May 18, 2019

REVIEW : POKEMON: DETECTIVE PIKACHU


“I don’t need a Pokemon. Period.”

“Then what about a world class detective? Because if you wanna find your pops, I’m your best bet.”

Apakah ada diantara kalian yang semasa kecilnya terobsesi dengan Pokemon? Mantengin setiap episode dari versi animenya yang tayang saban hari Minggu pagi, hafal diluar kepala setiap spesies berikut kekuatan-kekuatannya (dan juga lagu temanya!), sampai berharap bisa menjadikan pelatih Pokemon sebagai profesi utama. Adakah? Jika ada, well, berarti kita sama. Pokemon adalah bagian dari masa kecil saya dan pada masa itu, diri ini benar-benar berharap bahwa mereka memang nyata adanya sehingga saya bisa melatih Charizard, Squirtle, Bulbasaur, Pikachu, maupun dua jenis Pokemon yang tak bisa diharapkan: Magikarp dan Psyduck. Sounds fun! Tapi seiring meredupnya popularitas anime ini di Indonesia lantaran kanal televisi lokal memberhentikan penayangannya dan saya bukan pula seorang gamer sejati, ikatan dengan Pikachu bersama kawan-kawannya pun perlahan mengendur. Tak lagi mengikuti perkembangannya, tak lagi mengenal para karakternya yang semakin bejibun (versi game sendiri sudah mencapai generasi ke-7!). Saya hanya sesekali mendengar nama ini disebut tatkala muncul versi terbaru dari game dan film animasinya yang masih sangat populer di Jepang. Hubungan dengan para monster menggemaskan yang terputus ini lantas mengalami rekonsiliasi ketika Nintendo menciptakan gebrakan dengan meluncurkan edisi anyar berbasis augmented reality yang memungkinkan pemegang ponsel cerdas ikut bermain tanpa harus memiliki konsol gim tertentu, yakni Pokemon Go. Keberadaan judul ini menguarkan aroma nostalgia kuat yang kemudian dimanfaatkan secara cerdik oleh Warner Bros. untuk melepas Pokemon dalam format film layar lebar berdasar salah satu judul permainan bertajuk Detective Pikachu.

April 29, 2019

REVIEW : 27 STEPS OF MAY


“Bapak nggak salah.”

Dalam kasus pelecehan seksual, siapa sebetulnya yang patut dipersalahkan dan semestinya menerima ganjaran atas “ketidakberdayaannya”? Apakah pelaku yang tunduk kepada hawa nafsunya atau korban yang tak kuasa dalam memberi perlawanan? Apabila fungsi hukum diberlakukan secara semestinya serta bersedia patuh pula pada akal sehat maupun bukti-bukti, maka sudah barang tentu pelaku adalah pihak yang sepatutnya bertanggungjawab. Sebab, mereka telah memaksakan kehendak kepada orang yang tak pernah memberikan persetujuan atas tindakan-tindakan mereka. Akan tetapi, realita di lapangan nyatanya tak berbicara demikian karena para penegak hukum (sekaligus masyarakat tukang ikut campur) merasa bahwa letak kesalahan justru ada di korban lebih-lebih jika kasus ini merundung perempuan. Alih-alih mempertanyakan motivasi pelaku, mereka justru mengemukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban seperti: apa pakaian yang dikenakan oleh si A? Saat diperkosa atau dilecehkan, apa benar dia tidak sedang dalam pengaruh narkoba atau minuman beralkohol? Kenapa sih si A malah pergi ke tempat kejadian perkara padahal sudah memahami resikonya? Bukannya perempuan seharusnya sudah mendekam di rumah ya selepas jam-jam tertentu? Dalam pandangan publik yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki (secara sadar maupun tidak), korban nyaris mustahil untuk menang. Kalaupun akhirnya ditindaklanjuti, jalan keluar yang diambil seringkali bersifat kekeluargaan ketimbang benar-benar menindak tegas perbuatan pelaku sehingga tak mengherankan jika kemudian banyak yang memilih untuk bungkam dan tenggelam dalam trauma.

April 26, 2019

REVIEW : AVENGERS: ENDGAME


“We lost. All of us. We lost friends. We lost family. We lost a part of ourselves. This is the fight of our lives.”

Sejujurnya, saya masih agak kesulitan dalam memformulasikan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan seperti apa pengalaman menonton Avengers: Endgame. Yang jelas, instalmen pamungkas dari sepuluh tahun terakhir Marvel Cinematic Universe (MCU) ini merupakan sebuah sajian spektakuler. Saya bisa mencapai kesimpulan demikian karena saya masih bisa dibuat menangis sesenggukan berulang kali (!) sementara di waktu yang sama, diri ini dihujani sederet gangguan yang sungguh mendistraksi fokus berupa:  a) sepasang kekasih di kursi sebelah asyik berdiskusi dengan volume suara cukup kencang seolah-olah sedang berada di kafe, b) krucil-krucil berusia tak lebih dari 5 tahun mengoceh tak karuan yang akhirnya baru berhenti setelah orang tuanya saya tegur, dan c) sinar ponsel yang menyilaukan dari penonton yang tak tahu caranya menurunkan brightness. Bisa dibayangkan dong betapa dongkolnya mesti berhadapan dengan manusia-manusia yang tidak mempunyai kepekaan semacam ini? Anehnya, Avengers: Endgame tetap membawa saya pada pengalaman menonton yang mungkin saja tidak akan dijumpai dalam waktu dekat. Ada banyak gegap gempita yang membuat saya girang bukan main bak bocah cilik yang baru saja diberi mainan baru, ada banyak canda tawa yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal sampai perut mengencang, ada banyak hamparan visual mencengangkan yang membuat rahang saya terjatuh ke lantai, dan ada banyak momen-momen emosional yang membuat saya urung ke toilet lantaran cairan dalam tubuh telah dikeluarkan melalui mata. Berlebihan? Tunggu hingga kalian mengetahui kalau tubuh saya bergetar selama bermenit-menit selepas menonton dan tidak tahu lagi harus mengucap apa.

April 23, 2019

REVIEW : RUMPUT TETANGGA


“Ketika kita tidak bahagia dengan apa yang kita lakukan, selalu tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, kita akan cenderung menyakiti orang lain di sekitar kita.”

Jujur, saat pertama kali saya mengetahui kalau Rumput Tetangga dihasilkan oleh RA Pictures yang merupakan rumah produksi milik Raffi Ahmad, tak ada sedikitpun ketertarikan untuk mengetahuinya lebih jauh. Belum apa-apa, diri ini sudah bersikap skeptis dan menaruh prasangka buruk. “Palingan film ini tidak jauh berbeda dengan produksi terdahulu” adalah komentar yang kala itu meluncur dari mulut saya yang pedas. Bagi kalian yang tergolong rutin (atau minimal pernah) menyaksikan film-film keluaran mereka, tentu bisa mafhum mengapa saya bersikap demikian. Ada pengalaman traumatis tersendiri selepas menonton Rafathar (2017, masih mengaplikasikan nama RNR Pictures), lalu Dimsum Martabak (2018) serta The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018) yang sudah cukup membuat saya mengibarkan bendera putih buat mencicipi koleksi horor lain keluaran RA Pictures. Alih-alih menikmati, saya justru dibuat ngedumel, terkantuk-kantuk, sampai mengoleskan minyak angin agar bisa bertahan hingga penghujung durasi. Cobaannya sungguh berat, saudara-saudaraaaa…. (!). Saking kapoknya, saya nyaris tak melirik Rumput Tetangga sampai kemudian mendapat panggilan tugas dari bapak atasan untuk meliput film ini. Cenderung ogah-ogahan pada mulanya, sikap suudzon ini mendadak luntur begitu membaca sinopsinya yang harus diakui sangat menggugah selera. Rumput Tetangga mengedepankan premis relatable bagi banyak orang berbunyi “bagaimana seandainya kamu mendapat kesempatan untuk menjalani kehidupan yang selama ini kamu impikan?” sekaligus menghantarkan pesan moral terkait mensyukuri hidup yang sedikit banyak melemparkan ingatan ini kepada It’s a Wondeful Life (1946), The Family Man (2000), dan Medley (2007).

April 22, 2019

REVIEW : POCONG THE ORIGIN


“Ananta itu punya ilmu banaspati. Dan kalau tidak dikubur di tanah kelahirannya, yang mati itu bisa bangkit lagi, Pak.”

Trailer Pocong The Origin memang menarik. Sedikit banyak mengingatkan diri ini kepada film horor produksi Starvision terdahulu, Kafir (2018), yang lebih banyak mengandalkan atmosfer mengusik kenyamanan alih-alih parade jumpscares untuk menebar teror. Tapi bagi saya pribadi, materi promosi tersebut bukanlah faktor utama yang melandasi ketertarikan untuk menonton Pocong The Origin. Saya baru benar-benar menentukan pilihan setelah sang sutradara, Monty Tiwa (Keramat, Critical Eleven), membeberkan satu fakta besar dalam helatan gala premiere yang seketika membuat saya berseru “okay, I am sold!”. Fakta yang dibocorkan oleh Monty adalah… Pocong The Origin ternyata merupakan “reinkarnasi” dari film bertajuk Pocong (2006) garapan Rudi Soedjarwo! Sebagian dari kalian yang tidak familiar dengan judul ini mungkin bertanya-tanya, “apa sih yang membuatnya istimewa? Apakah ini adalah film horor yang sangat keren? Tapi kok saya tidak pernah mendengar judul ini?.” Satu hal yang perlu kalian ketahui yaitu Pocong memang tak pernah mendapat izin dari Lembaga Sensor Film (LSF) untuk ditayangkan ke hadapan publik lantaran mengangkat isu tragedi 1998 yang dinilai sensitif. Sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan, Rudi beserta tim – termasuk Monty di sektor penulisan naskah – pun memutuskan untuk menggarap Pocong 2 (2006) yang kerap disebut-sebut sebagai film horor Indonesia paling menyeramkan. Saya pun mengakuinya dan saya juga tergelitik untuk mengetahui instalmen perdananya. Hmm… kira-kira seseram atau sesadis apakah film pertamanya kok sampai tak lolos sensor? Maka begitu Monty memutuskan untuk menceritakannya kembali dalam wujud Pocong The Origin dengan modifikasi disana-sini, saya pun tak kuasa membendung rasa penasaran.

April 20, 2019

REVIEW : THE CURSE OF LA LLORONA


“Your children are safe now, but have they heard her crying? Have they felt the sting of her tears? They will, and she will come for them.”

Apakah kalian pernah mendengar cerita seram mengenai makhluk halus berwujud perempuan yang gemar menggondol anak-anak selepas Maghrib? Apabila kalian tumbuh besar di Indonesia – terlebih lagi di tanah Jawa – dongeng mistis semacam ini telah menjadi santapan sehari-hari semasa bocah. Sejumlah orang tua kerap menakut-nakuti anak-anaknya dengan berseru, “nanti diculik wewe gombel lho!,” saat si bocah masih kekeuh untuk bermain-main di luar meski matahari telah kembali ke peraduannya. Sosok gaib yang dikenal sebagai wewe gombel tersebut memang menjadi momok yang sangat mengerikan bagi para krucil di tanah air dan beberapa sineas pun melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari folklore ini… termasuk Hollywood! Tatkala membaca tulisan ini, saya yakin banyak diantara kalian yang mengucek-ngucek mata saking terbelalaknya. Masa sih wewe gombel beneran sudah go international? Jika kalian tidak percaya, coba saja tengok The Curse of La Llorona (di sini menggunakan judul The Curse of the Weeping Woman) yang konon kabarnya dipaksakan oleh Warner Bros. untuk masuk ke dalam The Conjuring universe ini. Dalam film tersebut, kalian akan menjumpai sesosok memedi dalam rupa perempuan yang hobi menculik bocah. Bukankah itu sangat terdengar seperti wewe gombel? Betul kan, guys? Guys? Kalian masih di sini kan, guys? Kalau kalian masih di sini, mohon dimaafkan kejayusan ini dan perkenankan saya mengakui sesuatu: The Curse of La Llorona tentu saja bukan film horor soal wewe gombel, melainkan demit asal Meksiko bernama La llorona (diterjemahkan sebagai weeping woman karena sumber teror dimulai dari terdengarnya suara isak-isak tangis perempuan) yang kebetulan mempunyai mitos senada.

April 16, 2019

REVIEW : HOTEL MUMBAI


“I’m scared.”

“We all are. But to get through this, we must stick together.”

Bagi masyarakat India, empat hari di penghujung bulan November pada tahun 2008 akan selalu dikenang sebagai hari-hari terkelam dalam sejarah bangsa. Betapa tidak, kota Mumbai yang dikenal sebagai sentra bisnis mendadak diserang secara membabi buta oleh sekelompok pria bersenjata. Sebanyak 174 jiwa melayang sia-sia, sementara lebih dari 300 penyintas mengalami luka-luka. Serangan dilancarkan ke delapan titik di berbagai penjuru kota, termasuk hotel bintang lima bernama The Taj Mahal Palace Hotel yang kerap menjadi singgahan orang-orang penting dari seluruh dunia. Menilik statusnya sebagai hotel terkemuka, tidak mengherankan jika kemudian lokasi ini menyumbang jumlah korban cukup besar. Ada ratusan manusia yang dijadikan sandera selama tiga hari yang kemudian mendorong media-media asing untuk meliput peristiwa penyanderaan tersebut. Mereka melakukan reportase sekaligus melontarkan tanya berbunyi “siapa dalang dibalik peristiwa ini?”, “apa motivasi yang melandasinya?”, “bagaimana situasi di dalam hotel?”, dan “akankah pasukan khusus dari New Delhi mampu datang tepat waktu untuk menyelamatkan para sandera?.” Empat buah tanya yang harus diakui terdengar seksi nan menggelitik untuk dijadikan sebagai bahan utama bagi lahirnya sebuah film panjang. Dan tentu saja, kesempatan ini tak disia-siakan begitu saja oleh sineas dari India yang lantas menelurkan The Attacks of 26/11 (2013), lalu disusul oleh sineas asal Prancis lewat Taj Mahal (2015, sempat tayang pula di Indonesia), dan paling baru adalah kolaborasi dari tiga negara; Australia, India, serta Amerika Serikat dalam wujud Hotel Mumbai.

April 14, 2019

REVIEW : SUNYI


“Senioritas kan bagus buat character building.”

Jika Indonesia memiliki Jelangkung (2001) yang dianggap sebagai salah satu film paling berjasa dalam membangkitkan kembali perfilman tanah air dari mati suri, maka Korea Selatan mempunyai Whispering Corridors (1998) yang merayakan lahirnya kebebasan dalam berekspresi setelah berpuluh-puluh tahun lamanya pemerintah memberlakukan sensor ketat terhadap industri kreatif. Dalam instalmen pertama dari lima seri film ini – kesemuanya dipersatukan oleh latar tempat dan tema – si pembuat film tak segan-segan melontarkan beragam kritik khususnya perihal sistem pendidikan di Korea Selatan yang dinilai terlalu menekan siswa. Keberaniannya menyuarakan keresahan masyarakat inilah yang membuat Whispering Corridors memperoleh sambutan hangat dari publik, sekalipun secara kualitas tergolong mengenaskan. Setelah mengakhiri franchise lewat A Blood Pledge (2009), atau setidaknya sampai saat ini, “koridor berbisik” memutuskan untuk berkelana ke pasar internasional. Tujuan pertama yang mereka sambangi adalah Indonesia dimana Pichouse Films menunjukkan ketertarikan untuk mengadaptasinya ke dalam versi Indonesia menggunakan tajuk Sunyi. Seperti halnya judul-judul yang tergabung dalam waralaba tersebut, Sunyi pun enggan mengadopsi jalinan pengisahan yang memiliki kesinambungan dengan jilid awal. Satu-satunya benang merah yang dibawanya adalah tema besar yang memperbincangkan soal kebobrokan dalam institusi pendidikan.

April 13, 2019

REVIEW : AVE MARYAM


“Kalau surga saja belum pasti buat saya, untuk apa saya mengurusi nerakamu?”

Jika hanya ada satu kata yang bisa dipilih untuk mendeskripsikan Ave Maryam, maka saya akan memilih kata “cantik”. Film arahan Robby Ertanto (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Dilema) ini memang mempunyai tampilan visual yang akan membuatmu geleng-geleng kepala dan kemungkinan besar bakal menginspirasi para selebgram untuk menghiasi feed mereka dengan pemandangan senada. Ya, sedari teaser trailer-nya pertama kali diperkenalkan ke hadapan publik, Ave Maryam memang telah menyita perhatian berkat gambar-gambarnya yang aduhai. Seolah-olah mengindikasikan bahwa ini bukanlah film buatan sineas tanah air. Disamping visual yang memang didesain untuk memanjakan mata, faktor lain yang mendorong ketertarikan terhadap Ave Maryam – setidaknya bagi saya secara pribadi – adalah tema yang ditawarkan. Memang benar film masih berkutat dengan urusan percintaan, dimana sekali ini turut menjamah area cinta terlarang. Yang kemudian membuatnya tampak berbeda adalah latar penceritaan yang membawa khalayak menapaki teritori yang sangat teramat jarang disentuh oleh perfilman Indonesia, yakni susteran dan Gereja Katolik. Saya ingin melihat bagaimana Ave Maryam merepresentasikan kaum minoritas yang kerap terlupakan dalam sinema tanah air, saya ingin melihat bagaimana si pembuat film mengelaborasi topik pembicaraan yang terhitung sensitif (kisah kasih antara romo dengan suster!), dan saya juga ingin melihat bagaimana film mencoba memberi sedikit warna ditengah monotonnya variasi tema dalam film-film yang menyebutnya sebagai “tontonan reliji”. Terdengar menjanjikan, bukan?

April 10, 2019

REVIEW : PET SEMATARY (2019)


“Sometimes dead is better.”

Dalam beberapa tahun terakhir ini, para petinggi studio raksasa di Hollywood sedang sedang getol-getolnya memberikan interpretasi baru terhadap beberapa karya legendaris Stephen King yang sebelumnya sudah pernah diadaptasi ke medium film. Ada Carrie (2013) yang tidak sedikitpun mendekati versi 1976 yang dapat dikategorikan sebagai salah satu “film horor terbaik sepanjang masa”, lalu ada dwilogi It (2017, 2019) yang mampu menghadirkan level kengerian sekaligus kesenangan diatas versi lampaunya, dan paling baru adalah Pet Sematary yang versi 1989-nya belakangan berkembang menjadi cult film dengan penggemar loyal cukup masif. Berhubung adaptasi terdahulu dari ‘teror mengerikan dari kuburan hewan’ memiliki kualitas penggarapan yang lebih mendekati It yang cenderung semenjana ketimbang Carrie yang luar biasa (akting Sissy Spacek yang ngeri ngeri sedap terlalu sulit dilampaui!), maka seharusnya mudah saja bagi duo sutradara, Kevin Kölsch and Dennis Widmyer, untuk mengkreasi sebuah adaptasi baru – plus remake – yang layak bagi Pet Sematary. Apalagi mereka memperoleh suntikkan dana lebih tinggi dan disokong pula oleh jajaran pemain yang mempunyai jejak rekam berlakon terhitung baik. Jadi, ditengok di atas kertas, apa sih yang mungkin salah dari versi termutakhir Pet Sematary ini?

April 7, 2019

REVIEW : MANTAN MANTEN


“Cerita orang itu beda-beda. Jangan memakai pengalaman satu orang untuk membandingkan dengan diri sendiri. Kalau kamu terus membandingkan, nanti kamu jadi susah bersyukurnya.”

(Ulasan di bawah ini turut membahas babak pamungkas, jadi berhati-hatilah kalian yang anti spoiler!)

Apabila hanya berpatokan pada materi promosi yang digeber oleh Visinema Pictures (Love for Sale, Keluarga Cemara), entah itu dari poster berwarna merah muda yang unyu-unyu maupun kutipan-kutipan mengenai mantan di media sosial, saya cukup meyakini sebagian besar dari kita pasti mengira Mantan Manten sebagai film percintaan yang diniatkan untuk bikin gemas para penontonnya. Kalaupun ternyata dugaan tersebut meleset, paling tidak film masih berpijak di genre romansa dengan pendekatan beralih ke melodrama yang meminta para pemirsanya untuk bersedu sedan terhadap nasib karakter utamanya yang pilu. Berhubung saya tergolong konservatif – dan tidak pula banyak menggali info mengenai film ini sebelum menonton – sudah barang tentu dua ekspektasi ini yang saya tetapkan tatkala menyimak Mantan Manten yang ternyata oh ternyata membuat saya terkezut. Alih-alih mengkreasinya sebagai film percintaan konvensional dimana fokusnya tertambat pada hubungan dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, Farishad Latjuba (film sebelumnya pun berhubungan dengan kekasih dari masa lampau, Mantan Terindah) selaku sutradara mencoba untuk membelokkannya. Tak sebatas berceloteh soal pahit manisnya cinta, film turut menyinggung budaya Jawa dengan segala unsur mistis yang melingkunginya serta isu women empowerment dimana si karakter perempuan tidak dideskripsikan tunduk pada lelaki yang dicintainya melainkan sebagai seorang pejuang yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

April 6, 2019

REVIEW : SHAZAM!


“Hey, what's up? I'm a superhero.”

Sebagai seseorang yang tidak pernah bisa cocok dengan gelap-gelapan ala DC Extended Universe (DCEU), saya tentu bersorak bahagia begitu mengetahui bahwa mereka telah mempertimbangkan untuk ganti haluan. Dimulai dari Wonder Woman (2017) yang mengedepankan isu women empowerment dengan penuh suka cita lalu disusul oleh Aquaman (2018) yang membuktikan bahwa “norak” tidak selalu berarti negatif, kini DCEU menghadirkan sebuah superhero movies yang paling ramah penonton cilik, Shazam! Tak seperti rekan-rekan sejawatnya dari semesta serupa yang memiliki nama besar, Shazam! bukanlah jagoan yang dielu-elukan oleh generasi muda masa kini. Bahkan tak sedikit pula yang bertanya-tanya, “siapakah sih dia sebenarnya?”.  Padahal karakter bernama asli Captain Marvel ini (well, setidaknya di awal kemunculannya sebelum kemudian diubah demi menghindari konflik dengan tetangga) telah diperkenalkan sedari tahun 1939 dan konon pernah pula disejajarkan dengan popularitas Superman. Versi layar lebarnya pun sejatinya sudah dipersiapkan sedari awal 2000-an tapi terus terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya yang salah satu sebabnya dipicu oleh ambisi Warner Bros. untuk menghadirkan nada penceritaan yang bermuram durja (!). Usai mengalami berbagai pengembangan sekaligus perombakan di sejumlah sektor, Shazam! yang ditangani oleh David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle Creation) ini akhirnya diputuskan untuk dilepas sebagai tontonan dengan warna pengisahan mengikuti materi sumbernya. Itu berarti, bersinonim erat dengan kata sifat berbunyi: cerah ceria, kocak, serta penuh dengan kegembiraan. Tiga hal yang memang acapkali saya harapkan bisa diperoleh dari superhero movies.

April 1, 2019

REVIEW : DUMBO


“We're all family here, no matter how small.”

Sedari kesuksesan secara finansial yang direngkuh oleh Alice in Wonderland (2010), Walt Disney Studios mendadak keranjingan untuk menginterpretasi ulang film animasi klasik koleksi mereka ke dalam format live action. Meski satu dua diantaranya mendapat ulasan kurang menggembirakan dari kritikus lantaran dianggap tidak mampu menangkap sisi magis dari materi sumbernya, tapi sulit untuk disangkal bahwa demand dari publik terhitung tinggi – pengecualian untuk Alice Through the Looking Glass (2016) yang babak belur dihajar berbagai pihak. Maka jangan heran jika kemudian rumah produksi penghasil Mickey Mouse ini terus menelurkan judul-judul adaptasi dari tontonan animasi legendaris. Bahkan, pada tahun 2019 ini sendiri terdapat 4 film yang siap dilepas (!) termasuk The Lion King, Aladdin, serta Dumbo yang dipilih sebagai “pembuka parade”. Berbeda dengan dua film pertama disebut yang berasal dari era keemasan atau Disney Renaissance (1989-1999), Dumbo merupakan versi live action dari salah satu film animasi Disney di era-era awal yang berlangsung bersamaan dengan Perang Dunia I. Sebuah pilihan yang harus diakui beresiko mengingat film ini kemungkinan kurang familiar di telinga penonton awam khususnya bagi mereka yang tinggal di luar negeri Paman Sam. Terlebih lagi, versi asli Dumbo hanya berdurasi sepanjang satu jam dengan sebagian besar karakternya diisi oleh binatang-binatang yang berdialog menggunakan tindakan dan gaya penceritaannya pun tergolong surealis. Saya pun dibuat bertanya-tanya, “apa ya pendekatan yang akan ditempuh oleh si pembuat film agar membuat sajiannya ini terlihat menarik di mata penggemar sekaligus penonton anyar apalagi ada gajah bertampang menggemaskan disini?.”

March 30, 2019

REVIEW : MY STUPID BOSS 2


“Ini Vietnam, bukan Cililitan. Mereka kalau nyerang itu pakai granat.”

Bagi saya, My Stupid Boss (2016) adalah film komedi yang cukup mengasyikkan. Memang sih film arahan Upi (30 Hari Mencari Cinta, My Generation) yang didasarkan pada rangkaian buku laris rekaan chaos@work tersebut lebih menyerupai sketsa seperti materi sumbernya yang tersusun atas kumpulan-kumpulan kejadian konyol dan peralihan nada penceritaan di babak pamungkas sempat memunculkan reaksi “hah, kok jadi gini?”, tapi setidaknya film berhasil beberapa kali membuat saya tergelak-gelak menyaksikan tingkah laku Bossman (Reza Rahadian) yang ngeselinnya naudzubillah beserta karyawan-karyawan pabriknya. Ada lawakan yang manjur di sini, ada pula performa pemain yang tidak main-main, dan film pun mempunyai tampilan visual bergaya yang sedikit banyak melayangkan ingatan kepada sajian-sajian karya Wes Anderson. Itulah mengapa saya tidak mengeluh panjang-panjang mengenai titik lemahnya dan saya pribadi sangat menanti ketika rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan bahwa My Stupid Boss 2 tengah dipersiapkan. Berhubung Upi bukanlah tipe “sequel person” sehingga proses pengembangan film kedua membutuhkan waktu cukup lama, diri ini pun tak kuasa untuk bertanya-tanya. Apa yang akan dipersiapkannya sebagai daya pikat di film kedua ini? Akankah dia semata-mata melipatgandakan semua kegilaan dari film terdahulu mengikuti aturan tak tertulis sebuah sekuel? Atau… ada kejutan lain yang menyertai?

March 26, 2019

REVIEW : FIVE FEET APART


“All I want is to be with you. But I can’t.”

Saat berbicara tentang tontonan percintaan untuk kalangan remaja yang mengambil jalur melodrama, satu hal yang seketika terlintas di pikiran adalah formula penceritaannya yang kerapkali berkisar pada “cinta terhalang penyakit”. Sebuah formula yang sejatinya klasik – perkenalan pertama saya dengan topik ini dimulai dari A Walk to Remember (2001) – tapi belakangan kembali menjumpai popularitasnya berkat sambutan hangat yang diterima oleh The Fault in Our Stars (2014). Kita berkesempatan memperoleh sajian tearjerker yang apik via Me and Earl and the Dying Girl (2015) beserta Me Before You (2016), tapi ada pula yang menggoreskan kesan kurang menyenangkan seperti Everything Everything (2017). Berhubung judul-judul tersebut ternyata membuktikan bahwa kisah cinta yang mendayu-dayu masih sangat digandrungi oleh publik, maka tentu saja sineas Hollywood pun tidak akan berhenti untuk menyuguhkannya dalam waktu dekat ini. Terbukti, kita lantas disuguhi Five Feet Apart yang mempertemukan “penyakit mematikan” dengan “percintaan” dalam satu forum. Melalui film yang seringkali saya sebut Pacar Lima Langkah dalam beberapa obrolan bersama kawan dekat ini (terdengar lebih manis, bukan?), penonton tidak hanya dipertemukan dengan satu penderita penyakit mematikan saja tetapi ada tiga. Salah duanya melibatkan karakter protagonis film yang tengah dimabuk cinta sehingga mau tak mau diri ini pun seketika teringat kepada The Fault in Our Stars.

March 24, 2019

REVIEW : FRIEND ZONE


“The friend zone is just another kind of jail.”

Dalam Friend Zone, penonton diperkenalkan kepada dua teman baik yang telah menjalin ikatan persahabatan sedari duduk di bangku SMA, Gink (Baifern Pimchanok) dan Palm (Nine Naphat). Tak seperti Gink yang sebatas menganggap Palm sebagai sahabat yang siap menemani dalam suka maupun duka, Palm justru berharap lebih. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan Gink sebagai istrinya bukan sebagai temannya. Berhubung Gink tak ingin merusak tali pertemanan diantara mereka dan Palm pun acapkali ragu-ragu untuk mengutarakan perasaannya, maka tentu saja hubungan keduanya pun tak pernah melangkah ke arah yang lebih serius. Mereka hanyalah sahabat, that’s it. Pun demikian, Palm masih memiliki keyakinan bahwa gayung akan bersambut suatu saat nanti sekalipun Gink tak kunjung merespon kode-kode dari sahabatnya selama satu dekade. Saat mereka akhirnya memilih jalan hidup masing-masing, Palm tetap dijadikan teman pelipur lara oleh Gink yang mempunyai trust issue terhadap pasangannya, Ted (Jason Young), yang merupakan seorang produser musik. Tidak jarang Gink tiba-tiba menghubungi Palm untuk menemaninya akibat rasa insecure yang mendadak menghujamnya. Sebagai sahabat yang baik, Palm tentu selalu siap sedia kapanpun dia dibutuhkan walau terkadang posisi Gink berada nun jauh di negara lain. Meski keduanya sudah disibukkan dengan pekerjaan dan pasangan masing-masing, Palm dan Gink tetap sulit untuk dipisahkan. Dimana ada Gink yang sedang dirundung masalah, maka disitu ada pula Palm yang menenangkannya. Palm yang tetap berharap ada secercah harapan bagi dia dan sang sahabat untuk mengucapkan janji suci bersama.

March 22, 2019

REVIEW : US


“They look exactly like us. They think like us. They know where we are. We need to move and keep moving. They won’t stop until they kill us… or we kill them.”

Dikenal sebagai seorang komedian, siapa yang menyangka jika Jordan Peele ternyata amat lihai dalam meramu sajian horor yang sanggup membuat para penontonnya merasa tidak nyaman? Dalam debut penyutradaraannya, Get Out (2017), yang menghantarkannya meraih piala Oscars untuk kategori Naskah Asli Terbaik, Peele memang tidak menggedor jantung penonton dengan penampakan-penampakan memedi maupun gelaran adegan sadis. Dia memberikan mimpi buruk melalui “rumah calon mertua yang penuh rahasia” dimana white supremacy ternyata masih dijunjung tinggi dibalik penampilan luar serba toleran dan terbuka. Bagi masyarakat Amerika Serikat yang tengah dirundung persoalan rasisme – dan sejatinya ini terjadi pula ke berbagai belahan dunia – apa yang disampaikan oleh Peele di sini terasa relevan. Mewakili keresahan publik terhadap situasi sosial politik yang semakin gonjang-ganjing khususnya bagi masyarakat dari kalangan minoritas. Alih-alih terdengar ceriwis, komentar si pembuat film justru terasa efektif berkat kecakapannya dalam bercerita dimana isu yang mendasari keresahannya lantas diwujudkan sebagai sumber teror. Entah bagi kamu, tapi bagi saya, manusia memang tampak lebih mengerikan ketimbang makhluk-makhluk supranatural semacam hantu lantaran ada ancaman nyata yang ditunjukkan terlebih saat mereka dibutakan oleh nafsu berbalut kebencian. Bukankah terdengar mengerikan saat manusia rela menghalalkan segala cara hanya demi memenuhi kepuasan pribadi? Peele menyadari betul hal itu sehingga dia pun kembali memanfaatkan sisi gelap manusia sebagai “sang peneror” dalam film terbarunya, Us, yang ternyata oh ternyata… terasa lebih mencekam dibanding film perdananya!

March 18, 2019

REVIEW : MISTERI DILAILA


“Kau bukan istri aku!”

Di negeri asalnya, Malaysia, Misteri Dilaila tengah menjadi bahan pembicaraan hangat. Disutradarai oleh sutradara muda berbakat Syafiq Yusof (Abang Long Fadil, KL Special Yusof) yang kebetulan masih memiliki hubungan darah dengan Syamsul Yusof yang angkat nama berkat dwilogi Munafik, Misteri Dilaila memang menggunakan resep bercerita yang tidak biasa untuk ukuran film setempat. Disamping perpaduan genrenya yang memadupadankan elemen misteri dengan psychological thriller, horor berunsur supranatural, serta komedi, keputusan si pembuat film untuk merilisnya ke bioskop dalam dua versi berbeda turut menarik perhatian. Pembedanya memang hanya terletak pada konklusi yang berlangsung di 15 menit terakhir dan gimmick jualan semacam ini pun bukan hal yang sepenuhnya baru karena Clue (1985) beserta Unfriended: Dark Web (2018) telah terlebih dahulu mengaplikasikannya. Akan tetapi, untuk ukuran film Malaysia, apa yang diperbuat oleh Syafiq Yusof jelas bisa dibilang revolusioner sekalipun Misteri Dilaila turut tersandung kontroversi plagiarisme akibat kemiripan narasinya dengan Vanishing Act (1986). Berhubung saya belum pernah menyaksikan judul tersebut, kontroversi ini jelas tidak berimbas dalam menyurutkan keinginan untuk menonton. Saya masih menaruh ketertarikan terhadap Misteri Dilaila yang sebagian besar dilandasi oleh faktor genre dan gimmick. Selain itu, saya juga ingin membuktikan hype di kalangan netizen Malaysia yang tak sedikit diantaranya bersedia memberi nilai 11/10 untuk film ini. Sungguh emejing, bukan?

March 16, 2019

REVIEW : YOWIS BEN 2


“Koen kabeh eling. Nek ga sukses, uripmu kabeh bakal sepi koyo kuburan iki.”

“Jare sopo sepi? Rame ngene og.”

Saat dirilis di bioskop pada tahun 2018 silam lalu, siapa yang menyangka Yowis Ben akan disambut dengan sangat hangat oleh penonton? Keputusan untuk menggunakan Bahasa Jawa Malangan sebagai dialog utama jelas terbilang nekat, bahkan sempat pula mengundang kontroversi tak perlu yang dikait-kaitkan dengan masalah nasionalisme. Bagi penonton yang tak memahami Bahasa Jawa, Yowis Ben bisa jadi kurang menggoreskan kesan. Namun bagi mereka yang paham betul terlebih bagi penutur asli dialek Malang dan sekitarnya, film ini menghadirkan sebuah hiburan mengasyikkan. Narasinya membumi, begitu pula dengan guyonan-guyonannya yang terdengar akrab di telinga. Sebagai orang Jawa tulen yang kebetulan cukup mengenal kota Malang, saya jelas menikmati suguhan dari Fajar Nugros bersama Bayu Skak ini. Memang jauh dari kata sempurna (well, ada banyak sekali catatan yang saya tinggalkan buat film ini), tapi saya menyukai nada penceritaannya yang begitu enerjik sekaligus mengalir lancar seolah tanpa beban. Tipe tontonan yang enak disimak beramai-ramai maupun dimanfaatkan untuk mengobati kegundahan hati. Puecah pol! Kesanggupan saya dalam menemukan sisi excitement yang terkandung di Yowis Ben ini tentu membuat saya bergembira begitu mendengar kabar bahwa film kelanjutannya telah dipersiapkan. Hanya saja, saya pun memiliki sejumlah kekhawatiran terhadap nasib film ini yang dipicu oleh: 1) adanya kemungkinan si pembuat film terbebani dengan kesuksesan jilid terdahulu sehingga penceritaan pun tak lagi luwes, dan 2) adanya kemungkinan Yowis Ben 2 terkena kutukan sekuel. Saya pun seketika berdoa, “semoga kekhawatiran ini tak pernah terjadi. Semoga kekhawatiran ini tak pernah terjadi.”

March 12, 2019

REVIEW : CAPTAIN MARVEL


”We have no idea what threats are out there. We can’t do this alone. We need you.”

Siapa diantara kalian yang bersuka cita menyambut kehadiran Captain Marvel? Sebagai seseorang yang mengikuti Marvel Cinematic Universe (MCU) sejak awal mula dan belakangan dibuat tertambat oleh bangunan semestanya yang mengagumkan, saya jelas gembira dengan kemunculan Captain Marvel. Terlebih lagi, film arahan Anna Boden dan Ryan Fleck (Half Nelson, It’s Kind of a Funny Story) ini menandai untuk pertama kalinya MCU mempunyai film solo bagi superhero perempuan. Mereka memang telah memiliki tiga superhero perempuan yang tergabung dalam Avengers yakni Black Widow, Scarlet Witch, dan Gamora. Akan tetapi tak seperti para pria perkasa di semesta yang sama, ketiganya belum memiliki film tunggal termasuk Gamora yang mesti berbagi jatah narasi dengan keempat rekannya dalam Guardians of the Galaxy. Penantian panjang untuk menyaksikan MCU mengikuti jejak tetangga sebelah yang sudah terlebih dahulu mempersembahkan Wonder Woman (2017) – yang ternyata lebih dari sekadar representasi gender dalam sinema Hollywood – akhirnya tiba di momen-momen genting. Mengapa saya menyebutnya demikian? Well, jika kamu sudah menyaksikan Avengers: Infinity War tentu mengetahui bahwa nasib para pahlawan di semesta bentukan Marvel Studios ini sedang berada di ujung tanduk. Melalui sebuah post credits scene di sela-sela end credit film tersebut, penonton diinformasikan bahwa bala bantuan akan diperoleh dari karakter dengan lambang bintang atau dengan kata lain: Captain Marvel. Ini adalah salah satu alasan yang lantas membuat saya (dan mungkin jutaan penonton lain) bersemangat menantikan Captain Marvel.   

March 4, 2019

REVIEW : DILAN 1991


“Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, maaf aku pasti tidak bisa. Karena aku cuma mencintai Milea.”

Siapa sih yang tidak mengetahui pasangan fiktif Dilan dan Milea dari film bertajuk Dilan 1990 (2018)? Terlepas dari kamu menyukainya atau tidak menggemarinya, rasa-rasanya sulit untuk menyangkal bahwa dua sejoli ini merupakan fenomena tersendiri dalam perfilman tanah air. Mereka tak ubahnya Galih dan Ratna, atau Cinta dan Rangga, bagi generasi pemuja gawai. Ada alasan tersendiri mengapa film yang disadur dari novel laris manis bertajuk Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 rekaan Pidi Baiq ini mampu mendatangkan 6 juta penonton untuk berduyun-duyun memenuhi gedung bioskop. Bukan hanya karena materi sumbernya telah membentuk basis penggemar yang loyal, tetapi juga karena rayu-rayuan si karakter tituler kepada Milea mampu meluluhkan hati banyak perempuan dari berbagai lapisan usia maupun tingkatan sosial (!). Bagi perempuan muda, cara Dilan merayu dianggap merepresentasikan hubungan asmara yang ideal. Sementara bagi perempuan di tingkatan usia lebih dewasa, hal ini kerap dijadikan ajang nostalgia ke masa-masa berpacaran di SMA yang manis. Ditunjang pula oleh penampilan berkarisma dari Iqbaal Ramadhan, perempuan mana yang tidak klepek-klepek begitu mendengar sang panglima tempur melancarkan jurus ngegombalnya? Saya saja terkadang tersenyum-senyum gemas sekalipun menjumpai setumpuk kelemahan dari Dilan 1990 diluar faktor akting pemain yang memang merupakan kekuatan utama film. Satu hal yang paling mengusik diri ini selama menontonnya adalah ketiadaan konflik yang kuat untuk menopang narasi sehingga tak jarang film menimbulkan rasa jenuh.

March 3, 2019

REVIEW : FOXTROT SIX


“Millions of lives are at stake tonight. They’re counting on us.”

Segenap doa yang telah saya panjatkan agar bisa melihat lagi sajian laga produksi Indonesia yang keren telah dikabulkan oleh Tuhan melalui The Night Comes for Us (2018). Memang betul film ini mempunyai plot amat tipis, tapi siapa yang peduli saat tata laganya sungguh keren dan menghadirkan banyak momen untuk dikenang? Saya sih bahagia-bahagia saja saat menontonnya karena sensasinya mengingatkan diri ini kepada dwilogi The Raid. Seru, seru, seru. Bukankah itu hal paling utama yang seharusnya diperoleh dari film laga komersil? Selain itu, film ini pun mengompensasi kekecewaan saya terhadap Buffalo Boys (2018) yang mengecewakan di banyak sisi sekalipun konsepnya tampak mencengangkan. Kepuasan tiada tara pada The Night Comes for Us pun seketika menyalakan lagi pikiran positif yang tadinya sempat meredup. Saya berpikir, masih ada harapan bagi perfilman negeri ini untuk memproduksi action movie yang menggegerkan emosi di sepanjang durasi. Kepercayaan yang kembali mengemuka ini pula yang lantas mendorong saya untuk menaruh pengharapan pada Foxtrot Six. Sebuah film laga yang turut menempatkan Mario Kassar – produser bagi film-film Hollywood terkenal seperti Rambo: First Blood II (1985) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) – di bangku produser. Lebih-lebih lagi, film ini pun menyodorkan premis menjanjikan: bagaimana jika Indonesia yang telah maju di masa depan mengalami kekacauan besar akibat krisis pangan dan pemimpin gila kekuasaan?

February 17, 2019

REVIEW : CALON BINI


“Aku mau kejar mimpiku pake sepur.”

Ulasan ini akan saya buka dengan satu pengakuan: saya mengagumi Michelle Ziudith. Bukan semata-mata disebabkan oleh parasnya yang cantik dan tingkahnya yang terkadang menggemaskan, tetapi juga karena dia memancarkan sebuah karisma sebagai seorang aktris. Agak sulit untuk mendeskripsikannya secara mendetail, tapi satu yang jelas, saya selalu bahagia setiap kali melihatnya. Tak ada rasa jenuh walau dia terjebak dalam peran-peran tipikal, tak ada pula rasa sebal walau dia terkungkung dalam karakter-karakter dengan peringai menjengkelkan. Saya selalu kembali untuk menyaksikan film-filmnya meskipun sebagian besar diantaranya bikin ngelus dada saking… ah, kalian tahu sendiri. Michelle Ziudith acapkali menjadi penyelamat di film-film ajaibnya ini berkat performanya yang (sebetulnya) apik. Dia tampil enerjik, lepas tanpa beban, dan tangisannya pun tak terkesan dibuat-dibuat. Potensi untuk berkembang jauh jelas terpampang nyata yang sayangnya terbelenggu oleh keputusan untuk bermain aman di rangkaian film percintaan remeh temeh dengan peran yang tidak jauh berbeda. Dari sembilan judul yang menempatkannya di garda terdepan, hanya Remember When (2014) dan Ananta (2018) yang tergolong lumayan. Lainnya? Menguji kesabaran sampai ke titik paling dasar. Menengok kemahirannya dalam berolah peran, kadang saya dibuat bertanya-tanya, “apakah keserupaan peran ini karena Michelle Ziudith memang enggan untuk mengambil peran diluar zona nyamannya, atau karena belum ada sineas yang mempercayainya?”.

February 16, 2019

REVIEW : ANTOLOGI RASA


“Kalau dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Tapi kalau dia bikin lo nangis itu artinya lo cinta sama dia"

Sebelum dihidangkan menjadi sajian layar lebar, Antologi Rasa lebih dulu dikenal sebagai novel metropop (fiksi tentang masyarakat urban kelas menengah) rekaan Ika Natassa yang juga menulis Critical Eleven dan Twitvortiare. Ada banyak sekali pengagumnya di luar sana, bahkan tak sedikit diantaranya yang berani menyematkan label “salah satu novel percintaan dewasa terbaik buatan penulis tanah air” sampai-sampai saya turut dibuat penasaran. Memang, sebagus apa sih novel ini? Seusai membuktikannya sendiri, saya pun bisa mengangguk-angguk setuju ketika ada seseorang menyinggung Antologi Rasa dalam sebuah percakapan lalu melontarkan puja puji untuknya. Dari segi premis sebetulnya tidak ada yang mencengangkan, yakni seputar empat teman baik yang terjebak dalam friendzone tatkala mereka memilih untuk memendam perasaan lantaran tak ingin merusak tali persahabatan. Yang lantas membuatnya istimewa adalah bagaimana si penulis menyajikan kisah sederhana ini; ada berbagai sudut pandang dalam novel sehingga memungkinkan pembaca untuk mengetahui isi kepala dari setiap karakter inti, dan barisan karakter yang menggerakkan roda penceritaan pun dideskripsikan dengan sangat menarik. Kita bisa memahami mereka, kita bisa pula jatuh hati pada mereka. Kalau boleh jujur, prosa ini sejatinya memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi untuk diekranisasi karena beresiko terjerembab menjadi tontonan membosankan apabila memperoleh penanganan yang keliru. Itulah mengapa saya memutuskan untuk tidak menaruh ekspektasi apapun ketika mendapati Antologi Rasa diboyong ke layar lebar terlebih jajaran kru dan pemain yang dilibatkan pun (mohon maaf) tak terdengar menjanjikan.

February 10, 2019

REVIEW : LAUNDRY SHOW


“Kenapa kamu bisa kasih diskon ke Mas Yaya?”

“Kan kata Kokoh pelanggan adalah raja. Lha kalau raja minta potongan harga masa kita nggak ngasih?”

Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat saya tergelitik buat menjajal nonton Laundry Show di bioskop: 1) keterlibatan Upi (My Stupid Boss, My Generation) di penulisan skenario, 2) materi promosi yang disajikan dalam bentuk trailer tampak menggoda bagi saya utamanya pada bagian Tissa Biani mengucap dialog “Kan kata Kokoh pelanggan adalah raja. Lha kalau raja minta potongan harga masa kita nggak ngasih?” dengan ekspresi sengak tanpa rasa bersalahnya, dan 3) hey, jarang-jarang ada kan film Indonesia yang menempatkan profesi tertentu sebagai sorotan utama dalam guliran kisah alih-alih sebatas untuk memperkuat latar belakang si tokoh sentral? Dalam Laundry Show yang digarap oleh Rizki Balki (A: Aku, Benci & Cinta, Ananta) ini, penonton disodori narasi soal membangun kerajaan bisnis laundry secara mandiri. Atau dengan kata lain, menekuni dunia wirausaha. Sebuah guliran penceritaan yang sedikit banyak mengingatkan diri ini pada dwilogi Filosofi Kopi yang mengulik soal profesi barista beserta pahit manisnya terjun ke bisnis kafe kopi. Sedikit banyak pula melontarkan ingatan pada Cek Toko Sebelah yang membahas tentang persaingan dalam dunia bisnis (di sini, konteksnya adalah toko kelontong) dan kebetulan juga sama-sama menempatkan karakter keturunan Cina di poros utama pengisahan.  

February 8, 2019

REVIEW : ALITA: BATTLE ANGEL


“I do not standby in the presence of evil!”

Apakah kalian tahu bahwa James Cameron (Terminator 2: Judgment Day, Titanic) sudah bernafsu untuk menggarap Alita: Battle Angel sedari dua dekade lalu? Ya, beliau kepincut dengan materi sumbernya yang berupa manga beberapa jilid gubahan Yukito Kishiro dan telah beberapa kali berupaya untuk mewujudkannya tapi terus terbentur oleh proyek lain. Salah satu proyek yang menghalanginya adalah Avatar (2009) berikut dengan sekuel-sekuelnya yang tak kunjung juga kita pirsa. Ada perjalanan sangat panjang yang mesti dilalui oleh film ini dimana didalamnya mengandung perombakan naskah beserta perombakan tim. Usai berada di fase development hell (baca: terus dikembangkan tapi tak jelas kapan akan diwujudkan) selama belasan tahun, Pak Cameron akhirnya menemukan cara agar proyek kesayangannya ini tak berjalan di tempat dan bisa segera lahiran secepatnya. Solusi yang kemudian ditempuhnya adalah menyerahkan kursi penyutradaraan Alita: Battle Angel kepada Robert Rodriguez (Desperado, Spy Kids), sementara dia memantau secara langsung proses produksi dari kursi produser. Sebuah win-win solution, bukan? Alita: Battle Angel akhirnya bisa dihidangkan sebagai tontonan di layar lebar dibawah penanganan sutradara yang selama ini kondang berkat kepiawaiannya meramu adegan laga. Belum apa-apa, film sudah terdengar menggiurkan buat dicoba berkat kolaborasi dua maestro ini yang seolah menjanjikan bahwa ini bukanlah tontonan eskapisme biasa. Ini adalah pengalaman sinematis yang wajib dijajal. Tapi benarkah potensi sebesar itu memang sanggup dicapai?

February 3, 2019

REVIEW : GREEN BOOK


“Being genius is not enough. It takes courage to change people’s hearts.”

Para moviebuff tentu mengenali Peter Farrelly sebagai salah satu personil dari Farrelly Brothers. Dua bersaudara dibalik terciptanya film-film komedi rusuh semacam Dumb and Dumber (1994), There’s Something About Mary (1998), serta Me, Myself & Irene (2000) dimana disabled people kerap dijadikan sebagai objek candaan sehingga tak mengherankan jika film-film mereka terkesan ofensif bagi sebagian kalangan. Pun begitu – jika kita berkenan menyelaminya lebih dalam – sebenarnya Farrelly Brothers kerap menyematkan pesan bijaksana dalam karya mereka yang tak jarang tenggelam lantaran humor urakannya. Sensitivitas keduanya baru benar-benar bisa dirasakan melalui film komedi romantis bertajuk Shallow Hal (2001) yang mendorong penonton untuk berhenti menilai kualitas seseorang berdasarkan penampilan fisik semata. Deep, bro, deep! Memasuki era 2000-an, pencapaian duo ini tak lagi sesemarak di dekade sebelumnya dan perlahan tapi pasti, mereka memilih untuk vakum sejenak dari mengerjakan film komedi yang membesarkan nama. Berpisah jalan sementara demi mengerjakan proyek masing-masing, Peter Farrelly menjajal mengambil tantangan dengan membesut Green Book yang berpijak di genre drama. Tak hanya itu, film yang judulnya dicuplik dari buku panduan bagi masyarakat kulit berwarna dalam memilih penginapan dan restoran yang berkenan menerima mereka ini (The Negro Motorist Green Book, 1936-1966) turut mengapungkan sederet isu berat nan sensitif meliputi rasisme, prasangka, serta segregasi. Sebuah karya yang tak disangka-sangka bakal meluncur dari tangan salah satu personil Farrelly Brothers.

February 1, 2019

REVIEW : TERLALU TAMPAN


“Ternyata jadi orang ganteng itu nggak gampang ya.”

Sebagai seorang laki-laki bertampang pas-pasan, saya sering melihat ketampanan sebagai suatu berkah. Betapa tidak, ditengah masyarakat yang kerap menghakimi seseorang berdasarkan penampilan fisiknya, laki-laki tampan sering mendapatkan privilege. Dari hal paling mendasar seperti mudah melakukan pendekatan dengan perempuan yang ditaksir, lalu kemungkinan dijutekin sama mbak-mbak kasir yang mukanya sering dilipet-lipet kayak kardus pun kecil, kemudian kalau mau beli barang yang harganya agak mahalan dikit langsung dipepet sama si SPG (dan nggak dicibir “dih muka susah gitu emang mampu beli?”) sampai gampang dapet panggilan kerja karena foto kinclongnya menguarkan aura meyakinkan alih-alih suram tanpa harapan. Saking seringnya dapat pengalaman kurang mengenakkan seperti ini, saya sering mengalami insecure sampai-sampai melontarkan tanya bernada kurang syukur pada Tuhan, “apakah dulu wajah saya ini dicetak dari bahan sisa orang-orang ganteng ya?”. Betul, saya pernah terperosok dalam lembah hitam itu selama beberapa saat. Lembah hitam yang membuat rasa percaya diri tiarap. Membutuhkan waktu cukup panjang untuk kembali bangkit dan menemukan cara berfaedah agar berkenan mencintai diri sendiri secara apa adanya. Itu sulit lho! Saat menonton Terlalu Tampan yang disadur dari LINE Webtoon populer, saya sempat berulang kali dibuat terkekeh-kekeh. Bukan saja karena filmnya memang kocak, tetapi karena saya juga teringat lagi ke masa-masa suram itu. Dialog “ternyata jadi orang ganteng itu nggak gampang ya” menegaskan bahwa wajah rupawan tak lantas membuat hidup menjadi serba gampang. Pada akhirnya, penerimaan terhadap diri sendiri adalah solusi terbaiknya.

January 31, 2019

REVIEW : THE UPSIDE


“Don’t judge me. I ain’t judged you.”

Apakah kamu familiar dengan film Prancis berjudul The Intouchables (2011)? Jika tidak, dua hal yang perlu diketahui mengenai film ini adalah: 1) narasinya terinspirasi dari kisah persahabatan nyata antara seorang pebisnis sukses dengan perawat pribadinya yang berasal dari strata sosial dan ras berbeda, dan 2) The Intouchables tergolong film yang fenomenal. Bukan hanya sukses besar di kampung halaman, tetapi turut menyebar ke negara-negara lain yang lantas menempatkannya sebagai salah satu film Prancis paling banyak dipirsa sepanjang masa. Pencapaiannya di tangga box office – plus, film ini pun berjaya pula di ajang penghargaan termasuk mengganjar Omar Sy dengan piala Best Actor di Cesar Award (Oscar-nya sinema Prancis) – membuat The Intouchables dilirik sederet produser yang meminta hak pembuatan ulang. Disamping India yang segera memiliki dua versi dan Argentina yang telah merilis interpretasinya pada tahun 2016 silam, Hollywood pun enggan ketinggalan. Telah dicanangkan sedari tahun 2012, sayangnya ada berbagai ganjalan yang menyertai perjalanan remake ini dari pergantian konfigurasi kru dan pemain sampai skandal pelecehan seksual oleh Harvey Weinstein (pemilik The Weinstein Company, pemegang hak remake) yang menyebabkan film bertajuk The Upside sempat terombang-ambing nasibnya. Usai diakuisisi oleh STX Films, film yang menempatkan Kevin Hart dan Bryan Cranston di garda terdepan pemain ini pun akhirnya memperoleh kepastian rilis pada awal 2019.

January 28, 2019

REVIEW : INSTANT FAMILY


“Things that matter are hard.”

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya berkesempatan buat menonton film mengenai keluarga yang menggoreskan kesan mendalam pada hati di layar lebar. Yang pertama adalah Shoplifters (2018) dimana keluarga tidak didefinisikan secara konvensional mengikuti aturan yang telah disusun masyarakat, lalu disusul oleh Mary Poppins Returns (2018) yang keceriannya seketika membangkitkan mood, kemudian berlanjut pada Keluarga Cemara (2019) yang memberi tontonan sederhana nan tulus yang sudah lama tidak saya dapatkan, dan akhirnya yang baru saja saksikan sekaligus memberi kejutan terbesar diantara lainnya yakni Instant Family. Apabila kamu menjadikan jejak rekam sang sutradara sebagai bahan pertimbangan utama untuk memprediksi kualitas suatu film, maka saya cukup meyakini kalau kamu akan sama terkejutnya dengan saya saat menyaksikan Instant Family arahan Sean Anders (Horrible Bosses 2, dwilogi Daddy’s Home) ini. Memang sih corak komedi yang cenderung liar sebagai ciri khas Anders dalam berceloteh masih tertampang cukup nyata meski sekali ini agak direduksi levelnya. Tapi ada satu hal yang tak pernah saya sangka-sangka kemunculannya – terlebih berkaca pada Daddy’s Home yang hanya bisa diingat karena semangat bersenang-senangnya – yaitu elemen sentimentil yang digarap dengan kepekaan tinggi. Kamu akan dibuatnya berkaca-kaca, berlanjut menangis sesenggukan, sampai kemudian memutuskan untuk menghubungi orang tua di rumah melalui ponsel demi melontarkan pertanyaan sederhana, “apa kabar? Kalian sehat?.”

January 23, 2019

REVIEW : ORANG KAYA BARU


“Duit kalau dikit cukup, kalau banyak nggak cukup.”

Wahai sobat misqueen dimanapun kalian berada, pernah nggak sih kalian membayangkan nikmatnya memiliki uang tak terbatas? Membayangkan apa saja yang bisa kalian lakukan dengan uang tersebut tanpa harus khawatir bakal meratapi saldo yang tersisa di ATM? Membayangkan seandainya keluarga kalian tiba-tiba ketiban rejeki nomplok yang tak diduga-duga asal muasalnya? Apabila kamu memiliki banyak mimpi (termasuk mimpi bisa makan enak sepuasnya!), rasa-rasanya imajinasi semacam ini sulit terhindarkan. Lagian, siapa sih yang tidak ingin segala kebutuhannya dapat terpenuhi secara mudah? Manusiawi kok. Saya pun cukup sering berandai-andai, “andai orang tua saya ternyata tajir melintir”, meski pada akhirnya dibangunkan lagi oleh kenyataan bahwa saya mesti tetap “kerja, kerja, kerja” lalu “nabung, nabung, nabung” apabila ingin menikmati liburan selama berhari-hari di luar kota. Reality sucks, huh? Yang tak pernah disangka-sangka, sutradara kenamaan Joko Anwar (Pengabdi Setan, A Copy of My Mind) pun pernah berada di fase ini di masa lampau, di masa kecilnya. Menciptakan pengandaian sejenis demi membentengi diri dari gempuran realita kehidupan yang pahit. Sebuah pengandaian yang lantas dimanfaatkannya sebagai premis untuk mengembangkan naskah film komedi bertajuk Orang Kaya Baru yang kursi penyutradaraannya diserahkan kepada teman baiknya, Ody C. Harahap (Me Vs Mami, Sweet 20), lantaran Joko mempunyai kesibukan lain yakni mempersiapkan proyek akbar Gundala. 

January 22, 2019

REVIEW : PREMAN PENSIUN


“Salam olahraga!”

Sejujurnya, saya bukanlah penonton setia versi sinetron dari Preman Pensiun yang ditayangin di kanal televisi RCTI pada tahun 2015 hingga 2016 silam. Menontonnya sesekali sih pernah, tapi tidak pernah benar-benar mengikuti kisah sepak terjang Kang Bahar (Didi Petet), Kang Mus (Epy Kusnandar), beserta kawanan mereka dalam ‘mengelola’ pasar, terminal, maupun jalanan kota Bandung. Dari pengamatan sekilas ini, saya bisa memahami mengapa sinetron ini amat digandrungi oleh publik sampai-sampai memiliki basis penggemar tersendiri. Ada guliran kisah beserta konflik yang membumi, ada barisan karakter unik, dan ada muatan humor menggelitik. Sebuah kombinasi yang sudah sangat jarang dijumpai dalam sinetron Indonesia masa kini, bukan? Kesuksesan yang dicapai Preman Pensiun di layar beling tersebut lantas mendorong MNC Pictures selaku rumah produksi untuk memboyongnya ke format film layar lebar. Keputusan yang sempat ditentang oleh sang kreator, Aris Nugraha (Bajaj Bajuri), meski belakangan sepakat untuk menggarap versi layar lebarnya setelah menyadari bahwa masih ada serentetan problematika yang bisa dikulik lebih jauh. Problematika yang dihadapi oleh para mantan preman selepas mereka memutuskan untuk pensiun lalu menjalankan bisnis yang bukan sekadar bagus tetapi juga bisnis yang baik. 

INILAH DAFTAR PEMENANG DALAM PIALA MAYA 7


Bertempat di Wyndham Casablanca, Jakarta, pada Sabtu (19/1), Piala Maya edisi ke-7 (yang turut melibatkan saya sebagai salah satu juri inti) resmi digelar. Dalam perhelatan yang mengusung tema “Tumbuh Kembang” ini, Keluarga Cemara yang diadaptasi dari sinetron legendaris berjudul sama berhasil membawa pulang kategori paling prestisius yakni Film Bioskop Terpilih. Disamping itu, Keluarga Cemara juga tercatat sebagai peraih piala terbanyak dengan total jendral raihan 6 piala meliputi Sutradara Berbakat Film Panjang Perdana untuk Yandy Laurens, Aktor/Aktris Cilik/Remaja Terpilih untuk Zara JKT48, Skenario Adaptasi Terpilih, Lagu Tema Terpilih, serta Tata Musik Terpilih.

January 19, 2019

REVIEW : GLASS


“We are part of something larger. We are fighting for the broken.”

Bagaimana jadinya kalau ternyata selama ini superhero dan supervillain yang kita kenal melalui komik memang benar-benar ada? Mereka adalah orang yang kita jumpai di jalanan, mereka adalah orang yang kita kenal, dan bahkan, mereka adalah keluarga kita. Mereka bertindak seperti orang kebanyakan karena mereka belum menyadari kekuatan yang dimiliki dan menganggap cerita dalam komik hanyalah imajinasi dari seorang pencerita ulung alih-alih merepresentasikan peristiwa nyata. Melalui Unbreakable (2001), M. Night Shyamalan yang dijuluki sebagai “ahli twist” mengeksplorasi pengandaian ini menjadi sebuah narasi yang kala itu terbilang ciamik sampai-sampai disebut mendeskrontruksi genre superhero. Tak ada pahlawan berjubah yang perkasa dan bisa diandalkan kapanpun, si pembuat film justru menyodorkan cerita berpendekatan realistis dengan karakter utama seorang pria paruh baya yang tak tahu menahu mengenai jati dirinya. Mengingat Shyamalan tak pernah sesumbar soal origin story dari superhero, babak pengungkapan dari tontonan thriller ini memberikan kejutan tersendiri. Begitu pula dengan Split (2017) yang ternyata oh ternyata bukanlah psychological horror biasa karena ini merupakan kelanjutan ‘tersembunyi’ dari Unbreakable yang menaruh fokus pada lahirnya seorang supervillain. Berhubung sang sutradara telah bermimpi sedari lama untuk mengkreasi sebuah trilogi berbasis cerita kepahlawanan, maka kesuksesan besar Split dimanfaatkannya sebagai jalan untuk mewujudkan babak ketiga bertajuk Glass yang digadang-gadang memiliki showdown epik. Tapi bisakah pernyataan ini dipercaya?

January 15, 2019

REVIEW : ESCAPE ROOM (2019)


“They knew everything about us.”

(Ulasan ini mungkin agak nyerempet spoiler, meski nggak separah filmnya itu sendiri yang melakukan spoiler kelas berat)

Apakah ada diantara kalian yang pernah menjajal permainan ‘escape room’ yang popularitasnya tengah melesat dalam beberapa tahun terakhir ini? Kalau belum, coba deh luangkan waktu (serta duit tentunya) lalu ajak teman-teman terdekat buat menjajalnya. Saya sendiri ketagihan ingin memainkannya lagi setelah berkesempatan untuk mencoba permainan ini pada setahun silam. Dalam permainan ini, sejumlah partisipan bakal ‘dikurung’ di sebuah ruangan dalam kurun waktu tertentu guna memecahkan teka-teki yang dapat membebaskan mereka dari ruangan tersebut. Kerjasama tim jelas diutamakan dan jika kalian benar-benar sudah mengalami kebuntuan berpikir, bisa meminta petunjuk kepada gamemaster yang senantiasa mengawasi gerak-gerik pemain. Terdengar seru, bukan? Dan percayalah, permainan yang memiliki berbagai tema ini (waktu itu saya menjajal tema zombie) memang seseru itu. Saking seru dan populernya game ini, tidak mengherankan jika petinggi studio di Hollywood yang cerdik melihat peluang akhirnya tertarik untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Mengusung judul sesederhana Escape Room, film arahan Adam Robitel (The Taking of Deborah Logan, Insidious: The Last Key) yang bergerak di jalur horor ini meningkatkan pertaruhan dalam permainan demi menggaet atensi penonton. Teka-tekinya tak hanya dibikin lebih rumit, tetapi juga memiliki efek mematikan apabila si pemain tak sanggup menuntaskannya tepat waktu.

Mobile Edition
By Blogger Touch