May 22, 2019

REVIEW : BRIGHTBURN


“Whatever you’ve done, I know there is good inside you.”

Mesti diakui, Brightburn mempunyai premis yang menggoda selera. Coba bayangkan, bagaimana seandainya Clark Kent – sosok dibalik kostum Superman – yang berasal dari planet lain ternyata memiliki motif berbeda saat mendiami bumi? Alih-alih menyelamatkan planet barunya dari cengkraman manusia-manusia lalim, dia justru menciptakan huru-hara secara masif dengan mendayagunakan kekuatannya yang luar biasa. Terdengar menjanjikan sekaligus mengerikan di waktu bersamaan, bukan? Gagasan untuk mendeskontruksi hikayat kepahlawanan yang telah kita akrabi selama puluhan tahun ini mencuat dari James Gunn yang kita kenal sebagai sutradara dwilogi Guardians of the Galaxy. Selagi lebih memilih untuk menduduki kursi produser lantaran disibukkan oleh proyek besar Marvel Cinematic Universe, James menyerahkan amanat kepada saudara beserta sepupunya, Mark Gunn dan Brian Gunn, guna mengejawantahkan ide ini ke dalam bentuk skenario. Sementara untuk mengomandoi proyek, kepercayaan diberikan kepada David Yarovesky yang jejak rekamnya mencakup film seram bertajuk The Hive (2014) beserta beberapa film pendek. Menilik betapa menjanjikannya gagasan yang diusung oleh Brightburn yang memberikan pelintiran terhadap Superman, sukar untuk tidak penasaran seraya bertanya-tanya, “akankah film benar-benar mampu memenuhi potensi yang dipunyainya atau malah hanya akan memperpanjang daftar kegagalan tontonan yang mengusung high concept?”

May 20, 2019

REVIEW : JOHN WICK: CHAPTER 3 - PARABELLUM


“If you want peace, prepare for war.”

Saat menonton John Wick untuk pertama kali di tahun 2014, saya tak menyangka sama sekali judul ini akan bertransformasi menjadi salah satu franchise laga yang instalmen terbarunya selalu dinanti-nanti kehadirannya. Memang benar jilid pertamanya terhidang memuaskan yang sedikit banyak melontarkan ingatan kepada dwilogi The Raid yang sangat gahar dalam urusan koreografi laga. Saya pun tak keberatan menyebutnya sebagai film laga yang tak sepatutnya dilewatkan begitu saja lantaran sudah teramat jarang mendapati spektakel seru semacam ini dikeluarkan oleh Hollywood. Tapi berkembang menjadi franchise, itu sesuatu hal berbeda meski saya jelas sama sekali tidak keberatan. Disamping judul ini terbilang handal dalam memacu adrenalin penonton berkat menu utamanya yang menyajikan baku hantam maupun gun-fu bertegangan tinggi, Chad Stahelski selaku sutradara dan Derek Kolstad selaku penulis skrip juga mengkreasi semesta penceritaan yang menarik untuk diikuti. Kita mengetahui sekelumit mitologinya di film pertama, lalu kita diberi penjabaran lebih mendalam mengenai world building melalui jilid kedua. Dari sana, saya menyadari bahwa dunia kriminal yang ditekuni oleh sang karakter tituler ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Ada hirarki di dalamnya, ada aturan-aturan sangat terperinci yang wajib ditaati, serta ada pula “kompetisi berburu antar pembunuh bayaran”. Terdengar menggugah selera, bukan? Itulah mengapa saat penghujung film kedua memberi petunjuk mengenai keberadaan semesta yang lebih luas, saya tak kuasa menantikan kemunculan instalmen ketiga karena selalu dibayang-bayangi oleh keingintahuan terhadap nasib John Wick (Keanu Reeves) pasca dia memutuskan untuk membangkang dari peraturan yang telah ditetapkan oleh kaum elit.

May 18, 2019

REVIEW : POKEMON: DETECTIVE PIKACHU


“I don’t need a Pokemon. Period.”

“Then what about a world class detective? Because if you wanna find your pops, I’m your best bet.”

Apakah ada diantara kalian yang semasa kecilnya terobsesi dengan Pokemon? Mantengin setiap episode dari versi animenya yang tayang saban hari Minggu pagi, hafal diluar kepala setiap spesies berikut kekuatan-kekuatannya (dan juga lagu temanya!), sampai berharap bisa menjadikan pelatih Pokemon sebagai profesi utama. Adakah? Jika ada, well, berarti kita sama. Pokemon adalah bagian dari masa kecil saya dan pada masa itu, diri ini benar-benar berharap bahwa mereka memang nyata adanya sehingga saya bisa melatih Charizard, Squirtle, Bulbasaur, Pikachu, maupun dua jenis Pokemon yang tak bisa diharapkan: Magikarp dan Psyduck. Sounds fun! Tapi seiring meredupnya popularitas anime ini di Indonesia lantaran kanal televisi lokal memberhentikan penayangannya dan saya bukan pula seorang gamer sejati, ikatan dengan Pikachu bersama kawan-kawannya pun perlahan mengendur. Tak lagi mengikuti perkembangannya, tak lagi mengenal para karakternya yang semakin bejibun (versi game sendiri sudah mencapai generasi ke-7!). Saya hanya sesekali mendengar nama ini disebut tatkala muncul versi terbaru dari game dan film animasinya yang masih sangat populer di Jepang. Hubungan dengan para monster menggemaskan yang terputus ini lantas mengalami rekonsiliasi ketika Nintendo menciptakan gebrakan dengan meluncurkan edisi anyar berbasis augmented reality yang memungkinkan pemegang ponsel cerdas ikut bermain tanpa harus memiliki konsol gim tertentu, yakni Pokemon Go. Keberadaan judul ini menguarkan aroma nostalgia kuat yang kemudian dimanfaatkan secara cerdik oleh Warner Bros. untuk melepas Pokemon dalam format film layar lebar berdasar salah satu judul permainan bertajuk Detective Pikachu.

April 29, 2019

REVIEW : 27 STEPS OF MAY


“Bapak nggak salah.”

Dalam kasus pelecehan seksual, siapa sebetulnya yang patut dipersalahkan dan semestinya menerima ganjaran atas “ketidakberdayaannya”? Apakah pelaku yang tunduk kepada hawa nafsunya atau korban yang tak kuasa dalam memberi perlawanan? Apabila fungsi hukum diberlakukan secara semestinya serta bersedia patuh pula pada akal sehat maupun bukti-bukti, maka sudah barang tentu pelaku adalah pihak yang sepatutnya bertanggungjawab. Sebab, mereka telah memaksakan kehendak kepada orang yang tak pernah memberikan persetujuan atas tindakan-tindakan mereka. Akan tetapi, realita di lapangan nyatanya tak berbicara demikian karena para penegak hukum (sekaligus masyarakat tukang ikut campur) merasa bahwa letak kesalahan justru ada di korban lebih-lebih jika kasus ini merundung perempuan. Alih-alih mempertanyakan motivasi pelaku, mereka justru mengemukan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban seperti: apa pakaian yang dikenakan oleh si A? Saat diperkosa atau dilecehkan, apa benar dia tidak sedang dalam pengaruh narkoba atau minuman beralkohol? Kenapa sih si A malah pergi ke tempat kejadian perkara padahal sudah memahami resikonya? Bukannya perempuan seharusnya sudah mendekam di rumah ya selepas jam-jam tertentu? Dalam pandangan publik yang masih menjunjung tinggi budaya patriarki (secara sadar maupun tidak), korban nyaris mustahil untuk menang. Kalaupun akhirnya ditindaklanjuti, jalan keluar yang diambil seringkali bersifat kekeluargaan ketimbang benar-benar menindak tegas perbuatan pelaku sehingga tak mengherankan jika kemudian banyak yang memilih untuk bungkam dan tenggelam dalam trauma.

April 26, 2019

REVIEW : AVENGERS: ENDGAME


“We lost. All of us. We lost friends. We lost family. We lost a part of ourselves. This is the fight of our lives.”

Sejujurnya, saya masih agak kesulitan dalam memformulasikan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan seperti apa pengalaman menonton Avengers: Endgame. Yang jelas, instalmen pamungkas dari sepuluh tahun terakhir Marvel Cinematic Universe (MCU) ini merupakan sebuah sajian spektakuler. Saya bisa mencapai kesimpulan demikian karena saya masih bisa dibuat menangis sesenggukan berulang kali (!) sementara di waktu yang sama, diri ini dihujani sederet gangguan yang sungguh mendistraksi fokus berupa:  a) sepasang kekasih di kursi sebelah asyik berdiskusi dengan volume suara cukup kencang seolah-olah sedang berada di kafe, b) krucil-krucil berusia tak lebih dari 5 tahun mengoceh tak karuan yang akhirnya baru berhenti setelah orang tuanya saya tegur, dan c) sinar ponsel yang menyilaukan dari penonton yang tak tahu caranya menurunkan brightness. Bisa dibayangkan dong betapa dongkolnya mesti berhadapan dengan manusia-manusia yang tidak mempunyai kepekaan semacam ini? Anehnya, Avengers: Endgame tetap membawa saya pada pengalaman menonton yang mungkin saja tidak akan dijumpai dalam waktu dekat. Ada banyak gegap gempita yang membuat saya girang bukan main bak bocah cilik yang baru saja diberi mainan baru, ada banyak canda tawa yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal sampai perut mengencang, ada banyak hamparan visual mencengangkan yang membuat rahang saya terjatuh ke lantai, dan ada banyak momen-momen emosional yang membuat saya urung ke toilet lantaran cairan dalam tubuh telah dikeluarkan melalui mata. Berlebihan? Tunggu hingga kalian mengetahui kalau tubuh saya bergetar selama bermenit-menit selepas menonton dan tidak tahu lagi harus mengucap apa.

April 23, 2019

REVIEW : RUMPUT TETANGGA


“Ketika kita tidak bahagia dengan apa yang kita lakukan, selalu tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, kita akan cenderung menyakiti orang lain di sekitar kita.”

Jujur, saat pertama kali saya mengetahui kalau Rumput Tetangga dihasilkan oleh RA Pictures yang merupakan rumah produksi milik Raffi Ahmad, tak ada sedikitpun ketertarikan untuk mengetahuinya lebih jauh. Belum apa-apa, diri ini sudah bersikap skeptis dan menaruh prasangka buruk. “Palingan film ini tidak jauh berbeda dengan produksi terdahulu” adalah komentar yang kala itu meluncur dari mulut saya yang pedas. Bagi kalian yang tergolong rutin (atau minimal pernah) menyaksikan film-film keluaran mereka, tentu bisa mafhum mengapa saya bersikap demikian. Ada pengalaman traumatis tersendiri selepas menonton Rafathar (2017, masih mengaplikasikan nama RNR Pictures), lalu Dimsum Martabak (2018) serta The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018) yang sudah cukup membuat saya mengibarkan bendera putih buat mencicipi koleksi horor lain keluaran RA Pictures. Alih-alih menikmati, saya justru dibuat ngedumel, terkantuk-kantuk, sampai mengoleskan minyak angin agar bisa bertahan hingga penghujung durasi. Cobaannya sungguh berat, saudara-saudaraaaa…. (!). Saking kapoknya, saya nyaris tak melirik Rumput Tetangga sampai kemudian mendapat panggilan tugas dari bapak atasan untuk meliput film ini. Cenderung ogah-ogahan pada mulanya, sikap suudzon ini mendadak luntur begitu membaca sinopsinya yang harus diakui sangat menggugah selera. Rumput Tetangga mengedepankan premis relatable bagi banyak orang berbunyi “bagaimana seandainya kamu mendapat kesempatan untuk menjalani kehidupan yang selama ini kamu impikan?” sekaligus menghantarkan pesan moral terkait mensyukuri hidup yang sedikit banyak melemparkan ingatan ini kepada It’s a Wondeful Life (1946), The Family Man (2000), dan Medley (2007).

Mobile Edition
By Blogger Touch