January 18, 2020

REVIEW : DOLITTLE


“It’s okay to be scared.”

Saat memperbincangkan ihwal dokter bernama Dolittle yang memiliki kapabilitas berbincang dengan hewan, ingatan sebagian besar dari kita mungkin langsung melayang ke film komedi bertajuk Dr. Dolittle (1998) yang dibintangi oleh Eddie Murphy. Maklum, selain cukup sering wara-wiri di televisi, film yang berlanjut sampai seri ketiga ini pun mempunyai kandungan hiburan mencukupi untuk ditonton beramai-ramai bersama keluarga. Tapi jika berkenan buat menelusuri sejarahnya lebih lanjut, dongeng Pak Dolittle ini sejatinya telah mencuat sedari tahun 1920-an berkat serangkaian buku kanak-kanak yang dicetuskan oleh Hugh Lofting. Popularitasnya yang melintasi zaman, membuat dongeng tersebut kerap menjadi incaran para pelaku di industri hiburan sehingga tak mengherankan versi adaptasinya dalam beragam format pun terus dibuat. Upaya terbaru untuk melestarikan cerita ini seraya memperkenalkannya kepada generasi penerus masa kini (…dan tentunya memanfaatkannya guna meraup keuntungan sebesar-besarnya) berasal dari Universal Pictures dengan titel Dolittle. Berbeda dengan interpretasi di tahun 1998 yang cenderung lebih bebas lepas, film berjudul awal The Voyage of Doctor Dolittle ini mencoba untuk lebih patuh kepada materi sumbernya dengan tak saja menghadirkan karakter-karakter yang sudah dikenal baik oleh para pembaca bukunya, tetapi juga melempar penonton jauh ke Era Victoria alih-alih memodifikasinya menggunakan latar pengisahan modern.

January 15, 2020

25 FILM TERBAIK 2019 VERSI CINETARIZ


Bisa melewati tahun 2019 dengan selamat adalah sebuah pencapaian hidup yang semestinya saya rayakan. Kamu mungkin menganggapnya berlebihan, tapi 2019 bakal selamanya saya kenang sebagai tahun terberat. Beragam persoalan menghujam secara bertubi-tubi seolah tanpa akhir yang lantas mendorong diri ini ke jurang depresi dan pada akhirnya secara resmi divonis mengidap Generalized Anxiety Disorder oleh psikiater. Sebuah bentuk “gangguan” yang senantiasa menempatkan saya dalam kecemasan berlebih dengan atau tanpa penyebab yang jelas. Menyenangkan sekali, bukan? Itulah mengapa, senarai “25 film terbaik 2019 versi Cinetariz” ini akan bersifat jauh lebih personal ketimbang sebelumnya. Bukan semata-mata unggul secara kualitas, bukan pula semata-mata akan saya rekomendasikan ke kalian dengan senang hati, tetapi juga mempunyai kedekatan representasi. Jadi jangan mengeluh berpanjang-panjang apabila kalian menjumpai judul-judul yang terkesan “acak” karena satu alasan jelas: senarai ini bersifat sangat subyektif. Semakin tinggi ranking suatu film, maka semakin tinggi pula level dekat di hati dan kemungkinan untuk ditonton berulang-ulang pun semakin besar.

January 7, 2020

REVIEW : NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI


“Gimana caranya bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya kayak apa?”

(Ada sekelumit bahasan mengenai menit-menit puncak di paragraf akhir. Bagi beberapa orang mungkin dianggap spoiler, meski saya tidak menjabarkan secara spesifik.)

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah sebuah fenomena di khasanah perbukuan tanah air. Betapa tidak, saat pertama kali diterbitkan pada bulan Oktober 2018 silam, buku rekaan Marchella FP tersebut mampu terjual lebih dari 5 ribu eksemplar hanya dalam kurun waktu sehari. Itupun sebatas mencakup Pulau Jawa dan belum pula ditambahkan dengan penjualan melalui pre-order yang tak kalah dahsyatnya. Hingga ulasan ini diturunkan, buku berisi kutipan kalimat-kalimat perenungan hidup ini sudah mencapai cetakan ke-12 dan masih banyak diburu oleh khalayak ramai. Mengagumkan, bukan? Menilik respon yang sedemikian antusias dari masyarakat, tentu tak mengherankan jika kemudian Visinema Pictures meminang Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini untuk diekranisasi ke layar lebar. Seperti halnya Imperfect (2018) maupun Aku, Kau, dan KUA (2014) yang juga disadur dari buku non-fiksi tanpa ada narasi di dalamnya, Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara beserta Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief yang membantu Angga dalam memoles skenario pun sejatinya mengkreasi satu jalinan pengisahan baru. Yang menjadi landasan mereka ada dua: 1) karakter bernama Awan yang dalam materi sumber merupakan “tokoh kunci” yang dikisahkan mengirim surat berisi wejangan-wejangan untuk anaknya di masa depan, dan 2) jalinan pengisahannya adalah elaborasi dari kalimat-kalimat bernada kontemplatif di bukunya yang secara garis besar memperbincangkan tentang keluarga, kebahagiaan dan kehidupan. Sebuah materi yang mesti diakui menggugah selera lantaran terasa begitu membumi, begitu dekat, dan begitu personal bagi banyak orang.

January 3, 2020

REVIEW : THE GRUDGE (2020)


“I went to the house. I think something followed me home.”

“Astaghfirullah” adalah reaksi pertama yang saya lontarkan selepas menyaksikan interpretasi baru dari The Grudge pada malam tahun baru kemarin. Sebuah reaksi yang umumnya muncul seusai hamba menonton sebuah film yang membuat stok kesabaran menipis. Bayangkan, ketimbang bersuka cita bersama kawan-kawan dekat, menyantap makanan lezat, atau melihat para musisi mempertontonkan kecintaannya pada musik di atas panggung, saya justru menghabiskan 90 menit untuk duduk di dalam bioskop guna menyimak sebuah tontonan yang sama sekali tidak mempunyai suka cita di dalamnya. Yang ada hanyalah penderitaan, penderitaan, dan kebosanan. Hingga pada satu titik, saya meyakini bahwa penderitaan yang dialami oleh para karakter dalam film ini tak sebanding dibanding penderitaan yang harus dilewati penonton yang telah memutuskan untuk memilih The Grudge sebagai film penutup di tahun 2019 (atau film pembuka 2020). Entah apa yang telah merasuki saya sampai-sampai nekat menebus satu tiket tontonan memedi ini sekalipun masih dibuat trauma oleh Rings (2017) yang tak kalah amsyongnya. Usai mengolesi kepala menggunakan satu botol minyak angin beraroma terapi lalu melahap sepiring steak sebagai comfort food, saya pun bisa kembali berpikir jernih untuk berkata ternyata ada dua alasan utama yang melatarinya: 1) kecintaan pada franchise Ju-On (atau The Grudge untuk remake) yang mempunyai satu karakter demit sensasional bernama Kayako, dan 2) jejak rekam sang sutradara, Nicolas Pesce (The Eyes of My Mother), yang cukup meyakinkan. Ditambah lagi adanya fakta bahwa Sam Raimi turut bertindak sebagai produser, saya tentu optimis The Grudge versi anyar ini akan lebih mendingan ketimbang dua jilid pendahulunya yang ternyata oh ternyata terbukti salah kaprah. Duh, duh, duh…

December 30, 2019

16 FILM INDONESIA TERBAIK 2019 VERSI CINETARIZ



Para pengunjung Cinetariz yang setia, bagaimana pengalaman kalian dalam menonton film Indonesia di satu tahun terakhir ini? Memuaskan, menyenangkan, biasa-biasa saja, atau justru kurang mengenakkan? Kalau bagi saya pribadi sih, 2019 adalah tahun yang menyenangkan bagi sinema tanah air. Disamping keberagaman temanya mulai terasa seiring dengan semakin beraninya para sineas untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan baru, saya juga menjumpai beberapa film yang membuat diri ini rela untuk menyaksikannya lebih dari satu kali. Entah saat masih berada di layar lebar maupun ketika sudah nangkring cantik di platform streaming legal yang keberadaannya semakin menjamur. Apa saja judul-judul itu? Well, apabila kamu mengikuti saya di akun media sosial, tentu sudah mengetahui apa saja film yang saya maksud. Hihihi.

December 27, 2019

REVIEW : SI MANIS JEMBATAN ANCOL (2019)

 

“Kenapa perempuan harus menjadi hantu terlebih dahulu baru ditakuti?”

Bagi generasi masa kini, Si Manis Jembatan Ancol mungkin terdengar asing di telinga. Tapi bagi generasi yang lebih tuwek, nama ini identik dengan tiga hal. Pertama, legenda urban asal Betawi. Kedua, judul film layar lebar keluaran tahun 1973 yang dibintangi oleh Lenny Marlina. Dan ketiga, sinetron bergenre horor komedi di era 90-an yang membawa dua pemain intinya, Diah Permatasari dan Ozy Syahputra, merengkuh popularitas. Saking populernya (bahkan Presiden Soeharto pun menggilainya!), versi layar lebarnya pun digarap yang menandai untuk kedua kalinya meneror penonton di bioskop. Mantap kan, adek-adek? Nah setelah dibiarkan “beristirahat dengan tenang” di alamnya selama kurang lebih dua dekade, sesosok memedi bernama Maryam yang kerap terlihat bergentanyangan di Jembatan Ancol ini coba dibangkitkan kembali oleh Anggy Umbara (Suzzanna Bernapas dalam Kubur, Satu Suro) guna diperkenalkan kepada generasi Z, sekaligus mengikuti tren remake film horor klasik tanah air yang akhir-akhir ini tengah merebak. Masih mengandalkan judul Si Manis Jembatan Ancol, jajaran pemain yang dilibatkan tentu mengalami perombakan signifikan sebagai bentuk penyesuaian. Satu-satunya pelakon yang kembali direkrut dalam versi termutakhir adalah Ozy Syahputra yang sekali ini tidak melakonkan hantu gundul nan kenes bernama Karina, melainkan menjadi salah satu villain yang bertanggungjawab atas lahirnya arwah penasaran yang dilingkupi dendam kesumat berjulukan Si Manis.
Mobile Edition
By Blogger Touch