Showing posts with label Acceptable. Show all posts
Showing posts with label Acceptable. Show all posts

April 19, 2021

REVIEW - PERCY

“There’s a lot of farmers around the world who can’t stand up, I figure I should.”

Pada tanggal 6 Agustus pagi di tahun 1998, seorang petani dari Saskatchewan, Kanada, bernama Percy Schmeiser menerima “surat cinta” dari Monsanto, perusahaan agrikultur raksasa yang telah menancapkan pengaruhnya di berbagai belahan dunia. Isi surat tersebut tak saja membuat Percy terkejut, tapi juga luar biasa marah. Betapa tidak, tanpa ada pemberitahuan, peringatan, atau bahkan teguran sebelumnya, dia mendadak digugat oleh Monsanto setelah mereka menemukan tanaman kanola jenis Roundup Ready (tanaman ini sudah dimodifikasi secara genetik) tumbuh berkembang di lahan Percy. Ini dianggap sebagai suatu masalah lantaran benih kanola jenis Roundup Ready telah dipatenkan haknya oleh Monsanto dan tidak semua petani diizinkan untuk menanamnya kecuali sudah membeli lisensinya secara resmi. Berhubung Percy tak pernah berbisnis dengan perusahaan ini soal benih, penemuan tersebut jelas dianggap sebagai pelanggaran. Atau mengutip langsung dari kata yang dipergunakan oleh si penggugat, “dia telah mencurinya.” 

October 16, 2020

REVIEW : SEPERTI HUJAN YANG JATUH KE BUMI

“Melarikan diri dari rasa sakit hati itu, enggak akan membuat kita lebih baik. Sakit hati itu harus kita nikmati.”

Terlampau sering di dalam rumah selama pandemi Covid-19, membuat pikiran saya sering melantur kemana-mana. Pernah pada suatu hari yang tidak terlalu indah, saya mendadak punya keinginan amat random, “duh pengen deh nonton film percintaan remajanya Screenplay Films yang ajaib itu. Udah lama sekali rasanya.” Ternyata, dari sekian banyak doa yang pernah hamba rapalkan, doa ini termasuk yang dikabulkan secara cepat oleh Tuhan. Tiba-tiba saja rumah produksi ini, bekerjasama dengan IFI Sinema dan Netflix, meluncurkan Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi ke raksasa penyedia layanan streaming. Film romansa yang didasarkan pada novel laris bertajuk sama rekaan Boy Candra (karyanya yang lain, Malik dan Elsa, pun sudah diadaptasi) ini memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi sajian cinta-cintaan khas Screenplay. Di sini, kamu bisa mendapati: 1) jalinan penceritaan yang agak sulit dibayangkan akan terwujud dalam kehidupan nyata, 2) dialog berisi untaian kata-kata puitis yang diucapkan oleh para karakter dalam setiap hembusan nafas mereka, dan 3) production value yang tampak berkelas guna membedakannya dengan sajian-sajian serupa yang khusus ditayangkan di stasiun televisi. Terdengar menyiksa menarik, bukan? Tentu saja, seperti sudah hamba duga sebelumnya, film ini pun tak kalah ajaibnya sekalipun telah merekrut nama-nama seperti Lasja F Susatyo (Mika, Sebelum Pagi Terulang Kembali) sebagai sutradara, serta Upi (Teman Tapi Menikah, My Stupid Boss) dan Piu Syarif (Moammar Emka’s Jakarta Undercover) sebagai penulis skenario. 

October 9, 2020

REVIEW : RENTANG KISAH

“Tuhan menciptakan dunia amat besar. Lalu masa kamu mau diem di rumah aja?”

Gita Savitri Devi adalah salah satu vlogger dan influencer berpengaruh di Indonesia. Kontennya berkisar pada serba-serbi pengalamannya sebagai WNI yang merantau ke negeri orang dan opini-opini kritisnya terhadap beragam isu sosial politik. Dalam menjalankan kanal YouTube miliknya, Gita pun tidak berjibaku sendirian. Dia didampingi oleh teman baiknya yang belakangan menjadi suaminya, Paul Andre Partohap. Kegemaran keduanya terhadap musik mendorong pasangan ini untuk sesekali memanjakan telinga para penggemar dengan lantunan tembang-tembang manis. Mereka ingin sebisa mungkin konten di kanal ini tak saja edukatif dan informatif, tetapi juga menyenangkan. Tak mengherankan jika kemudian Jeung Gita diikuti oleh lebih dari 900 ribu penggemar. Sebuah angka yang terhitung masif terlebih si empunya channel bukan berasal dari kalangan selebriti. Menilik perjalanan sekaligus pencapaian Gita yang impresif tersebut, rumah produksi Falcon Pictures pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Buku perdana karya sang vlogger yang laris dibaca oleh publik, Rentang Kisah, dipinang untuk diadaptasi ke dalam film panjang. Danial Rifki yang sebelumnya menggarap Haji Backpacker (2014) dan 99 Nama Cinta (2019), ditunjuk mengomandoi tontonan inspiratif yang menyoroti perjuangan berikut tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Gita saat sedang menimba ilmu di Jerman ini.

October 2, 2020

REVIEW : GURU GURU GOKIL

“Di dunia ini, gue paling suka uang.”

Guru Guru Gokil adalah salah satu film Indonesia yang hamba nanti-nantikan kehadirannya di awal tahun ini. Alasannya sederhana saja, Dian Sastrowardoyo tidak pernah mengecewakan saat diminta untuk ngebanyol. Keputusannya untuk turut menduduki kursi produser, kian menguatkan ekspektasi mengingat Mbak Dian terhitung sebagai aktris yang selektif dalam memilih konten. Mudahnya, film ini tidak akan main-main secara kualitas penggarapan. Bahkan saat pandemi Covid-19 kian meluas yang menyebabkan jaringan bioskop di Indonesia berhenti beroperasi untuk sementara waktu, film garapan Sammaria Simanjuntak (Demi Ucok, Cin(t)a) ini dipinang oleh raksasa streaming Netflix dan memperoleh kesempatan untuk diedarkan secara luas ke seluruh dunia dengan banderol “Netflix Original”. Itu artinya, ini adalah film Indonesia kedua yang mendapat kehormatan tersebut usai The Night Comes for Us (2018). Belum apa-apa, sudah terdengar menggiurkan, to? Terlebih materi yang diusung sejatinya memang menggiurkan yakni seputar sepak terjang para pahlawan tanpa tanda jasa yang dihidangkan menggunakan pendekatan komedi. Sepintas lalu, film ini punya komposisi yang terlihat tidak mungkin salah di atas kertas. Ditambah kehadiran Gading Marten yang dikenal luwes kala ngelaba di garda terdepan pemain, Guru Guru Gokil seolah menjanjikan sajian komedi lucu nan menginspirasi yang ternyata oh ternyata… tidak pernah terealisasi.

September 16, 2020

REVIEW : THE MYSTERY OF THE DRAGON SEAL


“I’ve been waiting for this for a long time.”

Saat hamba mengira tahun 2020 ini mustahil untuk semakin aneh dan random, tiba-tiba diri ini menyaksikan sebuah film berjudul The Mystery of the Dragon Seal yang mengedepankan Jackie Chan dan Arnold Schwarzenegger sebagai jualan utamanya. Sebuah film produksi kolaborasi antara Rusia dan Cina (di dua negara tersebut, film ini telah dirilis pada tahun lalu) yang membuat saya berulang kali mengucap “what the hell” di sepanjang durasi. Apakah ini pertanda buruk? Well, tergantung perspektif. Jika kamu mendamba tontonan dengan plot koheren yang di dalamnya mengandung isu-isu relevan untuk diperbincangkan, maka sudah barang tentu film arahan Oleg Stepchenko ini tidak semestinya ditaruh dalam daftar tontonan. Tapi jika kamu, seperti saya, sedang membutuhkan sajian hiburan ringan untuk sejenak mendistraksi dari cobaan hidup yang menguji kewarasan, The Mystery of the Dragon Seal jelas memenuhi persyaratan. Merentang cukup panjang hingga mencapai 2 jam, kamu akan disuguhi satu tontonan bergenre action-adventure-fantasy yang tingkat random dan absurd-nya tidak ada obat sampai-sampai akan membuat para penonton kritis bungkam seribu bahasa karena memang, film ini berceloteh sesuka hati dan memang diniatkan demikian sedari awal.

June 27, 2020

REVIEW : EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA


“We have to prove to Iceland, and my extremely handsome father, that my life hasn’t been a waste.”

Sebagai seseorang yang menggemari Eurovision Song Contest (ESC), saya jelas girang tatkala mengetahui “olimpiade untuk musik pop” ini akan diterjemahkan ke dalam satu film panjang. Semangatnya, gegap gempitanya, serta keunikannya adalah sederet faktor yang melatari mengapa ajang kompetisi menyanyi tahunan untuk kawasan Eropa ini bisa memikat hati jutaan pasang mata. Memang betul masa keemasannya sudah lewat – dulu, ABBA dan Celine Dion mulai dikenal luas dari sini – dan belakangan lebih seperti acara parodi musik yang konyol sekaligus kental dengan muatan politis yang melelahkan. Tapi saat masih menawarkan kesenangan melalui aksi panggung yang kreatif, barisan tembang yang mudah nyantol di telinga, maupun antusiasme penonton, tentu tidak ada alasan bagi hamba untuk meninggalkannya begitu saja. Toh, saya masih dibuat terhibur olehnya. Will Ferrell yang mengaku mengikuti ESC berkat sang istri, mencoba untuk menangkap jiwa bersenang-senang dari kontes ini dalam wujud sajian komedi bertajuk Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga yang kursi penyutradaraannya diserahkan kepada David Dobkin (Wedding Crashers, The Judge). Guliran narasinya menerapkan formula klasik “from zero to hero” dimana kita diajak mengikuti sepak terjang dari satu band pecundang asal Islandia yang berharap akan memperoleh pengakuan dari orang-orang yang dikasihi dengan memenangkan ESC.  

May 29, 2020

REVIEW : SCOOB!


“Scoob, you’re the best friend I could ever ask for and you always will be.”

Apabila diminta untuk menyebut serial animasi dari masa kecil yang melekat kuat di ingatan, saya punya beberapa kandidat dan salah satunya jelas Scooby-Doo. Kecintaan pada cerita-cerita misteri membuat diri ini gemar mengikuti sepak terjang kelompok detektif amatir bernama Mystery Inc. dalam mengungkap kasus-kasus nyeleneh bertopengkan unsur supranatural. Dipandang melalui kacamata seorang bocah, serial ini sejatinya cukup seram yang untungnya dikompensasi oleh keberadaan elemen komedinya yang amat pekat. Dua personilnya yang penakut, Shaggy dan si karakter tituler yang merupakan sesosok anjing yang bisa berbicara, didayagunakan sebagai pemantik tawa. Mereka gemar bersenda gurau, menyantap makanan lezat… dan benci hantu. Sepintas memang terdengar seperti personil yang tak berguna, tapi sulit sekali untuk membenci keduanya terlebih mereka adalah “jantung” dari Mystery Inc. maupun Scooby-Doo itu sendiri. Tanpa dua sejoli ini, narasi bakalan berjalan lempeng-lempeng saja tanpa ada kesenangan yang membuncah. Itulah mengapa saat Warner Bros. berniat memboyong serial ini sekali lagi ke layar lebar (sebelumnya telah dilakukan dalam dwilogi live action di awal 2000-an), fokusnya diletakkan pada dinamika persahabatan Shaggy-Scooby yang memang jualan utama serialnya disamping elemen misteri. Mengaplikasikan format animasi 3D, film berjudul Scoob! ini mencoba berdiri sebagai origin story yang mencelotehkan awal mula terbentuknya persahabatan kelompok “pemburu hantu”, seraya membuka jalan untuk semesta penceritaan lebih luas yang mempertemukan karakter-karakter lain dari properti milik Hanna-Barbera.         

April 30, 2020

REVIEW : THE WILLOUGHBYS


“All I wanted was a great family.”

Di awal film, seekor kucing bermulut tajam (disuarakan oleh Ricky Gervais) telah memberi peringatan kepada para penonton bahwa The Willoughbys bukanlah tontonan keluarga yang konvensional. Dia berujar, “jika kamu menyukai kisah tentang keluarga yang tetap bersama serta saling menyayangi dalam suka dan duka lalu semuanya berakhir bahagia selamanya, ini bukan film untukmu. Paham?” Suatu pengantar yang sejatinya diperkenalkan oleh Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events – dan kemudian menjadi ciri khas bagi franchise tersebut – yang sedari awal mewanti-wanti untuk tak mendamba guliran pengisahan yang riang gembira karena si pengarang membawanya ke ranah lebih gelap. Tak sepenuhnya bermuram durja atau sarat akan tangis kepiluan tentu saja mengingat bagaimanapun juga sasaran utamanya adalah seluruh keluarga. Hanya saja, penonton cilik butuh bimbingan untuk melahap kontennya yang berisi humor-humor nyeleneh bertabur sarkasme dan narasi yang melibatkan isu-isu “mengerikan” seperti kriminalitas, kematian, sampai pembunuhan. The Willoughbys yang sedikit banyak mengingatkan pula kepada The Addams Family ini menyodorkan ketiga isu tersebut dengan premis yang membuat hamba terperanjat saking gelapnya. Disadur dari novel bertajuk sama rekaan Lois Lowry, film membawa pengandaian berbunyi, “bagaimana jika menjadi yatim piatu adalah jalan terbaik bagi anak-anak untuk mendapatkan kebahagiaannya?” yang sudah barang tentu bukan sesuatu yang lazim bagi film animasi untuk segala usia.

February 28, 2020

REVIEW : SEBELUM IBLIS MENJEMPUT AYAT DUA


“Ada beberapa sosok iblis tertentu yang mengharuskan adanya pengorbanan. Korban itu adalah salah satu bentuk dari pengabdian.”

Tepat selepas menonton Sebelum Iblis Menjemput di bioskop pada tahun 2018 silam, saya secara spontan nyeletuk “Aku hambamu, Bung Timo Tjahjanto” seraya menyembah-nyembah layar. Sungguh, film tersebut berhasil menghadirkan pengalaman menonton sajian seram yang begitu seru sekaligus menggedor jantung tanpa henti. Menit demi menitnya senantiasa disusupi intensitas tinggi sampai-sampai tak ada kesempatan bagi penonton untuk melepas nafas lega. Keji sekali memang Bung Timo ini! Tapi siapapun yang mengikuti seluk beluk filmografi sang sutradara tentu paham, dia tak pernah segan-segan dalam menggeber kekerasan. Narasi bukanlah hidangan andalannya, melainkan bagaimana cara dia mengkreasi “kesenangan” dalam film yang bersumber dari penyiksaan, brutalitas, serta muncratan darah. Ya, film-filmnya memang cenderung segmented dan tidak pula cocok ditonton oleh mereka yang berhati lemah. Sebelum Iblis Menjemput sendiri tergolong karyanya yang paling “lunak” menyusul keinginannya untuk berdamai dengan guntingan sensor tanah air yang ganas. Namun selunak-lunaknya Timo, kamu tetap akan mendapati perempuan-perempuan anggun seperti Chelsea Islan, Pevita Pearce, dan Karina Suwandi mendadak saling teriak, saling hajar, hingga gelut habis-habisan di kubangan lumpur. Sebuah pemandangan langka yang tentu tak akan kamu jumpai di film Indonesia manapun, bukan? Saking bersemangatnya melihat mereka disiksa eh maksud saya film ini, hamba tentu bahagia begitu mendapati cerita ternyata tak berakhir sampai disitu saja. Ada sekuel bertajuk Sebelum Iblis Menjemput Ayat Dua dimana sang sutradara menyiapkan lebih banyak tumbal untuk dikorbankan kepada penguasa neraka.

February 25, 2020

REVIEW : TOKO BARANG MANTAN


“Nggak enak banget rasanya, kalau sesuatu yang kamu anggap besar nggak ada artinya bagi orang lain.”

Dalam Temen Kondangan tempo hari, salah satu karakter nyeletuk “dijual ke toko barang mantan saja, Mas” kepada karakter lain yang mempertimbangkan untuk membuang barang-barang pemberian mantannya demi memenuhi keinginan untuk move on. Ndilalah, MNC Pictures – yang memproduksi film bersangkutan – memiliki film komedi romantis bertajuk Toko Barang Mantan yang memang dicanangkan untuk ambil bagian dalam MCU (Mantan Cinematic Universe). Ada satu tokoh yang mengaitkan dua judul ini, dan sebagai tambahan untuk fun fact, pasangan suami istri di dunia nyata, Prisia Nasution beserta Iedil Dzuhrie Alaudin menjadi penghubung lainnya dimana mereka berlakon dalam dua film berbeda. Tak seperti Prisia yang ditempatkan di garda terdepan, Iedil diposisikan sebagai pendukung bagi duo Reza Rahadian-Marsha Timothy. Dan memang, merekalah yang menjadi daya tarik utama bagi Toko Barang Mantan disamping premisnya yang terdengar unik: bagaimana jadinya kalau ada sebuah toko yang spesialisasinya adalah menjual barang-barang kenangan dari mantan dimana cerita dari setiap barang turut menentukan harganya? Dalam satu masa dimana kata “mantan” telah diromantisasi sekaligus diantagonisasi sedemikian rupa, tentu topik pembicaraan yang disodorkan oleh film ini tidak akan mengalami kesulitan untuk teresonansi dengan publik. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah premis menggiurkannya mampu divisualisasikan secara bernas oleh Viva Westi (Jenderal Soedirman, Koki-Koki Cilik 2) selaku sutradara?

February 11, 2020

REVIEW : BIRDS OF PREY


“Psychologically speaking, vengeance rarely brings the catharsis we hope for.”

Meski dihajar sampai babak belur oleh para kritikus jelang perilisannya, perolehan Suicide Squad (2016) di tangga box office sama sekali tak tergoyahkan. Masih sanggup mencetak angka sebesar $746 juta dari peredaran seluruh dunia yang seketika memosisikannya sebagai salah satu instalmen tersukses dalam DC Extended Universe (DCEU). Impresif, bukan? Dan jika kita memperbincangkan tentang kata “impresif” serta keterkaitannya dengan film tersebut diluar faktor pundi-pundi, maka itu membawa kita pada performa Margot Robbie sebagai Harley Quinn alias kekasih Joker (Jared Leto) yang hiperaktif. Peraih dua nominasi Oscars ini adalah salah satu dari sedikit alasan yang menyelamatkan “komplotan bunuh diri” dari keterpurukan yang lebih dalam. Dia bermain dengan penuh energi, karakternya ndilalah juga menarik, dan pihak Warner Bros. pun seketika punya ide gila: memberinya sebuah film solo. Well, secara teknis bukan “konser tunggal” sih lantaran terdapat pula beberapa karakter lain yang turut memanggul peran krusial seperti halnya Suicide Squad. Hanya saja, melalui sajian bertajuk panjang sekali Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn), Mbak Harley mempunyai kuasa lebih untuk mengomandoi narasi tanpa harus mengekor di belakang Joker. Dalam film ini, dia tidak saja mendapat jatah tampil lebih banyak, tetapi juga diposisikan sebagai sentral penceritaan dimana secara tidak langsung dia adalah pemimpin dari sebuah tim berisikan jagoan-jagoan perempuan.

February 4, 2020

REVIEW : TEMEN KONDANGAN


“Kamu itu nggak pernah mikirin kata aku atau diri kamu sendiri. Tapi orang lain.”

Sebagai seseorang yang sering kemana-mana sendiri, bagi saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan tanpa gandengan bukanlah suatu persoalan yang mesti dikhawatirkan. Entah itu kondangannya teman baik atau mantan sekalipun. Tapi ternyata, “dateng ke nikahannya mantan” bisa menjadi masalah pelik khususnya bagi kaum hawa yang belum dianugerahi pasangan. Saking bermasalahnya, sampai-sampai terbit satu golden rule berbunyi: jangan datang sendirian. Sebuah aturan yang tadinya sempat hamba kira sebagai guyonan belaka untuk menggerakkan narasi film terbaru MNC Pictures, Temen Kondangan, sampai kemudian dua orang kawan dari medium berbeda (maksudnya, dunia maya dan dunia nyata gituuu…) mengungkapkan keresahan yang pernah dialaminya. Keresahan tersebut bermula usai dia mendapatkan undangan kawinan dari sang mantan, sementara pada saat itu dia masih menyandang status jomlo. Meski teman ngobrol saya ini sempat kepikiran untuk mengajak teman lelakinya sebagai gandengan, belakangan dia tak berkeberatan untuk datang sendiri bersama rombongan dari teman-teman sepermainannya dulu. Sungguh sebuah cerita menggelitik yang sedikit banyak menyadarkan saya bahwa pergulatan batin yang dihadapi oleh karakter utama dalam Temen Kondangan memang nyata adanya terutama bagi mereka yang kerap menganggap penting omongan orang.

February 3, 2020

REVIEW : MANGKUJIWO


“Iblis terkuat bersemayam di sini.”

Saat sebuah film mereguk untung besar, tentulah wajar tatkala pihak rumah produksi lantas memutuskan untuk mengembangkannya menjadi satu “kerajaan” berwujud franchise. Disamping Danur beserta “keluarga kecilnya”, perfilman Indonesia juga mempunyai Kuntilanak keluaran MVP Pictures sebagai tontonan horor yang beranak pinak. Selepas era Julie Estelle berakhir, si empunya film lantas melanjutkan Kuntilanak ke era baru dengan pendekatan horor keluarga dimana dua instalmen pertamanya memperoleh respon antusias dari khalayak ramai. Menilik pencapaian yang memuaskan di tangga box office, MVP Pictures pun seketika memberikan lampu hijau bagi pembuatan dua seri lain yang mencakup sebuah sekuel dan sebuah prekuel. Selagi para penggemarnya menantikan kemunculan instalmen ketiga yang baru direncanakan rilis pada libur Lebaran mendatang, satu kisah pendahuluan pun dilepas dengan tajuk Mangkujiwo. Dalam film yang ditangani oleh Azhar Kinoi Lubis (Kafir Bersekutu dengan Setan, Ikut Aku ke Neraka) ini, penonton disodori materi penceritaan yang mengetengahkan pada proses lahirnya sang villain utama dari franchise ini yang tak lain tak bukan adalah Mbak Kunti sendiri. Sebuah materi yang mesti diakui sangat menggugah keingintahuan dan hasrat menonton, terlebih bagi mereka yang telah setia mengikuti seri film ini sedari satu dekade silam.

January 25, 2020

REVIEW : AKHIR KISAH CINTA SI DOEL


“Aku telah menyakiti hati tiga perempuan yang aku cintai. Zaenab, Enyak, Sarah. Setelah 27 tahun, aku harus memilih. Semoga pilihanku ini Kau ridhoi, Ya Allah.”

Saat Si Doel The Movie (2018) dirilis ke bioskop, saya sempat mengira bahwa tontonan ini bukan semata-mata dimanfaatkan untuk mereguk keuntungan dari nostalgia, tetapi juga dipergunakan sebagai konklusi bagi kisah cinta segirumit yang terjalin diantara para karakter utama di sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan. Tapi perkiraan saya ternyata salah, karena Rano Karno selaku kreator justru memilih untuk menanamkan konflik baru yang seketika membentangkan film menjadi trilogi. Membuat para penggemar beratnya kian gregetan lantaran si karakter tituler tak kunjung menentukan pilihannya, sementara kondisi di sekelilingnya sudah tak lagi kondusif. Sungguh menguji kesabaran memang laki-laki satu ini. Menilik babak pertama yang berjalan kelewat santai nyaris tanpa ada letupan berarti, saya sebetulnya tak terlampau bergairah mengikuti kelanjutan problematika asmara Doel (Rano Karno). Namun diluar dugaan, saya malah sangat bisa menikmati jilid keduanya yang bertajuk Si Doel The Movie 2 (2019) dimana persoalan mulai benar-benar meruncing dan sanggup pula tampil emosional. Kita menyaksikan pertemuan kembali Zaenab (Maudy Koesnaedi) dengan Sarah (Cornelia Agatha) setelah satu dekade tak saling bertegur sapa, kita menyaksikan pula bagaimana dua perempuan ini akhirnya menunjukkan perlawanannya kepada sang suami yang masih saja plin-plan. Saking emosionalnya, saya pun berharap si pembuat film akhirnya memberikan satu keputusan pasti di jilid ketiga alih-alih kembali mengombang-ambingkan perasaan para karakter maupun penontonnya.

November 7, 2019

REVIEW : LAMPOR KERANDA TERBANG


“Anak yang dianggap hilang, akhirnya pulang.”

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dedemit yang dikenal dengan nama lampor bisa jadi masih terdengar asing di telinga. Tapi bagi mereka yang tumbuh besar di Jawa – khususnya area Yogyakarta dan sekitarnya – lampor adalah teror masa cilik yang sulit dienyahkan. Sebagian orang memang mengenalnya sebatas “hantu penculik bocah” yang muncul selepas matahari terbenam. Tapi dalam narasi yang lebih luas, sosoknya dikenal sebagai pasukan Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan yang kehadirannya ditandai dengan adanya suara kegaduhan yang bersumber dari iring-iringan kereta kuda dan pasukan demit. Terdengar mengerikan, bukan? Begitulah jika kita memperbincangkan soal mitologi Jawa, aroma mistis dan kleniknya sangat kuat terasa. Setiap daerah memiliki mitosnya sendiri, setiap daerah mempunyai kepercayaan yang akan membuat bulu kudukmu meremang. Saking melimpahnya mitos Jawa yang menyeramkan ini, tak mengherankan jika kemudian pihak rumah produksi di tanah air pun kerap meliriknya untuk dijadikan bahan utama bagi film horor. Maklum, selain terdengar seram, latar belakangnya juga filmis. Memungkinkan sekali untuk diejawantahkan ke tontonan layar lebar, termasuk mitos lampor yang lantas didayagunakan oleh Starvision guna menghasilkan film seram bertajuk Lampor Keranda Terbang dimana Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku sutradara dan Adinia Wirasti yang didapuk sebagai pemeran utama menjajal genre horor untuk pertama kalinya.

November 4, 2019

REVIEW : LOVE FOR SALE 2


(ulasan mengandung spoiler, jadi berhati-hatilah di dua paragraf akhir)

“Belum pernah saya lihat mamakmu sebahagia seperti sekarang ini. Auranya… bersinar!”

Bagi sebagian orang, Arini (Della Dartyan) adalah salah satu karakter fiktif paling keji dalam sinema dunia yang semestinya dilaknat. Alasannya, karena dia mendadak pergi tanpa pamit dan meninggalkan seorang pria yang menaruh rasa teramat dalam kepadanya di saat sang pria sedang sayang-sayangnya. Tindakan Arini ini jelas tidak bisa dibenarkan oleh kemanusiaan. Terlebih lagi, pria tersebut juga telah terlampau lama tak memperoleh belaian penuh cinta kasih dari seorang perempuan. Jika kemudian ada yang mengantagonisasi Arini atas tindakannya kepada bujang lapuk kesepian bernama Richard (Gading Marten), tentu bisa dipahami. Walau sejatinya pernyataan “Arini adalah villain” dapat dipatahkan seketika apabila penonton bersedia untuk mengilas balik ke awal perjumpaan dua karakter utama dalam Love for Sale (2018) ini. Satu hal yang perlu digarisbawahi, Arini hanyalah pegawai di Love Inc. – perusahaan penyedia pasangan sewaan yang konsepnya menyerupai Family Romance di Jepang – yang kebetulan mendapat penugasan untuk mendampingi Richard. Dia mempunyai kontrak yang harus dipatuhi, dia juga mempunyai perasaan yang mesti dibatasi. Hubungannya dengan klien bersifat profesional, tidak pernah lebih. Apabila percikan asmara lantas menghinggapi klien, bukankah kesalahan ada di pihak klien lantaran telah mendobrak batasan? Melalui Love for Sale 2, Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Romeo Juliet) yang masih menduduki kursi penyutradaraan berupaya untuk “memperbaiki citra” Arini yang kadung tercoreng ini. Dalam narasi yang diekspansi lebih luas lagi demi menuruti aturan tak tertulis untuk sekuel, ada sepenggal narasi yang akan mendorong penonton untuk memahami motivasi sesungguhnya dari “sang villain”.

October 22, 2019

REVIEW : MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL


“This is no fairy tale.”

Pada tahun 2014 silam, Disney mencoba untuk sedikit bereksperimen terhadap produk layar lebar mereka. Alih-alih menggunakan kacamata si karakter tituler untuk interpretasi anyar terhadap dongeng klasik Sleeping Beauty, mereka justru menempatkan si karakter villain di poros utama pengisahan. Penonton disodori premis menggiurkan berbunyi, “apa yang sebenarnya membuat Maleficent begitu kejam sampai tega melukai seorang manusia berhati lembut seperti Aurora?,” yang tentu saja sulit untuk ditolak. Menempatkan Angelina Jolie sebagai si tokoh jahat yang memiliki ciri khas fisik berupa tulang pipi tajam, tanduk, serta sayap, khalayak ramai pun menyambutnya secara antusias sekalipun film memperoleh respon beragam dari kritikus. Satu paling disorot, penggunaan CGI terlampau berlebihan sampai-sampai narasinya terpinggirkan. Padahal, dekonstruksi atas dongeng ini dimana Maleficent dideskripsikan sebagai “makhluk baik yang tersakiti” sejatinya punya kesempatan untuk menciptakan gelaran mengharu biru. Cukup disayangkan, memang. Mencoba memperbaiki kesalahan tersebut – atau lebih tepatnya, ingin mendulang dollar lebih besar lagi – maka pihak studio pun berinisiatif untuk mengkreasi cerita kelanjutan bagi Maleficent dengan menggunakan subjudul Mistress of Evil. Sebuah trik jualan yang lagi-lagi mesti diakui jitu lantaran subjudul ini akan mengundang ketertarikan bagi sebagian penggemar. Ada satu tanya yang lantas muncul: apakah benar karakter jahat yang telah bertaubat di film sebelumnya, akhirnya memilih untuk kembali bertindak zalim ketimbang bertahan di jalan kebaikan?

October 14, 2019

REVIEW : SIN


“Aku akan selalu ada buat kamu.”

Betapa nelangsanya nasib Minke (Iqbaal Ramadhan). Usai kisah cintanya dengan Annelies (Mawar De Jongh) dipaksa kandas lantaran sang pujaan harus berpindah ke Belanda, kini dia pun harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya telah ditikung oleh teman baiknya sendiri. Jan (Bryan Domani) yang diberi kepercayaan untuk mengawal Annelies ternyata diam-diam menaruh rasa kepada Annelies… dan mereka pun ada kemungkinan memiliki hubungan darah dari pihak ayah (!). Kacau betul, bukan? Berhubung Tuan Mellema gemar bermain perempuan, maka plot twist ini tentu tidak mengherankan meski tetap akan bikin diri ini geleng-geleng kepala sekaligus mengernyitkan dahi jika benar-benar ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tapi syukurlah, hubungan cinta terlarang antara Annelies dengan Jan tersebut bukan bagian dari cerita kelanjutan Bumi Manusia, melainkan dari film bertajuk Sin keluaran Falcon Pictures yang menempatkan Mawar De Jongh beserta Bryan Domani di garda pemain utama. Dan memang, ada narasi mengenai cinta terlarang yang dikemukakan melalui tagline berbunyi “saat kekasihmu adalah kakakmu sendiri” yang mendorong beberapa kawan untuk melempar komentar julid: kok berasa sinetron ya? Saya sih tidak pernah berpikir sampai ke sana ya, karena memang jarang sekali nonton sinetron. Malah, saya jadi teringat pada satu film erotis asal Thailand, Jan Dara (2001), yang sempat tayang di bioskop lokal dengan tajuk My Lover My Son. Same energy, rite? Berhubung masyarakat Indonesia sedang sangat relijius dan menaruh perhatian sangat tinggi kepada perkara berbau moral, saya tentu sama sekali tidak kaget begitu mengetahui bahwa kesamaan energi antara dua film ini hanya sampai di tampilan luar semata.

October 12, 2019

REVIEW : CINTA ITU BUTA


“Kamu tahu nggak bedanya kamu sama rumput laut? Kalau rumput laut itu mengandung nutrisi, kalau kamu mengandung anak-anak kita nanti.”

Biasanya, kita melihat komika dengan selera humor nyeleneh, Dodit Mulyanto, di jajaran pemain pendukung dalam film layar lebar guna bertindak sebagai comic relief. Tapi tim kasting Cinta Itu Buta ternyata melihat potensi besar dari seorang Dodit. Alih-alih menempatkannya dalam supporting roles, mereka memberi kesempatan kepada Dodit untuk unjuk gigi di garda terdepan. Tidak tanggung-tanggung, film yang merekrut sang komika sebagai peran utama, berada dalam ranah komedi romantis. Sebuah kejut nyata, bukan? Seperti halnya sebagian dari kalian, saya pun tak menduga Dodit akan beroleh peran krusial dalam genre ini. Terlebih lagi, dia bukanlah tipe prince charming atau bad boy yang belakangan kerap mendominasi kisah percintaan di sinema tanah air. Jadi, apa yang hendak dikedepankan? Well, berkaca pada pendampingnya, Shandy Aulia, dan judul yang dikedepankan, penonton sejatinya sudah bisa meraba-raba narasi maupun pesan yang hendak diutarakan oleh tontonan ini. Didasarkan pada film Filipina laris berjudul Kita Kita (2017), film yang menandai kembalinya Rachmania Arunita ke kursi penyutradaraan setelah terakhir kali menggarap Lost in Love (2008) ini menerapkan template “beauty and the beast”. Di saat bersamaan, film turut mencoba hantarkan pesan moral yang cukup menyentuh berbunyi “cinta sejati bukanlah soal penampilan, melainkan tentang ketulusan hati dan empati” yang seketika membuat diri ini tertarik untuk menjajalnya.

September 28, 2019

REVIEW : DANUR 3: SUNYARURI


“Mungkin pertemanan kami sejak awal memang hanya sebuah celaka.”

Didasarkan pada rangkaian novel laris rekaan Risa Saraswati yang konon kabarnya merupakan novelisasi dari pengalaman nyata si penulis indigo ketika bersinggungan dengan alam seberang, Danur berkembang menjadi salah satu franchise tontonan horor paling menguntungkan dalam sejarah sinema tanah air. Dimulai dari jilid pertama yang berhasil membukukan 2,7 juta penonton, MD Pictures bersama Pichouse Films selaku rumah produksi kembali mencicipi kesuksesan melalui sekuelnya bertajuk Danur 2: Maddah (2018) yang mencetak 2,5 juta penonton serta film sempalannya, Asih (2018), yang masih sanggup menorehkan angka sebesar 1,7 juta penonton sekalipun tanpa sokongan si karakter inti yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Menilik pencapaian di tangga box office yang tergolong impresif dari seri ke seri, tentu tak mengherankan jika pihak rumah produksi lantas memberi lampu hijau secara seketika bagi penggarapan jilid ketiga yang tercatat sebagai babak pamungkas bagi seri induk dalam versi novelnya. Selepas mengulik pergulatan batin Risa kala mendapati dirinya mampu berkomunikasi dengan makhluk halus di film pembuka, lalu membahas soal upaya si protagonis dalam memperoleh penerimaan dari anggota keluarganya yang merasa terganggu di film kedua, saya yang tidak pernah mengikuti materi sumbernya pun bertanya-tanya. Apa yang akan diulas oleh Danur 3: Sunyaruri yang dipersiapkan menjadi seri penutup ini? Tak jauh berbeda dari sang predesesor, ternyata persoalan yang diajukan kali ini masih berkisar pada hubungan serba rumit yang terjalin diantara Risa dengan kawan-kawan gaibnya.
Mobile Edition
By Blogger Touch