Showing posts with label Exceeds Expectations. Show all posts
Showing posts with label Exceeds Expectations. Show all posts

April 22, 2021

REVIEW - BAD SAMARITAN

“He’s gonna kill us.”

Beberapa waktu lalu, hamba baru menemukan sebuah hidden gem yang tak banyak diperbincangkan oleh netizen dan sepertinya malah sudah mulai terlupakan keberadaannya. Film tersebut berjudul Bad Samaritan, disutradarai oleh Dean Devlin (Geostorm), serta dirilis pada tahun 2018 silam. Saat menontonnya, diri ini sampai bertanya-tanya, “apa yang aku lakukan tiga tahun lalu sampai mengabaikan film ini?.” Jawaban yang mungkin paling masuk akal adalah, Bad Samaritan tidak mendapatkan respon yang menggembirakan dari publik maupun kritikus kala diluncurkan. Tidak ada pujian, tidak ada pula cacian, hanya dianggap sebagai angin lalu. Bentuk resepsi yang jujur saja saya pertanyakan karena film bergenre thriller ini tergolong salah satu yang paling menggigit di genrenya dalam beberapa tahun terakhir. Kamu memang tidak akan menemukan jalinan pengisahan yang benar-benar baru maupun mindblowing, tapi saat film tersebut mampu mencengkrammu erat-erat sedari awal sampai akhir, mengapa kebaruan ini menjadi sesuatu yang penting? Maksudku, bukankah saat filmnya sanggup membawamu ikut terhanyut ke dunia di dalam film seharusnya sudah cukup ya?

October 18, 2020

REVIEW : PELUKIS HANTU

“Kita bisa mengusahakan kebahagiaan di masa depan, selama kita jujur dan tulus memberikan kemampuan terbaik kita.”

Pelukis Hantu adalah film yang menyenangkan. Begitulah kesan pertama yang tergores selepas menontonnya. Sepintas lalu, tontonan yang mengombinasikan genre horor dan komedi ini memang terlihat seperti sajian seram kelas B yang dibuat untuk mengeruk keuntungan semata tanpa peduli kualitas – jejak rekam genre ini tak cihuy. Lebih-lebih, MD Pictures memutuskan untuk menerjunkannya secara langsung ke layanan penyedia streaming yang tentu memantik kecurigaan hamba: kenapa? Maklum, pengalaman menonton film Indonesia dalam satu bulan terakhir ini sungguh bikin kepala nyut-nyutan sehingga keragu-raguan pun melejit ke angkasa. Sungguh, saya telah berpasrah kepada Tuhan. Akan tetapi, Pelukis Hantu yang menandai untuk pertama kalinya Arie Kriting memulai debut penyutradaraannya, menunjukkan bahwa masihlah ada harapan terhadap produk yang dilempar ke OTT (over the top atau layanan streaming). Mengikuti jejak rekannya sesama komika, Bene Dion, yang tahun lalu menghasilkan Ghost Writer yang mengesankan, Bung Arie mencoba untuk menghadirkan sebuah sajian hiburan yang tak saja membuat penontonnya tergelak-gelak sekaligus terperanjat, tetapi juga mendapatkan sesuatu. Ya, dia turut memasukkan hati ke dalam penceritaan demi menguarkan sisi emosional dari penceritaan serta isu yang kompleks mengenai luka dan trauma. Sebuah langkah yang terhitung berani untuk karya perdana.

October 7, 2020

REVIEW : SABAR INI UJIAN

“Kebahagiaan akan datang saat kamu sudah bersyukur.”

Apakah kamu familiar dengan istilah time loop yang beberapa kali dipergunakan oleh film dari negara-negara yang telah jauh berkembang? Jika belum, istilah ini secara ringkas merujuk kepada film dengan tokoh utama yang terjebak dalam putaran waktu. Hari-harinya selalu berulang di satu tanggal, situasi-situasinya sama persis plek ketiplek, dan si protagonis harus mencari tahu sabab musababnya agar bisa terbebas dari siksaan duniawi ini lalu kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Satu judul paling populer yang menerapkan konsep penceritaan ini adalah Groundhog Day rilisan tahun 1993. Dari era gawai, kamu bisa menjumpainya dalam Edge of Tomorrow (2014), Happy Death Day (2017), maupun Palm Springs yang baru-baru ini dirilis. Sementara dalam khazanah sinema Indonesia, well, film berkonsep time loop sendiri masih sangat asing meski hamba pribadi sama sekali tidak terkejut. Apalagi konsep ini terhitung njelimet untuk dieksekusi dan film beraroma fantasi pun kurang diakrabi oleh penonton di Indonesia raya. Siapa coba yang cukup nekat untuk mengambil resiko? Sempat skeptis ranah ini akan benar-benar dijajaki oleh sineas kita, ternyata oh ternyata Anggy Umbara (Mama Cake, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) di bawah payung MD Pictures berani mengambil tantangan tersebut dengan menggarap Sabar Ini Ujian yang dilabeli “film Indonesia pertama yang mengaplikasikan konsep time loop”. Hasilnya? Sajian komedi drama yang menghibur meski masih meninggalkan catatan disana sini.

October 1, 2020

REVIEW : MUDIK (2020)

“Mau sampai kapan kita kayak gini? Kamu nggak bisa terus-terusan lari kayak gini.”

Perjalanan pulang kampung saat libur Lebaran seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi anak rantau. Bisa melepas rindu dengan tanah kelahiran, bisa memeluk hangat orang tua, dan bisa bersenda gurau dengan saudara-saudara kandung. Meski obrolan basa-basi kala halal bi halal seringkali bikin capek hati, tapi hidangan khas beserta acara kumpul-kumpulnya dengan keluarga yang mungkin jarang ditemui itu ngangenin. Tentu dengan catatan, tidak ada perang dingin yang tengah bergelora. Apabila ada masalah besar yang titik terangnya belum kunjung terlihat, mudik pun serasa perjalanan menuju neraka. Menyiksa jiwa dan raga. Tengok saja pasangan suami istri, Firman (Ibnu Jamil) dan Aida (Putri Ayudya), yang selama perjalanan menuju ke kampung halaman tak pernah sekalipun terlihat cerah ceria berseri-seri. Mereka enggan untuk saling berkomunikasi antara satu dengan yang lain karena mereka sama-sama tahu, membuka mulut sama artinya dengan memulai medan pertempuran. Alhasil, penonton Mudik atau Homecoming arahan Adriyanto Dewo (Tabula Rasa) pun ikut menyusuri rute Jakarta-Jogja dengan perasaan yang tidak mengenakkan lantaran Firman dan Aida adalah karakter sentral dalam film ini. Alih-alih menunggangi pesawat terbang atau kereta api yang bisa memangkas waktu tempuh secara signifikan, keduanya justru memilih untuk mengendarai mobil pribadi yang menjadikan 8 jam seperti selamanya.

August 15, 2020

REVIEW : WAITING FOR THE BARBARIANS


“Pain is truth, that is how you get it.”

Waiting for the Barbarians memiliki sederet amunisi yang memungkinkannya untuk menjelma sebagai sajian mengikat berkualitas tinggi: materi sumbernya adalah novel pemenang penghargaan, sang penulis novel diganjar penghargaan Nobel di tahun 2003 untuk kategori sastra, sutradara yang menangani adaptasinya telah menghantarkan film sebelumnya untuk berkompetisi di Oscar, dan jajaran pemainnya pun memiliki ikatan kuat dengan piala pria telanjang berlapis emas tersebut. Mudahnya, apa yang mungkin salah? Terlebih lagi, topik pembicaraan yang diajukan oleh Waiting for the Barbarians juga terasa relevan dan universal untuk berbagai zaman maupun kebudayaan lantaran mempergunjingkan soal tabiat asli manusia dalam menyikapi persoalan. Melalui film – serta tentunya versi novel yang ditulis oleh J. M. Coetzee dari Afrika Selatan – persoalan tersebut diwujudkan sebagai peperangan. Bukan peperangan yang dipantik oleh gesekan-gesekan atau pertentangan ideologi, melainkan miskomunikasi antar budaya dimana salah satu pihak memandang pihak lain sebagai musuh lantaran ketidaktahuan terhadap kultur yang dianut. Mereka dianggap memiliki pandangan berbeda yang salah, dan mereka terlihat mengancam sistem beserta kepercayaan yang diyakini. Oleh karena itu, tidak ada langkah paling tepat untuk “melindungi” diri ketimbang memerangi pihak musuh lalu memberangus habis mereka. Terdengar familiar, bukan?

June 22, 2020

REVIEW : 7500 (2020)


“European 162, what’s your emergency?”

“We have a seven-five-zero-zero.”

Bagi masyarakat awam, 7500 mungkin hanyalah angka dan tidak tampak signifikan. Tapi bagi kru pesawat, ini adalah kode empat digit (squawk) yang bersinonim erat dengan kata “mimpi buruk”. Saat pilot mengirimkannya kepada petugas kontrol lalu lintas udara, itu artinya ada marabahaya yang sedang mengintai di ketinggian puluhan ribu kaki. Marabahaya tersebut bukan bersifat kerusakan teknis dalam tubuh pesawat, melainkan bersumber dari penumpang yang memiliki intensi untuk mengambil alih moda transportasi udara ini. Atau dengan kata lain, pembajakan. Sutradara asal Jerman, Patrick Vollrath, yang sebelumnya menggarap film pendek peraih nominasi Oscar, Everything Will Be Okay (2015), mencoba untuk meminjam kode squawk ini guna dikembangkan sebagai narasi dari film panjang perdananya. Mengusung judul yang amat lugas, 7500, Vollrath menghadirkan sebuah drama pembajakan pesawat dengan pendekatan cukup berani dimana latar penceritaan serba terbatas. Sebagian besar berlangsung secara real time dan sebagian besar bertempat di ruang kokpit yang sempit. Meski ada sejumlah karakter pendukung dikerahkan, pada dasarnya 7500 adalah one-man-show bagi Joseph Gordon-Levitt yang memegang kendali penuh terhadap pergerakan cerita di sepanjang durasi. Kemampuan berlakonnya menjadi salah satu penentu krusial, apakah film akan terbang secara mulus hingga pendaratan atau berulang kali mengalami turbulensi yang mengganggu kenikmatan dalam menonton.

May 20, 2020

REVIEW : THE HALF OF IT


“The good thing about being different is that no one expects you to be like them.”

Di atas kertas, The Half of It memang terbaca seperti film percintaan untuk remaja yang picisan. Tentang seorang lelaki yang kesulitan dalam mengungkapkan perasaannya kepada perempuan populer yang ditaksirnya, tentang seorang perempuan yang diam-diam menyukai seseorang tetapi tak berani mengungkapkannya, dan tentang kisah asmara segitiga yang melibatkan narasi lawas seputar “dari teman jadi pacar.” Akan tetapi, film yang guliran pengisahannya separuh terinspirasi dari drama klasik Cyrano de Bergerac dan separuh terinspirasi dari pengalaman masa muda sang sutradara, Alice Wu (Saving Face), ini ternyata enggan untuk berkubang di genre drama romantis yang konvensional. Mengusung tagline berbunyi “a different kind of love story”, film berupaya memberikan pelintiran dengan menempatkan si karakter utama sebagai seorang lesbian yang membubuhkan kompleksitas tersendiri bagi konflik dan mengedepankan topik perbincangan cukup mendalam yang jarang dijumpai di genrenya – meski well, belakangan ini sudah menjadi “new normal”. Lebih dari itu, The Half of It sejatinya lebih didesain sebagai sebuah sajian tentang tumbuh dewasa atau coming of age dimana elemen romansanya bukanlah fokus utamanya melainkan lebih ke pemantik munculnya titik balik bagi tokoh-tokohnya. Mudahnya, perkenalan mereka terhadap cinta telah mengubah cara pandang mereka tidak hanya kepada diri sendiri, tetapi juga orang lain dan kehidupan.

March 14, 2020

REVIEW : CUTIES AND THE FAKE


“Too bad they fixed her face, but couldn’t fix her inner.”

Bagi yang mengikuti dunia hiburan Thailand tentu tak lagi asing dengan Diary of Tootsies. Salah satu webseries paling banyak dibicarakan dan ditonton saat ini. Atau dengan kata lain, fenomenal. Guliran pengisahan dari serial yang telah melahirkan dua musim tersebut berkisar pada petualangan mencari cinta empat karakter utamanya. Mereka dideskripsikan sebagai tootsies – bahasa gaul di Negeri Gajah Putih yang bermakna “gay rempong”. Ya, keempat tokoh sentral dalam webseries ini adalah tiga lelaki gay dan satu perempuan lesbian. Sebuah konfigurasi karakter yang sama sekali tidak terbayang akan melenggang mulus di dunia hiburan Indonesia yang amat konservatif. Itulah mengapa saat versi layar lebar serial ini, Tootsies and the Fake, diluar dugaan bisa tayang di bioskop-bioskop tanah air, berbagai penyesuaian pun turut diterapkan seperti: 1) judul diubah menjadi Cuties and the Fake meski hamba ragu masyarakat negeri ini paham dengan makna sesungguhnya dari kata tootsie (oops, sorry not sorry!), 2) klasifikasi usia yang dipatok ke batasan teratas yaitu 21+ lantaran konten yang dinilai terlampau berani, dan 3) pemberlakuan sensor mandiri dimana pihak importir film terpaksa meniadakan satu subplot dengan total durasi sekitar 18 menit demi memperoleh izin tayang dari Lembaga Sensor Film (LSF). Sungguh sebuah perjuangan tersendiri, bukan? Padahal jika kamu bersedia menontonnya tanpa disertai penghakiman maupun sejenisnya, Cuties and the Fake sejatinya bukanlah tontonan “berbahaya” dengan adegan-adegan vulgar nan menyesatkan di dalamnya. Ini hanyalah sajian komedi lebay nirfaedah yang tujuannya adalah membuat hati para penontonnya menjadi riang gembira.

February 26, 2020

REVIEW : SONIC THE HEDGEHOG


“This is my power and I’m not running away any more. I’m using it to protect my friends.”

Saat materi promosi Sonic the Hedgehog ditebar pada permulaan tahun lalu, warganet dan mereka yang mempunyai keterikatan secara personal maupun profesional dengan materi sumber dari film bersangkutan (baca: video game keluaran Sega) sepakat untuk menunjukkan reaksi senada seirama. Meringis, mengernyitkan dahi, lalu mengajukan keluhan secara berantai. Satu poin yang menjadi landasan keberatan pihak-pihak ini adalah visualisasi si karakter utama, Sonic, yang terkesan mengkhianati penggambaran dalam versi aslinya. Upaya si pembuat film untuk memperlihatkannya serealistis mungkin bukan saja melenceng dari pakem, tetapi juga menjadikannya tampak, errr… seram. Ya, mata hamba sampai mendelik sedemikian rupa kala pertama kali melihat wujudnya via trailer. Seolah-olah Paramount memiliki misi ingin menciptakan mimpi buruk bagi penonton cilik dengan menghadirkan tontonan ini. Seriously, it’s so creepy (!). Menuai respon negatif yang teramat sangat kencang dari berbagai penjuru, Sonic the Hedgehog pun diputuskan untuk diundur penayangannya dari semula di bulan November 2019 menjadi Februari 2020. Jeff Fowler selaku sutradara beserta tim memilih untuk merevisi desain si karakter tituler agar lebih setia dengan materi sumbernya dan keputusan ini tidaklah sia-sia belaka karena hasil akhirnya disambut secara riang gembira oleh para penggemar. Saya pun bersyukur tidak harus terdistraksi oleh satu imaji aneh selama menyaksikan Sonic the Hedgehog yang ternyata oh ternyata bisa dengan mudah dinobatkan sebagai salah satu adaptasi video game terbaik yang pernah dibuat.

February 14, 2020

REVIEW : MILEA SUARA DARI DILAN


“Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.”

Dalam dwilogi Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019) yang menjaring jutaan penonton – bahkan tertoreh di sejarah sebagai film Indonesia paling banyak dipirsa – kita telah menjadi saksi bagaimana kisah kasih antara Dilan si panglima tempur (Iqbaal Ramadhan) dengan Milea (Vanesha Prescilla) bersemi dan layu dengan sama cepatnya. Usai dijejali rayuan-rayuan gombal yang membuat para penggemarnya gemas bukan kepalang di jilid pertama yang narasinya mengalun santuy lantaran nyaris tiada konflik, film arahan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini lantas menghamparkan pendekatan berbeda dalam instalmen kedua. Kalimat berbunga-bunga yang kerap meluncur dari mulut Dilan memang masih ada, tapi intensitasnya mengalami penurunan seiring tak hangatnya lagi hubungan kedua sejoli ini. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai durasi hingga sampai pada satu titik yang bikin hati pengikut Dilanisme seketika nelangsa: mereka memilih untuk berjalan sendiri-sendiri. Tak ada lagi pasangan DiMil, hanya tersisa Dilan dan Milea. Nanges nggak, tuh? Telah mencapai konklusi yang menyatakan bahwa pasangan fiktif ini urung melaju ke pelaminan dalam Dilan 1991, ternyata tak lantas menghentikan Pidi Baiq selaku pemilik cerita dan Max Pictures selaku rumah produksi untuk mengakhiri franchise fenomenal ini. Mereka melaju dengan babak ketiga bertajuk Milea Suara Dari Dilan yang dipersiapkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersisa dari dua seri pendahulunya. Guna memberi penonton perspektif lain dari kisah kasih duo karakter utamanya dimana sekali ini Dilan bertindak selaku narator alih-alih Milea.

January 7, 2020

REVIEW : NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI


“Gimana caranya bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya kayak apa?”

(Ada sekelumit bahasan mengenai menit-menit puncak di paragraf akhir. Bagi beberapa orang mungkin dianggap spoiler, meski saya tidak menjabarkan secara spesifik.)

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah sebuah fenomena di khasanah perbukuan tanah air. Betapa tidak, saat pertama kali diterbitkan pada bulan Oktober 2018 silam, buku rekaan Marchella FP tersebut mampu terjual lebih dari 5 ribu eksemplar hanya dalam kurun waktu sehari. Itupun sebatas mencakup Pulau Jawa dan belum pula ditambahkan dengan penjualan melalui pre-order yang tak kalah dahsyatnya. Hingga ulasan ini diturunkan, buku berisi kutipan kalimat-kalimat perenungan hidup ini sudah mencapai cetakan ke-12 dan masih banyak diburu oleh khalayak ramai. Mengagumkan, bukan? Menilik respon yang sedemikian antusias dari masyarakat, tentu tak mengherankan jika kemudian Visinema Pictures meminang Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini untuk diekranisasi ke layar lebar. Seperti halnya Imperfect (2018) maupun Aku, Kau, dan KUA (2014) yang juga disadur dari buku non-fiksi tanpa ada narasi di dalamnya, Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara beserta Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief yang membantu Angga dalam memoles skenario pun sejatinya mengkreasi satu jalinan pengisahan baru. Yang menjadi landasan mereka ada dua: 1) karakter bernama Awan yang dalam materi sumber merupakan “tokoh kunci” yang dikisahkan mengirim surat berisi wejangan-wejangan untuk anaknya di masa depan, dan 2) jalinan pengisahannya adalah elaborasi dari kalimat-kalimat bernada kontemplatif di bukunya yang secara garis besar memperbincangkan tentang keluarga, kebahagiaan dan kehidupan. Sebuah materi yang mesti diakui menggugah selera lantaran terasa begitu membumi, begitu dekat, dan begitu personal bagi banyak orang.

December 27, 2019

REVIEW : SI MANIS JEMBATAN ANCOL (2019)

 

“Kenapa perempuan harus menjadi hantu terlebih dahulu baru ditakuti?”

Bagi generasi masa kini, Si Manis Jembatan Ancol mungkin terdengar asing di telinga. Tapi bagi generasi yang lebih tuwek, nama ini identik dengan tiga hal. Pertama, legenda urban asal Betawi. Kedua, judul film layar lebar keluaran tahun 1973 yang dibintangi oleh Lenny Marlina. Dan ketiga, sinetron bergenre horor komedi di era 90-an yang membawa dua pemain intinya, Diah Permatasari dan Ozy Syahputra, merengkuh popularitas. Saking populernya (bahkan Presiden Soeharto pun menggilainya!), versi layar lebarnya pun digarap yang menandai untuk kedua kalinya meneror penonton di bioskop. Mantap kan, adek-adek? Nah setelah dibiarkan “beristirahat dengan tenang” di alamnya selama kurang lebih dua dekade, sesosok memedi bernama Maryam yang kerap terlihat bergentanyangan di Jembatan Ancol ini coba dibangkitkan kembali oleh Anggy Umbara (Suzzanna Bernapas dalam Kubur, Satu Suro) guna diperkenalkan kepada generasi Z, sekaligus mengikuti tren remake film horor klasik tanah air yang akhir-akhir ini tengah merebak. Masih mengandalkan judul Si Manis Jembatan Ancol, jajaran pemain yang dilibatkan tentu mengalami perombakan signifikan sebagai bentuk penyesuaian. Satu-satunya pelakon yang kembali direkrut dalam versi termutakhir adalah Ozy Syahputra yang sekali ini tidak melakonkan hantu gundul nan kenes bernama Karina, melainkan menjadi salah satu villain yang bertanggungjawab atas lahirnya arwah penasaran yang dilingkupi dendam kesumat berjulukan Si Manis.

December 24, 2019

REVIEW : HABIBIE & AINUN 3


“Kita dalam buku yang sama, tapi halaman yang berbeda.”

Saat Habibie & Ainun (2012) dirilis di bioskop, impak yang dihadirkannya tidaklah main-main. Disamping sanggup mengundang empat juta pasang mata untuk berbondong-bondong memenuhi bioskop, karir dua pemain utamanya yakni Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari pun seketika meroket. Nama keduanya lantas tercatat sebagai “bintang film kelas A” berkat kesuksesan film yang sering pula dielu-elukan sebagai salah satu tontonan percintaan terbaik di tanah air ini. Sungguh luar biasa. Saking hebatnya dampak yang diberikan oleh Habibie & Ainun, MD Pictures selaku rumah produksi pun memutuskan untuk meneruskan legacy-nya dengan menghadirkan dua film kelanjutan. Sebuah keputusan yang tadinya sempat membuat beberapa pihak, termasuk saya, bertanya-tanya, “apa lagi yang ingin dicelotehkan? Bukankah segala sesuatunya telah tertuang di film pertama?.” Well, ternyata masih ada sejumlah fase hidup dari dua karakter tituler yang belum sepenuhnya tersentuh. Dua sekuel yang sejatinya lebih bersifat sebagai prekuel ini, menggali lebih dalam masa-masa yang hanya dituturkan secara sekilas lalu di Habibie & Ainun. Yang pertama adalah Rudy Habibie (2016) dimana kisah masa muda Bacharuddin Jusuf Habibie dihantarkan bak tontonan blockbuster yang megah, dan yang kedua adalah Habibie & Ainun 3 (2019, sebelumnya berjudul Ainun) yang narasinya mengetengahkan pada perjuangan Hasri Ainun Besari semasa menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.   

December 17, 2019

REVIEW : JERITAN MALAM


“Pernahkah kalian merinding di suatu tempat, merasakan kehadiran sesuatu yang sebelumnya kalian percaya hanyalah permainan imajinasi otak manusia belaka?”

Sebelum diadaptasi ke dalam tontonan layar lebar, Jeritan Malam lebih dulu dikenal sebagai salah satu thread bentukan @morfosis_meta di forum Kaskus. Thread yang membungkus satu cerita seram unggahan si pembuat ini, tanpa dinyana-nyana menjadi buah bibir di kalangan pengunjung dunia maya dan seketika dibukukan. Salah satu alasan paling mendasar yang membuat cerita tersebut dapat menjaring ketertarikan publik secara cepat adalah fakta (setidaknya menurut si penulis) bahwa narasi yang diutarakan dalam Jeritan Malam bersumber dari pengalaman nyata. Disamping faktor lain yang meliputi: 1) ceritanya terasa dekat dan familiar khususnya bagi masyarakat Jawa di daerah yang masih kerap bersentuhan dengan kebudayaan atau kesenian yang aroma mistisnya cukup kental, dan 2) ada elemen misteri dibubuhkan melalui kalimat pembuka yang menimbulkan ambiguitas sehingga pembaca pun memiliki ketertarikan untuk membaca demi menjawab pertanyaan “benarkah ini semua betul-betul terjadi?.” Oleh versi layar lebarnya yang digarap Rocky Soraya (The Doll, Mata Batin), elemen misteri ini masih menjadi satu cara yang ampuh dalam menarik atensi. Terlebih lagi, ada satu peringatan dibubuhkan berbunyi kurang lebih “jangan lakukan apa yang telah saya lakukan” yang seketika membuat diri ini dan mereka yang belum pernah menyentuh materi sumbernya dilingkupi kepenasaranan. Apa yang sebetulnya telah dilakukan oleh si tokoh utama sampai-sampai dia menyerukan peringatan tersebut kepada penonton?

November 12, 2019

REVIEW : RATU ILMU HITAM (2019)


“Ketidaktahuan itu juga dosa, sayang.”

Saat pertama kali mendengar rumah produksi Rapi Films akan mendaur ulang salah satu film andalannya, Ratu Ilmu Hitam (1981), reaksi yang bisa saya lontarkan seketika adalah, “wow!”. Seperti halnya Pengabdi Setan yang versi termutakhirnya turut mendapatkan puja-puji dari berbagai kalangan, film arahan Lilik Sudijo ini pun bukanlah sajian horor ecek-ecek. Tengok saja pencapaiannya dalam industri: menggenggam lima nominasi dalam Festival Film Indonesia 1982 termasuk untuk kategori Aktris Utama Terbaik bagi Suzzanna. Pencapaian ini jelas impresif, lebih-lebih jika kita berkaca pada fakta bahwa genre horor amat sangat jarang dilirik oleh ajang penghargaan bergengsi. Guna menjaga “nama baik” dari Ratu Ilmu Hitam, pihak rumah produksi pun memercayakan penulisan skenario kepada Joko Anwar yang terbukti mampu menghantarkan Pengabdi Setan (2017) dalam meraih kesuksesan secara kritikal maupun finansial. Sedangkan untuk urusan mengejawantahkan ke bahasa audio visual, Kimo Stamboel – salah satu personil dari The Mo Brothers – lah yang diberi amanat. Sebuah kolaborasi yang mesti diakui tampak menggiurkan di atas kertas dan seolah memungkinkan tersajinya sebuah sajian seram yang penuh teror. Yang kemudian membuat saya dirundung rasa skeptis adalah ketidakpuasan terhadap penggarapan Kimo dalam DreadOut yang dirilis pada awal tahun ini. Ada keraguan dan ada trauma yang masih tersisa sampai-sampai membentuk satu pertanyaan. Akankah interpretasi anyar dari Ratu Ilmu Hitam sanggup ditangani dengan baik oleh Kimo sehingga sajian seram mencekam pun dapat tersaji? Let’s see.

October 31, 2019

REVIEW : ZOMBIELAND DOUBLE TAP


“When you love something, you shoot it in the face. So it doesn't become a flesh eating monster.”

Apakah ada diantara kalian yang masih ingat dengan Zombieland? Itu lho, film tentang mayat hidup yang disajikan secara unik dan mendapatkan puja puji dari kritikus maupun penonton saat dirilis di bioskop pada tahun 2009 silam. Ketimbang sebatas bernarasi tentang sejumlah manusia yang mencoba bertahan hidup dari serangan zombie, film arahan Ruben Fleischer (Gangster Squad, Venom) tersebut mencoba memberikan sejumlah modifikasi yang terdiri dari: 1) pijakan genrenya adalah komedi dimana film tak pernah menganggap dirinya serius, 2) ada aturan-aturan diberlakukan untuk bertahan hidup yang tak hanya diucapkan tetapi juga divisualisasikan secara nyentrik, 3) penggunaan nama kota di Amerika Serikat sebagai nama karakter untuk menghindari ketergantungan, dan 4) film menyelipkan kehangatan ke dalam narasi menyusul adanya topik pembicaraan seputar “manusia adalah makhluk sosial”. Hasilnya, kita mendapati salah satu tontonan zombie terbaik yang pernah dibuat. Lebih-lebih, Zombieland juga dianugerahi chemistry hebat dari keempat pelakon utamanya seperti Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, serta Abigail Breslin yang belakangan semuanya menyandang predikat “pemain kelas Oscar”. Sungguh impresif, bukan? Saking impresifnya, ada beban tersendiri bagi tim pembuat film tatkala mencetuskan gagasan untuk menciptakan sebuah sekuel. Mereka membutuhkan waktu selama bertahun-tahun untuk menggodok naskah, sampai akhirnya film kelanjutan bertajuk Zombieland Double Tap baru siap diluncurkan pada perayaan ulang tahun ke-10 dari film pertama yang untungnya masih dimeriahkan oleh jajaran pemain yang sama.

October 26, 2019

REVIEW : SUSI SUSANTI: LOVE ALL


“Saya adalah orang Indonesia. Selamanya saya orang Indonesia.”

Siapa sih yang tidak mengenal Susi Susanti? Menorehkan beragam prestasi di sepanjang karirnya, termasuk mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade Barcelona 1992, namanya dicatat oleh sejarah sebagai salah satu figur penting dalam kancah olahraga bulu tangkis. Tidak hanya dalam lingkup tanah air, tetapi juga dunia. Dia adalah pahlawan gelanggang yang berjasa menyatukan Indonesia yang terpecah-pecah jelang reformasi 1998, dan berjasa pula dalam mengobarkan rasa nasionalisme yang timbul tenggelam akibat pemerintahan Orde Baru yang amat menekan khususnya bagi keturunan Tionghoa seperti Susi. Sungguh mengagumkan, bukan? Menilik segala pencapaian yang direngkuh oleh legenda hidup ini semenjak dirinya memulai karir pada pertengahan era 1980-an sampai akhirnya memutuskan untuk gantung raket di penghujung era 1990-an, maka tidak mengejutkan jika kemudian ada sineas tanah air yang berinisiatif untuk mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar. Sim F yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara video musik (karyanya mencakup “Menghapus Jejakmu” milik Peterpan dan “Cinta Pertama dan Terakhir” milik Sherina) dipercaya untuk mengejawantahkan sepak terjang atlet asal Tasikmalaya tersebut melalui film biopik bertajuk Susi Susanti: Love All. Yang menarik, alih-alih sebatas menyoroti jatuh bangun Susi dalam menapaki tangga karir, film turut mengapungkan isu rasialisme yang memang mempunyai impak besar terhadap perjalanan hidup serta karir Susi.

October 20, 2019

REVIEW : PEREMPUAN TANAH JAHANAM


“Kamu, kesalahan yang harus aku hapus.”

Entah dirimu menyukainya atau tidak, mesti diakui, Pengabdi Setan (2017) adalah film horor yang fenomenal. Betapa tidak, film arahan Joko Anwar (Kala, Pintu Terlarang) ini sanggup membukukan angka penonton hingga 4 juta lebih yang menempatkannya sebagai salah satu film Indonesia paling banyak dipirsa, dan berhasil pula memboyong sejumlah Piala Citra berkat kualitas teknisnya yang ciamik. Sebuah pencapaian yang belum pernah bisa diraih oleh film dari genre seram. Menilik segala kesuksesan yang dicapai baik dari sisi kritikal maupun finansial, satu tanya lantas hinggap: apa yang akan diperbuat oleh seorang Joko Anwar di film berikutnya guna melampaui – atau minimal menyamai – Pengabdi Setan? Usai sedikit bereksperimen di genre laga melalui Gundala yang memperoleh resepsi beragam dari para penikmat film, Joko Anwar akhirnya kembali ke arena bermainnya melalui Perempuan Tanah Jahanam yang konon telah dipersiapkan sedari bertahun-tahun silam. Ada beragam faktor yang menyebabkan film berjudul Impetigore untuk peredaran internasional ini sampai berada dalam status development hell, termasuk persoalan kesiapan teknis beserta pengembangan karakter dalam narasi yang membutuhkan waktu cukup panjang. Tapi berkat meledaknya “kisah keluarga ibu”, CJ Entertainment dari Korea Selatan bersama Ivanhoe Pictures dari Amerika Serikat pun berkenan untuk bekerja sama dengan Rapi Films dan Base Entertainment guna mewujudkan salah satu proyek impian Joko yang guliran pengisahannya turut terinspirasi dari mimpi buruknya di suatu malam ini.

September 27, 2019

REVIEW : PRETTY BOYS


“Miskin kaya itu bukan dari kantong, tapi dari hati.”

Pernah nggak sih kalian menonton televisi tanah air dan gemas bukan kepalang lantaran konten yang diajukan sungguh bikin mengelus dada? Tak perlulah menggunjingkan sinetron yang mungkin sudah terlampau sulit untuk ditolong, coba tengok gelaran berformat variety show atau talk show atau apapun sebutannya itu. Terlampau banyak gimmick, terlalu sering bersenda gurau sampai-sampai konsep acaranya pun kabur: ini sajian bincang-bincang, drama panggung atau lawakan sih? Ada kalanya diri ini kasihan dengan narasumber yang bisa jadi sudah berharap bakalan berbagi cerita, tapi akhirnya justru berakhir sebagai penonton. Menyaksikan para pemandu acara asyik sendiri. Kadang saya rindu dengan acara-acara dari era lampau seperti Ceriwis yang menurut saya bisa menempatkan jokes sesuai porsinya sehingga penonton dapat terhibur sekaligus memperoleh informasi dibutuhkan. Kalau sekarang sih porsi ngelawak atau ribut-ributnya yang lebih dikedepankan, sebodo amat dengan kandungan isi. Sungguh menguji kesabaran, yekan? Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia pertelevisian selama bertahun-tahun, Deddy Mahendra Desta tentu menyadari penuh mengenai pergeseran tren tersebut. Dia pun menyadari, ada beragam intrik dari belakang layar yang bisa diceritakan kepada khalayak ramai. Merekrut musisi Tompi untuk menjajal nikmatnya kursi penyutradaraan, doi pun melahirkan Pretty Boys yang kentara terlihat diniatkan sebagai kritik terhadap dunia pertelevisian tanah air yang semakin lama semakin ajaib ini.

September 16, 2019

REVIEW : READY OR NOT


“Do you like to play games?”

Saat pertama kali menengok trailer dan membaca sinopsis dari Ready or Not, saya seketika berseru heboh, “harus banget nonton film ini!.” Betapa tidak, materi promosinya seolah menjanjikan bahwa ini adalah tontonan yang mempunyai nilai kesenangan cukup tinggi. Memang sih secara premis terdengar tidak ada pembaharuan atau sesuatu istimewa. Terlebih bukan sekali dua kali kita menjumpai suatu film yang mengulik soal “permainan” memburu manusia demi bertahan hidup di muka bumi. Tapi benarkah Ready or Not adalah sajian yang amat klise? Benarkah si pembuat film yang terdiri atas dua kepala, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (Devil’s Due, Southbound), sekadar mendaur ulang tanpa pernah berusaha untuk menawarkan sesuatu yang berbeda? Well, jika kamu sudah melakukan apa yang telah saya lakukan – mengintip trailer, membaca sinopsis – maka tentu tahu bahwa duo sutradara tersebut tidaklah semalas itu. Ada modifikasi, ada sentuhan kreatif yang diaplikasikan. Mereka mengkreasi sebuah mitologi baru yang memosisikan permainan berburu manusia selayaknya permainan kanak-kanak tradisional dengan tujuan melestarikan tradisi. Dengan tujuan menolak bala demi melindungi harta benda maupun generasi-generasi penerus suatu keluarga. Istimewanya lagi, mereka juga menciptakan satu karakter perempuan yang terlihat luar biasa keren, sampai-sampai sulit untuk memandangnya sebelah mata apalagi saya memang selalu dibuat bertekuk lutut oleh tokoh-tokoh perempuan yang badass.
Mobile Edition
By Blogger Touch