February 14, 2020

REVIEW : MILEA SUARA DARI DILAN


“Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.”

Dalam dwilogi Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019) yang menjaring jutaan penonton – bahkan tertoreh di sejarah sebagai film Indonesia paling banyak dipirsa – kita telah menjadi saksi bagaimana kisah kasih antara Dilan si panglima tempur (Iqbaal Ramadhan) dengan Milea (Vanesha Prescilla) bersemi dan layu dengan sama cepatnya. Usai dijejali rayuan-rayuan gombal yang membuat para penggemarnya gemas bukan kepalang di jilid pertama yang narasinya mengalun santuy lantaran nyaris tiada konflik, film arahan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini lantas menghamparkan pendekatan berbeda dalam instalmen kedua. Kalimat berbunga-bunga yang kerap meluncur dari mulut Dilan memang masih ada, tapi intensitasnya mengalami penurunan seiring tak hangatnya lagi hubungan kedua sejoli ini. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai durasi hingga sampai pada satu titik yang bikin hati pengikut Dilanisme seketika nelangsa: mereka memilih untuk berjalan sendiri-sendiri. Tak ada lagi pasangan DiMil, hanya tersisa Dilan dan Milea. Nanges nggak, tuh? Telah mencapai konklusi yang menyatakan bahwa pasangan fiktif ini urung melaju ke pelaminan dalam Dilan 1991, ternyata tak lantas menghentikan Pidi Baiq selaku pemilik cerita dan Max Pictures selaku rumah produksi untuk mengakhiri franchise fenomenal ini. Mereka melaju dengan babak ketiga bertajuk Milea Suara Dari Dilan yang dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersisa dari dua seri pendahulunya. Guna memberi penonton perspektif lain dari kisah kasih duo karakter utamanya dimana sekali ini Dilan bertindak selaku narator alih-alih Milea.

Ya, seperti tertoreh dalam judul, Milea Suara Dari Dilan mengajak penonton untuk melongok kembali cerita cinta Dilan-Milea berdasarkan sudut pandang Dilan. Ketimbang hanya menjabarkan secara garis besar, narasi melempar kita jauh ke beberapa saat sebelum film pertama dimulai. Well, film juga sempart memberi sekelumit gambaran mengenai masa kecil sang protagonis meski selang berapa menit kemudian, masa-masa SMA kembali menjadi sorotan. Saat Dilan telah bergabung dengan geng motor dan ditaksir secara terang-terangan oleh seorang perempuan bernama Susi. Dilan sendiri tak menanggapinya secara serius karena beberapa kawannya kerap melantangkan satu nama siswi baru yang sosoknya membuat si karakter utama dilingkupi kepenasaran: Milea. Apa yang terjadi selepas Dilan memberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis pujaannya, kita semua sudah mengetahuinya. Yang tidak banyak kita ketahui mengingat narasi dua film terdahulu dicelotehkan menganut sudut pandang Milea adalah masa-masa dimana badai mulai menerjang hubungan dua protagonis. Ketika Akew (Gusti Rayhan) meninggal yang memicu kemarahan meluap-luap dalam diri Dilan, ketika sang ayah (Bucek) melarangnya untuk menjejakkan kaki di rumah, dan ketika Milea akhirnya menjatuhkan putusan untuk mengakhiri hubungan mereka. Pada titik-titik inilah, penonton mendapati serentetan pandangan anyar termasuk apa yang sesungguhnya terjadi dibalik semua peristiwa ini. Tak lupa, si tokoh utama turut membagikan kisahnya jelang reuni dengan sang mantan dimana film menghadirkan momen-momen emasnya.


Tunggu, tunggu, momen emas? Betul, Milea Suara Dari Dilan tanpa disangka-sangka ternyata memilikinya dan bagi saya pribadi, film ini merupakan sebuah penutup yang mengesankan bagi trilogi Dilan-Milea. Memang betul bahwa perjalanan menuju menit-menit terakhir yang menggoreskan rasa pedih, pilu, serta sesak tidaklah mudah. Selama paruh awal – atau setidaknya sebelum duo sejoli ini putus – film berlangsung repetitif. Hanya menyodori penonton dengan serentetan momen yang sejatinya telah disimak di film pertama. Teramat minim jalinan pengisahan baru di dalamnya kecuali bubuhan cerita masa kecil sang protagonis serta persiapannya dalam mendekati sang pujaan hati. Itupun tak pernah benar-benar dieksplorasi secara mendetail sehingga membenamkan segala harapan untuk mengenal secara personal karakter Dilan, termasuk relasinya dengan sang ayah, keikutsertaannya dengan geng motor dan alasan yang mendasari ketertarikannya pada Milea. Untuk sesaat, saya dilingkupi kekecewaan karena film seolah enggan untuk mendedah sosok remaja ajaib yang memiliki kemahiran dalam merangkai kata-kata puitis ini. Padahal dari sanalah film berkesempatan untuk memunculkan greget dengan cara merekonstruksi momen-momen manis menggemaskan selama masa berpacaran berlangsung yang kali ini dilihat menggunakan kacamata si cowok, ketimbang sebatas menyelipkan stock footage dari Dilan 1990 yang tidak saja memunculkan kesan malas tetapi juga memupuskan impak adegan-adegannya itu sendiri. Saya pun bertanya-tanya, “mengapa diri ini harus melihat momen serupa apabila tidak ada sedikitpun perbedaan di dalamnya? Mengapa?”

Mesti diakui, pengulangan ini sempat membuat hamba dirundung jenuh. Saya ingin sekali keluar sejenak untuk mencari udara segar, toh tidak akan ada menit-menit krusial (dan baru) yang terlewatkan. Namun pada akhirnya saya memilih untuk bertahan dan syukurlah terhitung sedari mseusai muda-mudi yang tengah dimabuk cinta ini diterpa ujian, Milea Suara Dari Dilan mulai benar-benar bergerak dengan rangkaian adegan baru. Kita melihat apa-apa saja yang sebenarnya terjadi selama masa kehilangan yang menunjukkan betapa rapuh dan kesepiannya Dilan. Dia membutuhkan dekapan, tapi tak seorang pun bersedia mengulurkan tangan apalagi menyediakan bahunya untuk bersandar. Di tengah rintik-rintik hujan yang mengguyur kota Bandung, penonton menyaksikannya bersedu sedan. Ada kekecewaan meronta-ronta terhadap Milea, maupun terhadap dirinya sendiri. Iqbaal Ramadhan memperlihatkan kemahirannya bermain peran – yang sekaligus membuktikan kalau dia memang pilihan tepat – karena di titik inilah saya bersimpati kepadanya. Menyadari bahwa dirinya tak lebih dari sekadar remaja yang sedang mencari jati dirinya dan disalahpahami. Muncul keinginan untuk memeluknya, muncul keinginan untuk mendengarkan keluh kesahnya. Dari penuturannya yang hangat, kita bisa memafhumi alasan dibalik keengganannya untuk berdamai dengan sang kekasih lantaran bagaimanapun juga dia masihlah seorang bocah yang belum bisa mengendalikan ego dan emosinya. Bahkan, bukankah kita yang sudah tumbuh dewasa pun masih melakukannya?


Di saat saya mengira Milea Suara Dari Dilan akan mengakhiri narasinya seperti halnya Dilan 1991 yang sebatas mencelotehkan fase “pertemuan kembali” secara sepintas lalu, ternyata film berupaya mengompensasi kekosongan di paruh awal pada titik ini. Selepas adegan “menelpon mantan” yang menjadi momen emas dalam film dengan kemampuannya memberi rasa pedih, menit-menit akhir cukup banyak menyediakan rangkaian adegan bernuansa serupa yang akan membuatmu pilu dan sesak. Utamanya jika kamu pernah mengalami apa yang dialami oleh muda mudi ini: hubungan retak akibat kesalahpahaman dan ego yang membentengi komunikasi. Ditambah lagi, chemistry Iqbaal dengan Vanesha Prescilla memperlihatkan kekuatannya disini yang terdeteksi melalui gestur atau tatapan mata. Kita bisa mencecap bahwa masih ada getaran cinta diantara mereka, kita pun bisa mengetahui bahwa mereka sejatinya masih mengharap ada keajaiban yang dapat menyatukan keduanya. Melalui momen “menelpon mantan bagian 2” dimana kedua belah pihak mengakui kesalahan-kesalahan di masa lampau, atau momen “reuni sekolah” yang sayangnya berlangsung terlampau singkat, penonton dihadapkan pada sensasi gregetan yang sama sekali berbeda (plus bertolak belakang) dari jilid pertama. Tak lagi dibarengi senyuman, melainkan dibarengi oleh air mata. Narasi Dilan untuk memilih berdamai dengan luka dan masa lalu nyatanya justru membuat hati teriris-iris walau sunggingan senyum tetap terbit. Ketika film akhirnya selesai lalu lampu bioskop dinyalakan, rasa gregetan ini semakin menjadi-jadi bagi saya lantaran menyadari Milea Suara Dari Dilan bisa saja meninggalkan kesan yang jauh lebih kuat andai saja paruh awalnya dibangun menggunakan adegan-adegan baru dan bukannya stock footage. Bahkan dengan adanya kekecewaan seperti ini saja, saya masih bisa menganggap Milea Suara Dari Dilan sebagai babak penutup yang mengesankan.  

Exceeds Expectations (3,5/5)
  



10 comments:

  1. Dan Film kisah nya selesai atau bakal ada yg ke 4 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kisah mereka berdua sih udah berakhir di sini. Tapi ada rumor ceritanya Dilan bakal dilanjutin.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Kok saya malah mau nangis ya baca review yg ini pas dilan dalam kesendirian di halte, tapi tak ada siapapun di sampingnya. Inget pas nonton film ini kemarin, adegan itu emang getir sih. Bahkan sejk awal dilan melangkah keluar dari rumah akew meninggalkan milea, gesturenya dilan udah nelangsa. Kenapa si dilan ga marah atau teriak aja ke milea pas milea milih pulang Ama temen sekelasnya selepas dari melayat akew, kenapa dilan gak marah aja, kenapa dipendem keselnya gitu, emang cowok gitu ya. Aduh dek...kalo kakak disitu, udh KK pukpuk...kamu lebih layak buat mutusin milea duluan. Tapi apa daya kalo kata kamu : tidak masalah kalau kmu yg meninggalkanku, asal jangan aku yg meninggalkanku, aku gak mau kamu kecewa.

    Ambyarrr...

    Reply

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa. Dari adegan ini jadi kasihan sama Dilan dan sebel ke Milea. Pacarnya lagi nelangsa tapi malah tambah dicuekin dan nggak dikasih dukungan moral. Kerasa banget kekecewaannya disitu. Beneran pengen dipuk puk :(

      Delete
  4. 30 menit menjelang akhir yg cukup sentimentil untuk film berlatar belakang remaja SMA yg hanya ingin berbagi rindu, tanpa harus menjual penderitaan, kesakitan,kemiskinan,hubungan orang tua anak yg broken home, sungguh hasil akhir yg bisa relate dengan banyak orang. Bahkan voicecover dilan mengangkat narasi menjadi lebih dewasa. Gak perlu berusaha buat netesin air mata,karena sejak adegan kematian akew, kematian ayah dilan sampai moment telpon mantan part 1 dan 2, air mengalir dengan sendirinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 30 menit terakhirnya memang juara sih. Apalagi di adegan menelpon mantan itu. Rasanya sakit sekali. Berharap pertemuan kembali Milea-Dilan di reuni sekolah bisa lebih panjang sih, karena momen itu juga berpotensi bikin gemes gregetan nan nyesek kalau dikembangkan lagi.

      Delete
  5. Iqbal bagus banget mainnya, bisa ngehidupin karakter dilan bener2 nempel di dia. jika nicsap adalah rangga maka iqbal adalah dilan.
    Film ini secara apik memberikan perspektif lelaki dalam menjalin sebuah hubungan. Ku sebagai cewek jadi tau, "oooo cowok tu gitu ya kalo kita lagi marah2 apa kumat bawelnya" :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoih. Iqbaal ini emang aktor berbakat. Nggak sabar pengen liat akting dia di film barunya yang lagi syuting 😁

      Nahhhh.... Jadi paham kan gimana perasaan cowok pas lagi dimarahin sama ceweknya? Film ini ngegambarin dengan cukup pas kok, meski hamba tak akan sesabar Dilan sih kalau punya pacar kayak Milea 🤭

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch