August 11, 2017

REVIEW : RAFATHAR


“Ini bukan bayi biasa. Ini bayi mutan, Bos.” 

Ada satu film keluarga dari era 90-an yang rutin ditayangkan beberapa bulan sekali oleh salah satu televisi swasta tanah air berjudul Baby’s Day Out (1994). Dalam film tersebut, kita melihat serentetan kekonyolan yang dialami sejumlah pelaku tindak kriminal akibat dipecundangi seorang bayi yang mereka culik dari keluarga kaya. Guliran penceritaan kurang lebih senada bisa dijumpai pula dalam film laga berbumbu komedi Rob-B-Hood (2006) yang dibintangi Jackie Chan dan film komedi romantis Demi Cinta (2017), produksi MNC Pictures dimana para penculik malah dibuat jatuh hati kepada si bayi. Dari ketiga film tersebut, bisa ditarik benang merah bahwa pekerjaan menculik bayi dalam film fiktif yang sepintas tampak sangat mudah dieksekusi rupanya jauh lebih memusingkan dari yang perkirakan. Percobaan terbaru dalam menjalankan misi ‘menculik bayi’ dilakukan oleh Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dalam Rafathar (2017) yang konon dibuat sebagai kado ulang tahun bagi putra tercinta mereka, Rafathar Malik Ahmad. Bekerjasama dengan Umbara bersaudara; Bounty sebagai sutradara sementara Anggy di kursi produser, Rafathar dikreasi sebagai film laga komedi yang diharapkan mampu menghibur seluruh anggota keluarga. Berhasilkah? 

Rafathar berkisah mengenai sepasang perampok profesional bernama Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) yang ditugaskan oleh atasannya, Bos Viktor (Agus Kuncoro), untuk menculik seorang bayi, Rafathar (Rafathar Malik Ahmad), yang diadopsi oleh pasangan kaya, Mila (Nur Fazura) dan Bondan (Arie Untung). Seperti halnya para penculik di film-film yang telah disebutkan di atas, Jonny beserta Popo pun menganggap sepele tugas ini. Apa sih yang mungkin merepotkan dari menculik bayi? Yang tidak mereka antisipasi, Rafathar adalah bayi yang amat aktif serta mempunyai kekuatan telekinetik yang memungkinkannya mengendalikan logam dengan mudah. Alhasil, Jonny dan Popo kelimpungan dalam menangani Rafathar. Ini masih belum ditambah mereka harus menghadapi kejaran dari Detektif Julie (Nagita Slavina) yang dipercaya orang tua angkat Rafathar untuk mengusut tuntas kasus penculikan sang buah hati ini dan Kolonel Demon (Verdi Solaiman) yang menyimpan agenda terselubung dibalik niatnya membantu Mila beserta Julie dalam menemukan Rafathar. Ditengah-tengah segala kekacauan, perlahan tapi pasti Rafathar mulai mencuri hati kedua penculiknya sehingga Jonny dan Popo pun belakangan memutuskan untuk menyelamatkan Rafathar dari cengkraman Bos Viktor. 


Bagai mengombinasikan Baby’s Day Out dan Rob-B-Hood, Rafathar sejatinya terdengar menjanjikan di atas kertas. Konsepnya tergolong segar untuk ukuran film petualangan keluarga dari tanah air yang acapkali bercerita tentang petualangan para bocah di dalam hutan seolah-olah hanya itu yang bisa diceritakan. Namun besarnya potensi yang dimiliki oleh Rafathar pada akhirnya berakhir sebatas potensi saat beberapa persoalan menghalangi film produksi RNR Movies dan Umbara Brothers Film untuk berkembang lebih jauh. Persoalan terbesar pertama yang menghinggapi Rafathar adalah materi humornya yang (maaf beribu maaf) tidak lucu. Beberapa diantaranya memang masih bisa membuat saya menyunggingkan senyum terutama saat melibatkan Agus Kuncoro yang menggunakan banyak logat dan Babe Cabita yang bolak-balik amnesia, tapi sebagian besar diantaranya mempunyai daya bunuh yang lemah. Terasa mentah kala dilontarkan sampai-sampai bingung hendak bereaksi seperti apa. Mengingat secara fitrah Rafathar adalah sebuah film komedi, ketidaksanggupan dalam menghadirkan derai tawa jelas suatu masalah apalagi film ini banyak bergantung pada lawakan dan pemakaian CGI untuk mengalirkan kisah ketimbang mengandalkan kekuatan naskah serta akting pemain. Alhasil, film seringkali hampa dan hambar untuk diikuti sehingga durasi 90 menit pun terasa sangat panjang. 

Belum lagi, pemakaian CGI dalam Rafathar termasuk persoalan terbesar kedua yang menghinggapi film. Berulang kali muncul tanpa esensi jelas dan terlampau dipaksakan yang malah mengekspos kelemahannya. Tampak sangat kasar. Adegan ondel-ondel raksasa maupun mengejar-ngejar Rafathar yang berlangsung di dalam rumah, apartemen, sampai jalanan memang tergarap cukup baik. Tapi lain halnya saat kita membicarakan soal robot berwujud ATM dan kulkas serta klimaksnya yang membuat kepala berdenyut-denyut pusing. Apabila bujet dan waktu tidak memadai untuk memvisualisasikannya, bukankah lebih bijak jika adegan disederhanakan saja tanpa harus didorong-dorong agar tampil bombastis? Penggunaan CGI kurang matang sedari pertengahan hingga babak ketiga ini sejujurnya sangat mengganggu kekhidmatan menonton karena kita seolah-olah tengah menyaksikan film yang belum tuntas. Kekhidmatan menonton juga terganggu lantaran Rafathar berada di posisi serba tanggung. Mau menyasar penonton segala usia kok plotnya terlalu njelimet buat kanak-kanak dan humornya seringkali nyerempet. Namun di sisi lain, mau mengambil hati penonton usia belasan ke atas, terbentur oleh kombinasi antara plot kurang mengikat, kelakar garing, dan CGI kasar. Alhasil, (lagi-lagi) Rafathar seringkali hampa dan hambar untuk diikuti sehingga durasi 90 menit pun terasa sangat panjang. Sungguh sangat disayangkan. 

Ulasan ini bisa juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_QZYd

Poor (2/5)


18 comments:

  1. Terima kasih mas tariz dah bikin review inii ❤️πŸ’›πŸ’šπŸ’œ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan senang hati. Terima kasih juga sudah mampir dan baca reviewku :)

      Delete
  2. Bung, Bad Jenius dong. Rumor katanya cakep banget tuh film, ditunggu reviewnya ☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumornya bener kok. Filmnya emang cakep banget. Baru semalem menontonnya, sekarang lagi disiapin reviewnya.

      Delete
  3. Kok bisa jgn kelamaan ya bung, jgn kalah sama yg sebelah, ane pengunjung setia ente soalnya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Phew. Akhirnya jadi juga. Reviewnya sudah diposting ya. Hehehe.

      Delete
  4. makasih udah di review mas, lagi menimbang effort nyebrang pulau bawa bocah 3 tahun demi nonton film ini;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mesti nyebrang pulau ya buat ke bioskop? Semoga ulasan ini bisa berguna dalam membantumu menentukan keputusan ya :)

      Delete
  5. Katanya tbrakn ama annabelle creation ni film ? Dan yg menang bnyk itu yg sblh hihi ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya film horor apalagi yang punya brand gede memang sulit dilawan.

      Delete
  6. Ratingnya aja cmn 3.1 / 10 sorry to say gw lebih percaya sm rating imdb, google user jg cmn dpt 25%, Gw liat trailerny efekny kliatan bgt editan, ide ny dr baby day out, film indo bnyk yg bgs but not this one sorry to say

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry to say, saya hanya percaya kepada penilaian diri sendiri setelah menonton. Rating Imdb dan sejenisnya hanya sebagai pembanding saja bukan patokan utama apalagi untuk film yang sumber materinya/sutradaranya/pemainnya punya basis penggemar atau pembenci yang banyak. Skornya bias. Terakhir The Emoji Movie hanya mendapat 1,7 padahal filmnya juga tidak buruk πŸ˜€

      Soal ide, memang sudah diakui si pembuat film kalau inspirasinya Baby's Day Out dan film-film petualangan era 90'an. Nggak ada yang salah kok dari kesamaan ide, cuma yang salah dari Rafathar adalah eksekusinya emang nggak oke. Mestinya bisa lebih baik lagi.

      Delete
  7. Gak worth sih nonton ini mending nonton annabelle, teknologi nya jaug banget trs ekpresi s rafathar nya jg datar aja, penuh d buat2 gk alamai, kasian film pertamanya dpt rating yg jelek

    ReplyDelete
  8. Maaf kalo terlambat komen, dan kurasa ada beberapa hal yang membuat film ini semakin minus: kebanyakan iklan yang menurut gua terlalu merusak jalan ceritanya gitu. Dan sekali lagi gua minta maaf kalau agak frontal, tapi penggunaan kata 'motherfather' yang merupakan penghalusan dari kata 'motherfucker' sama sekali terasa dipaksakan menurut gua, sementara BDO yang keluar tahun lalu bahkan tidak menyisipkan kata2 eksplisit yang diperhalus.

    Entah apa memang gua ga merasakan susasana dalam film rafathar, ga ada sama sekali komedi yang bikin gua ketawa selama 1 detikpun.

    Anyway that's nice review, semoga perfilman indonesia ga tanggung2 membuat film dan mengeksekusinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga usah bilang frontal bro.. pengalaman lu sama kaya guee dan mungkin beberapa orang lainnya.. hahaha.. pada saat dipertengahan film itu yang terlintas di benak gue cuma KAPAN FILM INI SELESAIII..

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch