11 Juni 2016

REVIEW : THE CONJURING 2


"After everything we’ve seen there isn’t much that rattles either of us anymore. But this one, this one still haunts me."

Umumnya, sekuel dari sebuah film yang sukses secara kualitas mengalami hambatan berarti dalam melampaui – atau well, minimal menyamai – pencapaian dari instalmen pertama. Hanya segelintir judul yang sanggup membuyarkan ‘kutukan’ ini dan semakin mengerucut begitu kita membicarakan film dari teritori horor mengingat bukan perkara mudah untuk mengkreasi trik menakut-nakuti yang tidak sekadar pengulangan dari seri pendahulu demi memenuhi keinginan khalayak yang pastinya berharap lebih. Sulitnya menjumpai sekuel film seram dalam level “bagus” inilah yang mendasari skeptisisme menyambut kehadiran The Conjuring 2 sekalipun masih ada nama James Wan (Insidious, The Conjuring) di belakang kemudi. Ya mau bagaimana lagi, jilid perdananya merupakan salah satu film horor terbaik dalam beberapa dekade terakhir dengan teknik menebar teror kelas wahid dan ungkapan ‘lightning never strikes the same place twice’ lebih sering terbukti benar ketimbang keliru. Jadi untuk meminimalisir kekecewaan, satu-satunya pengharapan yang kemudian diboyong masuk ke gedung bioskop hanyalah, “semoga masih ada satu-dua momen pemantik jeritan lepas!.” 

6 Juni 2016

REVIEW : MONEY MONSTER


“The name is Lee Gates, the show is Money Monster. Without risk, there is no reward. Should I sell? Should I a loan? Get some balls!” 

Pernah nonton film thriller dari Negeri Gingseng berjudul The Terror Live arahan Kim Byung-woo? Kalau belum, begini garis besar ceritanya. Seorang mantan news anchor ternama bernama Yoon Young-hwa (Ha Jung-woo) yang kini dimutasi ke radio mendapatkan telepon gelap bernada ancaman. Mulanya menganggap hanya sekadar perbuatan iseng, tak disangka-sangka ancaman tersebut diwujudkan dalam bentuk pengeboman jembatan hingga menewaskan puluhan sipil tak bersalah. Alih-alih melaporkan ke pihak berwenang, Yoon Young-hwa justru melihat teror yang didapatnya sebagai kesempatan untuk melambungkan kembali karirnya. Didukung pula oleh sang atasan yang gila rating, telepon gelap ini diboyong ke siaran langsung program berita nasional tanpa menyadari besarnya bahaya yang mengintai mereka. Si protagonis tiba-tiba menjadi sandera dalam program televisi yang dipandunya dan menjadi tontonan seantero Korea Selatan. Sampai disini kamu mungkin bertanya-tanya, lalu apa keterkaitannya dengan Money Monster? Nah, nasib kurang lebih serupa dialami oleh Lee Gates (George Clooney), seorang pembawa acara seputar dunia saham dari film layar lebar keempat yang digarap Jodie Foster usai The Beaver ini. 

22 Mei 2016

REVIEW : AISYAH BIARKAN KAMI BERSAUDARA


"Sebaik-baiknya sarjana adalah yang mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Sementara sarjana yang sekedar bekerja itu sarjana kelas dua."

Walau sejatinya secara personal telah mengalami kejenuhan teramat sangat menyaksikan film berembel-embel reliji, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mempunyai dua daya tarik cukup kuat yang membuat saya tak kuasa memberi penolakan. Pertama, keterlibatan Laudya Cynthia Bella yang permainan lakonnya tengah menguat, dan kedua, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara mengusung isu agak berbahaya di bawah penanganan salah kaprah mengenai toleransi antar umat beragama. Sempat ketar ketir film ini akan berakhir seperti selayaknya sederet film religi buatan sineas tanah air dalam beberapa tahun belakangan yang guliran penceritaannya kelewat tendensius serta penyampaian pesan moral serba verbalnya justru bikin telinga panas alih-alih bikin hati adem, kenyataannya Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (baiklah, biar tidak terlalu panjang, sebut saja Aisyah BKB) justru tidak demikian. Dihantarkan elegan tanpa terlihat kelewat bernafsu untuk mengkhotbahi penonton menjadikan Aisyah BKB terasa begitu indah, hangat, menyentuh sekaligus penting. Mungkin masih terlalu dini, namun saya memiliki keyakinan kuat Aisyah BKB akan menjadi salah satu kandidat kuat peraih kategori Film Terbaik di berbagai ajang penghargaan film pada akhir tahun ini. 

20 Mei 2016

REVIEW : MY STUPID BOSS


“Impossible we do, miracle we try.” 

Coba bayangkan, bagaimana rasanya jika kamu bekerja di negeri orang dan menerima komando dari seorang atasan bersemboyan “Bossman always right” serta mempunyai prinsip “impossible we do, miracle we try”? Belum apa-apa, hanya membayangkannya saja sudah terdengar seperti mimpi buruk, bukan? Nasib apes memiliki bos luar biasa ajaib ini dialami Diana (Bunga Citra Lestari) kala menetap di Kuala Lumpur, Malaysia, mengikuti sang suami, Dika (Alex Abbad). Begitu mendengar calon atasannya adalah warga Indonesia seperti dirinya dan merupakan kawan lama sang suami, dia berpikir “apa sih yang mungkin salah?.” Adanya satu dua kesamaan bisa jadi akan memudahkan mereka untuk saling berinteraksi dan segala bayangan manis mengenai calon atasan seketika buyar tak bersisa pada perjumpaan pertama. Ternyata oh ternyata, pria berkumis lele dengan rambut setengah botak dan perut menggelembung yang minta dirinya dipanggil “Bossman” (Reza Rahadian) ini sangat mungkin memperoleh nominasi, bahkan memenangkan, penghargaan Atasan Paling Menjengkelkan apabila penghargaan semacam itu benar-benar ada. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Diana bekerja dengan Bossman akan membuatnya tersiksa lahir batin sedemikian rupa.  

12 Mei 2016

REVIEW : MIDNIGHT SPECIAL


“I like worrying about you, Alton.” 

Dua orang pria, Roy (Michael Shannon) dan Lucas (Joel Edgerton), pergi terburu-buru meninggalkan motel. Mereka membawa serta seorang bocah berusia delapan tahun yang mengenakan kacamata khusus untuk membantu penglihatannya, Alton (Jaeden Lieberher). Dari sebuah berita di kaca beling yang dipirsa Roy pada permulaan film, penonton memperoleh informasi bahwa status Roy adalah buron. Dia dituduh menculik Alton. Sejurus kemudian, kita melihat mereka bertiga menunggangi mobil berkecepatan tinggi dan melintasi beberapa negara bagian mencoba menghindari kejaran pihak berwajib. Untuk sesaat si pembuat film membiarkan penonton meyakini Alton merupakan korban penculikkan kedua pria tersebut sampai di satu titik terkonfirmasi relasi sesungguhnya antara si bocah dengan Roy. Tidak hanya itu, kita juga mengetahui alasan sebetulnya Roy dan Lucas membawa kabur Alton dari tempat mereka bermukim sebelumnya sehingga ketiganya dikejar-kejar oleh dua pihak yang masing-masing mempunyai kepentingan terselubung dibalik alasan ingin menyelamatkan Alton dari cengkraman Roy.  

8 Mei 2016

REVIEW : CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR


“Sorry, Tony. You know I wouldn't do this if I had any another choice. But he's my friend.” – Steve 
“So was I.” – Tony 

Usai pertarungan (seharusnya) akbar antara Batman dengan Superman berakhir dengan dengusan panjang penuh kekecewaan karena kesalahpahaman diantara mereka begitu mudahnya diselesaikan menggunakan kata kunci “Martha” plus saya juga masih bingung kenapa mereka harus dipaksa berselisih, tidak banyak ekspektasi dibenamkan untuk Captain America: Civil War yang secara garis cerita, well, boleh dikata mempunyai cukup banyak keserupaan. Kedua film ‘beda pengasuh’ ini sama-sama mengulik tentang suatu masa kala manusia dibayangi ketakutan terhadap para pahlawan berkekuatan super lantaran kehancuran masif yang mereka tinggalkan dari setiap pertempuran. Seperti halnya sang tetangga pula, instalmen ketiga dari rangkaian film Captain America ini pun mempertemukan beberapa pahlawan berkekuatan super untuk saling adu otot sehingga kekhawatiran “terlalu penuh sesak lalu fokus pun lenyap entah kemana” terus membayangi. Dan lebih lagi, Civil War menerima tongkat estafet secara tidak langsung dari Winter Soldier yang standarnya terhitung tinggi. Meski Marvel Cinematic Universe (MCU) terus mematahkan skeptisisme khalayak ramai dalam setiap rilisan terbaru mereka, ketakutan Civil War akan berakhir semenjana sulit dielakkan. 

30 April 2016

REVIEW : ADA APA DENGAN CINTA? 2


“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu... jahat.” 

Empat belas tahun silam, Cinta (Dian Sastrowardoyo) melepas kepergian sang kekasih hati, Rangga (Nicholas Saputra), yang bertolak ke New York di bandara. Diabadikan dalam sebuah adegan yang ikonis, perpisahan dramatis tersebut berujung kecupan pertama. Rangga pun meninggalkan secarik kertas berisi puisi berlarik manis untuk Cinta yang dalam salah satu baitnya berbunyi, “aku akan kembali dalam satu purnama untuk mempertanyakan kembali cintanya.” Tersisip janji besar yang meredakan kegundahan hati Cinta lantaran ditinggal Rangga melintasi benua lain. Paling tidak, ada sedikit kejelasan dari sang pujangga untuk Cinta – serta penonton – bahwa dirinya tidak akan membiarkan api asmara tersebut padam begitu saja hanya karena jarak. Happily ever after? Dalam harapan kita sebagai pengamat kisah percintaan Cinta dan Rangga selepas menonton Ada Apa Dengan Cinta?, tentu saja demikian. Namun kita perlu mengingat, realita tidak selalu berbanding lurus dengan ekspektasi terlebih tidak sedikit pula cerita pedih dibalik sebuah long distance relationship. Kemungkinan demi kemungkinan dalam perjalanan asmara keduanya pun terbuka lebar. Apakah benar mereka akhirnya bersatu? 

Mobile Edition
By Blogger Touch