January 6, 2019

REVIEW : DREADOUT


“Kayaknya kolam itu pintu deh. Dan harusnya kita nggak boleh masuk ke pintu itu.”

Dalam versi layar lebar DreadOut yang disadur dari video game populer bertajuk sama buatan Digital Happiness dari Indonesia, guliran penceritaan difungsikan sebagai prekuel untuk video game-nya. Di sini, para gamer akan memperoleh informasi (sedikit) lebih banyak mengenai si protagonis utama, Linda (Caitlin Halderman), termasuk bagaimana dia memperoleh ‘kekuatan’ yang rupa-rupanya diturunkan langsung dari sang ibu (Salvita Decorte). Kita juga akan mengetahui bahwa Linda tidaklah seperti rekan-rekan sebayanya yang memiliki hobi live di Instagram demi memupuk popularitas, karena dia menghabiskan waktu luangnya untuk bekerja di minimarket agar bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saking giatnya Linda bekerja, tak jarang dia sampai ketiduran di dalam kelas saat pelajaran masih berlangsung – ckck, jangan ditiru yaa, adek-adek! Hari-hari Linda yang dipenuhi dengan lembur ini untungnya segera berakhir dalam waktu dekat usai dia menyepakati perjanjian dengan seorang kakak kelas yang menawarinya perhiasan mahal. Perjanjian tersebut mengharuskannya untuk mengantar Jessica (Marsha Aruan) beserta teman-teman sepermainannya yang terdiri dari Erik (Jefri Nichol), Dian (Susan Sameh), Alex (Ciccio Manassero), dan Beni (Irsyadillah), menuju sebuah apartemen kosong yang dikenal angker. Berhubung Linda mengenal sang penjaga, Kang Heri (Mike Lucock), maka mereka pun mendapatkan akses ke dalam bangunan kecuali satu area yang dipagari garis polisi. Dasar bocah bengal, tentu saja pantangan tersebut dilanggar dan seperti bisa diduga, serangkaian teror pun seketika menyergap mereka. Kapok koen!

Sejujurnya, sulit bagi saya untuk meredam ketertarikan kepada DreadOut. Betapa tidak, film ini memiliki sejumlah faktor yang memungkinkannya buat menjadi tontonan seram yang mengasyikkan seperti: 1) sutradaranya adalah Kimo Stamboel yang merupakan salah satu personil The Mo Brothers dengan jejak rekam film-film semacam Bunian (2004 – Kimo menjadi sutradara seorang diri dan ini adalah salah satu film horor Indonesia yang oke), Rumah Dara (2009) dan Killers (2014), 2) jajaran pemainnya terdiri dari pelakon-pelakon muda yang aktingnya terbukti impresif yakni Jefri Nichol, Caitlin Halderman, serta Susan Sameh (dia bermain bagus di Dear Nathan: Hello Salma), dan 3) ini adalah film Indonesia pertama yang didasarkan pada video game dan permainannya yang bergenre survival horror itu sendiri cukup digandrungi oleh para gamer karena mempunyai faktor excitement tinggi. Jadi, apa yang mungkin bisa salah dari ini? Menilik jejak rekam film adaptasi game yang kurang ciamik, saya pun tidak lantas menyematkan ekspektasi tinggi-tinggi akan memperoleh tontonan dengan narasi berbobot. Patokannya sih kurang lebih seperti Sebelum Iblis Menjemput (2018) buatan rekan sejawat Kimo, Timo Tjahjanto, tempo hari yang tipisnya naskah dikompensasi oleh teror maksimal. Asalkan bisa fun yang berarti bikin bersemangat, teriak-teriak, maupun ketawa di dalam bioskop, saya sudah terpuaskan – anaknya gampang puas kok. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, mampukah Kimo mengkreasi tontonan ngeri-ngeri sedap yang levelnya setara atau minimal mendekati film garapan Timo tersebut melalui DreadOut?


Well, gimana ya saya harus menjawabnya. Jadi emmm… begini, errr… DreadOut tidak sedikitpun mendekati Sebelum Iblis Menjemput. Oke, pengharapan ini mungkin terdengar kurang realistis mengingat materi sumbernya. Tapi berhubung Timo adalah ‘belahan jiwa’ dari Kimo, tidak ada salahnya bukan mendamba DreadOut bakal memiliki kesenangan yang kurang lebih senada? Sebetulnya sih, jika kita berbicara mengenai elemen teknis, film ini masih bisa untuk diapresiasi. Ada sinematografi, tata rias plus kostum, sampai tata artistik yang mumpuni. Si pembuat film mampu menghadirkan nuansa creepy di beberapa titik awal seperti lorong-lorong di apartemen yang temaram, ruang apartemen yang misterius, serta kediaman si villain yang tampilan luarnya sudah cukup bikin para penakut bergidik ngeri. Disamping nuansa seram, Kimo juga kentara ingin menguarkan nuansa game melalui pergerakan kamera dinamis yang tak jarang mengaplikasikan first-person shot sehingga penonton dapat melihat suatu kejadian melalui mata Linda – meski makin belakang, ini terasa tak lebih dari sekadar gimmick. Ditambah dengan dandanan jauh dari kata malu-maluin untuk rombongan hantu yang diwujudkan dalam rupa pocong berclurit beserta perempuan berkebaya merah (bahkan terlihat mengerikan lho!), DreadOut membuktikan bahwa dirinya mempunyai potensi. Yang kemudian mengubur hidup-hidup potensi tersebut sampai-sampai film berakhir sebagai tontonan menggelikan nan melelahkan adalah pengarahan Kimo berserta skrip racikannya.  

Tunggu, tunggu. Bukannya tadi Cinetariz yang mengatakan kalau narasi tak berbobot bukan jadi soal? Tenang, guys, saya tidak mendadak mengalami amnesia kok. Memang betul saya tidak mengharap DreadOut punya guliran penceritaan kompleks yang di dalamnya menyertakan kritik atau komentar sosial, tapi bukan berarti saya bisa menerima dengan lapang dada saat ada banyak hal tak terjabarkan di sini. Karena banyak di sini, jumlahnya sangat sangat banyak (pengen deh nulis ‘banyak’ dalam huruf kapital). Sebagai contoh saja, penonton tidak pernah diberi tahu mengenai asal muasal ‘kekuatan’ yang dipunyai Linda maupun sang ibu, begitu pula dengan kegunaannya secara spesifik kecuali biar bisa buka tutup portal gaib sesuai permintaan pelanggan. Kita juga tidak dituangi informasi perihal latar belakang perempuan berkaya merah, mitologi dibalik keberadaan alam gaib yang dimasuki remaja-remaja ini, fungsi keris yang diperebutkan oleh banyak pihak, dan kesaktian flash di ponsel milik Linda yang tahan air, tahan banting plus tahan lama itu. Alhasil tanya yang dimulai dengan kata, “kenapa? Mengapa? Ada apa?” terus menghantui benak ini di sepanjang durasi sampai-sampai saya gagal fokus. Sampai-sampai saya tak bisa lagi menemukan letak serunya film ini kecuali saat penonton lagi ngakak di adegan yang tak seharusnya ngakak. Masa iya ini disengaja oleh si pembuat film demi memberi kesempatan bagi penonton untuk mengeluarkan kemampuan mengarang bebas? Jadi ceritanya, kita dibebaskan untuk berasumsi mengenai apa yang terjadi dalam film tanpa pernah dikasih tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Jika benar demikian, Astaghfirullah, Pak Kimo. Berasumsi dan berprasangka itu tidak dibenarkan oleh agama lho. Dosa!


Tapi memang yang namanya dosa bakal menempel otomatis saat menonton DreadOut sih. Bukan, bukan karena zina mata melihat Jefri Nichol buka-bukaan baju, melainkan karena mendoakan sebagian besar karakter di film ini agar cepat dicaplok para hantu dan menemui ajalnya. Kedengarannya memang jahat sekali, cuma mau bagaimana lagi, Jessica si pengabdi konten dan konco-konconya ini tingkat annoying-nya sudah level dewa. Yang mereka lakukan di sini tidak jauh-jauh dari: live di Instagram, mencari sinyal, ribut-ribut tak jelas, lari-lari, teriak-teriak, lalu ulangi lagi dari tahapan mencari sinyal. Persis seperti guliran pengisahan dari filmnya itu sendiri yang, well… repetitif. Saat portal menuju dunia lain terbuka, saya sempat bersemangat karena latar mengalami ekspansi dan tidak melulu berkutat di apartemen yang mulai kurang terlihat seram. Tapi semangat itu seketika menciut sampai sekecil upil begitu melihat betapa mudahnya Linda menyelamatkan karakter tertentu dari cengkraman si antagonis, dan tak lama kemudian, si antagonis kembali menculiknya. Like, seriously? Mbok ya daripada kelihatan kayak bocah rebutan mainan gitu, mending misi penyelamatannya agak dipanjang-panjangin biar tak terkesan amat mudah dilaksanakan. Lagian, anak-anak ini pindah dimensi kok kayak pindah ruangan. Keluar masuk dengan begitu entengnya padahal mereka mesti menyelam dalam-dalam, bukan sekadar buka pintu. Saking seringnya, saya sampai curiga kalau mereka ini sebetulnya atlet renang di sekolah karena fisik mereka masih tetap segar bugar sekalipun udah berkali-kali nyemplung menggunakan pakaian lengkap. Saya yang melihatnya saja sudah kedinginan dan bersin-bersin lho. Kalau saya jadi mereka, sudah pasti keesokan harinya membolos sekolah. Bukan karena trauma, tapi karena masuk angin. Brrr…


Note : DreadOut mempunyai dua adegan bonus, jadi bertahanlah yaaa.

Poor (2/5)


9 comments:

  1. Seriuuusss om? Padahal ini salah satu film yg paling kutunggu2 lho. Secara gitu, kimo (padahal kimo, bukan timo wkwk)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius. Nontonnya bikin beteque. Untung ada adegan-adegan yang bisa diketawain jadi masih sedikit terhibur. 😅

      Delete
  2. Sepertinya saya lebih terhibur baca review nya cinetarci daripada nonton filmnya langsung.. 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heiii... Cinetariz yaa bukan Cinetarci *getok pakai ulekan*

      Delete
    2. Ups.. Maaf om Cinetariz, hehe.. Maksud saya juga gitu, kepencet langsung ke publish..

      Delete
    3. Maksudnya cinetariz cinta kalii haha 😁

      Delete
  3. Lumayan bagus menurut ane. Walaupun tidak menyeluruh adaptasi dari game.
    Layak buat di tonton

    ReplyDelete
  4. Apa ya agak bertele-tele di pertengahan, jadinya bosan diulang-ulang terus pulang kampung ke portal gaib,hehehe

    berharap dibikin sekuel, setannya juga belum semua yang ada di game dimasukkan, apa yang kurang di film pertama semoga terbayarkan di film kedua, pengennya sih begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah, repetitif banget. Keluar masuk portal gaibnya terasa mudah jadi kerasa nggak ada tantangannya. Akhirnya aku pun kayak, "halah ntar mereka paling juga bisa keluar dari portal itu dengan mudah." Nggak bikin deg-degan. Aku pun sejatinya kurang berminat dengan sekuel, tapi tetap berharap ada perbaikan jika beneran dibikin.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch