November 4, 2018

REVIEW : BOHEMIAN RHAPSODY

 

“I love the way you move on stage. The whole room belongs to you. Don't you see what you can be?” 

Siapa sih yang tidak mengenal Queen? Kecuali kamu tinggal di dalam gua dan tidak pernah sekalipun bersentuhan dengan musik sepanjang hidup, minimal kamu pasti pernah mendengar tembang-tembang ini dikumandangkan: We Are the Champions, We Will Rock You, I Want to Break Free, sampai Love of My Life. Ya, lagu-lagu tersebut digubah oleh salah satu band terbesar yang pernah ada di muka bumi, Queen. Tidak hanya memiliki koleksi lagu yang tak lekang digerus zaman, band ini pun mempunyai sejarah panjang penuh lika-liku khususnya saat berhubungan dengan vokalisnya yang legendaris, mendiang Freddie Mercury. Ada banyak cerita yang bisa diutarakan, ada banyak pengalaman yang bisa dibagikan, dan ada banyak pula pencapaian yang bisa dirayakan. Membutuhkan lebih dari dua jam (dan lebih dari satu film dengan pendekatan berbeda) untuk bisa merangkum perjalanan karir Queen dari A sampai Z. Itulah mengapa, proses penggarapan film biopik Queen bertajuk Bohemian Rhapsody – meminjam judul dari salah satu lagu terbesar mereka – yang telah dicetuskan sedari tahun 2010 oleh dua punggawanya yang masih tersisa, Brian May dan Roger Taylor, terus menerus terbentur oleh serangkaian perbedaan kreatif. Entah itu dari pergantian pemain dari semula Sacha Baron Cohen (kalian mengenalnya sebagai Borat), perombakan skenario, sampai divisi penyutradaraan yang bermasalah: Bryan Singer (The Usual Suspects, X-Men: Days of Future Past) hengkang di menit-menit terakhir sebelum digantikan oleh Dexter Fletcher. Jika kemudian kalian merasa bahwa Bohemian Rhapsody berakhir sebagai film biopik yang kurang memuaskan, kalian tahu darimana cikal bakalnya. 

Rentang waktu yang dipilih untuk menggulirkan narasi Bohemian Rhapsody adalah sedari tahun 1970 hingga 1985. Kita melihat Freddie Mercury (Rami Malek) masih sebagai pemuda biasa berdarah Parsi dengan nama Farrokh Bulsara yang kurang diterima di lingkungannya karena dia adalah seorang imigran. Jalan hidupnya yang kurang baik – dipenuhi pelarian, penolakan, sampai pertikaian – berangsur-angsur mulai berubah saat dia bertemu dengan personil band Smile, Brian May (Gwilym Lee) dan Roger Taylor (Ben Hardy), yang baru saja kehilangan vokalis. Freddie mengajukan diri untuk mengisi kekosongan personil dan ditambah dengan kehadiran basis anyar, John Deacon (Joseph Mazzello), mereka pun membentuk band baru bernama Queen. Telah memiliki basis penggemar yang loyal dari formasi band terdahulu, mudah bagi Queen untuk mendapat panggilan manggung terlebih Freddie dikaruniai vokal beserta atraksi panggung yang mengagumkan. Melimpah ruahnya panggilan dari kampus ke kampus ini nyatanya tak lantas membuat Freddie puas karena dia menginginkan sesuatu yang lebih. Usai menjual van milik band, Freddie nekat mengajak rekan-rekannya untuk merekam sebuah album. Tanpa dinyana-nyana, proses rekaman ini menarik perhatian petinggi di EMI Records yang lantas meminang mereka dengan kontrak rekaman. Dukungan dari label besar memungkinkan bagi Queen untuk berkembang lebih jauh baik dari sisi kreativitas maupun popularitas. Menapaki pertengahan era 70-an, Queen tak lagi jago kandang, melainkan telah dielu-elukan oleh para penikmat musik di berbagai penjuru dunia. Bersamaan dengan ketenaran yang terus melambung, serangkaian masalah pribadi turut mendera yang secara perlahan tapi pasti mengancam keutuhan band.


Menonton Bohemian Rhapsody di layar lebar (jika bioskop di kotamu menayangkannya di layar terbesar, kejar!) memberikan perasaan yang campur aduk selepasnya. Terpuaskan di satu sisi, kurang menemukan greget di sisi lain. Pemicu utamanya adalah keinginan si pembuat film untuk menceritakan semua-muanya mengenai kebesaran Queen dalam durasi yang sempit. Mengingat rentang waktu yang dicuplik oleh narasi sepanjang 15 tahun, kamu tentu bisa membayangkan sendiri ada berapa banyak konflik yang hilir mudik menghampiri tubuh band ini kan? Betul, ada banyak sekali yang ingin diceritakan oleh Bohemian Rhapsody seperti: 

- pertentangan dengan petinggi EMI Records demi mempertahankan visi misi sebagai band 
- orientasi seksual Freddie yang meretakkan hubungannya dengan Mary Austin (Lucy Boynton) 
- toxic relationship antara Freddie dengan manajer pribadinya yang memperkeruh kehidupan personal si musisi 
- hubungan Freddie yang kurang harmonis dengan sang ayah 
- Freddie yang merasa kesepian ditengah hiruk pikuk pesta yang dihelatnya hampir tiap malam 
- Freddie divonis mengidap AIDS 
- retaknya Queen selepas sang vokalis memperoleh tawaran untuk berkarir secara solo. 

Saking banyaknya pembahasan membuat film tak pernah benar-benar menonjok di sektor narasi. Kita hanya mengenal sedikit mengenai Farrokh tanpa pernah tahu apa yang membentuknya menjadi Freddie si dewa panggung, kita pun hanya sedikit diberi informasi soal Brian, Roger, dan John tanpa pernah diajak melongok sisi personal mereka. Apabila kamu adalah penggemar berat Queen atau seorang awam yang sedang mencari tahu mengenai sejarah mereka, maka apa yang dipaparkan oleh Bohemian Rhapsody tidak banyak memberikan jawaban lantaran hanya dipaparkan di level permukaan. Belum lagi, beberapa diantaranya tergolong fiktif (hayo tebak yang mana!) atau disesuaikan demi mengejar kepentingan dramatik. 



Tapi jika kamu datang ke bioskop tanpa membawa misi besar kecuali memperoleh penghiburan dan bernostalgia, Bohemian Rhapsody tidak akan membiarkanmu keluar dari bioskop dengan muka bertekuk-tekuk. Rami Malek bersinar sebagai Freddie dengan permainan gesturnya sampai-sampai kamu bisa meyakini bahwa dia adalah jelmaan Freddie (well, dengan catatan kamu bisa memafhumi ketidakmiripan wajah). Dia menunjukkan kerapuhan seorang Freddie, dia menangkap sisi flamboyannya, dan dia pun merangkul atraksi panggungnya yang enerjik seperti halnya nada penceritaan yang diaplikasikan oleh Bohemian Rhapsody. Meski tragis bersinonim erat dengan kehidupan si vokalis, kamu akan lebih banyak mendapati humor lucu dari silang pendapat antar personil dan gegap gempita mengikuti barisan lagu Queen yang sebagian besar diantaranya bercita rasa megah nan antemik dalam film ini. Ya, film menampakkan sisi terbaiknya ketika menyoroti proses rekaman dari beberapa hits serta saat mengajak kita naik ke atas panggung – atau dengan kata lain, tatkala tembang-tembang Queen menggema di dalam bioskop. Untuk sesaat, kamu akan melupakan segala beban hidup di luar sana, kamu akan memaafkan jalinan pengisahan dari film yang kurang dalam, lalu kamu pun tergoda untuk ikut menghentak-hentakkan kaki seraya bersenandung “we will, we will rock you…” seolah-olah sedang berada di salah satu konser Queen. Elemen musikalnya memang tergarap sangat efektif, lebih-lebih pada momen pamungkasnya yang merekonstruksi Live Aid 1985 di Stadion Wembley, London, menggunakan campuran performa para aktor, footage asli dengan rekayasa digital. Asli, saya merinding disko dibuatnya!

Exceeds Expectations (3,5/5)

8 comments:

  1. Replies
    1. Keretakan dalam tubuh band karena keputusan Freddie buat bersolo karir dan berujung ke reuni di Live Aid. Faktanya, nggak pernah ada keretakan itu karena masing-masing personil punya solo project. Live Aid juga bukan jadi ajang reuni.

      Delete
  2. Rami malek all out bgt di sini. Emosinya ketransfer ke penonton (baca: suami sampe berkaca2 di momen2 akhir).
    aku sendiri sangat menikmati film ini, kecuali pas nge-gap ada penonton asik ngerekam konser live aid pake kamera. Pengen banget ku getok kepalanya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adegan rekonsiliasi dan Live Aid emang nampol sih.
      Kalau nemu lagi penonton yang ngerekam, tampol saja langsung. Gilinggg... Masih adaaaa aja penonton kek gini. Lagian rekaman konser Live Aid yang nampilin Queen asli bisa ditemuin dengan mudah di internet. Aneh 😤

      Delete
  3. Queen dan Freddie gak pernah retak, namun rasa jenuh mungkin ada terutama pada kegalauan Freddie. Awal 80an sedang terjadi trend ketika vokalis utama atau para front-man mencoba solo karier. Misalnya Ian Gillan, Phill Collins, Roger Waters, tentu dgn masalah masing2. Bohemian Rhapsody memang terasa mengecewakan bagi para die hard, tapi memuaskan jika digunakan sbg media bahkan propaganda bagi anak2 mereka (generasi muda) tentang dahsyatnya atmosfir musik era 60 - 80an.
    https://posmusica.wordpress.com/2018/11/04/freddie-mercury-michael-jackson/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Film ini terbilang berhasil sebagai media perkenalan ke generasi muda yang tak akrab dengan Queen. Elemen musikalnya efektif yang menangkap kemegahan dan gegap gempita dalam lagu Queen sehingga bikin kita ingin mendengarkannya lagi selepas nonton film.

      Delete
  4. saya nonton ini hanya dengan misi untuk bernostalgia dengan lagu2 Queen, karena klo cuman mau terharu saya cukup nonton live show Queen saja hahahaha
    dan yah, film ini cukup berhasil dalam membawa saya bernostalgia akan betapa superior nya lagu2 rock tahun 70-80 an, sampe2 saya terus bernyanyi di 15 menit terakhir film hahahaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes. Sekadar buat bernostalgia, film ini memang memuaskan. Sensasinya pun seperti sedang menonton film konser. Tata suaranya ciamik sekali.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch