November 15, 2019

REVIEW : DOCTOR SLEEP


“When I was a kid, there was a place, a dark place. They closed it down, and let it rot. But the things that live there, they come back.”

Sebagai seseorang yang menggemari genre horor, saya sangat menyukai The Shining (1980). Bagi saya, film garapan Stanley Kubrick tersebut terhitung layak untuk berdiri tegak pada posisi puncak dalam daftar “film horor paling seram yang pernah dibuat sepanjang masa”. Memang betul Stephen King sebagai pereka versi novelnya mengaku kurang sreg dengan interpretasi Kubrick. Alasannya, sang sutradara terlampau banyak melakukan improvisasi sehingga membuat versi layar lebarnya lebih layak disebut “terinspirasi” ketimbang “adaptasi” dari buku milik King. Akan tetapi, jika kita bersedia meniadakan komparasi dan semata-mata memandangnya sebagai sajian seram, The Shining berhasil. Secara perlahan tapi pasti, film akan “menelanmu” hidup-hidup melalui kombinasi narasi, akting, serta trik menakut-nakuti yang ciamik. Ada banyak adegan ikonik di sini (seperti bocah kembar, banjir darah, sampai “here’s Johnny!”) yang masih membekas sampai sekarang, dan sempat pula beberapa kali bergentayangan dalam mimpi sesaat setelah menontonnya. Hiii… Menilik legacy cukup hebat yang ditinggalkan olehnya, saya jelas sempat dirundung keraguan begitu mendengar adanya wacana sekuel berdasar novel kelanjutan bertajuk Doctor Sleep yang masih ditulis oleh King dan dirilis pada tahun 2013 silam. Yang kemudian membuat saya optimis adalah faktor sutradara. Sebagai pengganti Kubrick, pihak Warner Bros memercayakan ekranisasi novel ini untuk ditangani oleh Mike Flanagan. Seorang sutradara dengan jejak rekam gilang gemilang yang filmografinya mencakup serial seram bertajuk The Haunting of Hill House (2018) dan beberapa film horor kece semacam Oculus (2013), Hush (2016), serta Gerald’s Game (2017) yang juga disadur dari prosa gubahan King. Terdengar menjanjikan, bukan?

November 12, 2019

REVIEW : RATU ILMU HITAM (2019)


“Ketidaktahuan itu juga dosa, sayang.”

Saat pertama kali mendengar rumah produksi Rapi Films akan mendaur ulang salah satu film andalannya, Ratu Ilmu Hitam (1981), reaksi yang bisa saya lontarkan seketika adalah, “wow!”. Seperti halnya Pengabdi Setan yang versi termutakhirnya turut mendapatkan puja-puji dari berbagai kalangan, film arahan Lilik Sudijo ini pun bukanlah sajian horor ecek-ecek. Tengok saja pencapaiannya dalam industri: menggenggam lima nominasi dalam Festival Film Indonesia 1982 termasuk untuk kategori Aktris Utama Terbaik bagi Suzzanna. Pencapaian ini jelas impresif, lebih-lebih jika kita berkaca pada fakta bahwa genre horor amat sangat jarang dilirik oleh ajang penghargaan bergengsi. Guna menjaga “nama baik” dari Ratu Ilmu Hitam, pihak rumah produksi pun memercayakan penulisan skenario kepada Joko Anwar yang terbukti mampu menghantarkan Pengabdi Setan (2017) dalam meraih kesuksesan secara kritikal maupun finansial. Sedangkan untuk urusan mengejawantahkan ke bahasa audio visual, Kimo Stamboel – salah satu personil dari The Mo Brothers – lah yang diberi amanat. Sebuah kolaborasi yang mesti diakui tampak menggiurkan di atas kertas dan seolah memungkinkan tersajinya sebuah sajian seram yang penuh teror. Yang kemudian membuat saya dirundung rasa skeptis adalah ketidakpuasan terhadap penggarapan Kimo dalam DreadOut yang dirilis pada awal tahun ini. Ada keraguan dan ada trauma yang masih tersisa sampai-sampai membentuk satu pertanyaan. Akankah interpretasi anyar dari Ratu Ilmu Hitam sanggup ditangani dengan baik oleh Kimo sehingga sajian seram mencekam pun dapat tersaji? Let’s see.

November 7, 2019

REVIEW : LAMPOR KERANDA TERBANG


“Anak yang dianggap hilang, akhirnya pulang.”

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dedemit yang dikenal dengan nama lampor bisa jadi masih terdengar asing di telinga. Tapi bagi mereka yang tumbuh besar di Jawa – khususnya area Yogyakarta dan sekitarnya – lampor adalah teror masa cilik yang sulit dienyahkan. Sebagian orang memang mengenalnya sebatas “hantu penculik bocah” yang muncul selepas matahari terbenam. Tapi dalam narasi yang lebih luas, sosoknya dikenal sebagai pasukan Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan yang kehadirannya ditandai dengan adanya suara kegaduhan yang bersumber dari iring-iringan kereta kuda dan pasukan demit. Terdengar mengerikan, bukan? Begitulah jika kita memperbincangkan soal mitologi Jawa, aroma mistis dan kleniknya sangat kuat terasa. Setiap daerah memiliki mitosnya sendiri, setiap daerah mempunyai kepercayaan yang akan membuat bulu kudukmu meremang. Saking melimpahnya mitos Jawa yang menyeramkan ini, tak mengherankan jika kemudian pihak rumah produksi di tanah air pun kerap meliriknya untuk dijadikan bahan utama bagi film horor. Maklum, selain terdengar seram, latar belakangnya juga filmis. Memungkinkan sekali untuk diejawantahkan ke tontonan layar lebar, termasuk mitos lampor yang lantas didayagunakan oleh Starvision guna menghasilkan film seram bertajuk Lampor Keranda Terbang dimana Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku sutradara dan Adinia Wirasti yang didapuk sebagai pemeran utama menjajal genre horor untuk pertama kalinya.

November 4, 2019

REVIEW : LOVE FOR SALE 2


(ulasan mengandung spoiler, jadi berhati-hatilah di dua paragraf akhir)

“Belum pernah saya lihat mamakmu sebahagia seperti sekarang ini. Auranya… bersinar!”

Bagi sebagian orang, Arini (Della Dartyan) adalah salah satu karakter fiktif paling keji dalam sinema dunia yang semestinya dilaknat. Alasannya, karena dia mendadak pergi tanpa pamit dan meninggalkan seorang pria yang menaruh rasa teramat dalam kepadanya di saat sang pria sedang sayang-sayangnya. Tindakan Arini ini jelas tidak bisa dibenarkan oleh kemanusiaan. Terlebih lagi, pria tersebut juga telah terlampau lama tak memperoleh belaian penuh cinta kasih dari seorang perempuan. Jika kemudian ada yang mengantagonisasi Arini atas tindakannya kepada bujang lapuk kesepian bernama Richard (Gading Marten), tentu bisa dipahami. Walau sejatinya pernyataan “Arini adalah villain” dapat dipatahkan seketika apabila penonton bersedia untuk mengilas balik ke awal perjumpaan dua karakter utama dalam Love for Sale (2018) ini. Satu hal yang perlu digarisbawahi, Arini hanyalah pegawai di Love Inc. – perusahaan penyedia pasangan sewaan yang konsepnya menyerupai Family Romance di Jepang – yang kebetulan mendapat penugasan untuk mendampingi Richard. Dia mempunyai kontrak yang harus dipatuhi, dia juga mempunyai perasaan yang mesti dibatasi. Hubungannya dengan klien bersifat profesional, tidak pernah lebih. Apabila percikan asmara lantas menghinggapi klien, bukankah kesalahan ada di pihak klien lantaran telah mendobrak batasan? Melalui Love for Sale 2, Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Romeo Juliet) yang masih menduduki kursi penyutradaraan berupaya untuk “memperbaiki citra” Arini yang kadung tercoreng ini. Dalam narasi yang diekspansi lebih luas lagi demi menuruti aturan tak tertulis untuk sekuel, ada sepenggal narasi yang akan mendorong penonton untuk memahami motivasi sesungguhnya dari “sang villain”.

October 31, 2019

REVIEW : ZOMBIELAND DOUBLE TAP


“When you love something, you shoot it in the face. So it doesn't become a flesh eating monster.”

Apakah ada diantara kalian yang masih ingat dengan Zombieland? Itu lho, film tentang mayat hidup yang disajikan secara unik dan mendapatkan puja puji dari kritikus maupun penonton saat dirilis di bioskop pada tahun 2009 silam. Ketimbang sebatas bernarasi tentang sejumlah manusia yang mencoba bertahan hidup dari serangan zombie, film arahan Ruben Fleischer (Gangster Squad, Venom) tersebut mencoba memberikan sejumlah modifikasi yang terdiri dari: 1) pijakan genrenya adalah komedi dimana film tak pernah menganggap dirinya serius, 2) ada aturan-aturan diberlakukan untuk bertahan hidup yang tak hanya diucapkan tetapi juga divisualisasikan secara nyentrik, 3) penggunaan nama kota di Amerika Serikat sebagai nama karakter untuk menghindari ketergantungan, dan 4) film menyelipkan kehangatan ke dalam narasi menyusul adanya topik pembicaraan seputar “manusia adalah makhluk sosial”. Hasilnya, kita mendapati salah satu tontonan zombie terbaik yang pernah dibuat. Lebih-lebih, Zombieland juga dianugerahi chemistry hebat dari keempat pelakon utamanya seperti Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, serta Abigail Breslin yang belakangan semuanya menyandang predikat “pemain kelas Oscar”. Sungguh impresif, bukan? Saking impresifnya, ada beban tersendiri bagi tim pembuat film tatkala mencetuskan gagasan untuk menciptakan sebuah sekuel. Mereka membutuhkan waktu selama bertahun-tahun untuk menggodok naskah, sampai akhirnya film kelanjutan bertajuk Zombieland Double Tap baru siap diluncurkan pada perayaan ulang tahun ke-10 dari film pertama yang untungnya masih dimeriahkan oleh jajaran pemain yang sama.

October 26, 2019

REVIEW : SUSI SUSANTI: LOVE ALL


“Saya adalah orang Indonesia. Selamanya saya orang Indonesia.”

Siapa sih yang tidak mengenal Susi Susanti? Menorehkan beragam prestasi di sepanjang karirnya, termasuk mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade Barcelona 1992, namanya dicatat oleh sejarah sebagai salah satu figur penting dalam kancah olahraga bulu tangkis. Tidak hanya dalam lingkup tanah air, tetapi juga dunia. Dia adalah pahlawan gelanggang yang berjasa menyatukan Indonesia yang terpecah-pecah jelang reformasi 1998, dan berjasa pula dalam mengobarkan rasa nasionalisme yang timbul tenggelam akibat pemerintahan Orde Baru yang amat menekan khususnya bagi keturunan Tionghoa seperti Susi. Sungguh mengagumkan, bukan? Menilik segala pencapaian yang direngkuh oleh legenda hidup ini semenjak dirinya memulai karir pada pertengahan era 1980-an sampai akhirnya memutuskan untuk gantung raket di penghujung era 1990-an, maka tidak mengejutkan jika kemudian ada sineas tanah air yang berinisiatif untuk mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar. Sim F yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara video musik (karyanya mencakup “Menghapus Jejakmu” milik Peterpan dan “Cinta Pertama dan Terakhir” milik Sherina) dipercaya untuk mengejawantahkan sepak terjang atlet asal Tasikmalaya tersebut melalui film biopik bertajuk Susi Susanti: Love All. Yang menarik, alih-alih sebatas menyoroti jatuh bangun Susi dalam menapaki tangga karir, film turut mengapungkan isu rasialisme yang memang mempunyai impak besar terhadap perjalanan hidup serta karir Susi.
Mobile Edition
By Blogger Touch