April 26, 2018

REVIEW : AVENGERS: INFINITY WAR


“The entire time I knew him, he only ever had one goal. To wipe out half the universe. If he gets all the Infinity Stones, he can do it with the snap of his fingers. Just like that.” 

Pertempuran terakbar di sejarah perfilman dunia dalam satu dekade terakhir telah tiba. Para pahlawan dengan kekuatan adidaya milik Marvel Studios yang pertama kali bahu membahu menyelamatkan dunia (atau New York?) dari kegilaan Loki melalui The Avengers (2012), lalu bereuni dalam Avengers: Age of Ultron (2015) tatkala mereka mendapat tugas dinas bersama di Sokovia yang terancam hancur lebur dari serangan Ultron, dan sempat pecah kongsi karena perbedaan ideologi di Captain America: Civil War (2016), akhirnya memperoleh perlawanan yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata lewat Avengers: Infinity War yang merupakan film ke-19 dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe (MCU). Ya, di perayaan menapaki usia ke-10 sejak MCU pertama kali diperkenalkan dalam Iron Man (2008) ini, pertaruhannya benar-benar nyata dan berada di tingkatan sangat tinggi. Betapa tidak, para anggota Avengers kini mesti menghadapi Thanos yang digadang-gadang sebagai supervillain yang amat sulit untuk ditaklukkan. Dibandingkan dengan Thanos, Loki dan Ultron tidak lebih dari sebatas remah-remah renggingang. Dia mengoleksi enam batu akik, eh maksud saya, Batu Keabadian alias Infinity Stones, yang memungkinkannya untuk menguasai jagat raya dengan mudah semudah menjentikkan jari. Berbekal batu-batu tersebut, si Mad Titan ini akan melenyapkan separuh dari populasi galaksi yang dianggapnya telah berkontribusi terhadap kekacauan alam semesta sehingga suatu keseimbangan dapat dicapai. Gila, kan? 

Gila memang satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan Avengers: Infinity War disamping ambisius serta epik. Duo sutradara Anthony dan Joe Russo (Captain America: The Winter Soldier, Captain America: Civil War) memastikan bahwa penantian khalayak ramai selama satu dekade tidaklah sia-sia. Mereka berupaya untuk mengkreasi Avengers: Infinity War sebagai sebuah pemuncak yang layak dikenang dan lebih gegap gempita dibandingkan dengan dua predesesornya. Salah satu caranya adalah dalam penceritaan yang merentang panjang hingga 149 menit, duo ini tidak mempersilahkan para penonton untuk memalingkan muka barang sejenak dari layar bioskop maupun mengambil jeda satu dua menit untuk ngacir ke toilet demi menuntaskan panggilan alam. Ya bagaimana bisa melepaskan atensi saat film telah mencengkram perhatian secara erat sedari menit pertama. Russo bersaudara yang mengejawantahkan naskah kreasi Christopher Markus dan Stephen McFeely ini tidak banyak berbasa-basi kala memulai alunan penceritaan dari Avengers: Infinity War. Mereka seketika menempatkan kita dalam situasi mendebarkan yang merupakan kelanjutan dari adegan bonus di Thor: Ragnarok (2017) yang memperlihatkan nasib para pengungsi Asgard selepas para penumpang dari sebuah kapal ruang angkasa misterius dengan ukuran raksasa tiba-tiba menyantroni kapal mereka. Kita mengetahui bahwa salah satu penumpang kapal tersebut adalah Thanos (Josh Brolin) dan kita mengetahui bahwa Batu Keabadian koleksinya telah bertambah.


Itu artinya, alam semesta tengah terancam bahaya. Bruce Banner (Mark Ruffalo) yang kebetulan menjadi saksi mata kala Thanos merebut Space Stone dari genggaman Thor (Chris Hemsworth) seketika mengabarkan ke bumi bahwa ada ancaman besar yang segera datang dalam wujud Thanos beserta kroni-kroninya yang dikenal dengan sebutan Black Order. Saya tidak perlu menjabarkan proses bersatunya kembali para anggota inti Avengers seperti Tony Stark (Robert Downey Jr.), Steve Rogers (Chris Evans), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), Rhodey (Don Cheadle), Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen), Vision (Paul Bettany), serta Sam Wilson (Anthony Mackie) secara detil karena akan sedikit merusak kesenangan dalam menyaksikan Avengers: Infinity War. Yang jelas, mereka berkenan menyingirkan ego masing-masing dan memutuskan untuk bersatu sekali lagi lantaran dihadapkan pada satu musuh besar yang sama, yakni Thanos. Mengingat sang lawan sama sekali tidak bisa diremehkan – terlebih lagi jika dia sudah berhasil mengumpulkan keenam Batu Keabadian secara komplit – maka bala bantuan pun dibutuhkan oleh para personil Avengers yang sekali ini berasal dari Stephen Strange si penyihir (Benedict Cumberbatch), Peter Parker si remaja laba-laba (Tom Holland), T’Challa si Raja Wakanda (Chadwick Boseman), Bucky Barnes (Sebastian Stan) yang merupakan sohib kental Steve Rogers, sampai para bandit galaksi berhati mulia dari dwilogi Guardians of the Galaxy yang salah satu anggotanya memiliki keterkaitan secara langsung dengan Thanos. 

Semenjak adegan pembuka yang membuat diri ini terhenyak, daya cengkram memang tidak pernah sedikitpun mengendur sampai Avengers: Infinity War benar-benar mengakhiri gelarannya. Film ini memenuhi segala ekspektasi yang disematkan untuknya. Sepanjang durasi merentang, si pembuat film mengisinya dengan serentetan sekuens laga bombastis, humor yang efektif mengocok perut, serta momen emosional yang membuat mata sembab, yang menjadikan perjalanan panjang selama 2,5 jam terasa berlangsung dengan begitu cepat sampai-sampai kita tidak menyadari bahwa film telah tutup durasi. Seperti telah saya singgung di dua paragraf sebelumnya, mengalihkan pandangan dari layar dan melenggang ke toilet di sela-sela rangkaian konfrontasi adalah suatu hal yang hampir mustahil dilakukan selama menyaksikan Avengers: Infinity War. Ini tentu saja terdengar hiperbolis, tapi setidaknya begitulah situasi di bioskop tempat saya menyaksikan reuni para pahlawan bertubuh atletis ini. Penonton duduk anteng menyaksikan intrik yang menggeliat dalam film (jika ada suara tak diinginkan, akan terdengar ‘sssttt’ berjamaah), lalu gregetan dan harap-harap cemas ketika pertarungan antara Avengers melawan Black Order maupun Thanos mulai berlangsung, kemudian tertawa terbahak-bahak begitu mendengar celetukan atau tindakan kocak para karakter (favoritku secara personal: tatapan Okoye (Danai Gurira) saat melihat Hulkbuster terjerembab di medan tempur. Priceless!), sampai akhirnya menyeka air mata yang tidak nyana-nyana bakal mengalir di beberapa titik. Epik! 


Keberhasilan Russo bersaudara dalam melibatkan emosi penonton ini tentu berkat kombinasi dari pengarahan, naskah, elemen teknis (efek visualnya jempolan!), serta performa pemeran yang bekerja secara semestinya. Saat hendak menyaksikan Avengers: Infinity War, ada satu pertanyaan yang pastinya mencuat di benak sebagian penonton. Pertanyaan tersebut berbunyi, “bagaimana cara si pembuat film memberi mereka jatah tampil yang layak sementara jumlah mereka sangat banyak?.” Tidak bisa dipungkiri memang ada kekhawatiran bahwa beberapa pahlawan kesayangan kita akan terpinggirkan porsinya mengingat durasi film begitu terbatas sementara ada lusinan superhero dan satu penjahat besar yang mengambil peran. Namun kekhawatiran tersebut lenyap tak bersisa usai film menjalankan penceritaannya secara resmi. Pengarahan beserta naskah yang solid ditunjang oleh penyuntingan rapi dan akting jajaran pemain yang apik memungkinkan setiap karakter memiliki kesempatan untuk bersinar sekaligus berkontribusi nyata terhadap penceritaan termasuk pendatang baru macam Stephen Strange beserta para penjaga galaksi dan sang supervillain, Thanos, yang tak saja intimidatif tetapi juga menyimpan kompleksitas pada karakternya (dia bukanlah penjahat satu dimensi dengan motif dangkal) sehingga membuat kita berada di posisi serba salah; kita membencinya karena destruksi yang diciptakannya dan di saat bersamaan kita bersimpati kepadanya karena dibalik perangainya yang bengis, dia masih memiliki hati. 

Bagusnya, para karakter yang jumlahnya bejibun ini dimunculkan karena mereka memang dibutuhkan untuk menggerakkan kisah, bukan sebatas untuk memeriahkan film semata. Demi menegaskan peranan masing-masing, film berjalan sedikit pelan di paruh pertama – itupun sudah sarat laga dan humor jadi tak ada kesempatan untuk menguap. Ketika job description telah dipaparkan dengan jelas, Avengers: Infinity War seketika lepas landas di satu jam terakhir yang bersinonim erat dengan ‘kegilaan’. Pertaruhannya meningkat diikuti dengan pertempuran yang keseruannya mengalami eskalasi dan tonjokkan pada sisi emosi. Selepas film berakhir kita memang tidak akan langsung bertepuk tangan (momen itu telah muncul di adegan ‘kembalinya Thor’ yang disambut sorak sorai), tetapi muncul satu perasaan yang membuat kita pada perenungan. Memandang ke layar bioskop yang telah kosong seraya berusaha mencerna tontonan yang baru saja kita saksikan. Bahkan perasaan ini masih menghinggapi hingga beberapa jam kemudian. Sebuah perasaan yang hanya bisa muncul saat film yang baru saja kita saksikan telah meninggalkan impak yang sangat kuat pada emosi. 


Note : Avengers: Infinity War hanya memiliki satu adegan bonus di penghujung durasi, tapi penting untuk disimak.

Outstanding (4,5/5)

32 comments:

  1. Terkadang ekseptasi berlebihan bisa berdampak buruk pada kesenangan saat menonton semoga saat nonton malam nanti bisa sama2 puas seperti ulasan ini 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ekspektasiku yang begitu tinggi ke film ini ternyata nggak berpengaruh pada kesenangan menonton film ini. Dua kali nonton tetap terperangah 😁

      Delete
    2. Iya ternyata pas nonton kemaren diatas ekpetasi saya dan sangat menyukainya, apalagi film ini punya perperangan yg asyik sekali didukung humor yg lucu serta sisi karakter yg menyentuh senang sekali apalagi endingnya yg dibuat berkesan seperti itu haaaaa

      Delete
    3. Yekannnnn? Salah satu film terbaiknya Marvel sih, kalau aku bilang. Emosinya campur aduk sewaktu nonton. Semuanya ada. Komplit!

      Delete
    4. Tapi kalo mau di teliti lagi ada beberapa plot hole di ceritanya.

      Delete
    5. Tapi kalo mau di teliti lagi ada beberapa plot hole di ceritanya.

      Delete
    6. Belum berani menyebutnya plot hole atau semacamnya sih karena ini hanya bagian pertama dari dua seri. Bisa jadi akan ada penjelasannya di seri selanjutnya.

      Delete
    7. Tapi pas adegan iron man ke planet Titan itu ada kejanggalan meski tak mengganggu jalan cerita sih.

      Delete
    8. Tapi pas adegan iron man ke planet Titan itu ada kejanggalan meski tak mengganggu jalan cerita sih.

      Delete
    9. Bagian manakah yang kamu maksud?

      Delete
    10. Oksigen di titan.
      Kok si iron man bisa ttp bernapas saat helm nya kebuka.

      Delete
    11. Titan kan dulunya planet berpenghuni seperti bumi sebelum dihancurin Thanos. Berarti ada oksigen di sana.

      Delete
    12. Ohh gitu ya baru tahu tuh min heeee

      Delete
  2. Tapi agak sayang ya, tim wakanda agak gak proporsional. Black widow jadi salah satu korban karakter yg agak tersampingkan.

    Endingnya bikin melongo sampe berapa menit yawla wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Black Widow yang paling lemah disini. Nggak ada kesempatan buat dia untuk bersinar. Ya semoga dia dapet peran lebih gede di film berikutnya yes

      Delete
    2. Om menurutmu, hero2 yg PIIIPP itu bakalan balik lagi ga ya? Yaaah in case thanos menyesal, trus balik ke masa lalu, atau apalah *masih gak terima wkwk*

      Delete
    3. Tenang saja, bakal balik kok. Kalau ngintip ke foto-foto lokasi syuting Avengers 4 dan daftar pemain, mereka semua balik. Bahkan ada beberapa nama tambahan yang nggak nongol di seri ini.

      Delete
  3. Spoiler alert

    Potongan adegan gambar diatas gak ada di film... hanya ada di trailer doang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tampaknya Marvel ngambil banyak shot buat satu adegan, bahkan ada yang khusus ditebar untuk materi promosi jadi bisa terhindar dari spoiler 😁

      Delete
  4. Endingnya kok gitu ya, bikin kzl 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin gemes karena mesti nunggu setahun lagi 😤

      Delete
  5. Waduh, saya belum nonton tor raknarok. Apa bisa nyambungya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih bisa kok. Tapi efek ke emosinya jelas bakalan beda dibandingkan kalau sudah nonton. Saranku sih mending nonton dulu.

      Delete
    2. Di mana? Kalau dinternet susah nyariknya, kl beli dvd orinya, g sempet.
      Kl di hooq atau iflix adakah?

      Delete
    3. Di mana? Kalau dinternet susah nyariknya, kl beli dvd orinya, g sempet.
      Kl di hooq atau iflix adakah?

      Delete
    4. Kalau lewat jalur ilegal sih banyak banget. Hahaha. Belum cek Hooq dan iflix sih.

      Delete
  6. Tukang panah gak nongol kenapa om ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di filmnya dijelasin secara singkat kok alasannya kenapa dia dan Ant Man nggak nongol di seri ini.

      Delete
    2. Wah aku kok luput yah

      Delete
    3. koq saya ngerasa trailernya lebih seru daripada filmnya ya ... apa karena perangnya terpisah antara thanos n pasukannya....lagi juga ternyata thanos nggak sesangar yg saya bayangkan :)

      Delete
    4. ^ nggak apa-apa, perbedaan pandangan. Bisa jadi karena emang faktor perang terpisah. Perang lebih akbar tentu bakal ditonjolin di seri berikutnya. Semoga memuaskan. 😊

      @alien: cepet banget emang. Dijelasin sewaktu separuh personil ngumpul di markas Avengers.

      Delete
  7. watch Avengers Infinity War online free on zmovies now. I'm not a huge fan of the superhero genre, but I'm able to appreciate these movies and have a good time when I watch them, however I can't say the same for Infinity War.

    Overall it was just a huge mess. A basic cliché formula which consisted entirely of several over-the-top action sequences with snarky one-liners from the "characters" every now and then. The plot barely made any sense, in fact most of the time I barely knew what was going on and the villain's motives were unoriginal and cliché

    See more: watch tv series

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch