May 19, 2017

REVIEW : THE INVISIBLE GUEST (CONTRATIEMPO)


“Focus on the details. They’ve always been in front of our eyes, but you have to analyze them from a different perspective.” 

Terakhir kali dibuat terperangah oleh tontonan thriller yakni dua tahun silam tatkala menyimak film asal India yang dibintangi Ajay Devgan, Drishyam. Mengetengahkan topik pembicaraan utama mengenai “seberapa jauh yang bisa dilakukan orang tua untuk menyelamatkan keluarganya”, film tersebut berhasil menjerat atensi sedari awal mula dengan tuturan berintensitas tinggi yang tergelar rapi dan pada akhirnya bikin geleng-geleng kepala saking kagumnya terhadap kapabilitas si pembuat film dalam mengkreasi suguhan mencekam sarat kejutan ini. Kepuasan tiada tara yang diperoleh usai menyimak Drishyam, lantas menimbulkan ekspektasi tinggi kepada gelaran sejenis yang muncul selepasnya. Tak ada satupun yang mampu menandingi apalagi melampaui sepanjang tahun 2016 sampai kemudian sutradara dari Spanyol, Oriol Paulo (The Body), mempersembahkan karya terbarunya yang amat mencengkram dan merupakan perwujudan dari gugatannya terkait keberpihakan hukum kepada manusia-manusia kaya bertajuk The Invisible Guest (atau dalam judul asli, Contratiempo) di kuartal pertama 2017. Jika Drishyam menaruh fokus penceritaan pada upaya seorang ayah dalam menjauhkan sang putri dari jeratan hukum, maka The Invisible Guest berkutat pada upaya seorang pria kaya dalam menyelamatkan dirinya sendiri berbekal kekuasaan yang dipunyainya. 

Si pria kaya dalam The Invisible Guest adalah Adrian Doria (Mario Casas), pebisnis muda yang karirnya tengah meroket tajam dan mempunyai keluaga kecil yang menyayanginya. Kesuksesan yang telah direngkuhnya di usia relatif muda ini sayangnya tak jua membuatnya puas hingga Adrian memutuskan menjalin hubungan gelap dengan seorang fotografer fashion, Laura Vidal (Barbara Lennie). Masalah besar lantas muncul dalam kehidupan Adrian ketika Laura ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel yang tertutup rapat. Mengingat pengakuan dari para saksi menyebut tidak ada orang lain yang meninggalkan kamar selepas kegaduhan terdengar, maka secara otomatis Adrian yang tengah berada di TKP ditetapkan sebagai tersangka. Guna membebaskan diri sekaligus membersihkan namanya, Adrian yang menyatakan dirinya tidak bersalah pun meminta bantuan kepada pengacara handal, Felix (Francesc Orella), yang lantas merekrut pula seorang ahli dengan spesialisasi dalam bidang ‘witness preparation’, Virginia Goodman (Ana Wagener), untuk mempersiapkan Adrian jelang pengadilan baru yang konon kabarnya melibatkan saksi misterius dari pihak jaksa penuntut. Sesi persiapan antara Adrian dengan Virginia yang diperkirakan akan berlangsung lancar tanpa hambatan nyatanya justru berjalan rumit tatkala terungkap satu demi satu fakta yang selama ini sengaja dipelintir demi menyelamatkan nama baik sang tersangka. 

Tanpa banyak berbasa-basi, Oriol Paulo langsung mempertemukan penonton dengan Virginia dan membawa kita memasuki apartemen Adrian guna mengikuti sesi persiapan jelang persidangan. Adrian lantas menarasikan mengenai apa yang menurutnya terjadi di kamar hotel sebelum Laura ditemukan dalam kondisi telah meregang nyawa oleh pihak berwajib. Virginia yang pekerjaannya menuntut dia untuk senantiasa memperhatikan detail sekaligus menaruh kecurigaan, merasakan adanya kejanggalan dibalik cerita sang klien. Ini menjadi persoalan baginya yang mempunyai catatan impresif sepanjang karirnya karena ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh jaksa penuntut untuk mengalahkannya di kasus terakhir yang ditanganinya. Virginia pun mendesak Adrian secara keras untuk membeberkan peristiwa yang belum pernah diungkapkannya ke pihak lain karena kebohongan tidak akan menuntun mereka kemanapun. Selepas mendengar pengakuan pertama inilah, tensi dari The Invisible Guest yang sebetulnya sudah diatur di level sedang oleh si pembuat film sedari menit pembuka perlahan tapi pasti mulai mengalami eskalasi. Seperti halnya Virginia, penonton akan secara otomatis menaruh keraguan terhadap Adrian: apakah kronologi peristiwa yang dipaparkannya adalah sebentuk fakta atau ada kebenaran yang disembunyikannya sehingga menempatkannya sebagai narator tidak bisa dipercaya?


Lalu, cerita kedua mengemuka. Oriol Paulo tidak lagi memboyong penonton untuk menelusuri TKP, melainkan menarik tuturan jauh ke belakang sebelum Adrian dan Laura menjejakkan kaki di hotel. Pemantiknya, sebuah headline di surat kabar. Berdasarkan cerita kedua yang berujung pada kasus memilukan tak terpecahkan, baik kedua tokoh utama maupun penonton kemudian menelurkan hipotesis atas keterkaitannya terhadap kasus pembunuhan Laura di ruang tertutup. The Invisible Guest makin berasa mengasyikkan lantaran kita tidak pernah benar-benar bisa yakin mengenai apa yang selanjutnya terjadi. Ya, Oriol Paulo amat cerdik dalam mengatur tempo film. Dia paham betul kapan seharusnya mengecoh penonton yang seolah-olah diposisikan sebagai juri dalam persidangan dengan kebohongan yang dipermak sedemikian rupa sehingga amat menyerupai kenyataan dan kapan seharusnya menggelontorkan bukti-bukti otentik. Dengan ritme penceritaan yang senantiasa bergegas, jelas dibutuhkan konsentrasi selama menyaksikan The Invisible Guest. Sedikit saja terdistraksi, kepingan-kepingan bukti yang telah susah payah disusun sejak awal bisa jadi akan berakhir berantakan atau menuntut disusun ulang. Seperti diutarakan oleh Virginia dalam satu adegan, “fokuslah pada detil.” Apabila sanggup menurutinya, bukan tidak mungkin kamu akan bisa menerka kemana film bakal bermuara. 

Apakah dengan diri ini menganggap telah bisa menebak kenyataan yang tersembunyi, film seketika kehilangan daya cengkramnya? Tidak semudah itu, Tuan dan Nyonya. Nuansa mencekam masih bisa dirasakan, terlebih The Invisible Guest punya sokongan sinematografi apik yang membentuk mood tontonan yang condong ke arah suram mencekam sekaligus atraksi lakonan mengagumkan dari keempat pemain sentralnya; Mario Casas, Ana Wagener, Barbara Lennie, serta Jose Coronado sebagai seorang ayah yang berupaya keras menemukan keadilan. Para pelakon ini turut mendorong terwujudnya keinginan sang sutradara untuk terus mengombang-ambingkan dugaan penonton lewat serentetan kelokan mengejutkan yang secara mengagumkan dapat terajut begitu rapi. Baik Casas, Wagener, Lennie, maupun Coronado masing-masing menunjukkan ambiguitas dalam karakter yang mereka perankan; terkadang tampak terguncang dan rapuh, terkadang pula tampak sukar dipercaya dan mencurigakan, yang menjerat keingintahuan penonton untuk mengetahui motivasi dibalik tindakan mereka. Satu yang tampak jelas, Adrian ingin menyelamatkan karir dan nama baiknya. Melalui sosok Adrian inilah, Oriol Paulo menyuarakan kritik terhadap keberpihakan hukum kepada mereka yang mempunyai uang dan kekuasaan. Dibubuhkan sesuai takaran, kritik pun terasa sangat relevan dan menyentil yang berjasa pula dalam membantu menempatkan The Invisible Guest sebagai film thriller papan atas. Seriously, you should definitely not miss this one!

Outstanding (4,5/5)


21 comments:

  1. Nonton dimana ini bro...
    Di bioskop kok gak ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nonton lewat jalur ilegal alias donlotan. Hahaha.

      Delete
  2. I like it. Sinematografinya enak banget. Transisi per adegan smooth. Tiap scene didetail dengan seksama, tak ada yanh terbuang. Paling suka adegan mobil kecelakaan, jadi teringat adegan tusuk2an di i saw the devil. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Setiap detik dari film ini emang berharga. Selalu ada detil baru yang muncul. Dan adegan kecelakaan itu... Looks so real. Ngeri liatnya.

      Delete
    2. Oh no, jadi ada adegan darah-darah ngeri ya? Hmm... padahal udah semangat mau nonton, tapi jadi mikir lagi.. x(

      Delete
  3. Akhirnya sudah nonton karena penasaran sangat. Dan wow, ini film keren sih betul. Suka suka suka. Terima kasih sudah diberikan film yang bagus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehe. Dengan senang hati. Gimana, apa kamu terkaget kaget dengan endingnya yang edan banget itu?

      Delete
  4. Inget kata kata ibu virginia.. "kamu tidaklah lebih pintar daripada saya" hahahaha twist endingnya paling gila sih ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneran melongo pas terungkap kebenarannya. Ikutan ketipu. Hahahaha.

      Delete
  5. Aku kemarin baru nonton dan emang ini film kerennya kebangetan sih, sinematografi dan skenarionya bagus banget.
    Jadi yang bunuh Laura siapa(?) xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibunuh oleh Adrian. Kronologi peristiwa yang dijabarkan paling akhir oleh Virginia itu kebenarannya.

      Delete
  6. Njayy ini film keren banget, rekomen buat yang suka film2 genre2 ala detektif atau pembunuhan kayak gini. Endingnya gilak!
    Dan gara2 film Drishyam jd suka film india haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian cobain Kahaani seri pertama, Talvar dan Talaash yang juga gila seperti Drishyam :)

      Delete
  7. Sampe harus nonton 2 kali untuk benar2 memahami film ini. Ada rekomen film sehenis ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jajalin Drishyam, The Body, Kahaani, Loft (versi Belgia bukan Hollywood), Fracture, dan Tell No One.

      Delete
  8. Faakkk keren gila ni film, thx rekomendasinya 👏

    ReplyDelete
  9. barusan liat dan penasaran googling review gmn ekspetasi org2 stelah nonton. ternyata ga jauh... wow bngt ceirtanya. mudah dipahami cuma harus sedikit lebih fokus krn tiap menitnya akan selalu ada alur cerita yg diubah semaunya imanijanasi actor2nya. kalo dipisah2in tu alur cerita bisa jadi 5 film sendiri tuh wkwk

    ReplyDelete
  10. entah kenapa, di pertengahan sadar sih kalo si virginia itu ibunya korban soalnya si virginia dari awal ngomongin terus "lihat detail nya adrian" jadi kaya ngaish clue bahwa kita harus liat detail tiap scene dan yuppps dugaanku benar, tapi tetep aja ngerasa ini film bagus bener, beda, akuaering nonton film yg bnyak twist ny juga masih ngerasa kaget bener, krn film enya emg ambil topik dunia nyata bgt sih dimana setiap tersangka akan melakuan berbagai macam cara untuk menutupi kejahatannya dan disuguhkan denga penuh teka teki. nice review

    ReplyDelete
  11. Masih bingung. Yg tau boleh bales. Kenapa sebelum adrian ngaku korbannya awalnya masih hidup, si virginia sempet bikin ceritanya seakan akan ayah korbannya yang bersalah? Padahal kan dia di pihak ayah itu.
    Walau ujungnya ketahuan yg asli. Tp bingung aja kenapa sempet kebuat skenario yg kayak gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya masing2 adrian maupun si virginia bikin rekaan masing2, supaya adrian nya ngerasa ketipu n jawab yg sejujurnya. Pun sebaliknya

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch