July 30, 2018

REVIEW : TEEN TITANS GO! TO THE MOVIES


“The friendship will always bring us back.” 

Sekitar satu dekade lalu, siapa sih yang menyangka tokoh pahlawan kurang populer seperti Guardians of the Galaxy, Doctor Strange atau Ant-Man dari Marvel Comics bisa membawa penonton berduyun-duyun ke bioskop? Jangankan membayangkan laris, membayangkan judul-judul tersebut diboyong ke layar lebar saja nyaris tak terbersit di pikiran. Saya bahkan tak familiar dengan mereka sebelum diperkenalkan kembali melalui medium film. Berkat menjulangnya popularitas film superhero seperti sekarang ini, superhero manapun berkesempatan besar untuk memiliki filmnya sendiri. Marvel telah melakukannya berulang kali sedari semesta filmnya terbentuk, sementara DC Comics masih berkutat dengan nama-nama populer seperti Batman, Superman, hingga Wonder Woman. Belum berani menempuh gebrakan signifikan pada divisi live action, DC menjajalnya via divisi animasi. Upaya mereka memperkenalkan ‘pahlawan kecilnya’ kepada khalayak ramai ditempuh dalam film bertajuk Teen Titans Go! To the Movies yang disadur dari serial animasi populer dengan judul senada yang ditayangkan di kanal Cartoon Network. Di sini, penonton dipertemukan dengan kelompok superhero bernama Teen Titans yang pertama kali nongol di seri ke 54 dari komik The Brave and the Bold yang diluncurkan pada tahun 1964. 

July 26, 2018

REVIEW : MISSION IMPOSSIBLE - FALLOUT


“There cannot be peace without first a great suffering. The greater the suffering, the greater the peace. The end you've always feared is coming and the blood will be on your hands.” 

I have a good news for you. Ladies and gentleman, Ethan Hunt is back! 

Usai rencana Ethan Hunt untuk menjalani hidup tenang digagalkan sedemikian rupa oleh seorang antagonis di Mission: Impossible III (2006) lalu disempurnakan oleh ‘kematian’ sang istri seperti dikonfirmasi dalam Mission: Impossible Ghost Protocol (2011), Ethan Hunt seolah tidak lagi memiliki alasan kuat untuk mengundurkan diri dari IMF dan menghabiskan masa senjanya dengan bersantai-santai di pantai. Terlebih, ada dorongan besar dari pihak studio pemilik cap dagang Mission: Impossible untuk terus menerjunkannya ke lapangan demi menuntaskan misi-misi mustahil lantaran resepsi yang diterima dari penonton maupun kritikus semakin menghangat dari seri ke serinya. Tom Cruise selaku bintang utama – menjabat pula sebagai produser – pun tidak keberatan untuk direkrut kembali, bahkan dia terus menawarkan diri melakoni rentetan sekuens laga berbahaya di beberapa seri terakhir tanpa bantuan pemeran pengganti. Mudahnya, selama masih ada yang bisa dieksplorasi dan masih ada yang bisa dijual baik dari segi narasi maupun gelaran laga, kenapa harus berhenti? Itulah kenapa setelah kekacauan masif di Rogue Nation (2015) yang menyebabkan ‘rumah’ jagoan utama kita, IMF, terancam gulung tikar, misi lainnya telah dipersiapkan oleh Christopher McQuarrie yang kembali menempati kursi penyutradaraan untuk Ethan Hunt dan tim di Fallout 

July 23, 2018

REVIEW : MAMMA MIA! HERE WE GO AGAIN


“I don’t know what my future holds, but the world is wide and I want to make some memories.” 

Kapan terakhir kali kamu merasa bahagia selepas menyaksikan sebuah film di bioskop? Kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, atau sudah terlalu lama sampai tak sanggup untuk mengingatnya dengan jelas? Bagi saya, pengalaman membahagiakan tersebut baru saja terjadi dua hari silam seusai memutuskan untuk menebus tiket Mamma Mia! Here We Go Again arahan Ol Parker (Imagine Me & You, Now Is Good). Saya sendiri memang cukup menikmati instalmen pertamanya yang dirilis pada tahun 2008 silam – sekalipun noraknya kebangetan – karena bagaimanapun juga menyaksikan sebuah film musikal yang materi ceritanya disusun berdasarkan pustaka lagu keluaran grup musik populer asal Swedia, ABBA, tetaplah menyenangkan. Maka begitu jilid keduanya dilepas dengan jajaran pemain yang masih sama (plus beberapa wajah baru), tidak ada alasan untuk melewatkannya begitu saja. Kala akhirnya duduk manis di dalam gedung bioskop demi menyaksikan Mamma Mia! Here We Go Again, ekspektasi yang saya tanamkan tidaklah muluk-muluk. Asalkan bisa dibuat berdendang dan bergoyang mengikuti irama lagu-lagu nostalgia dari ABBA di sepanjang durasi seperti jilid pendahulunya, saya sudah puas. Tapi kemudian menit demi menit bergulir yang perlahan tapi pasti menyadarkan diri ini: hey, ini lebih baik dari film pertamanya! Yang saya maksud lebih baik disini tidak hanya pada sektor narasi, tetapi juga pengemasan yang membuat setiap momen musikalnya terasa lebih meriah ketimbang seri pendahulunya. What a surprise, huh?... or not

July 22, 2018

REVIEW : 22 MENIT


“Angkasa, monitor, angkasa, monitor, telah terjadi ledakan dan kontak senjata.” 

Pada 14 Januari 2016 silam – tatkala masyarakat ibukota tengah disibukkan oleh rutinitas harian – Jakarta mendadak diguncang oleh serentetan ledakan bom di kawasan Thamrin. Satu bom meringsekan pos polisi, bom lainnya mengoyak kedai Starbucks yang berada di Sarinah. Imbas dari tragedi ini, delapan orang dinyatakan tewas dengan perincian empat warga sipil dan empat pelaku penyerangan. Pihak kepolisian lantas bergegas menurunkan personilnya untuk melumpuhkan para teroris yang belakangan diketahui berasal dari kelompok Bahrun Naim dan terafiliasi secara langsung dengan ISIS. Yang tak banyak diketahui oleh khalayak ramai, Polri hanya membutuhkan waktu kurang lebih 22 menit untuk meringkus para pelaku. Fakta kecil ini dibeberkan oleh duo sutradara Eugene Panji (Cita-Citaku Setinggi Tanah, Naura dan Genk Juara) dan Myrna Paramita dalam film garapan mereka bertajuk 22 Menit yang terinspirasi dari peristiwa pengeboman tersebut. Mendapat sokongan penuh dari Polri selama menjalani masa riset dan tahapan produksi ini, film bertipe PSA (public service announcement) ini tak saja mencoba menghadirkan tontonan untuk menggugah rasa kemanusiaan tetapi juga diniatkan untuk mengapresiasi kinerja cekatan polri dan membangun kesadaran publik terhadap pertumbuhan kelompok terorisme yang kian masif di negeri ini. 

July 20, 2018

REVIEW : BUFFALO BOYS


“Balas dendam mungkin adalah hak. Tapi pengampunan akan membuat batinmu lebih kuat.” 

Apabila ada penghargaan untuk ‘trailer film paling keren’, Buffalo Boys mestinya mendapatkan penghargaan tersebut. Betapa tidak, dalam tempo waktu sepanjang 2,5 menit, tim penyusun trailer mampu menyusun secara rapi rentetan money shots yang dipunyai oleh film garapan Mike Wiluan (produser Rumah Dara dan Headshot) tersebut diiringi dengan musik menggebu-nggebu sehingga menghasilkan trailer yang amat menjual. Disamping pengemasan, ada satu hal yang menarik perhatian dari trailer ini: tampilan yang memberi kesan bahwa Buffalo Boys bukanlah film produksi Indonesia. Ada yang bilang mirip film Hollywood, tapi bagi saya lebih mirip ke film Asia berbujet besar dengan skala produksi internasional (dan kenyataannya, memang seperti itulah Buffalo Boys). Apapun pendapatmu, rasanya kita sama-sama sepakat kalau trailer ini mengundang ketertarikan untuk menontonnya secara seketika bahkan sempat membuat saya mengucap, “nyoh, nyoh, ini lho duitku! Aku rela kamu ambil, nyoh nyoh!,” selepas menengok trailernya. Tak bisa dibendung, ada ekspektasi menjulang yang tercipta dari sini. Lebih-lebih, Buffalo Boys menghembuskan nafas baru bagi perfilman Indonesia dengan menghadirkan tontonan laga berbumbu sejarah tanah air di era kolonial menggunakan pendekatan bak western film. Sebuah tontonan yang tentunya jarang-jarang bisa ditemui di perfilman yang lebih gemar mengkreasi “tontonan murah meriah” ketimbang genre movies yang membutuhkan ongkos produksi raksasa. 

July 16, 2018

REVIEW : HOTEL TRANSYLVANIA 3: A MONSTER VACATION


“Family is everything. You have to honor the past, but we make our own future.” 

Selama satu abad terakhir, Count Dracula atau Drac (disuarakan oleh Adam Sandler) telah melewati beragam fase kehidupan yang menyita emosi. Dia disalahpahami oleh manusia-manusia yang dibutakan oleh hasutan, kehilangan istri tercinta karena amarah manusia, mengasingkan diri ke pelosok Romania demi mencari ketenangan, membesarkan putrinya seorang diri, mengurusi segala tetek bengek hotel yang memfasilitasi para monster dari berbagai belahan dunia (sayangnya tak kulihat Jeung Kunti atau Pocong), merelakan putri semata wayangnya dinikahi manusia, kelabakan tatkala mendapati cucunya yang berdarah campuran mungkin saja tak mewarisi gen vampir, was-was putrinya bakal meninggalkannya untuk tinggal di California, menghadapi sang ayah yang tak dijumpainya selama puluhan tahun, sampai kesepian mendamba cinta. Bisa dikatakan, beban hidupnya sangat sangatlah berat dan dia jelas butuh bernafas untuk sesaat. Butuh liburan lah! Syukurlah, Genndy Tartakovsky yang menggarap cap dagang Hotel Transylvania sedari jilid pertama menyadari penuh mengenai hal tersebut. Maka dari itu, melalui instalmen teranyar bertajuk Hotel Transylvania 3: A Monster Vacation, dia menyeret Drac keluar dari pertapaannya untuk mempersilahkannya memiliki quality time bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya di dunia luar yang sudah sangat lama tidak ditengoknya. 

July 14, 2018

REVIEW : SABRINA


“Yang sudah dikubur, jangan pernah dibangkitkan lagi. Yang sudah pergi, jangan pernah dipanggil lagi.” 

Ketika dipersembahkan kepada khalayak ramai pada tahun 2017 silam, The Doll 2 mencetak kesuksesan yang berlipat ganda dibandingkan instalmen terdahulunya. Sebuah pencapaian yang layak, kalau saya bilang, karena dari segi penggarapan tidaklah main-main. Ada kombinasi cukup baik antara production value, permainan lakon, serta trik menakut-nakuti sekalipun narasinya masih butuh dipoles berkali-kali. Levelnya jelas tidak berada setingkat dengan Pengabdi Setan (2017) arahan Joko Anwar yang telah menetapkan standar sangat tinggi bagi film horor tanah air, tapi syukurlah bisa setingkat di atas film sejenis yang seringkali digarap ala kadarnya berpegangan pada prinsip “ngapain bikin bagus-bagus dan susah-susah, toh jelek pun masih dikejar penonton.” Phew. Berkaca pada laris manisnya The Doll 2 ini, sudah barang tentu rumah produksi Hitmaker Studios dengan segala insting bisnisnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan franchise ini lebih luas. Ketimbang memilih untuk melanjutkannya ke instalmen ketiga, mereka mencoba membuka pintu spin-off (film cabang) dengan mengkreasi sebuah film khusus untuk sang boneka iblis pembawa kutukan, Sabrina. Sebuah pilihan yang awalnya terdengar masuk akal ini lantas terasa membingungkan ketika saya menyadari bahwa jalinan pengisahannya merupakan kelanjutan dari film kedua. Jadi, ini sebenernya spin-off atau sekuel sih? 

July 12, 2018

REVIEW : SKYSCRAPER


“Tell me, how much do you love your family?” 

Saat kamu memiliki rencana untuk membuat sebuah film laga minim nutrisi berbujet besar yang di dalamnya sarat ‘boom boom bang’ dan membutuhkan jagoan penuh karisma yang sulit terkalahkan, kamu tentu tahu siapa yang mesti digaet untuk memerankan sang jagoan. Jika tebakanmu adalah Dwayne Johnson (atau The Rock), saya bisa mengatakan bahwa tebakanmu tidaklah meleset. Karena nyaris tidak ada aktor laga Hollywood dalam satu dekade terakhir yang sekarismatik Babang The Rock sampai-sampai dia juga memiliki kekuatan lain berupa pesona yang akan membantu menyelamatkan film dengan naskah seamburadul apapun. Sebuah definisi pahlawan yang sesungguhnya – setidaknya bagi para petinggi studio. Maka begitu Legendary Entertainment mengajukan ide film laga menggunakan kata kunci, “sebuah hiburan teman makan popcorn yang memadukan antara Die Hard (1988) dengan The Towering Inferno (1974)”, kita sudah bisa menerka siapa yang bakal ditugaskan. Usai menyelamatkan keluarga fiktifnya dari bencana alam yang meluluhlantakkan pesisir Atlantik, lalu menjelma menjadi tokoh perkasa dalam mitologi Yunani, dan menjinakkan seekor gorila raksasa yang membabibuta di perkotaan, kini Dwayne Johnson dipercaya untuk mengeluarkan keluarga fiktifnya yang lain (apes bener yaa menjadi anak dan istrinya!) dari gedung pencakar langit yang dilalap kobaran api dalam film terbarunya bertajuk Skyscraper

July 10, 2018

REVIEW : BODYGUARD UGAL-UGALAN


🎵 Lihat aku pandang aku di kiri di kanan, 
di depan di belakang sambil muter-muter, 
pasti terpesona pusing tujuh keliling, 
jantung berdegup keras, 
gubrak gubrak gubrak jeng jeng jeng... 🎵

Begitulah bunyi sepenggal lirik dari tembang terbaru Syahrini berjudul “Gubrak Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng” yang dimanfaatkan sebagai lagu tema utama untuk Bodyguard Ugal-Ugalan. Isi liriknya sih cenderung suka-suka penggubahnya (pokoknya masukkan saja jargon-jargon andalan Syahrini) karena yang lebih penting adalah iramanya bisa bikin khalayak bergoyang. Entah denganmu, tapi buat saya pribadi, lagu ini memang catchy. Baru sekali mendengarnya, kuping langsung kecantol dan tombol replay pun dimanfaatkan. Gara-gara lagu ini, keinginan untuk menyaksikan Bodyguard Ugal-Ugalan pun semakin menguat (yang berarti fungsinya sebagai media promosi berjalan sukses). Sebelumnya, keinginan tersebut muncul semata-mata demi menyaksikan tingkah laku ajaib Princess Syahrini seraya menghibur diri yang memang sedang terserang suntuk. Tidak ada ekspektasi lain. Ya gimana mau berekspektasi, lha wong film ini mengaplikasikan formula bercerita yang sejenis dengan Komedi Moderen Gokil (2015) dan Security Ugal-Ugalan (2017) – keduanya juga diproduksi oleh MD Pictures – yang bikin saya manyun sepanjang durasi. Alhasil, saat memutuskan membeli tiket untuk Bodyguard Ugal-Ugalan, harapan saya tidak lebih dari bisa tergelak karena menyaksikan Inces (sapaan akrab Princess Syahrini) bermanjyah-manjyah ria di layar lebar. Seperti itu. 

July 9, 2018

REVIEW : KOKI-KOKI CILIK


“Aku harus menang. Aku udah janji biar aku bisa buka rumah makan Bapak lagi.” 

Apakah kamu pernah menyaksikan sebuah acara televisi bertajuk Masterchef Junior? Iya, acara berkonsep kompetisi memasak untuk bocah-bocah dibawah usia 15 tahun yang membuat manusia-manusia dewasa tanpa bakat di dapur merasa masa kecilnya tidak berharga itu lho. Apabila kamu pernah menyaksikannya, tentu mengetahui bagaimana serunya para bocah minim pengalaman ini kala berlomba, menghadapi tekanan, dan bereksperimen dalam mengkreasi aneka ragam makanan. Selayaknya acara televisi berbasis kompetisi pada umumnya, tentu bubuhan drama tak terelakkan. Tapi kesenangan yang timbul dari menyaksikan acara ini bukan berasal dari drama ribut-ributnya, melainkan disebabkan oleh kreativitas, semangat, dan aura positif para kontestannya. Bikin berdecak kagum sekaligus menstimulasi pikiran bahwa kita pun bisa memasak. Asyik, kan? Nah semangat semacam itulah yang Ifa Isfansyah (Garuda di Dadaku, Sang Penari) coba terapkan dalam film terbarunya bersama MNC Pictures, Koki-Koki Cilik (awalnya berjudul Cooking Camp). Sebuah film untuk seluruh anggota keluarga mengenai dunia masak memasak (dan santap menyantap makanan) dilihat dari sudut pandang dedek-dedek cilik yang diniatkan sebagai pengisi liburan pergantian semester. Sebuah film untuk seluruh anggota keluarga yang diharapkan nantinya tak saja mendorong para penonton cilik untuk menekuni dunia kuliner tetapi juga mendorong para penonton cilik untuk belajar memahami makna sesungguhnya dari cinta, persahabatan, dan kompetisi usai melihat para koki-koki cilik beraksi. 

July 8, 2018

REVIEW : KULARI KE PANTAI


“Kadang-kadang kalau kita lagi takut, kita tidak berpikir jernih.” 

Kapan terakhir kali kamu menonton film keluarga buatan sineas dalam negeri yang bagus di layar lebar? Bagi saya sih tahun lalu saat Naura dan Genk Juara (Eugene Panji, 2017) dirilis. Tapi jika diminta merunut lebih jauh ke belakang, maka ingatan ini mendarat pada tahun 2011 (atau 7 tahun silam!) tatkala terdapat sederet film anak yang layak simak seperti Rumah Tanpa Jendela, Lima Elang, serta Garuda di Dadaku 2. Pilihannya cukup beragam, tak seperti beberapa tahun terakhir yang sudah bisa dikategorikan sebagai musim paceklik. Ketimbang memproduksi film anak, rumah produksi lebih asyik menggarap film remaja yang secara tema pun seragam. Sedih sekali hati Abang! Berkaca pada fenomena memilukan ini dan menyadari krucil-krucil di rumah juga butuh tontonan hiburan di bioskop, Miles Films merasa memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan sebuah sajian yang bisa diakses oleh seluruh anggota keluarga. Terlebih, mereka adalah penghasil dua film keluarga fenomenal, Petualangan Sherina (2000) dan Laskar Pelangi (2008), yang sanggup mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong memenuhi bioskop. Oleh karena itu, duo maut Mira Lesmana dan Riri Riza pun memutuskan untuk menunda sejenak proyek akbar mereka (baca: biopik Chairil Anwar) demi sesuatu yang urgensinya lebih nyata yakni mengkreasi sebuah film keluarga bertajuk Kulari ke Pantai

July 7, 2018

REVIEW : ANT-MAN AND THE WASP


“I do some dumb things, and the people I love the most, they pay the price.” 

Bagaimana perasaanmu setelah menyaksikan Avengers: Infinity War tempo hari? Adakah awan mendung yang menaungi hatimu selama berhari-hari? Saya cukup yakin, tidak sedikit diantara kalian yang akan menjawab “ada” karena seperti itulah perasaan saya selama beberapa saat selepas menonton gelaran superhero tersebut. Hati ini tersayat-sayat. Sebalnya lagi, si pembuat film membiarkan rasa itu terus menghantui hati sensitif ini sampai setahun ke depan mengingat instalmen kelanjutannya baru muncul pada bulan Mei 2019. KZL. Meski Marvel Studios bisa dibilang “Raja Tega”, tapi mereka sebetulnya tidak benar-benar tega membiarkan para penggemarnya nelangsa berkepanjangan kok. Buktinya, mereka menghadirkan Ant-Man and the Wasp yang diniatkan sebagai detoks atau obat penawar setelah dua seri sebelumnya dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe (baca: Infinity War dan Black Panther) dituturkan secara kelam dan mendalam sampai-sampai berani disusupi subteks berkaitan dengan politik serta feminisme. Seperti halnya jilid pertama, Ant-Man and the Wasp yang masih dinahkodai oleh Peyton Reed (Bring It On, Yes Man) ini adalah film superhero berskala 'kecil' dengan guliran penceritaan ringan-ringan saja yang tujuannya tidak lebih dari sekadar menghibur. Misi utama sang pahlawan dalam franchise ini bukanlah menyelamatkan masyarakat atau bumi atau alam semesta, melainkan menyelamatkan unit terkecil dari masyarakat tapi terhitung sebagai harta yang paling berharga bagi setiap umat manusia: keluarga. 

July 5, 2018

REVIEW : HEREDITARY


“Sometimes I swear I can feel her in the room.” 

Sebelum kamu memutuskan untuk menebus tiket Hereditary di loket bioskop, ada satu pertanyaan yang mesti kamu jawab dengan sejujur-jujurnya: apa ekspektasimu terhadap film ini? Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menimbulkan keragu-raguan, melainkan demi menetapkan pengharapan yang semestinya agar tidak keluar dari gedung bioskop dengan muka yang ditekuk-tekuk sedemikian rupa (sampai tak berbentuk lagi). Betapa tidak, Hereditary yang kerap disebut-sebut sebagai ‘film horor paling seram’ oleh kritikus di negeri Paman Sam ini bukanlah tontonan seram konvensional yang bergantung pada serentetan penampakan hantu dengan tata rias kelas wahid demi membuat penontonnya menjerit-jerit sampai mengibarkan bendera putih atau terlonjak dari kursi bioskop sampai menembus atap. Bukan. Jika kamu menengok distributor dari Hereditary, yakni A24, dan mengetahui jejak rekam mereka dalam mendistribusikan film horor (beberapa judul rilisan mereka adalah The Witch dan It Comes at Night), maka tidak ada kesulitan untuk menerka gelaran seperti apa yang bakal disajikan oleh Ari Aster dalam karya panjang perdananya ini. Hereditary tidak bergegas dalam bercerita dan memilih untuk melantunkannya secara perlahan-lahan. Cara ini mungkin tidak akan cocok bagi sebagian penonton, tapi jika kamu bisa menerima sajian bertipe ‘slow burn’, Hereditary akan menggoreskan memori buruk (dalam arti positif bagi film horor) setapak demi setapak. 
Mobile Edition
By Blogger Touch