28 Maret 2015

REVIEW : AIR & API


“Pantang pulang sebelum padam.” 

Sekitar tujuh tahun silam, mendiang Iqbal Rais melahirkan film penuh banyolan yang tergarap secara dinamis dan menyenangkan berjudul Si Jago Merah ke bioskop di bawah naungan Starvision. Yang membuatnya layak dikenang, keberanian si pembuat film untuk menempatkan profesi pemadam kebakaran di garda terdepan penceritaan. Sesuatu yang boleh dibilang mutakhir untuk ukuran sinema Indonesia yang kurang berani coba-coba. Pertaruhan Iqbal menjajal ide segar ini memperoleh sambutan positif dari para penikmat film kala itu sehingga rencana pembuatan film kelanjutan dari rumah produksi terdengar masuk akal. Ndilalah, proyek yang beberapa kali tarik ulur ini baru bisa diwujudkan satu dekade kemudian dengan formasi pemain yang mengalami banyak perombakan. Dengan mangkatnya Iqbal Rais, Starvision pun memercayakan proyek berjudul Air & Api ini untuk dinahkodai oleh Raymond Handaya yang sebelumnya terlibat dalam Si Jago Merah sebagai asisten sutradara. 

23 Maret 2015

REVIEW : INSURGENT


“You can take the girl out of Abnegation, but you can't take the Abnegation out of the girl.” 

Divergent meninggalkan penonton pada kepenasaran tinggi saat konflik yang mulai meruncing diakhiri begitu saja yang memberi ending menggantung selayaknya film-film lain yang sari penceritaan dijumput dari novel young adult berseri. Masih teringat jelas, kala itu ada semangat menyeruak untuk menantikan kemunculan film kelanjutan, Insurgent, hanya sesaat setelah melangkahkan kaki ke luar gedung bioskop dengan pertanyaan-pertanyaan semacam “apa langkah yang ditempuh oleh Tris dan Four berikutnya?” atau “akan sebesar apa pergolakan antar faksi ini seusai pemberontakan yang dilakoni si tokoh utama?” senantiasa membayangi. Dengan meruncingnya konflik di penghujung film pertama – dan momen perkenalan yang disuntikkan dalam medium pencarian jati diri telah berlalu – maka sudah sewajarnya harapan penonton menggelembung untuk memperoleh hidangan berisi plot rumit mengikat dengan aksi seru yang tak berhenti berdentum terlebih kesemua itu telah dijanjikan oleh trailernya. Tapi lagi-lagi, bukankah kita tidak seharusnya menaruh kepercayaan sepenuhnya pada materi promosi demi menghindari kekecewaan? 

20 Maret 2015

REVIEW : THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE OUT OF WATER


“The Krabby Patty is what ties us all together! Without it, there will be a complete breakdown of social order! A war of all against all! Dark times are ahead! Dark times indeed!” 

Seperti halnya Doraemon, SpongeBob adalah tontonan animasi sejuta umat di Indonesia. Siapa yang tidak mengenal makhluk laut berbentuk spons kuning yang mendiami sebuah rumah berwujud nanas di sebuah daerah bernama Bikini Bottom? Semenjak mengudara pertama kali di Nickelodeon pada 1999 silam, SpongeBob telah menjadi salah satu fenomena budaya populer yang virusnya menjangkiti secara cepat tanpa pandang bulu ke beragam lapisan usia maupun strata sosial. Popularitasnya inilah yang lantas mendorong Nickelodeon Movies untuk memboyongnya ke layar lebar lewat The SpongeBob SquarePants Movie di tahun 2004. Memperoleh resepsi hangat dari kritikus dan penonton, mudah untuk menduga akan ada kelanjutan petualangan dari penduduk Bikini Bottom... hingga akhirnya baru benar-benar terlaksana 10 tahun kemudian. Geez, why does it take so long to make a sequel? 

17 Maret 2015

REVIEW : RUN ALL NIGHT


Liam Neeson is back... again. Membintangi setidaknya empat film dalam kurun waktu 13 bulan terakhir (jika isian suara dan penampilan singkat diabaikan), semoga kamu belum jenuh melihat bapak sayang anak ini berlarian kesana kemari sepanjang hari sepanjang malam seolah memiliki energi berlimpah-limpah guna membersihkan reputasi dengan membalas dendam sekaligus menyelamatkan sang buah hati tercinta. Ya, guliran kisah yang telah begitu familiar hingga melekat sebagai ciri khas Neeson ini kembali dicuplik di film terbarunya, Run All Night, yang menandai kolaborasi ketiga antara si Opa dengan Jaume Collet-Serra setelah dua film berkadar ketegangan cukup tinggi, Unkown dan Non-Stop. Menilik betapa manisnya buah yang dipetik dari hasil kerjasama sebelumnya inilah maka muncul pengharapan pada Neeson dan Collet-Sera untuk sekali lagi keduanya meluncurkan produk laga yang mencengkram erat. Berhasilkah? 

13 Maret 2015

REVIEW : CINDERELLA


“Have courage and be kind.” 

Popularitas Cinderella tak perlu lagi dipertanyakan. Everybody knows Cinderella. Who did not grow up with the story with the wicked stepsisters and the glass slipper?... unless you live under a rock, of course. Dibanding rekan-rekannya sesama putri penghuni negeri dongeng, kisah hidupnya yang pilu namun sarat akan keajaiban terbilang paling sering dikulik oleh para sineas perfilman dunia entah dalam wujud penceritaan ulang atau sekadar dimanfaatkan sebagai template untuk membangun guliran kisah anyar. Ya, semenjak profilnya melesat tinggi berkat film animasi klasik buatan Disney, Cinderella, berturut-turut versi lain bermunculan tanpa terkendali bak cendawan di musim penghujan. Dengan tren ‘modern retelling of fairytales’ tengah menghinggapi Hollywood mudah untuk menduga bahwa dongeng warisan dari Charles Perrault ini akan turut terkena imbasnya... dan memang tidak perlu menunggu waktu lama bagi kita untuk melihatnya divisualisasikan ke dalam bahasa gambar berbentuk live-action. Bagusnya, ketimbang neko-neko merombak ulang seluruh komponen penceritaan yang telah begitu familiar, Kenneth Branagh (Hamlet, Thor) malah sebisa mungkin setia pada sumber asli seraya mencoba kembali mengingatkan penonton kenapa Cinderella versi Disney banyak dicintai penonton. 

10 Maret 2015

REVIEW : AMERICAN SNIPER


“I was just protecting my guys, they were trying to kill our soldiers and I'm willing to meet my Creator and answer for every shot that I took.” 

Siapapun yang mengira American Sniper akan berisi parade desingan-desingan peluru, ledakan-ledakan bom, maupun suara retakan tubuh seperti yang bisa kamu jumpai di Lone Survivor, tunggu dulu. Adaptasi dari memoir rancangan Chris Kyle berjudul American Sniper: The Autobiography of the Most Lethal Sniper in U.S. Military History ini lebih menekankan pada kegalauan seorang penembak jitu berupa pertentangan batin sekaligus trauma psikologis sebagai hasil dari prestasinya ‘membantai’ sekitar 160 orang di medan perang ketimbang mengumbar adegan peperangan yang hanya sesekali ditampakkan oleh Clint Eastwood di sela-sela kerapuhan Chris Kyle. Ya, American Sniper memang lebih banyak memperoleh sokongan melalui pilar drama daripada aksi walau ini tak lantas menghentikannya untuk menggelontorkan sejumlah momen brutal, mencekam, dan memilukan yang memberi gambaran riil terhadap situasi medan pertempuran yang dipenuhi kekacauan kepada penonton. 

8 Maret 2015

REVIEW : LOVE & FAITH


"Saya punya harapan, keyakinan, niat baik, kejujuran dan cinta. Itu yang menjadi modal utama saya." 

Bagi masyarakat kebanyakan, nama Kwee Tjie Hoei tidak berarti apa-apa. Bahkan ketika nama Indonesia dari bersangkutan, Karmaka Surjaudaja, disebut pun belum juga terbersit sedikit gambaran mengenai sosok ini hingga melahirkan pertanyaan klasik, “siapa dia?”. Dengan mayoritas kontribusi dicurahkan pada era peralihan Orde Lama ke Orde Baru di bidang perbankan, terasa wajar saat khalayak ramai masa kini tak banyak mengetahui soal profilnya... kecuali saat dibubuhi embel-embel bahwa beliau adalah salah satu motor dibalik suksesnya bank beraset Rp 100 Triliun, Bank NISP (atau kini dikenal sebagai OCBC NISP). Menilik garis sejarah bahwa Karmaka dibesarkan di lingkungan dengan kondisi finansial serba terbatas, maka pencapaian yang telah ditorehkannya ini boleh dibilang menakjubkan terlebih pendakiannya terus menerus diwarnai oleh hantaman-hantaman keras dari para petinggi korup yang tidak segan-segan meminta imbalan nyawa. 
Mobile Edition
By Blogger Touch