November 4, 2020

REVIEW - HUMANS (TV SERIES)

“You cannot fix humanity’s problems with technology.”

Pernah tidak membayangkan memiliki robot yang bisa mengerjakan semua hal? Maksud saya, robot yang bisa beberes rumah sampai kinclong, bisa bertindak selaiknya pelatih atau perawat profesional, sampai bisa memasak berbagai jenis makanan sehingga tak perlu repot-repot ke restoran. Terdengar menyenangkan, bukan? Praktis. Serial asal Inggris, Humans, yang dikreasi oleh Sam Vincent dan Jonathan Brackley berdasarkan serial dari Swedia bertajuk Real Humans ini menerapkan premis tersebut untuk diejawantahkan menjadi tontonan sepanjang tiga musim. Memberi kita gambaran seandainya robot mempunyai peranan lebih krusial dalam setiap lini kehidupan, ketimbang sebatas didayagunakan oleh korporasi-korporasi raksasa. Demi menjadikannya kian menarik, sang kreator pun tak mendeskripsikan robot-robot ini selaiknya mesin biasa atau menyerupai kaleng berwarna perak. Melainkan diperlihatkan seperti halnya manusia sampai-sampai kamu tak bisa membedakannya hanya dari pandangan secara sekilas. Bahkan, beberapa robot yang menjadi sentral penceritaan dalam Humans dikisahkan mempunyai emosi yang menjadikan batasan antara realita dan teknologi menjadi kian mengabur.

October 18, 2020

REVIEW : PELUKIS HANTU

“Kita bisa mengusahakan kebahagiaan di masa depan, selama kita jujur dan tulus memberikan kemampuan terbaik kita.”

Pelukis Hantu adalah film yang menyenangkan. Begitulah kesan pertama yang tergores selepas menontonnya. Sepintas lalu, tontonan yang mengombinasikan genre horor dan komedi ini memang terlihat seperti sajian seram kelas B yang dibuat untuk mengeruk keuntungan semata tanpa peduli kualitas – jejak rekam genre ini tak cihuy. Lebih-lebih, MD Pictures memutuskan untuk menerjunkannya secara langsung ke layanan penyedia streaming yang tentu memantik kecurigaan hamba: kenapa? Maklum, pengalaman menonton film Indonesia dalam satu bulan terakhir ini sungguh bikin kepala nyut-nyutan sehingga keragu-raguan pun melejit ke angkasa. Sungguh, saya telah berpasrah kepada Tuhan. Akan tetapi, Pelukis Hantu yang menandai untuk pertama kalinya Arie Kriting memulai debut penyutradaraannya, menunjukkan bahwa masihlah ada harapan terhadap produk yang dilempar ke OTT (over the top atau layanan streaming). Mengikuti jejak rekannya sesama komika, Bene Dion, yang tahun lalu menghasilkan Ghost Writer yang mengesankan, Bung Arie mencoba untuk menghadirkan sebuah sajian hiburan yang tak saja membuat penontonnya tergelak-gelak sekaligus terperanjat, tetapi juga mendapatkan sesuatu. Ya, dia turut memasukkan hati ke dalam penceritaan demi menguarkan sisi emosional dari penceritaan serta isu yang kompleks mengenai luka dan trauma. Sebuah langkah yang terhitung berani untuk karya perdana.

October 16, 2020

REVIEW : SEPERTI HUJAN YANG JATUH KE BUMI

“Melarikan diri dari rasa sakit hati itu, enggak akan membuat kita lebih baik. Sakit hati itu harus kita nikmati.”

Terlampau sering di dalam rumah selama pandemi Covid-19, membuat pikiran saya sering melantur kemana-mana. Pernah pada suatu hari yang tidak terlalu indah, saya mendadak punya keinginan amat random, “duh pengen deh nonton film percintaan remajanya Screenplay Films yang ajaib itu. Udah lama sekali rasanya.” Ternyata, dari sekian banyak doa yang pernah hamba rapalkan, doa ini termasuk yang dikabulkan secara cepat oleh Tuhan. Tiba-tiba saja rumah produksi ini, bekerjasama dengan IFI Sinema dan Netflix, meluncurkan Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi ke raksasa penyedia layanan streaming. Film romansa yang didasarkan pada novel laris bertajuk sama rekaan Boy Candra (karyanya yang lain, Malik dan Elsa, pun sudah diadaptasi) ini memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi sajian cinta-cintaan khas Screenplay. Di sini, kamu bisa mendapati: 1) jalinan penceritaan yang agak sulit dibayangkan akan terwujud dalam kehidupan nyata, 2) dialog berisi untaian kata-kata puitis yang diucapkan oleh para karakter dalam setiap hembusan nafas mereka, dan 3) production value yang tampak berkelas guna membedakannya dengan sajian-sajian serupa yang khusus ditayangkan di stasiun televisi. Terdengar menyiksa menarik, bukan? Tentu saja, seperti sudah hamba duga sebelumnya, film ini pun tak kalah ajaibnya sekalipun telah merekrut nama-nama seperti Lasja F Susatyo (Mika, Sebelum Pagi Terulang Kembali) sebagai sutradara, serta Upi (Teman Tapi Menikah, My Stupid Boss) dan Piu Syarif (Moammar Emka’s Jakarta Undercover) sebagai penulis skenario. 

October 14, 2020

REVIEW : BIDADARI MENCARI SAYAP

“Dalam rumah tangga itu ada nilai hormat. Nggak melulu cinta.”

Cinta terhalang perbedaan etnis dan keyakinan sejatinya sudah beberapa kali dijadikan topik pembicaraan dalam sejumlah film Indonesia. Ada yang disisipkan sebagai subplot belaka, tapi tak sedikit pula yang diajukan sebagai konflik utama. Judul-judul yang saya nilai berhasil mengulik isu sensitif ini antara lain Cin(T)a (2009), 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (2010), serta Cinta Tapi Beda (2012). Ketiganya memberikan gambaran mengenai peliknya memadu kasih di Indonesia kala dua belah pihak menganut agama yang berlainan. Salah satu dari mereka harus ada yang bersedia mengalah dengan melepaskan keyakinan apabila ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Apabila sama-sama kekeuh, maka tentu mustahil untuk merealisasikan sebuah rumah tangga terlebih dalam khasanah sinema dalam negeri. Keengganan sineas untuk menghadapi kecaman publik – yang selalu mengikuti tiap kali muncul film bertema toleransi dalam perbedaan – membuat film memilih jalan aman dalam konklusi: memenangkan agama alih-alih cinta. Kalaupun ada yang kemudian berpindah agama, jelas bukan dari kalangan mayoritas kecuali siap menerima konsekuensi. Bidadari Mencari Sayap produksi Citra Sinema bersama MD Pictures yang mencoba lebih “berani” dengan meletakkan fokusnya pada kehidupan rumah tangga ketimbang sebatas berpacaran seperti film sejenisnya, adalah contoh. Si karakter perempuan yang notabene non-Muslim (tidak disebutkan secara spesifik agamanya) dikisahkan menjadi mualaf untuk bisa menikahi kekasihnya yang berasal dari keluarga Muslim taat. 

October 12, 2020

REVIEW : WARKOP DKI REBORN 4

“Lagian mana ada sih orang kaya mukanya kek bemo.”

Saat para karakter inti dalam Warkop DKI Reborn 3 kembali muncul di end credit untuk mendendangkan “ahaaa… filmnya dibagi dua, filmnya dibagi dua,” saya sama sekali tidak terkejut. Maklum, bukan pertama kalinya mendapat prank semacam ini dari film Indonesia. Pun begitu, bukan berarti hamba tidak ingin mengelus dada kala momen musikal tersebut muncul. Andai saja film yang baru ditonton sanggup menghadirkan pengalaman penuh kesenangan di sepanjang durasinya, hadirnya bagian kedua tentu akan disambut dengan penuh suka cita – saya pribadi termasuk golongan yang tidak keberatan dengan keberadaan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2. Tapi berhubung babak pertamanya lebih sering membuat saya menertawakan keputusan diri sendiri untuk menonton film tersebut ketimbang menertawakan humor-humornya, ada kebingungan melanda. Ada pertanyaan berkecamuk yang dimulai dengan, “mengapa sih harus dibagi dua? Apa urgensinya?.” Seolah pihak Falcon Pictures sangat percaya diri instalmen reborn terbaru ini akan disambut antusias oleh publik. Kenyataannya, hanya sekitar 800 ribu penonton yang bersedia berbondong-bondong mendatangi bioskop sehingga memaksa rumah produksi untuk mengganti strategi. Alih-alih mengedarkannya di bioskop, mereka memilih untuk langsung menerjunkan Warkop DKI Reborn 4 ke penyedia layanan streaming film dengan harapan bisa sekalian menghibur masyarakat semasa pandemi di rumah. Walau kalau boleh berkata jujur, kata “menghibur” untuk mendeskripsikan film ini terasa terlalu murah hati.

October 9, 2020

REVIEW : RENTANG KISAH

“Tuhan menciptakan dunia amat besar. Lalu masa kamu mau diem di rumah aja?”

Gita Savitri Devi adalah salah satu vlogger dan influencer berpengaruh di Indonesia. Kontennya berkisar pada serba-serbi pengalamannya sebagai WNI yang merantau ke negeri orang dan opini-opini kritisnya terhadap beragam isu sosial politik. Dalam menjalankan kanal YouTube miliknya, Gita pun tidak berjibaku sendirian. Dia didampingi oleh teman baiknya yang belakangan menjadi suaminya, Paul Andre Partohap. Kegemaran keduanya terhadap musik mendorong pasangan ini untuk sesekali memanjakan telinga para penggemar dengan lantunan tembang-tembang manis. Mereka ingin sebisa mungkin konten di kanal ini tak saja edukatif dan informatif, tetapi juga menyenangkan. Tak mengherankan jika kemudian Jeung Gita diikuti oleh lebih dari 900 ribu penggemar. Sebuah angka yang terhitung masif terlebih si empunya channel bukan berasal dari kalangan selebriti. Menilik perjalanan sekaligus pencapaian Gita yang impresif tersebut, rumah produksi Falcon Pictures pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Buku perdana karya sang vlogger yang laris dibaca oleh publik, Rentang Kisah, dipinang untuk diadaptasi ke dalam film panjang. Danial Rifki yang sebelumnya menggarap Haji Backpacker (2014) dan 99 Nama Cinta (2019), ditunjuk mengomandoi tontonan inspiratif yang menyoroti perjuangan berikut tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Gita saat sedang menimba ilmu di Jerman ini.

Mobile Edition
By Blogger Touch