October 17, 2018

REVIEW : GOOSEBUMPS 2: HAUNTED HALLOWEEN


“Let me get this straight. We’re living a Goosebumps story right now?” 

Sebagai seorang bocah yang tumbuh besar ditemani rangkaian cerita seram Goosebumps rekaan R.L. Stine, saya tentu bahagia tatkala Sony Pictures mengumumkan rencana untuk memboyong Goosebumps ke format film layar lebar. Baru membayangkan para monster rekaan Stine berkeliaran di depan mata saja sudah bikin berjingkat-jingkat apalagi saat menontonnya di bioskop. Nostalgia masa kecil menyeruak! Dan untungnya, versi film panjang yang dilepas pada tahun 2015 silam ini tak mengecewakan dan terbilang mengasyikkan buat ditonton. Memenuhi segala pengharapan yang bisa disematkan untuk tontonan ini. Ada Slappy si boneka ventriloquist yang licik beserta konco-konconya sesama monster menebar teror yang cukup mengerikan bagi penonton cilik, ada petualangan seru dua remaja ditemani oleh Stine (diperankan oleh Jack Black) dalam upaya mereka menyelamatkan dunia dari cengkraman monster-fiktif-menjadi-nyata ini, dan tentunya, ada humor menggelitik yang menyertai. Narasinya yang menempatkan manuskrip Stine sebagai sumber mencuatnya petaka harus diakui cukup kreatif sehingga memungkinkan si pembuat film untuk mempertemukan penonton dengan karakter-karakter favorit dari berbagai judul yang sejatinya tak saling berkaitan. Syukurlah, upaya untuk mempertahankan legacy dari Goosebumps ini memperoleh sambutan hangat baik dari kritikus maupun penonton, jadi kehadiran sebuah sekuel pun tak terelakkan dan saya jelas sama sekali tak merasa keberatan. Saya malah ingin franchise ini terus berkembang! 

October 15, 2018

REVIEW : MENUNGGU PAGI


“Emang kalau udah putus masih bisa temenan, gitu?” 
“Semua cowok kan kayak gitu. Habis putus maunya musuhan. Lebih gampang buat kalian.” 

Dunia malam ibukota tak lagi asing bagi Teddy Soeriaatmadja. Dia pernah menempatkannya sebagai panggung utama untuk memfasilitasi berlangsungnya reuni dadakan antara seorang ayah dengan anak perempuannya dalam Lovely Man (2011), dan dia kembali memanfaatkannya melalui Something in the Way (2013) demi menonjolkan pergulatan hati si karakter utama yang dikisahkan taat beragama. Bagi Teddy, ada banyak cerita menarik yang bisa dikulik dari manusia-manusia kalong di Jakarta utamanya berkaitan dengan hal-hal tabu yang biasanya enggan diperbincangkan ketika cahaya matahari masih bersinar terang lantaran polisi moral bebas kelayapan. Teddy mengambil langkah berani di kedua film ini yang membenturkan moral agama dengan seks dalam upayanya untuk memaparkan realita bahwa nafsu syahwat tak tebang pilih dalam ‘berburu inang’. Mengingat topik pembicaraannya yang bernada sensitif, tidak mengherankan jika film-film tersebut lebih memusatkan peredarannya di ranah festival film yang cenderung merangkul perbedaan alih-alih bioskop komersial yang memberlakukan sensor. Berulang kali berkelana ke beragam festival film dunia – termasuk membawa About a Woman (2014) yang mengedepankan topik senada – Teddy akhirnya memutuskan untuk sedikit bermain aman demi mempertontonkan film terbarunya, Menunggu Pagi, pada khalayak lebih luas. Temanya masih berkutat dengan dunia malam, hanya saja sekali ini fokusnya adalah sekelompok remaja dan perbincangannya tak semuram, seberat, sekaligus sekontroversial dibandingkan trilogy of intimacy di atas. 

October 12, 2018

REVIEW : ASIH


“Aku mengenalnya sebagai Kuntilanak, kalian mengenalnya sebagai Asih.” 

Apakah kamu masih ingat dengan sesosok hantu perempuan yang meneror Risa Saraswati (Prilly Latuconsina) di Danur jilid pertama (2017)? Jika kamu lupa-lupa ingat – atau malah tidak tahu menahu – saya bantu menyegarkan ingatanmu. Dalam film tersebut, Risa berhadapan dengan sesosok perempuan bernama Asih (Shareefa Daanish) yang mulanya dianggap sebagai pengasuh biasa. Tak lama semenjak kehadiran Asih di sekitarnya, serentetan peristiwa ganjil mulai bermunculan satu demi satu hingga puncaknya Risa mesti menjelajah dunia astral demi menyelamatkan adiknya yang diculik oleh Asih. Kamu mungkin bertanya-tanya, siapa sih pengasuh gaib ini? Apa motif yang melatari tindakannya? Penonton telah diberi sekelumit masa lalunya yang tragis sebagai fallen woman. Dia hamil di luar nikah, dicampakkan oleh keluarga beserta tetangganya, lalu memutuskan untuk mengakhiri hidup di bawah pohon besar selepas membunuh bayinya. Penjelasan lebih lanjut mengenai kehidupannya sebelum berbadan dua tak dijabarkan seolah disimpan untuk mengisi materi bagi spin-off. Ya, disamping cerita induk, materi sumbernya turut mempunyai beberapa cerita cabang yang menyoroti kisah para hantu yang mewarnai hidup Risa termasuk Asih. Sebuah materi yang memungkinkan bagi MD Pictures untuk mengkreasi Danur universe dalam rangkaian film mereka sebagai bentuk ‘perlawanan’ bagi The Conjuring universe

October 8, 2018

REVIEW : VENOM


“Eyes, lungs, pancreas. So many snacks, so little time!” 

Rencana untuk membuatkan satu film tersendiri bagi salah satu musuh bebuyutan Spider-Man, Venom, sejatinya telah mengemuka sejak lama. Di era 1990-an, New Line Cinema pernah mencetuskan gagasan tersebut yang tak pernah mendapat tindak lanjut, dan memasuki era 2000-an, gagasan tersebut beralih ke Sony Pictures yang tergoda untuk menciptakan mesin pencetak uang baru mengandalkan nama Venom yang dikenalkan ke publik melalui Spider-Man 3 (2007). Tapi serentetan masalah dibalik cap dagang Spider-Man (meliputi perbedaan kreatif diikuti kegagalan The Amazing Spider-Man 2) memaksa pihak studio untuk meninjau ulang rencana ambisisus mereka. Terlebih, apakah publik sudah siap dalam menerima film yang mengetengahkan sepak terjang sesosok supervillain? Terus mengalami tarik ulur selama beberapa tahun, proyek ini akhirnya memperoleh kejelasan status di tahun 2016 usai Sony berinisiatif menciptakan Marvel Universe milik mereka sendiri tanpa bersinggungan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) sekalipun Spidey telah bersarang di sana – meski tidak menutup kemungkinan buat dipersatukan mengingat Sony kekeuh mempertahankan Venom dengan rating PG-13 demi bisa dipersatukan bersama MCU. Guna merealisasikan Venom yang sekali ini tak memiliki relasi dengan Spidey, Ruben Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) pun dipercaya untuk mengomandoi proyek, sementara Tom Hardy diserahi posisi pelakon utama yakni seorang jurnalis yang dijadikan inang oleh si simbiot bernama Eddie Brock. 

October 5, 2018

REVIEW : SOMETHING IN BETWEEN


“Bagaimana mungkin sesuatu yang tak pernah kita alami, bisa hadir senyata kenangan?” 

Sedari Screenplay Films melepas film pertamanya, Magic Hour (2015), saya nyaris tak pernah absen untuk menyaksikan persembahan terbaru mereka di bioskop. Padahal saya tahu betul ada harga yang harus dibayar mahal usai menonton film-film tersebut, yaitu migrain berkepanjangan. Selepas London Love Story 3 tempo hari yang (lagi-lagi) bikin barisan penonton remaja tersedu-sedu sementara diri ini hanya bisa merapalkan doa kepada Tuhan supaya diberi ketabahan, saya akhirnya memutuskan untuk rehat sejenak dari aktifitas menyiksa diri sendiri ini. Terlebih, dek Michelle Ziudith yang ratapan-ratapan mautnya menjadi salah satu alasan mengapa saya rela ‘disiksa’ tidak menampakkan diri di film berikutnya. Butuh menghela nafas, butuh liburan! Proses hibernasi yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya ini lantas diputuskan untuk berakhir setelah beberapa kawan membujuk rayu saya untuk menyimak Something in Between yang mempertemukan Jefri Nichol dengan Amanda Rawles untuk keenam kalinya. Tanpa membawa sedikitpun pengharapan (kecuali filmnya bakal ajaib), saya yang membutuhkan waktu selama sepekan untuk meyakinkan diri bahwa pengorbanan ini akan sepadan sama sekali tak menduga bahwa Something in Between ternyata bisa untuk dinikmati. Siapa yang menyangka, lho? Rasanya ingin menangis bahagia karena akhirnya ada film percintaan dari rumah produksi ini yang mendingan! 

September 29, 2018

REVIEW : JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN


“Let's kick some bottom!” 

Adakah diantara kalian yang merindukan sepak terjang Johnny English? Ada? Tidak? Atau malah tidak tahu siapa karakter ini? Well, jika kalian belum mengenalnya sama sekali, Johnny English adalah seorang agen rahasia asal Inggris yang tergabung dalam MI7. Jangan bayangkan dia mempunyai karisma bak James Bond atau kemampuan bertahan hidup seperti Jason Bourne, karena karakternya sendiri dibentuk sebagai parodi untuk spy movies. Penggambaran paling mendekati adalah Austin Powers dalam versi sama sekali tidak kompeten nan ceroboh, atau oh, Mr. Bean (jangan bilang kamu juga tak mengetahuinya!). Ya, Johnny English tak ubahnya Mr. Bean yang memutuskan untuk menjalani profesi sebagai mata-mata Inggris. Sang agen rahasia dideskripsikan sebagai karakter yang payah dalam hal apapun, tapi memiliki keberuntungan tingkat dewa sehingga pada akhirnya dunia selalu bisa diselamatkan. Kemiripan diantara keduanya sulit untuk dihindarkan mengingat karakter-karakter ini dimainkan oleh aktor yang sama, Rowan Atkinson, dengan gaya bercanda yang senada pula. Gaya bercanda khas Rowan Atkinson yang kerap bergantung pada mimik konyol, tingkah absurd, serta pemikiran ngasal itulah yang menjadi jualan utama rangkaian seri Johnny English yang kini telah membentang hingga tiga instalmen; Johnny English (2003), Johnny English Reborn (2011), dan Johnny English Strikes Again

September 28, 2018

REVIEW : ARUNA DAN LIDAHNYA


“Hati-hati jangan terlalu antipati. Nanti simpati, trus empati trus jatuh hati.” 

Disadur secara bebas dari novel berjudul sama rekaan Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya menyoroti perjalanan empat sekawan ke empat kota di Indonesia dalam misi menginvestigasi kasus flu burung dan pencarian makanan. Empat sekawan tersebut antara lain Aruna (Dian Sastrowardoyo), Farish (Oka Antara), Bono (Nicholas Saputra), dan Nad (Hannah Al Rashid). Mulanya, perjalanan ini diniatkan sebagai pelesiran untuk icip-icip makanan Nusantara semata oleh Aruna dan sahabat baiknya yang seorang koki, Bono, guna menindaklanjuti rencana kulineran yang terus tertunda. Tapi setelah Aruna yang menjalani profesi sebagai ahli wabah ditugaskan oleh atasannya untuk menyelidiki kasus flu burung di Surabaya, Pamekasan, Pontianak, beserta Singkawang, mereka pun seketika mengubah rencana. Bono mengikuti Aruna dalam perjalanan dinasnya, dan mereka akan berburu makanan khas daerah setempat usai Aruna menuntaskan pekerjaannya. Ditengah perjalanan ini, keduanya turut menyambut kehadiran Nad, kritikus makanan yang ditaksir Bono, dan Farish, mantan rekan kerja Aruna yang turut ditugaskan dalam investigasi ini. Keberadaan dua pendatang ini membuat perjalanan yang semestinya sederhana menjadi terasa rumit lantaran Aruna diam-diam menaruh hati kepada Farish. Aruna mengalami pergolakan batin tatkala hendak mengungkapkan cintanya lantaran dia mengetahui sang pujaan hati telah memiliki kekasih dan ditambah lagi, Nad terlihat seperti menaruh perasaan yang sama kepada Farish. 

September 27, 2018

REVIEW : MUNAFIK 2


“Kamu hanya menggunakan nama Tuhan untuk kepentingan serakahmu.” 

Menurut saya, Munafik (2016) adalah salah satu film horor Asia terbaik dalam satu dekade terakhir. Syamsul Yusof yang merangkap jabatan sebagai sutradara, penulis skrip, aktor, editor, sekaligus pengisi soundtrack ini mampu memberikan warna berbeda bagi sajian horor dengan mengombinasikannya bersama unsur keagamaan – atau dalam hal ini, Islam. Memang betul Munafik bukanlah film pertama yang menawarkan pendekatan tersebut (setumpuk film horor asal Malaysia dan Indonesia dari era terdahulu telah menerapkannya), tapi agama tak sebatas dipergunakan sebagai hiasan untuk mempercantik film di sini. Ada signifikansinya terhadap narasi yang mengkritisi kaum beragama dengan ketaatan palsu, ada pula signifikansinya pada permainan teror. Adegan si protagonis melakukan ruqyah (eksorsisme dalam Islam) terhadap seorang perempuan berhijab yang kerasukan iblis adalah momen paling dikenang di film ini, disamping adegan di lift dan bola mantul-mantul. Saya meringkuk ketakutan saat menontonnya (hei, si iblis bisa merapal ayat suci!), saya juga menyeka air mata tatkala sebuah kebenaran terungkap di ujung durasi. Lebih dari itu, Munafik menggugah keimanan dalam diri yang masih cethek ini dengan mempertanyakan, “apakah ibadahku selama ini telah sesuai dengan petunjuk Tuhan, dilandasi ketulusan dari lubuk hati terdalam, atau hanya keterpaksaan demi menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat?.” 

September 26, 2018

REVIEW : ALPHA


“Life is for the strong. It is earned, not given.”  

Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengenai awal mula terbentuknya persahabatan antara manusia dengan anjing? Seperti, apakah manusia di zaman purba telah memiliki keterikatan emosi dengan hewan berkaki empat ini, atau, apakah relasi unik tersebut baru terbentuk beberapa abad silam? Dokumentasi sejarah di belahan dunia manapun (sangat) mungkin tidak meliputi 'persahabatan pertama manusia dengan anjing' mengingat cakupan sumber terlampau luas dan signifikansinya pun kurang nyata, sehingga jika kamu pernah (atau masih) dibayangi oleh pertanyaan tersebut, berterimakasihlah kepada Tuhan karena telah menciptakan Hollywood. Ya, kamu bukanlah satu-satunya orang yang mempertanyakan tentang sejarah pertemanan lintas spesies ini karena Albert Hughes – bersama dengan saudara kembarnya, Allen Hughes, dia mengkreasi From Hell (2001) dan The Book of Eli (2010) – mengajukannya sebagai premis untuk film perdananya sebagai sutradara tunggal, yakni Alpha. Dijual sebagai “incredible story of how mankind discovered man's best friend,” Alpha mencoba memberikan jawaban mengenai asal muasal kisah persahabatan tersebut dengan melontarkan kita ke daratan Eropa di 20 ribu tahun silam atau era Paleolitik Hulu yang berlangsung pada detik-detik terakhir jelang berakhirnya zaman es. 

September 24, 2018

REVIEW : THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS


“There's a clock in the walls. You don't know what it does except something horrible.” 

Tidak pernah terbayangkan akan tiba masanya di saat Eli Roth dipercaya untuk mengomandoi sebuah film keluarga. Kalau kamu mengikuti rekam jejaknya, tentu mengetahui bahwa dia merupakan otak dibelakang Cabin Fever (2002) dan Hostel (2005) yang memperkenalkan kita dengan subgenre 'torture porn'. Sebuah genre turunan dari horor yang dipenuhi dengan visual mengganggu sarat darah, kekerasan dan penyiksaan. Sebuah genre yang jelas tidak ramah bagi penonton anak-anak. Bahkan, lantaran kekerasan telah menjadi signature style dalam film garapannya, nama Roth pun akhirnya identik dengan sadis sampai-sampai diri ini sulit membayangkan, “bagaimana ya jadinya kalau Roth tak bersentuhan dengan kekerasan?.” Menduga dia akan menjajal keluar dari zona nyaman dengan menggarap film drama atau komedi, siapa sangka jika kemudian dia justru direkrut oleh Amblin Entertainment kepunyaan Steven Spielberg untuk menggarap The House with a Clock in Its Walls yang notabene merangkul pasar keluarga? Terdengar menarik sekaligus aneh di waktu bersamaan, tentu saja, meski saya akhirnya bisa sedikit bisa memahaminya mengingat materi sumber film ini adalah sebuah novel anak berjudul sama rekaan John Bellairs yang mengambil jalur horror. 

September 22, 2018

REVIEW : BELOK KANAN BARCELONA


“His future is yours, but his past was mine. You can't change that.” 

(Ulasan di bawah ini agak nyerempet spoiler)

Kala berbincang dengan seorang kawan lama usai menonton sebuah film di bioskop, dia berkata, “aku ingin sekali menonton film ini,” seraya menunjuk ke poster Belok Kanan Barcelona. Alasan yang mendasari ketertarikannya pada judul tersebut ada dua: pertama, dia menyukai materi sumbernya yakni buku rekaan empat penulis (Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, Iman Hidajat) berjudul Travelers' Tale – Belok Kanan Barcelona (2007) yang dibacanya semasa kuliah, dan kedua, dia menggemari premis klasik mengenai “jatuh cinta pada sahabat”. Saya hanya bisa mengangguk-angguk lantaran belum pernah membaca novelnya sehingga gambaran mengenai apa yang bisa diantisipasi dari guliran penceritaannya masih kabur. Tapi saat materi promosi mulai diluncurkan satu demi satu, ada rasa penasaran yang menggelitik. Modifikasi premisnya yang mengupas tentang rencana mengutarakan rasa suka jelang pernikahan sahabat yang ditaksir melontarkan ingatan ke My Best Friend's Wedding (1997) dan Made of Honor (2008), dan saya juga kepincut lantaran Belok Kanan Barcelona mengambil jalur komedi romantis (satu jalur yang jarang ditempuh oleh film percintaan di tanah air) dengan bubuhan kisah berkelana ke berbagai negara yang secara otomatis menjanjikan pemandangan memanjakan mata. Ditambah lagi, salah satu film termahal produksi Starvision ini menampilkan jajaran pemain utama yang mempunyai jejak rekam mengesankan. Bagaimana bisa menolaknya? 

September 19, 2018

REVIEW : THE PREDATOR


“Gentleman, they're large. They're fast. And fucking you up is their idea of tourism.” 

Ada dua hal yang terbersit di pikiran tatkala seseorang menyebut film berjudul Predator. Pertama, makhluk asing berbadan tinggi besar yang tak segan-segan mengoyak tubuh manusia, dan kedua, Arnold Schwarzenegger. Mantan Gubernur California ini memang hanya mengambil peran di film pertama yang dirilis pada tahun 1987, tapi diantara jilid-jilid lain yang dilepas dalam cap dagang Predator seperti Predator 2 (1990) dan Predators (2010), bisa dibilang hanya judul pembuka yang layak untuk dikenang. Bahkan, ini tergolong salah satu film laga dari era 80-an yang semestinya tidak kamu lewatkan. Selebihnya? Boleh saja kamu pirsa selama ada waktu senggang. Menilik resepsi kurang antusias baik dari kritikus maupun penonton yang diperoleh oleh dua film kelanjutan – plus dua film pecahan yang mempertemukan si Predator dengan Alien dari franchise sebelah – agak mengherankan sebetulnya mendapati pihak 20th Century Fox masih kekeuh untuk menghidupkan jenama ini. Percobaan terbaru mereka dalam memperpanjang usia Predator di layar perak dilabeli The Predator dengan menyerahkan kursi penyutradaraan kepada Shane Black (Iron Man 3, The Nice Guys) yang rupa-rupanya turut berlakon di film pertama. 

September 15, 2018

REVIEW : GILA LU NDRO


“Masa alien namanya Alien juga. Terus dipanggilnya Al. Kenapa nggak sekalian aja Al El Dul. Jangan bilang sama aku kalau ibunya Alien itu Bunda Maia.” 

Pertama kali Falcon Pictures mengumumkan rencana pembuatan sebuah film komedi berjudul Gila Lu Ndro, saya mengira film ini adalah perpanjangan dari dwilogi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss yang menuai sukses besar di bioskop-bioskop tanah air. Atau dengan kata lain, sebuah film pecahan (spin-off). Dugaan ini bukannya tanpa alasan, mengingat “gila lu, Ndro!” merupakan salah satu jargon legendaris yang kerap dilontarkan dalam film-film Warkop DKI, lalu kedua pelakon Indro yakni Indro Warkop beserta Tora Sudiro didapuk sebagai pelakon utama, dan penggarapan film pecahan mulai mewabah di perfilman Indonesia. Jadi ya, saya sempat mengira Gila Lu Ndro bakal menempatkan fokus penceritaannya pada karakter Indro tatkala dia memisahkan diri dari dua sohib kentalnya, Dono dan Kasino. Yang kemudian tak disangka-sangka, materi narasi dari film arahan Herwin Novianto yang sebelumnya memberi kita dua film bagus; Tanah Surga Katanya (2012) dan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (2016), ternyata bukan bersinggungan dengan Warkop DKI dan justru mengambil jalur komedi satir dalam guliran pengisahannya. Indro Warkop dijelmakan sebagai makhluk angkasa luar yang turun ke bumi guna dimanfaatkan untuk mengkritisi kondisi sosial politik yang carut marut di negeri ini seperti halnya Aamir Khan dalam PK (2014).

September 12, 2018

REVIEW : CRAZY RICH ASIANS


“I'm not leaving because I'm scared or because I think I'm not enough, because maybe for the first time in my life I know I am. I just love Nick so much, I don't want him to lose his mom again.” 

Setidaknya ada tiga kali saya beruraian air mata selama menonton Crazy Rich Asians. Bukan, bukan disebabkan filmnya yang teramat mendayu-dayu atau merobek hati seperti Us and Them (2018) yang baru-baru ini saya tonton (damn that movie!), melainkan karena Crazy Rich Asians adalah sebuah film yang sangat indah. Saya tahu saya telah dibuat jatuh hati oleh film yang didasarkan pada novel laris berjudul sama rekaan Kevin Kwan ini sedari menit pertamanya yang menggebrak. Memberi kita sedikit banyak gambaran mengenai karakter-karakter seperti apa yang akan kita temui di sepanjang durasi. Rasa cinta yang telah tumbuh sejak dini ini semakin menguat, dan semakin menguat, seiring mengalunnya durasi. Meski saya memiliki 'obsesi' tersendiri terhadap film bergenre komedi romantis – jangan kaget, saya pun bisa menikmati yang dilabeli buruk – saya sejatinya menaruh sedikit pengharapan terhadap film Hollywood pertama berlatar dunia modern yang menempatkan pemain berdarah Asia sebagai pelakon utama sejak The Joy Luck Club (1993) ini. Dua faktor pemicunya adalah karya-karya sang sutradara, Jon M. Chu (Step Up 2, Justin Bieber: Never Say Never), acapkali hit-and-miss, dan premis yang diajukannya kurang menggugah selera mengingat pada dasarnya ini adalah interpretasi lain dari formula Cinderella story. Ekspektasi dan prasangka bahwa Crazy Rich Asians sebatas jualan mimpi babu secara perlahan tapi pasti mulai terbungkam tatkala film menguarkan pesona sekaligus jati dirinya yang sesungguhnya. I just can't help falling in love with this movie! 

September 6, 2018

REVIEW : THE NUN


“The abbey has a long history. Not all good.” 


(Ulasan ini nyerempet spoiler)

Apakah kamu masih ingat dengan sesosok iblis yang menampakkan wujudnya kepada manusia dalam rupa seperti halnya seorang biarawati bernama Valak? Rasa-rasanya, jika dirimu adalah penggemar berat cap dagang The Conjuring, sosok Valak cukup sulit untuk dienyahkan dari pikiran terlebih 'gaya berbusananya' tergolong khas (dan dia punya lagu dangdut, "kau seperti Valak..."). Kontribusinya terhadap narasi dalam franchise ini pun tak bisa dipandang sepele – berbeda dengan Annabelle yang cenderung pasif. Dia diketahui memiliki niatan jahat untuk menundukkan pasangan Warren yang acapkali menggagalkan rencana kawanan iblis untuk menguasai manusia-manusia berhati gelap, dan dia merupakan biang keladi dibalik peristiwa supranatural yang menyerang satu keluarga dalam The Conjuring 2 (2016). You don't want to mess with Valak! Jika ada yang kurang mengenai sosoknya, maka itu adalah latar belakangnya yang kurang dieksplorasi. Apakah ini memang disengaja sehingga dia berkesempatan memiliki filmnya sendiri yang difungsikan sebagai origin story? Pastinya begitu. Annabelle saja dibikinin film, Valak juga mestinya punya dong. Terlebih, para petinggi studio tentu tidak ingin mesin pencetak uangnya ini diberhentikan begitu saja. Itulah kenapa tidak membutuhkan waktu lama bagi James Wan bersama Peter Safran selaku otak dibalik kesuksesan semesta The Conjuring untuk mengkreasi The Nun yang menyoroti cerita masa lampau dari iblis berkedok biarawati ini sebelum kelayapan di Inggris. 

September 4, 2018

REVIEW : PETUALANGAN MENANGKAP PETIR


“Meraih mimpi itu harus ada yang dikorbankan.” 

Bikin film emang susah, bikin film emang capek, dan bikin film emang butuh perjuangan. Akan tetapi, bikin film juga seru, bikin film juga candu, dan bikin film juga ngangenin. Banyak pengalaman yang bisa dikenang selama proses pembuatan film. Saya merasakannya secara langsung untuk pertama kali ketika masih berstatus sebagai maba (mahasiswa baru) dan mengikuti sebuah unit kegiatan mahasiswa di universitas yang bersentuhan dengan dunia film. Sewaktu menjalani malam keakraban, anggota-anggota baru ditugaskan untuk menggarap film pendek dengan durasi berkisar 5-10 menit. Sekadar informasi kurang penting, kita butuh waktu selama 8 jam lebih untuk mengeksekusi film dengan durasi 5 menit. Itupun mengindahkan kontinuitas pada pengadeganan maupun plot lantaran tak dibekali skrip memadai serta hanya mengandalkan spontanitas. Pokoknya berlakon, sorot kamera, edit, jadi deh! Jangan ditanya hasil akhirnya seperti apa (bocoran: cenderung memalukan) karena tujuannya sekadar buat memberi pengalaman, berkenalan melalui kerja tim, sekaligus bersenang-senang. Tidak pernah ada niatan untuk membawanya berkelana ke festival film pendek atau mengomersilkannya melalui pemutaran-pemutaran. 

September 1, 2018

REVIEW : WIRO SABLENG PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212


“Seluruh ilmuku telah kupasrahkan padamu, Wiro. Kini saatnya kamu memasuki dunia luar, membawa garis-garis hidupmu sendiri.” 

Bagi sebagian penonton, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (untuk selanjutnya disebut Wiro Sableng 212 saja ya, biar nggak kepanjangan) akan membangkitkan kenangan ke masa lampau. Bagi mereka yang sempat merasakan euforia serial televisi tanah air di era 1990-an, pastinya langsung teringat pada versi sinetronnya yang memiliki lagu tema ikonis dengan penggalan lirik berbunyi, “siapa dia? Wiro Sableng. Sikapnya lucu, tingkahnya aneh, seperti orang yang kurang ingatan dan tak sadar.” Sedangkan bagi mereka dari generasi yang lebih sepuh, kenangan itu akan lebih melimpah karena turut bersumber dari sumber materinya, yakni cerita silat rekaan Bastian Tito yang memiliki 185 judul, beserta sejumlah film adaptasi layar lebarnya yang memang tak terdengar gaungnya di era sekarang. Menariknya, disamping berfungsi sebagai ajang nostalgia bagi penggemar lamanya, versi termutakhir dari Wiro Sableng 212 yang menampilkan putra si pengarang, Vino G. Bastian, sebagai si karakter tituler ini juga diniatkan untuk mengobati kerinduan penonton terhadap sajian silat yang telah lama raib dari perfilman Indonesia (terakhir adalah Pendekar Tongkat Emas (2014) yang sayangnya melempem) dan memberikan sajian hiburan berskala blockbuster yang jarang-jarang ada kepada khalayak ramai. Demi merealisasikan poin ketiga ini, rumah produksi Lifelike Pictures pun tidak segan-segan berkolaborasi dengan 20th Century Fox dibawah bendera Fox International Productions sehingga memungkinkan Wiro Sableng 212 untuk terhidang sebagai sajian kolosal dengan cita rasa megah nan mewah seperti yang diharapkan. 

August 30, 2018

REVIEW : SEARCHING


“I didn't know her. I didn't know my daughter.” 

Tanyakan kepada dirimu sendiri, seberapa jauhkah kamu mengenal keluargamu? Apakah kamu yakin telah mengenal mereka luar dalam sampai-sampai meyakini bahwa tidak ada rahasia tersembunyi diantara kalian? Apakah kamu yakin seseorang yang kamu temui saban hari sedari pertama kali mengenal dunia ini adalah seseorang yang sama saat keluar dari lingkungan keluarga? Sederet pertanyaan ini mungkin terdengar sedikit berlebihan bagimu karena semestinya (secara nalar) pihak yang paling memahami seluk beluk diri ini adalah keluarga, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, menilik fakta bahwa masyarakat modern memiliki kesibukan luar biasa dalam aktifitas di luar rumah dan kerapkali menganggap teknologi sebagai solusi bagi tereduksinya komunikasi intens secara langsung, mungkinkah kita benar-benar mengenal keluarga kita? Atau jangan-jangan ternyata selama ini kita tidak pernah mengenal siapa mereka yang sesungguhnya? Glek. Menyadari bahwa kemungkinan-kemungkinan tersebut sangat mungkin terjadi dewasa ini, sutradara pendatang baru Aneesh Chaganty pun memutuskan untuk memanfaatkannya sebagai fondasi bercerita bagi film perdananya yang bertajuk Searching. Di sini, Chaganty tak sebatas memberikan komentar sosial yang mengena perihal parenting beserta efek samping teknologi, tetapi juga menghadirkan sebuah gelaran thriller mendebarkan mengenai perjuangan seorang ayah dalam mencari putrinya yang mendadak raib tanpa jejak. 

August 28, 2018

REVIEW : MILE 22


“If you're chaos, I think I might be worse. I am a killer who looks like a hero.” 

Berdasarkan pengamatan saya, setidaknya ada dua faktor yang mendorong sebagian masyarakat Indonesia untuk rela berbondong-bondong memenuhi bioskop demi menyaksikan Mile 22. Bukan, bukan karena film ini menandai kolaborasi keempat antara Peter Berg selaku sutradara dengan Mark Wahlberg setelah Lone Survivor (2013), Deepwater Horizon (2016), dan Patriots Day (2016), yang kesemuanya mampu tersaji menegangkan sekaligus emosional tersebut. Mereka bersedia merogoh kocek serta menghabiskan waktu selama 90 menit di dalam bioskop karena: a) Mile 22 memiliki materi promosi menarik yang menjanjikan maraknya baku tembak di sepanjang durasinya, dan b) Untuk pertama kalinya Iko Uwais mendapat peran penting dalam film laga buatan Amerika Serikat berskala cukup besar setelah sebelumnya lebih sering berlakon di film low profile dengan jatah tampil seimprit. Disamping ketiga faktor di atas (Oh ya, saya juga tertarik dengan kolaborasi Berg-Wahlberg karena sejauh ini belum pernah mengecewakan), ada alasan lain yang membuat Mile 22 terlihat keren di atas kertas. Mile 22 mengusung jalinan pengisahan yang menempatkannya di jalur thriller spionase dan film turut merekrut atlet bela diri campuran, Ronda Rousey, untuk beradu akting dengan Iko yang dikenal jago pencak silat. Jika sudah begini, siapa bisa menolak pesona yang ditawarkan oleh Mile 22 

August 27, 2018

REVIEW : CHRISTOPHER ROBIN


“People say nothing is impossible, but I do nothing every day.” 

Jangan tertukar dengan Goodbye Christopher Robin (2017) rekaan Simon Curtis yang dibintangi oleh Domhnall Gleeson dan eneng Margot Robbie, Christopher Robin adalah adaptasi live action untuk rangkaian film animasi Winnie the Pooh keluaran Disney layaknya Maleficent (2014) atau Cinderella (2015). Guliran pengisahannya murni berpijak di area fantasi, alih-alih seperti film berjudul nyaris sama yang berkutat di area biopik dengan menyoroti kisah hidup si pencipta dongeng para penghuni Hundred Acre Wood, A.A. Milne. Dalam Christopher Robin (ingat, tanpa embel-embel kata Goodbye ya!), Marc Forster yang sebelumnya membesut film-film kece seperti Finding Neverland (2004) beserta Stranger than Fiction (2006) ini mengetengahkan pada ajang reuni antara si karakter tituler dengan teman-teman masa kecilnya, termasuk Pooh si beruang madu, usai berpisah puluhan tahun. Penonton tak semata-mata diajak bernostalgia dengan mengikuti petualangan polos Pooh beserta kawan-kawannya seperti dituangkan dalam film-film animasinya (terakhir kali mereka berkelana bersama pada tahun 2011 silam melalui Winnie the Pooh), melainkan turut diperdengarkan narasi dengan nada penceritaan yang lebih dewasa, kompleks, dan muram terkait krisis paruh baya. Sebuah pendekatan yang terbilang cukup berani mengingat film ini mengincar keluarga sebagai target utamanya – disamping para penggemar Pooh, tentu saja.  

August 24, 2018

REVIEW : SESAT


“Yang namanya setan itu, nggak ada yang gratisan.” 

Selama empat pekan berturut-turut di bulan Agustus ini, khalayak ramai yang bertandang ke bioskop ditawari tontonan memedi dengan kualitas beragam. Diawali oleh Kafir Bersekutu dengan Setan yang terbilang baik, lalu dilanjut Sebelum Iblis Menjemput yang ciamik, kemudian diteruskan oleh Gentayangan yang bikin kepala nyut-nyutan, parade film horor tanah air di bulan Agustus ini diakhiri dengan Sesat produksi Rapi Films (penghasil Pengabdi Setan). Tidak seperti dua film pertama – lebih mendekati ke film pekan lalu – Sesat kurang terlihat menggiurkan apabila hanya berpatokan pada materi promonya. Generik adalah kesan pertama yang diperoleh usai menengok trailernya. Jika ada yang menarik perhatian saya sehingga kekeuh untuk tetap mencicipi Sesat di layar lebar adalah jejak rekam sang sutradara, Sammaria Simanjuntak. Dia adalah sosok dibalik keberhasilan dua film indie, Cin(t)a (2009) dan Demi Ucok (2013), yang bolak-balik ke berbagai panggung penghargaan film. Menengok apa yang telah diperbuatnya untuk dua film tersebut, saya tak memiliki keraguan bahwa Sammaria bisa mengkreasi film bagus. Yang kemudian menggelitik keingintahuan saya ketika hendak menonton Sesat adalah sejauh mana kapabilitasnya dalam menggarap film horor yang jelas bukan berada di zona nyamannya. Akankah dia mampu menangani tantangan ini sebaik film drama atau justru menghadapkannya pada kesulitan besar?

August 20, 2018

REVIEW : ROMPIS


“Rindu itu sunyi, tak perlu ada bunyi.” 

Saya bukanlah penonton setia sinetron remaja berjudul Roman Picisan the Series yang mengudara di RCTI pada tahun 2017 silam dan sempat ngehits di kalangan anak muda usia belasan. Tidak bermaksud untuk congkak, hanya saja bagi saya serial yang disadur dari film berjudul sama dari era 1980-an dengan bintang Rano Karno beserta Lidya Kandou ini tak ubahnya sinetron kebanyakan dengan penceritaan yang bikin kepala pusing. Mencoba untuk menjajalnya di salah satu episode, bendera putih seketika saya kibarkan dan tak ada niatan sedikitpun untuk menjajalnya kembali. Maka begitu kisah kelanjutannya dibuat dalam format film layar lebar dengan judul Rompis (Roman Picisan), hati ini tak tergerak buat menyantapnya. Alasannya sederhana; diri ini tak pernah terikat dengan kisah asmara dua karakter utamanya, lantas mengapa saya mesti bergegas untuk mencari tahu apa yang akan terjadi kepada mereka? Nyaris memutuskan untuk melewatkannya saja, niatan seketika berubah ketika satu dua kawan membujuk rayu saya dengan berkata singkat, “filmnya unyu lho.” Sebagai pecandu film unyu, saya jelas termakan oleh bujukan tersebut sehingga saya memilih untuk menyaksikan Rompis di bioskop. Tanpa membawa ekspektasi macam-macam kala hendak ke bioskop, hati ini jelas bungah begitu mendapati bahwa Rompis memang seunyu (dan semenyenangkan) itu. 

August 19, 2018

REVIEW : DOA - DOYOK OTOY ALI ONCOM: CARI JODOH


“Jangankan bini, pacar aja lo belum punya.” 
“Gosipnya, lo kaga suka perempuan.” 
“Samber gledek. Aku ini pemilih.” 
“Pemilih yang kagak dipilih orang ya kagak jadi apa-apa juga.” 

Generasi muda jaman now, mungkin baru mengenal karakter tiga serangkai; Doyok, Otoy, dan Ali Oncom dari serial animasi bertajuk DOA (akronim dari tiga nama karakter utamanya) yang tayang di MNCTV sejak beberapa bulan silam. Tapi bagi generasi yang lebih sepuh, mereka bertiga telah dikenal sedari dipublikasikan secara terpisah dalam kolom Lembergar (Lembaran Bergambar) di harian Pos Kota. Karakteristik ketiganya yang merepresentasikan sebagian warga ibukota negara, bisa disederhanakan sebagai berikut; Doyok adalah perantau dari Jawa dengan pemikiran kritis serta hobi nyinyir, Otoy yang berasal dari Sunda kerap menjadi sasaran bulan-bulanan mertuanya yang galak, dan Ali Oncom yang anak Betawi asli seringkali berangan-angan memiliki segudang uang. Meski tak berada di satu jalur pengisahan dalam komik stripnya, mereka lantas dipertemukan satu sama lain di serial animasi DOA yang kemudian berlanjut diejawantahkan ke versi live action dengan judul DOA (Doyok, Otoy, Ali Oncom): Cari Jodoh. Seperti tertera dalam subjudulnya, film yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Comic 8, Insya Allah Sah! 2) ini menyoroti tentang sepak terjang ketiga karakter tituler dalam misi pencarian jodoh untuk Doyok (Fedi Nuril) yang masih betah melajang di usia memasuki kepala empat. 

August 18, 2018

REVIEW : ALONG WITH THE GODS: THE LAST 49 DAYS


“No humans are innately bad, there are only bad circumstances.” 


Dirilis di bioskop tanah air pada permulaan tahun ini, Along with the Gods: The Two Worlds yang disadur dari webtoon rekaan Joo Ho-min mampu membuat saya terkesima. Tanpa perlu mengerahkan seluruh tenaga untuk menceramahi penonton disana sini seperti sebagian besar film reliji buatan dalam negeri, The Two Worlds sanggup mendorong saya untuk buru-buru bertobat usai mengikuti perjalanan si protagonis dalam mengikuti persidangan di akhirat yang mengingatkan kita bahwa dosa sekecil apapun nantinya akan dipertanggungjawabkan. Glek! Dalam perjalanan tersebut, Kim Yong-hwa (200 Pounds Beauty, Take Off) selaku sutradara menunjukkan kreativitasnya dalam memvisualisasikan alam baka – terdapat kategorisasi neraka – dan kapabilitasnya dalam mengaduk-aduk emosi melalui narasi sederhana yang memperbincangkan tentang pengorbanan, karma, serta moralitas. Perjalanan ini memang menjumpai akhir bagi protagonis kita yang lantas mendapat label suri tauladan (Paragon) secara resmi, tapi si pembuat film tidak memberhentikan narasi hanya sampai di sana. Lewat babak kedua yang diberi subjudul The Last 49 Days, pengadilan akhirat dialihkan ke karakter si adik protagonis yang menjelma menjadi roh pendendam dan masa lalu dari ketiga malaikat kematian akhirnya dijlentrehkan. 

August 16, 2018

REVIEW : THE EQUALIZER 2


“We all got to pay for our sins.” 

Sepintas lalu, Robert McCall (Denzel Washington) tampak seperti pria paruh baya yang mencintai kedamaian. Jangankan beradu argumen dengan seseorang yang memiliki perspektif bertentangan dengannya, untuk sebatas membunuh seekor nyamuk yang berlalu lalang mengganggu tidurnya di malam hari saja, dia sepertinya enggan melakukannya. Ya, McCall terlihat sangat normal, sangat baik hati, dan sangat bijaksana. Orang-orang di sekitarnya merasa segan kepadanya karena dia menunjukkan wibawa dari seorang pria terhormat, bukan karena dia memiliki tatapan atau tendangan yang mematikan. Di jilid perdana The Equalizer yang didasarkan pada serial televisi berjudul sama dari era 1980-an, McCall tak ubahnya rekan kerja yang bijaksana dan bukan penggemar intrik kantor. Dalam The Equalizer 2 yang masih ditangani oleh Antoine Fuqua (Training Day, The Magnificent Seven), dia bertransformasi menjadi seorang pengemudi taksi online yang berkenan meminjamkan telinganya untuk mendengar keluh kesah penumpangnya sekaligus seorang tetangga yang ramah dan bersedia mengulurkan bantuan bagi siapapun yang membutuhkan. Jika berpatokan pada pembawaan serta penampilannya yang cenderung santun ini, siapa sih bisa mengira bahwa McCall dibekali pelatihan dan kemampuan mumpuni untuk membekuk lawannya dalam satu kali percobaan? 

August 13, 2018

REVIEW : SLENDER MAN


“He gets in your head like a virus. Some he takes, some he drives mad. Once you see him, you can't unsee him.” 

Dua hari silam selepas menonton Slender Man, saya berbincang dengan kekasih melalui telepon genggam. Saat saya mengatakan bahwa ini adalah film horor, terdengar nada terkaget-kaget dari ujung telepon. “Hah, ini film horor? Saya kira film superhero lho karena ada 'man-man'-nya,” begitu kata doi. Awalnya sih diri ini hanya bisa terkekeh mendengar kepolosannya, tapi kemudian tak berselang lama saya tersadar, siapa ya yang sekarang masih mengingat (atau setidaknya mengetahui) mengenai sosok Slender Man di Indonesia? Rasa-rasanya, kecuali mereka memang menaruh minat pada cerita supranatural dan gemar berselancar di dunia maya sedari satu dekade lalu, tidak banyak yang akrab dengan makhluk gaib fiktif rekaan Eric Knudsen ini. Ketenaran dari sosok yang dideskripsikan memiliki tubuh amat ramping, tanpa wajah, dan mengenakan jas ini sendiri dimulai usai sang kreator memenangkan kompetisi Something Awful. Penggambaran beserta mitologinya yang creepy (konon, dia mempunyai kebiasaan menculik anak kecil serta memburu siapapun yang mencari tahu tentang latar belakangnya!) membuatnya kerap diperbincangkan di internet sampai-sampai menginspirasi tercetusnya web series, permainan video, sampai upaya pembunuhan dari dua bocah berusia 12 tahun yang menggegerkan seantero Amerika di tahun 2014 silam. 

August 10, 2018

REVIEW : SEBELUM IBLIS MENJEMPUT


“Ada sesuatu di rumah ini. Sesuatu yang menunggu kita.” 

Melalui Pengabdi Setan (2017), Joko Anwar telah menetapkan standar baru bagi film horor Indonesia. Sebuah standar cukup tinggi yang menyebabkan puluhan film dari genre sejenis yang rilis selepasnya terlihat cemen lantaran kewalahan untuk merengkuhnya. Memang ada beberapa yang cukup mendekati, seperti Mereka yang Tak Terlihat, Mata Batin, sampai Kafir Bersekutu dengan Setan, tapi lebih banyak yang berakhir dengan kegagalan sekalipun telah mati-matian mengekor. Untuk sesaat, saya sempat skeptis dengan masa depan film horor tanah air yang kembali menunjukkan gelagat jalan di tempat. Akan tetapi, setelah satu demi satu kontender untuk menaklukkan kedigdayaan 'filmnya Ibu' bertumbangan dengan mudah, muncul secercah harapan tatakala Timo Tjahjanto yang memiliki afeksi sama tinggi terhadap tontonan seram seperti halnya Joko menjajal peruntungannya melalui Sebelum Iblis Menjemput. Apabila kamu telah menyaksikan kinerja Timo dalam mengkreasi tontonan seram lewat Rumah Dara (2009), L is for Libido (2012) maupun Safe Haven (2013) yang permainan visualnya sungguh sinting itu, tentu tidak memiliki keraguan terhadap Sebelum Iblis Menjemput. Dan memang, Timo tak mengkhianati kepercayaan mereka yang menaruh kepercayaan kepadanya karena film teranyarnya ini bersedia untuk mengelaborasi kata 'gila' kepada para penonton. 

August 9, 2018

REVIEW : THE MEG


“Men versus Meg is not a fight, it's slaughter.” 

Bagi pemburu tontonan eskapisme, film terbaru yang dibintangi oleh Jason Statham, The Meg, terlihat memenuhi segala kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi sajian penghempas beban pikiran. Betapa tidak, film ini mengedepankan Jason Statham yang notabene aktor laga seru-seruan di jajaran pemain utama, sederet promonya menjual The Meg sebagai perpaduan antara Jaws (1975) yang legendaris itu dengan Deep Blue Sea (1999) yang seru itu, dan premisnya menjanjikan kita sebuah pertarungan tak terlupakan antara manusia dengan hiu purbakala yang amit-amit gedenya. Sederet kombinasi yang tampaknya tak mungkin salah apabila ekspektasi kita dalam menyaksikannya di layar lebar telah diatur secara tepat, yakni memperoleh tontonan seru pengisi waktu senggang yang tidak memerlukan kinerja otak dan mempersilahkan para penontonnya untuk bernyaman-nyaman di kursi bioskop seraya mencemil berondong jagung. Saya pun memboyong ekspektasi senada ke gedung bioskop – bahkan jauh di dalam lubuk hati berharap film ini akan sereceh Sharknado (2013) – yang sayangnya itupun sulit dipenuhi oleh The Meg yang terasa kurang bergigi untuk ukuran sebuah film mengenai teror hiu ganas.

August 7, 2018

REVIEW : DETECTIVE CONAN: ZERO THE ENFORCER


“You get really serious when it comes to Mori Kogoro, don't you? Or rather, is it for Ran?” 

Ada ketidakpuasan yang menggelayuti diri pasca menonton seri kedua puluh satu dari versi layar lebar Detective Conan, Crimson Love Letter (2017). Penyebabnya, permainan Karuta (kartu bergambar khas Jepang) yang menjadi fondasi utama untuk kasus di instalmen ini hanya bisa dipahami daya tariknya oleh masyarakat Jepang beserta mereka yang menaruh perhatian khusus terhadap budaya Jepang. Diluar kelompok tersebut, ada kemungkinan terserang kejenuhan maupun kebingungan selama menontonnya. Sungguh disayangkan, mengingat beberapa seri terakhir dalam rangkaian film Detective Conan terus mengalami eskalasi dari sisi kasus yang semakin lama semakin mencengkram terlebih saat Conan Edogawa dihadapkan pada musuh bebuyutannya: Organisasi Jubah Hitam. Selepas tersandung di Crimson Love Letter yang membuat saya bolak-balik menguap seraya melirik ke jam tangan tersebut, cap dagang ini akhirnya kembali mengasyikkan buat diikuti dalam jilid kedua puluh dua yang menggunakan subjudul Zero the Enforcer. Menghembuskan isu berkenaan dengan terorisme, konspirasi politik, sampai kejahatan siber, Zero the Enforcer tak saja sanggup merebut atensi sedari awal berkat narasinya yang menggugah selera tetapi juga mampu berdiri tegak di jajaran instalmen terbaik dalam rangkaian film Detective Conan

August 5, 2018

REVIEW : KAFIR BERSEKUTU DENGAN SETAN


“Kamu tahu, kalau orang meninggal belum 40 hari, arwahnya masih ada di sini.” 

Ketika pertama kali mengetahui proyek film horor berikutnya dari Starvision berjudul Kafir, dahi ini mengernyit secara otomatis. Yang melintas di pikiran saat itu adalah film berjudul sama (dari rumah produksi sama) rilisan tahun 2002 yang dibintangi oleh Sudjiwo Tedjo dan Meriam Bellina. Secara finansial, film tersebut memang beroleh untung. Akan tetapi, jika kamu pernah menontonnya, rasa-rasanya kita sepaham bahwa Kafir ini mempunyai kualitas penggarapan yang, errr... buruk. Maka begitu mendengar keberadaan film bertajuk Kafir Bersekutu dengan Setan yang ndilalah dibintangi juga oleh Sudjiwo Tedjo, saya kebingungan. Apakah ini berwujud remake, prekuel, atau sekuel? Usai beberapa materi promo dilepas, hingga akhirnya menyaksikan sendiri film ini di layar lebar, saya bisa menyimpulkan bahwa letak persamaan dari dua film ini hanya sebatas pada judul, rumah produksi, serta peran yang dimainkan oleh Presiden Jancukers. Tidak pernah lebih. Malah, Kafir Bersekutu dengan Setan yang diarahkan oleh Kinoi Azhar Lubis (Jokowi, Surat Cinta Untuk Kartini) ini mencoba bereksperimen dengan menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan film-film horor lokal pada umumnya yang menjunjung tinggi penampakan hantu berlebih dan skoring musik berisik. Sebuah eksperimen yang layak diapresiasi, meski tak sepenuhnya berhasil.  

August 4, 2018

REVIEW : SI DOEL THE MOVIE


“Selama ini Bang Doel juga selalu nyariin Sarah. Kan Bang Doel nggak bisa ngelupain Sarah. Bang Doel tu masih cinta sama Sarah.” 

Anak Betawi ketinggalan zaman, katenye... 
Anak Betawi nggak berbudaye, katenye... 

Apa kamu familiar dengan penggalan lirik di atas? Jika kamu pernah merasakan gegap gempita era 1990-an, rasa-rasanya mustahil tidak mengenali lirik dari lagu tema untuk salah satu sinetron legendaris Indonesia, Si Doel Anak Sekolahan. Mengudara pertama kali di kanal televisi RCTI pada tahun 1994, sinetron ini menjadi buah bibir pada masanya dan dikategorikan sebagai acara wajib tonton. Jika kamu tidak tahu menahu mengenai sinetron ini, jangan bayangkan formula yang diterapkannya menyerupai sinetron zaman sekarang yang tayang saban hari dengan plot yang bikin darah mendidih. Si Doel Anak Sekolahan hanya tayang setidaknya sekali seminggu dan narasi yang ditawarkannya pun membumi. Dekat dengan realita. Ini salah satu alasan yang membawanya ke puncak popularitas, disamping memiliki penulisan karakter yang kuat. Siapa sih yang bisa melupakan Doel, Sarah, Zaenab, Babe, Mak Nyak, Mandra, Atun, Engkong, sampai Mas Karyo? Hingga bertahun-tahun setelah sinetron ini resmi rampung pada tahun 2006, nama-nama tersebut masih terus dikenang dan melekat di ingatan. Itulah mengapa saat tren sekuel atau remake untuk film legendaris mengemuka di perfilman Indonesia, mencuat pengharapan dalam diri ini untuk melihat mereka kembali berlakon sekalipun sudah tidak dalam formasi utuh (beberapa pemain inti telah meninggal dunia). Terlebih, kisah cinta segitiga Doel-Sarah-Zaenab sejatinya belum menjumpai titik terang sehingga sang kreator, Rano Karno, masih memiliki materi mencukupi untuk dikembangkan lebih lanjut. 

August 3, 2018

REVIEW : BROTHER OF THE YEAR


“I can really make Jane break up with you.” 

Selepas menyuguhkan kita dengan sebuah tontonan high-concept yang mengusung genre heist thriller dalam Bad Genius, rumah produksi terkemuka di perfilman Thailand, GDH 559, mencoba kembali ke akarnya di tahun 2018 ini melalui Brother of the Year arahan Witthaya Thongyooyong (My Girl, 4Bia) yang bermain-main di ranah drama komedi sederhana. Tak seperti beberapa judul terdahulu lepasan GDH 559 yang kerapkali mengapungkan tema percintaan atau persahabatan, Brother of the Year – sesuai dengan judulnya – mencoba mengulik tentang persaudaraan atau lebih spesifik lagi, persaingan antar saudara (dalam hal ini kakak adik kandung). Sebuah konflik internal yang entah disadari atau tidak rasa-rasanya pernah dialami oleh siapapun yang memiliki kakak atau adik. Sebuah konflik yang sulit terhindarkan tatkala sang kakak/adik mempunyai keunggulan dalam prestasi, keunggulan dalam penghasilan, sampai keunggulan dalam asmara, sehingga memunculkan pernyataan bernada nyelekit dari orang tua seperti “tuh, kakak atau adikmu saja bisa, masa kamu tidak sih?.” Beranjak dari pengalaman pahit yang sangat mungkin dirasakan sebagian orang ini, Brother of the Year pun mengajukan premis relevan yang berbunyi; bagaimana jika kakak atau adikmu yang jauh dari kata 'ideal' merusak kehidupanmu yang telah kamu anggap 'sempurna'? 

July 30, 2018

REVIEW : TEEN TITANS GO! TO THE MOVIES


“The friendship will always bring us back.” 

Sekitar satu dekade lalu, siapa sih yang menyangka tokoh pahlawan kurang populer seperti Guardians of the Galaxy, Doctor Strange atau Ant-Man dari Marvel Comics bisa membawa penonton berduyun-duyun ke bioskop? Jangankan membayangkan laris, membayangkan judul-judul tersebut diboyong ke layar lebar saja nyaris tak terbersit di pikiran. Saya bahkan tak familiar dengan mereka sebelum diperkenalkan kembali melalui medium film. Berkat menjulangnya popularitas film superhero seperti sekarang ini, superhero manapun berkesempatan besar untuk memiliki filmnya sendiri. Marvel telah melakukannya berulang kali sedari semesta filmnya terbentuk, sementara DC Comics masih berkutat dengan nama-nama populer seperti Batman, Superman, hingga Wonder Woman. Belum berani menempuh gebrakan signifikan pada divisi live action, DC menjajalnya via divisi animasi. Upaya mereka memperkenalkan ‘pahlawan kecilnya’ kepada khalayak ramai ditempuh dalam film bertajuk Teen Titans Go! To the Movies yang disadur dari serial animasi populer dengan judul senada yang ditayangkan di kanal Cartoon Network. Di sini, penonton dipertemukan dengan kelompok superhero bernama Teen Titans yang pertama kali nongol di seri ke 54 dari komik The Brave and the Bold yang diluncurkan pada tahun 1964. 

July 26, 2018

REVIEW : MISSION IMPOSSIBLE - FALLOUT


“There cannot be peace without first a great suffering. The greater the suffering, the greater the peace. The end you've always feared is coming and the blood will be on your hands.” 

I have a good news for you. Ladies and gentleman, Ethan Hunt is back! 

Usai rencana Ethan Hunt untuk menjalani hidup tenang digagalkan sedemikian rupa oleh seorang antagonis di Mission: Impossible III (2006) lalu disempurnakan oleh ‘kematian’ sang istri seperti dikonfirmasi dalam Mission: Impossible Ghost Protocol (2011), Ethan Hunt seolah tidak lagi memiliki alasan kuat untuk mengundurkan diri dari IMF dan menghabiskan masa senjanya dengan bersantai-santai di pantai. Terlebih, ada dorongan besar dari pihak studio pemilik cap dagang Mission: Impossible untuk terus menerjunkannya ke lapangan demi menuntaskan misi-misi mustahil lantaran resepsi yang diterima dari penonton maupun kritikus semakin menghangat dari seri ke serinya. Tom Cruise selaku bintang utama – menjabat pula sebagai produser – pun tidak keberatan untuk direkrut kembali, bahkan dia terus menawarkan diri melakoni rentetan sekuens laga berbahaya di beberapa seri terakhir tanpa bantuan pemeran pengganti. Mudahnya, selama masih ada yang bisa dieksplorasi dan masih ada yang bisa dijual baik dari segi narasi maupun gelaran laga, kenapa harus berhenti? Itulah kenapa setelah kekacauan masif di Rogue Nation (2015) yang menyebabkan ‘rumah’ jagoan utama kita, IMF, terancam gulung tikar, misi lainnya telah dipersiapkan oleh Christopher McQuarrie yang kembali menempati kursi penyutradaraan untuk Ethan Hunt dan tim di Fallout 

July 23, 2018

REVIEW : MAMMA MIA! HERE WE GO AGAIN


“I don’t know what my future holds, but the world is wide and I want to make some memories.” 

Kapan terakhir kali kamu merasa bahagia selepas menyaksikan sebuah film di bioskop? Kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, atau sudah terlalu lama sampai tak sanggup untuk mengingatnya dengan jelas? Bagi saya, pengalaman membahagiakan tersebut baru saja terjadi dua hari silam seusai memutuskan untuk menebus tiket Mamma Mia! Here We Go Again arahan Ol Parker (Imagine Me & You, Now Is Good). Saya sendiri memang cukup menikmati instalmen pertamanya yang dirilis pada tahun 2008 silam – sekalipun noraknya kebangetan – karena bagaimanapun juga menyaksikan sebuah film musikal yang materi ceritanya disusun berdasarkan pustaka lagu keluaran grup musik populer asal Swedia, ABBA, tetaplah menyenangkan. Maka begitu jilid keduanya dilepas dengan jajaran pemain yang masih sama (plus beberapa wajah baru), tidak ada alasan untuk melewatkannya begitu saja. Kala akhirnya duduk manis di dalam gedung bioskop demi menyaksikan Mamma Mia! Here We Go Again, ekspektasi yang saya tanamkan tidaklah muluk-muluk. Asalkan bisa dibuat berdendang dan bergoyang mengikuti irama lagu-lagu nostalgia dari ABBA di sepanjang durasi seperti jilid pendahulunya, saya sudah puas. Tapi kemudian menit demi menit bergulir yang perlahan tapi pasti menyadarkan diri ini: hey, ini lebih baik dari film pertamanya! Yang saya maksud lebih baik disini tidak hanya pada sektor narasi, tetapi juga pengemasan yang membuat setiap momen musikalnya terasa lebih meriah ketimbang seri pendahulunya. What a surprise, huh?... or not

July 22, 2018

REVIEW : 22 MENIT


“Angkasa, monitor, angkasa, monitor, telah terjadi ledakan dan kontak senjata.” 

Pada 14 Januari 2016 silam – tatkala masyarakat ibukota tengah disibukkan oleh rutinitas harian – Jakarta mendadak diguncang oleh serentetan ledakan bom di kawasan Thamrin. Satu bom meringsekan pos polisi, bom lainnya mengoyak kedai Starbucks yang berada di Sarinah. Imbas dari tragedi ini, delapan orang dinyatakan tewas dengan perincian empat warga sipil dan empat pelaku penyerangan. Pihak kepolisian lantas bergegas menurunkan personilnya untuk melumpuhkan para teroris yang belakangan diketahui berasal dari kelompok Bahrun Naim dan terafiliasi secara langsung dengan ISIS. Yang tak banyak diketahui oleh khalayak ramai, Polri hanya membutuhkan waktu kurang lebih 22 menit untuk meringkus para pelaku. Fakta kecil ini dibeberkan oleh duo sutradara Eugene Panji (Cita-Citaku Setinggi Tanah, Naura dan Genk Juara) dan Myrna Paramita dalam film garapan mereka bertajuk 22 Menit yang terinspirasi dari peristiwa pengeboman tersebut. Mendapat sokongan penuh dari Polri selama menjalani masa riset dan tahapan produksi ini, film bertipe PSA (public service announcement) ini tak saja mencoba menghadirkan tontonan untuk menggugah rasa kemanusiaan tetapi juga diniatkan untuk mengapresiasi kinerja cekatan polri dan membangun kesadaran publik terhadap pertumbuhan kelompok terorisme yang kian masif di negeri ini. 

July 20, 2018

REVIEW : BUFFALO BOYS


“Balas dendam mungkin adalah hak. Tapi pengampunan akan membuat batinmu lebih kuat.” 

Apabila ada penghargaan untuk ‘trailer film paling keren’, Buffalo Boys mestinya mendapatkan penghargaan tersebut. Betapa tidak, dalam tempo waktu sepanjang 2,5 menit, tim penyusun trailer mampu menyusun secara rapi rentetan money shots yang dipunyai oleh film garapan Mike Wiluan (produser Rumah Dara dan Headshot) tersebut diiringi dengan musik menggebu-nggebu sehingga menghasilkan trailer yang amat menjual. Disamping pengemasan, ada satu hal yang menarik perhatian dari trailer ini: tampilan yang memberi kesan bahwa Buffalo Boys bukanlah film produksi Indonesia. Ada yang bilang mirip film Hollywood, tapi bagi saya lebih mirip ke film Asia berbujet besar dengan skala produksi internasional (dan kenyataannya, memang seperti itulah Buffalo Boys). Apapun pendapatmu, rasanya kita sama-sama sepakat kalau trailer ini mengundang ketertarikan untuk menontonnya secara seketika bahkan sempat membuat saya mengucap, “nyoh, nyoh, ini lho duitku! Aku rela kamu ambil, nyoh nyoh!,” selepas menengok trailernya. Tak bisa dibendung, ada ekspektasi menjulang yang tercipta dari sini. Lebih-lebih, Buffalo Boys menghembuskan nafas baru bagi perfilman Indonesia dengan menghadirkan tontonan laga berbumbu sejarah tanah air di era kolonial menggunakan pendekatan bak western film. Sebuah tontonan yang tentunya jarang-jarang bisa ditemui di perfilman yang lebih gemar mengkreasi “tontonan murah meriah” ketimbang genre movies yang membutuhkan ongkos produksi raksasa. 

July 16, 2018

REVIEW : HOTEL TRANSYLVANIA 3: A MONSTER VACATION


“Family is everything. You have to honor the past, but we make our own future.” 

Selama satu abad terakhir, Count Dracula atau Drac (disuarakan oleh Adam Sandler) telah melewati beragam fase kehidupan yang menyita emosi. Dia disalahpahami oleh manusia-manusia yang dibutakan oleh hasutan, kehilangan istri tercinta karena amarah manusia, mengasingkan diri ke pelosok Romania demi mencari ketenangan, membesarkan putrinya seorang diri, mengurusi segala tetek bengek hotel yang memfasilitasi para monster dari berbagai belahan dunia (sayangnya tak kulihat Jeung Kunti atau Pocong), merelakan putri semata wayangnya dinikahi manusia, kelabakan tatkala mendapati cucunya yang berdarah campuran mungkin saja tak mewarisi gen vampir, was-was putrinya bakal meninggalkannya untuk tinggal di California, menghadapi sang ayah yang tak dijumpainya selama puluhan tahun, sampai kesepian mendamba cinta. Bisa dikatakan, beban hidupnya sangat sangatlah berat dan dia jelas butuh bernafas untuk sesaat. Butuh liburan lah! Syukurlah, Genndy Tartakovsky yang menggarap cap dagang Hotel Transylvania sedari jilid pertama menyadari penuh mengenai hal tersebut. Maka dari itu, melalui instalmen teranyar bertajuk Hotel Transylvania 3: A Monster Vacation, dia menyeret Drac keluar dari pertapaannya untuk mempersilahkannya memiliki quality time bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya di dunia luar yang sudah sangat lama tidak ditengoknya. 

July 14, 2018

REVIEW : SABRINA


“Yang sudah dikubur, jangan pernah dibangkitkan lagi. Yang sudah pergi, jangan pernah dipanggil lagi.” 

Ketika dipersembahkan kepada khalayak ramai pada tahun 2017 silam, The Doll 2 mencetak kesuksesan yang berlipat ganda dibandingkan instalmen terdahulunya. Sebuah pencapaian yang layak, kalau saya bilang, karena dari segi penggarapan tidaklah main-main. Ada kombinasi cukup baik antara production value, permainan lakon, serta trik menakut-nakuti sekalipun narasinya masih butuh dipoles berkali-kali. Levelnya jelas tidak berada setingkat dengan Pengabdi Setan (2017) arahan Joko Anwar yang telah menetapkan standar sangat tinggi bagi film horor tanah air, tapi syukurlah bisa setingkat di atas film sejenis yang seringkali digarap ala kadarnya berpegangan pada prinsip “ngapain bikin bagus-bagus dan susah-susah, toh jelek pun masih dikejar penonton.” Phew. Berkaca pada laris manisnya The Doll 2 ini, sudah barang tentu rumah produksi Hitmaker Studios dengan segala insting bisnisnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan franchise ini lebih luas. Ketimbang memilih untuk melanjutkannya ke instalmen ketiga, mereka mencoba membuka pintu spin-off (film cabang) dengan mengkreasi sebuah film khusus untuk sang boneka iblis pembawa kutukan, Sabrina. Sebuah pilihan yang awalnya terdengar masuk akal ini lantas terasa membingungkan ketika saya menyadari bahwa jalinan pengisahannya merupakan kelanjutan dari film kedua. Jadi, ini sebenernya spin-off atau sekuel sih? 
Mobile Edition
By Blogger Touch