REVIEW : ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD

by - 11:27 AM


“When you come to the end of the line with a buddy who is more than a brother, and little less than a wife, getting blind drunk together is really the only way to say farewell.”

(Ulasan ini mungkin mengandung spoiler jadi berhati-hatilah)

Selepas munculnya altenate history melalui Inglourious Basterds (2009) dimana Adolf Hitler dikisahkan terbunuh lalu dua western film berwujud Django Unchained (2012) yang membawa penonton ke era perbudakan dan The Hateful Eight (2015) yang mengadu manusia-manusia bengis dalam satu ruangan, para penggemar film di seluruh dunia pun bertanya-tanya: apa langkah berikutnya yang akan diambil oleh sutradara jenius bernama Quentin Tarantino? Dua tahun berselang usai merilis film terbarunya, Tarantino membeberkan sekelumit gagasannya mengenai film kesembilannya. Konon, dia berencana untuk mengkreasi sebuah tontonan yang didasarkan pada peristiwa nyata yang menggemparkan Hollywood di tahun 1969, pembunuhan keji oleh keluarga Manson. Tapi seperti halnya film-film sang sutradara terdahulu, Once Upon a Time in Hollywood – judul film yang dimaksud – pun tidak menempatkan dirinya sebagai sebuah film biopik maupun sejarah yang dapat dijadikan referensi. Kasus nyata yang diselipkan disini hanyalah bagian dari topik utama yang diutarakan oleh Tarantino, yakni surat cinta untuk Hollywood. Ketimbang mengedepankan tontonan bersifat investigasi, si pembuat film justru memilih untuk mengajak penonton bernostalgia ke era 60-an akhir dimana Hollywood mewujudkan sekaligus menenggelamkan harapan besar dari para pemimpi.

Guna menghantarkan kisah dalam Once Upon a Time in Hollywood, Tarantino mengedepankan dua karakter inti di garda terdepan. Mereka adalah Rick Dalton (Leonardo DiCaprio), seorang aktor, dan Cliff Booth (Brad Pitt), seorang pemain pengganti. Dua manusia yang berkecimpung di industri hiburan Hollywood ini telah berkawan baik sedari lama dan hubungan mereka pun semakin lengket selepas Dalton yang kehilangan SIM-nya mengupah Booth untuk menjadi asisten pribadinya. Dimana ada Dalton, disitu pula kamu bisa menemukan Booth. Dalton sendiri tengah mengalami krisis dalam karirnya selepas upayanya untuk menembus film layar lebar tidak memperoleh apresiasi yang layak. Alhasil, Dalton yang dulunya dikenal sebagai jagoan dalam berbagai serial televisi, kini hanya kebagian peran kecil sebagai villain. Kesadaran bahwa karirnya akan segera berakhir muncul setelah seorang produser menawari Dalton sebuah peran untuk film berjenis spaghetti westerns – film koboi dari Italia. Ditengah kekalutannya ini, Dalton kerap ditenangkan oleh Booth yang karirnya sudah dinyatakan habis usai rumor dia membunuh sang istri merebak ke berbagai penjuru. Demi bertahan hidup, Booth pun mengabdikan diri pada Dalton yang memang selalu membutuhkan bantuannya. Disela-sela kisah bromance antara Dalton-Booth, Tarantino turut menghadirkan sesosok aktris bernama Sharon Tate (Margot Robbie) yang diposisikan menjadi antitesis bagi Dalton. Dia masih muda, penuh semangat, dan karirnya segera menjulang. Tate yang tinggal bersama sutradara kenamaan di sebelah rumah Dalton ini seketika menjadi incaran Dalton untuk “panjat sosial” guna menyelamatkan karirnya yang meredup dengan cepat.


Apabila kamu terpikat dengan Once Upon a Time in Hollywood karena faktor pemain dan belum pernah bersentuhan dengan film-film garapan Tarantino, well, ini bukanlah film yang mudah untuk dikonsumsi. Merentang panjang hingga 160 menit, laju pengisahan yang diterapkan terhitung pelan dan cenderung kontemplatif dimana pergerakan cerita lebih mengandalkan pada dialog demi dialog ketimbang aksi. Membawa penonton memasuki mesin waktu menuju ke era keemasan Hollywood di tahun 1960-an, si pembuat film membuai kita dengan seabrek referensi budaya populer yang merebak kala itu. Baik dari film, serial televisi, musik, lifestyle, tempat-tempat nongkrong, sampai produk. Untuk urusan otentisitas, Once Upon a Time in Hollywood memang tak main-main. Bahkan Tarantino sampai merasa perlu untuk bekerja sama dengan pemerintah kota dan para pengusaha di Los Angeles selama masa pengambilan gambar lantaran dirinya emoh mendayagunakan CGI guna menyulap “surga hiburan” ini agar serupa dengan situasi pada 50 tahun silam. Sungguh sebuah dedikasi, bukan? Tapi tentu saja film ini bukan hanya soal pamer pengetahuan, melainkan lebih kepada dongeng perihal manusia-manusia yang mengadu nasib di Hollywood. Ada tiga tokoh sentral yang diajukan, yakni Dalton, Booth, serta Tate. Ketiganya memiliki karakteristik maupun nasib yang diposisikan berlainan dimana Dalton dan Booth mewakili “masa-masa redup” sementara Tate adalah simbol dari Hollywood: “bersinar”. Selama menggulirkan narasi yang kerap diinterupsi oleh kilasan balik atau cuplikan film, Tarantino menempatkan penonton sebagai pendengar sekaligus pengamat.

Kita mendengarkan keluhan-keluhan Dalton yang diserang kegelisahan lantaran karirnya mengalami kemerosotan. Melalui pertukaran dialog antara dirinya dengan Booth maupun tokoh-tokoh lain di sekelilingnya, penonton dapat memahami bahwa kegelisahan ini adalah suatu kondisi yang wajar bagi para pelakon yang tak lagi muda di Hollywood. Mereka terpinggirkan, mereka terbuang. Mungkinkah kegelisahan ini mewakili suara dari Tarantino? Bisa jadi demikian. Di sisi lain, penonton mengamati Tate yang dilingkupi keceriaan di sepanjang harinya. Adegan dia tersenyum bahagia mendengar reaksi penonton kala menonton filmnya sendiri di bioskop merupakan satu momen emas yang membuat saya tersentuh. Tate yang cenderung santai menjalani hidup merupakan antitesis dari Dalton yang senantiasa tegang dalam memikirkan karirnya. Dua karakter ini dimainkan dengan sangat hidup oleh Margot Robbie yang kemunculannya seringkali memancarkan sinar, dan Leonardo DiCaprio yang sangat rapuh dibalik sikap arogannya. Brad Pitt sebagai Booth yang misterius juga tak kalah ciamik. Dengan pesonanya yang kuat, sulit untuk tak jatuh hati kepada karakter ini sekalipun muncul pula kewaspadaan lantaran kita tak pernah benar-benar tahu apa yang bisa diperbuatnya. “Benarkah dia membunuh istrinya sendiri?” adalah satu pertanyaan yang terus mengikuti yang tampaknya merujuk pada Me Too Movement di Hollywood dewasa ini. Maksud saya, karir Booth yang dikisahkan berakhir selepas rumor pembunuhan merebak kemana-mana kurang lebih senada dengan berakhirnya karir sejumlah aktor usai terlibat dalam skandal pelecehan atau kekerasan seksual.


Disamping ketiga karakter yang merepresentasikan para pelaku industri di Hollywood, Once Upon a Time in Hollywood juga memiliki karakter penting lain dari kalangan “jelata”: keluarga Manson. Jika kamu belum pernah mengetahui sejarah keluarga ini, ada baiknya berburu informasi terlebih dahulu sebelum menonton lantaran keberadaan mereka memiliki impak kuat pada narasi… dan Tarantino enggan mencekoki penonton dengan latar belakang dari keluarga persekutuan ini. Dia menganggap penonton sudah tahu siapa mereka, dia menganggap penonton sudah tahu sepak terjang mereka. Kalau kamu sudah paham betul perihal mereka, maka kemungkinan besar dirimu akan berdebar-debar dalam adegan peternakan, tergelak-gelak di adegan pergulatan, sampai kemudian mata dibuat berkaca-kaca melalui adegan pamungkas yang (sedihnya) mengingatkan kita bahwa film ini tak lebih dari sebuah dongeng. Seperti tertuang pada judulnya. Once Upon a Time in Hollywood memang bukan karya terbaik dari seorang Tarantino, tapi ini adalah karya paling personal dan sentimentil yang pernah dibuatnya. Tak hanya dibikin takjub, tertawa, tegang serta meringis melihat adegan kekerasannya, sekali ini dia pun sanggup membuat penonton untuk merasa tersentuh lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantong untuk menyeka air mata.

Note : Pastikan untuk tidak langsung cus karena Once Upon a Time in Hollywood mempunyai satu adegan bonus yang layak buat dinanti.

Outstanding (4/5) 


You May Also Like

2 Comments

  1. Saya ragu nonton ini karena katanya film ini banyak refrensi dgn budaya pop 60an jadi takut nya kagak nyambung... bdw film It chapter 2 kagak di review ya? heeee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya sih poin pentingnya ada di kasusnya Sharon Tate. Kalau soal referensi budaya pop, nggak perlu risau. Malah bisa jadi dorongan buat mempelajari budaya pop masa itu selepas nonton.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch