23 Mei 2015

REVIEW : SPY


“I look like someone’s homophobic aunt.” 

Apakah dirimu adalah salah satu dari sekian juta moviegoers yang dibuat jatuh hati oleh kecemerlangan Kingsman: The Secret Service yang memberikan penghormatan sempurna terhadap film spionase beberapa waktu silam? Apabila ya, dan menginginkan ada sajian serupa mengikutinya, maka bergembiralah karena tidak perlu waktu lama untuk menunggu, Paul Feig telah menjawab keinginanmu melalui Spy. Untuk mewujudkan kegilaan seperti yang senantiasa hadir di film-film garapan Feig, maka direkrutlah partner sejatinya Melissa McCarthy yang sudah dikenal sangat baik tidak lagi memiliki urat malu dalam ngebanyol – lihat apa yang diperbuatnya dalam Bridesmaids dan The Heat – dan Jason Statham. Sebentar, sebentar, Statham di film, errr... komedi? Terdengar seolah-olah pihak casting melakukan kesalahan besar mempersatukan dua kutub berbeda dan utamanya, menempatkan aktor spesialis baku hantam yang nyaris tak pernah menyunggingkan senyum di film penuh lawakan tanpa kontrol ini. Tapi setelah menyaksikan Spy, kamu mungkin akan berharap McCarthy dan Statham akan lebih sering berkolaborasi. 

20 Mei 2015

REVIEW : MAD MAX: FURY ROAD


“Oh what a day, what a lovely day!” 

Apabila kamu telah memproklamirkan Furious 7 atau Avengers: Age of Ultron sebagai film aksi terbaik tahun ini berkat penataan adegan laganya yang terhitung spektakuler, tunggu hingga kamu menyaksikan Mad Max: Fury Road. Jilid keempat dari rangkaian seri Mad Max yang berjasa dalam mengorbitkan karir Mel Gibson ke blantika perfilman dunia sebagai action star ini membuat dua film laris tersebut layaknya film buat kanak-kanak. Tidak tanggung tanggung, Fury Road menggenjot adrenalinmu hingga titik maksimal dari menit pembuka sampai credit title mengular secara liar di layar. Walaupun sang punggawa, George Miller, yang juga ‘ayah kandung’ dari franchise ini telah menginjak usia kepala 7, tapi beliau masih paham betul bagaimana caranya menciptakan gelaran aksi tanpa jeda yang sangat impresif sehingga membuat gedung bioskop yang tengah menayangkan Fury Road sebagai tempat paling kotor di muka bumi karena penonton yang dibuat takjub tak henti-hentinya melontarkan umpatan atau malah justru tempat paling kudus lantaran penonton mengucap “oh my God!” berulang kali berkat pesona visualnya yang mencengangkan. 

16 Mei 2015

REVIEW : LDR


“Tapi bukannya cinta Apollo itu bertepuk sebelah tangan? Obsesi dong namanya. Mana ada cinta abadi yang satu arah?” 

Dengan iklim jumlah penonton untuk film Indonesia mengalami pasang surut, para produser dituntut jitu dalam mengatur strategi. Mengedepankan idealisme jelas pilihan riskan apabila golnya adalah mendulang keuntungan. Bukan perkara mengherankan jika lantas kebanyakan rumah produksi memilih bermain aman di ranah horor atau romansa yang memang digemari. Tak cukup bergantung pada genre semata, mereka turut merekrut selebriti yang tengah naik daun sebagai pengisi departemen akting garda depan sekaligus menggelar lokasi pengambilan gambar di luar negeri. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Maxima Pictures di beberapa film terbarunya, tak terkecuali LDR. Dijual sebagai film percintaan remaja berembel-embel “inilah pertama kalinya film nasional bersetting di pegunungan bersalju”, LDR jelas mengandalkan pesona panorama Italia dan popularitas Al Ghazali beserta Verrell Bramasta sebagai daya tarik. Harapan Maxima kepada LDR sebenarnya sederhana saja: bisa mencicipi laris manis selayaknya Runaway yang juga mengedepankan Al Ghazali, keindahan lanskap negeri orang, dan disutradarai Guntur Soeharjanto. 

8 Mei 2015

REVIEW : CINTA SELAMANYA


“Kita memang nggak seusia, tapi bukan berarti nggak sesuai.” 

Jika kamu beranggapan tidak ada yang lebih buruk dari menjomblo karena belahan jiwa tak kunjung merapat, maka bagaimana dengan kehilangan seseorang yang telah kamu anggap sebagai cinta sejati hanya sekejap seusai menemukannya? Tidak ada kata yang benar-benar tepat untuk mendeskripsikannya, namun itu jelas sesuatu yang memilukan. Dan itu tidak hanya terjadi di film percintaan, melainkan memang nyata adanya dijumpai di sekeliling kita. Setidaknya itulah yang menimpa pemimpin redaksi majalah wanita kenamaan di Indonesia, Fira Basuki, saat mencoba untuk membangun kembali kehidupan asmaranya usai menahun menjanda. Kisah asmaranya yang manis walau berujung tragis itu lantas dituangkannya ke dalam coretan-coretan pribadi berwujud memoir bertajuk Fira dan Hafez yang kemudian diterjemahkan oleh Fajar Nugros (7/24, Bajaj Bajuri the Movie) menjadi bahasa gambar rupawan melalui Cinta Selamanya

5 Mei 2015

REVIEW : TOBA DREAMS


“Lelaki hebat bukan mereka yang mampu melewati ribuan pertempuran, lelaki hebat adalah mereka yang ada untuk keluarganya.” 

Ada banyak senyum mengembang tanda kepuasan seusai menyaksikan film Indonesia dalam kuartal pertama di tahun 2015 ini. Baru saja kita menapaki Mei, akan tetapi film-film berkualitas di atas rata-rata terus mengalir silih berganti (nyaris pula tanpa henti). Seorang kawan bahkan berujar, “apabila FFI dihelat bulan Mei, kuota untuk nominasi film terbaik akan dengan mudah terisi.” Dan saya sangat meyakini – tiada keraguan sedikitpun – bahwa salah satu judul yang dimaksudnya adalah Toba Dreams. Garapan terbaru dari Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Love & Faith) yang didasarkan pada novel berjudul serupa rekaan T.B. Silalahi ini tak bisa dipungkiri merupakan salah satu dari sederet karya perkasa dari sineas dalam negeri di tahun ini. Walau menerapkan formula klasik pada sisi penceritaan dengan durasi yang tergolong panjang pula, Toba Dreams nyatanya tak pernah sedikit pun terpeleset menjadi tontonan melelahkan bercita rasa usang. Sebaliknya, berkat perpaduan sempurna antara skrip berisi, performa penuh tenaga, serta visualisasi menyejukkan mata, Toba Dreams justru menjelma sebagai film mengesankan yang tak segan-segan mengoyak emosimu hingga titik maksimal. 

3 Mei 2015

REVIEW : THE VOICES


“In her eyes, you’re a ridiculous peasant! Kill her and you will discover what it feels like to be truly alive!” 

Jika bercakap-cakap dengan binatang yang fasih berkomunikasi menggunakan bahasa manusia terdengar sudah terlampau ‘mainstream’ di sebuah film, lantas bagaimana kalau bercengkrama dengan penggalan kepala seorang perempuan ceriwis yang mendekam di dalam, errr... kulkas? Aneh, menggelikan, sekaligus menyeramkan di saat bersamaan tentunya. Selain itu ada pula tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan (maupun tercecer, duh!) yang sesekali diwarnai dengan darah yang mengucur kesana kemari secara artistik namun kesemuanya dijabarkan secara komikal penuh canda tawa bercita rasa awkward. Dan, brace yourself, karena pemandangan seperti itulah yang akan kamu jumpai dalam The Voices yang merupakan film berbahasa Inggris perdana dari sutradara pencetus Persepolis, Marjane Satrapi. Menggambarkannya, seperti kekejian dari film legendaris Psycho atau serial televisi Dexter yang dicampuradukkan dengan kekonyolan dari Death Becomes Her maupun Idle Hands

25 April 2015

REVIEW : WEWE


Dahulu kala, terteranya nama Rizal Mantovani di sebuah poster film horor telah cukup menjadi jaminan kualitas bahwa suguhan seram yang akan kamu saksikan tidak akan meninggalkan rasa kecewa yang mendalam – hal ini berlaku pula untuk koleganya, Jose Poernomo. Melahirkan dua film memedi sukses besar yang didasarkan pada urban legend ternama Indonesia, Jelangkung dan Kuntilanak, wajar jika pamor sutradara yang memulai karirnya lewat video klip ini seketika melambung tinggi sampai-sampai memunculkan predikat “spesialis pembuat film horor kelas premium”. Tapi sekarang, tidak lagi berlaku. Semenjak terlalu sibuk berkutat pada ‘horor cantik’ (dalam artian visual) ketimbang ‘horor seram’, popularitasnya perlahan terus menurun walau tak sampai benar-benar terjerembab. Berharap bisa menebus kesalahan sekaligus comeback ke ranah horor yang membesarkan namanya, Rizal meluncurkan Wewe yang dicangkok dari urban legend. Tidak sepenuhnya berhasil, memang, namun Wewe jelas berada satu tingkat di atas beberapa film horor karya Rizal Mantovani paska Kuntilanak
Mobile Edition
By Blogger Touch