April 29, 2019

REVIEW : 27 STEPS OF MAY


“Bapak nggak salah.”

Dalam kasus pelecehan seksual, siapa sebetulnya yang patut dipersalahkan dan semestinya menerima ganjaran atas “ketidakberdayaannya”? Apakah pelaku yang tunduk kepada hawa nafsunya atau korban yang tak kuasa dalam memberi perlawanan? Apabila fungsi hukum diberlakukan secara semestinya serta bersedia patuh pula pada akal sehat maupun bukti-bukti, maka sudah barang tentu pelaku adalah pihak yang sepatutnya bertanggungjawab. Sebab, mereka telah memaksakan kehendak kepada orang yang tak pernah memberikan persetujuan atas tindakan-tindakan mereka. Akan tetapi, realita di lapangan nyatanya tak berbicara demikian karena para penegak hukum (sekaligus masyarakat tukang ikut campur) merasa bahwa letak kesalahan justru ada di korban lebih-lebih jika kasus ini merundung perempuan. Alih-alih mempertanyakan motivasi pelaku, mereka justru mengemukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban seperti: apa pakaian yang dikenakan oleh si A? Saat diperkosa atau dilecehkan, apa benar dia tidak sedang dalam pengaruh narkoba atau minuman beralkohol? Kenapa sih si A malah pergi ke tempat kejadian perkara padahal sudah memahami resikonya? Bukannya perempuan seharusnya sudah mendekam di rumah ya selepas jam-jam tertentu? Dalam pandangan publik yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki (secara sadar maupun tidak), korban nyaris mustahil untuk menang. Kalaupun akhirnya ditindaklanjuti, jalan keluar yang diambil seringkali bersifat kekeluargaan ketimbang benar-benar menindak tegas perbuatan pelaku sehingga tak mengherankan jika kemudian banyak yang memilih untuk bungkam dan tenggelam dalam trauma.

27 Steps of May sebagai sebuah tontonan yang mencoba membangkitkan kesadaran publik mengenai isu “kekerasan seksual”, enggan mengonfrontasi secara langsung atau melontarkan komentar bernada nyelekit terhadap pihak-pihak yang dinilai berkontribusi pada kecacatan hukum tersebut. Sebaliknya, film arahan arahan Ravi Bharwani (Impian Kemarau, Jermal) ini meletakkan fokusnya kepada korban beserta keluarganya dan memperlihatkan bagaimana mereka harus menanggung dampak secara psikologis yang tidak ringan. Dalam konteks film, korban yang dimaksud adalah seorang perempuan bernama May (Raihaanun). Peristiwa traumatis yang membayanginya selama delapan tahun lamanya bermula dari kunjungannya ke sebuah pasar malam saat dia masih berusia 14 tahun dan mengenakan seragam putih biru. Tak pernah terbayangkan oleh May, senyum sumringahnya kala menikmati wahana akan segera tergantikan oleh tangisan serta duka lara berkepanjangan akibat digagahi oleh sejumlah laki-laki yang tak dikenalnya. May yang dirundung trauma pun memilih untuk mengurung diri di rumah seraya menjalankan aktivitas yang sama saban hari; berolahraga lompat tali, hanya bersedia mengonsumsi makanan serta minuman serba putih, dan membuat boneka. Dalam segala tindak-tanduknya ini, May tak melakukan kontak mata maupun berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang terus menyalahkan dirinya sendiri lantaran tak sanggup melindungi putri semata wayangnya tersebut. Kehidupan dua manusia yang begitu hampa, muram, serta dingin ini perlahan mulai berubah setelah seorang pesulap (Ario Bayu) pindah ke sebelah rumah mereka. Melalui dinding kamarnya yang terkelupas, May diam-diam mengintip sang pesulap kala melatih atraksi-atraksinya yang perlahan tapi pasti mendorong May untuk bangkit dari keterpurukannya.


Oleh Ravi beserta Rayya selaku penulis skenario, kemunculan sesosok pesulap misterius ini diniatkan sebagai support system yang tak pernah didapat oleh May sebelumnya dari orang terdekat. Alih-alih merangkul, memberikan dukungan moril, serta membangun komunikasi, ayah May justru ikut terpuruk seperti halnya sang putri. Kemarahan membuncah dalam dirinya yang lantas dilampiaskannya di atas ring tinju bawah tanah. Berbeda dengan May yang memilih bungkam seribu bahasa lalu melukai dirinya sendiri kala ingatan-ingatan buruknya menyeruak, ayah May (dikenal sebagai “Bapak” oleh penonton) memilih untuk menghajar petinju-petinju lain seraya mengumpulkan uang ketika rasa sakitnya tak lagi terbendung. Akibat dari keputusannya tersebut, Bapak acapkali meninggalkan May seorang diri di rumah. Menciptakan kekosongan lebih dalam bagi putrinya, sekaligus kian merenggangkan hubungan diantara mereka karena ketiadaan waktu untuk berkomunikasi. Selama menit-menit awal – khususnya saat film mengajak kita mengobservasi kehidupan dua manusia ini – 27 Steps of May memberlakukan mode sunyi dimana iringan musik urung hadir, sementara dialog nyaris tak terlontarkan mengikuti pilihan May yang menolak berbicara kepada siapapun. Kita sebatas menyaksikan keseharian May dan Bapak yang repetitif dimana pembedanya hanya bisa dijumpai dari obrolan Bapak dengan kurir pengantar boneka bekas (dimainkan dengan cemerlang oleh Verdi Solaiman) di pagi hari. Terdengar menjemukan memang, tapi momen-momen ini memang diperlukan demi memberi penekanan pada rasa hambar nan sunyi yang menghinggapi dua karakter ini. Apiknya, berkat pengarahan teliti, tangkapan-tangkapan gambar yang “berbicara”, beserta penampilan luar biasa dari jajaran pemain khususnya Raihaanun yang sanggup menyuarakan emosinya melalui ekspresi serta gestur-gestur kecil, penonton mampu memenuhi keinginan si pembuat film: merasakan kenelangsaan keluarga ini.

Untuk sesaat, saya sempat menyalahkan Bapak karena sekadar berdiam diri saat menghadapi May dan seolah tak bertanggung jawab ketika dia mengikuti pertarungan tinju bawah tanah yang berbahaya. Akan tetapi, saya seketika mengoreksi pemikiran ini begitu menyadari bahwa Bapak juga berada di posisi korban. Lukman Sardi terlihat sangat hancur sekaligus kebingungan dalam menyikapi duka sang putri. Lagipula, penonton hanya memperoleh informasi setelah May berusia 22 tahun sehingga kita tak pernah benar-benar tahu apa yang telah dilakukannya selama delapan tahun terakhir. Yang penonton dapati, kesabaran Bapak telah membuat May bertahan meski keengganan May untuk berbicara juga membuktikan bahwa Bapak tidak memberikan pendekatan yang tepat agar putrinya bersedia membuka diri. Satu pertanyaan yang kemudian menghampiri diri ini adalah, “apakah dua manusia yang sama-sama terluka bisa saling menyembuhkan? Atau justru hanya membuat keadaan semakin memburuk?.” Maksud saya, Bapak pun terluka akibat ketidaksanggupannya untuk menerima kenyataan mengenai kondisi May dan kecenderungannya untuk selalu menyalahkan diri sendiri. Jika sudah demikian, bukankah harus ada pihak ketiga yang bersedia “memediasi” keduanya agar komunikasi bisa kembali mengalir? Dalam pikiran positif saya, Bapak terkendala oleh biaya sehingga tak mampu menghubungi psikiater. Atau malah jangan-jangan, si pembuat film secara implisit menyatakan bahwa Bapak tak pernah meminta bantuan untuk May karena adanya stigma pada psikiater dan ketidakpercayaan kepada pihak luar yang cenderung berprasangka terhadap korban pemerkosaan? 


Apapun motivasi Bapak, May akhirnya bersedia membelokkan “aturan-aturan” yang disusunnya sendiri selepas berjumpa dengan si pesulap agar bisa melihat lalu mengimitasi atraksi yang diperagakan. Secara setapak demi setapak, ada warna yang mulai mengisi relung hidupnya yang kelabu, ada kebahagiaan yang mulai menggoyahkan penderitaan yang telah lama menguasai jiwanya, dan ada harapan yang kembali berdetak. May menunjukkan perubahan-perubahan kecil yang sontak mengagetkan Bapak, “apa yang telah terjadi kepada putriku?.” Menyaksikan May bersedia untuk keluar zona nyamannya serta memberi impresi bahwa dia masih memiliki gairah hidup, saya jelas bahagia. Hanya saja, mengingat si pesulap adalah seorang laki-laki dan dia tampaknya tidak menyadari masa lalu May, apa ada kemungkinan hal buruk tidak kembali terulang? Apa ada kemungkinan dia tidak menyimpan motif jahat dibalik kebaikannya? Saya tahu ini terdengar sinis, tapi berhubung saya telah terkoneksi dengan si protagonis, saya tidak ingin melihatnya terjerembab lagi ke jurang depresi. Saya tidak ingin perjuangannya untuk mengatasi trauma berkepanjangan berakhir sia-sia. Saya ingin melihatnya bangkit dari keterpurukkan dan menginspirasi para penyintas yang belum berkenan melanjutkan hidup. Kalaupun May tidak melakukannya (karena dia bukanlah karakter nyata), tapi paling tidak, itulah yang dilakukan oleh 27 Steps of May. Merangkul para penyintas lalu membuka mata publik khususnya mereka yang masih menganut asas victim blaming dalam kasus pelecehan seksual. Jika film ini kebetulan tayang di kotamu, saya berharap kalian bersedia meluangkan waktu beserta uang untuk menonton film yang tidak saja menyesakkan dada tetapi juga penting ini.

Outstanding (4/5)


8 comments:

  1. Raihanum pantas dpt penghargaan piala citra dah keren banget aktingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes. Kemarin dia baru saja dapet piala di penghargaan film tingkat ASEAN. Sepertinya ajang penghargaan film tanah air dalam setahun ke depan bakal diborong olehnya.

      Delete
  2. Selalu baca review Bagus soal akting raihanun .Kenapa ya dy ga terlalu kpopular dalam artian jd buzz. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia jarang banget main film soalnya karena memang sangat pemilih. Semua filmnya pun (kecuali Twitvortiare tahun ini) berada di jalur indie jadi nggak heran kalau namanya kurang populer.

      Delete
  3. Makasih buat reviewnya, min. Kemarin akhirnya nonton dan asli keren banget. Aktingnya Raihaanun keren pol! Cuma pakai tatapan mata aja aku udah nyesek liatnya. Pengen lihat akting doi lagi. Serius keren abis!

    ReplyDelete
  4. Salam kunjungan dan follow ya :)

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch