Showing posts with label Outstanding. Show all posts
Showing posts with label Outstanding. Show all posts

September 24, 2020

REVIEW : TIMMY FAILURE MISTAKES WERE MADE

“If you love what you do, you gotta fight for it.”

Diangkat dari buku kanak-kanak rekaan Stephan Pastis, Timmy Failure: Mistakes Were Made menyoroti tingkah polah seorang bocah berusia 11 tahun, Timmy Failure (Winslow Fegley), yang mempunyai imajinasi tanpa batas. Tinggal bersama sang ibu, Patty (Ophelia Lovibond), di pinggiran kota Portland, Timmy yang menjalankan agensi detektif swasta bernama Total Failure Inc. ini menganggap dirinya sebagai detektif kelas wahid. Rekannya pun tidak tanggung-tanggung, seekor beruang kutub bernama Total yang konon terdampar di kampung halamannya selepas es di Kutub Utara mulai mencair akibat pemanasan global. Timmy yang berulang kali menekankan “enggan bekerjasama dengan penegak hukum” sejatinya hanya mengambil kasus-kasus remeh seperti tas teman sekolahnya yang menghilang. Itupun bukan berdasar keinginan tulus sang klien, melainkan setelah si tokoh utama terus mendesaknya. Harapan Timmy untuk mendapatkan kasus yang benar-benar serius lantas muncul ketika segway milik Patty yang dikendarainya kemana-mana mendadak raib. Mengingat benda tersebut adalah satu-satunya barang yang dinilai berharga oleh sang ibu, maka tentu saja duo Timmy-Total harus bekerja keras untuk menemukannya. Dalam penelusuran, keduanya mencurigai keterlibatan mafia Rusia yang selama ini mengawasi setiap gerakan yang dilakukan oleh Timmy. Bahkan, ini mungkin ada kaitannya dengan teman sekelasnya yang dijuluki “The Nameless One”.

July 2, 2020

REVIEW : LITTLE FIRES EVERYWHERE (MINISERIES)


“All mother’s struggle, money hides it. But you can’t put a price on a mother’s love.”

Seorang perempuan berdiri terpaku di pinggir jalan, menyaksikan rumah gedongannya habis dilalap si jago merah. Saking terguncangnya, dia tidak bisa lagi meluapkan segala emosinya dan hanya bisa terdiam dengan tatapan mata kosong. Bukan ludesnya harta benda yang menggelisahkannya, bukan pula ketiadaan tempat untuk bernaung. Melainkan fakta bahwa ada orang lain yang membakar rumahnya kala dia sedang berada di dalam. Seperti halnya si perempuan dan seorang polisi yang menanyainya demi memperoleh keterangan, penonton pun ikut bertanya-tanya, “siapa yang nekat melakukan semua ini dan mengapa?.” Beginilah cara Little Fires Everywhere yang didasarkan pada novel bertajuk sama rekaan Celeste Ng memulai penceritaannya. Seperti halnya serial Big Little Lies yang juga dibintangi sekaligus diproduseri oleh Reese Witherspoon, penonton disodori secuplik adegan pamungkas yang memberikan sinyal bahwa sesuatu yang besar, berbahaya, serta mengerikan akan segera terjadi. Cara ini mesti diakui efektif dalam membangkitkan ketertarikan terhadap Little Fires Everywhere yang dibentangkan menjadi miniseri sejumlah 8 episode. Sebagai seseorang yang tidak pernah membaca materi sumbernya, saya jelas dilingkupi kepenasaran dan sama sekali buta mengenai latar belakang yang mendorong peristiwa kebakaran tersebut. Meski pengupasannya tak semenggigit Big Little Lies yang setiap episodenya kian menggila (begitu juga dengan pemain ansambelnya!), miniseri kepunyaan Hulu ini masih mempunyai cukup amunisi untuk membuatmu tetap bertahan hingga garis akhir demi memperoleh jawaban atas segala misteri yang melingkungi.

June 18, 2020

REVIEW : JUROR 8


“Law doesn’t exist to punish people. To avoid punishing people unjustly and to set a standard, that’s the law.”

Pada tahun 2008, pengadilan di Korea Selatan menciptakan sejarah baru dengan memperkenalkan sistem juri. Dalam sistem ini, sembilan masyarakat sipil dari beragam latar belakang yang terpilih akan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan terkait kasus pidana, meski suara mereka tidak bersifat mutlak. Penentuan tetap berada di tangan hakim dan juri lebih diposisikan sebagai penasehat. Kasus perdana di Negeri Ginseng yang melibatkan juri adalah perampokan terhadap seorang lansia berusia 70 tahun. Si terdakwa tidak saja menyantroni rumah korban lalu mengambil sejumlah barang berharga, tetapi juga menyerang dan melukai korban. Saat diboyong ke pengadilan, terdakwa bersedia mengakui perbuatannya yang dilandasi motif untuk membayar hutang kepada debt collector. Alhasil, baik juri maupun hakim sama-sama sepakat, terdakwa dinyatakan bersalah. Oleh sutradara pendatang baru, Hong Seung-wan, kasus ini lantas menginspirasinya untuk menggarap film berlatar ruang pengadilan berjudul Juror 8 yang mencoba merekonstruksi ulang peristiwa bersejarah tersebut dengan sederet pelintiran bersifat fiktif. Disamping peristiwa yang memang nyata adanya sehingga film masih bisa membubuhkan embel-embel “based on true events”, narasi dan karakter-karakter yang terlibat di dalamnya murni produk pemikiran dari Hong Seung-wan yang juga mendesain skenarionya. Hal ini memungkinkan baginya untuk mendramatisir kejadian demi menciptakan momen-momen emosional yang mungkin tidak pernah ada dalam kasus sesungguhnya.

June 11, 2020

REVIEW : MISS AMERICANA


“There’s a part of me that feels like I’m 57 years old, but there’s a part of me that’s definitely not ready for all this grown-up stuff.”

Beberapa waktu lalu, jejaring sosial Twitter dihebohkan oleh cuitan dari satu dua selebtwit mengenai “pengaruh”. Mereka berargumentasi, siapapun yang mempunyai pengaruh di dunia maya semestinya bersuara tentang situasi genting yang sedang terjadi di muka bumi, alih-alih bungkam dan memilih untuk memperbincangkan hal remeh temeh. Para influencer ini didesak untuk berbicara soal gelombang protes di Amerika Serikat yang dipicu oleh kebrutalan polisi beserta rasisme, agar para pengikutnya menyadari bahwa dunia tidak semata-mata sedang berperang melawan Covid-19. Ada musuh lain yang tak kalah berbahayanya, diam-diam mengintai. Pernyataan mereka tentu tidak keliru, bahkan saya juga sejatinya sepakat bahwa kita semestinya tidak tinggal diam kala menyaksikan ketidakadilan. Tapi yang kemudian menjadikannya problematis adalah munculnya desakan tanpa melihat konteks peristiwa maupun latar belakang si influencer itu sendiri. Di era dimana warganet semakin brutal dan cancel culture merupakan suatu kelaziman, menyatakan pendapat bukan lagi hal yang mudah. Terlebih jika isu yang disuarakan terhitung sensitif dan kompleks. Rentan memercik debat kusir berlarut-larut dari beberapa pihak dengan perspektif berbeda, rentan menyalurkan informasi berbahaya apabila tak dibarengi pengetahuan mumpuni, dan kita tidak pernah tahu pula bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan pribadi si influencer. Bukan semata-mata berbincang soal karir, tetapi juga kehidupannya secara menyeluruh termasuk kesehatan mental. Apakah dia sudah siap menerima segala konsekuensi dari pernyataan politisnya yang sangat mungkin disalahartikan oleh pihak tertentu?

May 15, 2020

REVIEW : RICHARD JEWELL


“Richard Jewell is an innocent man. He’s a hero.”

Difitnah oleh mantan sahabat sendiri yang nggak punya kekuatan hukum saja sudah bikin hidup jungkir balik. Lalu coba bayangkan bagaimana rasanya kalau yang mengeluarkan tuduhan tak berdasar tersebut adalah dua pihak yang memiliki pengaruh sangat besar bagi publik? Dalam konteks ini, pemerintah dan media. Rasa-rasanya semua bisa sepakat, “bagai hidup di neraka” adalah jawabnya. Ruang privasi diterabas sehingga tidak ada kesempatan untuk berjalan-jalan santai bersama anjing peliharaan, impian yang sudah dibangun tinggi-tinggi mesti ditinjau ulang, dan kebahagiaan yang tersisa jelas sirna lantaran waktu beserta tenaga sepenuhnya difokuskan guna mencari solusi untuk membersihkan nama. Seolah keadaan belum cukup buruk, kita pun akan mulai bertanya-tanya, “siapa kawan dan pihak keluarga yang masih bisa dipercaya?” Pedih, sungguh pedih. Sampai pada titik ini kamu mungkin mengira, situasi ajaib tersebut hanya mungkin terjadi di film thriller konspirasi buatan Hollywood. Dan memang benar, ini adalah konflik utama yang menggerakkan narasi dalam Richard Jewell yang merupakan karya ke-38 dari Opa Clint Eastwood. Tapi satu hal yang membedakannya dengan tontonan berplot sejenis, permasalahan dalam film ini beranjak dari artikel di Vanity Fair bertajuk “American Nightmare: The Ballad of Richard Jewell” beserta buku berjudul “The Suspect: An Olympic Bombing, the FBI, the Media, and Richard Jewell, the Man Caught in the Middle” yang berada di jalur nonfiksi. Itu artinya, apa yang dialami oleh si karakter utama merupakan satu pengalaman nyata yang memang pernah berlangsung di masa lampau.

May 12, 2020

REVIEW : LOVE YOU TO THE STARS AND BACK


“Nothing is sure. But sometimes, you just have to believe.”

Love You to the Stars and Back adalah film percintaan yang menggemaskan. Tipe tontonan romantis yang akan membuatmu tersenyum-senyum setiap kali menyaksikan interaksi dua sejoli utama serta sesekali menyeka air mata haru. Tapi mendeskripsikan film arahan Antoinette Jadaone – dia juga menggarap That Thing Called Tadhana (2014) dan Never Not Love You (2018) yang wajib simak – ini semata-mata dengan kata “menggemaskan” kok rasanya agak mengecilkan filmnya itu sendiri ya? Kata tersebut jelas tidak bersinonim erat dengan makna peyorasi dan pada dasarnya sudah cukup untuk menegaskan bahwa film yang hamba maksud telah menggoreskan kesan sangat baik di hati. Hanya saja, Love You to the Stars and Back bukanlah sebuah sajian romansa untuk remaja yang picisan dimana selama durasi mengalun kita dihadapkan pada narasi bertemakan “benci jadi sayang” atau “teman jadi cinta” semata bertabur dialog-dialog puitis melenakan. Jadaone mengupayakan agar karyanya ini berbicara lebih dari itu dengan mengedepankan topik yang serius, realistis, serta relevan bagi banyak pihak. Tentang bagaimana manusia memandang kehidupan, berdamai dengan duka yang menganga, sampai menilai kematian sebagai solusi terbaik dalam menuntaskan problematika yang melilit. Berat? Kedengarannya memang demikian, sampai kamu memutuskan untuk menonton filmnya sendiri yang menghadirkan warna pengisahan (ehem) menggemaskan dibalik narasinya yang sejatinya mempunyai warna bertolak belakang.

May 5, 2020

REVIEW : THAPPAD


“Sometimes, doing the right thing doesn't always end in happiness.”

Tahun lalu, perfilman Korea Selatan menyuguhi kita sebuah sajian mengusik pemikiran dan mengoyak hati bertajuk Kim Ji-young Born 1982. Dalam film yang memancing amarah kaum-kaum pemuja patriarki tersebut, penonton memperoleh sedikit banyak pandangan mengenai kultur di Negeri Gingseng yang seksis dan misoginis terhadap perempuan. Karakter utama dalam film tersebut dikisahkan mengidap depresi bukan saja disebabkan oleh melahirkan (dengan kata lain, postpartum depression) tetapi juga akumulasi tekanan demi tekanan dari orang di sekelilingnya selama menahun yang terus direpresinya. Tekanan berwujud memenuhi ekspektasi untuk menjalankan peran gender secara tradisional dimana perempuan semestinya di rumah alih-alih berkarir, dan tekanan berupa menghadapi cibiran society yang kerap mengecilkan kinerjanya sebagai ibu rumah tangga. Kita ikut nelangsa menyaksikan ketidakadilan yang terus merongrongnya di sepanjang durasi sampai-sampai tak tahan untuk nyeletuk, “gini amat ya hidup di Korea?”. Kenyataannya, persoalan ini tidak semata-mata mendarah daging di Korea dan jamak dijumpai pula di negara-negara Asia lain termasuk Indonesia serta India yang belakangan mulai rajin menyuarakan kritiknya mengenai kesetaraan gender maupun pelecehan melalui medium film layar lebar. Yang terbaru – dan sedikit banyak memiliki keserupaan dengan ceritanya Mbak Kim – adalah Thappad (Slap) garapan Anubhav Sinha (Mulk, Article 15) dimana akar permasalahannya bermula dari sebuah tamparan yang tak disangka-sangka di sebuah pesta.

March 23, 2020

REVIEW : THE PLATFORM (EL HOYO)


“There are 3 kinds of people; the ones above, the ones below, and the ones who fall.”

Saat Covid-19 dinyatakan secara resmi sebagai wabah oleh WHO (World Health Organization), masyarakat di berbagai penjuru kota dan negara seketika tumplek blek ke apotek maupun pasar swalayan guna memborong kebutuhan sehari-hari yang sifatnya mendesak. Didorong oleh kepanikan seolah tak ada lagi hari esok, masker pun mendadak menjadi barang langka begitu juga dengan hand sanitizer serta tisu toilet. Sulit sekali mendapatkannya dan jikalau ada, harganya bisa membumbung tinggi melampaui batas kewajaran. Saya pun hanya bisa berpasrah seraya geleng-geleng kepala menyaksikan betapa keserakahan dan keegoisan telah menghinggapi manusia-manusia ini. Di kala situasi telah memasuki fase genting, mereka justru memilih untuk menyelamatkan diri sendiri ketimbang bersikap solider kepada sesama dan mengulurkan tangan atas nama kemanusiaan. Ya, beberapa orang memang akan menunjukkan rupa sesungguhnya saat sedang terdesak, putus asa, serta ketakutan. Mengerikan, bukan? Oleh Galder Gaztelu-Urrutia, sisi kelam manusia yang mencuat kala kepepet ini ditranslasikan secara ciamik ke dalam medium audio visual melalui film bertajuk El hoyo atau The Platform dalam bahasa Inggris. Menginjakkan kaki di genre horor-fiksi ilmiah, film mencoba untuk memberikan visualisasi atas satu premis yang tak saja menggelitik tetapi juga menarik perhatian. Premis tersebut berbunyi, “bagaimana jika ada sebuah penjara yang menyediakan makanan-makanan lezat sesuai dengan jumlah penghuni? Akankah mereka bersedia untuk berbagi agar kebutuhan yang lain turut tercukupi, atau keserakahan akan mengambil alih kendali?”

March 16, 2020

REVIEW : MARIPOSA


“Cinta itu emang ribet. Tapi yang ribet itu yang bikin hidup kita seru.”

Duo Angga Yunanda dan Adhisty Zara pertama kali dipertemukan dalam Dua Garis Biru (2019) yang tanpa dinyana-nyana, menduduki klasemen atas dalam perolehan penonton. Kesanggupan keduanya dalam membentuk chemistry lekat di film tersebut bukan saja menghadirkan puja-puji, tetapi juga mendorong khalayak ramai untuk menobatkan mereka sebagai pasangan on-screen kesayangan masa kini selayaknya Nicholas Saputra-Dian Sastrowardoyo. Zarangga FTW lah pokoknya (!). Usai “berpisah jalan” untuk sejenak demi menjalankan proyek film masing-masing, mereka lantas kembali dipersatukan melalui film adaptasi Wattpad populer rekaan Luluk HF, Mariposa, yang berada di jalur cenderung berbeda dari perjumpaan awal keduanya. Mengikuti materi aslinya yang menyasar pembaca usia belasan, film garapan Fajar Bustomi (Milea Suara Dari Dilan, Surat Kecil Untuk Tuhan) ini mengedepankan jalinan pengisahan yang menghindari kompeksitas dan lebih menonjolkan pada aspek keunyuan. Pada dasarnya, narasi yang dicelotehkan oleh Mariposa ini pun sebatas memberikan tanda centang terhadap komposisi pembentuk cerita percintaan di Wattpad yang tak pernah jauh-jauh dari: 1) bad boy atau cowok dingin yang digandrungi oleh para cewek sebagai tokoh utama, 2) dialog berisi gombalan-gombalan agak nyeleneh yang bikin penggemar beratnya senyum-senyum gemas, dan 3) nama karakter yang tak pernah terbayang sebelumnya. Ditengok dari permukaannya semata, Mariposa memang terlihat tak memberi pembeda dengan film-film adaptasi sejenis. Tapi saat saya bersedia memberinya kesempatan dengan menontonnya di bioskop, pada saat itulah saya menyadari tengah menyaksikan salah satu film percintaan remaja terbaik buatan sineas Indonesia.

March 7, 2020

REVIEW : MEKAH I'M COMING


“Sayang itu boleh. Tapi kalau halu jangan maksimal.”

Sebagian dari kita mengenal pasangan layar perak Michelle Ziudith-Rizky Nazar melalui serentetan film drama romantis mendayu-dayu. Sebut saja Magic Hour (2015), ILY from 38.000 FT (2016), serta London Love Story 2 (2017) yang cukup bikin hamba mengalami migrain akibat jalinan pengisahannya yang luar biasa dramatis dan dialog-dialognya yang akan membuat Kahlil Gibran meratap di kuburnya. Lalu usai tak saling beradu kemesraan untuk beberapa saat, keduanya dipasangkan lagi dalam Calon Bini (2019) yang diniatkan sebagai pembeda. Menjejakkan kaki di ranah komedi kultural – maksudnya, sedikit mengusung unsur kedaerahan – film tersebut memang terdengar segar… sampai kemudian saya menyaksikan eksekusinya yang serba minimalis. Tak ubahnya FTV yang acapkali bersliweran di salah satu stasiun televisi lengkap dengan segala stereotip karakternya. Seketika, ingin rasanya diri ini menanges di bawah pancuran. Itulah mengapa saat mereka dikabarkan akan dipertemukan kembali dalam Mekah I’m Coming (sebelumnya berjudul Haji Hoax), saya tak langsung melirik. Ada sepercik keraguan hasil akhirnya bakal menyerupai Calon Bini terlebih film ini pun menempatkan dirinya sebagai komedi kultural dengan latar Jawa (baca: Yogyakarta dan sekitarnya). Yang kemudian membuat saya lantas menoleh lalu berubah pikiran, itu disebabkan oleh setidaknya tiga faktor: 1) trailer yang menggelitik, 2) nama-nama yang terlibat di belakang layar seperti Hanung Bramantyo selaku produser dan Jeihan Angga dalam debut penyutradaraan film panjangnya, serta 3) premis. Bukan sebatas jodoh-jodohan atau nikah-nikahan, Mekah I’m Coming turut mengemukakan isu yang sempat santer di negeri ini terkait penipuan oleh biro perjalanan umrah yang dikemas dalam bentuk sajian satir penuh canda tawa. Menggugah selera, bukan?

March 5, 2020

REVIEW : ONWARD


“I was supossed to say goodbye, but I was scared. That’s when I decided I was never going to be scared again.”

Kehilangan figur orang tua bukanlah perkara mudah, terlebih dalam usia relatif muda. Terasa ada yang kosong, terasa ada kurang lengkap, dan tentu saja terasa memilukan saat kamu sempat berbagi momen penuh kegembiraan selama beberapa waktu. Pixar – maupun si induk semang, Disney – kerap mengulik tema kehilangan dalam keluarga berulang kali dalam film-film rilisan mereka, entah sebagai topik pembicaraan utama atau dibubuhkan sebatas untuk memperkuat karakteristik si tokoh utama. Dari Finding Nemo (2003), Up (2009), The Good Dinosaur (2015) sampai Coco (2017), kita kerap mendapati narasi menyoal berdamai dengan duka pasca ditinggal pergi oleh orang terkasih. Obrolan ini memang berpotensi membuat tangis pecah, tapi pihak pembuat film justru tidak berminat menenggelamkan penonton ke dalam kesedihan, dan lebih memilih untuk menghadirkan keriangan beserta optimisme dibalik isu pilu yang disodorkan. Melalui karya terbaru Pixar, Onward, yang menandai karya orisinal pertama bagi studio animasi ini sejak Coco, kematian dan kehilangan kembali dikedepankan sebagai bahan perbincangan. Inspirasinya berasal dari sang sutradara, Dan Scanlon (Monsters University), yang tak memiliki kesempatan untuk bercengkrama dengan ayahnya yang wafat di saat usianya masih amat belia dan hanya mengenalnya lewat rekaman suara yang diberikan oleh sang paman. Dari pengalamannya ini, Scanlon lantas mengkreasi premis berbunyi “bagaimana jadinya kalau kamu memiliki kesempatan selama satu hari untuk bertemu lagi dengan orang tuamu yang telah tiada?” yang kemudian diejawantahkannya ke dalam satu sajian petualangan seru nan lucu yang bertabur unsur magis di dalamnya. 

March 3, 2020

REVIEW : THE INVISIBLE MAN


“He said that wherever I went, he would find me. Walk right up to me, and I wouldn’t be able to see him.”

Pada mulanya, The Invisible Man yang didasarkan pada novel berjudul sama rekaan H.G. Wells ini dipersiapkan sebagai salah satu instalmen dalam Dark Universe. Sebuah semesta penceritaan sejenis MCU (Marvel Cinematic Universe) yang mempertemukan monster-monster klasik kepunyaan Universal Pictures. Tapi saat The Mummy (2017) yang dibintangi oleh Tom Cruise dihajar habis-habisan oleh kritikus dan babak belur pula di tangga box office, para petinggi studio pun seketika mundur teratur. Rencana untuk merekrut Johnny Depp sebagai bintang utama film ini dienyahkan, begitu pula dengan rencana untuk mengembangkan Dark Universe. Sebagai ganti konsep kelewat ambisius yang rontok di awal perjalanan tersebut, mereka menciptakan sebuah sajian seram yang berdiri sendiri tanpa ada kesinambungan dengan judul-judul lain. Guna merealisasikan proyek The Invisible Man, pihak studio lantas bekerja sama dengan Blumhouse Productions yang telah menunjukkan ketertarikan pada properti horor milik Universal Pictures sedari lama. Selaiknya film-film lain hasil keluaran Blumhouse, The Invisible Man pun tidak didesain sebagai tontonan berbujet raksasa. Memperoleh suntikan pendanaan “hanya” sebesar $7 juta, film yang menempatkan Leigh Whannell (Insidious Chapter 3, Upgrade) di kursi penyutradaraan ini mencoba mendekonstruksi narasi dengan mengambil perspektif penceritaan dari korban alih-alih pelaku. Itulah mengapa sekalipun bertajuk “lelaki gaib”, film justru menunjuk Elisabeth Moss untuk mengisi garda terdepan departemen akting.

March 2, 2020

REVIEW : TEMAN TAPI MENIKAH 2


“Semua orang punya pengalamannya masing-masing. Nggak bisa disamain.”

Kalau kamu telah membaca ulasan-ulasan di sini sedari beberapa tahun lalu tentu tahu, saya sangat menyukai Teman Tapi Menikah (2018). Saking gandrungnya, saya bahkan menahbiskannya sebagai film Indonesia terfavorit di tahun 2018. Betapa tidak, digarap oleh Rako Prijanto (3 Nafas Likas, Asal Kau Bahagia) berdasarkan buku bertajuk sama rekaan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion, film bergenre drama romantis ini tanpa dinyana-nyana mampu tampil menyenangkan. Tatkala film sejenis berlomba-lomba untuk menyelipkan dialog ala pujangga dan mengedepankan karakter cowok slengean, Teman Tapi Menikah memilih bertutur secara sederhana nan apa adanya mengikuti premis klasiknya yang dekat dengan realita. Premis seputar jatuh cinta pada sahabat sendiri dikemas dalam narasi manis-manis menggemaskan yang acapkali bersumber dari kecanggungan interaksi duo “sahabat rasa pacar, pacar rasa sahabat”, dan ditunjang oleh chemistry padu Adipati Dolken bersama Vanesha Prescilla. Alhasil, selama menonton saya pun dibuat tertawa, gregetan bukan main, tersipu-sipu, tersentuh, sampai mengembangkan senyum lebar. Rentetan perasaan yang jarang hamba jumpai di sajian romansa negeri ini, khususnya yang secara khusus menyasar penonton remaja. Maka begitu film kelanjutannya bertajuk Teman Tapi Menikah 2 dibuat – well, selain film pertamanya memang sukses, bukunya pun berlanjut ke jilid dua – saya tentu mengantisipasi kehadirannya. Menantikan sensasi rasa apa lagi yang dipersembahkan oleh film yang sekali ini menghadirkan problematika yang lebih dewasa dan kompleks dibanding pendahulunya.

February 23, 2020

REVIEW : THE GENTLEMEN


“If you wish to be the king of the jungle, it’s not enough to act like a king. You must be the king. There can be no doubt. Because doubt causes chaos and one’s own demise.”

Usai beberapa tahun terakhir dipercaya untuk menggarap film-film produksi studio besar semacam Sherlock Holmes (2009), The Man from U.N.C.L.E. (2015), King Arthur: Legend of the Sword (2017), sampai versi live action dari Aladdin (2019), Guy Ritchie mencoba untuk kembali ke akarnya yang menapaki ranah komedi-aksi-kriminal dalam film terbarunya yang bertajuk The Gentlemen. Bagi yang telah mengikuti jejak rekam sang sutradara sedari awal mula karirnya, tentu mengetahui bahwa namanya melambung berkat pengarahannya yang penuh gaya di Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998). Bersama dengan Snatch (2000), Ritchie dikenal melalui kegemarannya bermain-main dengan narasi berkenaan dunia para pelaku kriminal di Inggris, gaya penyuntingan yang rancak, penggunaan visual gerak lambat, serta struktur penceritaan yang enggan dipaparkan secara linear. Meski satu dua ciri khasnya tetap dipertahankan kala dirinya membesut film adaptasi berbujet raksasa, tapi dia baru benar-benar resmi kembali ke sajian yang membesarkannya lewat The Gentlemen. Disini, dia sekali lagi mengandalkan pemain ansambel pria untuk melakoni manusia-manusia serakah yang tak berkeberatan bertindak melewati batas guna memuaskan ego, merengkuh keuntungan bagi diri sendiri, serta bertahan hidup. Sebuah potret kelam manusia yang dihantarkan dalam mode komedi laga yang penuh kesenangan, gelak tawa, dan kesukaan penonton masa kini: plot twist.  

February 18, 2020

REVIEW : LITTLE WOMEN


“Women have minds and souls, as well as hearts, ambition, and talent, as well as beauty. I'm so sick of being told that love is all a woman is fit for. But… I am so lonely.”

Novel Little Women rekaan Louisa May Alcott yang dirilis pada tahun 1868 memang memiliki jalinan pengisahan yang sederhana. Narasinya mengetengahkan pada proses pendewasaan diri dari empat putri keluarga March di masa berlangsungnya Perang Sipil Amerika Serikat. Akan tetapi, justru kesederhanaannya inilah yang membuat novel tersebut memperoleh sertifikat “klasik”, seraya merebut hati khalayak ramai lintas generasi. Terlebih lagi, jajaran karakternya terasa membumi sehingga banyak pembaca mampu teresonansi dengan lika-liku persoalan yang mereka hadapi, dan topik pembicaraan yang diapungkan oleh si penulis pun akan tetap relevan sampai kapanpun. Mengenai keluarga, cinta, mimpi, pengorbanan, sampai kemanusiaan. Menilik betapa langgengnya konten dari Little Women – plus seberapa universalnya kisah yang disampaikan – tak heran jika kemudian para sineas Hollywood terus mengekranisasinya dari era ke era. Total jendral ada tujuh versi telah dicipta dimana sejumlah bintang besar turut berpartisipasi di setiap versi seperti Katharine Hepburn (1933), Elizabeth Taylor (1949), hingga kombinasi Winona Ryder-Kirsten Dunst-Claire Danes di tahun 1994. Upaya terbaru untuk melestarikan warisan Alcott dengan cara memperkenalkan cerita ini ke generasi muda ditempuh oleh Greta Gerwig (Frances Ha, Lady Bird) melalui film berjudul sama persis, Little Women, yang sekali ini menggaet Saoirse Ronan, Emma Watson, Florence Pugh, Timothee Chalamet, Laura Dern, serta Meryl Streep. Sebuah jajaran pemain ansambel yang memberi kita satu definisi dari kata “menggiurkan”.

January 29, 2020

REVIEW : 1917


“I hoped today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

Saat melangkahkan kaki ke bioskop untuk menonton 1917, saya sejatinya sudah tahu akan menyaksikan film yang bagus. Materi promosinya terlihat menggiurkan, kritikus asing menghujaninya dengan puja-puji, dan para juri Oscar pun tidak keberatan untuk menempatkan film ini sebagai nomine ke dalam 10 kategori. Singkat kata, mustahil untuk tidak menanamkan ekspektasi tinggi kala menonton 1917. Mengira mungkin diri ini tidak akan terlampau terpukau – well, umumnya pengharapan kelewat tinggi justru berbanding terbalik dengan realita – nyatanya saya justru ingin memberikan standing ovation selepas lampu bioskop dinyalakan seraya mengusap satu dua bulir air mata yang menuruni pipi. Sungguh, mahakarya adalah satu kata yang teramat cocok untuk mendeskripsikan seperti apa 1917. Jika saja Sam Mendes (American Beauty, Skyfall) berada di ruang pemutaran kala itu, mungkin saya sudah menjabat tangannya erat-erat lalu memberinya pelukan. Rangkaian kata-kata ini mungkin terdengar amat hiperbolis, tapi sepanjang durasi merentang sepanjang 120 menit, hamba memang tak henti-hentinya dibuat terkagum-kagum oleh kepiawaian Pak Mendes dalam menghaturkan “dongengnya” mengenai sepenggal peristiwa yang terjadi dalam Perang Dunia pertama. Sebuah “dongeng” bermuatan topik yang jarang disentuh dalam genre war movies oleh sineas Hollywood ini diimplementasikan dengan sangat mengagumkan ke dalam bahasa audio visual. Tidak semata-mata membuai penonton melalui keajaiban teknisnya, 1917 juga menghanyutkan berkat narasinya yang memiliki hati.

January 22, 2020

REVIEW : BAD BOYS FOR LIFE


“I’ve never trusted anybody but you. I’m asking you, man. Bad Boys, one last time?”

Let me ask you a question, adakah diantara kalian yang menantikan Bad Boys for Life alias jilid ketiga dari Bad Boys? Ada? Tidak?... atau malah justru sama sekali tidak peduli? Saya pribadi sih, tidak menempatkannya ke dalam daftar wajib tonton di tahun 2020. Jilid pertamanya yang dirilis pada tahun 1995 memang keren. Melalui film tersebut, saya diperkenalkan kepada seorang sutradara bernama Michael Bay yang ternyata kompeten dalam mengkreasi tontonan laga, dan seorang aktor bernama Will Smith yang layak menyandang predikat “aktor laga masa depan”. Tapi sekuelnya bertajuk Bad Boys II (2003) tak ubahnya sajian kreasi Bay dalam beberapa tahun terakhir. Berdurasi sangat panjang dimana sebagian besar durasi diisi laga bombastis yang cenderung melelahkan dan tak ada guliran pengisahan yang membuat kita peduli kepada para karakter dalam film. Singkatnya, mewah tapi begitu kosong sampai-sampai mudah dilupakan. Maka begitu film kelanjutannya diputuskan untuk diluncurkan pada bulan Januari yang identik dengan “film buangan” usai proses pengembangan yang panjang nan berliku-liku, dan digarap oleh duo asal Belgia, Adil El Arbi-Bilall Fallah, yang jejak rekamnya belum banyak diketahui oleh publik internasional, tentu tak ada yang lebih bijak selain enggan menanamkan ekspektasi apapun kepada Bad Boys for Life. Dilingkupi sikap skeptis bahkan cenderung mencibir saat melangkahkan kaki ke bioskop, alangkah terkejutnya saya begitu mendapati film ini ternyata sangatlah menghibur. Malah, saya sama sekali tidak ragu untuk menyebut Bad Boys for Life sebagai seri terbaik dalam franchise-nya.

December 20, 2019

REVIEW : IMPERFECT


“Jika kesempurnaan membuatmu bahagia, maka beri aku waktu untuk belajar menerima itu. Karena aku terlanjur mencintai ketidaksempurnaanmu.”

Siapa sih yang tidak pernah merasa insecure? Rasa-rasanya, setiap manusia di muka bumi ini pernah mengalaminya dalam satu fase hidupnya dengan kadar yang tentu berbeda-beda. Ada yang minor sehingga beberapa waktu kemudian lantas bisa menghempaskannya dari pikiran, tapi tak sedikit pula yang major sampai-sampai mempengaruhi setiap langkah dalam kehidupannya. Imbasnya, rasa percaya diri pun merosot drastis yang menyulitkannya untuk berpikir positif. Biasanya, efek yang sedemikian besar tersebut dipicu adanya bullying atau body shaming dari lingkungan sekitar. Ujaran semacam “kamu gendutan ya?”, “kamu kurus banget deh, nggak pernah makan ya?”, maupun “kulitmu item banget,” yang umumnya dipergunakan sebagai kalimat pembuka dari suatu basa-basi, tanpa disadari telah berkembang menjadi sesuatu yang beracun dan berbahaya. Terlebih lagi, kita hidup di era dimana media menciptakan standar kecantikan/ketampanan diluar batas kewajaran yang membuat perasaan insecure menjadi semakin membumbung tinggi serta sulit dikendalikan. Menyadari adanya fenomena tidak sehat yang tengah menggerogoti generasi muda masa kini, Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah, Milly & Mamet) pun berinisiatif untuk mengkreasi tontonan bertajuk Imperfect yang disadur dari buku non-fiksi berjudul sama rekaan sang istri, Meira Anastasia. Melalui buku tersebut serta film ini, pasangan Ernest-Meira mencoba menggaungkan pesan positif untuk kita semua yang sedang (atau pernah) merasa rendah diri akibat penampilan fisik yang tidak termasuk dalam kriteria sempurna. Pesan tersebut berbunyi, “tidak apa-apa untuk menjadi tidak sempurna karena yang terpenting bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi pribadi yang bahagia dan berguna bagi sesama.”

Dalam ya?

December 14, 2019

REVIEW : KNIVES OUT


“The family is truly desperate. And when people get desperate, the knives come out.”

Saat menyaksikan Knives Out garapan Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) di layar lebar beberapa hari yang lalu, ada satu komentar yang seketika terlontar dari mulut saya selepas lampu bioskop dinyalakan: “wow!” Ya, saya dibuat jatuh hati oleh karya terbaru Johnson ini sampai-sampai saya tidak kesulitan untuk memberinya label sebagai “salah satu pengalaman sinematik paling mengasyikkan di tahun 2019.” Sebuah label yang tak pernah saya perkirakan akan disandang oleh Knives Out, meski saya pribadi telah menunjukkan ketertarikan hebat untuk menyantap film ini sedari materi promosinya ditebar. Pemicunya adalah, penyesuaian ekspektasi selepas menyimak versi terbaru dari Murder of the Orient Express (2017) yang tidak terlampau menggairahkan. Ada tiga persamaan yang menyatukan dua judul tersebut: 1) keduanya berdiri di jalur misteri dengan narasi ‘whodunit’ yang mengajak penonton untuk menerka-nerka si dalang pembunuhan, 2) keduanya mengedepankan pelakon-pelakon ternama untuk mengisi departemen akting, dan 3) keduanya memiliki keterkaitan dengan novel rekaan Agatha Christie – well, dalam kasus Knives Out, lebih ke terinspirasi pada pola pengisahannya. Memiliki sederet persamaan semacam ini, mau tidak mau antisipasi yang sebetulnya telah menjulang tinggi tadi lantas dibarengi dengan ekspektasi yang berada di level sedang. Saya tentu tidak mau dibuat kecewa untuk kedua kalinya, saudara-saudara! Untuk itulah diri ini lantas menekan pengharapan kala bertandang ke bioskop yang ternyata oh ternyata, malah berbuah manis tatkala mendapati bahwa Knives Out sanggup berdiri jauh di atas pencapaian “saudara tirinya” dan memberi saya sebuah sajian hiburan yang sangat memuaskan.

December 12, 2019

REVIEW : KIM JI-YOUNG BORN 1982


“Mengapa kamu berusaha sangat keras untuk melukai hati orang lain?”

Kim Ji-young Born 1982 adalah film yang sederhana. Jalinan pengisahannya tak berbelit-belit, dan cakupan skalanya pun kecil saja. Sebatas berkisar pada keseharian dari seorang ibu rumah tangga di Korea Selatan. Akan tetapi, film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Kim Do-young yang lebih dulu dikenal sebagai aktris ini merupakan sajian penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Satu alasan utamanya, topik berani yang dikedepankannya. Lebih dari sekadar slice of life, Kim Ji-young Born 1982 yang didasarkan pada novel berjudul sama rekaan Cho Nam-ju mengusung pembicaraan tentang racun patriarki yang terhitung jarang disinggung secara terang-terangan oleh film dari Negeri Ginseng. Apa pasal? Well, dibalik gemerlap industri hiburan yang dipancarkan melalui Korean Wave, ada setumpuk cerita kelam yang merambat di setiap sudut Korea Selatan. Budaya patriarki masih berdiri tegak dan sebagian besar publik memilih untuk menutup mata atas dampak merusak yang dimunculkannya. Pertanda bahwa ada pihak-pihak yang masih belum siap (atau justru enggan?) untuk mendiskusikan isu mengenai kesetaraan gender secara terbuka telah nampak sedari versi novelnya belum diejawantahkan ke dalam bahasa gambar. Personil grup musik perempuan Red Velvet, Irene, menerima kecaman sangat keras usai dirinya menyatakan telah membaca novel ini. Tidak tanggung-tanggung, ada aksi pembakaran foto Irene oleh mereka yang tidak menyetujui pilihan Irene, khususnya dari kalangan penggemar laki-laki. Sungguh ekstrim, bukan?
Mobile Edition
By Blogger Touch