REVIEW : EVIL DEAD


"Feast on this, motherfucker!" - Mia

Tagline dari film ini telah memberi peringatan kepada Anda mengenai apa yang akan Anda hadapi selama 92 menit. Tulisan yang tertera besar-besar di posternya berbunyi seperti ini; ‘the most terrifying film you will ever experience’. Jika telah menyaksikan versi aslinya – sebuah mahakarya dari Sam Raimi yang dirilis pertama kali pada tahun 1981 – maka Anda sudah tahu sedikit banyak mengenai pengalaman yang hendak dialami. Namun jika ini adalah pertama kalinya mencicipi franchise dari Evil Dead... bersiaplah! Khususnya bagi yang mudah mual dan tidak tahan terhadap tontonan yang memperlihatkan bergalon-galon darah yang membanjiri layar. Karena yah, itulah yang akan menjadi hidangan utama dari reboot yang dikreasi ulang oleh sutradara anyar asal Uruguay, Fede Alvarez, ini. Semuanya tentang... darah, darah, darah! Gedung bioskop pun mendadak memerah lantaran layar yang tak henti-hentinya diciprati oleh darah. Yah, jelas bukan pengalaman indah yang akan Anda alami di sini. Teror dan mimpi buruk adalah yang dijanjikan oleh Alvarez. 

REVIEW : CINTA BRONTOSAURUS


"Memang, kalau cinta butuh alasan, Bang?" - Edgar

Cinta memang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas sampai kapanpun. Selalu saja ada sisi yang menarik untuk dikulik meski sejatinya apa yang dibicarakan tidak terlampau jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Raditya Dika – serta ribuan penulis lainnya di luar sana – melihat potensi yang besar apabila menggarap kisah yang berkaitan dengan percintaan. Lebih mengasyikkan lagi... jika itu berdasarkan pengalaman pribadi. Di era ketika ‘menggalau’ – terutama dalam urusan asmara – seolah telah menjadi makanan pokok sehari-hari, maka tidak ada yang lebih tepat lagi dari menyajikan sebuah hidangan dimana di dalamnya terkandung elemen-elemen seperti jatuh cinta, penolakan, patah hati, dan memenangkan hati pasangan, kepada publik (atau dalam hal ini, penonton muda). Segala hal yang berkaitan dengan suka duka dan pahit manis kehidupan percintaan ini Dika coba tuangkan dalam film teranyarnya, Cinta Brontosaurus

REVIEW : THE LEGEND OF TRIO MACAN


Persepsi publik secara mayoritas terhadap Trio Macan bisa dibilang cenderung negatif, khususnya bagi mereka yang tak menggemari musik Dangdut dengan taburan goyang serba heboh nan sedikit banyak erotis. Maka ketika trio penyanyi dangdut yang baru-baru ini berganti formasi membintangi sebuah film layar lebar berjudul The Legend of Trio Macan, sudah bisa ditebak sejumlah penghakiman awal akan merebak. Masyarakat jelas memandang sebelah mata. Ini juga bukan sesuatu yang mengherankan (serta salah), mengingat jejak rekam trio ini dalam dunia seni peran sama sekali tidak cihuy. Apakah ada yang masih mengingat bahwa mereka – dalam formasi lawas – pernah membintangi film-film dengan kualitas memprihatinkan semacam Darah Janda Kolong Wewe dan Hantu Puncak Datang Bulan? Rasa-rasanya hanya segelintir orang saja yang masih mengingat keberadaan dua film tersebut. Melalui The Legend of Trio Macan, trio ini seolah ingin melakukan ‘penebusan dosa’, meski yah... tentunya dengan tetap mempertahankan ciri khas mereka. 

[Preview] DAFTAR FILM INDONESIA SIAP RILIS MEI 2013


Ada apa di bulan Mei? Yah... selain fakta bahwa semakin banyak film-film berbujet raksasa dari Hollywood dalam rangka meramaikan parade 'summer movies', ada beberapa film Indonesia yang layak untuk diantisipasi kehadirannya. Pada bulan ini, film kedua Mouly Surya yang telah melanglang buana ke berbagai festival film dunia - termasuk Sundance - akhirnya resmi dirilis di bioskop. Lalu ada pula film biopik pendiri Nahdlatul Ulama (NU), film adaptasi novel laris karangan Raditya Dika, film omnibus dengan tiga rasa berbeda yang digarap oleh sutradara-sutradara perempuan, serta film yang mengangkat isu buruh. 

Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis sepanjang Mei 2013: 

REVIEW : KISAH 3 TITIK


"Nggak atasan, nggak bawahan, hobinya ngejilat!" - Titik Manajer

Apabila dalam Minggu Pagi di Victoria Park kita memperoleh gambaran tentang kehidupan para TKW di Hong Kong yang sejahtera dan serba berkecukupan, maka pemandangan yang sama sekali berbeda ‘dijlentrehkan’ oleh Kisah 3 Titik. Dalam film garapan sutradara anyar, Bobby Prabowo, ini Anda akan diajak untuk menelusuri dunia perburuhan di Indonesia yang masih jauh dari kata sejahtera dimana ‘cahaya’ adalah sesuatu yang langka dan barang mewah. Ini adalah dunia yang suram, keras, dan dingin. Benar-benar menerjemahkan tulisan yang kerap kali menghiasi surat kabar, ‘nasib buruh di tanah air paling memprihantinkan di ASEAN’. Ya, film yang berceloteh sepanjang 104 menit ini mengamininya. Serangkaian adegan yang terpampang di layar perak sungguh terasa memilukan dan mengiris hati. Atas nama jabatan – serta tentunya, Rupiah – asas kemanusiaan diungsikan jauh-jauh. Menjadi pribadi yang kelewat baik nan jujur bukanlah pilihan yang menguntungkan. 

REVIEW : 9 SUMMERS 10 AUTUMNS


"Aku tak bisa memilih masa kecilku, tapi masa depan itu kita sendiri yang melukiskannya." - Iwan 

Hingga saya menulis ulasan ini, Ifa Isfansyah belum pernah membuat saya mendengus kesal dipenuhi perasaan kecewa setelah menyaksikan film-film garapannya. Dimulai sejak sejumlah film pendek yang sederhana tapi membekas hingga serangkaian film panjang yang masing-masing dikerjakan dengan cermat, Ifa telah menempatkan dirinya sebagai salah satu sutradara terbaik di perfilman Indonesia pada saat ini. Film terbarunya, 9 Summers 10 Autumns, yang diangkat dari sebuah novel laris berjudul sama hasil olahan Iwan Setyawan, semakin memantapkan posisinya. Film ini membuat saya ingin segera meluncur ke rumah, memberikan pelukan erat nan hangat kepada orang tua serta saudara-saudara dan tak lupa sebuah ciuman yang manis turut disertakan. Kisah inspiratif ‘from zero to hero’ yang sejatinya memiliki jalinan penceritaan yang klise, berhasil disuguhkan menjadi sebuah sajian yang bersahaja, penuh kehangatan, dan luar biasa cantik. Ini adalah sebuah tontonan yang akan dengan mudah mempermainkan emosi Anda sepanjang film, terutama jika Anda adalah seseorang yang mencintai keluarga lebih dari apapun. 
Mobile Edition
By Blogger Touch