25 April 2015

REVIEW : WEWE


Dahulu kala, terteranya nama Rizal Mantovani di sebuah poster film horor telah cukup menjadi jaminan kualitas bahwa suguhan seram yang akan kamu saksikan tidak akan meninggalkan rasa kecewa yang mendalam – hal ini berlaku pula untuk koleganya, Jose Poernomo. Melahirkan dua film memedi sukses besar yang didasarkan pada urban legend ternama Indonesia, Jelangkung dan Kuntilanak, wajar jika pamor sutradara yang memulai karirnya lewat video klip ini seketika melambung tinggi sampai-sampai memunculkan predikat “spesialis pembuat film horor kelas premium”. Tapi sekarang, tidak lagi berlaku. Semenjak terlalu sibuk berkutat pada ‘horor cantik’ (dalam artian visual) ketimbang ‘horor seram’, popularitasnya perlahan terus menurun walau tak sampai benar-benar terjerembab. Berharap bisa menebus kesalahan sekaligus comeback ke ranah horor yang membesarkan namanya, Rizal meluncurkan Wewe yang dicangkok dari urban legend. Tidak sepenuhnya berhasil, memang, namun Wewe jelas berada satu tingkat di atas beberapa film horor karya Rizal Mantovani paska Kuntilanak

23 April 2015

REVIEW : AVENGERS: AGE OF ULTRON


“I know you're good people. I know you mean well. But you just didn't think it through. There is only one path to peace... your extermination.” 

Attention... The Avengers are back! Setelah menciptakan standar yang terbilang sangat tinggi untuk dilampaui oleh film superhero melalui The Avengers – dan tanpa disangka-sangka, Guardians of the Galaxy – pertanyaan besar pun menanti Marvel Studios, “akankah mereka sanggup sekali lagi menapaki level yang sama, melebihinya, atau mengalami penurunan?.” Kekhawatiran bahwa puncak dari fase kedua Marvel Cinematic Universe (MCU) bertajuk Avengers: Age of Ultron tidak lagi segegap gempita pendahulunya memang sempat mengemuka saat Joss Whedon menjatuhkan pilihan pada Ultron sebagai tandingan utama para barisan superhero ini. Tapi lalu, barisan materi promosi yang digelontorkan satu demi satu seketika mengubah sikap skeptis menjadi antusias saat kesan megah berhasil tergambar secara impresif, sosok Ultron tampak mengancam, dan jalinan penceritaan yang sepertinya kelam. Tunggu, tunggu... Marvel dan kelam dalam satu kalimat? Jika kamu berpikir bahwa ini berarti berakhirnya semua kesenangan, maka enyahkan jauh-jauh segera karena kekhawatiran itu sama sekali tidak akan terbukti. Tidak peduli sekalipun film kelanjutan ini dibawa ke ranah lebih serius dengan plot yang mengandung kompleksitas dan nuansa suram, Whedon tidak lupa bahwa darah Marvel masih mengalir di Age of Ultron sehingga pesta pora penuh canda tawa tetap harus dihelat. 

18 April 2015

REVIEW : BULAN DI ATAS KUBURAN


“Di Jakarta ini kita harus hidup berkawan. Kalau kau bukan kawan, kau pasti lawan.” 

Mempergunakan ‘kuburan’ sebagai bagian dari judul, harus ditegaskan bahwa Bulan di Atas Kuburan bukanlah film horor. Kenyataannya, ini merupakan remake dari film rilisan 1973 berjudul sama garapan sutradara Indonesia terkemuka kala itu, Asrul Sani (Lewat Djam Malam, Naga Bonar), yang terinspirasi dari sajak ternama bertajuk ‘Malam Lebaran’ gubahan penyair Sitor Situmorang yang hanya terdiri atas satu larik saja: “bulan di atas kuburan”. Walau terkesan teramat sederhana, larik puisi ini cenderung multi tafsir yang bisa memunculkan beragam makna sesuai interpretasi pembaca dengan salah satunya diterjemahkan sebagai mencari sesuatu yang (nyaris) mustahil ditemukan dalam gelapnya kehidupan di kota metropolitan – dalam hal ini, Jakarta – seperti yang dilakukan mendiang Asrul Sani dan dilanjutkan oleh duo Edo W.F Sitanggang-Dirmawan Hatta yang bertanggung jawab dalam mengolah versi anyar. Pokok penceritaan dalam versi 2015 ini masih serupa, berwujud kritik sosial terhadap modernitas berlatar Jakarta maha ganas dengan beberapa upgrade disana sini demi memperkuat relevansi pada kondisi sosial politik Indonesia masa kini. 

14 April 2015

REVIEW : TUYUL: PART 1


Kiprah tuyul dalam menakut-nakuti di film layar lebar memang terbilang adem ayem dibandingkan rekan-rekannya sesama makhluk gaib. Citranya sebagai dedemit dengan perwujudan seperti bocah berkepala plontos kadung ternodai lantaran sejumlah sineas tempo dulu – sebut saja lewat film Tuyul Eee Ketemu Lagi, Tuyul Perempuan, serta serial televisi populer Tuyul dan Mbak Yul – lebih sering memanfaatkannya untuk membuat penonton tertawa terbahak-bahak ketimbang menjerit ketakutan. Kalaupun ada yang bersedia merekrutnya di film memedi, maka perannya tak lebih dari ‘penggembira hore’ semata mendampingi kuntilanak atau setan lokal lain yang popularitasnya sudah menjulang. Menyadari ada perlakuan diskriminasi terhadap tuyul ditambah pula keinginan untuk melihat sinema Indonesia kembali memiliki film horor yang digarap secara ‘bener’ inilah Billy Christian (Kampung Zombie) di bawah bendera rumah produksi Renee Pictures melahirkan Tuyul: Part 1 yang menempatkan makhluk mistis tersebut di poros utama yang memantik munculnya rangkaian teror. 

13 April 2015

REVIEW : GURU BANGSA TJOKROAMINOTO


“Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid.” 

Ada banyak sikap skeptis yang saya bawa saat memasuki gedung bioskop untuk menyaksikan Guru Bangsa Tjokroaminoto. Setidaknya dua perkara menjadi sabab musababnya: pertama, ini adalah film biopik yang mengetengahkan perjuangan dari salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia dengan durasi merentang terbilang panjang mencapai 160 menit. Dan kedua, jejak rekam kurang mengenakkan dari Garin Nugroho dalam menangani film sejenis tatkala menguliti sepak terjang Soegija yang dibawanya ke gelaran sarat akan metafora tanpa adanya fokus penceritaan yang jelas untuk merangkum perjalanan sang tokoh. Jika dipadatkan dalam satu kalimat maka kekhawatiran itu akan memunculkan bunyi, “duh... Guru Bangsa Tjokroaminoto tampak seperti film yang susah untuk dikunyah oleh khalayak kebanyakan. “ Tapi lalu sederet kecemasan itu tercerai berai, menguap entah kemana, tergantikan oleh kekaguman berlimpah sesaat setelah lampu bioskop dinyalakan. Melalui Guru Bangsa Tjokroaminoto, Garin Nugroho membuktikan bahwa kekhawatiran saya terlampau berlebihan dengan menggelar sebuah sajian yang tidak saja informatif tetapi juga megah mewah, indah, dan menakjubkan. 

10 April 2015

REVIEW : FILOSOFI KOPI


“Kamu bikin kopi pakai obsesi, tapi Pak seno pakai cinta. Kopimu terbaik, tapi kopi Pak Seno sempurna.” 

Butuh usaha ekstra bagi kawan-kawan dekat dalam menyeret saya ke kedai kopi modern untuk sekadar nongki-nongki tampan. Mau gimana lagi, saya bukanlah penikmat kopi dan kebetulan juga memiliki masalah lambung, jadi ada rasa keberatan merogoh kocek cukup mendalam demi meneguk secangkir kopi. Tapi saat mendengar ‘sang barista’ adalah Angga Dwimas Sasongko, hubungan sulit dengan kopi terlupakan seketika dan digantikan oleh semangat yang membara sampai-sampai pengecualian pun ditetapkan untuk sekali ini. Menilik jejak rekamnya tatkala meramu Hari Untuk Amanda yang manis-manis pahit (salah satu film romantis kesukaan dari dalam negeri!) serta Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang teramat indah, harus diakui Angga is a really good storyteller. Tiada sedikit pun keraguan sentuhan emasnya akan berlanjut di karya selanjutnya terlebih materi untuk karya terbarunya dicangkok dari karya Dewi ‘Dee’ Lestari yang berarti pula ada satu pertanyaan penting yang tak bisa dihindari. “Akankah Filosofi Kopi menjelma sebagai bahasa gambar yang tertata apik atau berakhir berantakan seperti halnya kebanyakan adaptasi karya Dee sebelumnya?.” 

2 April 2015

REVIEW : FAST & FURIOUS 7


“I don't have friends, I got family.” 

Dengan standar begitu tinggi telah ditetapkan oleh Justin Lin untuk franchise balapan mobil liar The Fast and The Furious melalui Fast Five yang adegan klimaksnya akan sulit dilupakan sampai kapanpun – bahkan Fast & Furious 6 tetap kesulitan melampauinya walau sudah menggenjot habis-habisan gelaran laganya – lantas bagaimana nasib jilid ke-7 yang kursi penyutradaraannya diserahkan kepada spesialis film seram, James Wan (Insidious, The Conjuring), yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman dalam menangani film aksi berbujet raksasa ini? Ada banyak kekhawatiran, tentu saja, terlebih salah satu pemain utama film, Paul Walker, tewas dalam sebuah kecelakaan sebelum syuting benar-benar rampung. Tapi jika kamu telah melihat cuplikan adegan-adegan Fast & Furious 7 di trailer resminya, tampak terlihat bahwa Wan berusaha keras untuk tidak mengecewakan para penggemar franchise ini... dan memang tidak sama sekali! Saat Brian O’Conner (Paul Walker) berkata, “just when you didn't think it could get any better, huh?,” di salah satu adegan, sebetulnya itu sudah cukup mendeskripsikan apa yang bisa kamu rasakan tatkala melahap Fast & Furious 7 (atau sebut saja, Furious 7). 
Mobile Edition
By Blogger Touch