February 15, 2017

REVIEW : SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2


“Nggak ada perempuan yang ikhlas berbagi, Mas. Dan aku nggak mau, Mas terbebani dengan harus berlaku adil.” 

“Apakah... ada laki-laki lain?” 

Dalam Surga Yang Tak Dirindukan, kebahagiaan Arini (Laudya Cynthia Bella) mendadak terenggut ketika mendapati suami tercintanya, Pras (Fedi Nuril), diam-diam telah mempersunting perempuan lain, Meirose (Raline Shah), sebagai istri muda tanpa seizinnya. Keputusan Pras untuk menikah lagi bukannya tanpa alasan. Dia berikrar akan membawa Meirose ke pelaminan demi menggagalkan rencana bunuh diri perempuan malang yang sedang mengandung ini. Dengan adanya orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Arini bersama Pras, ‘si perempuan terdzalimi’ Arini pun tak kuasa lagi menahan emosinya. Deraian tangisannya menghiasi hampir seluruh durasi film dan tak ayal turut mendorong para penonton untuk mengeluarkan tissue guna menyeka bulir-bulir air mata yang membahasi pipi. Setidaknya 1,5 juta pasang mata ikut dibuat nelangsa menengok kisruhnya jalinan asmara Arini sehingga tidak mengherankan MD Pictures mempunyai ide melanjutkan film ke jilid kedua. Mengingat sejatinya rumitnya simpul konflik telah terurai di penghujung film – Meirose memutuskan melanjutkan hidupnya sendiri tanpa campur tangan Pras, tentu ada sekelumit rasa penasaran terundang. Apa ya yang akan dicelotehkan oleh Surga Yang Tak Dirindukan 2

Berselang empat tahun usai perpisahan Arini-Pras dengan Meirose di stasiun kereta api, Arini yang kini menggeluti profesi sebagai penulis buku anak-anak memperoleh undangan ke Budapest untuk memberikan lokakarya sekaligus mempromosikan bukunya. Ditemani putri semata wayangnya, Nadia (Sandrinna Michelle Skornicki), dan manajernya, Sheila (Nora Danish), Arini pun bertolak ke ibu kota negara Hungaria tersebut sementara Pras yang masih disibukkan dengan urusan pekerjaan menyusul beberapa hari kemudian. Tidak pernah diperkirakan oleh Arini, perjalanan bisnisnya ini akan kembali mempertemukannya bersama Meirose yang belakangan diketahui telah berhasil berdamai dengan masa lalu kelamnya dan bersiap menempuh hidup baru bersama kekasihnya, Dr Syarief (Reza Rahadian). Bahkan demi menyempurnakan langkahnya untuk move on, Meirose berniat meminta Pras menceraikannya secara resmi. Akan tetapi, situasi yang tampaknya sudah sempurna bagi masing-masing pihak ini lantas kembali mengusut tatkala Pras menjejakkan kaki di Budapest dan tiba-tiba Arini justru meminta suaminya agar tidak meninggalkan Meirose. Tidak memperoleh penjelasan apapun, Pras jelas kebingungan sampai kemudian rahasia besar yang ditutup rapat oleh Arini dari orang-orang terdekatnya selama ini terbongkar.


Dibandingkan seri pertama, Surga Yang Tak Dirindukan 2 cenderung lebih kalem pula dewasa dalam bertutur. Letupan-letupan emosinya tidak sebombastis pendahulunya terlebih para karakter utama dipaparkan telah menemukan surganya masing-masing. Keputusan Hanung Bramantyo menghantarkan film ini dengan gaya sedikit berbeda dari film terdahulu jelas berdampak ganda. Di satu sisi, mereduksi elemen melodramanya membuat Surga Yang Tak Dirindukan 2 tampak segar serta elegan, sementara di sisi lain, penonton yang kedarung mengantisipasi akan adanya banjir mata di jilid kedua ini bisa jadi akan merasakan kelelahan berbalut kejenuhan lantaran laju filmnya terbilang tenang dan hanya ada segelintir momen-momen pemantik emosi. Disamping adegan Nadia tanpa sengaja mencuri dengar obrolan Arini bersama Dr Syarief, murni tidak ada gejolak yang memainkan perasaan penonton sedemikian rupa di paruh pertama. Yang kemudian menambat perhatian adalah bagaimana jajaran pelakonnya berolah peran, khususnya Reza Rahadian yang kentara sekali menunjukkan usahanya agar sosok Dr Syarief tak lebih dari sekadar pemeriah suasana belaka. Reza memberi perhatian khusus terhadap gaya berbicaranya, gestur, serta air muka sehingga karakter yang berpotensi lempeng apabila dimainkan aktor sembarangan ini serasa memiliki kompleksitasnya tersendiri. Kita bisa terhubung padanya, lalu kemudian peduli terhadap nasibnya. 

Beruntungnya Reza, dia memperoleh lawan main yang sanggup mengimbangi kekuatan aktingnya. Raline Shah menunjukkan peningkatan dari sisi performa dalam Surga Yang Tak Dirindukan 2. Ekspresinya menyiratkan adanya kegundahan akibat masa lalu yang kembali menyapa, adanya kecanggungan dalam berinteraksi dengan keluarganya, dan adanya ketulusan yang memberikan rasa teduh. Apabila film pertama condong mengarahkan penonton untuk berpihak kepada Arini, maka sekali ini dukungan disematkan kepada Meirose yang terombang-ambing diantara dua pilihan hidup sama baiknya. Apakah dia harus kembali ke masa lalu yang coba dihempaskannya demi membahagiakan pihak lain atau justru mengejar masa depan yang berarti akan meninggalkan guratan kekecewaan bagi pihak lain? Tangisannya di hadapan Dr Syarief adalah momen terbaik dari Surga Yang Tak Dirindukan 2. Kala Raline bersama Reza beradu peran bersama, mereka menghadirkan chemistry meyakinkan. Memunculkan sekelumit harapan, kedua karakter yang dibawakan mereka akan bersatu. Dengan adanya atraksi akting bagus semacam ini, rasa jenuh yang muncul dari datarnya penceritaan di awal mula plus rasa sebal yang dipantik oleh muatan humor dengan kadar agak berlebih sampai-sampai tak lagi lucu pun dapat ditekan. Paling tidak, begitu film menginjak 30 menit terakhir, daya tarik beserta gejolak emosi mulai terdeteksi seiring makin meruncingnya konflik dan memberikan penonton sejumlah momen-momen mengharu biru yang cukup berkesan.

Acceptable (3/5)


4 comments:

  1. Setuju
    Konflik film ini kurang nendang
    Tapi ending nya yang menyedihkan menyelamatkan film ini
    Sehingga film nya menimbulkan kesan sedih & bikin baper penonton perempuan
    Banyak yang nangis soalnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak menjumpai juga penonton yang matanya sembab selepas nonton film ini. Klimaksnya memang hebat. Jangankan penonton perempuan, saya pun sempat usap-usap air mata kok. Hahaha.

      Delete
  2. menonton film ini antara mau dan gak mau. Mau karena penasaran sama ceritanya (cerita surga yang tak dirindukan saya udah pernah baca waktu novelnya masih berjudul istana kedua. makanya sempat ragu mau nonton yang pertama, karena gak yakin apa bisa dbuat sebagus novelnya. mengingatnya novelnya penuh dengan twist)tapi sempat juga gak mau. karena, mau dibawa kemana lagi ceritanya?
    hasilnya memang bagus. saya suka banget karakter meirose di sini. pergolaan batinnya yang bagus banget diperankan raline shah bikin saya nonton sampai akhir. sayangnya, selesai nonton ini, sebagai pria saya justru semakin menganggap kalau poligami memang sesuatu yang rumit dan dilematik hahahah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, persoalan poligami memang tidak pernah gampang apalagi pasti melibatkan hati. Hahaha. Yup, Meirose lebih kuat perannya disini daripada Arini. Ada pertentangan batin antara merangkul kembali masa lalu atau menghempaskannya sama sekali.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch