April 16, 2019

REVIEW : HOTEL MUMBAI


“I’m scared.”

“We all are. But to get through this, we must stick together.”

Bagi masyarakat India, empat hari di penghujung bulan November pada tahun 2008 akan selalu dikenang sebagai hari-hari terkelam dalam sejarah bangsa. Betapa tidak, kota Mumbai yang dikenal sebagai sentra bisnis mendadak diserang secara membabi buta oleh sekelompok pria bersenjata. Sebanyak 174 jiwa melayang sia-sia, sementara lebih dari 300 penyintas mengalami luka-luka. Serangan dilancarkan ke delapan titik di berbagai penjuru kota, termasuk hotel bintang lima bernama The Taj Mahal Palace Hotel yang kerap menjadi singgahan orang-orang penting dari seluruh dunia. Menilik statusnya sebagai hotel terkemuka, tidak mengherankan jika kemudian lokasi ini menyumbang jumlah korban cukup besar. Ada ratusan manusia yang dijadikan sandera selama tiga hari yang kemudian mendorong media-media asing untuk meliput peristiwa penyanderaan tersebut. Mereka melakukan reportase sekaligus melontarkan tanya berbunyi “siapa dalang dibalik peristiwa ini?”, “apa motivasi yang melandasinya?”, “bagaimana situasi di dalam hotel?”, dan “akankah pasukan khusus dari New Delhi mampu datang tepat waktu untuk menyelamatkan para sandera?.” Empat buah tanya yang harus diakui terdengar seksi nan menggelitik untuk dijadikan sebagai bahan utama bagi lahirnya sebuah film panjang. Dan tentu saja, kesempatan ini tak disia-siakan begitu saja oleh sineas dari India yang lantas menelurkan The Attacks of 26/11 (2013), lalu disusul oleh sineas asal Prancis lewat Taj Mahal (2015, sempat tayang pula di Indonesia), dan paling baru adalah kolaborasi dari tiga negara; Australia, India, serta Amerika Serikat dalam wujud Hotel Mumbai.

Seperti halnya Taj Mahal, Hotel Mumbai pun meletakkan fokusnya secara spesifik pada peristiwa penyerangan dan penyanderaan di The Taj Mahal Palace Hotel. Oleh sutradara pendatang baru Anthony Maras, penonton tidak hanya diperkenankan “melihat langsung” peristiwa ini melalui kacamata satu dua karakter saja melainkan ada beberapa sudut pandang yang diajukan termasuk para teroris. Beberapa karakter yang mempunyai tanggung jawab menggerakkan narasi antara lain seorang pelayan bernama Arjun (Dev Patel) yang tengah menantikan lahirnya anak kedua, kepala koki bernama Hemant Oberoi (Anupam Kher) yang senantiasa mengingatkan anak buahnya untuk memerlakukan tamu selayaknya dewa, seorang pewaris kerajaan bisnis berdarah Iran-Inggris bernama Zahra (Nazanin Boniadi) yang datang bersama suami (Armie Hammer) beserta pengasuh bayinya (Tilda Cobham-Hervey), mantan anggota pasukan khusus asal Rusia bernama Vasili (Jason Isaacs), dan empat orang teroris yang salah satunya bernama Imran (Amandeep Singh). Setelah para teroris menjejakkan kaki di The Taj Mahal Palace Hotel dengan menyamar sebagai penyintas dari kalangan masyarakat sipil, kekacauan pun segera melanda seisi hotel. Dimulai dengan melesakkan peluru ke para tamu dan staf di lobi, keempat teroris secara perlahan tapi pasti mulai menjelajah ke setiap kamar untuk mengeksekusi para tamu. Menyadari bahwa nyawa para tamu berada di ujung tanduk dan bantuan tak kunjung datang, Hemant Oberoi beserta para staf hotel yang tersisa pun berinisiatif untuk melakukan aksi penyelamatan meski nyawa sendiri menjadi taruhannya
.

Sedari menit-menit pembuka, Hotel Mumbai telah mengaplikasikan laju penceritaan yang bergegas. Penonton diperkenalkan secara cepat dengan karakter-karakter protagonis yang memiliki peranan besar seperti Arjun, Hemant, Zahra beserta keluarga kecilnya, dan Vasili, lalu beralih ke para teroris yang menciptakan huru-hara di seputaran Mumbai. Kita memang hanya mengetahui tentang mereka sekelumit saja, tapi bekal itu sudah cukup untuk membentuk afeksi dengan karakter-karakter inti karena kita mengetahui bahwa mereka adalah manusia-manusia baik yang tidak semestinya berada dalam posisi tersebut. Arjun hanyalah wong cilik yang sedang berjuang untuk menafkahi keluarganya, Hemant merupakan staf hotel yang berdedikasi penuh pada pekerjaannya, Zahra adalah istri sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, dan Vasili, well… dia agak kompleks. Membutuhkan durasi cukup panjang untuk mengetahui apa yang membentuk perangainya. Disokong oleh performa menawan dari jajaran pemain – kredit khusus patut disematkan untuk Dev Patel, Anupam Kher, Nazanin Boniadi, Tilda Cobham-Hervey, serta Amandeep Singh – memungkinkan bagi penonton untuk bersimpati kepada para korban dan mengutuk keras tindakan para teroris yang pada satu titik sempat membuat saya terenyuh. Ya, saya berkaca-kaca dalam suatu adegan menelpon yang mengungkap alasan Imran dalam bertindak sebagai algojo. Tanpa pernah disadari, Imran beserta komplotannya pun sejatinya adalah korban yang dijadikan pion oleh pihak-pihak berkepentingan dengan iming-iming uang dan surga (baca: jihad).

Selepas penonton mengetahui satu dua tentang para karakter, si pembuat film seketika menyodori kita dengan menu utama berupa rekonstruksi tragedi kemanusiaan di kota Mumbai. Penembakan demi penembakan disusul oleh ledakan demi ledakan menciptakan teror bagi mereka yang berada di tempat dan waktu yang salah, bagi warga setempat yang menyaksikan huru-hara melalui siaran berita di televisi seraya harap-harap cemas terhadap keselamatan kerabat, serta bagi mereka yang menyaksikan Hotel Mumbai di layar lebar. Anthony Maras berusaha untuk seautentik mungkin dalam mengkreasi peristiwa ini yang berarti adegan kekerasannya ditampilkan dengan cukup eksplisit demi menciptakan rasa tidak nyaman di hati penonton. Tidak terhitung berapa kali saya sempat memalingkan pandangan dari layar (bahkan ada kalanya menutup telinga) lantaran merasa terganggu dalam menyaksikan kekejian para teroris kala mengeksekusi korban-korbannya. Rasa-rasanya ingin sekali mengutuk si dalang yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa si pembuat film telah berhasil menunaikan tugasnya untuk menyampaikan pesan anti terorisme. Penonton dapat mengetahui bahwa mayoritas korban adalah orang-orang tak bersalah yang sebetulnya bukanlah sasaran utama, penonton dapat pula melihat sebesar apa dampak yang ditimbulkan oleh aksi keji tak bertanggung jawab ini. Dalam kaitannya dengan Hotel Mumbai sebagai produk dari dunia hiburan, penonton dapat merasakan beragam jenis emosi selama menyaksikan tontonan yang turut menekankan pada aksi heroik staf hotel yang penuh dedikasi ini. Dari mulai berdebar-debar, lalu menahan nafas, sampai akhirnya menangis sesenggukkan di penghujung durasi.     

Outstanding (4/5)


6 comments:

  1. Wajib nonton nih, kalau saya The grand Budapest hotel atau film The magnificient marigold hotel kerenan mana min..

    ReplyDelete
    Replies
    1. The Best Exotic Marigold Hotel, maksudnya? Keduanya bagus, tapi aku lebih suka The Grand Budapest Hotel.

      Delete
  2. Min, review film Arctic coba.. w baru saja nonton w kasih bintang 5 .. diulasan yang ane buat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya nggak tayang di bioskop terdekat, jadi nggak bisa diulas di blog. Udah kelewat lama juga. Maaf.

      Delete
  3. Abis nonton film ini tadi karna nunggu cinetariz review dulu dan kebetulan kerja di bidang tersebut, jadi makin kerasa banget deg-degannya ngebayangin kalo kejadian beneran 😂 tapi serius ya ini film bagus banget, suka sama detailnya salah satunya kayak gemeteran pas si receptionist lagi nelpon. Jadi berasa banget emang mereka lagi ketakutannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Cara membangun tensinya keren sekali, bisa beneran bikin penonton stres. Kita seolah ikut mengalami. Kalau kamu kerja di bidang yang sama, ada kedekatan tuh jadi terasa semakin menegangkan ya :)))

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch