January 15, 2019

REVIEW : ESCAPE ROOM (2019)


“They knew everything about us.”

(Ulasan ini mungkin agak nyerempet spoiler, meski nggak separah filmnya itu sendiri yang melakukan spoiler kelas berat)

Apakah ada diantara kalian yang pernah menjajal permainan ‘escape room’ yang popularitasnya tengah melesat dalam beberapa tahun terakhir ini? Kalau belum, coba deh luangkan waktu (serta duit tentunya) lalu ajak teman-teman terdekat buat menjajalnya. Saya sendiri ketagihan ingin memainkannya lagi setelah berkesempatan untuk mencoba permainan ini pada setahun silam. Dalam permainan ini, sejumlah partisipan bakal ‘dikurung’ di sebuah ruangan dalam kurun waktu tertentu guna memecahkan teka-teki yang dapat membebaskan mereka dari ruangan tersebut. Kerjasama tim jelas diutamakan dan jika kalian benar-benar sudah mengalami kebuntuan berpikir, bisa meminta petunjuk kepada gamemaster yang senantiasa mengawasi gerak-gerik pemain. Terdengar seru, bukan? Dan percayalah, permainan yang memiliki berbagai tema ini (waktu itu saya menjajal tema zombie) memang seseru itu. Saking seru dan populernya game ini, tidak mengherankan jika petinggi studio di Hollywood yang cerdik melihat peluang akhirnya tertarik untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Mengusung judul sesederhana Escape Room, film arahan Adam Robitel (The Taking of Deborah Logan, Insidious: The Last Key) yang bergerak di jalur horor ini meningkatkan pertaruhan dalam permainan demi menggaet atensi penonton. Teka-tekinya tak hanya dibikin lebih rumit, tetapi juga memiliki efek mematikan apabila si pemain tak sanggup menuntaskannya tepat waktu.

January 14, 2019

REVIEW : HOW TO TRAIN YOUR DRAGON: THE HIDDEN WORLD


“It’s you and me, bud. Always.”

Disamping Toy Story keluaran Pixar, ada satu lagi franchise film animasi yang menggoreskan kesan cukup mendalam di hati, yakni How to Train Your Dragon produksi DreamWorks Animation. Disadur dari rangkaian buku berjudul sama rekaan Cressida Cowell, franchise ini mengenalkan kita kepada satu karakter remaja yang canggung bernama Hiccup (disuarakan oleh Jay Baruchel) dan sahabatnya yang merupakan seekor naga berjenis nightfury, Toothless. Dimulai dari pertemuan di jilid pertama (2010) lalu berlanjut ke petualangan besar dalam How to Train Your Dragon 2 (2014), penonton bisa melihat adanya perkembangan pada kisah persahabatan mereka sekaligus karakteristik Hiccup. Tampak sikap saling respek antara satu dengan yang lain, tampak pula sikap yang menunjukkan keduanya saling mencintai dan melengkapi. Toothless menemukan harapan hidup untuk kaumnya berkat Hiccup, sementara Hiccup mampu melewati proses pendewasaan diri sehingga pada akhirnya diterima sebagai pemimpin oleh sukunya berkat bantuan Toothless. Di penghujung film kedua, mereka telah bertransformasi sebagai karakter ideal dan Hiccup telah menjadi satu pribadi yang diharapkan oleh sang ayah. Jika sudah begini, apa yang bisa dicelotehkan oleh How to Train Your Dragon 3: The Hidden World? Berhubung tujuan utama telah tercapai, maka tak ada cara lebih tepat dari mengakhiri narasi dengan memberi salam perpisahan kepada dua karakter inti dalam franchise ini.

January 13, 2019

20 FILM TERBAIK 2018 VERSI CINETARIZ


Tidak disangka sama sekali kalau menyusun senarai “20 Film Terbaik 2018 Versi Cinetariz” bakal menghadapkan saya pada pilihan-pilihan dilematis. Memang sih konflik batin (halah!) semacam ini selalu hadir setiap kali menyusun list. Tapi saya tidak mengira bakal muncul juga di tahun 2018 yang mulanya saya anggap sepele lantaran sampai pertengahan tahun lalu, belum ada film yang benar-benar mencuri hati ini. Yang bagus sih banyak, cuma yang klik di hati tak kunjung ditemukan. Mengira ini akan memudahkan dalam membuat senarai (meski kandidat 3 besar belum terbaca kala itu), eh ternyata saat tugas itu datang, sulitnya bukan kepalang. Diantara 238 film rilisan tahun 2018 yang sanggup ditonton, banyak juga yang membekas di hati.

January 6, 2019

REVIEW : DREADOUT


“Kayaknya kolam itu pintu deh. Dan harusnya kita nggak boleh masuk ke pintu itu.”

Dalam versi layar lebar DreadOut yang disadur dari video game populer bertajuk sama buatan Digital Happiness dari Indonesia, guliran penceritaan difungsikan sebagai prekuel untuk video game-nya. Di sini, para gamer akan memperoleh informasi (sedikit) lebih banyak mengenai si protagonis utama, Linda (Caitlin Halderman), termasuk bagaimana dia memperoleh ‘kekuatan’ yang rupa-rupanya diturunkan langsung dari sang ibu (Salvita Decorte). Kita juga akan mengetahui bahwa Linda tidaklah seperti rekan-rekan sebayanya yang memiliki hobi live di Instagram demi memupuk popularitas, karena dia menghabiskan waktu luangnya untuk bekerja di minimarket agar bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saking giatnya Linda bekerja, tak jarang dia sampai ketiduran di dalam kelas saat pelajaran masih berlangsung – ckck, jangan ditiru yaa, adek-adek! Hari-hari Linda yang dipenuhi dengan lembur ini untungnya segera berakhir dalam waktu dekat usai dia menyepakati perjanjian dengan seorang kakak kelas yang menawarinya perhiasan mahal. Perjanjian tersebut mengharuskannya untuk mengantar Jessica (Marsha Aruan) beserta teman-teman sepermainannya yang terdiri dari Erik (Jefri Nichol), Dian (Susan Sameh), Alex (Ciccio Manassero), dan Beni (Irsyadillah), menuju sebuah apartemen kosong yang dikenal angker. Berhubung Linda mengenal sang penjaga, Kang Heri (Mike Lucock), maka mereka pun mendapatkan akses ke dalam bangunan kecuali satu area yang dipagari garis polisi. Dasar bocah bengal, tentu saja pantangan tersebut dilanggar dan seperti bisa diduga, serangkaian teror pun seketika menyergap mereka. Kapok koen!

January 5, 2019

REVIEW : KELUARGA CEMARA


“Kalian semua itu tanggung jawab Abah!” 

“Kalau begitu, Abah tanggung jawab siapa?” 

Apabila kalian pernah merasakan euforia dunia pertelevisian tanah air pada era 1990-an, rasa-rasanya mustahil tidak mengetahui sinetron Keluarga Cemara yang disadur dari cerita bersambung rekaan Arswendo Atmowiloto. Meski kelima karakter utama dalam sinetron ini digambarkan berada dalam kondisi finansial serba kekurangan – mata pencaharian mereka bergantung pada becak dan opak – si pembuat tidak mengeksploitasi kemiskinan mereka demi mengucurkan air mata penonton. Berbeda pula dengan sinetron masa kini yang topik obrolannya tidak jauh-jauh dari rebutan warisan, rebutan pasangan, sampai azab bagi orang-orang dzalim, Keluarga Cemara mengetengahkan topik positif terkait menebar kebajikan kepada sesama, kerja keras serta mensyukuri hidup. Sebuah topik yang tidak dibatasi oleh agama, suku, jenis, kelamin, usia, maupun kelas sosial karena bersifat universal: semua orang bisa menerapkannya, semua orang bisa mengalaminya. Tak heran jika kemudian sinetron ini ramai dipirsa dan publik masih setia menyenandungkan lagu temanya yang penggalan liriknya berbunyi, “harta yang paling berharga adalah keluarga…” hingga kini. Saking legendarisnya (dan besar pula pengaruhnya) sinetron yang memasangkan Adi Kurdi dengan Novia Kolopaking tersebut, rumah produksi Visinema Pictures (Surat Dari Praha, Cahaya Dari Timur Beta Maluku) pun tertarik untuk menginterpretasikannya ulang. Bukan lagi dalam bentuk sinetron seperti versi terdahulu, melainkan dalam format film layar lebar dengan jajaran pemain yang sama sekali baru. 

January 2, 2019

10 FILM INDONESIA TERBAIK 2018 VERSI CINETARIZ


Selamat datang tahun 2019, selamat tinggal tahun 2018! 

Guna menyambut datangnya tahun baru ini, maka izinkanlah saya untuk sejenak mengilas balik film Indonesia dalam setahun terakhir ini yang sukses menorehkan rekor usai mendatangkan 50 juta penonton buat berbondong-bondong memenuhi bioskop (!). Kilas balik yang saya persiapkan sih sederhana saja karena sejatinya sudah menjadi tradisi tahunan Cinetariz sejak dahulu, yakni daftar personal bertemakan “film Indonesia terbaik 2018”. Yang perlu saya tegaskan kembali, daftar ini bersifat personal sehingga lebih tepat jika dibaca: film-film Indonesia yang akan saya rekomendasikan untuk kalian dengan senang hati. Oleh karena itu, adalah suatu hal yang wajar apabila ada perbedaan pendapat dengan pembaca budiman. Karena bagaimanapun juga, daftar ini bersifat subjektif yang besar kemungkinan dipengaruhi pula oleh pengalaman menonton maupun kedekatan representasi. 
Mobile Edition
By Blogger Touch