July 6, 2017

REVIEW : SPIDER-MAN: HOMECOMING


"I'm nothing without the suit!"
"If you're nothing without the suit, then you shouldn't have it."

Reboot lagi, reboot lagi. Mungkin begitulah tanggapan sebagian pihak tatkala mengetahui film terbaru si manusia laba-laba, Spider-Man: Homecoming, memulai guliran pengisahannya dari awal mula (lagi!) alih-alih melanjutkan apa yang tertinggal di dwilogi The Amazing Spider-Man yang juga merupakan sebuah reboot dari trilogi Spider-Man asuhan Sam Raimi. Bisa jadi tidak banyak yang tahu – kecuali kamu rajin mengikuti perkembangan berita film terkini – bahwa keputusan untuk ‘back to the start’ ini dilandasi alasan agar Spider-Man dapat melebur secara mulus (dan resmi) ke dalam linimasa Marvel Cinematic Universe (MCU). Sebelum hak pembuatan film merapat lagi ke Marvel Studios yang diumumkan pada tahun 2015 silam, segala bentuk film yang berkenaan dengan alter ego Peter Parker ini memang berada sepenuhnya di tangan Sony Pictures. Itulah mengapa kita baru benar-benar bisa melihat Spidey bergabung bersama para personil Avengers untuk pertama kalinya dalam Captain America: Civil War (2016) selepas kesepakatan kerjasama antara Sony Pictures dengan Marvel Studios sukses tercapai. Menyusul perkenalan singkat nan berkesan yang menyatakan bahwa si manusia laba-laba telah ‘pulang ke rumah’ di film sang kapten tersebut, Spidey akhirnya memperoleh kesempatan unjuk gigi lebih besar dalam film solo perdananya sebagai bagian dari MCU yang diberi tajuk Spider-Man: Homecoming

Dalam Spider-Man: Homecoming, Peter Parker (Tom Holland) dideskripsikan sebagai seorang remaja SMA berusia 15 tahun yang memiliki otak encer, penuh semangat, sekaligus masih labil. Pasca diajak berpartisipasi oleh Tony Stark (Robert Downey Jr) dalam pertempuran antar personil Avengers akibat perbedaan prinsip seperti diperlihatkan di Civil War, Peter berharap banyak dirinya dalam wujud Spider-Man akan dipercaya seutuhnya untuk menjadi bagian dari kelompok Avengers. Berbulan-bulan menanti panggilan dari Tony yang tidak kunjung datang, Peter pun memilih beraksi kecil-kecilan seorang diri di lingkungan sekitar tempat tinggalnya dengan harapan suatu saat akan menghadapi pelaku kriminal sesungguhnya. Tidak berselang lama, gayung bersambut. Peter berhasil menggagalkan aksi pembobolan ATM dari sejumlah perampok yang menggunakan senjata berkekuatan luar biasa dan berlanjut pada memergoki penjualan senjata ilegal dari pihak sama yang ternyata dikomando oleh mantan kontraktor yang menyimpan dendam kesumat pada Tony, Adrian Toomes (Michael Keaton). Dengan bantuan sang sahabat yang mengetahui jati diri Peter yang lain, Ned (Jacob Batalon), dan perlengkapan canggih hasil kreasi Tony, Peter/Spider-Man berupaya membuktikan kepada sang mentor bahwa dirinya telah memenuhi kualifikasi untuk bergabung ke dalam Avengers dengan cara menghentikan rencana besar Adrian untuk mencuri senjata berteknologi tinggi dari pemerintah.


Hanya butuh tiga huruf untuk mendeskripsikan seperti apa Spider-Man: Homecoming, yakni F-U-N. Ya, sajian rekaan Jon Watts (Clown, Cop Car) ini sanggup memberikan sebuah pengalaman sinematik yang bukan saja mengasyikkan tetapi juga memuaskan sehingga mudah untuk menempatkannya di jajaran terdepan dari film terbaik Spider-Man – menurut saya, hanya kalah dari Spider-Man 2. Guyonan yang dilontarkannya berulang kali menciptakan derai-derai tawa, sementara rentetan sekuens laga yang dikedepankannya pun amat seru. Terhitung sedari adegan Spidey melawan gerombolan Adrian Toomes di dalam bilik ATM yang menghadirkan semangat pula canda tawa, setahap demi setahap Watts mulai meningkatkan level kegentingan yang dihadapi pahlawan kita bersama ini yang membuat perjalanan selama 132 menit berlangsung tanpa terdengar helaan nafas panjang tanda munculnya kejenuhan. Tercatat setidaknya ada tiga momen laga mendebarkan yang mencuri atensi saya secara penuh di Spider-Man: Homecoming. Pertama, ketika si manusia laba-laba mencoba untuk menyelamatkan rekan-rekan sekolahnya yang terjebak di dalam lift yang hendak terperosok. Kedua, penghormatan terhadap adegan kereta listrik dari Spider-Man 2 tatkala Spidey melawan Vulture – jelmaan Adrian – di kapal feri yang berujung pada terbelahnya kapal tersebut. Dan ketiga, konfrontasi akhir yang panas dan dipicu oleh ‘interogasi’ tak disangka-sangka. 

Segala bentuk gegap gempita penuh kesenangan tersebut bisa kamu jumpai dengan mudah sejak babak pembuka hingga penutup dalam Spider-Man: Homecoming yang penceritaannya dilantunkan menggunakan pendekatan film remaja 80-an bertemakan coming of age seperti milik mendiang John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller’s Day Off) ini. Satu hal yang saya sukai sekaligus kagumi dari film solo untuk para superhero yang tergabung dalam MCU adalah adanya sempalan genre lain dibalik tampilan luar yang sepintas lalu tampak seragam sebagai superhero movie yang semata berhura-hura. Lihat bagaimana mereka membentuk Captain America: Winter Soldier selaiknya tontonan spionase, lalu Guardians of the Galaxy menyerupai space opera dengan bumbu komedi nyentrik, dan Ant-Man yang kentara terasa dipengaruhi oleh heist movie. Dalam Spider-Man: Homecoming, keputusan untuk membawanya ke arah film remaja pencarian jati diri terbilang masuk akal karena pendekatan ini efektif dalam mengenalkan pula mendekatkan penonton kepada sosok Peter/Spidey melalui serangkaian konflik internal khas remaja kebanyakan (contoh memendam asmara pada gadis tercantik di sekolah, teralienasi dari pergaulan dan haus akan pengakuan) yang dihadapi Spidey sebagai anggota paling muda di Avengers. Kita bisa mendeteksi semangatnya yang kelewat meletup-letup, idealismenya yang acapkali kebablasan, kepolosan generasi muda yang belum tersentuh pahitnya dunia, sampai ketidakstabilan emosinya sehingga membuat keberadaan Tony Stark di sisinya pun sangat bisa dipahami. Lagipula, bukankah menyegarkan melihat sepak terjang superhero remaja yang masih labil setelah selama ini kita lebih sering menyaksikan aksi para superhero dewasa yang memahami benar apa motivasi mereka dalam bertempur? 

Tom Holland mampu menerjemahkan itu semua secara prima, termasuk ketengilan Spidey kala beraksi dan kekikukkan Peter dalam berinteraksi sosial. Meyakinkan. Apiknya performa Holland turut mendapat sokongan pula dari lini pendukung yang menghadirkan lakonan tak kalah apik; Michael Keaton adalah seorang villain yang mengintimidasi baik saat mengenakan kostum maupun tidak (tengok adegan di mobil!) serta manusiawi di saat bersamaan menilik motivasinya yang bukan semata-mata ingin menguasai dunia, Jacob Batalon adalah seorang sahabat kocak yang ingin kita miliki, Zendaya sebagai teman sekolah Peter adalah seorang perempuan dengan aura misterius yang ingin kita kenal, dan Marisa Tomei sebagai Bibi May adalah seorang bibi keren yang kita kagumi. Disamping mereka masih ada juga sumbangsih peran dari Jon Favreau, Robert Downey Jr., Tony Revolori, serta Chris Evans (dalam peran singkat yang bikin gemes!) yang membuat film kian memiliki cita rasa meriah. Meriah? Ya, memang demikian adanya Spider-Man: Homecoming seperti halnya kebanyakan film yang tergabung dalam MCU. Namun lebih dari itu, nada penceritaan sarat hingar bingar yang dipilih oleh Jon Watts sendiri merupakan sebentuk representasi untuk Peter/Spider beserta masa mudanya yang penuh gejolak. Masa mudanya yang mengasyikkan, seru, dan penuh warna lantaran mempunyai banyak kesempatan mengeksplor kekuatan baru tak terbayangkan sebelumnya. 

Note : Pastikan kamu bertahan hingga layar bioskop telah berubah sepenuhnya gelap. Ada dua adegan tambahan tatkala credit title bergulir yang berada di pertengahan dan penghujung.

Outstanding (4/5)


27 comments:

  1. Waduh. Banyak yang masih penasaran dengan Spidey baru rupanya. Dua hari ini ngeliat lobi bioskop selalu dipadeti penonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul tuh mas... antusiasme film ini emang bikin antrian meluber. Kalau di bandung sendiri malah pasang ampir sepuluh jadwal (dari jam 10 pagi) n 5 studio skaligus... untungny antrian cepet jd g tralu lama menunggu

      Delete
    2. Antusiasmenya gokil. Rame di semua studio dan semua jam tayang. Salah satu karakter superhero paling populer sih ya :)

      Delete
  2. Terimakasih mas Taufiq review nya yang hanya tiga huruf F-U-N, mudah-mudahan cepat-cepat bisa nonton nih.
    Gak ada bosennya emang ngikutin produksi MCU.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat menonton. Ditunggu komentarnya buat film ini yah :)

      Delete
  3. Wah padahal udah males duluan liat pemainnya gak ganteng, trus terlalu muda. Kenapa sih gak lanjut Andrew Garfield aja :(

    Gak nonton penasaran, mau nonton rasanya gak srek. Aduh bingung raisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...
      Awalnya saya juga ga minat
      Gara2 The Amazing Spiderman nya Andrew Garfield yang belom tuntas kok udah direboot lagi

      Tapi gara2 baca review banyak yang bilang bagus,
      Hamish Daud jadi pengen nonton dan ga bingung lagi...

      Delete
    2. Maklum, hak cipta pembuatan film Spider-Man balik lagi ke Marvel sih. Biar bisa nyatu ke timeline MCU ya mau nggak mau reboot. Dan omong-omong, Tom Holland malah lebih cocok buat jadi Peter/Spidey sih daripada Andrew Garfield :)

      Delete
  4. Jangan lupa, ada reuni pemain film 'Iron Man' di adegan akhir-akhir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes. Reuni kecil-kecilan yang berkesan :)

      Delete
  5. Udah nonton cuma kenapa saya masih belum bisa move on dri kang Tobey ya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Secara tampang sebenernya Tobey emang paling cocok sih buat jadi Peter. Cuma kalau untuk Spidey, lebih sreg Tom dan Andrew. Lebih ceriwis dan kocak.

      Delete
  6. Spidey fav sy ttp Andrew Garfield di Amazing 1... syng film yg ke 2 jeblok walaupun karisma AG tetap keren... untuk Homecoming lumayan.
    Poin plusnya Michael Keaton sbg Vulture keren abis
    Poin minusnya duelnya kurang seru, spidey jg terlalu ngandalin spidersuit pemberian Ironman. Tanpa itu dia kewalahan

    Marvel kentara banget membuat spidey sangat bergantung dgn Ironman. Mungkin tujuannya agar Sony berpikir 2x kalau mau menarik Spidey keluar dari MCU sbg mana rumor yg mengatakan spidey hanya dikontrak smpai Infinity War dan sekuel homecoming

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi di duel akhir, Spidey nggak ngandelin spidersuit untuk ngalahin Vulture lho. Mengandalkan alat di awal buatku lebih ke menjelaskan karakteristik Spidey yang masih hijau dan penekanan pada tema pencarian jati dirinya.

      Kalau menurutku (lagi), Spidey dibikin masih bocah dan tergantung dengan perlengkapan Tony karena: 1) memberi dinamika pada kisah Spidey dan film MCU nantinya (hey, superhero remaja!) dan 2) agar popularitasnya tak menerkam superhero lain dalam MCU yang telah terlebih dahulu bergabung. Maksudnya, agar Spidey tak lebih superior dibanding Iron Man atau Captain America yang sangat mungkin terjadi apabila Spidey dikisahkan telah stabil secara emosi. Itulah mengapa Tony dimanfaatkan sebagai mentor.

      Delete
    2. Emang sih di final duel dia gak ngandalin spidersuit pemberian Tony, tp efeknya Spider kalah dari Vulture, untung aja gak dibunuh.

      Delete
  7. Iiih aku jadi penasaran kan setelah baca reviewmu. Padahal tadinya bener-bener gak mau nonton. Jadi bingung kan sekarang.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Ayo ditonton, asyik banget lho filmnya.

      Delete
  8. Spiderman nya keren tapi sayang daya rusaknya nggak se boom Spiderman + Amazing Spiderman, dan spider suit baru yang muncul diakhir bener bener bikin aku + penonton sebelahku teriak "WOW", jadi pengen liat spiderguy pake baju itu haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga di Infinity War udah dipake yaa. Aku juga jadi penasaran pengen liat Spidey pakai kostum itu. Keliatan keren banget.

      Delete
  9. Baru aja keluar bioskop,, dan, WOW.. Sangat Sangat F. U. N nonton nya.. Tom yg tengil dan agak ceroboh,, lebih pas drpd Andrew Garfield. Terasa lbih nature krna wajah Tom yg teenage.
    Emg sih,, " kerusakan" akibat ulah villain nya gak sedahsyat Versi2 pendahulu nya.
    Zendaya yg misteriuss,, Damn,, i like her..
    Menurut ku,, film ini keren dan sangat layak buat diganjar outstanding..
    Cinetariz,, thanks review nya , bikin menggebu2 pingin nonton,, dan setelah nonton,, really really F. U. N.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kan? Asyik banget nontonnya. Apalagi settingnya dipindah ke SMA, pergolakan batin Peter lebih greget. Tom juga kerasa lebih pas sih buatku apalagi secara wajah dia emang agak-agak nerd (kalau Andrew terlalu ganteng).

      Delete
  10. ini film bagus bangat,, super hero kesayangan.. jgn ampe ngk nonton
    Dominoqq
    Domino99

    ReplyDelete
  11. Tapi menurut saya sisi aksinya gak sememukau seri pertama dan kedua spiderman apalagi melihat musuh nya yg terasa mudah kalah di ending...tapi saya suka humornya karena banyak yg berhasil meski ada juga yg miss sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau soal aksi sih, emang Spider-Man 2 masih yang terbaik. Itulah kenapa disini pun mereka ngasih homage ke seri kedua (dan pertama) :D

      Delete
    2. Iya berharapnya sekuel kedua nya bakal lebih punya banyak aksi seru lagi.
      Bdw disini gak di ceritakan ya asal muasal peter jadi spiderman.
      Kalau di seri pertama kan peter jadi spiderman pas udh kuliah apa gak berhubungan film ini dgn film spiderman pertama

      Delete
    3. Diceritain kok sewaktu Peter ngobrol sama Ned. Cuma adegannya emang nggak ditunjukkin karena udah dilakuin dua versi Spider-Man sebelumnya. Biar nggak pengulangan aja.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch