16 Juli 2014

REVIEW : DAWN OF THE PLANET OF THE APES


“Apes do not want war!” – Caesar 

Nyaris tidak ada yang peduli saat proyek reboot film legendaris Planet of the Apes – berjudul Rise of the Planet of the Apes, rilis 3 tahun silam – diumumkan ke khalayak ramai. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh versi remake-nya yang diolah Tim Burton bisa jadi menjadi salah satu kuncinya. Hingga... orang-orang menontonnya. Tiada yang kemudian menyangka bahwa jilid yang memulai franchise baru ini akan mencuat sebagai summer blockbuster sukses, gegap gempita, tetapi tetap memiliki kecerdasan dalam penuturannya. Sikap skeptisisme pun seketika lenyap, tergantikan oleh optimisme. Terlebih, masih banyak ruang bagi franchise ini untuk berkembang setelah klimaks epik di Golden Gate yang sulit dilupakan itu. Mungkin satu-satunya yang memberikan (sedikit) keraguan atas Dawn of the Planet of the Apes adalah Matt Reeves (Cloverfield, Let Me In) yang menggantikan posisi Rupert Wyatt di kursi penyutradaraan. Bukan sutradara yang buruk, tentu saja, tetapi sejauh manakah dia akan membawa jilid ini setelah instalmen sebelumnya telah menetapkan standar yang cukup tinggi? 

8 Juli 2014

REVIEW : BLENDED


“He's a bad daddy he made me look like The Walking Dead.” 

Ada satu alasan kuat yang melandasi mengapa Blended adalah sebuah film yang seharusnya tidak saya lewatkan begitu saja: ini adalah reuni kedua dari Adam Sandler dan Drew Barrymore di sebuah film beraliran romantic-comedy setelah pertemuan mereka yang begitu romantis, sulit terlupakan, dan membekas di hati lewat The Wedding Singer serta 50 First Dates. Ya, keduanya adalah raja dan ratu di film komedi romantis yang popularitasnya bahkan boleh disandingkan dengan pasangan Tom Hanks-Meg Ryan ataupun Richard Gere-Julia Roberts. Dengan tambahan kehadiran Frank Coraci (The Waterboy, Click) yang sebelumnya berkolaborasi bersama mereka dalam The Wedding Singer di kursi penyutradaraan, maka sudah barang tentu ajang temu kangen setelah 10 tahun terpisah ini wajib untuk dihadiri. Bukankah selalu mengasyikkan bisa berjumpa kembali dengan kawan lama yang begitu dicintai dalam suasana yang telah dikenal? 

3 Juli 2014

REVIEW : DELIVER US FROM EVIL


“You haven't seen true evil.” 

Jika sineas dalam negeri gemar mengeksploitasi pocong, kuntilanak, dan rekan-rekan sebangsanya dalam film seram, maka sineas Hollywood memiliki hobi bermain-main dengan exorcism (pengusiran setan). Sejak salah satu dedengkot, The Exorcist, yang sulit dilupakan itu hingga The Last Exorcism Part II yang ‘ya gitu deh’, entah sudah berapa judul diproduksi menyangkut upacara usir mengusir setan ini. Ada yang berhasil memuaskan semacam The Exorcism of Emily Rose, namun lebih banyak yang berakhir memprihatinkan hingga keberadaannya menguap begitu saja. Belum juga kapok meski jejak rekam film-film sejenis seringkali enggan mencatat keberhasilan, Screen Gems nekat melempar Deliver Us From Evil yang masih berada pada lajur sama di tengah riuhnya persaingan film musim panas. Melihat adanya nama sekelas Scott Derrickson dan produser kenamaan Jerry Bruckheimer di belakang layar bisa dimengerti darimana munculnya rasa percaya diri itu. Meski, kehadiran dua nama ini tidak lantas menjamin kualitas dari Deliver Us From Evil

30 Juni 2014

REVIEW : THE FAULT IN OUR STARS


“You gave me a forever within the numbered days, and for that I am eternally grateful.”

Komedi bukanlah sahabat terbaik bagi romansa tragis berembel-embel penyakit mematikan. Kerap diwujudkan penuh derita dan uraian air mata seolah kebahagiaan telah sirna, khususnya di khasanah melodrama Asia, penderita dieksploitasi sedemikian rupa sampai-sampai menyunggingkan senyuman pun membutuhkan perjuangan tersendiri untuk dilalui. Akan tetapi, Hollywood sepertinya sudah lelah dengan rengekan tak berkesudahan sehingga mencoba memandang subjek pahit ini lewat nada yang lebih positif. Anda mungkin paling mengingatnya paling jelas di 50/50, dan kali ini, Josh Boone pun mengaplikasikan formula yang sama kala menuangkan novel young adult sarat puja puji dari banyak kalangan karya John Green, The Fault in Our Stars, ke dalam bahasa gambar dengan meminimalisir kecengengan dan mengalunkan penceritaan secara dewasa pula bijaksana. Hasilnya? Malah justru lebih membekas di hati. 

28 Juni 2014

REVIEW : TRANSFORMERS: AGE OF EXTINCTION


“This is not war... it's human extinction!” 

Apa yang bisa Anda harapkan dari franchise film Transformers yang beranjak dari mainan laris keluaran Hasbro? Jawaban yang paling bisa diterima adalah pameran visual yang mewah megah di balik gelaran aksinya yang habis-habisan. Selain itu, sebaiknya lupakan saja karena mustahil akan dituai di seri ini. Transformers: Age of Extinction pun bukan pengecualian. Sekalipun Michael Bay – yang sempat berulang kali berencana mengundurkan diri dari posisi sutradara semenjak, yah, Revenge of the Fallen – telah sesumbar bahwa instalmen keempat ini akan dicanangkan sebagai semacam era baru, tetapi pada kenyatannya tidak banyak yang berubah di sini kecuali konfigurasi para pemain. Transformers: Age of Extinction masih seperti versi layar lebar dari Transformers yang Anda kenal; megah secara tampilan, namun begitu berisik, kelewat panjang, dan dangkal. Untuk sekali ini, Bay meningkatkan ‘kegilaan’ itu sehingga bagi Anda yang memang sedari awal tidak menggemari franchise ini (namun tetap memaksa untuk menontonnya), bersiaplah untuk menggelepar tak berdaya di dalam gedung bioskop. 

24 Juni 2014

REVIEW : CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU


"Seng ada Passo, Seng ada Tulehu. Seng ada Islam, Seng ada Kristen. Beta disini Maluku. Kalo ada yang tanya ose siapa, ose jawab Beta Maluku!" 

Gemuruh sorak sorai dan tepuk tangan membahana di stadion, warung pinggiran, rumah penduduk, bahkan tempat ibadah. Sebuah pertanda bahwa tim jagoan telah merengkuh kemenangan, menghempas seluruh pandangan sarat skeptisisme. Segala keraguan yang tadinya hadir membayangi perlahan-lahan beralih rupa menjadi elu-elu pujian penuh kebanggaan. Pergulatan berhiaskan peluh keringat, air mata, dan pengkhianatan yang menyakitkan pun terbayar lunas, tersimpan di ingatan sebagai kenangan pahit... sekaligus manis. Berstatus sebagai tim ‘underdog’ dengan tipe perjuangan ‘from zero to hero’, pencapaian gemilang yang diukir oleh Tim U-15 Maluku dalam usaha mereka untuk berjaya di kompetisi tingkat nasional tentulah banyak memiliki cerita yang patut dibicarakan di belakangnya. Atas dasar inilah, Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda) bersama Visinema Pictures merasa perlu untuk menerjemahkan kisah perjuangan mereka ke dalam bahasa gambar melalui Cahaya Dari Timur: Beta Maluku

21 Juni 2014

REVIEW : SELAMAT PAGI, MALAM


“Kenapa sih semua orang di Jakarta harus punya lebih dari satu telepon?” 

Bagaimana mendeskripsikan Jakarta? Mudah. Sebut saja kebisingan suara klakson yang bersahut-sahut tak berkesudahan, kemacetan tak berkeprimanusiaan sampai-sampai jalanan tak ubahnya lapangan parkir, barisan pengendara motor yang siap senggol bacok siapapun yang menghalangi laju mereka, pengguna angkutan umum yang berdempet-dempetan berhiaskan peluh keringat, sampai pekerja kantoran berlarian berpacu dengan waktu, maka itu sudah cukup merangkum rutinitas mengerikan yang dihadapi oleh warga Jakarta... setiap hari! Jelas, ini bukanlah tempat bagi Anda yang berharap bisa menjalani kehidupan dengan penuh kenyamanan, karena itu perkara yang nyaris mustahil diwujudkan. Ini adalah tempat yang mungkin (mungkin lho ya!) tepat bagi Anda yang ambisi utamanya adalah merengkuh rupiah sebanyak mungkin dan mengembangkan karir ke puncak tertinggi. 
Mobile Edition
By Blogger Touch