Showing posts with label Troll. Show all posts
Showing posts with label Troll. Show all posts

January 3, 2020

REVIEW : THE GRUDGE (2020)


“I went to the house. I think something followed me home.”

“Astaghfirullah” adalah reaksi pertama yang saya lontarkan selepas menyaksikan interpretasi baru dari The Grudge pada malam tahun baru kemarin. Sebuah reaksi yang umumnya muncul seusai hamba menonton sebuah film yang membuat stok kesabaran menipis. Bayangkan, ketimbang bersuka cita bersama kawan-kawan dekat, menyantap makanan lezat, atau melihat para musisi mempertontonkan kecintaannya pada musik di atas panggung, saya justru menghabiskan 90 menit untuk duduk di dalam bioskop guna menyimak sebuah tontonan yang sama sekali tidak mempunyai suka cita di dalamnya. Yang ada hanyalah penderitaan, penderitaan, dan kebosanan. Hingga pada satu titik, saya meyakini bahwa penderitaan yang dialami oleh para karakter dalam film ini tak sebanding dibanding penderitaan yang harus dilewati penonton yang telah memutuskan untuk memilih The Grudge sebagai film penutup di tahun 2019 (atau film pembuka 2020). Entah apa yang telah merasuki saya sampai-sampai nekat menebus satu tiket tontonan memedi ini sekalipun masih dibuat trauma oleh Rings (2017) yang tak kalah amsyongnya. Usai mengolesi kepala menggunakan satu botol minyak angin beraroma terapi lalu melahap sepiring steak sebagai comfort food, saya pun bisa kembali berpikir jernih untuk berkata ternyata ada dua alasan utama yang melatarinya: 1) kecintaan pada franchise Ju-On (atau The Grudge untuk remake) yang mempunyai satu karakter demit sensasional bernama Kayako, dan 2) jejak rekam sang sutradara, Nicolas Pesce (The Eyes of My Mother), yang cukup meyakinkan. Ditambah lagi adanya fakta bahwa Sam Raimi turut bertindak sebagai produser, saya tentu optimis The Grudge versi anyar ini akan lebih mendingan ketimbang dua jilid pendahulunya yang ternyata oh ternyata terbukti salah kaprah. Duh, duh, duh…

December 12, 2018

REVIEW : SESUAI APLIKASI


“Selama kita tabah, keadaan akan berubah.” 

Saat menonton suatu film, saya selalu memegang prinsip: look at the positive side. Sebisa mungkin, cari sisi positifnya sekalipun film yang ditonton adalah kreasi Nayato Fio Nuala atau diproduseri Dheeraj Kalwani yang sisi negatifnya bertebaran dengan sangat jelas di setiap sudut. Atau dengan kata lain, menemukan kebaikan dalam film mereka bak ngubek-ngubek tumpukan jerami buat menemukan satu jarum cuilik. Alamakjang, susahnyaaa! Saya pun demikian ketika akhirnya memutuskan untuk menyaksikan Sesuai Aplikasi garapan Adink Liwutang (The Underdogs) yang trailernya hanya mencuplik banyolan-banyolan dalam film tanpa pernah memberikan informasi perihal plot. Saya masih berbaik sangka ditengah ekspektasi yang sebetulnya sudah tiarap karena trailer ini sungguh garing. Mungkin si pembuat film ingin memperjelas ke calon penonton kalau film buatannya ini berada di jalur komedi. Mungkin si pembuat film menyisipkan satu twist besar yang berpotensi bocor kalau plotnya diumbar di trailer. Mungkin juga si pembuat film ingin memantik rasa penasaran calon penonton sehingga terus menerus berspekulasi karena petunjuk paling jelas yang disematkan di trailer adalah persahabatan dua driver ojek online. Apakah betul film ini semacam versi layar lebar dari sitkom Ok-Jek yang mengudara di kanal televisi Net? Jika kamu menduga demikian, well… kamu tidak sepenuhnya keliru. 

August 14, 2015

REVIEW : FANTASTIC FOUR


"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh."

Begini. Di atas kertas, proyek reboot dari Fantastic Four memang terdengar menjanjikan. Dengan versi satu dasawarsa lalu biasa-biasa saja, maka ya bukankah kecil kemungkinan film pembaharuan untuk superhero Marvel kepunyaan Fox ini akan lebih buruk mengingat sekali ini diperkuat oleh sutradara dengan jejak rekam mengesankan (hey, Josh Trank memberi kita film found footage keren Chronicle!) dan jajaran pemainnya yang boleh dibilang aktor aktris muda berbakat masa kini? Ya, seolah-olah mustahil memperoleh pengalaman sinematik penuh duka lara seperti saya alami awal tahun ini gara-gara Seventh Son dan Dragon Blade. Sebagai seseorang yang seringkali berhasil menemukan titik kesenangan dari suatu film – meski buruk sekalipun – maka diwanti-wanti oleh beberapa kawan tidaklah meresahkanku toh Fantastic Four-nya Chris Evans masih membuatku bersenang-senang. Segala sikap optimis yang diboyong ke bioskop tatkala menyantap film garapan Bang Trank seketika meluntur selayaknya eye shadow terkena tetesan air begitu mendapati Fantastic Four yang tengah diputar ini bukanlah superhero movie melainkan dongeng pengantar tidur! Damn, damn. 

November 29, 2013

REVIEW : EYANG KUBUR


Poster dari Eyang Kubur itu bagus. Meski banyak yang mengatakan desain posternya adalah hasil plagiat dari The Addams Family... dan sebagainya, dan sebagainya... mau tak mau, kudu diakui ini adalah salah satu poster film Indonesia terbaik tahun ini. Menjalankan fungsinya sebagai alat promosi film secara semestinya yang akan membuat siapapun yang melangkahkan kaki ke bioskop membicarakannya (atau minimal, meliriknya). Terbungkus dengan cantik, artistik, dan rapi jali, ada sebuah kesan bahwa produk keluaran Unlimited Production ini layak untuk disantap. Begitu menyilaukan mata. Namun Anda perlu berhati-hati... karena poster ini disinyalir memiliki kemampuan untuk menghinoptis. Efek samping bagi mereka yang memandanginya lebih dari satu detik adalah berjalan menghampiri loket bioskop dan membeli satu (atau lebih) tiket untuk jam pertunjukkan Eyang Kubur. Waspadalah. 

April 2, 2012

REVIEW : LOVE IS U

“Nggak, nggak, nggak kuat… Nggak, nggak, nggak kuat…” Lho, lho, itu kan kutipan lirik ‘Playboy’ tembang milik 7 Icons? Tenang, jangan keburu protes dulu. Sepenggal lirik ini bukan bermaksud untuk membandingkan siapa yang lebih superior antara 7 Icons dengan Cherrybelle, melainkan hanya ungkapan hati saya saat menyaksikan film debut dari Cherrybelle di bioskop, Love is U. Saking tidak kuatnya, saya sampai ingin menggigit kursi yang ada di depan saya. Sial sekali waktu itu saya memutuskan untuk tidak memiliki segelas minuman bersoda dan berondong jagung yang bisa saya telan bulat-bulat ketika jengkel. Dan lebih sial lagi, pulsa di handphone sedang menipis. Maka satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa bosan yang sudah mencapai ubun-ubun adalah memandangi personil Cherybelle satu persatu secara cermat. Strategi jitu? Nampaknya, apalagi setelah menyaksikan film ini saya mendadak jatuh cinta setengah mati dengan girlband ini, seolah-olah mereka adalah sekumpulan bidadari yang baru saja turun dari langit.

Menyaksikan Love is U membuat saya tidak tahan untuk segera menyandingkannya dengan Fantasi, Spice World, Purple Love hingga Baik-Baik Sayang yang memiliki tujuan yang senada, memanfaatkan sejumlah orang atau sebuah band yang tengah naik daun demi menumpuk pundi-pundi. Sekalipun empat film tersebut memiliki kualitas yang pas-pasan, jalinan ceritanya yang menghibur membuatnya menjadi semacam ‘guilty pleasure’ bagi sebagian orang, termasuk non-fans. Sayangnya, ini tidak terjadi pada Love is U. Naskah buatan Jamil Aurora kelewat datar, sementara Hanny R. Saputra tidak bisa berbuat banyak. Alhasil, dengan dialog yang membosankan, akting yang ‘begitu deh’, setting yang melulu disitu-situ saja dan nyaris tidak dihiasi dengan percikan konflik yang bikin gregetan, tentu Anda sudah bisa membayangkan betapa menyiksanya film ini. Jika memang sejak awal tujuan dibuatnya film ini adalah sebagai media promosi, sepertinya dikemas dalam bentuk film konser seperti Hannah Montana atau Glee adalah pilihan yang lebih baik. Memaksakannya muncul sebagai sebuah film layar lebar sementara hampir seluruh aspek belum siap hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Agak mengherankan sutradara sekelas Hanny R. Saputra bersedia menerima tawaran film dengan naskah yang bahkan lebih lemah dari FTV sekalipun ini. Para personil Cherybelle dikisahkan tengah dikarantina menyusul kegagalan mereka tampil secara kompak dalam sebuah pertunjukkan. Layaknya Akademi Fantasi Indosiar, kita pun disuguhi dengan tayangan seputar kehidupan sehari-hari para personil Cherybelle saat mereka berlatih koreografi, vokal, hingga bersantai bersama di tempat karantina. Agar tidak monoton, maka sejumlah bumbu penyedap berupa konflik antar personil, konflik dengan anggota keluarga dan konflik dengan para pelatih pun dicemplungkan. Apakah bumbu-bumbu ini membuat Love is U menjadi terasa lezat? Oh, sayang sekali tidak. Menyebalkan, ya. Serentetan konflik yang berpotensi memanaskan suasana, dimunculkan sepotong-sepotong dengan penyelesaian yang serba mudah. Penyelesaian konflik selalu ditandai dengan personil Cherybelle yang saling berpelukan, menangis bersama, lalu melantunkan tembang “Beautiful”, “Love is You”, dan “I’ll Be There For You” berulang-ulang hingga saat Anda keluar dari gedung bioskop, tanpa sadar Anda telah hafal dengan lirik tiga lagu tersebut. Saya tidak sedang menonton salah satu episode Teletubbies kan?

Pada akhirnya, kemunculan Love is U di layar lebar memang hanya untuk memuaskan dahaga para ‘Twibi’ dan ‘Twiboy’ yang seakan belum puas melihat idolanya bersliweran di layar kaca setiap hari. Love is U adalah bentuk pengkultusan terhadap Cherybelle. Hanya para fans yang akan jejeritan atau bertepuk tangan setelah film berakhir. Sementara mereka yang tidak terlalu mengenal girlband ini, atau malah membencinya, akan menepuk jidat mereka berulang-ulang dan mengacak-acak rambut, kecuali mereka tahu cara mengatasi kebosanan. Menyaksikan sembilan gadis dengan cara berbusana, cara berbicara, menangis, marah, hingga tertawa dengan cara yang nyaris serupa ditambah perilaku kekanak-kanakan yang dibuat-dibuat tentu bukan pemandangan yang menyenangkan, meski mereka luar biasa cantik. Jika ada yang bergembira ria, maka sekali lagi itu hanyalah fans Chibi, (dan anehnya) saya. Karena saya sudah luar biasa putus asa mencari kegembiraan di tengah gurun yang gersang. Ketika rasa haus dan lapar mulai menyerang, apapun terlihat lezat.

Troll

March 10, 2012

Short Reviews: SAFE HOUSE & GHOST RIDER: SPIRIT OF VENGEANCE

Safe House

Film keempat dari Daniel Espinosa, Safe House, berkisah mengenai mantan anggota CIA yang membelot, Tobin (Denzel Washington), yang diboyong ke rumah perlindungan setelah secara tiba-tiba memerlihatkan batang hidungnya di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Cape Town, Afrika Selatan. Kemunculannya menimbulkan tanda tanya besar. Belum sempat pihak CIA mengorek informasi lebih dalam dari Tobin, sebuah kelompok bersenjata mendobrak masuk dan mengobrak abrik rumah perlindungan. Sang penjaga rumah, Matt (Ryan Reynolds), pun ikut terseret ke dalam kasus dan terpaksa melindungi Tobin dari berbagai pihak yang mengincarnya. Beruntung, jajaran pemainnya solid terutama Denzel Washington yang berakting meyakinkan sebagai Tobin, sehingga mampu menyelamatkan Safe House dari kebosanan lantaran naskahnya yang klise dengan alur yang mudah ditebak.

Acceptable
Ghost Rider : Spirit of Vengeance

Hasil box office seluruh dunia Ghost Rider yang lumayan membuat Marvel Knights dan Nicolas Cage kelewat percaya diri untuk melanjutkan kisah si tengkorak penunggang motor sekalipun para kritikus mencercanya. Dalam Ghost Rider : Spirit of Vengeance, sebuah sekuel yang seharusnya tidak perlu dibuat, Johnny Blaze (Nicolas Cage) bertugas untuk melindungi seorang bocah, Danny (Fergus Riordan), yang diburu oleh iblis (Ciaran Hinds) karena diyakini sebagai objek keturunan setan. Sepanjang film, rasanya saya ingin sekali melemparkan minuman karbonasi saya ke layar. Neveldine/Taylor membuat film pertamanya terasa seperti sebuah mahakarya. Ghost Rider : Spirit of Vengeance yang dibentuk dari sebuah naskah yang nampaknya dibuat oleh seseorang yang sedang teler dipenuhi dengan adegan-adegan dan humor-humor bodoh menyebalkan, alih-alih menyenangkan, kian “dipermanis” dengan efek khusus yang memprihatinkan serta para aktor yang bermain canggung. Film yang saya rekomendasikan bagi siapapun yang kebingungan dalam menghabiskan setumpuk uangnya. Dan saya bahkan belum menyebutkan 3D-nya yang palsu.

Troll

January 14, 2012

REVIEW : PULAU HANTU 3


"Bulan purnama gini paling enak renang telanjang di pantai."

Alasan utama saya rela meluangkan sedikit waktu demi menyaksikan Pulau Hantu 3 adalah karena saya menyukai jilid pertamanya yang sekalipun ide cerita yang diangkat terbilang usang, Jose Poernomo berhasil mengemasnya menjadi sebuah tontonan mencekam yang menyenangkan dengan balutan komedi yang lumayan segar. Sekuelnya yang rilis setahun kemudian gagal menghadirkan atmosfir yang serupa lantaran diberi suntikkan komedi lebih banyak tanpa ada perkembangan dalam jalan cerita. Setelah 3 tahun lamanya tidak ada kabar, saya pikir Jose Poernomo memutuskan untuk mengakhiri terror dari hantu yang memiliki wajah yang serupa tapi tak sama dengan Ghostface dari Scream ini. Ternyata, dugaan saya salah, saudara-saudara. Pulau Hantu tidak akan dibiarkan begitu saja menjadi pulau tak berpenghuni selama masih ada ratusan ribu penonton yang menggeruduk bioskop dengan senang hati. Seakan tidak belajar dari kesalahan yang didapat dari film sebelumnya, porsi komedi semakin diperbanyak di Pulau Hantu 3. Bahkan, film ini terasa lebih tepat disebut sebagai ‘softcore porn’ dengan bumbu komedi horror, ketimbang sebagai film horror komedi.

Tidak perlu berpanjang lebar untuk menjelaskan seperti apa plot dari Pulau Hantu 3, hanya dengan satu kalimat saja pun sebenarnya sudah cukup. Dua sahabat, Nero (Abdurrachman Arif) dan Kimo (Ricky Adi Putra), bersama dengan Gaby (Jenny Cortez) dan Octa (Reynavenzka), mendapat pekerjaan di sebuah resor baru milik Patigana (Boy Hamzah) yang berlokasi di Pulau Madara. Nah, Nero yang sudah dua kali mengunjungi pulau ini di dua jilid sebelumnya, baru menyadari bahwa ini adalah pulau yang juga menyebabkan teman-temannya terbunuh setelah ‘disambut dengan ramah’ oleh hantu penunggu pulau. Apa yang terjadi kemudian Anda tentu sudah bisa menebak, hanya saja kali ini ada terror lain yang disebabkan oleh Patigana. Sejak awal Nero sudah menaruh curiga pada Patigana lantaran gerak-geriknya yang aneh. Tidak ada satupun yang mempercayai omongan Nero, malah teman-temannya menganggap dia hanya iri dengan ketampanan si pemilik resor. Hanya setelah mereka melihat mayat istri Patigana secara langsung, mereka mulai percaya. Dan pada saat itu, segalanya telah terlambat.

Perlu untuk diingat, jika Anda memiliki rencana untuk menyaksikan Pulau Hantu 3 di bioskop, maka motif Anda haruslah untuk melihat (maaf) payudara di layar lebar. Apabila tidak, maka urungkan saja dan pilih film lain. Untuk sekali ini, Jose Poernomo dan Benny Ahmad Basuni merasa tidak perlu memberikan jalan cerita yang runut dan logis kepada penonton karena tujuan dibuatnya sekuel ini tidak lain adalah untuk mengeruk pundi-pundi rupiah dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan. Ya, Anda tidak akan mendapatkan apapun dari film ini, kecuali akting yang kaku, humor yang jauh dari kata lucu, dan (maaf) tetek putih mulus yang terus menerus diumbar tiada henti dengan cara yang nyaris sama. Ada apa dengan Anda, mas Jose? Padahal dulu Anda adalah salah satu sutradara berbakat di Indonesia yang pernah menelurkan film-film berkualitas macam Jelangkung dan Tak Biasa. Sekarang kok malah bergabung dengan ‘Komunitas Penghancur Film Indonesia’? Cimit-cimit telah berubah..

Apabila dihitung menggunakan persentase, maka 80% film hanya diisi dengan adegan seks panas di ranjang dan kolam renang, serta aksi pamer aurat. Plot tidak lagi menjadi sesuatu yang esensial. Tidak ada penjelasan seputar ritual yang dilakukan oleh Patigana, seakan Jose dan Benny mengondisikannya hanya sebagai tempelan belaka. Bukankah lebih tepat jika judul ‘Ghost Island’ diganti menjadi ‘Boobs Island’? Setidaknya, penonton tidak merasa ditipu. Inginnya mencari sebuah hiburan yang mencekam, justru disuguhi dengan payudara dan selangkangan. Yang menjadikannya semakin menyebalkan, Lembaga Sensor Film menikmati permainan gunting menggunting sehingga acapkali ditemukan adegan panas yang belum tuntas namun sudah melompat ke adegan lain. Tanggung banget sih, bo! Kenapa tak dibuat versi 3D-nya sekalian supaya bisa menyaingi Piranha 3D? Andaikan saja saya mendapatkan tiket film ini secara gratis, mungkin saya telah memutuskan untuk walkout sejak paruh pertama. Menuliskan review ini hanya membuat saya sakit hati karena harus mengingat lagi apa saja yang telah terjadi sepanjang 90 menit yang menggairahkan tersebut (heh!). Dan bisa-bisanya Pulau Hantu 3 lebih diminati ketimbang Ummi Aminah, tak habis pikir aku.

Troll

October 23, 2010

REVIEW : RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN

"Di setiap gigitan, terselubung ribuan rintihan Kuntilanak mengincarmu"

Mumpung lagi tak ada film baru di bioskop (Damn you, XXI!) saya pun melangkahkan kaki ke 'kuil beribadah' untuk mencicipi film terbaru dari baginda KK Dheeraj lewat rumah produksinya K2K Production yang berjudul Rintihan Kuntilanak Perawan. Sudah, sudah, tak usah ributin judulnya, karena hanya Baginda saja yang mengetahui secara pasti apa maksudnya, seperti halnya Selimut Berdarah yang nyata - nyata sepanjang film selimutnya diumpetin ama baginda biar penonton sibuk mencari keberadaannya. Ah, KKD ini memang paling bisa aja deh! Untuk penyutradaraan, KKD tidak turun tangan sendiri, dia minta kepada muridnya, Yoyok Dumprink. Tidak hanya di film ini saja, beberapa film baginda yang terakhir juga mengerahkan murid - muridnya. KKD cuma duduk berleha - leha di kursi produser sambil bawa dikipasi dayang - dayangnya. Jadi jika kelak KKD tak lagi eksis sang murid bisa meneruskan apa yang telah baginda mulai. Oh, betapa mulianya hatimu, baginda. Saya jadi terharu *mulut berbusa*

Banyak yang menyebut Rintihan Kuntilanak Perawan menjiplak jalan cerita dari Jennifer's Body yang dibintangi si seksi Megan Rubah, percayakah kalian ? kalau saya sih tidak. Seorang sejenius KKD tentu tak akan main asal jiplak. Ada kemungkinan Karyn Kusama yang menyontek *detektif mode ON* Alkisah, KKD yang lagi buntu dan mengalami writer's block, terbang ke Amrik untuk mencari inspirasi. Disana dia mengikuti semacam seminar untuk para penulis naskah. Nah, disinilah dia berkenalan dengan Karyn Kusama. Spontan, baginda yang super jenius ini tanpa sengaja membeberkan apa yang ada di dalam pikirannya. Ya, cikal bakal munculnya Jennifer's Body. Tarararara, baginda pun mencak - mencak saat mengetahui Jennifer's Body memiliki kisah yang sama persis dengan ide yang diutarakannya ke Kusama. Malas menuntut, baginda tetap berusaha mewujudkan idenya itu dengan jalinan kisah, penggarapan, sisi teknis dan akting pemeran yang sejuta kali lipat lebih buagus! *harapan KKD sih begitu, tapi kenyataannya kalian tentu sudah tahu sendiri hohoho.. *whistle

Siapa ya yang bisa ngalahin Megan Fox ? Pikiran itu terus membayangi KKD selama berabad - abad lamanya. Hingga akhirnya sang sahabat sekaligus bromance dia, Nayato, menelponnya dan memberi dia pencerahan. Nama Tera Patrick masuk bursa. Dengan hobinya 'jualan semangka' yang berukuran super gede, KKD makin mantap untuk memakainya. Kali ini lebih terang - terangan bo. Biasanya kan si KKD suka main rahasia - rahasiaan tuh ma kita "Artis Jepang no 1" atau "Bintang Korea". Oke, saya datang 20 menit lebih awal agar tidak ketinggalan satu scene pun dari film yang lebih enak disingkat jadi Rin Kuper ini. Saat film berjalan 15 menit, sempat berpikiran untuk meninggalkan bioskop karena ternyata Rin Kuper lebih bagus dari Diperkosa Setan. Dang it! Kucoba untuk bersabar dan Ulalaaaaaa, ternyata semakin dalam justru makin tak karuan. Mantafffff! Jadi, si Alice (Tera Patrick) ini dikisahkan masih perawan *keselek biji kedondong yang ga tau dateng darimana* Bahkan saat vokalis The Kerens merayunya *sumpah, gue ga salah ketik disini, nama band-nya emang gitu* dengan gayanya yang khas dia bilang, "I'm still virgin." OMG, dengan penampilan yang kayak begono dan kerjaannya cuma bolak - balik diskotik bareng sepupunya, Lily (Angel Lelga), ente percaya dia masih perawan ? *ambil inhaler*

Singkatnya, Alice pun 'diculik' The Kerens yang aduhai kerennya itu dan mendadak sering ngilang sampai bikin Lily stres. Suatu malam, Lily yang cuma memakai pakaian dalam ini memergoki Alice makan makanan mentah dan entah kenapa langsung pingsan. Mendadak dia dibangunkan oleh ibunya, rupanya dia tertidur di meja makan. Haisssahhhh. Uniknya, waktu bercerita ke kekasihnya, Mike (aktor langganan KKD, Andreano Philip), yang dimunculkan dalam flashback, setelah dia melihat Alice makan wortel mentah, dia mengepel lantai bekas muntahan Alice. Nah lho! Coba positive thinking aja, mungkin itu di malam yang lain. Jadi, si Alice ini mendadak punya kepribadian ganda. Dia suka membantai para pria yang digodanya di diskotik di sebuah villa tua yang dipenuhi karung yang disobek - sobek agar terlihat menyeramkan. Oh iya, Alice yang menurut Lily adalah "lulusan mahasiswa Amerika yang memiliki nilai cum laude" (apa yang aneh dari dialog ini ?) ini rupanya ga bisa bahasa Indonesia lho meskipun sejak kecil udah tinggal disini. Dialog berbahasa Indonesia yang pertama kali diucapkannya adalah, "Tutup!" Tepuk tangan pun bergemuruh. Memang sepanjang film dia juarang buanget ngomong bahasa Indonesia sementara Angel Lelga juga emoh berdialog bahasa Inggris terus - terusan. Lantas ? bilingual tentunya.

Sebentar, otak saya membeku. Saya bingung harus menceritakan apa lagi. Oh, mungkin salah satu korban Alice yang dandanannya mirip Rizky Mocil. Jadi, si Mocil ini nyerahin hapenya ke Alice minta nomor hape, tapi cuma dilihat doang, kagak dikasih nomornya tapi Alice bilang gini "If you want me (or my body ?), just text me." Sms kemane ? Nomor hape aja kaga lu kasih! *emosi, lempar kursi 21 yang udah berbunyi kiyak kiyek ke layar* Nah nah, tapi si cowok ini nyatanya bisa sampai juga ke tempat persembunyian Alice *nangis darah* kayaknya Alice dan dia punya kontak batin (positive thinking!). Entah kenapa, Alice ini suka sekali bunuh manager The Kerens. Dua kali lho (atau malah tiga ?). Meski demikian, The Kerens tetap melenggang sukses, bahkan mendapat rekor MURI sekalipun (Kayaknya sih rekor 'band yang managernya paling sering tewas dibunuh'). Mike yang bertubuh kekar namun cemen ini kemudian pindah ke rumahnya Lily karena takut dibunuh juga. Dengan gayanya yang sok, dia bilang ke ibunya Lily "saya akan jaga anak tante" Lah, lu aja pindah ke rumah dia karena ketakutan! Karena dilarang tinggal sekamar dengan Mike, Lily girang bener saat ibunya pergi ke rumah sahabatnya. Berarti saatnya... (silahkan diisi sendiri)
Yang saya tak habis pikir, kenapa ada Sadako Cilukba yang selalu muncul tiba - tiba ? Jrengggg, dengan backsound yang mengagetkan tapi tak memiliki korelasi dengan ceritaaaaaa! *banting gelas* Sepertinya KKD terinspirasi Kala-nya Joko Anwar. Mungkin setan ini adalah jelmaan dari Alice atau pelindungnya. Gregetan karena mbak Kunti tak kunjung muncul, semakin gregetan melihat Tera Jana yang sedari menit pertama hingga menit terakhir berakting dengan gaya yang sama, gerakkan bahu ke kanan, lantas ke kiri, bermain - main dengan rambut dan ditambah senyuman sinis yang menyebalkan. Sebelum menggoda korban, jejogetan dulu deh di lantai diskotik dengan cara yang sama pula *hammer* Tapi, itu belum ada apa - apanya jika dibanding akting The Kerens yang alamakkkkkk bisa bikin saya menangis mengalahkan tangisan Erika Sawajiri di 1 Litre of Tears. Oke, kuntilanak tak kunjung nongol, saya juga baru menyadari rupanya mbak Keket juga belum nongol. Hingga menit ke-60 juga tak ada sedikit pun tanda. Hingga akhirnya Tania (Catherine Wilson) mendadak nongol di depan rumah Lily. Saya jadi penasaran, Keket dibayar berapa ya untuk bermain disini ? Porsi aktingnya paling kecil, namun kebagian jatah adegan dan dialog oon paling buanyak. Tengok aja peribahasa andalan dia, "Udah keburu tenggelam, sekalian aja nyelam." atau saat dia masih sempat - sempatnya berwasiat ke Lily saat Alice udah siap menyerangnya.

Klimaks Rin Kuper emang sangat ampun - ampun deh. Saya sampai malas menjelaskannya karena saking ajaibnya. Ada aki - aki tua yang ngeselin pula. Jadi, si aki ini yang memberi kekuatan 'supernatural' ke Alice sehingga saat Alice terluka, dia bisa cepat sembuh (mirip Claire di Heroes dengan kekuatan regeneration). Saking senengnya dikasih kekuatan begini, Alice bolak - balik nyilet pembuluh nadi di lengannya. Namun yang bikin gemes justru kakek tua ini. Dia yang ngasih kekuatan, tapi saat keadaan mulai menjadi tak terkendali, dia ogah ngilanginnya. Malah dia lempar kertas berisi mantra kepada Lily dan Tania agar mereka yang mengatasinya karena hanya orang terkasih saja yang mampu. Dasar kakek tua mesum tak bertanggung jawab! *sobek wadah popcorn* Yah, tentu kalian sudah bisa menebak endingnya seperti apa. KKD selain menganut aliran mesumisme dan absurdisme, beliau ternyata juga menganut aliran lebayisme. Tak terhitung berapa kali baginda berlebay - lebay ria, namun yang lebaynya ga ketulungan tentu di ending saat Tania memukul tempurung kaki Alice dengan balok kayu yang mengakibatkan Alice lumpuh hingga dua tahun lamanya. Padahal mukulnya pelan banget! *acak - acak rambut*

Rin Kuper berakhir bahagia dan ditutup dengan potongan - potongan koran yang memperlihatkan sebuah headline news "The Kerens ditangkap, masyarakat mengecam" Inilah bukti bahwa dialog dan kata - kata di film baginda memiliki sejuta makna. Apa penafsiran kalian dari judul tersebut ? Kalau menurut saya sih, masyarakat mengecam pihak kepolisian karena The Kerens ditangkap *nenggak racun tikus*

Nilai = Maaf, nilainya sedang merintih kesakitan.

September 18, 2010

REVIEW : THE KING OF FIGHTERS


Setelah puluhan film adaptasi game berakhir dengan mengenaskan, masih ada saja produser dan rumah produksi yang mengucurkan dana dengan mudahnya untuk film jenis ini. Formula yang dianut tak jauh berbeda, tidak ada introspeksi dan usaha untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan sineas - sineas terdahulu. Saat Uwe Boll rehat sejenak dari upayanya 'menghancurkan' perfilman Hollywood dengan terus membuat film adaptasi yang buruk, ternyata masih ada sutradara dari belahan dunia lainnya yang mencoba untuk meneruskan apa yang telah dimulai oleh Boll. Beri sambutan yang meriah buat Gordon Chan! *clapping*

Jalan cerita dari The King of Fighters sebetulnya amat simple, tapi entah mengapa terasa sulit dicerna ya ? Dalam 5 menit pertama kita langsung diajak untuk melihat pertarungan antara Mai Shiranui (Maggie Q) dengan seorang pria yang digarap ala kadarnya. Hati ini langsung ciut, badan terasa lemas dan mulai dipenuhi pikiran "kayaknya bakalan buruk nih." Belum lagi special effect-nya tak meyakinkan ditambah kostum yang tak keren, seperti asal jadi. Benar saja, setelah adegan ini kita digiring menuju adegan - adegan membosankan dengan dialog panjang tanpa makna. Hanya sekali diselingi pertarungan di sebuah galeri saat Rugal (Ray Park) berusaha mencuri sebuah cermin bertuah yang saat itu tengah dipajang di podium bersama sebilah pedang dan kalung. Petugas keamanan berhasil dilumpuhkan dengan mudah, sementara Mai dan Iori (Will Yun-Lee) tak mampu mengatasinya. Chizuru (Francoise Yip), salah satu petinggi di galeri tersebut, malah terluka cukup parah hingga perlu mendapat perawatan. Sebelum memasuki ambulance, Chizuru sempat berpesan ke Mai untuk menemui Syaisu (Hiro Kanagawa) yang merupakan satu - satunya harapan untuk mencegah tindakan jahat Rugal. Bukan perkara mudah melihat kondisi Syaisu yang memprihatinkan dan puasa bicara selama 10 tahun. Anak lelakinya, Kyo Kusanagi (Sean Faris), tak tahu menahu, malah merasa terganggu dengan kehadiran Mai.

Terry Bogard (David Leitch), seorang agen CIA, belakangan ikut bergabung bersama Mai dan Iori untuk menggagalkan rencana Rugal seraya meyakinkan Kyo yang kini menjadi tumpuan terakhir setelah Syaisu meninggal. Kyo masih ngotot dirinya tak tahu apapun soal pedang atau mengenai klan Kusanagi, sedangkan Terry malah tak memercayai keberadaan dimensi lain yang merupakan tempat berlangsungnya pertarungan. Rita Agustine dan rekannya berusaha keras membuat naskah The King of Fighters terlihat berbobot dengan meminimalisir adegan pertarungan dan memperbanyak porsi dramanya. Usaha yang patut dihargai, tapi penonton tentu lebih mengharapkan adegan bak bik buk yang mantap ketimbang drama panjang bertele - tele pembuat kantuk di film jenis ini. Terlebih apa yang dilakukan oleh tim penulis skenario justru hanya memperburuk kualitas filmnya itu sendiri. The King of Fighters bertutur dengan datar di sepanjang film. Tampilannya begitu mengenaskan, bujet $12 juta entah dialokasikan buat apa, menggaji pemainnya mungkin ? Malah ada satu adegan yang cukup bikin saya miris karena special effect yang begitu buruk. Ouch!


Para pemerannya juga tak membantu. Mereka bermain dengan sangat mengecewakan, tak ada chemistry dan sama sekali tak berhasil merasuki karakter yang mereka perankan. Cukup aneh mengingat fakta bahwa beberapa dari mereka telah memiliki jam terbang yang tinggi, namun kemampuan akting mereka disini tak ubahnya artis pendatang baru. Sepertinya kehadiran mereka disini bukan untuk berakting melainkan hanya untuk memamerkan tubuh dan kemampuan bertarung. Sean Faris, Maggie Q dan Francoise Yip bolehlah untuk membuat mata terasa lebih segar. Jika bosan dengan filmnya, cukup pandangi saja wajah rupawan mereka mungkin bisa membantu untuk membangkitkan mood, hehe. By the way, ada yang merasa familiar dengan wajah atau nama Francoise Yip ? Jika kalian mengikuti perkembangan film di tahun 90-an, maka nama ini tentu tak asing lagi. Yup, dia adalah bomb seks kala itu, tak kalah panasnya dengan Pheng Tan.

The King of Fighters berusaha hadir sedekat mungkin dengan game-nya. Adegan pertarungan dirancang tak jauh berbeda dengan versi game sehingga penonton dibuat seolah - olah sedang bermain game alih - alih menonton film. Sayangnya koreografi laga tak menjanjikan sesuatu yang baru, hanya pengulangan. Belum lagi alurnya datar dan sisi teknisnya begitu 'mengerikan'. Dengan segala kelemahannya, pede sekali The King of Fighters beredar di bioskop meskipun hanya di wilayah Asia. Menonton Street Fighter : The Legend of Chun-Li dan film buruk bikinan Uwe Boll untuk kedua kalinya rasanya masih jauh lebih mending ketimbang harus menghabiskan 92 menit hidup kalian yang berharga untuk menyaksikan film ini.

Nilai = 2/10 (Troll)

August 25, 2010

REVIEW : VAMPIRES SUCK


Jason Friedberg dan Aaron Seltzer rupanya konsisten sekali membuat film parodi untuk diedarkan setiap tahun. Terhitung mulai tahun 2006 film bikinan mereka hampir tak pernah absen menyambangi penonton di bioskop, terkecuali di tahun 2009 karena slot mereka diambil oleh Wayan Brothers yang nampaknya gerah melihat film parodi bikinan duo Jason & Aaron. Tak ada pesaing yang berarti, tahun ini mereka kembali ke layar lebar dan siap untuk meracuni penonton di seluruh dunia dengan karya terbaru mereka. Duo ini dikenal suka membuat parodi dari genre film yang tengah populer. Mengetahui bahwa genre horror remaja yang mengangkat vampire sebagai tokoh sentral sedang digandrungi penonton, maka kali ini mereka mencaplok genre ini untuk diobrak - abrik sedemikian rupa. Yang beruntung mendapat porsi terbanyak untuk dihancurkan tentu saja Twilight Saga, sementara serial televisi vampire yang populer seperti True Blood dan The Vampire Diaries hanya menjadi tempelan semata disini

Bagi yang sudah menyaksikan Twilight dan New Moon tentu tak akan kesulitan mengikuti jalan cerita Vampires Suck yang sebenarnya amburadul ini. Becca Crane (Jenn Proske) pindah ke sebuah kota kecil bernama Sporks untuk tinggal bersama ayahnya setelah sang ibu menjalin affair dengan Tiger Woods. Dengan cepat Becca berteman dengan beberapa siswa 'normal' di sekolah barunya, namun anehnya dia justru lebih tertarik kepada siswa misterius nan aneh yang gemar memakai bedak, Edward Sullen (Matt Lanter). Tak butuh waktu lama bagi Becca untuk akrab dengan Edward hingga kemudian jatuh cinta padanya. Bahkan saat mengetahui bahwa Edward adalah vampire, tak menyurutkan sedikit pun cintanya kepada Edward. Becca menjadi terobsesi kepada Edward hingga mengabaikan peringatan dari sahabat masa kecilnya, Jacob White (Chris Riggi), yang sebenarnya naksir Becca.


Berbeda dengan film parodi bikinan duo Jason & Aaron sebelumnya, Vampires Suck hanya memakai Twilight dan New Moon sebagai plot utama sehingga alurnya pun lebih terarah dan tidak meloncat kesana kemari. Namun sepertinya hanya sampai disini saja keunggulan Vampires Suck jika dibandingkan dengan Disaster Movie, Epic Movie atau Meet the Spartans karena sisanya tak jauh berbeda. Terlihat jelas bahwa duo ini hanya memanfaatkan ketenaran Twilight Saga sebagai mesin penghasil uang bagi mereka tanpa berusaha untuk membuat film secara serius. Jason & Aaron hanya copy paste naskah Twilight dan New Moon untuk kemudian disisipi beberapa tambahan adegan lebay dan konyol. Hasilnya ? tak usah ditanya. Bahkan sebelum dirusak oleh mereka, naskah dua film tersebut sejatinya sudah cukup memprihatinkan.

Entah selera humor saya yang buruk atau memang humor yang mereka ciptakan tak efektif sama sekali, tapi yang pasti sulit rasanya bagi saya untuk tersenyum apalagi tertawa terbahak - bahak disini. Perasaan muak dan mengira - ngira kapan film ini akan berakhir menemani saya sepanjang film. Jacob White tak berubah menjadi werewolf di Vampires Suck melainkan chihuahua, apakah kalian menganggap adegan ini lucu ? bagi saya, tidak sama sekali. Adegan tari gay yang melibatkan beberapa werewolf dengan iringan lagu "It's Raining Men" juga tak ampuh memancing tawa karena adegan yang serupa telah ditampilkan di The Comebacks dan Meet the Spartans. Ya, humor yang disodorkan oleh Jason & Aaron tak lebih dari pengulangan dari film parodi sebelumnya. Hampir tak ada humor yang segar disini. Kalaupun ada humor baru, justru menjadi garing, maksa atau malah melempem tak ada tenaga.

Akting dari para pemainnya pun tak jauh berbeda. Mereka tak lebih baik dari trio Robert Pattinson, Kristen Stewart dan Taylor Lautner yang bermain buruk di Twilight Saga. Akan tetapi usaha Jenn Proske untuk tampil semirip mungkin dengan Kristen Stewart sebagai Bella Swan cukup membuat saya kagum. Dari semua karakter di Vampires Suck, mungkin hanya Becca yang hampir mendekati aslinya. Hal ini kembali memunculkan pertanyaan di benak saya, "apakah akting Jenn Proske sedemikian hebatnya atau justru karakter Bella Swan sedemikian dangkalnya hingga semua aktris bisa menirukannya dengan baik ?" Tak penting kalian memilih yang mana karena saya sangat menyayangkan kemalasan Jason & Aaron untuk menciptakan komedi parodi yang bermutu. Parodi budaya populer Amerika yang dimunculkan di Vampires Suck hampir tak ada satupun yang berhasil, kecuali mengenai Jonas Brothers dan karakter Bella itu sendiri. Padahal jika ditangani dengan baik bukan tak mungkin menghasilkan film parodi yang segar semacam Airplane!, Hot Shots!, The Naked Gun atau setidaknya minimal menyamai kekonyolan Scary Movie. Saya tak akan terkejut jika di kemudian hari duo Jason & Aaron dinobatkan sebagai sutradara terburuk saat ini. Seorang Uwe Boll pun bisa terlihat bagaikan dewa jika disandingkan dengan mereka. Kemalasan mereka untuk menciptakan naskah dan film yang segar dan lucu serta hanya mengandalkan nama besar dari film yang mereka caplok untuk mengejar keuntungan bisa menjadikan boomerang bagi karir mereka suatu saat nanti.

Nilai = 3/10 (Troll)

August 11, 2010

REVIEW : THE LAST AIRBENDER


Sejak pertama kali proyek ini diumumkan, saya sudah merasa tidak yakin akan hasilnya. Bukan karena diarahkan oleh M. Night Shyamalan yang belakangan film - filmnya flop, melainkan trauma akan film sejenis, Dragonball Evolution, masih membayangi benak saya. Saya pribadi termasuk penggemar karya - karya Shyamalan meskipun beberapa film terakhir dia dicaci maki oleh kritikus dan penonton, namun bagi saya film buatan dia cukup menghibur. Lantas bagaimana dengan The Last Airbender yang merupakan film non horror / thriller pertama dari Shyamalan ? Kepesimisan saya terhadap film ini semakin didukung oleh buruknya review yang diterima oleh The Last Airbender saat tayang di US. Kebetulan The Last Airbender tayang terlambat di negara kita sehingga saya punya banyak waktu untuk membaca ribuan kritikan yang mayoritas bernada negatif. Seburukkah itu filmnya ? Makin ciutlah hati saya dan sempat bimbang untuk tetap menontonnya di bioskop atau tidak.

Versi live action-nya ini diangkat berdasarkan musim pertama dari serial animasinya, Avatar : The Last Airbender, yang bertajuk Book One : Water. Dikisahkan Aang (Noah Ringer), sang pengendali udara yang belakangan diketahui identitasnya sebagai reinkarnasi dari Avatar, penyeimbang dari empat bangsa besar pengendali air, bumi, api dan udara, melarikan diri dari negaranya karena enggan menjadi Avatar yang nantinya berdampak pada dirinya yang tidak bisa lagi memiliki keluarga. Aang terjebak dalam es dan ditemukan oleh Katara (Nicola Peltz) dan Sokka (Jackson Rathbone). Selama Aang menghilang, ternyata bangsa pengendali api menguasai dunia dan berhasil melumpuhkan bangsa elemen yang lainnya, termasuk udara yang sukses diberanguskan hingga tak bersisa dengan harapan tak akan ada lagi reinkarnasi Avatar. Sementara itu, Zuko (Dev Patel) yang tengah diasingkan oleh ayahnya karena dianggap lemah, berusaha menangkap Aang agar statusnya sebagai pangeran diakui dan dia disegani oleh rakyatnya. Sepanjang sisa film kemudian bercerita mengenai petualangan Katara dan Sokka dalam menemani Aang untuk mempelajari tiga elemen lain ; air, api dan bumi, yang ternyata belum dikuasai oleh Aang untuk bisa menjadi Avatar dan bangsa Api / Zuko yang mengejar Aang.

Sebelumnya saya ingin beritahukan kepada kalian bahwa saya bukanlah fans dari Avatar : The Last Airbender dan hanya pernah menontonnya sesekali, jadi ulasan berikut tak akan membandingkan filmnya dengan versi serial animasinya. Saya menulis ulasan ini berdasarkan apa yang saya lihat dari kacamata seorang penggemar film, bukan fans serialnya. Menulis ulasan film ini sendiri cukup membingungkan bagi saya karena saya tidak tahu harus memulainya darimana. Satu hal yang pasti, saya tidak menemukan kenikmatan dan kepuasan saat menyaksikan The Last Airbender. Film ini sukses membuat saya merasa depresi, bosan, mual, pusing dan menyesal. Di awal film memang The Last Airbender cukup enak untuk dinikmati dan lumayan menjanjikan, namun menginjak pertengahan hingga akhir, penggarapannya malah semakin semrawut saja. Bahkan Dragonball Evolution masih lebih mending jika saya dipaksa untuk membandingkannya dengan film semenjana ini. Mengutip dari komentar yang biasa diucapkan oleh Simon Cowell, "terrible".

The Last Airbender buruk hampir di semua segi, utamanya dari kasting. Seakan pihak kasting asal comot peserta audisi tanpa mempertimbangkan kecocokannya dengan karakter yang hendak diperankan. Bisa dibilang, semua pemeran utama disini salah kasting. Yang paling aneh tentu saja dari segi wajah yang terlalu bule untuk karakter yang memiliki wajah sangat Asia. Entah atas dasar apa mereka memilih pemain dengan wajah untuk memerankan karakter yang berasal dari Asia, rasis kah ? rasanya tidak. Hanya Zuko yang sedikit cocok dengan gambaran. Itu berdasarkan kasting, lantas bagaimana dengan akting ? Jujur, mengenaskan. Noah, Nicola dan Jackson terasa sangat kaku dan tidak bisa mendalami peran mereka secara sempurna. Noah Ringer yang memiliki tanggung jawab terbesar sukses membuat saya menjadi kesal terhadap Aang alih - alih simpati. Tak masalah bagi saya jika Shyamalan memang berniat merubah karakterisasi Aang dari ceria menjadi pemuram, itu hak dia. Tapi akting Noah yang begitu buruk membuat saya gemas dan rasanya ingin saya timpuk dia dengan kacamata 3D yang mengesalkan pula. Dari sekian banyaknya bakat di Hollywood, tak adakah yang lebih baik dari dia ? Jika saya menjadi dia, mungkin saya sudah menangis saking malunya. Untunglah Dev Patel bermain cukup bagus sebagai Zuko, begitu pula dengan Shaun Toub yang berperan sebagai paman dari Zuko.

Special effect sepertinya menjadi andalan utama The Last Airbender. Berharap menyajikan adegan aksi yang spektakuler dan visualisasi yang menawan, saya kembali menelan pil pahit bernama kekecewaan. Memang ada satu dua scene yang lumayan keren, tapi secara keseluruhan tak ada yang baru, hanya pengulangan dari film sejenis. Adegan pertarungan di akhir film antara bangsa api dengan air mungkin yang paling cihuy dan terlihat digarap serius, namun sialnya baru muncul setelah kebosanan saya sudah mencapai ubun - ubun. Tetap terlihat menawan sih, cuma hasilnya akan beda jika di pertengahan juga disisipi sedikit pemanasan untuk membuat mata penonton menjadi melek. Untuk 3D, tak ada yang spesial. The Last Airbender tak ubahnya kebanyakan film Hollywood lain yang dengan pedenya memakai 3D namun penggarapan teknologi 3D-nya ala kadarnya, seperti hanya ingin mendapat keuntungan tambahan saja. Tak masalah bagi kalian untuk menontonnya dalam versi 2D karena tak ada perbedaan yang signifikan.

Mungkin The Last Airbender akan terlihat bagus bagi mereka yang tak mau ambil pusing soal teknis dan tetek bengek lainnya. Penonton cilik pun rasanya juga mudah menyukai tontonan semacam ini. Namun bagi saya The Last Airbender hanyalah film yang membuang - buang uang dan waktu secara percuma, bahkan saya menangisi hilangnya uang saya setelah film ini selesai. Rasanya tak tega uang makan untuk dua hari dibuang secara percuma untuk menonton The Last Airbender *meratapi perginya duit di pojokan ruangan* Baiklah, the life must go on. Saya tak bisa menyesali sesuatu yang telah terjadi. Intinya, The Last Airbender hanya membuat kepala saya pusing, perut saya mual dan merasa depresi selama di dalam gedung bioskop. Akting mengenaskan, special effect biasa saja, pengarahan yang semrawut, editing yang loncat sana loncat sini, chemistry yang anyep (baca : hambar), adegan romantis yang menggelikan, naskah yang penuh lubang hingga bloopers yang terlihat begitu jelas. Saya menikmati film ini hanya di paruh awal, tengah hingga akhir pikiran saya sudah diserap habis oleh Dementor yang mendadak nongol di depan saya.

nilai = 3/10. Tapi jika kalian ingin menggantinya dengan angka favorit kalian, silahkan saja, monggo, saya ikhlas kok. beneran. saya sudah terlalu depresi untuk memikirkan rating.



June 26, 2010

REVIEW : MESSENGERS 2 : THE SCARECROW


John Rollins (Norman Reedus) harus berjuang untuk menyelamatkan ladang dan keluarganya di saat yang bersamaan. Padang jagungnya mengalami kekeringan lantaran sistem irigasi yang tidak bekerja, semakin bertambah parah dengan hadirnya serombongan burung gagak. John juga berhutang pada bank. Seorang kawan lamanya membujuk John untuk menjual ladangnya, namun ia menolak dengan tegas karena mencium gelagat tidak baik dari kawannya tersebut. Suatu ketika, John menemukan pintu di gudang gandum miliknya dimana dia menemukan sebuah orang - orangan sawah berbentuk aneh. Atas saran dari Jude Weatherby (Richard Riehle), tetangga baru yang misterius, John memasang orang - orangan sawah tersebut di ladang jagung. Semenjak itu, kehidupan John berubah. Padang jagungnya subur dengan irigasi yang lancar, burung gagak bertumbangan hingga kondisi finansial yang membaik. Bukannya senang, John justru merasa takut karena untuk mendapatkan semuanya ini memerlukan tumbal. Siapapun yang menghalangi John akan disingkirkan, tidak terkecuali keluarganya sendiri.



Messengers 2 : The Scarecrow adalah prekuel dari film besutan the Pang Brothers, The Messengers. Dibintangi oleh aktris utama dari The Twilight Saga, Kristen Stewart, film tersebut mendulang dollar dalam jumlah yang lumayan banyak pada tahun 2007 lalu. Berharap meraih kesuksesan yang sama, Stage 6 Films memutuskan untuk membuat prekuelnya 2 tahun kemudian dan langsung dirilis ke dalam bentuk home video tanpa melalui layar bioskop di US. Untuk kawasan di luar Amerika, termasuk Indonesia, Messengers 2 : The Scarecrow sempat mencicipi masa tayang beberapa minggu di bioskop sebelum akhirnya terjun ke DVD tidak lama setelahnya.

Mengetahui bahwa film ini langsung diterjunkan ke dalam format video membuat saya tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap film ini, bahkan cenderung meng-underestimate. Poster film dan premis ceritanya sebenarnya cukup lumayan mengundang penasaran, namun sayangnya film arahan sutradara Denmark ini tidak demikian. Opening scene-nya cukup menegangkan tapi sangat spoiler. Bisa dibilang satu - satunya adegan yang bisa membuat kita sedikit menahan nafas adalah opening scene yang spoiler ini. Sementara yang hadir dalam sekitar 91 menit ke depan hanyalah film pengantar tidur. Alurnya begitu datar, predictable dan bertele - tele. Saya tak menemukan satupun adegan yang bisa menggedor jantung, kalaupun ada bukan disebabkan oleh adegan horor yang mencekam, melainkan neng Darcy Fowers yang tercatat dua kali beradegan telanjang secara frontal disini.

Menonton Messengers 2 : The Scarecrow tak ubahnya menonton film horror bikinan sineas lokal, apalagi keduanya memiliki formula yang sama. Cerita datar yang ditutupi dengan sound yang mengagetkan, gambar yang gelap dan pameran aurat dari perempuan bertubuh aduhai. Kalau boleh sedikit spoiler, ending film ini terkesan sangat konyol dan menggelikan, jauh dari kesan menegangkan. Seperti belum cukup parah, akting para pemainnya juga minta ampun datarnya. Entah apa yang terjadi dalam diri saya, tapi rasanya saya ingin sekali melindas Claire Holt dengan traktor. Lindsey Rollins yang berada dalam posisi yang tidak diuntungkan seharusnya mampu membuat penonton simpati, tapi yang ada justru membuat saya ingin mencabut pistol milik Sheriff Milton dan menembakkannya ke semua karakter sehingga film bisa berakhir dengan bahagia. Kenyataannya film ini belum juga berakhir dan saya masih berjuang mendengar teriakan penuh 'makna' dari Claire Holt, mengasihani Darcy Fowers yang tidak memiliki pakaian di saat cuaca begitu dingin hingga Scarecrow yang membuat saya mulas karena bentuknya yang menggelikan alih - alih menyeramkan. 94 menit yang cukup menyiksa. Yang membuat saya tidak percaya, Messengers 2 : The Scarecrow adalah buatan Amerika. Setidaknya film ini cukup tahu diri dengan tidak dirilis di bioskop. Ironisnya, film "super dahsyat" ini justru bertahan cukup lama di bioskop - bioskop negara kita. What the...?

Sayangilah waktu dan uang kalian yang begitu berharga dengan menghindari film semacam ini sebagai tontonan di waktu senggang. Masih banyak film berkualitas di luar sana yang bisa dicicipi. Tujuan saya menonton film ini tidak lain sebagai pemanasan menyambut summer movies berikutnya di bulan Juli dan Agustus. Toy Story 3 rupanya telah meninggikan standar summer movies sehingga dirasa perlu bagi saya untuk menonton film kosong melompong ini sehingga jika saya kembali semangat untuk menanti film yang akan tayang berikutnya.

Nilai = 3/10
Setidaknya masih ada beberapa unsur yang bisa dibilang cukup baik. Tidak hancur seutuhnya.


April 2, 2010

REVIEW : RAPED BY SAITAN (DIPERKOSA SETAN)



Perkenankanlah saya sebagai ripiuwer baru disinii untuk mengulas film terdahsyat dalam satu dekade terakhir yang berjudul Diperkosa Setan alias Raped by Saitan. Mungkin ulasan saya tidak sebagus ripiuwer yang lain karena mohon dimaklumi saya masih newbie dalam masalah ulas mengulas film
tapi setidaknya saya sudah berusaha mengutarakan kesan-kesan saya setelah menyaksikan film yang saya yakin James Cameron tak akan pernah bisa membuatnya.

Baiklah, RBS adalah film yang sangat teramat dahsyat. Pernahkah kalian menemukan sebuah film dimana semua genre campur aduk di dalamnya? Kalau belum, maka kalian wajib nonton film ini. Pengalaman yang tak akan pernah kalian lupakan sampai kapanpun! Entah siapa yang menulis skenarionya, tapi saya sangat mengaguminya karena mampu membuat skenario secerdas ini. Sangat cerdas. Film bergenre horror-komedi-drama-action
-thriller-sci-fi-suspense-fantasy ini memiliki alur dan plot yang sangat teratur, saking teraturnya sampai saya kebingungan arah film ini dan yang pasti endingnya tak akan bisa kalian tebak. Percaya deh, hampir di setiap adegan mengandung twist yang akan mampu membuat kalian terus penasaran dan menebak-nebak apa yang akan terjadi di adegan berikutnya. Fiuhhhhhh~~~
sangat mendebarkan!



Film ini dibuka dengan kualitas gambar yang sangat CIAMIK mengalahkan kualitas gambar dari Blu-Ray sekalipun. Saking bening dan tajamnya gambar, wajah seluruh pemainnya terlihat pucat pucat gimana geto.
Rasanya malas saya untuk menceritakan apa yang terjadi di menit awal film ini. Intinya sih ada cowok playboy bernama Rico yang doyan mabok maijon dan pruti bareng temen" premannya yang demen ama es teh. Nih cowok emang lagi apes banget sampe bisa ketemu ama cewek cantik yang dandanannya mirip kaya Si Manis Jembatan Ancol. Dasar nih cowok kaga pernah nonton film horror (Booo, lu yakin mau angkut cewek dg dandanan kaya setan yang mangkal di depan kuburan meski wajahnya secantik Megan Rubah sekalipun? Pasti gara" maijon nih Rico sampe mau diajak nge-sex ama ni cewek) adegan selanjutnya, si setan membunuh Rico. Omaigot!

Beberapa bulan kemudian..

Neng ning neng, datanglah seorang gadis cantik nan seksi dari kampung Pekalongan (maksudnya dari kampung di daerah Pekalongan atau kampung bernama Pekalongan nih, neng? Bodo amat ah!) yang bernama Marsya. Aih, aih, namanya cukup gaul juga ya untuk ukuran gadis kampung (Upppsss!) dandanan neng Marsya dipaksakan ndeso dg rambut dikepang dua, bawa koper berbentuk tahu tapi make-up khas sinetron. Dan yang saya ingin tanyakan kepada kalian, emang orang pekalongan kalo ngomong bahasa Indonesia ga medhok ya? saya anggap neng Marsya udah terbiasa berbicara bahasa Indonesia. Lalu meluncurlah dia ke kos tempat alm Rico dulu tinggal. Di sono dia ketemu dg Ibu Penjaga Kos dan suaminya (sepi amat yak ni kosan, nyamuk pun kaga keliatan) Lalu si ibu penjaga kos jelasin panjang lebar soal biaya kos, 800 ribu / bulan. Tanpa pikir panjang, neng Marsya nyerahin duitnya ke si ibu dan langsung nyelonong masuk.
Kakak2 yang saya cintai, waktu pertama saya nyari kos, saya cek dulu kondisi kosnya seperti apa, lingkungan sekitarnya dan lihat kos lain sebagai perbandingan. Bukan asal tanya ada kamar kosong, biaya kos terus langsung kasih duitnya! *sabar, sabar.... lanjutttttttttttt!!!*

Dan malam pertama di kos angker itu pun dimulai...
Jeng Marsya mendapat kamar bekasnya alm Rico. Okay, kos ini terlihat kosong, terhitung cuma ada 3 orang yang sering mondar mandir di kos ini dan Marsya dapet kamar angker tersebut? jangan tanya kenapa, please.
Saat tidur tubuh neng Marsya mulai digrepe-grepe tangan jail setan Rico. Awww, setan nakal!
Marsya pun sangat menikmatinya. Mendadak Ia terbangun dan pura" kaget dan lugu.
keesokan paginya, dia pun ngelamar pekerjaan. Dan saya sangat kaget melihat transformasi neng Marsya. Olalala, kemana perginya gadis kampung nan lugu itu? Gara" diperkosa setan, good girl gone bad. Yeah, dandanan Marsya sangat berbeda dg saat dia pertama kali datang ke Jakarta. Mentang" udah di Jakarta, nentengnya tas LV dg sepatu gucci. Ah, ketauan ini dandanan ala gadis lugu cuma dijadikan penyamaran dia doang. Atau jangan-jangannnnnnnnnn.... dia memiliki kepribadian ganda!

Dandanan Marsya yang seksoy meleboy ini bikin bos Raymond nepsong. Ya udin, langsung diterima aja neng Marsya jadi sekretaris dia. Padahal di interpiu Marsya cuma ngomong, "saya akan berusaha semampu saya"
tips buat para cewek yang udah putus asa karena ga dapet" kerjaan, tiru aja nih caranya Marsya dijamin ampuh! *saran sesat*
Mulai dari sini saya bingung mau nyeritain alurnya, pokoknya di kantor itu hadir seorang guardian angel bernama Andre yang senantiasa menjaga Marsya apapun yg terjadi *Co cuittttttttt
tapi banyak rintangan menghadang hubungan cinta mereka berdua. Bos Raymond, mantan pacar Andre yang ga jelas sampe adik Bos Raymond yang penampilan dan cara bicaranya sama sekali ga terlihat seperti gadis yang dah tinggal lama di LA. Ooohhh, mungkin LA yg dimaksud adalah Los Ambles, desa sebelah.

Saya bingung lagi nih ama kronologis alurnya
neng Marsya ternyata emang demen diperkosa ama setan Rico! Lha buktinya dia masih aja tinggal di kos itu. Kalo saya mah langsung ngungsi.
FYI, d sini Cynthiara Alona membuktikan bahwa dia bisa akting! Yup, akting saat dia diperkosa setan Rico dengan bermacam" gaya terlihat sangat natural. Awwwww
Alih" terlihat ketakutan atau kebingungan, Marsya malah terlihat sangat menikmatinya. Akting Miyabi, Sora Aoi dan bintang bokep lainnya mah lewat!
dan ngomongin soal akting, saya menjagokan deretan cast RBS untuk bersaing di ajang Academy Awards tahun depan karena akting mereka sangat BAGUS! Johnny Depp, Meryl Streep, Nicole Kidman bukan lagi tandingan. Saya yakin seyakin yakinnya, mereka akan borong semua piala Oscar!
*jedotin kepala*

Dan Marsya pun hamil! perutnya tiba" membesar dan mecetet.. bayinya keluar. Olala, jangan harap melihat bayi yang normal, karena bayinya mirip kaya tuyul. Doh!
kata pertama yang ia ucapkan adalah Ma! Hanya satu kata tapi mampu membuat geger seisi studio. *pusing saya*
*sabar* berhubung ini anak setan, nggak mungkin kalo tumbuhnya normal. Hanya dalam hitungan hari dia tumbuh dewasa dan d sinilah twist dihadirkan. Wajahnya mirip sekali dg setan Rico, ga cuma wajah, tapi semuanya! plek, plek, plek. ga sedikitpun yang berbeda.
saya yang awalnya masih kuat nonton film ini mulai menjadi depresi dan otak saya seakan dikocok dg kekuatan penuh.
Baiklah, mulai d sini saya semakin bingung.

Kekacauan lain yang hadir d sini hampir tak terhitung jumlahnya.
Bos Raymond dan Andre gemar mengantarkan pulang Marsya ke kosnya. Terjadi percakapan seperti ini =
Raymond / Andre : Marsya, udah sampe nih. bangun.
Marsya : Oammmm *menggeliat* Oh, udah sampe yah?
adegan ini aneh? mungkin tidak jika hanya sekali. Tapi yang terjadi adalah, adegan ini diulang hingga sekitar 4 kali dan pembedanya hanyalah mobil. Gerakan, dialog bahkan angle kamera na pun sama! Saya jadi bertanya", selain mengidap kepribadian ganda, jangan" Marsya juga mengidap narkolepsi? au ah gelap
setan Rico juga ga peduli tempat rupanya. Waktu swimsuit party di rumah Bos Raymond yang dipenuhi cewek" berbikini ria, dia hadir dan memperkosa Marsya di kolam renang! Untuk adegan ini sebaiknya kalian tonton saja sendiri karena saya tak bisa menggambarkan betapa ajaibnya adegan ini. Yang pasti kemudian Andre menyelamatkan Marsya dan cewek yang tadi berenang mendadak lenyap, berjejer di belakang Andre mirip kaya dayang-dayang
"Ndre, tolongin aku" bukannya terlihat panik, ekspresi Marsya malah lebih terlihat seperti "Ndre, perkosa aku sekarang juga!"

Adegan favorit saya adalah saat Marsya memberanikan diri untuk memberitahu kejadian sebenarnya ke Andre.
Marsya : (berbisik) Ini rahasia, jangan bilang siapa", janji Ndre?
Andre : Iya, aku janji. apa sih yang nggak buat kamu?
*hening sejenak*
Masya : Aku... DIPERKOSA SETANNNNNN NDREEEE !!!! (seketika semua orang yang ada di kantin menoleh dan berbisik-bisik)

Sepertinya saya harus mengakhiri ulasan film ini sebelum otak saya mulai meledak dan berceceran dimana-mana. Di ending scene, terjadi perkelahian seru antara anak setan Rico versus Andre di kamar kos Marsya, sementara Marsya berada di ujung ruangan sambil membawa pom-pom.
"Gimme A, gimme N, gimme D, gimme R, gimme E.... ANDRE!"
dengan kekuatan dari kalung jimat peninggalan nenenknya, Andre dg mudah mengalahkan anak setan Rico. Adegan d sini sangat mirip dg The Curious Case of Benjamin Button dimana anak setan kembali menjadi bayi dan hangus menjadi debu!
Andre memeluk Marsya dan memberinya kalung tersebut. Ah, saya yakin stoknya masih banyak di rumah.
Mereka menikah dan Marsya pun keluar dari kos tersebut. Berakhir? tentu tidak. Datang korban baru dan dia mengalami hal yang sama dengan Marsya. Melihat hal ini saya jadi curiga, jangan" ibu penjaga kos dan suaminya adalah anak buah Rico

Nilai = 2/10
Bisa dikatakan, Dierkosa Setan adalah film terkacau yang pernah gue tonton. Tapi gue sangat menyarankan kepada kalian buat mencicipinya karena jarang sekali ada film yang maha kacau seperti ini. Skrip, akting hingga sisi teknis tak ada satupun yang bisa dikategorikan lumayan.




Mobile Edition
By Blogger Touch