27 Januari 2015

REVIEW : SEVENTH SON


Brace yourself, karena tren adaptasi novel young adult berseri masih belum menandakan tanda-tanda akan menyurut. Paska kelulusan trio penyihir ABG dari Hogwarts atau pernikahan pasangan vampir, mungkin hanya The Hunger Games, Divergent, serta (tampaknya) The Maze Runner yang layak dilabeli sebagai ‘penerus sejati’. Lainnya, menguap begitu saja bersamaan kualitas jauh dari rupawan. Walau kegagalan demi kegagalan kerap menaungi, para petinggi studio masih melihat lahan ini sebagai komoditi menguntungkan untuk dieksploitasi dengan target terbaru yang diangkat ke layar lebar adalah rangkaian seri The Wardstone Chronicles gubahan Joseph Delaney. Ditunjuk untuk mengomandoi proyek berjudul Seventh Son – dicuplik dari jilid pertama, The Spook’s Apprentice – adalah sutradara asal Rusia pembesut Mongol, Sergei Bodrov, yang baru sekali ini dipercaya mengerjakan film besar berbahasa Inggris. Jejak rekamnya bisa dibilang mengagumkan, tapi bukan berarti mustahil baginya berbuat kesalahan... karena itulah yang dilakukannya di Seventh Son

25 Januari 2015

REVIEW : THE IMITATION GAME


“Sometimes it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can imagine.” 

Seorang filsuf kenamaan dari Barat, Ralph Waldo Emerson, pernah berujar, “to be great is to be misunderstood,” saat mengutarakan gagasannya perihal ‘Self Reliance’. Lontaran pernyataan ini disertai beberapa bukti melibatkan sejumlah tokoh penting seperti Yesus, Phytagoras, maupun Socrates yang melewati jalanan berliku-liku untuk memperoleh pengakuan dari khalayak ramai atas kontribusi besar – sulit dipahami oleh manusia lain di zamannya – yang mereka sumbangkan bagi peradaban manusia. Konsekuensi ‘menentang arus’ yang diterima beraneka ragam wujudnya, dari sekadar dihujani perundungan, pengucilan, hingga menerima hukuman mati. Seorang ahli matematika sekaligus kriptoanalisis, Alan Turing, pun menghadapi nasib kurang lebih serupa tatkala memperjuangkan terwujudnya sebuah alat pemecah kode Enigma yang membantu kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II. Penolakan diperolehnya dari lingkungan sekitar – terlebih Turing digambarkan sebagai sosok dingin dan arogan. 

20 Januari 2015

REVIEW : DI BALIK 98


“Kamu kenapa sih suka gitu? Gak ngomong, gak pamit, main pergi aja ninggalin aku.” 

Lukman Sardi membuktikan keseriusannya dalam menekuni bidang penyutradaraan. Melalui film panjang perdananya bertajuk Di Balik 98 ini, dia tidak ragu-ragu mengilas balik ke salah satu jejak terkelam yang pernah ditorehkan pada catatan sejarah bangsa Indonesia, yakni Kerusuhan Mei 1998. Seperti kita sama-sama tahu, badai perekonomian maha dahsyat menerpa negara ini (pula Asia) yang dampaknya menyebabkan krisis finansial dan lonjakan harga-harga kebutuhan pokok yang tidak berkeprimanusiaan. Dihimpit oleh keadaan semacam ini, hati rakyat pun menjerit hingga para mahasiswa pun memutuskan turun ke jalan, mengobarkan semangat reformasi, dengan tujuan akhir menggulingkan rezim Soeharto yang telah menduduki tahta tertinggi pemerintahan selama 32 tahun dan dianggap memiliki peranan besar dalam mengacaukan kondisi perekonomian kala itu. Perjuangan para generasi muda untuk menegakkan kebenaran ini mengakibatkan tewasnya empat mahasiswa Trisakti yang berlanjut pada terperciknya kerusuhan di berbagai penjuru dengan sasaran utama etnis Tionghoa. 

19 Januari 2015

REVIEW : BLACKHAT


Jika hanya diperkenankan menyebut satu alasan yang mendasari ketertarikan untuk mencicipi Blackhat, maka itu adalah Jakarta. Ada semacam kepenasaran melihat bagaimana ibukota negara ini akan dibingkai oleh film berbujet besar produksi studio raksasa Hollywood yang diarahkan oleh sutradara (dulunya) kelas A dengan deretan pemain papan atas, setelah biasanya hanya berkesempatan unjuk diri di film joint venture kelas menengah ke bawah. Bukankah ini terdengar... wah? Belum lagi, di atas kertas, Blackhat mempunai tatanan penceritaan yang menjanjikan dengan mengedepankan ‘techno-thriller’ mengupas perburuan terhadap hacker kelas kakap yang menciptakan kekacauan di tingkat internasional. Dengan premis semacam ini, tidak heran kejar mengejarnya pun melintasi benua – dari Amerika ke Asia – dan menetapkan ekspektasi cukup tinggi bagi penonton. Walau hasil akhirnya, yah... jauh dari bayangan. 

17 Januari 2015

REVIEW : THE WOMAN IN BLACK 2: ANGEL OF DEATH


Kemunculan The Woman in Black 2: Angel of Death, bisa dibilang, cenderung mendadak di layar lebar. Tanpa banyak hembusan disana-sini, hidangan olahan Tom Harper ini seolah tiba-tiba menghiasi sejumlah bioskop tanah air. Apa yang salah? Jawaban paling memungkinkan, hanya segelintir yang mengantisipasi kehadiran film lanjutan dari The Woman in Black – rilis tiga tahun silam – tersebut atau malah... no one cares! Coba tanyakan sekeliling, apakah masih ada yang bisa mengingat secara jelas seperti apa kengerian dari film pertama? Kebanyakan penonton sebatas mengenangnya sebagai ‘film seram yang dibintangi oleh Daniel Radcliffe’, tidak lebih dari itu. Memang, adaptasi dari novel berjudul sama rancangan Susan Hill ini tidaklah buruk karena masih terbilang berhasil memunculkan suasana mencekam lewat atmosfir suram serba tidak mengenakkan alih-alih sekadar penampakan narsis perempuan bergaun hitam penuh dendam, namun istimewa juga tidak. Maka ketika The Woman in Black 2: Angel of Death dicetuskan, sikap skeptis pun bermunculan. Apa lagi yang hendak dibahas terlebih segala misteri telah tuntas terjawab di film pertama? 

16 Januari 2015

REVIEW : HIJAB


“Perempuan itu kudu di rumah, nyuci baju, merawat anak, masak dan patuh dengan suami.” 

Setelah beberapa tahun terakhir ini Hanung Bramantyo kerap kali disibukkan oleh proyek ambisius dengan bekal cerita cenderung bernada serius dan berat menuntut perhatian lebih, ada semacam kerinduan menyaksikannya bersenang-senang seperti halnya di awal-awal karir penyutradaraan – sebut saja, Catatan Akhir Sekolah dan Jomblo – yang jujur dalam berkisah, lepas tanpa beban, dan santai namun tetap meninggalkan kesan mendalam usai menyimaknya. Mungkin, seperti halnya para pecinta film, Hanung pun merasakan kerinduan (atau justru kelelahan) serupa sehingga usai megaproyek Soekarno dan sebelum melangkah ke film berbujet raksasa lainnya, diputuskan untuk berelaksasi, menyegarkan pikiran sejenak agar tidak suntuk. Lagipula, why so serious? ‘Main-main’ ala Hanung ini lantas diwujudkan lewat Hijab yang tak seperti judulnya – bahkan mungkin bayanganmu – enggan bergerak di ranah reliji. Kenyataannya, Hijab adalah sebuah film komedi satir cerdas berisi nan mengasyikkan yang tanpa malu-malu berbicara soal kesetaraan jender, posisi perempuan, ajaran agama, moral, dan (tentunya) hijab sebagai bagian dari gaya hidup bukan sekadar penanda keimanan seseorang. 

12 Januari 2015

14 FILM INDONESIA TERBAIK 2014 VERSI CINETARIZ


Seperti biasa, postingan soal daftar film terbaik di blog ini akan selalu dimulai dengan... wah, tidak terasa kita telah menapaki hari di tahun baru, sepertinya baru kemarin bla, bla, bla. Saya tahu, kamu kebosanan setengah mati membaca repetisi pembuka ini, tapi hey, ada kegembiraan yang ingin diluapkan dan ucapan syukur yang ingin dipanjatkan di awal tahun ini karena akhirnya aroma kebebasan (untuk sementara waktu) dapat tercium setelah toga bertengger manis di kepala dan ijazah tanda bukti perjuangan selama 5 tahun dihaturkan beberapa bulan silam. Bukankah berita bagus sebaiknya dinikmati secara bersama-sama? 
Mobile Edition
By Blogger Touch