October 14, 2017

REVIEW : ONE FINE DAY


“Hidup itu seperti kamera. Kamu harus fokus pada satu target.” 

Andaikata kamu telah menelurkan beberapa karya dengan pokok penceritaan seragam namun terbukti diterima sangat baik oleh publik, apa yang akan kamu lakukan untuk karya berikutnya? Mengaplikasikan formula senada sampai pangsa pasarmu menanggapi dingin atau perlahan tapi pasti mencoba berinovasi demi menggaet pasar lebih luas yang berarti ada resiko besar mesti diambil? Bagi rumah produksi Screenplay Films yang telah memberi kita tontonan percintaan mendayu-dayu seperti Magic Hour, I Love You from 38.000 Feet, Promise, serta dwilogi London Love Story, jawabannya telah teramat jelas yakni pilihan pertama. Mereka seolah-olah berujar, “formula kita telah teruji berhasil untuk penonton usia belasan yang menjadi konsumen utama kita, jadi mengapa harus mengambil resiko dengan mengubahnya hanya untuk menyenangkan hati penonton-penonton sinis yang bisa jadi tidak akan menonton film kita?.” Tidak mengherankan jika rilisan terbaru mereka, One Fine Day, yang masih ditangani oleh tim inti serupa dengan rilisan terdahulu (setidaknya untuk kursi penyutradaraan dan penulisan naskah) tanpa ragu-ragu mengusung guliran penceritaan yang senada seirama. Kita kembali diterbangkan jauh-jauh ke negeri orang untuk menyaksikan kusutnya kisah percintaan muda-mudi berkantong tebal asal Indonesia. 

October 10, 2017

REVIEW : JOMBLO (2017)


“Waktu dapat menghapus luka di hati, tapi kenangan manis akan selalu membekas di hati.” 

Jomblo garapan Hanung Bramantyo yang didasarkan pada novel laris berjudul sama rekaan Adhitya Mulya dan dirilis pada tahun 2006 silam merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang pernah dibuat. Tiga elemen utama penyusun film yang terdiri atas komedi, romansa, dan persahabatan bisa berpadu dengan sangat baik pula mulus. Siapapun yang pernah mengalami fase dibuat kesengsem oleh lawan jenis, lalu jatuh bangun dalam memperjuangkan cinta, ditolak seseorang yang telah lama didambakan, serta menjalin hubungan akrab bersama kawan-kawan yang setia mendampingi di kala susah dan senang, akan mudah untuk terhubung ke jalinan pengisahan yang digulirkan oleh Jomblo. Ditambah lagi, Jomblo versi 2006 mempunyai empat pelakon inti dengan chemistry ciamik; Ringgo Agus Rahman (dalam film perdananya), Christian Sugiono, Dennis Adhiswara, dan Rizky Hanggono, yang sanggup meyakinkan penonton bahwa mereka memang bersahabat dekat satu sama lain. Bisa dibilang nyaris sempurna di berbagai lini – film pun mampu mempermainkan emosi penonton sedemikian rupa – maka agak mengherankan tatkala Falcon Pictures memutuskan untuk menginterpretasi kembali tulisan Adhitya Mulya ke format film layar lebar hanya dalam rentang waktu satu dekade saja. Maksud saya, bukankah seorang bijak pernah berujar, “if it ain’t broke, don’t fix it”

October 8, 2017

DAFTAR NOMINASI DI FESTIVAL FILM INDONESIA 2017


Bertempat di Raffles Hotel, Jakarta Selatan, pada Kamis (5/10) malam, deretan nominasi Festival Film Indonesia 2017 (FFI 2017) diumumkan. Dalam perhelatan tahun ini yang malam puncaknya akan diselenggarakan di Manado pada 11 November mendatang, terdapat 22 kategori kompetisi yang secara rinci terbagi menjadi 18 kategori untuk film bioskop panjang dan 4 kategori untuk film pendek, film dokumenter, serta film animasi.

Usai menyeleksi sekitar 100 judul film yang telah ditayangkan untuk publik pada periode Oktober 2016 hingga Oktober 2017, dewan juri menetapkan Cek Toko Sebelah, Kartini, Night Bus, Pengabdi Setan, serta Posesif sebagai calon utama penerima Piala Citra dalam kategori Film Terbaik. Kartini arahan Hanung Bramantyo merupakan peraih nominasi terbanyak di FFI 2017 dengan raihan sebanyak 14 nominasi.

October 1, 2017

REVIEW : PENGABDI SETAN (2017)


“Kalau memang itu Ibu, kita bilang sama dia supaya nggak ganggu kita lagi.” 

Kala melontarkan tanya seputar film horor tanah air paling seram, responden kerap kali menyebut judul Pengabdi Setan – sebuah film memedi rilisan tahun 1980 yang digarap oleh Sisworo Gautama Putra. Apabila kamu pernah menyaksikannya, maka jawaban tersebut tak akan terdengar mengejutkan di telinga karena film ini memang cukup ampuh dalam mengganggu kenikmatan tidur di malam hari. Secara penceritaan memang tak istimewa karena hanya berkisar pada pertarungan melawan kebatilan, begitu pula elemen teknisnya. Yang lantas menjadikan Pengabdi Setan versi jadul ini dikenang banyak pihak yakni kemampuan si pembuat film dalam menghadirkan rentetan teror ikonik seperti penampakan sosok ibu dalam wujud hantu, gangguan kala sholat, keberadaan villain bernama Darminah (Ruth Pelupessy) dengan tatapannya yang bikin nyali ciut, sampai serangan zombie. Salah satu pecinta film yang mengalami mimpi buruk saat menonton film ini adalah Joko Anwar (Kala, Pintu Terlarang) yang lantas menginspirasinya untuk menggarap ulang Pengabdi Setan. Perjuangan Joko guna mengantongi izin dari Rapi Films selaku pemilik hak cipta film tidaklah main-main karena membutuhkan waktu sekitar 10 tahun sampai akhirnya rumah produksi berkenan memberinya restu. Diberi kepercayaan sedemikian besar, Joko tentu memanfaatkannya sebaik mungkin yang terpampang nyata pada hasil akhir interpretasi barunya terhadap Pengabdi Setan yang tak saja berhasil sebagai remake tetapi juga amat layak memperoleh predikat sebagai “salah satu film horor Indonesia terbaik sepanjang masa.”  

September 22, 2017

REVIEW : GERBANG NERAKA


“Yang dibutuhkan Indonesia itu sains, bukan klenik.” 

Jika kamu selama ini mengeluhkan kurangnya variasi genre dalam perfilman tanah air, rilisan terbaru rumah produksi Legacy Pictures bertajuk Gerbang Neraka yang menawarkan tema baru ini semestinya tidak kamu lewatkan begitu saja. Memiliki judul awal Firegate: Piramida Gunung Padang, film garapan Rizal Mantovani (Kuntilanak, 5 cm) ini menancapkan jejak utamanya di genre petualangan yang sebelumnya pernah coba dieksplorasi oleh sineas tanah air melalui Ekspedisi Madewa (2006) dan Barakati (2016) yang mungkin tidak terlalu familiar di telinga sebagian besar penonton tanah air. Yang lantas membedakan Gerbang Neraka dari kedua judul tersebut adalah Rizal bersama Robert Ronny selaku penulis skenario memadupadankannya dengan fantasi dan horor demi meningkatkan daya tariknya ke publik. Gagasan penceritaan untuk filmnya sendiri tercetus berkat keriuhan yang melingkungi situs punden berundak Gunung Padang di Jawa Barat pada tahun 2014 silam. Berbagai temuan para peneliti melahirkan sejumlah spekulasi dari berbagai pihak yang salah satu paling santer terdengar menyatakan adanya piramida berusia sangat tua (konon usianya melebihi Piramida Giza di Mesir!) yang terkubur di bawah Gunung Padang. Sebuah spekulasi yang jelas sangat menggiurkan untuk diejawantahkan menjadi tontonan layar lebar, bukan? 

September 21, 2017

REVIEW : KINGSMAN: THE GOLDEN CIRCLE


“Being a “Kingsman” is more than the clothing we wear or the weapons we bag. It’s about willing to sacrifice for the greater good.” 

Ditengah kecenderungan film spionase bergerak ke arah yang lebih serius dengan nada penceritaan muram – bahkan belakangan seri James Bond tidak lagi mengutamakan bersenang-senang – Kingsman: The Secret Service yang dirilis pada tahun 2014 menawarkan sebuah alternatif menyegarkan bagi para pecinta film. Sang sutradara, Matthew Vaughn (Kick-Ass, X-Men: First Class), memperkenalkan kita kepada agen rahasia anyar yang sanggup memadukan tindak tanduk ugal-ugalan bak bocah ingusan yang tidak pernah mengenal sopan santun dengan elegansi ala bangsawan Inggris. Sebuah kombinasi unik yang lantas menghadapkan penonton kepada gelaran laga berbalut komedi yang penuh gaya, berwarna, dan tanpa tedeng aling-aling dalam menggeber kekerasan demi mencapai dua tujuan: kejutan dan kesenangan. Hidangan berbeda yang materinya bersumber dari komik bertajuk sama rekaan Dave Gibbons dan Mark Millar ini tanpa dinyana-nyana sanggup memperoleh resepsi memuaskan baik dari penonton maupun kritikus sehingga 20th Century Fox seketika memberi lampu hijau untuk pembuatan sekuel. Yang kemudian menjadi pertanyaan, mengingat instalmen pertama telah menetapkan standar cukup tinggi bagi film beraliran serupa, mungkinkah si sekuel dari Kingsman: The Secret Service yang diberi subjudul The Golden Circle ini berhasil melampauinya atau minimal berada di tataran yang sama? 
Mobile Edition
By Blogger Touch