December 18, 2018

REVIEW : MILLY & MAMET (INI BUKAN CINTA & RANGGA)


“Kalau orang cari suami yang ganteng, aku mah cari yang baik.” 

“Aku nggak jelek-jelek amat kaliii…” 

Saat menonton Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016), diri ini setengah terkaget-kaget. Lho kok Milly (Sissy Prescillia) bisa menikah dengan Mamet (Dennis Adhiswara)? Gimana ceritanya dua manusia paling polos dalam semesta Ada Apa Dengan Cinta? Ini bisa menjalin asmara? Apabila kamu mengikuti kisahnya Cinta (Dian Sastrowardoyo) and the gang sejak awal mula, tentunya tahu kalau Mamet naksir berat dengan si pentolan geng – meski kita semua sadar, keduanya mustahil bersatu. Kamu juga tentu tahu kalau Milly sering sengak kepada Mamet yang dianggapnya bloon nan ngerepotin. Bahkan, hingga insiden merebut mobil Mamet demi mengantarkan Cinta ke bandara, percik-percik asmara diantara keduanya pun tak tampak. Lalu, apa yang akhirnya membuat mereka saling taksir, lalu menikah dan punya anak? Subplot yang menggelisahkan para penggemar berat ini tetap dibiarkan menjadi misteri hingga ujung durasi film kedua oleh Riri Riza selaku sutradara sekaligus penulis skenario. Penonton dibebaskan menerka-nerka dengan imajinasinya sendiri sampai kemudian Miles Films mengajak tandem Starvision untuk mengkreasi sebuah spin-off atau film sempalan yang meletakkan fokusnya pada kehidupan personal dua sejoli lucu ini. Bukan lagi Rudi Soedjarwo, bukan pula Riri Riza, Mira Lesmana si produser justru merekrut Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal) untuk menggarap film bertajuk Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga) yang muatan komedinya begitu kental ini. Yaaa… sejalan dengan pembawaan dua karakter tituler yang jauh dari kesan serius dan keahlian sang sutradara lah. 

December 17, 2018

REVIEW : SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE

 

“One thing I know for sure. Don’t do it like me, do it like you.” 

Hanya dalam kurun waktu satu dekade, publik telah mendapatkan setengah lusin film (!) mengenai karakter superhero milik Marvel Comics, Spider-Man, yang terbagi ke dalam tiga semesta penceritaan. Yang pertama tergabung dalam trilogi gubahan Sam Raimi dengan Tobey Maguire sebagai bintang utamanya, lalu yang kedua adalah reboot pertama yang memosisikan Andrew Garfield di garda terdepan, dan yang terakhir adalah reboot kedua yang diniatkan sebagai bagian dari Marvel Cinematic Universe. Ketiga-tiganya memiliki karakter sentral serupa yakni Peter Parker dan jilid pertama dari ketiga franchise ini pun mempunyai origin story kurang lebih senada (perbedaan paling mencolok ada pada usia) sehingga muncul sekelumit pengharapan: tolong, jangan ada reboot lagi! Di saat saya – dan mungkin jutaan penonton lain – telah puas dengan keberadaan Spider-Man: Homecoming (2017) yang mengenalkan kita pada Tom Holland, Sony Pictures selaku pemilik hak cipta untuk adaptasi superhero ini membuat pengumuman mengejutkan. Kita akan mendapatkan versi layar lebar lain yang menyoroti sepak terjang Spidey dalam memberangus kejahatan. Untuk sesaat diri ini ingin berteriak, “whaaaattt?”, sampai kemudian saya mendapati bahwa versi terbaru ini akan dicelotehkan dalam format animasi dan si tokoh utama bukan lagi Peter Parker melainkan Miles Morales yang notabene merupakan karakter kulit hitam pertama di balik kostum Spidey. Hmmm… interesting

December 13, 2018

REVIEW : AQUAMAN


“A king fights only for his own nation. A hero fight for everyone.” 

Berbeda dengan rekan sejawatnya yang telah memiliki bangunan semesta yang mapan, DC Extended Universe (DCEU) masih terlihat meraba-raba mengenai apa yang seharusnya mereka perbuat selanjutnya untuk rangkaian film superhero hasil adaptasi komik keluaran DC Comics. Jajaran pemain beserta kru terus mengalami bongkar pasang (bahkan beberapa nama inti seperti Ben Affleck dan Henry Cavill pun hengkang), begitu pula dengan nada penceritaan yang diaplikasikan. Dari mulanya hobi gelap-gelapan seperti siluman, DCEU belakangan mulai merangkul tone yang cenderung ringan selaiknya superhero tetangga begitu menyadari bahwa tidak semua film membutuhkan pendekatan realitis cenderung muram bak trilogi The Dark Knight kepunyaan Christopher Nolan. Bagaimanapun juga, penonton umum membutuhkan spektakel gegap gempita kala memutuskan bertandang ke bioskop untuk menyaksikan film kepahlawanan yang disadur dari komik populer, alih-alih tontonan kontemplatif yang menyimpan bejibun subteks di dalamnya. Agree to disagree, my amigos! Upaya DCEU dalam menyesuaikan diri dengan pasar sekaligus back to basic ini pun pada awalnya tak berjalan mulus lantaran masih terkesan malu-malu meong. Kehadiran Wonder Woman (2017) yang menyuarakan pesan women empowerment tanpa pernah mengorbankan tiga poin penting bagi terwujudnya film berskala blockbuster yang impresif: laga, humor, serta hati, menjadi semacam titik balik. Berkat kesuksesannya secara finansial maupun kritikal, khalayak berkesempatan untuk melihat banyak keriaan dalam rilisan terbaru DCEU, Aquaman, yang tak lagi ragu-ragu menampakkan dirinya sebagai spektakel pelepas penat untuk memeriahkan libur akhir tahun. 

December 12, 2018

REVIEW : SESUAI APLIKASI


“Selama kita tabah, keadaan akan berubah.” 

Saat menonton suatu film, saya selalu memegang prinsip: look at the positive side. Sebisa mungkin, cari sisi positifnya sekalipun film yang ditonton adalah kreasi Nayato Fio Nuala atau diproduseri Dheeraj Kalwani yang sisi negatifnya bertebaran dengan sangat jelas di setiap sudut. Atau dengan kata lain, menemukan kebaikan dalam film mereka bak ngubek-ngubek tumpukan jerami buat menemukan satu jarum cuilik. Alamakjang, susahnyaaa! Saya pun demikian ketika akhirnya memutuskan untuk menyaksikan Sesuai Aplikasi garapan Adink Liwutang (The Underdogs) yang trailernya hanya mencuplik banyolan-banyolan dalam film tanpa pernah memberikan informasi perihal plot. Saya masih berbaik sangka ditengah ekspektasi yang sebetulnya sudah tiarap karena trailer ini sungguh garing. Mungkin si pembuat film ingin memperjelas ke calon penonton kalau film buatannya ini berada di jalur komedi. Mungkin si pembuat film menyisipkan satu twist besar yang berpotensi bocor kalau plotnya diumbar di trailer. Mungkin juga si pembuat film ingin memantik rasa penasaran calon penonton sehingga terus menerus berspekulasi karena petunjuk paling jelas yang disematkan di trailer adalah persahabatan dua driver ojek online. Apakah betul film ini semacam versi layar lebar dari sitkom Ok-Jek yang mengudara di kanal televisi Net? Jika kamu menduga demikian, well… kamu tidak sepenuhnya keliru. 

December 10, 2018

REVIEW : WIDOWS


“What I’ve learned from men like your late husband and my father is, that you reap what you sow.” 

Berpatokan pada materi promosi yang digebernya (baca: trailer), Widows memang tak ubahnya heist movie konvensional yang mengandalkan sekuens laga beserta strategi perampokan jitu penuh kecohan sebagai jualan utamanya. Mengingat seluruh karakter perempuan ditempatkan sebagai dalang utama dibalik aksi perampokan alih-alih sebatas karakter sampingan yang bertugas untuk mendistraksi, Widows pun mau tak mau mengingatkan pada Ocean’s 8 yang juga menyoroti sepak terjang sekumpulan perempuan dalam menggondol barang-barang berharga. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah kedua film ini mempunyai pendekatan senada seirama sekalipun premis besarnya terdengar serupa? Calon penonton yang mengantisipasi keserupaan – lebih-lebih ada nama Liam Neeson yang identik dengan gelaran laga meriah di jajaran pemain – mesti memahami bahwa film yang didasarkan pada novel rekaan Lynda La Plante ini (sebelumnya sempat diadaptasi pula dalam bentuk serial pada tahun 1983) bukanlah popcorn movie yang dapat disantap dengan santai seraya menyeruput minuman bersoda. Keberadaan Steve McQueen di kursi penyutradaraan sedikit banyak telah memberikan isyarat bahwa Widows bukanlah spektakel pelepas penat, melainkan film sarat komentar sosial selaiknya dua film terdahulu sang sutradara, Shame (2011) dan 12 Years a Slave (2013), yang memperbincangkan tentang kemanusiaan beserta realitas sosial. 

December 8, 2018

REVIEW : MORTAL ENGINES


“We must stop London before it destroys us.” 

Saya sebetulnya sudah berada di titik jenuh terhadap film-film yang diadaptasi dari young adult novel berlatarkan post-apocalyptic. Disamping The Hunger Games yang keseluruhan serinya mampu tampil mengikat, The Maze Runner yang cenderung tak stabil, dan Divergent yang terjun bebas begitu memasuki seri terakhir (kepedean dibagi menjadi dua film pula!), tak ada lagi adaptasi dari novel sejenis yang benar-benar mencuri perhatian lantaran garis besar dalam jalinan pengisahannya pun sejatinya tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lain. Itulah mengapa saya kurang menunjukkan minat pada Mortal Engines yang disadur dari jilid pertama rangkaian seri rekaan Philip Reeve, sampai kemudian mengetahui keterlibatan tiga serangkai: Fran Walsh, Philippa Boyens, dan Peter Jackson, yang memberi kita trilogi epik The Lord of the Rings (2001-2003) di sektor penulisan naskah. Mudahnya sih, apa yang mungkin salah dari adaptasi ini? Bukan tidak mungkin kan Mortal Engines akan membangkitkan kembali tren adaptasi untuk subgenre post-apocalyptic yang belakangan mulai menyurut? Apabila Peter Jackson turut dipercaya sebagai sutradara, sikap optimistis yang sempat mengemuka ini mungkin masih terdengar realistis. Tapi mengingat proyek dengan suntikan dana sebesar $100 juta ini diserahkan kepada sutradara pendatang baru Christian Rivers yang memulai karir perfilmannya sebagai storyboard artist, kamu tentu tahu bahwa berekspektasi tinggi-tinggi bukanlah suatu keputusan bijak. 
Mobile Edition
By Blogger Touch