, film ini tidak pernah memperoleh kesempatan untuk dipertontonkan secara luas. Selepas diperkenalkan pertama kali ke khalayak melalui Toronto International Film Festival, The Autopsy of Jane Doe lantas menyapa penikmat tontonan seram hanya melalui rilisan secara terbatas di bioskop, streaming platform, dan home video. Nyaris tiada terdengar gaungnya. Dugaan yang lantas muncul, apakah ini berarti film arahan André Øvredal tersebut mempunyai mutu kurang baik sampai-sampai pihak distributor emoh menggelontorkan dana besar untuk promosi dan perilisan? Tapi, (lagi-lagi) seperti halnya Last Shift, kualitas bukanlah alasan utama yang melatarbelakangi karena kenyataannya kedua judul ini – khususnya The Autopsy of Jane Doe – merupakan harta karun tersembunyi yang sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja oleh para pecinta film horor. 

May 19, 2017

REVIEW : THE INVISIBLE GUEST (CONTRATIEMPO)


“Focus on the details. They’ve always been in front of our eyes, but you have to analyze them from a different perspective.” 

Terakhir kali dibuat terperangah oleh tontonan thriller yakni dua tahun silam tatkala menyimak film asal India yang dibintangi Ajay Devgan, Drishyam. Mengetengahkan topik pembicaraan utama mengenai “seberapa jauh yang bisa dilakukan orang tua untuk menyelamatkan keluarganya”, film tersebut berhasil menjerat atensi sedari awal mula dengan tuturan berintensitas tinggi yang tergelar rapi dan pada akhirnya bikin geleng-geleng kepala saking kagumnya terhadap kapabilitas si pembuat film dalam mengkreasi suguhan mencekam sarat kejutan ini. Kepuasan tiada tara yang diperoleh usai menyimak Drishyam, lantas menimbulkan ekspektasi tinggi kepada gelaran sejenis yang muncul selepasnya. Tak ada satupun yang mampu menandingi apalagi melampaui sepanjang tahun 2016 sampai kemudian sutradara dari Spanyol, Oriol Paulo (The Body), mempersembahkan karya terbarunya yang amat mencengkram dan merupakan perwujudan dari gugatannya terkait keberpihakan hukum kepada manusia-manusia kaya bertajuk The Invisible Guest (atau dalam judul asli, Contratiempo) di kuartal pertama 2017. Jika Drishyam menaruh fokus penceritaan pada upaya seorang ayah dalam menjauhkan sang putri dari jeratan hukum, maka The Invisible Guest berkutat pada upaya seorang pria kaya dalam menyelamatkan dirinya sendiri berbekal kekuasaan yang dipunyainya. 

May 14, 2017

REVIEW : CRITICAL ELEVEN


“I’ve burned my bridges. There’s no turning back. There’s only going forward, with you.” 

Apabila kamu rajin berselancar di dunia maya, komentar yang-kini-telah-amat-sangat-menjemukan untuk didengar, “Reza Rahadian lagi, Reza Rahadian lagi,” rasa-rasanya kerap dijumpai. Entah kamu menggemari Reza Rahadian atau justru tergabung dengan para netizen yang memandangnya sinis, sulit untuk menampik bahwa aktor penggenggam empat Piala Citra dari kategori akting ini merupakan salah satu pelakon terbaik yang dimiliki oleh perfilman Indonesia. Dia senantiasa memberi effort lebih untuk peran-peran yang dimainkannya sekalipun sebatas peran kecil atau malah sekadar numpang lewat. Energi positif yang dibawa Reza pun umumnya turut menular ke film maupun lawan mainnya sehingga tidak mengherankan namanya menjadi komoditi panas di kalangan para produser. Tiga lawan main yang ‘naik kelas’ seusai dipasangkan dengannya antara lain Bunga Citra Lestari, Acha Septriasa, serta Adinia Wirasti. Bersama nama terakhir, Reza telah tiga kali tandem. Uji coba pertama di film omnibus Jakarta Maghrib (segmen “Jalan Pintas”) dilalui dengan mulus yang membawa keduanya dipertemukan sekali lagi di Kapan Kawin?. Chemistry kuat nan memancar diantara duo Reza-Adinia dalam film komedi romantis tersebut membuat mereka lantas dipercaya untuk menghidupkan karakter bernama Ale dan Anya dalam gelaran romansa dewasa yang diekranisasi dari novel metropop laris manis rekaan Ika Natassa, Critical Eleven. Sebuah peran yang kian menguatkan pernyataan bahwa Reza dan Adinia adalah dua pelakon jempolan di tanah air saat ini.  

May 9, 2017

REVIEW : A SILENT VOICE


Didasarkan pada manga bergenre slice of life berbumbu romansa rekaan Yoshitoki Oima, A Silent Voice (Koe no Katachi) menjual dirinya sebagai film romansa untuk segmen young adult. Yang terbersit pertama di pikiran, film ini mungkin akan semanis dan semengharu biru Your Name yang telah berkontribusi dalam menetapkan standar tinggi bagi film anime asal Jepang. Mengingat materi promosinya memunculkan kesan demikian, tentu ekspektasi khalayak ramai tersebut tidak bisa disalahkan. Satu hal perlu diluruskan, A Silent Voice gubahan sutradara perempuan Naoko Yamada (K-On!) ini tidak semata-mata mengedepankan kisah kasih sepasang remaja sebagai jualan utamanya. Malahan sebenarnya, percintaan bukanlah bahan pokok buat dikulik. Topik pembahasan yang dikedepankan oleh A Silent Voice justru terbilang sensitif meliputi perundungan, kecemasan sosial, sampai bunuh diri berlatar dunia sekolah. Ya, ketimbang Your Name, A Silent Voice justru lebih dekat dengan film rilisan tahun 2010, Colorful, yang mengapungkan materi kurang lebih senada hanya saja tanpa mencelupkan elemen fantasi dan lebih realistis dalam bertutur. 

April 28, 2017

REVIEW : GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2


“Sometimes, the thing you've been looking for your whole life, is right there beside you all along.” 

Mengkreasi sebuah sekuel bagi salah satu film superhero rilisan Marvel Studios, Guardians of the Galaxy (2014), yang merupakan bagian dari Marvel Cinematic Universe bukanlah perkara mudah. Pasalnya, judul satu ini telah menetapkan standar terhitung tinggi untuk film-film adaptasi komik. Guardians of the Galaxy hadirkan rentetan laga luar biasa seru ala Star Wars dengan suntikkan melimpah humor-humor kocak dan barisan soundtrack dari era 60-70’an yang melebur mulus ke setiap adegan dalam film. Seolah belum cukup, pemain ansambelnya pun tunjukkan lakonan dengan chemistry membius. Sebuah film superhero dengan kesenangan tiada tara! Menariknya, semua ini muncul tiga tahun silam tanpa pernah diperkirakan sebelumnya. Betapa tidak, diantara rekan-rekan sesama pahlawan penyelamat alam semesta binaan Marvel yang telah dibuatkan filmnya, pamor Guardians of the Galaxy terhitung paling rendah di mata penonton awam dan sang sutradara, James Gunn (Super), bukan pula nama besar. Tidak mengherankan penonton datang memenuhi bioskop tanpa dipenuhi ragam ekspektasi dan hasil akhirnya justru amat mengejutkan. Bisa dibilang, kejutan merupakan salah satu poin penting yang menghantarkan film menuju gerbang kesuksesan. Mengingat sebagian khalayak saat ini telah mengetahui formula yang diterapkan, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, akankah Guardians of the Galaxy Vol. 2 mempunyai kekuatan yang sama untuk memikat seperti jilid pertamanya? 

April 26, 2017

REVIEW : STIP & PENSIL


Menjumpai film berbasis genre komedi buatan dalam negeri tidaklah susah sama sekali. Nyaris saban bulan, senantiasa ada judul-judul baru memeriahkan jaringan bioskop tanah air. Yang susah adalah menemukan film dengan kualitas dapat dipertanggungjawabkan diantara genre ini. Tidak ada yang salah memang dari film komedi yang sekadar ngebanyol tanpa mempunyai muatan cerita kuat dan cenderung ringan-ringan saja toh tujuan akhirnya lebih ke tontonan eskapisme. Namun ketika ini dijadikan sebagai pembenaran untuk menghasilkan sebuah gelaran sarat kelakar yang digarap secara serampangan tanpa mempunyai struktur cerita yang jelas, minim lakonan apik maupun alpa production value memadai yang membuatnya sebelas dua belas dengan program lawak di televisi, maka saat itulah kesalahan terbesar diperbuat. Lantaran saking seringnya disuguhi tontonan komedi di layar lebar yang bikin mengelus dada semacam ini – ditambah kepala pusing tujuh keliling akibat keriuhan Pilkada – jelas sesuatu membahagiakan begitu mendapati bahwa Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (Coklat Stroberi, 3 Dara) tergarap cukup apik, dibekali plot berisi dan memberi efek bungah usai menontonnya. Jarang-jarang ada, kan? 

April 20, 2017

REVIEW : KARTINI


“Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya.” 

Kartini garapan Hanung Bramantyo bukanlah kali pertama bagi kisah pahlawan nasional asal Jepara, Raden Adjeng Kartini, dalam memperjuangkan kesetaraan hak untuk para perempuan pribumi diboyong ke layar perak. Sebelumnya, sutradara legendaris tanah air, Sjumandjaja sudah menguliknya terlebih dahulu melalui R.A. Kartini (1982), dan Azhar Kinoi Lubis dibawah bendera MNC Pictures sempat pula memadupadankannya dengan tuturan fiktif lewat Surat Cinta Untuk Kartini (2016). Telah mendapatkan dua gambaran berbeda, sedikit banyak membuat kita bertanya-tanya, apa yang lantas hendak dikedepankan oleh Hanung Bramantyo di versi terbaru Kartini? Ketertarikan untuk mengetahui interpretasi Hanung Bramantyo terhadap sang pejuang emansipasi perempuan inilah salah satu yang melandasi keinginan untuk menyimak Kartini. Alasan lainnya, barisan pemain ansambel yang direkrutnya. Bukankah amat menggoda kala pelakon-pelakon papan atas tanah air seperti Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Christine Hakim, Ayushita Nugraha, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, serta Reza Rahadian berkolaborasi dalam satu film? Terlebih rekam jejak sang sutradara yang dikenal piawai mengarahkan pemain-pemainnya, Kartini jelas tampak menjanjikan. Dan memang, di tangan seorang Hanung Bramantyo, Kartini menjelma sebagai sebuah film biopik yang menghibur, emosional, sekaligus mempunyai cita rasa megah. 

April 17, 2017

REVIEW : THE GUYS


“Gue percaya, kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, kita akan mencintai hidup kita.” 

Beberapa waktu lalu, komika serba bisa Raditya Dika yang tahun kemarin berjasa menempatkan Hangout dan Koala Kumal di jajaran sepuluh film Indonesia paling banyak dipirsa mengumumkan melalui Vlog (video blog) kepunyaannya bahwa dia akan rehat sejenak dari dunia perfilman tanah air: tidak menulis naskah maupun menyutradarai untuk sementara waktu. Sebagai salam perpisahan, Dika melepas The Guys yang merupakan kolaborasi keduanya bersama rumah produksi Soraya Intercine Films pasca Single. Materi konflik seputar kesulitan Dika mencari pasangan pendamping hidup yang tepat memang masih dikedepankan sang komika buat jualan, namun yang membuatnya berasa segar lantaran sekali ini dikawinkan dengan office comedy yang mengulik soal mimpi serta persahabatan lalu sedikit memperoleh pelintiran tatkala problematika asmaranya menyasar ke dua generasi: melibatkan orang tua dari karakter utama. Tambahkan dengan keterlibatan Pevita Pearce, Tarzan, Widyawati, serta penampilan khusus dari aktris Thailand kenamaan, Baifern Pimchanok, harus diakui The Guys terlihat menggugah selera di atas kertas. 

April 14, 2017

REVIEW : FAST & FURIOUS 8


“One thing I can guarantee... no one's ready for this.” 

Siapa pernah menduga franchise The Fast and the Furious yang dimulai sebagai film balap mobil liar pada 16 tahun silam, lalu disisipi beragam elemen dari subgenre laga lain guna ‘bertahan hidup’ hingga telah ditinggal pergi oleh salah satu pelakon utamanya, Paul Walker, yang tewas saat seri ketujuh tengah digarap, bakal menapaki jilid kedelapan? Satu dasawarsa lalu tentu tak sedikitpun terbayang, namun semenjak Fast Five yang menjadi titik baru dimulainya kehidupan dari franchise ini baik dari respon penonton – raihan dollar kian menggurita – maupun resepsi kritikus, kita sudah bisa mencium gelagat Universal Pictures bakal memperpanjang usia kisah petualangan Dominic Toretto (Vin Diesel) beserta ‘keluarga’ tercintanya. Mengingat sudah banyak kegilaan kita simak: menyeret brankas raksasa menggunakan mobil di jalanan, berkejar-kejaran dengan pesawat siap tinggal landas, sampai mobil yang melayang menembus dua gedung pencakar langit, tanya “apa lagi yang akan mereka lakukan kali ini?” pada Fast & Furious 8 (dikenal pula dengan tajuk The Fate of the Furious) pun sulit terelakkan – maklum, standar kegilaan laganya terus meninggi dari seri ke seri. Namun ketika kita mengira franchise ini akan mulai kehabisan bahan bakarnya, Fast & Furious 8 justru tetap melaju kencang dan menggeber kegilaan laga yang sanggup menandingi, atau malah bisa dikata melampaui, jilid-jilid pendahulunya. 

April 11, 2017

REVIEW : THE BOSS BABY


“If I don’t succeed in this mission, I will live here forever with you!” 
“Okay, I will help you. But just to get rid of you.” 

Ada similaritas antara The Boss Baby dengan Storks (2016): bangunan konflik dua film animasi tersebut beranjak dari satu pertanyaan polos yang kerap diajukan oleh para bocah, “darimana sih asal muasal munculnya bayi?”. Jawaban fiktif paling kondang dilontarkan di kalangan orang tua negeri barat adalah dihantar seekor bangau putih. Storks mengamini dongeng bangau pengantar bayi tersebut, lalu memberinya sentuhan modern besar-besaran. Sementara The Boss Baby, mengkreasi versi berbeda untuk menjawab pertanyaan perihal asal muasal munculnya bayi. Animasi terbaru kepunyaan Dreamworks Animation selepas Trolls di penghujung tahun lalu yang dasar kisahnya disadur secara bebas dari buku cerita bergambar rilisan tahun 2010 berjudul sama rekaan Marla Frazee ini menyatakan bahwa bayi merupakan hasil produksi sebuah perusahaan. Bukan perusahaan biasa, tentu saja, mengingat korporasi khusus penghasil bayi bernama Baby Corp ini berbasis nun jauh di atas permukaan bumi – bisa dibilang, surga – dan karyawan-karyawan yang mendedikasikan waktu serta tenaganya di sana terdiri dari bayi-bayi menggemaskan dengan kemampuan selayaknya orang dewasa. What a twist, huh? 

April 6, 2017

REVIEW : GET OUT


“Man, I told you not to go in that house.” 

Berkunjung ke rumah calon mertua untuk pertama kali agaknya kerap meninggalkan cerita menarik buat dikulik. Tatkala berkumpul bersama kerabat, pengalaman ini cukup sering diajukan sebagai topik pembicaraan. Ada yang mengaku biasa-biasa saja, ada pula yang mengaku memperoleh sensasi menegangkan terlebih jika terpampang perbedaan antara kedua belah pihak entah itu status sosial, pandangan politik, agama, budaya atau suku. Perbedaan umumnya mendasari mencuatnya konflik atau setidaknya begitulah yang terjadi dalam film mengenai kunjungan ke rumah calon mertua seperti dimunculkan di Guess Who’s Coming to Dinner (1967), Meet the Parents (2000), sampai The Journey (2014). Mengedepankan perbedaan sebagai sumbu konflik, ada satu kesamaan yang menjembatani ketiga film ini: kesemuanya digulirkan secara komedik. Versi terbaru untuk pengalaman berkunjung yang dikreasi oleh Jordan Peele – seorang komedian dari duo Key & Peele – berjudul Get Out (2017) pun mulanya mengisyaratkan akan mengambil jalur serupa mengingat latar belakang si pembuat film. Memang elemen komedinya masih pekat, hanya saja genre horor lah yang dikedepankan Peele untuk melantunkan penceritaan dalam Get Out. Sebuah pendekatan menarik yang rasa-rasanya akan membuat kunjungan ke rumah calon mertua serasa kian menegangkan.

April 2, 2017

REVIEW : GHOST IN THE SHELL


“They created me. But they can not control me.” 

Sekalipun Astro Boy (2009), Dragonball Evolution (2009), serta Speed Car (2008) mengantongi resepsi tak memuaskan dari kritikus maupuk publik, agaknya Hollywood masih belum juga jera untuk mengejawantahkan goresan-goresan gambar komikus Jepang ke dalam medium audio visual sesuai gambaran mereka. Malahan Hollywood pun terbilang amat percaya diri terbukti dari keberanian mereka mempersiapkan beberapa judul adaptasi dari manga/anime lain untuk stok di masa mendatang sekaligus menafsirkan ulang Ghost in the Shell yang dikenal mempunyai muatan kisah cukup njelimet. Ya, proyek film Ghost in the Shell – berdasarkan manga bertajuk serupa hasil karya Masamune Shirow rilisan dua dekade silam yang lantas diadaptasi pula ke anime – yang sejatinya telah dicanangkan sejak lama akhirnya berhasil diwujudkan juga oleh Paramount Pictures dengan menempatkan Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman) dibalik kemudi. Jalannya pun tidak juga mulus, sempat diwarnai kontroversi atas pemilihan Scarlett Johansson sebagai pemeran utama yang notabene berdarah Jepang (whitewashing!), walau bagi saya pribadi penunjukkan Sanders untuk mengomandoi Ghost in the Shell versi Hollywood semestinya lebih dikhawatirkan ketimbang perekrutan Johansson menilik apa yang telah dilakukannya di film terdahulu.

March 31, 2017

REVIEW : DANUR


“Namaku Risa. Dan aku bisa melihat apa yang kalian sebut... hantu.” 

Setidaknya ada tiga alasan utama disodorkan oleh Danur produksi Pichouse Films (anak dari MD Pictures) yang cukup ampuh untuk menggelitik kepenasaran khalayak ramai agar menyimaknya di layar lebar. Pertama, topik obrolannya didasarkan pada buku populer bertajuk Gerbang Dialog Danur yang konon kabarnya berbasis pengalaman nyata dari seorang musisi indigo bernama Risa Saraswati. Kedua, pelakon utamanya adalah aktris muda dengan basis penggemar terhitung masif, Prilly Latuconsina, yang secara kualitas akting pun terhitung mumpuni seperti ditunjukkannya melalui Surat Untukmu dan Hangout, beserta Shareefa Daanish yang disinyalir bakal menjadi Ratu Horror semenjak Rumah Dara. Dan ketiga, promosi yang dikreasi MD Pictures terbilang gencar sekaligus jitu lantaran memanfaatkan unsur mistis yang amat dipercayai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan ketiga alasan tersebut – ditambah adanya keterlibatan Awi Suryadi (Badoet, Street Society) di kursi penyutradaraan – Danur jelas menguarkan aura menjanjikan di permukaan sehingga tidak mengherankan apabila ekspektasi membumbung. Pertanyaannya, apakah Danur sanggup memenuhi segala potensi yang dipunyainya? 

March 29, 2017

REVIEW : DEAR NATHAN


“Saya seneng, kamu ngomong pakai aku kamu. Berasa kayak orang pacaran beneran.” 

Baru beberapa hari lalu diri ini berjingkat-jingkat kegirangan lantaran mendapati film percintaan remaja buatan dalam negeri yang kualitasnya melampaui semenjana dalam Galih dan Ratna, tanpa disangka-sangka kegirangan tersebut bakal terpicu lagi oleh Dear Nathan. Berbeda halnya dengan Galih dan Ratna yang materi sumbernya amat meyakinkan – pijakannya adalah film romantis klasik, maka Dear Nathan yang mempergunakan novel teenlit laris manis rekaan Erisca Febriani hasil kompilasi dari tulisannya di situs Wattpad sebagai rujukan utama boleh dibilang agak meragukan. Meragukan dalam arti naga-naganya film akan susah dinikmati penonton yang bukan berasal dari pangsa pasar utamanya atau dengan kata lain remaja usia belasan yang masih mengenakan seragam sekolah. Ya, telah menjadi rahasia umum bahwa film romantis khusus remaja Indonesia dewasa ini acapkali mempunyai kecenderungan mengalienasi penonton diluar pangsa pasar utamanya sampai-sampai munculnya sikap meremehkan terhadap Dear Nathan pun amat bisa dipahami. Ditemani skeptisisme kala melangkahkan kaki memasuki gedung bioskop demi menyaksikan Dear Nathan, sebuah tamparan kecil mendarat ke diri ini begitu lampu bioskop dinyalakan pertanda pertunjukkan telah usai. Rupanya, Dear Nathan bukanlah film menye-menye kosong nan menyebalkan seperti disangkakan dan malah justru sebaliknya, ini adalah tontonan yang manis, lucu, dan cukup emosional. Dear Nathan pun bolehlah diajak bergabung ke dalam kelompok ‘film percintaan remaja buatan sineas Indonesia yang enak buat ditonton’ yang anggotanya terhitung sedikit itu. 

March 23, 2017

REVIEW : BEAUTY AND THE BEAST


“Think of the one thing that you've always wanted. Now find it in your mind's eye and feel it in your heart.” 

Telah menjadi rahasia umum bahwa Disney telah mengakrabi kata ‘magis’ sedari lama. Tengok saja produk-produk animasi tradisionalnya dari generasi awal seperti Snow White and The Seven Dwarfs (1937) beserta kawan-kawannya maupun dari era keemasannya yang dimulai sedari The Little Mermaid (1989) sampai Tarzan (1999) – ini masih belum ditambah sejumlah judul live action dan animasi rekaan CGI yang juga ciamik. Visualisasinya tergurat indah membuat mata terbelalak, tuturan kisahnya meninggalkan rasa hangat yang menjalar manja di dada, dan rentetan nomor musikalnya terdengar renyah di telingga. Mudahnya, Disney mempunyai banyak koleksi film yang memaknai istilah “keajaiban sinema” atau ya, “magis” tadi. Salah satu judul yang tergabung di dalamnya yakni Beauty and the Beast (1991), sebuah film animasi penting yang merupakan interpretasi anyar dari dongeng Prancis klasik gubahan Jeanne-Marie Leprince de Beaumont. Mengapa dikata penting? Karena Beauty and the Beast semacam membukakan gerbang bagi genre animasi agar dapat berkompetisi di kategori utama Oscars, Best Picture. Disamping itu, film ini pun menandai pertama kalinya Disney mempersilahkan film animasinya diboyong ke panggung Broadway. Mempunyai cukup banyak catatan rekor membanggakan – belum ditambah lagu temanya yang legendaris itu – tentu tiada mengherankan jika lantas Beauty and the Beast dipilih untuk mengikuti jejak Cinderella dan The Jungle Book: diejawantahkan ke bentuk live action

March 18, 2017

REVIEW : BID'AH CINTA


“Anugerah terbesar dari Allah buat manusia itu cinta. Tanpa cinta, manusia itu cuma saling benci.” 

Persoalan asmara terhalang tembok tinggi menjulang berwujud agama di Indonesia telah jamak diungkit-ungkit. Dalam khasanah film Indonesia kontemporer sendiri, kulikannya bisa dijumpai dalam Ayat-Ayat Cinta (2008), Cin(t)a (2009), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010), sampai Cinta Tapi Beda (2012). Isunya memang terbilang seksi, sekalipun solusinya kerap main aman lantaran rentan mengundang kontroversi tak perlu jika si pembuat film lantas mengambil penyelesaian yang memenangkan “cinta” alih-alih “agama”. Barangkali dilatari keengganan memicu keributan di era masyarakat yang kian mudah mengencang urat syarafnya ini, polemik asmara satu keyakinan beda paham tak juga diangkat oleh sineas tanah air padahal kasusnya di ruang publik tak kalah marak dibanding beda keyakinan (oh ya, kerap menjumpai pasangan gagal menikah disebabkan satu pihak menganut manhaj/metode A sementara pihak lain mengaplikasikan manhaj B). Beruntunglah Nurman Hakim yang sebelumnya gelontorkan realita kehidupan pesantren dalam 3 Doa 3 Cinta serta sentil atribut relijius di Khalifah, bersedia memberi publik kesempatan buat melongok kisah cinta terbentur paham melalui Bid’ah Cinta. Seperti halnya kedua film reliji buatan Nurman terdahulu, Bid’ah Cinta pun lebih dari sekadar berbincang soal “cinta terlarang” yang sebetulnya pemberi jalan saja ke persoalan lebih besar mengenai kian rumitnya kehidupan beragama di Indonesia dewasa ini. 

March 14, 2017

REVIEW : HIDDEN FIGURES


“Every time we get a chance to get ahead, they move the finish line. Every time.” 

Hidden Figures merupakan sebuah film inspiratif yang penting ditonton. Sajian dari Theodore Melfi yang diganjar tiga nominasi di helatan Oscars tahun lalu ini – terdiri dari Film, Aktris Pendukung, serta Naskah Adaptasi – secara tegas menyatakan bahwa keadilan beserta kebebasan semestinya diperjuangkan. Direngkuh. Mereka yang mengalami perundungan, tidak semestinya hanya melontarkan keluh kesah semata tanpa pernah sedikitpun berusaha untuk merubah nasibnya. Pembuktian diri adalah kunci. Guna menguatkan keyakinan penonton, si pembuat film pun menghadirkan studi kasus berdasar buku non-fiksi gubahan Margot Lee Shetterly, Hidden Figures, mengenai kontribusi penting dari tiga perempuan berkulit hitam terhadap pengiriman manusia ke luar angkasa untuk pertama kali kala rasisme beserta seksisme masih menjadi isu mengerikan di Amerika Serikat. Lewat studi kasus tersebut, Hidden Figures memberi pembuktian bahwa slogan “impossible is nothing” memang betul adanya. Selalu ada kesempatan untuk menjadi yang pertama apabila memang dilandasi keberanian untuk mewujudkan mimpi. 

March 12, 2017

REVIEW : GALIH & RATNA


"Fokus dengan apa yg membuat kita bahagia bukan pada apa yg seharusnya membuat kita bahagia."

Menjumpai film percintaan remaja buatan dalam negeri yang enak ditonton itu sulitnya bukan kepalang. Bagai mencari jarum diantara tumpukan jerami. Dari sisi kuantitas sih stoknya melimpah ruah. Cuma dari sekian banyak judul, film yang tidak mengakibatkan migrain atau gerutuan berkepanjangan saat menontonnya bahkan kalah jumlah dari jemari tangan. Plot mengada-ada, karakter konyol jauh dari kesan membumi, dan dialog-dialog ala pujangga yang bikin lelah telinga dilontarkan tiap menit adalah beberapa penyebab mengapa film percintaan remaja setempat sulit membuat penonton di luar pangsa pasarnya ikut klepek-klepek. Terakhir kali menyaksikan perwakilan genre ini yang terhitung “pas di hati” adalah lima bulan silam lewat Ada Cinta di SMA – sebuah film romantis menyenangkan yang sayangnya dipandang sebelah mata lantaran dibintangi oleh personil CJR (dunno why!). Dalam kurun waktu semenjak film tersebut rilis, beberapa film sejenis berlalu lalang namun tak satupun meninggalkan kesan sampai akhirnya tibalah film terbaru arahan Lucky Kuswandi, Galih dan Ratna, yang menyerupai oase di gurun tandus. Galih dan Ratna membuatku tertawa oleh kejenakaannya, tersenyum kerena keromantisannya, sekaligus rindu manisnya masa-masa SMA. Jatuh hati! 

March 10, 2017

REVIEW : KONG: SKULL ISLAND


“This planet doesn't belong to us. Ancient species owned this earth long before mankind. I spent 30 years trying to prove the truth: monsters exist.” 

Baru satu dekade lalu Peter Jackson membangunkan kera berukuran gigantis dari tidur panjangnya lewat King Kong (2005), Hollywood telah meluncurkan interpretasi lain atas mitologi Kong melalui Kong: Skull Island yang dinahkodai sutradara The Kings of Summer (2013), Jordan Vogt-Roberts, serta ditumpangi barisan-barisan pemain berbakat dengan beberapa diantaranya pernah memenangkan Oscars (Brie Larson) atau minimal dinominasikan (John C. Reilly dan Samuel L. Jackson). Akan tetapi, berbeda halnya dengan King Kong yang pokok penceritaannya merupakan sebentuk pembaharuan dari versi rilisan 1933, materi kulikan Kong: Skull Island tergolong sama sekali baru. 

March 8, 2017

REVIEW : LONDON LOVE STORY 2


"Siapapun itu, bagaimanapun juga, setiap orang pasti punya masa lalu. Dan aku memilih kamu sebagai masa depanku.” 

Pada dasarnya, London Love Story hanyalah versi sedikit lebih sophisticated-nya Magic Hour (bahkan kru dan pemain pun sama!) yang untuk mencapai level sophisticated, latar diboyong jauh ke London menggantikan Jakarta. Sebetulnya tidak ada keistimewaan dari caranya bercerita, malah bisa dikata plotnya sudah lecek, karena kisahnya masih saja berkisar soal balada asmara beberapa anak kuliahan yang sengaja dirumit-rumitkan simpulnya padahal mudah sekali buat diurai. Yang membuatnya istimewa, London Love Story menandai pertama kalinya bagi rumah produksi Screenplay Films mengirimkan perwakilan ke klub film satu juta penonton usai percobaan pertama lewat Magic Hour gagal merengkuhnya dalam margin amat tipis. Kunci keberhasilannya jelas tidak terletak pada kualitas, melainkan kemahiran berpromosi. Film ini sukses menciptakan tren “baper bareng-bareng di bioskop” di kalangan segmen penontonnya yang menyasar remaja usia belasan. Rasa penasaran digelitik (“hmmm... seromantis dan sesedih apa sih filmnya kok sampai dibilang bisa bikin baper?), begitu pula rasa gengsi (“hari gini masih belum nonton London Love Story? Helloooo!"). Alhasil, bukan perkara sulit bagi film mengumpulkan satu juta pasang mata ke bioskop. 

March 4, 2017

REVIEW : LOGAN


“Nature made me a freak. Man made me a weapon. And God, made it last too long.” 

Menorehkan kesuksesan dari sisi komersil maupun kritik, Deadpool membuktikan bahwa tidak apa-apa mengkreasi sebuah superhero movie yang dilabeli rating R (17 tahun ke atas). Apabila materi sumbernya memang menghendaki demikian, mengapa tidak? Menahan-nahan potensi demi memperoleh rating usia lebih rendah agar dapat menjangkau lebih banyak penonton malah seringkali hanya membawa dampak kurang baik bagi filmnya itu sendiri. Lesson learned. Belajar dari capaian sang “saudara seperguruan” – sesama superhero asal Marvel Comics yang hak pembuatan film dipegang oleh Fox – James Mangold yang juga menggarap The Wolverine (2013) memutuskan untuk membawa instalmen terakhir dalam rangkaian film mengenai si mutan bercakar adamantium bertajuk Logan ini dengan gaya cenderung berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya berbeda dari rentetan seri X-Men tetapi juga film-film superhero yang diadaptasi dari komik keluaran Marvel. Logan berani memasuki teritori “dewasa” yang selama ini cenderung dihindari oleh film sejenis. Konsekuensi dari keputusannya, Logan lebih leluasa dalam menggulirkan tuturannya tanpa harus takut akan terlalu muram atau brutal bagi penonton muda. 

March 1, 2017

REVIEW : LION


“I'm not from Calcutta... I'm lost.” 

Jelang mengularnya credit title, Lion beberkan sebuah informasi yang bikin hati serasa teriris. Informasi tersebut memuat statistik miris di India terkait bocah-bocah menghilang tanpa kabar setiap harinya yang mencapai angka 80 ribu serta para anak jalanan yang jumlahnya telah menyentuh 11 juta. Lewat Lion, sutradara Garth Davis yang baru sekali ini menggarap film layar lebar mencoba membahasagambarkan fenomena yang boleh jadi umum terjadi di negara-negara berpopulasi lebih dari ratusan juta jiwa ini. Bukan menggunakan sudut pandang keluarga ditinggalkan, melainkan dari kacamata korban. Ndilalah, ada satu penyintas bernasib mujur yang pernah berada di posisi terpisahkan dari keluarga maupun terlunta-lunta di jalanan semasa cilik, namanya Saroo Brierly. Pengalaman luar biasa yang memaksanya putus kontak selama 25 tahun lamanya dengan keluarga biologisnya ini dituangkan Saroo ke sebuah buku nonfiksi bertajuk A Long Way Home. Buku yang merupakan cikal bakal dari lahirnya film ‘keji’ pengoyak emosi berjudul Lion

February 25, 2017

REVIEW : RINGS


“7:10. I win, bitch.” 

Agaknya, hantu perempuan berambut hitam panjang bernama Sadako (atau Samara untuk nama bulenya) masih belum diperkenankan oleh para petinggi-petinggi studio film yang serakah untuk beristirahat dengan tenang di dalam sumur. Usai Jepang membangkitkannya kembali tahun lalu lewat film bermetode crossover dimana Sadako ditandingkan melawan memedi ikonik lainnya, Kayako, dalam Sadako vs Kayako yang level menghiburnya plus absurditasnya jauh melampaui pertarungan dua superhero galau, kini giliran Hollywood menjajal peruntungannya lewat Rings. Tidak jelas mengambil pendekatan sekuel atau reboot, Rings merupakan instalmen ketiga usai The Ring (2002) yang tidak dinyana-nyana seseram versi aslinya dan The Ring Two (2005) yang lempeng tapi masih bolehlah dalam urusan menciptakan atmosfer creepy. Barisan pemain Rings sama sekali baru – tidak melibatkan pelakon seri-seri sebelumnya termasuk Naomi Watts – begitu pula sang nahkoda kapal, F. Javier Gutierrez, yang baru sekali ini menangani film panjang untuk penayangan bioskop. Benang merah tersisa yang menautkan Rings dengan dua film terdahulu adalah kehadiran Samara beserta video kutukan kreasinya. 

February 23, 2017

REVIEW : BUKAAN 8


“Apa memang cara terbaik untuk membahagiakan orang tua adalah dengan memiliki anak?” 

Angga Dwimas Sasongko dan film drama sih pasangan klop yang sudah tiada perlu diragukan lagi keserasiannya. Tapi Angga dan film komedi? Hmmm... menggugah rasa ingin tahu untuk menguji cobanya mengingat pembesut Surat Dari Praha ini belum fasih menekuni genre komedi. Menariknya lagi, percobaan perdana Angga untuk ngelaba di film bertajuk Buka’an 8 didasarkan pada pengalaman nyatanya yang sarat akan suka duka kala menyambut lahiran buah hati pertamanya. Sebuah kisah personal yang rasa-rasanya akan mudah terhubung ke penonton yang telah (atau segera) dikaruniai momongan serta mereka yang mempunyai hubungan erat dengan orang tua. Hanya bermodalkan tiga faktor ini saja, Buka’an 8 telah nangkring manis di posisi teratas dalam deretan film paling diantisipasi kemunculannya versi saya pada bulan Februari. Lalu tambahkan lagi dengan faktor lain: barisan pemain yang mempunyai jejak rekam meyakinkan, seperti Chicco Jerikho, Lala Karmela, Tyo Pakusadewo, Sarah Sechan, serta Dayu Wijanto. Bagaimana tidak dilingkungi rasa penasaran coba jika kombinasinya semaut ini? 

February 22, 2017

REVIEW : SALAWAKU


“Indahnya hidup bila tidak ada beban. Cuma ada cinta.” 

Salawaku berceloteh mengenai petualangan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar bernama Salawaku (Elko Kastanya) dalam menjelajahi kepulauan Maluku demi mencari keberadaan kakaknya, Binaiya (Raihaanun), yang tiba-tiba menghilang tanpa pernah sekalipun memberikan kabar kepada Salawaku. Di tengah-tengah perjalanannya, Salawaku berjumpa dengan perempuan asal Jakarta, Saras (Karina Salim), yang terdampar di sebuah pulau kecil. Saras menawarkan diri untuk membantu si bocah yang namanya terinspirasi dari perisai tradisional asal wilayah Timur ini dengan harapan Salawaku akan menuntunnya kembali ke resor tempat dia menginap. Meski mula-mula ada keengganan, toh akhirnya Salawaku bersedia menerima uluran bantuan dari Saras. Melengkapi formasi “kelompok pencari Binaiya” adalah Kawanua (Jflow Matulessy), tetangga Salawaku yang telah dianggapnya sebagai kakak laki-laki sendiri, yang belakangan memutuskan untuk bergabung. Seperti fitrahnya sebuah road movie, perjalanan ini pun memberi perspektif baru kepada pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya utamanya terhadap bagaimana mereka menyikapi permasalahan hidup. 

February 19, 2017

REVIEW : THE LEGO BATMAN MOVIE


“Wait a minute. Bruce Wayne is Batman... 's roommate?” 

Gelap, muram, serta depresif adalah citra Batman yang acapkali dimunculkan dalam film-film sang Manusia Kelelawar dewasa ini terutama sejak era Christopher Nolan. Tidak mengherankan jika kemudian cukup banyak khalayak ramai yang menaruh anggapan bahwa film yang melibatkan superhero kepunyaan DC Comics ini memang seharusnya dilingkungi kemuraman dan nestapa, sampai-sampai usai menontonnya justru tersisa perasaan murung alih-alih bahagia. Ugh. Apakah sungguh teramat mustahil untuk mengkreasi sebuah film Batman yang di dalamnya dipenuhi suka cita? Warner Bros. agaknya belum berani menjawab pertanyaan tersebut lewat instalmen resmi sang superhero (mungkin masih trauma dengan Batman & Robin? Who knows), namun mereka memiliki itikad baik untuk menjajalnya di The Lego Batman Moviespin-off dari film animasi The Lego Movie yang gesrek itu. Mengusung semangat dari semesta filmnya yang penuh warna, meriah, serta cenderung semau-mau gue, The Lego Batman Movie memberi perspektif menyegarkan dalam menuturkan kisah pahlawan dari Gotham City ini: bahwa Batman pun manusia biasa yang bisa berkelakar.

February 15, 2017

REVIEW : SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2


“Nggak ada perempuan yang ikhlas berbagi, Mas. Dan aku nggak mau, Mas terbebani dengan harus berlaku adil.” 

“Apakah... ada laki-laki lain?” 

Dalam Surga Yang Tak Dirindukan, kebahagiaan Arini (Laudya Cynthia Bella) mendadak terenggut ketika mendapati suami tercintanya, Pras (Fedi Nuril), diam-diam telah mempersunting perempuan lain, Meirose (Raline Shah), sebagai istri muda tanpa seizinnya. Keputusan Pras untuk menikah lagi bukannya tanpa alasan. Dia berikrar akan membawa Meirose ke pelaminan demi menggagalkan rencana bunuh diri perempuan malang yang sedang mengandung ini. Dengan adanya orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Arini bersama Pras, ‘si perempuan terdzalimi’ Arini pun tak kuasa lagi menahan emosinya. Deraian tangisannya menghiasi hampir seluruh durasi film dan tak ayal turut mendorong para penonton untuk mengeluarkan tissue guna menyeka bulir-bulir air mata yang membahasi pipi. Setidaknya 1,5 juta pasang mata ikut dibuat nelangsa menengok kisruhnya jalinan asmara Arini sehingga tidak mengherankan MD Pictures mempunyai ide melanjutkan film ke jilid kedua. Mengingat sejatinya rumitnya simpul konflik telah terurai di penghujung film – Meirose memutuskan melanjutkan hidupnya sendiri tanpa campur tangan Pras, tentu ada sekelumit rasa penasaran terundang. Apa ya yang akan dicelotehkan oleh Surga Yang Tak Dirindukan 2

February 10, 2017

REVIEW : JOHN WICK: CHAPTER 2


“You stabbed the devil in the back. To him this isn't vengeance, this is justice.” 

Dua tahun silam, pembunuh bayaran yang mematikan berjulukan The Boogeyman, John Wick (Keanu Reeves), keluar dari peraduannya selepas mobil Mustang 69 kesayangannya digondol dan anjing peninggalan mendiang istri dicabut paksa nyawanya. Rencana Wick untuk pensiun dari dunia kriminal bawah tanah – sekaligus mengobati duka lara lantaran ditinggal istri tercinta – pun terpaksa ditunda guna menuntaskan misi balas dendam. Mempunyai jejak rekam beringas di kalangan rekan-rekan seprofesinya, tentunya bukan perkara sulit bagi Wick untuk menundukkan para begundal-begundal yang telah merampas ketenangannya. Hanya dengan sekali hantaman, sekali tembakan, lawan-lawan bertumbangan dan secara cepat, niatan buat undur diri tampaknya segera tercapai... sampai kemudian petinggi studio di Hollywood melihat raihan angka box office yang direngkuh John Wick. Menyadari bahwa film memiliki potensi besar untuk ditumbuhkembangkan sebagai franchise, Summit Entertainment pun lantas mengupayakan agar The Boogeyman gagal beristirahat dengan tenang dan kembali ke jalanan. Caranya mudah, tinggal bumihanguskan saja kediaman John biar tak ada lagi tempat bernaung untuknya! 

February 8, 2017

REVIEW : SPLIT


“I’ve never seen a case like this before. Twenty three identities live in Kevin’s body.” 

Pernah ada masanya M. Night Shyamalan digadang-gadang sebagai sutradara terkemuka di masa depan. Menapaki era milenium, sutradara berdarah India asal Philadelphia, Amerika Serikat, ini berturut-turut menelurkan karya jempolan semacam The Sixth Sense, Unbreakable, Signs, serta The Village. Ciri khas yang mudah dikenali di barisan filmnya tersebut adalah kuatnya pembentukan karakter, bangunan atmosfer mengusik yang menghasilkan rasa tidak nyaman, serta twist ending. Ya, Shyamalan sempat pula mendapat julukan “rajanya twist ending” lantaran kebiasaannya memberikan pelintiran di ujung kisah dalam film-film arahannya. Belakangan karirnya mengalami kemerosotan drastis, utamanya setelah mencoba meninggalkan ranah thriller yang dikuasainya dan mengorkestrai genre berbeda semacam The Last Airbender yang lempengnya tiada ketulungan (Ugh!) beserta After Earth yang hampa. Diprediksi tidak akan lagi bisa merengkuh kepercayaan khalayak ramai, tiba-tiba saja Shyamalan kembali dengan sebuah kejutan kecil yang manis: The Visit. Menghadirkan gelaran found footage yang amat creepy (si nenek!), ternyata The Visit semacam pemanasan sebelum penebusan dosa sesungguhnya melalui Split dimana kita akhirnya bisa mengatakan, “welcome back, Shyamalan!.” 

February 7, 2017

REVIEW : A DOG'S PURPOSE


“I tried to make sense out of all the things I’d seen. Was there a point to this journey of life, and how did bacon fit in?” 

Banyak yang mengatakan, “anjing adalah sahabat terbaik manusia.” Mengingat saya lebih memilih kucing ketimbang anjing untuk dijadikan hewan peliharaan – karena satu dan lain hal, kebenarannya tidak bisa saya verifikasi. Tapi satu yang jelas ditengok dari kacamata awam saya, film mengenai anjing utamanya jika mengupas tuntas hubungan antara si hewan dengan majikannya, jarang sekali berakhir mengecewakan. Beberapa judul yang menjadi kesukaan secara personal, antara lain Air Bud (jilid pertama, bukan sekuel-sekuelnya), My Dog Skip, Marley & Me, serta paling sering dibicarakan oleh khalayak ramai, Hachi: A Dog’s Tale. Nah, sutradara dari judul terakhir disebut, Lasse Hallstrom, baru-baru ini melepas sebuah film anyar yang juga menempatkan anjing sebagai tokoh sentral dan didasarkan pada novel laris, A Dog’s Purpose. Sedikit membedakannya dengan beberapa film anjing yang telah disebut, ada elemen fantasi dicelupkan ke dalam A Dog’s Purpose. Kita bisa mendengar isi pikiran dari si anjing dan sosoknya pun diceritakan mampu bereinkarnasi berulang kali demi memenuhi satu tujuan hidup: membawa sang pemilik menemukan kebahagiannya. 

February 5, 2017

(Event) MENONTON FILM PENDEK DI KAMPUNG CODE


Keinginan untuk menyambangi Kampung Code, Jogja, akhirnya terealisasi pada Sabtu (4/2) malam kemarin. Sudah tidak terhitung berapa kali melewati area pemukiman padat penduduk di samping Kali Code ini sedari pertama menjejakkan kaki di Kota Gudeng tiga tahun silam, tapi belum pernah sekalipun menyempatkan diri untuk melongok ke dalamnya. Kesempatan menjelajah Kampung Code datang setelah Cinetariz mendapat tawaran untuk ikut menyemarakkan penayangan film-film pendek yang dikreasi oleh rekan-rekan dari Engage Media mengenai kehidupan masyarakat di kampung tersohor tersebut. 

February 4, 2017

REVIEW : RAEES


“No business is small and no religion is bigger than business.” 

Citra seorang Shah Rukh Khan (atau sebut saja SRK biar tidak kepanjangan) dalam karir keaktorannya memang tidaklah lekat dengan peran antagonis. Dia seringkali memerankan sosok jagoan yang memiliki karisma tinggi, bertampang rupawan, serta berselera humor bagus, meski kenyataannya awal karir SRK dibentuk dari peran-peran jahat seperti ditunjukannya melalui Baazigar (1993), Darr (1993), dan Anjaam (1994). Seiring membumbungnya karir SRK ke angkasa – diikuti upayanya merebut hati lebih banyak penggemar, dia mulai menjauhi peran beraromakan negatif sekalipun tidak sepenuhnya dihempaskan olehnya. Tercatat, SRK sempat kembali menyelami karakter antagonis lewat Duplicate (1998), Don (2006), serta Fan (2016), yang uniknya dalam ketiga film tersebut, dia memainkan peran ganda dengan salah satunya berada di sisi berlawanan. Raees, garapan Rahul Dholakia, adalah percobaan terbaru SRK dalam melakonkan karakter antihero dimana dia berperan sebagai bandar minuman keras kelas kakap yang sulit dijamah hukum. Seperti halnya tiga judul terakhir yang disebut, SRK pun tidak seutuhnya jahat lantaran karakter tituler yang dihidupkannya cenderung digambarkan abu-abu mengikuti tindak tanduk ala Robin Hood. Hasil keuntungan dari tindak kriminalnya dimanfaatkan untuk membantu hajat hidup masyarakat di lingkungannya. 

January 30, 2017

REVIEW : MONSTER TRUCKS


Monster Trucks sebetulnya mengkhawatirkan. Betapa tidak, saat sebuah film maju mundur cantik dalam hal perilisan berulang kali (total jenderal, jadwal edar Monster Trucks direvisi sebanyak 5 kali!), tentunya ada beberapa poin yang menyebabkan si pemilik film ragu-ragu untuk melepaskan filmnya ke khalayak ramai. Kemungkinan paling masuk akal dan memang seringkali begitu adanya, hasil akhir jauh dibawah pengharapan. Turut dijadikan kambing hitam pula sebagai salah satu penyebab kerugian Viacom – konon, film menelan dana sebesar $125 juta (!!!) dan telah diprediksi tidak akan sanggup mencapai titik impas apalagi untung – semakin menguatkan energi negatif yang telah melingkungi Monster Trucks. Belum apa-apa sudah keder duluan, khawatir filmnya bakal bikin dongkol hati begitu menjejakkan kaki di luar gedung bioskop. Dari serentetan sikap pesimis, timbul satu pertanyaan, “apakah Monster Trucks memang sedemikian mengecewakannya?.” Pertanyaan yang sempat menggelayuti benak selama beberapa pekan ini akhirnya terjawab setelah memutuskan untuk menonton Monster Trucks di layar lebar. 
Mobile Edition
By Blogger Touch