August 17, 2019

REVIEW : BUMI MANUSIA


“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Mengekranisasi sebuah novel jelas bukan perkara mudah, lebih-lebih jika novel bersangkutan sudah mempunyai basis penggemar yang loyal. Si pembuat film mesti legowo menghadapi serbuan komentar dari jutaan kepala yang masing-masing telah memiliki imajinasi tersendiri terkait penggambaran latar, situasi, maupun karakter kesayangan mereka. Ada yang bersuka cita karena novel kesayangannya diwujudkan menjadi gambar hidup, ada yang menyimpan keraguan tapi masih bersedia memberi kesempatan, dan ada juga yang secara terang-terangan menunjukkan keberatannya sedari awal. Tiga jenis penggemar yang sejatinya bisa dijumpai dari novel jenis apapun, tak terkecuali sastra Indonesia bertajuk Bumi Manusia yang merupakan babak awal dari Tetralogi Pulau Buru rekaan Pramoedya Ananta Toer. Sedari mula proyek pembuatan film adaptasinya dicanangkan, pro dan kontra tak henti-hentinya mengiringi pemberitaan. Dari tadinya dipinang oleh Oliver Stone tapi belakangan diemohi sang pengarang karena ingin film digarap oleh anak bangsa, lalu berpindah ke sutradara kontroversial Anggy Umbara, sampai akhirnya mendarat di pangkuan Hanung Bramantyo (Sang Pencerah, Kartini) yang mempunyai jejak rekam baik dalam mengkreasi film berlatar sejarah. Saat film secara resmi ditangani oleh Hanung dibawah naungan Falcon Pictures, setidaknya ada dua poin keberatan yang paling sering disorot oleh penggemar: 1) upaya sang sutradara untuk menitikberatkan pada elemen percintaan, dan 2) penunjukkan Iqbaal Ramadhan, pelakon utama dalam Dilan 1990 (2018), sebagai pemeran Minke si karakter sentral.

August 15, 2019

REVIEW : DORA AND THE LOST CITY OF GOLD


“You know the jungle, it’s a part of you. But exploring is not a game, and you don’t look before you leap.”

Bersama dengan Spongebob Squarepants, Dora the Explorer adalah salah satu serial animasi yang populer di Indonesia pada tahun 2010-an. Tidak hanya membuat para penontonnya gemar mereka ulang dialog andalannya seperti “Swiper, jangan mencuri!” atau menyanyikan tembang penutup “berhasil, berhasil, hore!”, serial ini turut menciptakan tren berupa rambut bergaya bob ala Dora, tas ransel berwarna ungu, sampai segala pernak-pernik yang digandrungi perempuan-perempuan cilik. Ya, Dora the Explorer memang terhitung sebagai serial yang fenomenal dan ini tidak hanya berlaku di Indonesia tetapi juga negeri asalnya, Amerika Serikat, dimana serial tersebut tercatat memiliki episode terpanjang sepanjang sejarah kanal Nick Jr. Menilik pencapaiannya dalam hal menciptakan massa pendukung, tidak mengherankan jika kemudian petinggi studio di Hollywood tertarik untuk mengejawantahkannya ke dalam film layar lebar berformat live action meski keputusan ini mengundang tanda tanya besar. Bagaimana caranya kamu mengadaptasi sebuah serial yang difungsikan sebagai program edukasi untuk anak-anak (khususnya dalam mempelajari Bahasa Spanyol) menjadi sebuah film cerita yang bisa dinikmati oleh penonton segala usia? Belum apa-apa, versi layar lebar dari Dora the Explorer yang bertajuk Dora and the Lost City of Gold terdengar seperti misi yang mustahil sampai kemudian saya menengok sendiri hasil akhirnya yang ternyata oh ternyata… sangat menghibur!

August 12, 2019

REVIEW : MAHASISWI BARU


“Kehilangan bukan alasan buat berhenti berjuang. Tapi alasan untuk terus bergerak.”

Apa yang pertama kali terlintas di benakmu saat mendengar kata “maba” atau mahasiswa/i baru? Remaja polos dari kampung yang membawa mimpi besar-besar ke kota? Atau remaja dengan penampilan bergaya yang mencoba untuk memberikan impresi bagus kepada senior di kampus? Apapun definisimu untuk “maba”, satu hal yang bisa dipastikan adalah usianya berada di kisaran 18 hingga 20 tahun. Karena bagi sebagian besar orang, status “maba” erat kaitannya dengan remaja yang baru saja selesai menimba ilmu di SMA. Sebuah pandangan yang tak sepenuhnya salah mengingat jarang ditemukan pria/wanita berusia di atas 30 tahun yang memutuskan untuk mengambil studi S1, sekalipun bukan berarti sama sekali tidak ada. Dalam produksi terbaru MNC Pictures yang bertajuk Mahasiswi Baru, sutradara Monty Tiwa (Matt & Mou, Pocong the Origin) mencoba menghadirkan sedikit pelintiran dengan mengusung premis: bagaimana jadinya kalau seorang nenek berusia 70 tahun memilih menjadi seorang mahasiswi untuk pertama kalinya? Sebuah premis yang sedikit banyak mengingatkan pada Life of the Party (2018) dan Helicopter Eela (2018), meski kedua judul ini tak seekstrim Mahasiswi Baru yang benar-benar menampilkan seorang nenek (bukan lagi ibu rumah tangga berusia 40-an!) sekaligus menyuarakan pesan “usia bukanlah penghalang bagi seseorang untuk belajar”. Terdengar menggugah selera, bukan?

August 10, 2019

REVIEW : SCARY STORIES TO TELL IN THE DARK


“Some people believe, if we repeat stories often enough they become real. They make us who we are. That can be scary.”

Sebelum disadur menjadi sebuah tontonan seram untuk dikonsumsi di layar lebar, Scary Stories to Tell in the Dark lebih dulu dikenal sebagai buku kumpulan cerita yang ditujukan bagi pembaca cilik. Bukan buku dongeng biasa, tentu saja, mengingat buku ini dapat memberikan efek samping kepada kanak-kanak berupa enggan mematikan lampu saat tidur, berulang kali mengintip dari balik selimut sebelum memejamkan mata, meminta orang tua untuk mengecek kolong kasur, sampai paling parah: mimpi buruk. Saking besarnya dampak yang diberikan oleh buku rekaan Alvin Schwartz ini, tidak mengherankan jika kemudian sempat muncul gelombang protes dari beberapa pihak yang menilai konten cerita buku ini kurang layak dikonsumsi oleh bocah dibawah umur. Scary Stories to Tell in the Dark yang terinspirasi dari cerita rakyat maupun legenda urban ini memang menawarkan sederet kisah menyeramkan yang memiliki nada penceritaan lebih “gelap nan kejam” ketimbang (katakanlah) Goosebumps. Bahkan, buku antologi tersebut didukung pula oleh ilustrasi bernuansa disturbing goresan Stephen Gammell yang konon sering disebut-sebut sebagai penyumbang teror sesungguhnya melebihi dongeng gubahan Schwartz (!). Menarik, bukan? Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah versi adaptasinya yang digarap oleh Andre Ovredal (Trollhunter, The Autopsy of Jane Doe) mampu memberikan rasa ngeri serupa dengan materi sumbernya yang fenomenal ini? 

August 6, 2019

REVIEW : HOBBS & SHAW


“If the three of us don’t work together, billions of people will die.”

Saat franchise The Fast and the Furious yang semakin menggelegar dalam perjalanannya memutuskan untuk merekrut aktor karismatik Dwayne Johnson sebagai salah satu karakter inti, Luke Hobbs, khalayak sudah bisa menerka kemana arahnya. Entah cepat atau lambat, dia akan mendapatkan peran sangat signifikan melebihi Vin Diesel selaku pemeran utama. Benar saja, selepas Jason Statham mengambil peran di Furious 7 (2015) sebagai villain bernama Deckard Shaw – tapi belakangan beraliansi dengan para jagoan – dimana karakternya kerap digambarkan bersinggungan dengan Luke Hobbs, gagasan untuk mengkreasi sebuah film sempalan bagi dua bintang laga ini pun mencuat. Terlebih lagi, Hobbs dan Shaw telah mencuri hati banyak penggemar berat berkat karisma besar dua pelakonnya dan rivalitas diantara karakter-karakter ini memberi kesegaran tersendiri bagi franchise. Jadi mengapa tidak memberi keduanya sebuah platform khusus agar bisa saling baku hantam maupun saling ejek secara intens tanpa harus terdistraksi oleh Dominic Toretto dan tim? Bukankah terdengar seperti ide bagus untuk mempersilahkan penonton berkenalan lebih jauh dengan Hobbs dan Shaw yang sejatinya memiliki karakteristik lebih menarik (well, setidaknya bagi saya) ketimbang Toretto ini?

August 1, 2019

REVIEW : PARASITE


“Does Oxford have a major in document forgery? Your sister would be top of the class.”

Dalam karya terbarunya bertajuk Parasite yang dianugerahi Palme d’Or (penghargaan tertinggi) di Festival Film Cannes 2019 ini, Bong Joon-ho berupaya untuk menelurkan tontonan berpendekatan realis serta dekat dengan keseharian penonton. Tak ada lagi makhluk asing seperti dalam The Host (2006) maupun Okja (2017) atau situasi asing di masa depan semacam Snowpiercer (2013) yang diposisikan sebagai metafora untuk pertentangan kelas antara si kaya dengan si miskin, sekali ini hanya ada manusia-manusia biasa sebagai sorotan utama. Manusia yang berjuang untuk bertahan hidup ditengah peradaban modern yang keras dengan segala tuntutannya untuk memperoleh kesempurnaan beserta pencapaian besar. Hmmm… terdengar seperti bentuk luapan kegelisahan ya? Betul, seperti halnya karya-karya terdahulu, Bong Joon-ho masih tetap mempertahankan kegemarannya dalam melontarkan komentar berisi keresahan-keresahannya terhadap masyarakat dewasa ini khususnya terkait ketimpangan sosial. Yang lantas membedakan Parasite dengan deretan judul dalam filmografi sang sutradara selain guliran penceritaan yang dikondisikan untuk lebih membumi adalah nada penceritaan yang ditetapkan. Menjauhi kesan bombastis maupun bermuram durja, Parasite cenderung mengalun ringan seiring dengan melimpahnya muatan humor di dalamnya. Dalam satu jam pertama, kamu mungkin akan terkecoh mengiranya sebagai sajian komedi mengenai sepak terjang con artist (ahli tipu tipu).

July 27, 2019

REVIEW : STUBER


“So, how do you know my dad?”

“He kidnapped me. We killed some people.”

Beberapa kali saya pernah mengemukakan, “pergi ke bioskop tanpa bawa ekspektasi dan ternyata film yang ditonton sangat menyenangkan adalah kejutan terbaik yang bisa diterima oleh pecinta film.” Tahun ini – atau lebih baik saya persempit menjadi libur musim panas di Negeri Paman Sam – saya mendapati beberapa kejutan manis yang membuat hati kian bungah setiap melangkahkan kaki ke bioskop. Pertama dari Aladdin yang ternyata gegap gempita, lalu Crawl yang rupa-rupanya bukan horor murahan dengan kemampuannya memberi daya cekam cukup tinggi, dan paling terbaru adalah Stuber yang semula saya lirik semata-mata lantaran dibintangi oleh aktor laga kebanggan Indonesia, Iko Uwais. Tidak pernah lebih. Tapi seperti halnya dua judul lain yang telah saya sebutkan, Stuber pun bikin saya kecelik. Memang betul bahwa film arahan Michael Dowse (Take Me Home Tonight, Goon) yang berada di ranah action comedy ini mempunyai jalinan pengisahan yang sangat formulaik. Kalian bisa seketika teringat dengan serentetan tontonan berkonsep buddy cop movie semacam Lethal Weapon (1987), Bad Boys (1995), Rush Hour (1998), sampai 21 Jump Street (2012). Yang kemudian menjadikannya (sangat) bisa dinikmati adalah kejituan tim kasting dalam memilih pemain.

July 22, 2019

REVIEW : DUA GARIS BIRU


“Jadi orang tua itu bukan cuma hamil sembilan bulan sepuluh hari, itu pekerjaan seumur hidup.”

Saat kamu memutuskan mengulik isu yang dinilai tabu untuk diperbincangkan secara umum oleh masyarakat Indonesia dalam suatu film, maka bersiaplah menanggung resiko besar berwujud prasangka dan asumsi. Dua Garis Biru, sebuah film yang menandai untuk pertama kalinya penulis skenario Gina S Noer memegang kemudi penyutradaraan, menerima resiko tersebut tatkala dirinya nekat memperbincangkan “urusan ranjang” di hadapan publik. Lebih-lebih, sasaran utamanya adalah remaja usia belasan yang matanya masih sering ditutup-tutupi oleh orang tua mereka ketika melihat adegan ciuman dalam film. Maka saat gelombang keluhan bergulir di media sosial termasuk dilayangkannya petisi yang meminta film dilarang tayang pada dua bulan lampau (hanya) berlandaskan trailer dan sinopsis, saya tentu tak heran meski sangat menyayangkan. Ditengah iklim masyarakat yang kian konservatif, memperbincangkan soal seks secara terbuka jelas tergolong berani. Apapun tujuannya. Hanya saja, satu hal yang selalu saya dengungkan dan pertanyakan: apakah bijak menilai suatu film dari tampilan luarnya semata? Apalagi, jika kita berkenan menelusuri jejak rekam sang pembuat, Dua Garis Biru berada dibawah naungan Starvision beserta Chand Parwez Servia selaku produser yang terhitung bersih dari kontroversi serta mempunyai visi misi memajukan perfilman nasional dengan mengkreasi film berkonten baik. Jadi apakah mungkin mereka mempertaruhkan reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun dengan mengkreasi “film durjana” yang berpotensi merusak generasi muda bangsa ini demi sensasi yang sifatnya sementara? Hmmm…rasa-rasanya mustahil.

June 13, 2019

REVIEW : SINGLE PART 2


“Hidup itu penuh kejutan. Ada yang bikin sedih, ada yang bikin seneng. Dan gue harus selalu siap-siap, karena gue nggak pernah tahu kejutan apa yang menanti selanjutnya.”

Sedari menerjunkan diri ke dunia perfilman, Raditya Dika hampir selalu mengapungkan topik pembicaraan seputar “kenelangsaan jomblo” dalam rangkaian film yang dibintangi maupun diarahkannya. Berhubung sambutan publik terhitung hangat dan dia kerap menemukan angle menarik buat dikulik, saya bisa memahami keputusannya untuk tetap mengedepankan isu tersebut. Baru beberapa tahun terakhir ini Dika mencoba keluar dari zona nyamannya dengan melepas judul-judul seperti Hangout (2016), The Guys (2017), beserta Target (2018), yang ternyata memperoleh penerimaan beragam. Bagi saya pribadi, terasa ada sesuatu yang ‘hilang’ dari ketiga film tersebut karena Dika memang sejatinya menunjukkan kekuatan berceritanya tatkala dia berkutat dengan problematika jomblo. Hanya saja, mengingat dia telah melepas status lajang dan sudah pula dikaruniai momongan, saya seketika dibuat bertanya-tanya. Akankah Dika masih mempunyai kepekaan dalam ngelaba maupun bertutur soal pahit manisnya seorang bujangan yang tak memiliki ikatan asmara? Menyadari penuh bahwa dirinya telah mengucap janji suci pernikahan dan tak lagi kelabakan mencari pendamping hidup yang setia menemani, maka film terbarunya yang merupakan kelanjutan dari film rilisan tahun 2015, Single Part 2, berupaya mengedepankan pembahasan lebih dewasa ketimbang sekadar single shaming. Sebuah pendekatan yang mesti diakui berani menilik pangsa pasarnya meski upaya pembaharuan ini sayangnya tak lantas menjadikannya lebih menggigit dari sang predesesor.

June 11, 2019

REVIEW : SI DOEL THE MOVIE 2


“Ada yang pengen aku tanya ke kamu. Do you still love Doel?”

“Kenapa kamu tanya begitu?”

Pada penghujung Si Doel The Movie (2018) yang memperoleh resepsi memuaskan baik secara kritikal maupun finansial, penonton dibikin gregetan tatkala Sarah (Cornelia Agatha) melepas kepulangan suaminya, Doel (Rano Karno), di pelataran Bandara Schiphol, Belanda. Sarah menyerahkan sejumlah dokumen yang terbungkus rapi dalam sebuah amplop berwarna coklat seraya berujar, “ceraikan aku, Doel.” Seperti halnya penonton, Doel pun tertegun. Dia tak menduga, reuninya dengan sang istri dan pertemuan pertamanya dengan putra kandungnya yang juga bernama Dul (Rey Bong) diakhiri pernyataan mengejutkan yang membuat air mata mengucur. Berhubung momen ini berlangsung di menit-menit terakhir, Rano Karno yang turut bertindak selaku sutradara sekaligus penulis skenario enggan memberikan konklusi melalui sikap maupun ujaran tegas yang meluncur dari mulut si karakter tituler. Beliau menggantungkannya yang menyebabkan para penggemar gemas sekaligus bertanya-tanya. Apakah ini berarti Zaenab (Maudy Koesnaedi) dapat bernafas lega karena pesaingnya telah mengibarkan bendera putih? Oh tentu saja tidak secepat itu, Zubaidah. Beberapa detik selepas kita dihadapkan pada adegan yang menggerus hati tersebut, Rano memberi pengumuman penting: kisah berlanjut di Si Doel The Movie 2. Kegalauan Doel dalam mengindahkan permintaan Sarah atau mengabaikannya dijadikan sebagai landasan untuk membentuk konflik lebih besar di film yang berarti kisah cinta segitiga antara Doel, Sarah, dan Zaenab masih belum akan menjumpai solusinya dalam waktu dekat.

June 9, 2019

REVIEW : HIT & RUN (2019)


"Ini bukan fatamorgana. Ini realita yang terpampang nyata.”

Selepas kesuksesan The Raid (2011), trio Iko Uwais-Joe Taslim-Yayan Ruhian kebanjiran tawaran ‘manggung’ di belahan dunia lain. Sesekali ketiganya berlaga di film Indonesia, tapi belum kesampaian juga untuk dipertemukan lagi dalam formasi lengkap. Terkadang hanya Iko dengan Joe, terkadang cuma Yayan dengan Iko, dan lebih sering berjalan sendiri-sendiri. Melalui Hit & Run, Ody C. Harahap (Sweet 20, Orang Kaya Baru) mencoba memenuhi permintaan para penggemar meski salah satu dari ketiganya yakni Iko (menggunakan bendera Uwais Team) hanya bertindak di belakang layar sebagai penata laga. Menggoda? Jelas. Terlebih sudah cukup lama saya menantikan pertandingan ulang yang lebih greget antara Joe dengan Yayan. Tapi berbeda halnya dengan film yang membesarkan nama dua pelakon tersebut, Hit & Run tak sepenuhnya menjejakkan diri di ranah laga. Ada perpaduan bersama genre komedi yang akan sedikit banyak melontarkan ingatanmu ke sejumlah film bertipe sama dari Hong Kong yang dibintangi oleh Jackie Chan (Police Story) atau Stephen Chow (Fight Back to School). Sebuah perbandingan yang sulit untuk dihindari lantaran film mengaplikasikan pendekatan senada serta mengandalkan narasinya kurang lebih serupa yang menempatkan seorang polisi dalam misi meringkus gembong kriminal berbahaya. Dalam konteks film ini, polisi bersangkutan dibintangi oleh Joe Taslim dengan gaya yang tergolong lain dari biasanya.

June 7, 2019

REVIEW : GHOST WRITER (2019)


“Lemes amat kayak nggak ada semangat hidup.”

“…”

“Semangat mati!”

“…”

“Ya semangat lah pokoknya.”

Seorang kawan pernah bersabda, “dari semua genre film, komedi dan horor termasuk yang paling sulit dibikin karena tawa dan takut itu subjektivitasnya paling tinggi.” Berhubung saya kerap menjumpai situasi dimana beberapa teman maupun pembaca ulasan mengajukan keberatan dengan menyatakan “ini nggak serem ah! Ini nggak lucu ah!” sementara saya merasakan sensasi lucu dan seram begitu juga dengan banyak penonton di bioskop, saya pun mengangguk setuju. Lebih sukar menjumpai film dari dua genre ini yang memperoleh resepsi bagus secara universal ketimbang genre lain semisal drama atau laga. Maka begitu mendengar Bene Dion Rajagukguk (sebelumnya menulis skrip untuk Suzzanna Bernafas dalam Kubur dan Stip & Pensil) mencoba untuk menggabungkan genre komedi dengan horor dalam debut penyutradaraannya, Ghost Writer, saya jelas terkedjoet. Sebuah upaya yang jelas sangat berani terlebih jarang-jarang ada sineas dalam negeri yang sanggup mengeksekusinya dengan baik. Malah, masih segar di ingatan, tandem ini memberi ‘mimpi buruk’ di permulaan era 2010-an saat marak diluncurkan film komedi horor berkualitas alamakjang yang membuat penonton lari tunggang langgang menjauhi bioskop. Menengok jejak rekam Bene, tentu sulit untuk membayangkan dia akan menggarapnya sesuka hati walau jelas ada sebersit keraguan di benak lantaran seperti telah dijabarkan sebelumnya, ini bukan perpaduan yang mudah. Jika Bene berhasil menaklukkannya, sudah barang tentu dia seketika bergabung dalam jajaran “sutradara yang harus kamu perhatikan.”

June 2, 2019

REVIEW : GODZILLA: KING OF THE MONSTERS


“Long live the king.”

Raja Kaiju yang telah belasan tahun terlelap akhirnya dibangunkan kembali oleh Legendary Pictures demi memenuhi ambisi mereka dalam merengkuh pundi-pundi dollar. Ya, pasca Godzilla (1998) yang dinilai gagal lantaran kurang merepresentasikan monster ikonik asal Negeri Sakura dan terlalu bergaya Hollywood, mereka mencoba memperbaikinya melalui versi upgrade yang dilepas di tahun 2014. Meski beberapa pihak menilai elemen drama manusianya kelewat kental sampai-sampai menggerus porsi tampil Gojira, tak bisa dipungkiri kalau versi anyar ini mencetak sukses. Dari mulanya hanya terpikir untuk menciptakan standalone movie, pihak studio lantas mengekspansinya menjadi sebuah franchise berjulukan MonsterVerse yang diniatkan untuk mencapai puncaknya dalam pertarungan akbar yang memertemukan monster berukuran gigantis yang punggungnya bergaya Mohican menyerupai stegosaurus ini dengan kera raksasa yang bersemayam di pedalaman bernama Kong. Namun sebelum kita menyaksikan Godzilla vs. Kong yang direncanakan rilis pada tahun depan, kita terlebih dahulu disuguhi Kong: Skull Island (2017) yang memaparkan latar belakang si Kong dan Godzilla: King of the Monsters yang difungsikan untuk mengelaborasi mitologi-mitologi terkait Godzilla yang telah diperkenalkan pada lima tahun silam. Guna memenuhi aturan tak tertulis dari sebuah sekuel, maka Michael Dougherty (Trick r Treat, Krampus) pun memperbesar cakupan skala dengan menambah partisipan dalam pertarungan monster.

May 31, 2019

REVIEW : THE GANGSTER THE COP THE DEVIL


“For a gangster, reputation is everything.”

Bagaimana jadinya saat seorang pemimpin gangster yang ditakuti oleh banyak pihak mesti bekerja sama dengan seorang detektif muda yang cenderung congkak dalam meringkus seorang pembunuh berantai yang licin? Terdengar seperti premis yang menggiurkan untuk diusung oleh sebuah film beraroma action-thriller dengan sedikit sentuhan komedi, bukan? Dan memang, ini adalah premis yang diutarakan The Gangster The Cop The Devil garapan Lee Won-tae (Spellbound, Man of Will) yang konon kabarnya didasarkan dari peristiwa nyata yang pernah terjadi di Korea Selatan. Si pembuat film mencoba menghadirkan sebuah tontonan berpakem buddy movie dimana dua karakter dengan kepribadian bertolak belakang dituntut untuk membentuk suatu tim demi menuntaskan suatu misi secara bersama-sama. Dalam konteks film ini, dua karakter ini berasal dari dua dunia yang sangat jauh berbeda: yang satu adalah pemimpin organisasi kriminal yang sebisa mungkin dihindari apabila tidak ingin terjerat persoalan pelik (bahkan oleh pihak kepolisian sekalipun!), sementara satunya adalah detektif ambisius yang acapkali bertindak diluar aturan termasuk mencampuri urusan gangster yang memiliki koneksi dengan para penegak keadilan. Mengingat mereka mempunyai latar belakang, jalan pemikiran, serta tujuan hidup yang tak selaras, bukankah ini mengusik keingintahuanmu untuk mengetahui cara kerja mereka? Maksud saya, mereka jelas bukan pasangan yang biasa-biasa saja.

May 24, 2019

REVIEW : ALADDIN (2019)


“I made you look like a prince on the outside, but I didn’t change anything on the inside.”

Saat pertama kali menengok barisan promosi yang ditebar untuk Aladdin, dahi ini tiba-tiba mengernyit dan sikap skeptis lantas merasuki diri. Yakin nih Disney membuat ulang salah satu film animasi tersakral mereka dalam tampilan yang lebih layak untuk dirilis di Disney Channel alih-alih bioskop seperti ini? Ya, tidak hanya penuh keraguan, saya pun julid dan suudzon. Padahal belum melihat secara langsung hasil kinerja Guy Ritchie yang sebelumnya menggarap Sherlock Holmes (2009) beserta King Arthur: Legend of the Sword (2017) tersebut. Disamping trailer yang sama sekali tidak menggairahkan, tiga faktor lain yang memantapkan keraguan adalah: 1) perusahaan film berlogo tikus ini baru saja melepas interpretasi baru untuk Dumbo yang luar biasa hambarnya, 2) jejak rekam sang sutradara yang berjibaku di genre laga tak ramah keluarga, dan 3) jajaran pemainnya tak nampak menjanjikan. Jadi, apa yang bisa diharapkan dari versi live action untuk film animasi rilisan tahun 1992 ini? Tanpa membawa bekal berwujud ekspektasi tinggi, saya pun memutuskan untuk menyaksikan Aladdin di studio terbesar yang telah disokong oleh teknologi suara Dolby Atmos. Keyakinan saya bahwa apa yang akan tersaji di layar adalah parade kekonyolan secara perlahan tapi pasti mulai tergerus seiring berjalannya durasi. Saya yang tadinya kemrungsung (baca: hati tidak tenang) lantaran membaca berita-berita buruk, tiba-tiba merasakan sensasi rasa yang tidak pernah diperkirakan bakal muncul setelah menonton Aladdin yakni bahagia. Pepatah bijak yang berbunyi “jangan menilai buku dari tampilan luarnya” ternyata memang benar adanya dan saya baru saja ditampar keras-keras olehnya.

May 22, 2019

REVIEW : BRIGHTBURN


“Whatever you’ve done, I know there is good inside you.”

Mesti diakui, Brightburn mempunyai premis yang menggoda selera. Coba bayangkan, bagaimana seandainya Clark Kent – sosok dibalik kostum Superman – yang berasal dari planet lain ternyata memiliki motif berbeda saat mendiami bumi? Alih-alih menyelamatkan planet barunya dari cengkraman manusia-manusia lalim, dia justru menciptakan huru-hara secara masif dengan mendayagunakan kekuatannya yang luar biasa. Terdengar menjanjikan sekaligus mengerikan di waktu bersamaan, bukan? Gagasan untuk mendeskontruksi hikayat kepahlawanan yang telah kita akrabi selama puluhan tahun ini mencuat dari James Gunn yang kita kenal sebagai sutradara dwilogi Guardians of the Galaxy. Selagi lebih memilih untuk menduduki kursi produser lantaran disibukkan oleh proyek besar Marvel Cinematic Universe, James menyerahkan amanat kepada saudara beserta sepupunya, Mark Gunn dan Brian Gunn, guna mengejawantahkan ide ini ke dalam bentuk skenario. Sementara untuk mengomandoi proyek, kepercayaan diberikan kepada David Yarovesky yang jejak rekamnya mencakup film seram bertajuk The Hive (2014) beserta beberapa film pendek. Menilik betapa menjanjikannya gagasan yang diusung oleh Brightburn yang memberikan pelintiran terhadap Superman, sukar untuk tidak penasaran seraya bertanya-tanya, “akankah film benar-benar mampu memenuhi potensi yang dipunyainya atau malah hanya akan memperpanjang daftar kegagalan tontonan yang mengusung high concept?”

May 20, 2019

REVIEW : JOHN WICK: CHAPTER 3 - PARABELLUM


“If you want peace, prepare for war.”

Saat menonton John Wick untuk pertama kali di tahun 2014, saya tak menyangka sama sekali judul ini akan bertransformasi menjadi salah satu franchise laga yang instalmen terbarunya selalu dinanti-nanti kehadirannya. Memang benar jilid pertamanya terhidang memuaskan yang sedikit banyak melontarkan ingatan kepada dwilogi The Raid yang sangat gahar dalam urusan koreografi laga. Saya pun tak keberatan menyebutnya sebagai film laga yang tak sepatutnya dilewatkan begitu saja lantaran sudah teramat jarang mendapati spektakel seru semacam ini dikeluarkan oleh Hollywood. Tapi berkembang menjadi franchise, itu sesuatu hal berbeda meski saya jelas sama sekali tidak keberatan. Disamping judul ini terbilang handal dalam memacu adrenalin penonton berkat menu utamanya yang menyajikan baku hantam maupun gun-fu bertegangan tinggi, Chad Stahelski selaku sutradara dan Derek Kolstad selaku penulis skrip juga mengkreasi semesta penceritaan yang menarik untuk diikuti. Kita mengetahui sekelumit mitologinya di film pertama, lalu kita diberi penjabaran lebih mendalam mengenai world building melalui jilid kedua. Dari sana, saya menyadari bahwa dunia kriminal yang ditekuni oleh sang karakter tituler ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Ada hirarki di dalamnya, ada aturan-aturan sangat terperinci yang wajib ditaati, serta ada pula “kompetisi berburu antar pembunuh bayaran”. Terdengar menggugah selera, bukan? Itulah mengapa saat penghujung film kedua memberi petunjuk mengenai keberadaan semesta yang lebih luas, saya tak kuasa menantikan kemunculan instalmen ketiga karena selalu dibayang-bayangi oleh keingintahuan terhadap nasib John Wick (Keanu Reeves) pasca dia memutuskan untuk membangkang dari peraturan yang telah ditetapkan oleh kaum elit.

May 18, 2019

REVIEW : POKEMON: DETECTIVE PIKACHU


“I don’t need a Pokemon. Period.”

“Then what about a world class detective? Because if you wanna find your pops, I’m your best bet.”

Apakah ada diantara kalian yang semasa kecilnya terobsesi dengan Pokemon? Mantengin setiap episode dari versi animenya yang tayang saban hari Minggu pagi, hafal diluar kepala setiap spesies berikut kekuatan-kekuatannya (dan juga lagu temanya!), sampai berharap bisa menjadikan pelatih Pokemon sebagai profesi utama. Adakah? Jika ada, well, berarti kita sama. Pokemon adalah bagian dari masa kecil saya dan pada masa itu, diri ini benar-benar berharap bahwa mereka memang nyata adanya sehingga saya bisa melatih Charizard, Squirtle, Bulbasaur, Pikachu, maupun dua jenis Pokemon yang tak bisa diharapkan: Magikarp dan Psyduck. Sounds fun! Tapi seiring meredupnya popularitas anime ini di Indonesia lantaran kanal televisi lokal memberhentikan penayangannya dan saya bukan pula seorang gamer sejati, ikatan dengan Pikachu bersama kawan-kawannya pun perlahan mengendur. Tak lagi mengikuti perkembangannya, tak lagi mengenal para karakternya yang semakin bejibun (versi game sendiri sudah mencapai generasi ke-7!). Saya hanya sesekali mendengar nama ini disebut tatkala muncul versi terbaru dari game dan film animasinya yang masih sangat populer di Jepang. Hubungan dengan para monster menggemaskan yang terputus ini lantas mengalami rekonsiliasi ketika Nintendo menciptakan gebrakan dengan meluncurkan edisi anyar berbasis augmented reality yang memungkinkan pemegang ponsel cerdas ikut bermain tanpa harus memiliki konsol gim tertentu, yakni Pokemon Go. Keberadaan judul ini menguarkan aroma nostalgia kuat yang kemudian dimanfaatkan secara cerdik oleh Warner Bros. untuk melepas Pokemon dalam format film layar lebar berdasar salah satu judul permainan bertajuk Detective Pikachu.

April 29, 2019

REVIEW : 27 STEPS OF MAY


“Bapak nggak salah.”

Dalam kasus pelecehan seksual, siapa sebetulnya yang patut dipersalahkan dan semestinya menerima ganjaran atas “ketidakberdayaannya”? Apakah pelaku yang tunduk kepada hawa nafsunya atau korban yang tak kuasa dalam memberi perlawanan? Apabila fungsi hukum diberlakukan secara semestinya serta bersedia patuh pula pada akal sehat maupun bukti-bukti, maka sudah barang tentu pelaku adalah pihak yang sepatutnya bertanggungjawab. Sebab, mereka telah memaksakan kehendak kepada orang yang tak pernah memberikan persetujuan atas tindakan-tindakan mereka. Akan tetapi, realita di lapangan nyatanya tak berbicara demikian karena para penegak hukum (sekaligus masyarakat tukang ikut campur) merasa bahwa letak kesalahan justru ada di korban lebih-lebih jika kasus ini merundung perempuan. Alih-alih mempertanyakan motivasi pelaku, mereka justru mengemukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban seperti: apa pakaian yang dikenakan oleh si A? Saat diperkosa atau dilecehkan, apa benar dia tidak sedang dalam pengaruh narkoba atau minuman beralkohol? Kenapa sih si A malah pergi ke tempat kejadian perkara padahal sudah memahami resikonya? Bukannya perempuan seharusnya sudah mendekam di rumah ya selepas jam-jam tertentu? Dalam pandangan publik yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki (secara sadar maupun tidak), korban nyaris mustahil untuk menang. Kalaupun akhirnya ditindaklanjuti, jalan keluar yang diambil seringkali bersifat kekeluargaan ketimbang benar-benar menindak tegas perbuatan pelaku sehingga tak mengherankan jika kemudian banyak yang memilih untuk bungkam dan tenggelam dalam trauma.

April 26, 2019

REVIEW : AVENGERS: ENDGAME


“We lost. All of us. We lost friends. We lost family. We lost a part of ourselves. This is the fight of our lives.”

Sejujurnya, saya masih agak kesulitan dalam memformulasikan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan seperti apa pengalaman menonton Avengers: Endgame. Yang jelas, instalmen pamungkas dari sepuluh tahun terakhir Marvel Cinematic Universe (MCU) ini merupakan sebuah sajian spektakuler. Saya bisa mencapai kesimpulan demikian karena saya masih bisa dibuat menangis sesenggukan berulang kali (!) sementara di waktu yang sama, diri ini dihujani sederet gangguan yang sungguh mendistraksi fokus berupa:  a) sepasang kekasih di kursi sebelah asyik berdiskusi dengan volume suara cukup kencang seolah-olah sedang berada di kafe, b) krucil-krucil berusia tak lebih dari 5 tahun mengoceh tak karuan yang akhirnya baru berhenti setelah orang tuanya saya tegur, dan c) sinar ponsel yang menyilaukan dari penonton yang tak tahu caranya menurunkan brightness. Bisa dibayangkan dong betapa dongkolnya mesti berhadapan dengan manusia-manusia yang tidak mempunyai kepekaan semacam ini? Anehnya, Avengers: Endgame tetap membawa saya pada pengalaman menonton yang mungkin saja tidak akan dijumpai dalam waktu dekat. Ada banyak gegap gempita yang membuat saya girang bukan main bak bocah cilik yang baru saja diberi mainan baru, ada banyak canda tawa yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal sampai perut mengencang, ada banyak hamparan visual mencengangkan yang membuat rahang saya terjatuh ke lantai, dan ada banyak momen-momen emosional yang membuat saya urung ke toilet lantaran cairan dalam tubuh telah dikeluarkan melalui mata. Berlebihan? Tunggu hingga kalian mengetahui kalau tubuh saya bergetar selama bermenit-menit selepas menonton dan tidak tahu lagi harus mengucap apa.

April 23, 2019

REVIEW : RUMPUT TETANGGA


“Ketika kita tidak bahagia dengan apa yang kita lakukan, selalu tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, kita akan cenderung menyakiti orang lain di sekitar kita.”

Jujur, saat pertama kali saya mengetahui kalau Rumput Tetangga dihasilkan oleh RA Pictures yang merupakan rumah produksi milik Raffi Ahmad, tak ada sedikitpun ketertarikan untuk mengetahuinya lebih jauh. Belum apa-apa, diri ini sudah bersikap skeptis dan menaruh prasangka buruk. “Palingan film ini tidak jauh berbeda dengan produksi terdahulu” adalah komentar yang kala itu meluncur dari mulut saya yang pedas. Bagi kalian yang tergolong rutin (atau minimal pernah) menyaksikan film-film keluaran mereka, tentu bisa mafhum mengapa saya bersikap demikian. Ada pengalaman traumatis tersendiri selepas menonton Rafathar (2017, masih mengaplikasikan nama RNR Pictures), lalu Dimsum Martabak (2018) serta The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018) yang sudah cukup membuat saya mengibarkan bendera putih buat mencicipi koleksi horor lain keluaran RA Pictures. Alih-alih menikmati, saya justru dibuat ngedumel, terkantuk-kantuk, sampai mengoleskan minyak angin agar bisa bertahan hingga penghujung durasi. Cobaannya sungguh berat, saudara-saudaraaaa…. (!). Saking kapoknya, saya nyaris tak melirik Rumput Tetangga sampai kemudian mendapat panggilan tugas dari bapak atasan untuk meliput film ini. Cenderung ogah-ogahan pada mulanya, sikap suudzon ini mendadak luntur begitu membaca sinopsinya yang harus diakui sangat menggugah selera. Rumput Tetangga mengedepankan premis relatable bagi banyak orang berbunyi “bagaimana seandainya kamu mendapat kesempatan untuk menjalani kehidupan yang selama ini kamu impikan?” sekaligus menghantarkan pesan moral terkait mensyukuri hidup yang sedikit banyak melemparkan ingatan ini kepada It’s a Wondeful Life (1946), The Family Man (2000), dan Medley (2007).

April 22, 2019

REVIEW : POCONG THE ORIGIN


“Ananta itu punya ilmu banaspati. Dan kalau tidak dikubur di tanah kelahirannya, yang mati itu bisa bangkit lagi, Pak.”

Trailer Pocong The Origin memang menarik. Sedikit banyak mengingatkan diri ini kepada film horor produksi Starvision terdahulu, Kafir (2018), yang lebih banyak mengandalkan atmosfer mengusik kenyamanan alih-alih parade jumpscares untuk menebar teror. Tapi bagi saya pribadi, materi promosi tersebut bukanlah faktor utama yang melandasi ketertarikan untuk menonton Pocong The Origin. Saya baru benar-benar menentukan pilihan setelah sang sutradara, Monty Tiwa (Keramat, Critical Eleven), membeberkan satu fakta besar dalam helatan gala premiere yang seketika membuat saya berseru “okay, I am sold!”. Fakta yang dibocorkan oleh Monty adalah… Pocong The Origin ternyata merupakan “reinkarnasi” dari film bertajuk Pocong (2006) garapan Rudi Soedjarwo! Sebagian dari kalian yang tidak familiar dengan judul ini mungkin bertanya-tanya, “apa sih yang membuatnya istimewa? Apakah ini adalah film horor yang sangat keren? Tapi kok saya tidak pernah mendengar judul ini?.” Satu hal yang perlu kalian ketahui yaitu Pocong memang tak pernah mendapat izin dari Lembaga Sensor Film (LSF) untuk ditayangkan ke hadapan publik lantaran mengangkat isu tragedi 1998 yang dinilai sensitif. Sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan, Rudi beserta tim – termasuk Monty di sektor penulisan naskah – pun memutuskan untuk menggarap Pocong 2 (2006) yang kerap disebut-sebut sebagai film horor Indonesia paling menyeramkan. Saya pun mengakuinya dan saya juga tergelitik untuk mengetahui instalmen perdananya. Hmm… kira-kira seseram atau sesadis apakah film pertamanya kok sampai tak lolos sensor? Maka begitu Monty memutuskan untuk menceritakannya kembali dalam wujud Pocong The Origin dengan modifikasi disana-sini, saya pun tak kuasa membendung rasa penasaran.

April 20, 2019

REVIEW : THE CURSE OF LA LLORONA


“Your children are safe now, but have they heard her crying? Have they felt the sting of her tears? They will, and she will come for them.”

Apakah kalian pernah mendengar cerita seram mengenai makhluk halus berwujud perempuan yang gemar menggondol anak-anak selepas Maghrib? Apabila kalian tumbuh besar di Indonesia – terlebih lagi di tanah Jawa – dongeng mistis semacam ini telah menjadi santapan sehari-hari semasa bocah. Sejumlah orang tua kerap menakut-nakuti anak-anaknya dengan berseru, “nanti diculik wewe gombel lho!,” saat si bocah masih kekeuh untuk bermain-main di luar meski matahari telah kembali ke peraduannya. Sosok gaib yang dikenal sebagai wewe gombel tersebut memang menjadi momok yang sangat mengerikan bagi para krucil di tanah air dan beberapa sineas pun melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari folklore ini… termasuk Hollywood! Tatkala membaca tulisan ini, saya yakin banyak diantara kalian yang mengucek-ngucek mata saking terbelalaknya. Masa sih wewe gombel beneran sudah go international? Jika kalian tidak percaya, coba saja tengok The Curse of La Llorona (di sini menggunakan judul The Curse of the Weeping Woman) yang konon kabarnya dipaksakan oleh Warner Bros. untuk masuk ke dalam The Conjuring universe ini. Dalam film tersebut, kalian akan menjumpai sesosok memedi dalam rupa perempuan yang hobi menculik bocah. Bukankah itu sangat terdengar seperti wewe gombel? Betul kan, guys? Guys? Kalian masih di sini kan, guys? Kalau kalian masih di sini, mohon dimaafkan kejayusan ini dan perkenankan saya mengakui sesuatu: The Curse of La Llorona tentu saja bukan film horor soal wewe gombel, melainkan demit asal Meksiko bernama La llorona (diterjemahkan sebagai weeping woman karena sumber teror dimulai dari terdengarnya suara isak-isak tangis perempuan) yang kebetulan mempunyai mitos senada.

April 16, 2019

REVIEW : HOTEL MUMBAI


“I’m scared.”

“We all are. But to get through this, we must stick together.”

Bagi masyarakat India, empat hari di penghujung bulan November pada tahun 2008 akan selalu dikenang sebagai hari-hari terkelam dalam sejarah bangsa. Betapa tidak, kota Mumbai yang dikenal sebagai sentra bisnis mendadak diserang secara membabi buta oleh sekelompok pria bersenjata. Sebanyak 174 jiwa melayang sia-sia, sementara lebih dari 300 penyintas mengalami luka-luka. Serangan dilancarkan ke delapan titik di berbagai penjuru kota, termasuk hotel bintang lima bernama The Taj Mahal Palace Hotel yang kerap menjadi singgahan orang-orang penting dari seluruh dunia. Menilik statusnya sebagai hotel terkemuka, tidak mengherankan jika kemudian lokasi ini menyumbang jumlah korban cukup besar. Ada ratusan manusia yang dijadikan sandera selama tiga hari yang kemudian mendorong media-media asing untuk meliput peristiwa penyanderaan tersebut. Mereka melakukan reportase sekaligus melontarkan tanya berbunyi “siapa dalang dibalik peristiwa ini?”, “apa motivasi yang melandasinya?”, “bagaimana situasi di dalam hotel?”, dan “akankah pasukan khusus dari New Delhi mampu datang tepat waktu untuk menyelamatkan para sandera?.” Empat buah tanya yang harus diakui terdengar seksi nan menggelitik untuk dijadikan sebagai bahan utama bagi lahirnya sebuah film panjang. Dan tentu saja, kesempatan ini tak disia-siakan begitu saja oleh sineas dari India yang lantas menelurkan The Attacks of 26/11 (2013), lalu disusul oleh sineas asal Prancis lewat Taj Mahal (2015, sempat tayang pula di Indonesia), dan paling baru adalah kolaborasi dari tiga negara; Australia, India, serta Amerika Serikat dalam wujud Hotel Mumbai.

April 14, 2019

REVIEW : SUNYI


“Senioritas kan bagus buat character building.”

Jika Indonesia memiliki Jelangkung (2001) yang dianggap sebagai salah satu film paling berjasa dalam membangkitkan kembali perfilman tanah air dari mati suri, maka Korea Selatan mempunyai Whispering Corridors (1998) yang merayakan lahirnya kebebasan dalam berekspresi setelah berpuluh-puluh tahun lamanya pemerintah memberlakukan sensor ketat terhadap industri kreatif. Dalam instalmen pertama dari lima seri film ini – kesemuanya dipersatukan oleh latar tempat dan tema – si pembuat film tak segan-segan melontarkan beragam kritik khususnya perihal sistem pendidikan di Korea Selatan yang dinilai terlalu menekan siswa. Keberaniannya menyuarakan keresahan masyarakat inilah yang membuat Whispering Corridors memperoleh sambutan hangat dari publik, sekalipun secara kualitas tergolong mengenaskan. Setelah mengakhiri franchise lewat A Blood Pledge (2009), atau setidaknya sampai saat ini, “koridor berbisik” memutuskan untuk berkelana ke pasar internasional. Tujuan pertama yang mereka sambangi adalah Indonesia dimana Pichouse Films menunjukkan ketertarikan untuk mengadaptasinya ke dalam versi Indonesia menggunakan tajuk Sunyi. Seperti halnya judul-judul yang tergabung dalam waralaba tersebut, Sunyi pun enggan mengadopsi jalinan pengisahan yang memiliki kesinambungan dengan jilid awal. Satu-satunya benang merah yang dibawanya adalah tema besar yang memperbincangkan soal kebobrokan dalam institusi pendidikan.

April 13, 2019

REVIEW : AVE MARYAM


“Kalau surga saja belum pasti buat saya, untuk apa saya mengurusi nerakamu?”

Jika hanya ada satu kata yang bisa dipilih untuk mendeskripsikan Ave Maryam, maka saya akan memilih kata “cantik”. Film arahan Robby Ertanto (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Dilema) ini memang mempunyai tampilan visual yang akan membuatmu geleng-geleng kepala dan kemungkinan besar bakal menginspirasi para selebgram untuk menghiasi feed mereka dengan pemandangan senada. Ya, sedari teaser trailer-nya pertama kali diperkenalkan ke hadapan publik, Ave Maryam memang telah menyita perhatian berkat gambar-gambarnya yang aduhai. Seolah-olah mengindikasikan bahwa ini bukanlah film buatan sineas tanah air. Disamping visual yang memang didesain untuk memanjakan mata, faktor lain yang mendorong ketertarikan terhadap Ave Maryam – setidaknya bagi saya secara pribadi – adalah tema yang ditawarkan. Memang benar film masih berkutat dengan urusan percintaan, dimana sekali ini turut menjamah area cinta terlarang. Yang kemudian membuatnya tampak berbeda adalah latar penceritaan yang membawa khalayak menapaki teritori yang sangat teramat jarang disentuh oleh perfilman Indonesia, yakni susteran dan Gereja Katolik. Saya ingin melihat bagaimana Ave Maryam merepresentasikan kaum minoritas yang kerap terlupakan dalam sinema tanah air, saya ingin melihat bagaimana si pembuat film mengelaborasi topik pembicaraan yang terhitung sensitif (kisah kasih antara romo dengan suster!), dan saya juga ingin melihat bagaimana film mencoba memberi sedikit warna ditengah monotonnya variasi tema dalam film-film yang menyebutnya sebagai “tontonan reliji”. Terdengar menjanjikan, bukan?

April 10, 2019

REVIEW : PET SEMATARY (2019)


“Sometimes dead is better.”

Dalam beberapa tahun terakhir ini, para petinggi studio raksasa di Hollywood sedang sedang getol-getolnya memberikan interpretasi baru terhadap beberapa karya legendaris Stephen King yang sebelumnya sudah pernah diadaptasi ke medium film. Ada Carrie (2013) yang tidak sedikitpun mendekati versi 1976 yang dapat dikategorikan sebagai salah satu “film horor terbaik sepanjang masa”, lalu ada dwilogi It (2017, 2019) yang mampu menghadirkan level kengerian sekaligus kesenangan diatas versi lampaunya, dan paling baru adalah Pet Sematary yang versi 1989-nya belakangan berkembang menjadi cult film dengan penggemar loyal cukup masif. Berhubung adaptasi terdahulu dari ‘teror mengerikan dari kuburan hewan’ memiliki kualitas penggarapan yang lebih mendekati It yang cenderung semenjana ketimbang Carrie yang luar biasa (akting Sissy Spacek yang ngeri ngeri sedap terlalu sulit dilampaui!), maka seharusnya mudah saja bagi duo sutradara, Kevin Kölsch and Dennis Widmyer, untuk mengkreasi sebuah adaptasi baru – plus remake – yang layak bagi Pet Sematary. Apalagi mereka memperoleh suntikkan dana lebih tinggi dan disokong pula oleh jajaran pemain yang mempunyai jejak rekam berlakon terhitung baik. Jadi, ditengok di atas kertas, apa sih yang mungkin salah dari versi termutakhir Pet Sematary ini?

April 7, 2019

REVIEW : MANTAN MANTEN


“Cerita orang itu beda-beda. Jangan memakai pengalaman satu orang untuk membandingkan dengan diri sendiri. Kalau kamu terus membandingkan, nanti kamu jadi susah bersyukurnya.”

(Ulasan di bawah ini turut membahas babak pamungkas, jadi berhati-hatilah kalian yang anti spoiler!)

Apabila hanya berpatokan pada materi promosi yang digeber oleh Visinema Pictures (Love for Sale, Keluarga Cemara), entah itu dari poster berwarna merah muda yang unyu-unyu maupun kutipan-kutipan mengenai mantan di media sosial, saya cukup meyakini sebagian besar dari kita pasti mengira Mantan Manten sebagai film percintaan yang diniatkan untuk bikin gemas para penontonnya. Kalaupun ternyata dugaan tersebut meleset, paling tidak film masih berpijak di genre romansa dengan pendekatan beralih ke melodrama yang meminta para pemirsanya untuk bersedu sedan terhadap nasib karakter utamanya yang pilu. Berhubung saya tergolong konservatif – dan tidak pula banyak menggali info mengenai film ini sebelum menonton – sudah barang tentu dua ekspektasi ini yang saya tetapkan tatkala menyimak Mantan Manten yang ternyata oh ternyata membuat saya terkezut. Alih-alih mengkreasinya sebagai film percintaan konvensional dimana fokusnya tertambat pada hubungan dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, Farishad Latjuba (film sebelumnya pun berhubungan dengan kekasih dari masa lampau, Mantan Terindah) selaku sutradara mencoba untuk membelokkannya. Tak sebatas berceloteh soal pahit manisnya cinta, film turut menyinggung budaya Jawa dengan segala unsur mistis yang melingkunginya serta isu women empowerment dimana si karakter perempuan tidak dideskripsikan tunduk pada lelaki yang dicintainya melainkan sebagai seorang pejuang yang menolak untuk menyerah pada keadaan.

April 6, 2019

REVIEW : SHAZAM!


“Hey, what's up? I'm a superhero.”

Sebagai seseorang yang tidak pernah bisa cocok dengan gelap-gelapan ala DC Extended Universe (DCEU), saya tentu bersorak bahagia begitu mengetahui bahwa mereka telah mempertimbangkan untuk ganti haluan. Dimulai dari Wonder Woman (2017) yang mengedepankan isu women empowerment dengan penuh suka cita lalu disusul oleh Aquaman (2018) yang membuktikan bahwa “norak” tidak selalu berarti negatif, kini DCEU menghadirkan sebuah superhero movies yang paling ramah penonton cilik, Shazam! Tak seperti rekan-rekan sejawatnya dari semesta serupa yang memiliki nama besar, Shazam! bukanlah jagoan yang dielu-elukan oleh generasi muda masa kini. Bahkan tak sedikit pula yang bertanya-tanya, “siapakah sih dia sebenarnya?”.  Padahal karakter bernama asli Captain Marvel ini (well, setidaknya di awal kemunculannya sebelum kemudian diubah demi menghindari konflik dengan tetangga) telah diperkenalkan sedari tahun 1939 dan konon pernah pula disejajarkan dengan popularitas Superman. Versi layar lebarnya pun sejatinya sudah dipersiapkan sedari awal 2000-an tapi terus terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya yang salah satu sebabnya dipicu oleh ambisi Warner Bros. untuk menghadirkan nada penceritaan yang bermuram durja (!). Usai mengalami berbagai pengembangan sekaligus perombakan di sejumlah sektor, Shazam! yang ditangani oleh David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle Creation) ini akhirnya diputuskan untuk dilepas sebagai tontonan dengan warna pengisahan mengikuti materi sumbernya. Itu berarti, bersinonim erat dengan kata sifat berbunyi: cerah ceria, kocak, serta penuh dengan kegembiraan. Tiga hal yang memang acapkali saya harapkan bisa diperoleh dari superhero movies.

April 1, 2019

REVIEW : DUMBO


“We're all family here, no matter how small.”

Sedari kesuksesan secara finansial yang direngkuh oleh Alice in Wonderland (2010), Walt Disney Studios mendadak keranjingan untuk menginterpretasi ulang film animasi klasik koleksi mereka ke dalam format live action. Meski satu dua diantaranya mendapat ulasan kurang menggembirakan dari kritikus lantaran dianggap tidak mampu menangkap sisi magis dari materi sumbernya, tapi sulit untuk disangkal bahwa demand dari publik terhitung tinggi – pengecualian untuk Alice Through the Looking Glass (2016) yang babak belur dihajar berbagai pihak. Maka jangan heran jika kemudian rumah produksi penghasil Mickey Mouse ini terus menelurkan judul-judul adaptasi dari tontonan animasi legendaris. Bahkan, pada tahun 2019 ini sendiri terdapat 4 film yang siap dilepas (!) termasuk The Lion King, Aladdin, serta Dumbo yang dipilih sebagai “pembuka parade”. Berbeda dengan dua film pertama disebut yang berasal dari era keemasan atau Disney Renaissance (1989-1999), Dumbo merupakan versi live action dari salah satu film animasi Disney di era-era awal yang berlangsung bersamaan dengan Perang Dunia I. Sebuah pilihan yang harus diakui beresiko mengingat film ini kemungkinan kurang familiar di telinga penonton awam khususnya bagi mereka yang tinggal di luar negeri Paman Sam. Terlebih lagi, versi asli Dumbo hanya berdurasi sepanjang satu jam dengan sebagian besar karakternya diisi oleh binatang-binatang yang berdialog menggunakan tindakan dan gaya penceritaannya pun tergolong surealis. Saya pun dibuat bertanya-tanya, “apa ya pendekatan yang akan ditempuh oleh si pembuat film agar membuat sajiannya ini terlihat menarik di mata penggemar sekaligus penonton anyar apalagi ada gajah bertampang menggemaskan disini?.”

March 30, 2019

REVIEW : MY STUPID BOSS 2


“Ini Vietnam, bukan Cililitan. Mereka kalau nyerang itu pakai granat.”

Bagi saya, My Stupid Boss (2016) adalah film komedi yang cukup mengasyikkan. Memang sih film arahan Upi (30 Hari Mencari Cinta, My Generation) yang didasarkan pada rangkaian buku laris rekaan chaos@work tersebut lebih menyerupai sketsa seperti materi sumbernya yang tersusun atas kumpulan-kumpulan kejadian konyol dan peralihan nada penceritaan di babak pamungkas sempat memunculkan reaksi “hah, kok jadi gini?”, tapi setidaknya film berhasil beberapa kali membuat saya tergelak-gelak menyaksikan tingkah laku Bossman (Reza Rahadian) yang ngeselinnya naudzubillah beserta karyawan-karyawan pabriknya. Ada lawakan yang manjur di sini, ada pula performa pemain yang tidak main-main, dan film pun mempunyai tampilan visual bergaya yang sedikit banyak melayangkan ingatan kepada sajian-sajian karya Wes Anderson. Itulah mengapa saya tidak mengeluh panjang-panjang mengenai titik lemahnya dan saya pribadi sangat menanti ketika rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan bahwa My Stupid Boss 2 tengah dipersiapkan. Berhubung Upi bukanlah tipe “sequel person” sehingga proses pengembangan film kedua membutuhkan waktu cukup lama, diri ini pun tak kuasa untuk bertanya-tanya. Apa yang akan dipersiapkannya sebagai daya pikat di film kedua ini? Akankah dia semata-mata melipatgandakan semua kegilaan dari film terdahulu mengikuti aturan tak tertulis sebuah sekuel? Atau… ada kejutan lain yang menyertai?

March 26, 2019

REVIEW : FIVE FEET APART


“All I want is to be with you. But I can’t.”

Saat berbicara tentang tontonan percintaan untuk kalangan remaja yang mengambil jalur melodrama, satu hal yang seketika terlintas di pikiran adalah formula penceritaannya yang kerapkali berkisar pada “cinta terhalang penyakit”. Sebuah formula yang sejatinya klasik – perkenalan pertama saya dengan topik ini dimulai dari A Walk to Remember (2001) – tapi belakangan kembali menjumpai popularitasnya berkat sambutan hangat yang diterima oleh The Fault in Our Stars (2014). Kita berkesempatan memperoleh sajian tearjerker yang apik via Me and Earl and the Dying Girl (2015) beserta Me Before You (2016), tapi ada pula yang menggoreskan kesan kurang menyenangkan seperti Everything Everything (2017). Berhubung judul-judul tersebut ternyata membuktikan bahwa kisah cinta yang mendayu-dayu masih sangat digandrungi oleh publik, maka tentu saja sineas Hollywood pun tidak akan berhenti untuk menyuguhkannya dalam waktu dekat ini. Terbukti, kita lantas disuguhi Five Feet Apart yang mempertemukan “penyakit mematikan” dengan “percintaan” dalam satu forum. Melalui film yang seringkali saya sebut Pacar Lima Langkah dalam beberapa obrolan bersama kawan dekat ini (terdengar lebih manis, bukan?), penonton tidak hanya dipertemukan dengan satu penderita penyakit mematikan saja tetapi ada tiga. Salah duanya melibatkan karakter protagonis film yang tengah dimabuk cinta sehingga mau tak mau diri ini pun seketika teringat kepada The Fault in Our Stars.

March 24, 2019

REVIEW : FRIEND ZONE


“The friend zone is just another kind of jail.”

Dalam Friend Zone, penonton diperkenalkan kepada dua teman baik yang telah menjalin ikatan persahabatan sedari duduk di bangku SMA, Gink (Baifern Pimchanok) dan Palm (Nine Naphat). Tak seperti Gink yang sebatas menganggap Palm sebagai sahabat yang siap menemani dalam suka maupun duka, Palm justru berharap lebih. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan Gink sebagai istrinya bukan sebagai temannya. Berhubung Gink tak ingin merusak tali pertemanan diantara mereka dan Palm pun acapkali ragu-ragu untuk mengutarakan perasaannya, maka tentu saja hubungan keduanya pun tak pernah melangkah ke arah yang lebih serius. Mereka hanyalah sahabat, that’s it. Pun demikian, Palm masih memiliki keyakinan bahwa gayung akan bersambut suatu saat nanti sekalipun Gink tak kunjung merespon kode-kode dari sahabatnya selama satu dekade. Saat mereka akhirnya memilih jalan hidup masing-masing, Palm tetap dijadikan teman pelipur lara oleh Gink yang mempunyai trust issue terhadap pasangannya, Ted (Jason Young), yang merupakan seorang produser musik. Tidak jarang Gink tiba-tiba menghubungi Palm untuk menemaninya akibat rasa insecure yang mendadak menghujamnya. Sebagai sahabat yang baik, Palm tentu selalu siap sedia kapanpun dia dibutuhkan walau terkadang posisi Gink berada nun jauh di negara lain. Meski keduanya sudah disibukkan dengan pekerjaan dan pasangan masing-masing, Palm dan Gink tetap sulit untuk dipisahkan. Dimana ada Gink yang sedang dirundung masalah, maka disitu ada pula Palm yang menenangkannya. Palm yang tetap berharap ada secercah harapan bagi dia dan sang sahabat untuk mengucapkan janji suci bersama.

March 22, 2019

REVIEW : US


“They look exactly like us. They think like us. They know where we are. We need to move and keep moving. They won’t stop until they kill us… or we kill them.”

Dikenal sebagai seorang komedian, siapa yang menyangka jika Jordan Peele ternyata amat lihai dalam meramu sajian horor yang sanggup membuat para penontonnya merasa tidak nyaman? Dalam debut penyutradaraannya, Get Out (2017), yang menghantarkannya meraih piala Oscars untuk kategori Naskah Asli Terbaik, Peele memang tidak menggedor jantung penonton dengan penampakan-penampakan memedi maupun gelaran adegan sadis. Dia memberikan mimpi buruk melalui “rumah calon mertua yang penuh rahasia” dimana white supremacy ternyata masih dijunjung tinggi dibalik penampilan luar serba toleran dan terbuka. Bagi masyarakat Amerika Serikat yang tengah dirundung persoalan rasisme – dan sejatinya ini terjadi pula ke berbagai belahan dunia – apa yang disampaikan oleh Peele di sini terasa relevan. Mewakili keresahan publik terhadap situasi sosial politik yang semakin gonjang-ganjing khususnya bagi masyarakat dari kalangan minoritas. Alih-alih terdengar ceriwis, komentar si pembuat film justru terasa efektif berkat kecakapannya dalam bercerita dimana isu yang mendasari keresahannya lantas diwujudkan sebagai sumber teror. Entah bagi kamu, tapi bagi saya, manusia memang tampak lebih mengerikan ketimbang makhluk-makhluk supranatural semacam hantu lantaran ada ancaman nyata yang ditunjukkan terlebih saat mereka dibutakan oleh nafsu berbalut kebencian. Bukankah terdengar mengerikan saat manusia rela menghalalkan segala cara hanya demi memenuhi kepuasan pribadi? Peele menyadari betul hal itu sehingga dia pun kembali memanfaatkan sisi gelap manusia sebagai “sang peneror” dalam film terbarunya, Us, yang ternyata oh ternyata… terasa lebih mencekam dibanding film perdananya!

March 18, 2019

REVIEW : MISTERI DILAILA


“Kau bukan istri aku!”

Di negeri asalnya, Malaysia, Misteri Dilaila tengah menjadi bahan pembicaraan hangat. Disutradarai oleh sutradara muda berbakat Syafiq Yusof (Abang Long Fadil, KL Special Yusof) yang kebetulan masih memiliki hubungan darah dengan Syamsul Yusof yang angkat nama berkat dwilogi Munafik, Misteri Dilaila memang menggunakan resep bercerita yang tidak biasa untuk ukuran film setempat. Disamping perpaduan genrenya yang memadupadankan elemen misteri dengan psychological thriller, horor berunsur supranatural, serta komedi, keputusan si pembuat film untuk merilisnya ke bioskop dalam dua versi berbeda turut menarik perhatian. Pembedanya memang hanya terletak pada konklusi yang berlangsung di 15 menit terakhir dan gimmick jualan semacam ini pun bukan hal yang sepenuhnya baru karena Clue (1985) beserta Unfriended: Dark Web (2018) telah terlebih dahulu mengaplikasikannya. Akan tetapi, untuk ukuran film Malaysia, apa yang diperbuat oleh Syafiq Yusof jelas bisa dibilang revolusioner sekalipun Misteri Dilaila turut tersandung kontroversi plagiarisme akibat kemiripan narasinya dengan Vanishing Act (1986). Berhubung saya belum pernah menyaksikan judul tersebut, kontroversi ini jelas tidak berimbas dalam menyurutkan keinginan untuk menonton. Saya masih menaruh ketertarikan terhadap Misteri Dilaila yang sebagian besar dilandasi oleh faktor genre dan gimmick. Selain itu, saya juga ingin membuktikan hype di kalangan netizen Malaysia yang tak sedikit diantaranya bersedia memberi nilai 11/10 untuk film ini. Sungguh emejing, bukan?
Mobile Edition
By Blogger Touch