February 21, 2021

REVIEW : TWO WEEKS TO LIVE (TV SERIES)


“My whole life is a lie.”

Saat pertama kali melihat trailer Two Weeks to Live, sulit untuk tak melontarkan komentar, “apakah ini interpretasi modern dari Game of Thrones? Maksud saya, ada Maisie Williams di sana.” Ya, pemeran utama miniseri asal Inggris berjumlah enam episode hasil kolaborasi antara Sky UK dan HBO Max ini adalah Williams yang dikenal berkat perannya sebagai Arya Stark di serial fenomenal tersebut. Menariknya, kesamaan antara dua serial ini tidak terhenti hanya sampai disitu saja. Karakter yang dimainkan oleh Williams, Kim Noakes, mempunyai perjalanan hidup yang sedikit banyak mengingatkan kita pada Arya. Seorang perempuan mungil yang bertransformasi menjadi remaja pemberontak dan pembunuh keji. Melalui Two Weeks to Live, Kim dikisahkan tinggal dalam kabin yang tersembunyi nun jauh di pedalaman kabin ini dikisahkan membawa misi rahasia untuk memburu pembunuh sang ayah. Selama menjauhi peradaban manusia, ibunya, Tina (diperankan dengan sangat apik oleh Sian Clifford), menggembleng putri semata wayangnya ini untuk menjadi perempuan berdikari yang dapat membela dirinya sendiri dalam kesempatan apapun. Dibalik tampilan luarnya yang tampak polos nan mungil, seriously, you don’t want to mess with Kim.

February 11, 2021

REVIEW : THE FIRST (TV SERIES)

Baru beberapa bulan lalu, hamba menjadi saksi kehebatan akting Sean Penn dalam The Professor and the Madman. Satu film kecil yang apik tapi sayangnya tak banyak dibicarakan. Lalu Mola TV mengakuisi serial berumur pendek produksi kolaborasi antara Hulu asal Amerika Serikat dan Channel 4 dari Inggris, The First, yang membuat saya harus kembali mengakui bahwa Pak Penn memang layak mengoleksi dua piala Oscar. Ya, dia lagi-lagi berlakon secara cemerlang di sini. Bahkan, The First sejatinya digerakkan oleh performa sang aktor yang karakternya ditempatkan dalam poros utama penceritaan. Ini adalah serial bertipe character driven dimana penonton menyaksikan proses tumbuh berkembangnya satu karakter dalam menghadapi suatu persoalan yang kompleks. Dalam kasus The First, persoalan tersebut berkenaan dengan duka, luka, serta kehilangan. Bukan topik yang mudah buat dikonsumsi ya? Itulah mengapa membutuhkan keselarasan dalam akting, pengarahan, sekaligus naskah agar tak terjerembab menjadi sajian grieving porn yang terlampau melelahkan buat disimak. Untungnya bagi serial kreasi Beau Willimon (otak dibalik terciptanya serial kece pemenang penghargaan House of Cards) ini, hal tersebut tak pernah benar-benar terjadi. Kita dapat memahami seraya menempatkan diri dalam posisi Tom Hagerty yang diperankan oleh Sean Penn.

January 1, 2021

REVIEW : ROMULUS (TV SERIES)

Jika kamu menyukai serial berlumurkan intrik, disadur dari cerita epos masa lampau, dan mempunyai production value mumpuni dalam merekonstruksi latar waktu, sajian asal Italia yang bertajuk Romulus ini sudah semestinya berada dalam daftar tontonanmu. Merentang sepanjang 10 episode, serial produksi Sky Italy yang dikomandoi oleh Matteo Rovere bersama dengan Michele Alhaique dan Enrico Maria Artale tersebut mencoba merekonstruksi sejarah dibalik berdirinya kota Roma. Alih-alih mengetengahkan pada legenda Romulus-Remus yang telah diakrabi oleh para penggandrung kisah-kisah mitologi, serial menghadirkan interpretasi anyar yang tak kalah menggigitnya dimana plot berkaitan dengan perebutan tahta kekuasaan, ikatan kekeluargaan, serta peristiwa-peristiwa supranatural membanjiri setiap episodenya. Romulus sendiri tak berlama-lama dalam memperkenalkan latar belakang penceritaan dengan seketika menaikkan intensitas di episode pembuka yang membawa penonton menuju Alba Longa. Melalui introduksi singkat di awal, kita mengetahui bahwa pada abad ke-8 sebelum Masehi, area ini tengah dilanda kekeringan berkepanjangan yang menyulitkan para penduduknya yang mencakup 30 suku untuk memperoleh sumber pangan memadai serta akses ke air bersih.

December 23, 2020

SPECIAL - MOLA LIVING LIVE

Ada satu original content di Mola TV yang menurut hamba sangat menarik untuk disimak dan menjadikannya sebagai pembeda dengan jasa penyedia layanan streaming lain, yakni Mola Living Live. Bukan berwujud film panjang maupun serial, konsep yang dikedepankan oleh acara ini adalah bincang-bincang. Narasumber yang didatangkan pun tidak main-main; figur publik kelas dunia, saudara-saudara, tersayang! Tengok saja deretan nama yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk diwawancara seperti Luc Besson (sutradara), Darren Aronofsky (sutradara), Spike Lee (sutradara), Sharon Stone (aktris), Mike Tyson (petinju), sampai Robert De Niro (aktor). Siapa coba yang tidak mengenal mereka? Lebih-lebih jika kamu menggemari film. Pencapaian yang mereka torehkan selama berkecimpung di industri film – bahkan Tyson sempat pula berkontribusi di bidang seni ini – tidaklah main-main. Sebagian diantaranya telah menggenggam Oscar sebagai penanda pencapaian tertinggi dari sisi kualitas, sementara sebagian yang lain tergolong akrab dengan kata “box office” sebagai penanda pencapaian tertinggi dari sisi kuantitas.

December 2, 2020

REVIEW : RIG 45 (TV SERIES)


“Someone is trying to hide something about the accident.”

Selalu menyenangkan saat kamu menemukan sebuah film atau serial yang sebelumnya berada di bawah radar banyak orang dan ternyata mempunyai kualitas di atas rata-rata. Hamba sudah jarang bereksperimen semacam ini – well, pandemi membuat saya lebih sering cari aman demi menjaga mood – sehingga saat memperoleh penugasan untuk mengulas serial asal Swedia bertajuk Rig 45, diri ini sempat was-was. Lebih-lebih, informasinya di dunia maya pun tak terlampau banyak. Bagaimana jika ternyata serial tersebut tak ciamik? Atau lebih parah lagi, bagaimana jika kemudian serial ini tak ubahnya dongeng pengantar tidur? Ya, saya memang dilanda overthinking selama beberapa saat yang untungnya tak pernah benar-benar terwujud. Sempat skeptis dengan kualitas yang ditawarkan oleh Rig 45, alangkah terkejutnya hamba kala mendapati betapa mengasyikkannya serial sepanjang 6 episode ini. Sebagai penggemar tontonan misteri, guliran pengisahan yang disodorkan oleh serial produksi Viaplay (televisi berbayar di Swedia) ini sedikit banyak mengingatkan saya kepada salah satu mahakarya Agatha Christie, And Then There Were None, dimana sepuluh orang asing diundang ke sebuah pulau oleh seorang misterius dan satu persatu dari mereka tewas dibunuh.

November 27, 2020

REVIEW - YOUNGER (TV SERIES)

“The problem with memories is they lock us in the past, and we both need to move forward. As much I want you in my life, I can’t right now. And I hope you understands why.”

Di masa pandemi yang tak henti-hentinya menguji kesehatan mental saban hari, menonton film atau serial ringan yang membuat hati riang gembira adalah jalan ninja hamba untuk menjaga kewarasan. Beberapa judul urung saya ulas lantaran satu dan lain hal yang mudah-mudahan lekas terselesaikan, tapi saya mencoba kembali menghadirkan review untuk Younger yang diri ini tonton di Mola TV. Satu judul serial yang sejatinya telah mengudara sejak tahun 2015 dan musim ketujuhnya kini tengah dipersiapkan. Diadaptasi dari novel bertajuk serupa rekaan Pamela Redmond Satran, Younger merupakan tontonan bergenre komedi yang benar-benar saya butuhkan saat ini. Tiap musimnya hanya terdiri dari 12 episode – dengan masing-masing episode berdurasi di kisaran 20 sampai 30 menit saja – sehingga memudahkan untuk ditonton secara marathon. Dan memang, hamba mampu menuntaskan musim pertamanya hanya dalam waktu sehari saja (!). Betapa tidak, serial ini memiliki segalanya untuk membuatmu jatuh hati seperti: 1) barisan karakter yang mudah untuk disukai, 2) jalinan pengisahan yang menarik sekaligus dekat dengan persoalan keseharian, dan 3) humor-humor yang efektif dalam mengocok perut. Mudahnya, apa lagi yang dibutuhkan dari serial ini? Dengan adanya dua faktor kunci, relatability and likeability, sudah cukup untuk bikin diri ini kesengsem sampai-sampai menobatkan Younger sebagai serial kesayangan saat ini.

Mobile Edition
By Blogger Touch