September 24, 2020

REVIEW : TIMMY FAILURE MISTAKES WERE MADE

“If you love what you do, you gotta fight for it.”

Diangkat dari buku kanak-kanak rekaan Stephan Pastis, Timmy Failure: Mistakes Were Made menyoroti tingkah polah seorang bocah berusia 11 tahun, Timmy Failure (Winslow Fegley), yang mempunyai imajinasi tanpa batas. Tinggal bersama sang ibu, Patty (Ophelia Lovibond), di pinggiran kota Portland, Timmy yang menjalankan agensi detektif swasta bernama Total Failure Inc. ini menganggap dirinya sebagai detektif kelas wahid. Rekannya pun tidak tanggung-tanggung, seekor beruang kutub bernama Total yang konon terdampar di kampung halamannya selepas es di Kutub Utara mulai mencair akibat pemanasan global. Timmy yang berulang kali menekankan “enggan bekerjasama dengan penegak hukum” sejatinya hanya mengambil kasus-kasus remeh seperti tas teman sekolahnya yang menghilang. Itupun bukan berdasar keinginan tulus sang klien, melainkan setelah si tokoh utama terus mendesaknya. Harapan Timmy untuk mendapatkan kasus yang benar-benar serius lantas muncul ketika segway milik Patty yang dikendarainya kemana-mana mendadak raib. Mengingat benda tersebut adalah satu-satunya barang yang dinilai berharga oleh sang ibu, maka tentu saja duo Timmy-Total harus bekerja keras untuk menemukannya. Dalam penelusuran, keduanya mencurigai keterlibatan mafia Rusia yang selama ini mengawasi setiap gerakan yang dilakukan oleh Timmy. Bahkan, ini mungkin ada kaitannya dengan teman sekelasnya yang dijuluki “The Nameless One”.

September 18, 2020

25 FILM HOROR PALING MENYERAMKAN DALAM 10 TAHUN TERAKHIR VERSI CINETARIZ

Saat berniat mengerjakan senarai “25 Film Horor Paling Menyeramkan Dalam 10 Tahun Terakhir”, saya sempat skeptis. Menurut daya ingat hamba yang pendek, tak banyak sajian seram yang membekas di hati. Tapi usai mencoba mengompilasinya dan memanfaatkan ingatan secara maksimal, ternyata oh ternyata… bergelimangan, euy. Pilihannya pun beragam, dari blockbuster, indie, sampai arthouse, dimana rata-rata memperoleh resepsi memuaskan baik dari penonton maupun kritikus. Total jendral, ada lebih dari 50 judul yang berhasil saya kantongi dan putuskan untuk diseleksi kembali menjadi 25 besar. Syarat beserta ketentuannya pun tidak neko-neko – plus sangat subjektif – yakni seberapa kuat film-film tersebut membuat saya terhibur, terngiang-ngiang di benak sampai beberapa hari ke depan, serta tentu saja, bergidik ngeri. Oh, plus dirilis pada tahun 2010-2019.

Berhubung selalu ada perasaan “dibuang sayang”, maka senarai ini pun dimulai dengan…  

Honorable Mentions

# Crawl


Terjebak di dalam rumah saat banjir besar saja sudah ngeri, apalagi ditambah ditemani buaya.

# Gonjiam Haunted Asylum

Uji nyali di bekas rumah sakit yang dikenal angker itu namanya cari penyakit.

# Housebound

Ada yang lebih mengerikan dibanding gangguan gaib, orang tua yang ceriwis dan suka ikut campur.

# Last Shift

Jaga malam sendirian di kantor polisi jelas bukan tugas yang diinginkan oleh siapapun.

# Lights Out

Jangan pernah matikan lampu karena kamu tidak pernah tahu apa yang bersembunyi di balik kegelapan.

# Midsommar

Perjalanan spiritual seorang perempuan dalam mengenyahkan duka ternyata bisa sangat berbahaya.

# Pee Mak

Saat horor dan komedi bisa melebur dengan mulus, hasilnya adalah tontonan yang pecah.

# Ready Or Not

Jangan pernah anggap remeh permainan petak umpet apalagi saat melibatkan senjata berbahaya.

# Us

Bagaimana jadinya kalau ternyata punya “kembaran” yang amat sangat jahat?

# You're Next

Reuni keluarga yang canggung berubah menjadi medan pertempuran penuh pertumpahan darah hanya dalam seketika.

Lalu, inilah saatnya berlanjut ke para penghuni 25 besar…

#25 As Above So Below

Siapa menyangka di bawah gemerlap kota Paris tersembunyi sebuah “dunia” misterius yang dipenuhi jebakan dan ilusi mengerikan? As Above So Below adalah bukti bahwa konsep found footage masih belum kehilangan pesonanya terlebih saat dipadukan dengan materi mumpuni, sekaligus bukti bahwa kamu masih akan mendapati pengalaman menonton yang mendebarkan dari konsep ini.    

#24 We Are Still Here

Pada mulanya, We Are Still Here tampak seperti tontonan seram bertemakan haunted house biasa. Satu pasangan yang baru saja kehilangan anak mereka, pindah ke sebuah rumah tua reyot dan seketika mendapati hal-hal gaib mulai terjadi. Teror hantu-hantuan di paruh awal memang cukup membuat bulu kuduk berdiri, tapi keistimewaan film ini terletak pada babak pamungkasnya yang menggila.

#23 Sinister

Sejatinya, Sinister adalah horor klasik yang bermain-main di ranah rumah berhantu dengan trik penampakan usang. Yang kemudian menjadikannya sebagai tontonan pemberi mimpi buruk adalah atmosfernya yang benar-benar mengusik sedari menit pembuka. Saya masih belum bisa melupakan isi video rumahan yang menampilkan beberapa keluarga kala hendak dieksekusi. Bikin merinding.    

#22 The Invitation

Diundang ke rumah mantan istri dimana peristiwa traumatis pernah terjadi saja jelas tidak terdengar menyenangkan. Betul saja, si protagonis utama mulai mengendus adanya motif terselubung yang menjadikan setiap menit film ini menjadi semakin misterius, mencengkram, serta mencekam. Penonton dibuat bertanya-tanya, apakah kekhawatiran si protagonis ini masuk akal atau sebatas produk trauma?

#21 Terrified

Di pinggiran kota Buenos Aires, rentetan kejadian gaib menghinggapi beberapa rumah dan menciptakan kengerian yang menambat atensi sejak awal. Trik menakut-nakutinya dibangun secara efektif, terlebih saat melibatkan sesosok mayat yang duduk manis di meja makan. Bukan saja meninggalkan bayangan yang sulit dilupakan, tetapi juga rasa was-was lantaran kita tidak tahu apa yang mungkin diperbuatnya.

#20 Sebelum Iblis Menjemput

Timo Tjahjanto kembali dengan ciri khasnya melalui Sebelum Iblis Menjemput yang level kebrutalannya terbilang tinggi. Tanpa ampun, dia terus menerus menghajar penonton dengan teror sedari mula sampai penghujung durasi yang menjadikan kegiatan “menghembuskan nafas lega” mustahil untuk dilakukan. Lagipula, kapan lagi kita bisa melihat Pevita Pearce yang dikenal kalem berubah jadi zombie ganas?  

#19 Green Room

Green Room menghantarkan kita menuju sebuah bar di desa terpencil yang dipunyai kelompok militan neo-nazi. Belum apa-apa, sudah terdengar seperti sebuah tempat yang seharusnya dihindari. Saat satu band diundang tampil di sana dan mereka menjadi saksi pembunuhan, sisa durasi diisi permainan kucing-kucingan yang membuat diri ini pengap karena intensitasnya sanggup terjaga stabil.

#18 Hush

Hush memanfaatkan set dengan ruang gerak terbatas dan karakter inti yang hanya dua orang secara maksimal. Hasilnya, ketegangan tak berkesudahan yang membuat hamba kesulitan untuk memalingkan muka dari layar barang sejenak. Kita bersimpati pada sang target pembunuhan – seorang perempuan tuli yang hidup sendirian di tengah hutan – dan kita berharap dirinya dapat menaklukkan si pembunuh gila yang menyebalkan.

#17 Let Me In

Tidak banyak remake yang memiliki kualitas setara dengan materi sumbernya. Let Me In yang disadur dari film Swedia bertajuk Let the Right One In adalah salah satu yang nggak malu-maluin. Sajian horor yang mengedepankan narasi mengenai persahabatan manusia dengan vampir ini bukan hanya tampak cantik secara presentasi visual, tapi juga mempunyai sederet momen meneror yang memunculkan sensasi bergidik. Jangan-jangan, salah satu sahabatmu ternyata makhluk penghisap darah. Hiii…

#16 Munafik

Saat pertama menonton Munafik, hamba sama sekali tidak menyangka akan dibuat meringkuk. Disamping jump scares yang ditempatkan secara efektif, narasinya yang terasa dekat adalah alasan lain mengapa film ini bisa sedemikian mencekam. Tentang bagaimana orang-orang saleh menjauhi Tuhan dengan caranya masing-masing, dan tentang cara sang sutradara memvisualisasikan adegan kesurupan dimana iblis kebal terhadap lantunan ayat-ayat suci.

#15 The Autopsy of Jane Doe

Sesosok mayat tanpa identitas ditemukan dan penonton dibawa memasuki ruang otopsi yang berada di bawah tanah. Nuansa klaustrofobiknya terasa mencekat sementara kehadiran si mayat jelas sama sekali tidak membantu. The Autopsy of Jane Doe telah membuat penontonnya was-was hanya dari suasana, lalu si pembuat film menambahkannya dengan unsur supranatural yang menjadikan menit demi menitnya kian mencekam.  

#14 The Cabin in the Woods

Duo Drew Goddard dan Joss Whedon berhasil menampilkan teror klasik yang mencekam dengan balutan dialog berselera humor tinggi, sindiran-sindiran atas ramuan klise film horor, dan narasi yang tak mudah ditebak kemana akan bermuara di sini. 20 menit terakhir The Cabin in the Woods membuktikan betapa cerdasnya sang sutradara dalam membingkai sebuah kado istimewa untuk para penikmat tontonan seram.    

#13 The Babadook

Idenya menarik, mengenai memedi yang mencuat dari buku kanak-kanak dan meneror bocah yang membacanya. Desain si monster pun bikin bergidik ngeri dengan giginya yang runcing dan jari-jari tangannya yang panjang. Namun sumber kengerian utama The Babadook bukan berasal dari si monster, melainkan dari tokoh ibu yang belum bisa menerima kehilangan. Lukanya secara perlahan tapi pasti mendorong dia bertransformasi menjadi sosok beringas yang tak lagi dikenal oleh sang anak.

#12 Get Out

Mengunjungi rumah calon mertua boleh jadi memberi pengalaman menegangkan bagi beberapa orang. Oleh Jordan Peele, pengalaman ini dielaborasinya menjadi sajian horor menggigit dengan sentuhan komedi dan kritik sosial dimana istilah “too good to be true” berlaku. Melalui kacamata si tokoh utama, kita bisa merasakan adanya kejanggalan dari sikap pelayan, tamu, sampai si pemilik rumah yang tampak terlalu kaku maupun terlalu sempurna. Rasanya diri ini ingin teriak kepadanya, “cepat keluar dari sana!” 

#11 It: Chapter One

Jika saya adalah Stephen King, saya akan bangga sekali terhadap interpretasi termutakhir dari It ini. Bukan saja cakap dalam menggambarkan ikatan persahabatan para karakternya, It: Chapter One pun luwes dalam menggeber momen-momen menyeramkan yang menciutkan nyali. Sensasi yang diberikannya seperti tengah menjelajahi wahana rumah hantu; seru, menegangkan, sekaligus menyeramkan. Kita bisa berteriak-teriak, lalu ketawa-ketawa setelahnya. Plus, Pennywise bangke sekali di sini!

#10 A Quiet Place

Hidup tanpa boleh bersuara saja sudah menyiksa, apalagi ditambah adanya monster yang selalu siap siaga untuk menerkam setiap kali kamu bersuara. Bisa dibayangkan dong seperti apa tekanannya? Premis high concept ini berhasil diejawantahkan oleh John Krasinski melalui karya perdananya yang amat mencekam. Saking mencekamnya, A Quiet Place memungkinkan bagi penonton untuk ikut merasakan bagaimana sumpeknya hidup para keluarga di film ini termasuk merasakan sakitnya tertusuk paku yang merupakan salah satu villain terbaik dalam khasanah tontonan horor.  

#9 Doctor Sleep

Meski Doctor Sleep memiliki muatan laga cukup kental bak tontonan superhero dengan tampilan visual cukup imajinatif nan membangkitkan selera, film tetaplah menghembuskan kengerian yang bersumber dari nada pengisahan yang suram, tindakan sang villain dalam menyedot “uap” dari para pemilik kekuatan khusus yang didahului dengan siksaan keji, sampai referensi ke film pertama (The Shining) yang acapkali menyeramkan. Bagaimanapun juga, apapun yang melibatkan Hotel Overlook tidak akan pernah bisa menggoreskan imaji yang indah.    

#8 Pengabdi Setan

Jawaban dari tanya, “apakah Pengabdi Setan versi Joko Anwar ini lebih mencekam dibanding pendahulunya?,” memang akan sangat relatif. Namun bagi hamba secara pribadi, Pengabdi Setan versi anyar ini sanggup menimbulkan mimpi buruk. Salah satu film horor Indonesia paling menyeramkan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam perjalanan mengarungi wahana rumah berhantu ini, saya beberapa kali dibuat terperanjat seperti pada adegan lempar selimut, mendengarkan drama radio, pipis di tengah malam, sampai tiap kali terdengar suara gemerincing lonceng Ibu.

#7 Don’t Breathe

Don’t Breathe mempunyai setumpuk adegan yang memungkinkanmu berkeringat dingin, mengeluarkan sumpah serapah, dan kesulitan menghembuskan nafas lega lantaran daya cekamnya yang tidak main-main. Tanpa perlu diberi peringatan untuk “jangan bernafas”, hamba sudah terlebih dahulu menahan nafas karena bagaimana mau bisa bernafas lha wong film ini sedemikian mencekamnya. Saya hanya ingin tiga berandalan di sini bisa terbebas dari cengkraman si pria buta yang rupa-rupanya jauh lebih berbahaya dari yang diperkirakan.

#6 The Wailing

Bagaimana seandainya seorang misterius tiba-tiba datang ke desamu dan sejurus kemudian, wabah sulit terjelaskan melanda seantero desa? Pertanyaan berbau pengandaian tersebut jelas mengerikan saat betul terjadi, bahkan ketika sebatas kisah fiktif dalam The Wailing pun telah sanggup memberikan efek ngeri. Pemicunya adalah permainan atmosfer yang memicu kegelisahan, jalinan pengisahan sarat misteri yang memantik diskusi, serta faktor kedekatan. Tidak bisa disangkal, aktivitas berbau klenik mudah dijumpai di sekitar kita.

#5 Train to Busan

Kita bisa berteriak-teriak, “ayo lekas lari, lekas,” saat gerombolan zombie bersiap memangsa para karakter dalam Train to Busan. Kita ikut diliputi amarah membara tatkala salah seorang karakter egois bersama gerombolan hasutannya mengisolasi karakter-karakter yang tak sejalan pemikiran dengan mereka. Lalu, kita pun merasakan ketidakrelaan teramat sangat ketika satu persatu tokoh baik mulai terinfeksi. Kemampuan untuk melibatkan emosi secara penuh inilah yang membuat atensi penonton sanggup terpancang di sepanjang durasi yang berlangsung amat menegangkan. 

#4 Hereditary

Nada pengisahan yang depresif disertai imaji-imaji yang mengganggu (halo, kepala buntung!) adalah jalan yang ditempuh oleh Hereditary untuk menggoreskan trauma kepada penonton. Coba bayangkan kamu dibawa memasuki rumah minim penerangan, lalu dipertemukan dengan satu keluarga disfungsional yang tingkah polahnya senantiasa membuat gelisah, dan kita diperangkap di sana. Tentu, ini definisi sesungguhnya dari mimpi buruk apalagi jika kemudian kamu melihat ada yang terbakar dan merayap di dinding.

#3 Under the Shadow

Seringkali, saat kita bisa merasakan ada sesuatu yang salah tapi kita tidak dapat melihatnya, itu terasa lebih meneror lantaran ketidaktahuan mengenai apa yang sejatinya sedang dihadapi. Under the Shadow mempermainkan ketakutan dan imajinasi penonton dengan cara tersebut dimana keganjilan-keganjilan kerap dijumpai tanpa sumber yang pasti. Benarkah ada makhlus halus yang mengganggu si pemilik rumah? Kalaupun tak ada, film memiliki sumber teror lain yang ancamannya lebih nyata yakni bermukim di tengah zona perang dan pemerintah yang opresif.  

#2 The Conjuring / The Conjuring 2

Sulit untuk memilih salah satu karena dwilogi The Conjuring mempunyai kualitas setara dalam hal bercerita maupun menakut-nakuti. Saat diri ini mengira momen hide and clap dari jilid awal telah menetapkan standar tinggi dalam perkara meneror, babak kedua mempersembahkan sosok biarawati ikonik dan “menggubah ulang” satu dua tembang klasik menjadi lagu pengundang memedi. Alhasil, terlonjak, berteriak diikuti tawa gemas guna melepas cemas, sampai meringkuk manis di balik jaket atau bantal adalah reaksi yang sangat mungkin kamu alami kala menyaksikan dwilogi ini.  

#1 Insidious

Hal terbaik dari Insidious adalah saya tidak pernah memprediksi film garapan James Wan ini akan membuat hamba lemas tanpa daya di dalam bioskop. Terornya gila tidak main-main, Bung! Di kala kepercayaan terhadap sajian horor dari Negeri Paman Sam telah merosot drastis, film ini mengembalikannya dengan mempersembahkan tontonan seram yang memakai formula klasik: rumah berhantu. Kepiawaian sang sutradara dalam mengatur waktu dan trik penampakan adalah alasan utama mengapa setiap jump scares yang kamu jumpai di sini terasa tepat guna. Tak ada yang mubazir, semuanya efektif dalam merontokkan bulu kuduk apalagi ditambah sokongan iringan musik biadab dari Joseph Bishara. Perlu diingat, film inilah yang menciptakan tren berwisata ke dunia astral dalam banyak tontonan horor setelahnya.

Apakah kamu mempunyai film favorit yang tidak tercantum dalam daftar di atas? Mari dibagi lewat komen.

September 16, 2020

REVIEW : THE MYSTERY OF THE DRAGON SEAL


“I’ve been waiting for this for a long time.”

Saat hamba mengira tahun 2020 ini mustahil untuk semakin aneh dan random, tiba-tiba diri ini menyaksikan sebuah film berjudul The Mystery of the Dragon Seal yang mengedepankan Jackie Chan dan Arnold Schwarzenegger sebagai jualan utamanya. Sebuah film produksi kolaborasi antara Rusia dan Cina (di dua negara tersebut, film ini telah dirilis pada tahun lalu) yang membuat saya berulang kali mengucap “what the hell” di sepanjang durasi. Apakah ini pertanda buruk? Well, tergantung perspektif. Jika kamu mendamba tontonan dengan plot koheren yang di dalamnya mengandung isu-isu relevan untuk diperbincangkan, maka sudah barang tentu film arahan Oleg Stepchenko ini tidak semestinya ditaruh dalam daftar tontonan. Tapi jika kamu, seperti saya, sedang membutuhkan sajian hiburan ringan untuk sejenak mendistraksi dari cobaan hidup yang menguji kewarasan, The Mystery of the Dragon Seal jelas memenuhi persyaratan. Merentang cukup panjang hingga mencapai 2 jam, kamu akan disuguhi satu tontonan bergenre action-adventure-fantasy yang tingkat random dan absurd-nya tidak ada obat sampai-sampai akan membuat para penonton kritis bungkam seribu bahasa karena memang, film ini berceloteh sesuka hati dan memang diniatkan demikian sedari awal.

August 15, 2020

REVIEW : WAITING FOR THE BARBARIANS


“Pain is truth, that is how you get it.”

Waiting for the Barbarians memiliki sederet amunisi yang memungkinkannya untuk menjelma sebagai sajian mengikat berkualitas tinggi: materi sumbernya adalah novel pemenang penghargaan, sang penulis novel diganjar penghargaan Nobel di tahun 2003 untuk kategori sastra, sutradara yang menangani adaptasinya telah menghantarkan film sebelumnya untuk berkompetisi di Oscar, dan jajaran pemainnya pun memiliki ikatan kuat dengan piala pria telanjang berlapis emas tersebut. Mudahnya, apa yang mungkin salah? Terlebih lagi, topik pembicaraan yang diajukan oleh Waiting for the Barbarians juga terasa relevan dan universal untuk berbagai zaman maupun kebudayaan lantaran mempergunjingkan soal tabiat asli manusia dalam menyikapi persoalan. Melalui film – serta tentunya versi novel yang ditulis oleh J. M. Coetzee dari Afrika Selatan – persoalan tersebut diwujudkan sebagai peperangan. Bukan peperangan yang dipantik oleh gesekan-gesekan atau pertentangan ideologi, melainkan miskomunikasi antar budaya dimana salah satu pihak memandang pihak lain sebagai musuh lantaran ketidaktahuan terhadap kultur yang dianut. Mereka dianggap memiliki pandangan berbeda yang salah, dan mereka terlihat mengancam sistem beserta kepercayaan yang diyakini. Oleh karena itu, tidak ada langkah paling tepat untuk “melindungi” diri ketimbang memerangi pihak musuh lalu memberangus habis mereka. Terdengar familiar, bukan?

July 2, 2020

REVIEW : LITTLE FIRES EVERYWHERE (MINISERIES)


“All mother’s struggle, money hides it. But you can’t put a price on a mother’s love.”

Seorang perempuan berdiri terpaku di pinggir jalan, menyaksikan rumah gedongannya habis dilalap si jago merah. Saking terguncangnya, dia tidak bisa lagi meluapkan segala emosinya dan hanya bisa terdiam dengan tatapan mata kosong. Bukan ludesnya harta benda yang menggelisahkannya, bukan pula ketiadaan tempat untuk bernaung. Melainkan fakta bahwa ada orang lain yang membakar rumahnya kala dia sedang berada di dalam. Seperti halnya si perempuan dan seorang polisi yang menanyainya demi memperoleh keterangan, penonton pun ikut bertanya-tanya, “siapa yang nekat melakukan semua ini dan mengapa?.” Beginilah cara Little Fires Everywhere yang didasarkan pada novel bertajuk sama rekaan Celeste Ng memulai penceritaannya. Seperti halnya serial Big Little Lies yang juga dibintangi sekaligus diproduseri oleh Reese Witherspoon, penonton disodori secuplik adegan pamungkas yang memberikan sinyal bahwa sesuatu yang besar, berbahaya, serta mengerikan akan segera terjadi. Cara ini mesti diakui efektif dalam membangkitkan ketertarikan terhadap Little Fires Everywhere yang dibentangkan menjadi miniseri sejumlah 8 episode. Sebagai seseorang yang tidak pernah membaca materi sumbernya, saya jelas dilingkupi kepenasaran dan sama sekali buta mengenai latar belakang yang mendorong peristiwa kebakaran tersebut. Meski pengupasannya tak semenggigit Big Little Lies yang setiap episodenya kian menggila (begitu juga dengan pemain ansambelnya!), miniseri kepunyaan Hulu ini masih mempunyai cukup amunisi untuk membuatmu tetap bertahan hingga garis akhir demi memperoleh jawaban atas segala misteri yang melingkungi.

June 27, 2020

REVIEW : EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA


“We have to prove to Iceland, and my extremely handsome father, that my life hasn’t been a waste.”

Sebagai seseorang yang menggemari Eurovision Song Contest (ESC), saya jelas girang tatkala mengetahui “olimpiade untuk musik pop” ini akan diterjemahkan ke dalam satu film panjang. Semangatnya, gegap gempitanya, serta keunikannya adalah sederet faktor yang melatari mengapa ajang kompetisi menyanyi tahunan untuk kawasan Eropa ini bisa memikat hati jutaan pasang mata. Memang betul masa keemasannya sudah lewat – dulu, ABBA dan Celine Dion mulai dikenal luas dari sini – dan belakangan lebih seperti acara parodi musik yang konyol sekaligus kental dengan muatan politis yang melelahkan. Tapi saat masih menawarkan kesenangan melalui aksi panggung yang kreatif, barisan tembang yang mudah nyantol di telinga, maupun antusiasme penonton, tentu tidak ada alasan bagi hamba untuk meninggalkannya begitu saja. Toh, saya masih dibuat terhibur olehnya. Will Ferrell yang mengaku mengikuti ESC berkat sang istri, mencoba untuk menangkap jiwa bersenang-senang dari kontes ini dalam wujud sajian komedi bertajuk Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga yang kursi penyutradaraannya diserahkan kepada David Dobkin (Wedding Crashers, The Judge). Guliran narasinya menerapkan formula klasik “from zero to hero” dimana kita diajak mengikuti sepak terjang dari satu band pecundang asal Islandia yang berharap akan memperoleh pengakuan dari orang-orang yang dikasihi dengan memenangkan ESC.  
Mobile Edition
By Blogger Touch