July 16, 2018

REVIEW : HOTEL TRANSYLVANIA 3: A MONSTER VACATION


“Family is everything. You have to honor the past, but we make our own future.” 

Selama satu abad terakhir, Count Dracula atau Drac (disuarakan oleh Adam Sandler) telah melewati beragam fase kehidupan yang menyita emosi. Dia disalahpahami oleh manusia-manusia yang dibutakan oleh hasutan, kehilangan istri tercinta karena amarah manusia, mengasingkan diri ke pelosok Romania demi mencari ketenangan, membesarkan putrinya seorang diri, mengurusi segala tetek bengek hotel yang memfasilitasi para monster dari berbagai belahan dunia (sayangnya tak kulihat Jeung Kunti atau Pocong), merelakan putri semata wayangnya dinikahi manusia, kelabakan tatkala mendapati cucunya yang berdarah campuran mungkin saja tak mewarisi gen vampir, was-was putrinya bakal meninggalkannya untuk tinggal di California, menghadapi sang ayah yang tak dijumpainya selama puluhan tahun, sampai kesepian mendamba cinta. Bisa dikatakan, beban hidupnya sangat sangatlah berat dan dia jelas butuh bernafas untuk sesaat. Butuh liburan lah! Syukurlah, Genndy Tartakovsky yang menggarap cap dagang Hotel Transylvania sedari jilid pertama menyadari penuh mengenai hal tersebut. Maka dari itu, melalui instalmen teranyar bertajuk Hotel Transylvania 3: A Monster Vacation, dia menyeret Drac keluar dari pertapaannya untuk mempersilahkannya memiliki quality time bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya di dunia luar yang sudah sangat lama tidak ditengoknya. 

July 14, 2018

REVIEW : SABRINA


“Yang sudah dikubur, jangan pernah dibangkitkan lagi. Yang sudah pergi, jangan pernah dipanggil lagi.” 

Ketika dipersembahkan kepada khalayak ramai pada tahun 2017 silam, The Doll 2 mencetak kesuksesan yang berlipat ganda dibandingkan instalmen terdahulunya. Sebuah pencapaian yang layak, kalau saya bilang, karena dari segi penggarapan tidaklah main-main. Ada kombinasi cukup baik antara production value, permainan lakon, serta trik menakut-nakuti sekalipun narasinya masih butuh dipoles berkali-kali. Levelnya jelas tidak berada setingkat dengan Pengabdi Setan (2017) arahan Joko Anwar yang telah menetapkan standar sangat tinggi bagi film horor tanah air, tapi syukurlah bisa setingkat di atas film sejenis yang seringkali digarap ala kadarnya berpegangan pada prinsip “ngapain bikin bagus-bagus dan susah-susah, toh jelek pun masih dikejar penonton.” Phew. Berkaca pada laris manisnya The Doll 2 ini, sudah barang tentu rumah produksi Hitmaker Studios dengan segala insting bisnisnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan franchise ini lebih luas. Ketimbang memilih untuk melanjutkannya ke instalmen ketiga, mereka mencoba membuka pintu spin-off (film cabang) dengan mengkreasi sebuah film khusus untuk sang boneka iblis pembawa kutukan, Sabrina. Sebuah pilihan yang awalnya terdengar masuk akal ini lantas terasa membingungkan ketika saya menyadari bahwa jalinan pengisahannya merupakan kelanjutan dari film kedua. Jadi, ini sebenernya spin-off atau sekuel sih? 

July 12, 2018

REVIEW : SKYSCRAPER


“Tell me, how much do you love your family?” 

Saat kamu memiliki rencana untuk membuat sebuah film laga minim nutrisi berbujet besar yang di dalamnya sarat ‘boom boom bang’ dan membutuhkan jagoan penuh karisma yang sulit terkalahkan, kamu tentu tahu siapa yang mesti digaet untuk memerankan sang jagoan. Jika tebakanmu adalah Dwayne Johnson (atau The Rock), saya bisa mengatakan bahwa tebakanmu tidaklah meleset. Karena nyaris tidak ada aktor laga Hollywood dalam satu dekade terakhir yang sekarismatik Babang The Rock sampai-sampai dia juga memiliki kekuatan lain berupa pesona yang akan membantu menyelamatkan film dengan naskah seamburadul apapun. Sebuah definisi pahlawan yang sesungguhnya – setidaknya bagi para petinggi studio. Maka begitu Legendary Entertainment mengajukan ide film laga menggunakan kata kunci, “sebuah hiburan teman makan popcorn yang memadukan antara Die Hard (1988) dengan The Towering Inferno (1974)”, kita sudah bisa menerka siapa yang bakal ditugaskan. Usai menyelamatkan keluarga fiktifnya dari bencana alam yang meluluhlantakkan pesisir Atlantik, lalu menjelma menjadi tokoh perkasa dalam mitologi Yunani, dan menjinakkan seekor gorila raksasa yang membabibuta di perkotaan, kini Dwayne Johnson dipercaya untuk mengeluarkan keluarga fiktifnya yang lain (apes bener yaa menjadi anak dan istrinya!) dari gedung pencakar langit yang dilalap kobaran api dalam film terbarunya bertajuk Skyscraper

July 10, 2018

REVIEW : BODYGUARD UGAL-UGALAN


🎵 Lihat aku pandang aku di kiri di kanan, 
di depan di belakang sambil muter-muter, 
pasti terpesona pusing tujuh keliling, 
jantung berdegup keras, 
gubrak gubrak gubrak jeng jeng jeng... 🎵

Begitulah bunyi sepenggal lirik dari tembang terbaru Syahrini berjudul “Gubrak Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng” yang dimanfaatkan sebagai lagu tema utama untuk Bodyguard Ugal-Ugalan. Isi liriknya sih cenderung suka-suka penggubahnya (pokoknya masukkan saja jargon-jargon andalan Syahrini) karena yang lebih penting adalah iramanya bisa bikin khalayak bergoyang. Entah denganmu, tapi buat saya pribadi, lagu ini memang catchy. Baru sekali mendengarnya, kuping langsung kecantol dan tombol replay pun dimanfaatkan. Gara-gara lagu ini, keinginan untuk menyaksikan Bodyguard Ugal-Ugalan pun semakin menguat (yang berarti fungsinya sebagai media promosi berjalan sukses). Sebelumnya, keinginan tersebut muncul semata-mata demi menyaksikan tingkah laku ajaib Princess Syahrini seraya menghibur diri yang memang sedang terserang suntuk. Tidak ada ekspektasi lain. Ya gimana mau berekspektasi, lha wong film ini mengaplikasikan formula bercerita yang sejenis dengan Komedi Moderen Gokil (2015) dan Security Ugal-Ugalan (2017) – keduanya juga diproduksi oleh MD Pictures – yang bikin saya manyun sepanjang durasi. Alhasil, saat memutuskan membeli tiket untuk Bodyguard Ugal-Ugalan, harapan saya tidak lebih dari bisa tergelak karena menyaksikan Inces (sapaan akrab Princess Syahrini) bermanjyah-manjyah ria di layar lebar. Seperti itu. 

July 9, 2018

REVIEW : KOKI-KOKI CILIK


“Aku harus menang. Aku udah janji biar aku bisa buka rumah makan Bapak lagi.” 

Apakah kamu pernah menyaksikan sebuah acara televisi bertajuk Masterchef Junior? Iya, acara berkonsep kompetisi memasak untuk bocah-bocah dibawah usia 15 tahun yang membuat manusia-manusia dewasa tanpa bakat di dapur merasa masa kecilnya tidak berharga itu lho. Apabila kamu pernah menyaksikannya, tentu mengetahui bagaimana serunya para bocah minim pengalaman ini kala berlomba, menghadapi tekanan, dan bereksperimen dalam mengkreasi aneka ragam makanan. Selayaknya acara televisi berbasis kompetisi pada umumnya, tentu bubuhan drama tak terelakkan. Tapi kesenangan yang timbul dari menyaksikan acara ini bukan berasal dari drama ribut-ributnya, melainkan disebabkan oleh kreativitas, semangat, dan aura positif para kontestannya. Bikin berdecak kagum sekaligus menstimulasi pikiran bahwa kita pun bisa memasak. Asyik, kan? Nah semangat semacam itulah yang Ifa Isfansyah (Garuda di Dadaku, Sang Penari) coba terapkan dalam film terbarunya bersama MNC Pictures, Koki-Koki Cilik (awalnya berjudul Cooking Camp). Sebuah film untuk seluruh anggota keluarga mengenai dunia masak memasak (dan santap menyantap makanan) dilihat dari sudut pandang dedek-dedek cilik yang diniatkan sebagai pengisi liburan pergantian semester. Sebuah film untuk seluruh anggota keluarga yang diharapkan nantinya tak saja mendorong para penonton cilik untuk menekuni dunia kuliner tetapi juga mendorong para penonton cilik untuk belajar memahami makna sesungguhnya dari cinta, persahabatan, dan kompetisi usai melihat para koki-koki cilik beraksi. 

July 8, 2018

REVIEW : KULARI KE PANTAI


“Kadang-kadang kalau kita lagi takut, kita tidak berpikir jernih.” 

Kapan terakhir kali kamu menonton film keluarga buatan sineas dalam negeri yang bagus di layar lebar? Bagi saya sih tahun lalu saat Naura dan Genk Juara (Eugene Panji, 2017) dirilis. Tapi jika diminta merunut lebih jauh ke belakang, maka ingatan ini mendarat pada tahun 2011 (atau 7 tahun silam!) tatkala terdapat sederet film anak yang layak simak seperti Rumah Tanpa Jendela, Lima Elang, serta Garuda di Dadaku 2. Pilihannya cukup beragam, tak seperti beberapa tahun terakhir yang sudah bisa dikategorikan sebagai musim paceklik. Ketimbang memproduksi film anak, rumah produksi lebih asyik menggarap film remaja yang secara tema pun seragam. Sedih sekali hati Abang! Berkaca pada fenomena memilukan ini dan menyadari krucil-krucil di rumah juga butuh tontonan hiburan di bioskop, Miles Films merasa memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan sebuah sajian yang bisa diakses oleh seluruh anggota keluarga. Terlebih, mereka adalah penghasil dua film keluarga fenomenal, Petualangan Sherina (2000) dan Laskar Pelangi (2008), yang sanggup mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong memenuhi bioskop. Oleh karena itu, duo maut Mira Lesmana dan Riri Riza pun memutuskan untuk menunda sejenak proyek akbar mereka (baca: biopik Chairil Anwar) demi sesuatu yang urgensinya lebih nyata yakni mengkreasi sebuah film keluarga bertajuk Kulari ke Pantai

July 7, 2018

REVIEW : ANT-MAN AND THE WASP


“I do some dumb things, and the people I love the most, they pay the price.” 

Bagaimana perasaanmu setelah menyaksikan Avengers: Infinity War tempo hari? Adakah awan mendung yang menaungi hatimu selama berhari-hari? Saya cukup yakin, tidak sedikit diantara kalian yang akan menjawab “ada” karena seperti itulah perasaan saya selama beberapa saat selepas menonton gelaran superhero tersebut. Hati ini tersayat-sayat. Sebalnya lagi, si pembuat film membiarkan rasa itu terus menghantui hati sensitif ini sampai setahun ke depan mengingat instalmen kelanjutannya baru muncul pada bulan Mei 2019. KZL. Meski Marvel Studios bisa dibilang “Raja Tega”, tapi mereka sebetulnya tidak benar-benar tega membiarkan para penggemarnya nelangsa berkepanjangan kok. Buktinya, mereka menghadirkan Ant-Man and the Wasp yang diniatkan sebagai detoks atau obat penawar setelah dua seri sebelumnya dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe (baca: Infinity War dan Black Panther) dituturkan secara kelam dan mendalam sampai-sampai berani disusupi subteks berkaitan dengan politik serta feminisme. Seperti halnya jilid pertama, Ant-Man and the Wasp yang masih dinahkodai oleh Peyton Reed (Bring It On, Yes Man) ini adalah film superhero berskala 'kecil' dengan guliran penceritaan ringan-ringan saja yang tujuannya tidak lebih dari sekadar menghibur. Misi utama sang pahlawan dalam franchise ini bukanlah menyelamatkan masyarakat atau bumi atau alam semesta, melainkan menyelamatkan unit terkecil dari masyarakat tapi terhitung sebagai harta yang paling berharga bagi setiap umat manusia: keluarga. 

July 5, 2018

REVIEW : HEREDITARY


“Sometimes I swear I can feel her in the room.” 

Sebelum kamu memutuskan untuk menebus tiket Hereditary di loket bioskop, ada satu pertanyaan yang mesti kamu jawab dengan sejujur-jujurnya: apa ekspektasimu terhadap film ini? Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menimbulkan keragu-raguan, melainkan demi menetapkan pengharapan yang semestinya agar tidak keluar dari gedung bioskop dengan muka yang ditekuk-tekuk sedemikian rupa (sampai tak berbentuk lagi). Betapa tidak, Hereditary yang kerap disebut-sebut sebagai ‘film horor paling seram’ oleh kritikus di negeri Paman Sam ini bukanlah tontonan seram konvensional yang bergantung pada serentetan penampakan hantu dengan tata rias kelas wahid demi membuat penontonnya menjerit-jerit sampai mengibarkan bendera putih atau terlonjak dari kursi bioskop sampai menembus atap. Bukan. Jika kamu menengok distributor dari Hereditary, yakni A24, dan mengetahui jejak rekam mereka dalam mendistribusikan film horor (beberapa judul rilisan mereka adalah The Witch dan It Comes at Night), maka tidak ada kesulitan untuk menerka gelaran seperti apa yang bakal disajikan oleh Ari Aster dalam karya panjang perdananya ini. Hereditary tidak bergegas dalam bercerita dan memilih untuk melantunkannya secara perlahan-lahan. Cara ini mungkin tidak akan cocok bagi sebagian penonton, tapi jika kamu bisa menerima sajian bertipe ‘slow burn’, Hereditary akan menggoreskan memori buruk (dalam arti positif bagi film horor) setapak demi setapak. 
Mobile Edition
By Blogger Touch