October 23, 2018

REVIEW : THE NIGHT COMES FOR US


“I can’t kill what’s already dead.” 

Siapa diantara kalian yang seketika mendengus kecewa begitu mengetahui The Raid 3 batal dibuat? Tolong dong tunjuk tangan dan mari bergabung dengan saya di barisan patah hati. Setelah respon buat film kedua tak segegap gempita film pendahulunya sementara ongkos produksinya lebih gede, saya sebetulnya bisa memaklumi… meski tetap saja kecewa. Terlebih saya begitu mengagumi dwilogi The Raid (serius, sampai sekarang masih nggak percaya itu film laga berasal dari Indonesia!) dan masih berharap Gareth Evans berinisiatif bikin film kelanjutan, sempalan, atau apapun jenisnya. Beberapa upaya untuk tetap menghidupkan genre ini terus dilakukan di perfilman Indonesia: dari yang penggarapannya serius sampai ngasal nggak karuan. Diantara yang serius (dan ini dikit banget jumlahnya, yaelah!) adalah sutradara spesialis sajian berdarah, Timo Tjahjanto (Rumah Dara, Sebelum Iblis Menjemput), yang merupakan salah satu dari personil The Mo Brothers. Dia melakukan eksperimen gelaran laga melalui Killers (2014) yang bertempo lambat dan Headshot (2016) yang masih terasa kurang luwes di adegan bak bik buknya sekalipun turut merekrut jebolan The Raid. Tak patah arang, Timo melaju dengan proyek jauh lebih ambisius bertajuk The Night Comes for Us yang menandai untuk pertama kalinya bagi film Indonesia tergabung dalam original content keluaran situs penyedia jasa streaming terbesar di dunia, Netflix. Melalui film yang telah dipersiapkan sedari tahun 2014 ini, Timo unjuk kebolehan yang sekaligus membuktikan bahwa kemampuannya dalam menggarap film laga telah menunjukkan perkembangan signifikan dan kegilaan visualnya bisa sangat melampaui batas saat sensor tak lagi membelenggu. 

October 21, 2018

REVIEW : TENGKORAK


“Kalau 2 meter itu mungkin manusia purba. Tapi yang ditemukan di Yogyakarta ini kan 1,85 kilometer.” 

Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan selalu mengenang 27 Mei 2006 sebagai salah satu hari termuram dalam hidup mereka. Betapa tidak, pada tanggal tersebut di suatu pagi yang cerah, gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter menggoyang DIY. Efek samping yang ditimbulkannya pun tak main-main. Menurut laporan media massa, gempa ini mengakibatkan ribuan jiwa melayang dan ratusan ribu bangunan mengalami kerusakan dalam berbagai tingkatan. Yang tak dilaporkan oleh media massa, gempa tersebut menyingkap sebuah fosil kerangka manusia dengan ukuran gigantis: mencapai 1,85 kilometer! Tapi tentu saja, penemuan menggegerkan ini bukanlah sebuah peristiwa nyata – jika benar, sudah ributlah seantero dunia – melainkan imajinasi dari seorang dosen di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bernama Yusron Fuadi. Oleh Yusron, imajinasinya ini dituangkan ke dalam sebuah film bertajuk Tengkorak yang menempatkannya sebagai sutradara, penulis skenario, pemain, sinematografer, sekaligus penyunting gambar. Sungguh seseorang yang multitalenta ya! Rangkap jabatan dimungkinkan lantaran skala produksi Tengkorak terbilang sangat kecil sampai-sampai tahapan produksinya pun memakan waktu hingga tiga tahun akibat kekurangan ongkos produksi. Perjuangan panjang tim produksi yang melelahkan akhirnya terbayar tuntas ketika Tengkorak yang semula berkeliling ke festival-festival film memperoleh kepastian untuk menjangkau penonton luas dengan ditayangkan di jaringan bioskop komersil. 

October 19, 2018

REVIEW : FIRST MAN


“That’s one small step for man, one giant leap for mankind.” 

Meski tak ada lagi suara gebukan drum yang intens maupun dua sejoli bersenandung dengan indah, karya terbaru dari sutradara penggenggam piala Oscar, Damien Chazelle (Whiplash, La La Land) yang bertajuk First Man masih mengusung tema kesukaannya perihal ‘ambisi dan menggapai mimpi’. Tak tanggung-tanggung, subjek kulikan Chazelle kali ini adalah sosok nyata yang namanya terukir di sejarah dunia sebagai manusia pertama yang menjejakkan kaki di bulan, yakni Neil Armstrong. Disadur dari buku rekaan James R. Hansen, First Man: The Life of Neil A. Armstrong, si pembuat film tak hanya merekonstruksi peristiwa bersejarah tersebut yang masih diyakini oleh sebagian umat manusia sebagai kebohongan belaka tetapi juga menelusuri sisi personal dari sang astronot yang tak banyak diketahui oleh khalayak ramai termasuk pergolakan batin yang mewarnai detik-detik jelang peluncuran Apollo 11 (kendaraan ruang angkasa yang berjasa dalam membawanya membumbung ke bulan). Sebuah materi untuk sajian biopik yang menggugah selera, tentu saja, terlebih sang sutradara memilih untuk melantunkan penceritaan dengan metode character-driven dengan memanfaatkan sosok Neil Armstrong. Metode ini memang memungkinkan bagi penonton untuk melongok masa-masa penting bagi misi penjelajahan luar angkasa ini secara intim. Namun resiko yang diboyongnya pun tak kecil terutama jika karakter yang dimanfaatkan sebagai kacamata penonton tak cukup kuat dalam menggugah ketertarikan. 

October 17, 2018

REVIEW : GOOSEBUMPS 2: HAUNTED HALLOWEEN


“Let me get this straight. We’re living a Goosebumps story right now?” 

Sebagai seorang bocah yang tumbuh besar ditemani rangkaian cerita seram Goosebumps rekaan R.L. Stine, saya tentu bahagia tatkala Sony Pictures mengumumkan rencana untuk memboyong Goosebumps ke format film layar lebar. Baru membayangkan para monster rekaan Stine berkeliaran di depan mata saja sudah bikin berjingkat-jingkat apalagi saat menontonnya di bioskop. Nostalgia masa kecil menyeruak! Dan untungnya, versi film panjang yang dilepas pada tahun 2015 silam ini tak mengecewakan dan terbilang mengasyikkan buat ditonton. Memenuhi segala pengharapan yang bisa disematkan untuk tontonan ini. Ada Slappy si boneka ventriloquist yang licik beserta konco-konconya sesama monster menebar teror yang cukup mengerikan bagi penonton cilik, ada petualangan seru dua remaja ditemani oleh Stine (diperankan oleh Jack Black) dalam upaya mereka menyelamatkan dunia dari cengkraman monster-fiktif-menjadi-nyata ini, dan tentunya, ada humor menggelitik yang menyertai. Narasinya yang menempatkan manuskrip Stine sebagai sumber mencuatnya petaka harus diakui cukup kreatif sehingga memungkinkan si pembuat film untuk mempertemukan penonton dengan karakter-karakter favorit dari berbagai judul yang sejatinya tak saling berkaitan. Syukurlah, upaya untuk mempertahankan legacy dari Goosebumps ini memperoleh sambutan hangat baik dari kritikus maupun penonton, jadi kehadiran sebuah sekuel pun tak terelakkan dan saya jelas sama sekali tak merasa keberatan. Saya malah ingin franchise ini terus berkembang! 

October 15, 2018

REVIEW : MENUNGGU PAGI


“Emang kalau udah putus masih bisa temenan, gitu?” 
“Semua cowok kan kayak gitu. Habis putus maunya musuhan. Lebih gampang buat kalian.” 

Dunia malam ibukota tak lagi asing bagi Teddy Soeriaatmadja. Dia pernah menempatkannya sebagai panggung utama untuk memfasilitasi berlangsungnya reuni dadakan antara seorang ayah dengan anak perempuannya dalam Lovely Man (2011), dan dia kembali memanfaatkannya melalui Something in the Way (2013) demi menonjolkan pergulatan hati si karakter utama yang dikisahkan taat beragama. Bagi Teddy, ada banyak cerita menarik yang bisa dikulik dari manusia-manusia kalong di Jakarta utamanya berkaitan dengan hal-hal tabu yang biasanya enggan diperbincangkan ketika cahaya matahari masih bersinar terang lantaran polisi moral bebas kelayapan. Teddy mengambil langkah berani di kedua film ini yang membenturkan moral agama dengan seks dalam upayanya untuk memaparkan realita bahwa nafsu syahwat tak tebang pilih dalam ‘berburu inang’. Mengingat topik pembicaraannya yang bernada sensitif, tidak mengherankan jika film-film tersebut lebih memusatkan peredarannya di ranah festival film yang cenderung merangkul perbedaan alih-alih bioskop komersial yang memberlakukan sensor. Berulang kali berkelana ke beragam festival film dunia – termasuk membawa About a Woman (2014) yang mengedepankan topik senada – Teddy akhirnya memutuskan untuk sedikit bermain aman demi mempertontonkan film terbarunya, Menunggu Pagi, pada khalayak lebih luas. Temanya masih berkutat dengan dunia malam, hanya saja sekali ini fokusnya adalah sekelompok remaja dan perbincangannya tak semuram, seberat, sekaligus sekontroversial dibandingkan trilogy of intimacy di atas. 

October 12, 2018

REVIEW : ASIH


“Aku mengenalnya sebagai Kuntilanak, kalian mengenalnya sebagai Asih.” 

Apakah kamu masih ingat dengan sesosok hantu perempuan yang meneror Risa Saraswati (Prilly Latuconsina) di Danur jilid pertama (2017)? Jika kamu lupa-lupa ingat – atau malah tidak tahu menahu – saya bantu menyegarkan ingatanmu. Dalam film tersebut, Risa berhadapan dengan sesosok perempuan bernama Asih (Shareefa Daanish) yang mulanya dianggap sebagai pengasuh biasa. Tak lama semenjak kehadiran Asih di sekitarnya, serentetan peristiwa ganjil mulai bermunculan satu demi satu hingga puncaknya Risa mesti menjelajah dunia astral demi menyelamatkan adiknya yang diculik oleh Asih. Kamu mungkin bertanya-tanya, siapa sih pengasuh gaib ini? Apa motif yang melatari tindakannya? Penonton telah diberi sekelumit masa lalunya yang tragis sebagai fallen woman. Dia hamil di luar nikah, dicampakkan oleh keluarga beserta tetangganya, lalu memutuskan untuk mengakhiri hidup di bawah pohon besar selepas membunuh bayinya. Penjelasan lebih lanjut mengenai kehidupannya sebelum berbadan dua tak dijabarkan seolah disimpan untuk mengisi materi bagi spin-off. Ya, disamping cerita induk, materi sumbernya turut mempunyai beberapa cerita cabang yang menyoroti kisah para hantu yang mewarnai hidup Risa termasuk Asih. Sebuah materi yang memungkinkan bagi MD Pictures untuk mengkreasi Danur universe dalam rangkaian film mereka sebagai bentuk ‘perlawanan’ bagi The Conjuring universe

October 8, 2018

REVIEW : VENOM


“Eyes, lungs, pancreas. So many snacks, so little time!” 

Rencana untuk membuatkan satu film tersendiri bagi salah satu musuh bebuyutan Spider-Man, Venom, sejatinya telah mengemuka sejak lama. Di era 1990-an, New Line Cinema pernah mencetuskan gagasan tersebut yang tak pernah mendapat tindak lanjut, dan memasuki era 2000-an, gagasan tersebut beralih ke Sony Pictures yang tergoda untuk menciptakan mesin pencetak uang baru mengandalkan nama Venom yang dikenalkan ke publik melalui Spider-Man 3 (2007). Tapi serentetan masalah dibalik cap dagang Spider-Man (meliputi perbedaan kreatif diikuti kegagalan The Amazing Spider-Man 2) memaksa pihak studio untuk meninjau ulang rencana ambisisus mereka. Terlebih, apakah publik sudah siap dalam menerima film yang mengetengahkan sepak terjang sesosok supervillain? Terus mengalami tarik ulur selama beberapa tahun, proyek ini akhirnya memperoleh kejelasan status di tahun 2016 usai Sony berinisiatif menciptakan Marvel Universe milik mereka sendiri tanpa bersinggungan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) sekalipun Spidey telah bersarang di sana – meski tidak menutup kemungkinan buat dipersatukan mengingat Sony kekeuh mempertahankan Venom dengan rating PG-13 demi bisa dipersatukan bersama MCU. Guna merealisasikan Venom yang sekali ini tak memiliki relasi dengan Spidey, Ruben Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) pun dipercaya untuk mengomandoi proyek, sementara Tom Hardy diserahi posisi pelakon utama yakni seorang jurnalis yang dijadikan inang oleh si simbiot bernama Eddie Brock. 

October 5, 2018

REVIEW : SOMETHING IN BETWEEN


“Bagaimana mungkin sesuatu yang tak pernah kita alami, bisa hadir senyata kenangan?” 

Sedari Screenplay Films melepas film pertamanya, Magic Hour (2015), saya nyaris tak pernah absen untuk menyaksikan persembahan terbaru mereka di bioskop. Padahal saya tahu betul ada harga yang harus dibayar mahal usai menonton film-film tersebut, yaitu migrain berkepanjangan. Selepas London Love Story 3 tempo hari yang (lagi-lagi) bikin barisan penonton remaja tersedu-sedu sementara diri ini hanya bisa merapalkan doa kepada Tuhan supaya diberi ketabahan, saya akhirnya memutuskan untuk rehat sejenak dari aktifitas menyiksa diri sendiri ini. Terlebih, dek Michelle Ziudith yang ratapan-ratapan mautnya menjadi salah satu alasan mengapa saya rela ‘disiksa’ tidak menampakkan diri di film berikutnya. Butuh menghela nafas, butuh liburan! Proses hibernasi yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya ini lantas diputuskan untuk berakhir setelah beberapa kawan membujuk rayu saya untuk menyimak Something in Between yang mempertemukan Jefri Nichol dengan Amanda Rawles untuk keenam kalinya. Tanpa membawa sedikitpun pengharapan (kecuali filmnya bakal ajaib), saya yang membutuhkan waktu selama sepekan untuk meyakinkan diri bahwa pengorbanan ini akan sepadan sama sekali tak menduga bahwa Something in Between ternyata bisa untuk dinikmati. Siapa yang menyangka, lho? Rasanya ingin menangis bahagia karena akhirnya ada film percintaan dari rumah produksi ini yang mendingan! 
Mobile Edition
By Blogger Touch