January 28, 2019

REVIEW : INSTANT FAMILY


“Things that matter are hard.”

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya berkesempatan buat menonton film mengenai keluarga yang menggoreskan kesan mendalam pada hati di layar lebar. Yang pertama adalah Shoplifters (2018) dimana keluarga tidak didefinisikan secara konvensional mengikuti aturan yang telah disusun masyarakat, lalu disusul oleh Mary Poppins Returns (2018) yang keceriannya seketika membangkitkan mood, kemudian berlanjut pada Keluarga Cemara (2019) yang memberi tontonan sederhana nan tulus yang sudah lama tidak saya dapatkan, dan akhirnya yang baru saja saksikan sekaligus memberi kejutan terbesar diantara lainnya yakni Instant Family. Apabila kamu menjadikan jejak rekam sang sutradara sebagai bahan pertimbangan utama untuk memprediksi kualitas suatu film, maka saya cukup meyakini kalau kamu akan sama terkejutnya dengan saya saat menyaksikan Instant Family arahan Sean Anders (Horrible Bosses 2, dwilogi Daddy’s Home) ini. Memang sih corak komedi yang cenderung liar sebagai ciri khas Anders dalam berceloteh masih tertampang cukup nyata meski sekali ini agak direduksi levelnya. Tapi ada satu hal yang tak pernah saya sangka-sangka kemunculannya – terlebih berkaca pada Daddy’s Home yang hanya bisa diingat karena semangat bersenang-senangnya – yaitu elemen sentimentil yang digarap dengan kepekaan tinggi. Kamu akan dibuatnya berkaca-kaca, berlanjut menangis sesenggukan, sampai kemudian memutuskan untuk menghubungi orang tua di rumah melalui ponsel demi melontarkan pertanyaan sederhana, “apa kabar? Kalian sehat?.”

Salah satu faktor krusial yang membuat Instant Family bisa memiliki sensasi rasa berbeda dibanding karya-karya terdahulu si pembuat film adalah sumber inspirasi untuk materi penceritaannya. Bukan adaptasi, bukan pula hasil imajinasi orang lain, film ini justru beranjak dari pengalaman nyata Anders saat menyatakan keputusannya untuk mengadopsi tiga kakak adik sebagai buah hatinya. Di sini, sosok Anders beserta pasangannya diibaratkan sebagai sepasang suami istri dari kelas menengah, Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne), yang belum juga dikaruniai momongan sekalipun usia mereka telah berada di area kepala empat. Ditengah kepanikan karena mereka telat menyadari bahwa masih ada ‘lubang’ dalam kehidupan rumah tangga mereka dan rongrongan dari pihak keluarga Ellie yang semakin gencar, keduanya pun memutuskan untuk nekat mengadopsi anak. Awalnya sih, niat mereka saat mendaftar kelas pelatihan sebagai orang tua angkat lebih kepada iseng-iseng belaka. Tapi saat Pete dan Ellie bertemu dengan seorang remaja bernama Lizzie (Isabela Moner) beserta kedua adiknya, Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz), di ‘pameran anak angkat’, keduanya tiba-tiba berubah pikiran. Mereka seolah menemukan cosmic connection dengan Lizzie dan adik-adiknya yang lantas mendorong mereka untuk memantapkan hati dalam mengasuh tiga bersaudara ini sekalipun perjuangannya tidak mudah. Disamping karakteristik ketiga anak yang sulit diterka serta berbeda antara satu dengan yang lain, kehadiran seseorang dari masa lalu semakin mempersulit perjuangan Pete dan Ellie dalam mendapatkan hak asuh.


Meski saya sempat mengatakan Instant Family akan membuatmu nangis sesenggukan dan film ini mengulik soal prosedur dalam mengadopsi anak di negeri Paman Sam, si pembuat film tidak pernah membawanya ke ranah melodrama. Segala tangis yang mencuat di sini bukan disebabkan oleh rangkaian adegan mendayu-dayu yang meminta penonton untuk iba kepada nasib Pete, Ellie atau Lizzie, tetapi lebih kepada adanya sejumlah adegan yang membahagiakan, menghangatkan, serta menenangkan hati di sekitar para protagonis. Jangankan momen besar seperti persidangan hak asuh dimana salah satu karakter mendesak hakim agar dirinya dipersilahkan membacakan sebuah surat untuk si anak angkat, Instant Family pun bisa bikin mata kelilipan seraya mengucap “awww… manisnya” dari momen kecil seperti saat Ellie girang bukan kepalang lantaran Juan bersedia memanggilnya ‘ibu’. Dan sebetulnya, film ini tersusun atas momen-momen kecil nan sederhana seperti itu yang barangkali terlihat sepele di mata sebagian penonton tapi ini sejatinya memiliki pengaruh besar bagi para karakter jika kita memahami kondisi mereka seperti apa. Pete dan Ellie membutuhkan pengakuan dari anak-anak angkat bahwa mereka telah menjalankan tugas sebagai orang tua yang baik, sementara Lizzie yang telah terbiasa diabaikan tumbuh menjadi seorang remaja pemberontak yang skeptis terhadap cinta. Saat dua dunia ini enggan untuk memahami satu sama lain – bahkan cenderung mengedepankan ego masing-masing – konsekuensi yang muncul adalah konflik. Tercipta pertikaian yang disebabkan oleh: 1) pandangan Lizzie kepada calon orang tuanya yang dianggapnya palsu, dan 2) Ellie yang menilai kemarahan Lizzie sebagai wujud penolakan.

Inilah yang kemudian membuat Instant Family terasa menggigit. Dibalik kemasan luar yang seolah mengindikasikan ini sebagai tontonan keluarga yang ringan-ringan saja, ternyata terselip life lesson berharga di dalamnya yang disampaikan secara efektif tanpa pernah membuat telinga berdengung lantaran menyerupai isi khotbah. Anders menyelipkan materi parenting yang bisa terdeteksi dengan sangat jelas melalui upaya Pete dan Ellie dalam menciptakan relasi yang hangat dengan ketiga anaknya, melalui support group bersama para calon orang tua angkat yang berbagi pengalaman beserta keluh kesahnya menghadapi anak-anak baru mereka, serta melalui dua pekerja sosial, Karen (Octavia Spencer) dan Sharon (Tig Notaro), yang seringkali memberi wejangan-wejangan kepada Pete-Ellie sekalipun tak jarang pula mereka melontarkan celetukan bernada nyinyir yang mengundang gelak tawa. Baik Octavia Spencer maupun Tig Notaro memainkan peran mereka secara santai – sampai-sampai saya berharap mereka dipasangin lagi dalam sebuah buddy movie lantaran tektokannya kerap bikin tergelak – begitu pula dengan jajaran pemain lain. Jika saya diperkenankan untuk menyebut keunggulan lain dari Instant Family, maka itu adalah para pelakon yang tampak menikmati peran mereka sekalipun porsinya secuil. Dari Mark Wahlberg-Rose Byrne yang mempunyai chemistry beserta comic timing bagus, lalu Isabela Moner yang menyembunyikan kerapuhannya dibalik topeng remaja manipulatif yang tak jarang menjengkelkan, kemudian Margo Martindale bersama Julie Hagerty sebagai duo nenek yang menyikapi situasi adopsi ini secara berbeda (adegan mengucap nama Juan itu lucu sekali!), sampai Joan Cusack dalam cameo yang teramat random tapi kocak.


Sokongan akting penuh semangat dari para pemain ini sedikit banyak memberikan pengaruh amat baik bagi Instant Family sehingga film terasa begitu enerjik dan menguarkan aura positif kepada penonton. Sulit untuk tidak menyukai film ini terlebih jika kamu memiliki soft spot pada tontonan keluarga, berhati sensitif, serta bukan wujud nyata dari Lizzie: skeptis pada cinta sampai melabeli segala sesuatu yang manis nan lembut sebagai kepalsuan. Ada banyak sekali gelak tawa yang terkandung di dalamnya – mengingat ciri khas Anders masih dipertahankan maka antisipasi munculnya jokes yang kurang cocok dikudap penonton cilik – begitu juga dengan rasa hangat. Instant Family adalah feel good movie yang kamu butuhkan untuk menjaga positivity dalam tubuh ditengah terjangan arus kebencian, kepenatan sehari-hari, serta berita tak menggembirakan di televisi. Selain memberi kursus singkat mengenai parenting yang akan berguna bagi mereka yang sudah (maupun akan) menjadi orang tua, Instant Family juga mengingatkan penonton mengenai makna non-konvensional dari keluarga yang sedikit banyak menyerupai Shoplifters. Bukan semata-mata ditentukan oleh hubungan darah, keluarga dapat terlahir karena adanya faktor lain yang melibatkan kesediaan untuk bertanggung jawab, adanya rasa saling menghargai, serta paling utama, memelihara cinta kasih. Memang betul family isn’t always easy karena pertengkaran dan perselisihan akan senantiasa hadir demi menguji kekuatan hubungan. Tapi saat mereka bersedia untuk kembali lalu merangkulmu kembali di saat kamu jatuh, terpuruk, atau menjauh, pada saat itulah kamu telah menemukan keluargamu yang sesungguhnya. Remember, things that matter are hard.

Outstanding (4,5/5)


4 comments:

Mobile Edition
By Blogger Touch