October 31, 2019

REVIEW : ZOMBIELAND DOUBLE TAP


“When you love something, you shoot it in the face. So it doesn't become a flesh eating monster.”

Apakah ada diantara kalian yang masih ingat dengan Zombieland? Itu lho, film tentang mayat hidup yang disajikan secara unik dan mendapatkan puja puji dari kritikus maupun penonton saat dirilis di bioskop pada tahun 2009 silam. Ketimbang sebatas bernarasi tentang sejumlah manusia yang mencoba bertahan hidup dari serangan zombie, film arahan Ruben Fleischer (Gangster Squad, Venom) tersebut mencoba memberikan sejumlah modifikasi yang terdiri dari: 1) pijakan genrenya adalah komedi dimana film tak pernah menganggap dirinya serius, 2) ada aturan-aturan diberlakukan untuk bertahan hidup yang tak hanya diucapkan tetapi juga divisualisasikan secara nyentrik, 3) penggunaan nama kota di Amerika Serikat sebagai nama karakter untuk menghindari ketergantungan, dan 4) film menyelipkan kehangatan ke dalam narasi menyusul adanya topik pembicaraan seputar “manusia adalah makhluk sosial”. Hasilnya, kita mendapati salah satu tontonan zombie terbaik yang pernah dibuat. Lebih-lebih, Zombieland juga dianugerahi chemistry hebat dari keempat pelakon utamanya seperti Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, serta Abigail Breslin yang belakangan semuanya menyandang predikat “pemain kelas Oscar”. Sungguh impresif, bukan? Saking impresifnya, ada beban tersendiri bagi tim pembuat film tatkala mencetuskan gagasan untuk menciptakan sebuah sekuel. Mereka membutuhkan waktu selama bertahun-tahun untuk menggodok naskah, sampai akhirnya film kelanjutan bertajuk Zombieland Double Tap baru siap diluncurkan pada perayaan ulang tahun ke-10 dari film pertama yang untungnya masih dimeriahkan oleh jajaran pemain yang sama.

Ya, Zombieland Double Tap masih mengandalkan empat karakter yang sama dengan sang predesesor untuk menggerakkan roda penceritaan seperti Tallahassee (Woody Harrelson), Columbus (Jesse Eisenberg), Wichita (Emma Stone), serta Little Rock (Abigail Breslin). Kini, berselang sepuluh tahun semenjak peristiwa di penghujung film pertama, keempat protagonis kita ini dikisahkan telah lihai dalam membasmi zombie dan mereka telah menemukan sebuah tempat tinggal yang aman nan nyaman: Gedung Putih. Disamping itu, kita juga memperoleh informasi bahwa hubungan diantara Columbus dengan Wichita sudah berkembang semakin serius, sementara hubungan Tallahassee dengan Little Rock tak ubahnya ayah bersama putri kandungnya sendiri. Mudahnya, mereka telah membentuk sebuah keluarga kecil bahagia seperti keinginan mereka selama ini. Jadi, apa lagi yang kurang? Ternyata oh ternyata, berada di zona nyaman selama bertahun-tahun membuat keempatnya mengalami kejenuhan sehingga tak pelak konflik pun menjangkiti. Little Rock yang mendamba hubungan dengan lelaki sebaya memutuskan untuk kabur, sedangkan Wichita yang belum siap menjalin komitmen memilih untuk meninggalkan Columbus. Ditinggalkan oleh dua perempuan penting dalam hidup mereka, Tallahassee dan Columbus pun dirundung sepi. Mereka mencoba bertahan hidup dalam kesunyian sampai Madison (Zoey Deutch) yang penuh keceriaan mendadak hadir ditengah-tengah mereka dan Wichita memutuskan kembali ke Gedung Putih selepas “dicampakkan” Little Rock. Bersama-sama, empat manusia ini lantas nekat turun ke jalanan yang dipenuhi zombie ganas guna menemukan keberadaan Little Rock yang konon pergi bersama seorang hippie tanpa senjata, Berkeley (Avan Jogia).


Ditinjau dari segi narasi, sebetulnya tidak ada pembaharuan berarti yang ditawarkan oleh Zombieland Double Tap. Guliran pengisahannya bisa dibilang senada dengan sang pendahulu dimana kali ini topik pembicaraannya berkisar pada “menemukan rumah sesungguhnya bersama keluarga sesungguhnya.” Mengingat bahwa film terjebak dalam status development hell selama beberapa tahun, maka tentu sedikit mengecewakan begitu mendapati narasinya yang seolah sebatas menduplikasi film pertama. Pun begitu, saya bisa memahami keputusan yang diambil oleh si pembuat film karena mengubah ramuan yang telah terbukti manjur adalah tindakan yang beresiko. Para penggemar mungkin akan mengeluh, para penggemar mungkin akan mengajukan boikot. Demi memberi pembeda sehingga tak terkesan terlampau malas, Zombieland Double Tap pun meningkatkan cakupan skala seperti umumnya dilakukan oleh sekuel dimana kali ini penonton bisa menjumpai lebih banyak zombie ganas (beberapa jenisnya mencakup Hawking, Ninja, dan T-800), memperkuat elemen komedik beserta laga, dan memperbanyak jumlah karakter yang berkontribusi terhadap pergerakan cerita. Selain Madison dan Berkeley, film juga memiliki Nevada (Rosario Dawson) yang mencuri hati Tallahassee beserta duo Albuquerque (Luke Wilson) dan Flagstaff (Thomas Middleditch) yang memiliki kemiripan karakteristik dengan dua protagonis kita. Imbas yang kemudian bisa diraskan dari penggandaan skala ini adalah Zombieland Double Tap terasa lebih meriah. Dentuman demi dentuman bisa ditemui dengan mudah, gelak-gelak tawa juga semakin sering terdengar. Adanya kandungan hiburan yang pekat, membuat diri ini bersedia untuk bersikap agak permisif terhadap jalinan pengisahan yang sekali ini tergolong kurang greget.

Disamping faktor pengulangan yang menyebabkan beberapa keunikan dari seri pertama tak lagi nampol (terutama soal peraturan, “Zombie kill of the year” sebagai gimmick tetap lucu), persoalan yang mendera para karakter tak benar-benar tergali. Mereka pergi begitu saja, mereka juga kembali begitu saja sehingga meniadakan stakes yang memadai dalam narasi yang membuat penonton terikat. Beruntung, rentetan humor yang dilontarkan di film ini hampir seluruhnya berjalan dengan baik, dengan sorotan khusus pada celotehan untuk membuat jasa semacam Uber yang sangat jenius, dan beruntung juga, chemistry diantara para pemain tidak pernah padam. Meski terpisah selama satu dekade, interaksi yang timbul  dari Harrelson, Eisenberg, Breslin, serta Stone masih saja menggigit yang membuktikan bahwa mereka memang layak menyandang predikat “aktor Oscar”. Ada setitik kehangatan dari interaksi Harrelson-Breslin, ada sejumput rasa manis dari interaksi Eisenberg-Stone, dan ada banyak kelucuan dari interaksi si pendatang baru Deutch dengan para bintang utama. Stone dengan komentar-komentar sarkasnya memang acapkali membuat saya terbahak-bahak, tapi mesti diakui, bintang sesungguhnya dari Zombieland Double Tap adalah Zoey Deutch yang menebarkan keceriaan hingga titik maksimal. Karakter Madison yang berpotensi menjadi sangat menyebalkan mengingat penggambarannya yang kelewat generik (gadis pirang yang bodoh, anyone?), mampu dibawakan dengan penuh energi dan comic timing yang jarang sekali meleset oleh Deutch. Dari semula hanya menertawakan tingkah polah konyol Madison, kita lambat laun akan dibuat jatuh hati kepadanya sampai-sampai ada kerinduan menyergap tatkala sosoknya absen dari layar. Kita merindukan keceriaannya, kita merindukan semangatnya, dan kita tentu saja merindukan celotehannya yang ajaib.


Note : Ada dua aturan yang sebaiknya kamu penuhi saat menonton Zombieland Double Tap: 1) Jangan datang terlambat karena film dibuka secara unik, dan 2) jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop karena film mempunyai dua bonus adegan di sela-sela serta penghujung end credit.

Exceeds Expectations (3,5/5)

1 comment:

  1. Saya suka yg pertama nya,,, meski menurut aku gak luar biasa juga. terlalu banyak berkelakar sampe2 porsi zombie nya terasa kurang menggigit. tapi yg kedua ini blm nonton.

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch