February 17, 2019

REVIEW : CALON BINI


“Aku mau kejar mimpiku pake sepur.”

Ulasan ini akan saya buka dengan satu pengakuan: saya mengagumi Michelle Ziudith. Bukan semata-mata disebabkan oleh parasnya yang cantik dan tingkahnya yang terkadang menggemaskan, tetapi juga karena dia memancarkan sebuah karisma sebagai seorang aktris. Agak sulit untuk mendeskripsikannya secara mendetail, tapi satu yang jelas, saya selalu bahagia setiap kali melihatnya. Tak ada rasa jenuh walau dia terjebak dalam peran-peran tipikal, tak ada pula rasa sebal walau dia terkungkung dalam karakter-karakter dengan peringai menjengkelkan. Saya selalu kembali untuk menyaksikan film-filmnya meskipun sebagian besar diantaranya bikin ngelus dada saking… ah, kalian tahu sendiri. Michelle Ziudith acapkali menjadi penyelamat di film-film ajaibnya ini berkat performanya yang (sebetulnya) apik. Dia tampil enerjik, lepas tanpa beban, dan tangisannya pun tak terkesan dibuat-dibuat. Potensi untuk berkembang jauh jelas terpampang nyata yang sayangnya terbelenggu oleh keputusan untuk bermain aman di rangkaian film percintaan remeh temeh dengan peran yang tidak jauh berbeda. Dari sembilan judul yang menempatkannya di garda terdepan, hanya Remember When (2014) dan Ananta (2018) yang tergolong lumayan. Lainnya? Menguji kesabaran sampai ke titik paling dasar. Menengok kemahirannya dalam berolah peran, kadang saya dibuat bertanya-tanya, “apakah keserupaan peran ini karena Michelle Ziudith memang enggan untuk mengambil peran diluar zona nyamannya, atau karena belum ada sineas yang mempercayainya?”.

February 16, 2019

REVIEW : ANTOLOGI RASA


“Kalau dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Tapi kalau dia bikin lo nangis itu artinya lo cinta sama dia"

Sebelum dihidangkan menjadi sajian layar lebar, Antologi Rasa lebih dulu dikenal sebagai novel metropop (fiksi tentang masyarakat urban kelas menengah) rekaan Ika Natassa yang juga menulis Critical Eleven dan Twitvortiare. Ada banyak sekali pengagumnya di luar sana, bahkan tak sedikit diantaranya yang berani menyematkan label “salah satu novel percintaan dewasa terbaik buatan penulis tanah air” sampai-sampai saya turut dibuat penasaran. Memang, sebagus apa sih novel ini? Seusai membuktikannya sendiri, saya pun bisa mengangguk-angguk setuju ketika ada seseorang menyinggung Antologi Rasa dalam sebuah percakapan lalu melontarkan puja puji untuknya. Dari segi premis sebetulnya tidak ada yang mencengangkan, yakni seputar empat teman baik yang terjebak dalam friendzone tatkala mereka memilih untuk memendam perasaan lantaran tak ingin merusak tali persahabatan. Yang lantas membuatnya istimewa adalah bagaimana si penulis menyajikan kisah sederhana ini; ada berbagai sudut pandang dalam novel sehingga memungkinkan pembaca untuk mengetahui isi kepala dari setiap karakter inti, dan barisan karakter yang menggerakkan roda penceritaan pun dideskripsikan dengan sangat menarik. Kita bisa memahami mereka, kita bisa pula jatuh hati pada mereka. Kalau boleh jujur, prosa ini sejatinya memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi untuk diekranisasi karena beresiko terjerembab menjadi tontonan membosankan apabila memperoleh penanganan yang keliru. Itulah mengapa saya memutuskan untuk tidak menaruh ekspektasi apapun ketika mendapati Antologi Rasa diboyong ke layar lebar terlebih jajaran kru dan pemain yang dilibatkan pun (mohon maaf) tak terdengar menjanjikan.

February 10, 2019

REVIEW : LAUNDRY SHOW


“Kenapa kamu bisa kasih diskon ke Mas Yaya?”

“Kan kata Kokoh pelanggan adalah raja. Lha kalau raja minta potongan harga masa kita nggak ngasih?”

Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat saya tergelitik buat menjajal nonton Laundry Show di bioskop: 1) keterlibatan Upi (My Stupid Boss, My Generation) di penulisan skenario, 2) materi promosi yang disajikan dalam bentuk trailer tampak menggoda bagi saya utamanya pada bagian Tissa Biani mengucap dialog “Kan kata Kokoh pelanggan adalah raja. Lha kalau raja minta potongan harga masa kita nggak ngasih?” dengan ekspresi sengak tanpa rasa bersalahnya, dan 3) hey, jarang-jarang ada kan film Indonesia yang menempatkan profesi tertentu sebagai sorotan utama dalam guliran kisah alih-alih sebatas untuk memperkuat latar belakang si tokoh sentral? Dalam Laundry Show yang digarap oleh Rizki Balki (A: Aku, Benci & Cinta, Ananta) ini, penonton disodori narasi soal membangun kerajaan bisnis laundry secara mandiri. Atau dengan kata lain, menekuni dunia wirausaha. Sebuah guliran penceritaan yang sedikit banyak mengingatkan diri ini pada dwilogi Filosofi Kopi yang mengulik soal profesi barista beserta pahit manisnya terjun ke bisnis kafe kopi. Sedikit banyak pula melontarkan ingatan pada Cek Toko Sebelah yang membahas tentang persaingan dalam dunia bisnis (di sini, konteksnya adalah toko kelontong) dan kebetulan juga sama-sama menempatkan karakter keturunan Cina di poros utama pengisahan.  

February 8, 2019

REVIEW : ALITA: BATTLE ANGEL


“I do not standby in the presence of evil!”

Apakah kalian tahu bahwa James Cameron (Terminator 2: Judgment Day, Titanic) sudah bernafsu untuk menggarap Alita: Battle Angel sedari dua dekade lalu? Ya, beliau kepincut dengan materi sumbernya yang berupa manga beberapa jilid gubahan Yukito Kishiro dan telah beberapa kali berupaya untuk mewujudkannya tapi terus terbentur oleh proyek lain. Salah satu proyek yang menghalanginya adalah Avatar (2009) berikut dengan sekuel-sekuelnya yang tak kunjung juga kita pirsa. Ada perjalanan sangat panjang yang mesti dilalui oleh film ini dimana didalamnya mengandung perombakan naskah beserta perombakan tim. Usai berada di fase development hell (baca: terus dikembangkan tapi tak jelas kapan akan diwujudkan) selama belasan tahun, Pak Cameron akhirnya menemukan cara agar proyek kesayangannya ini tak berjalan di tempat dan bisa segera lahiran secepatnya. Solusi yang kemudian ditempuhnya adalah menyerahkan kursi penyutradaraan Alita: Battle Angel kepada Robert Rodriguez (Desperado, Spy Kids), sementara dia memantau secara langsung proses produksi dari kursi produser. Sebuah win-win solution, bukan? Alita: Battle Angel akhirnya bisa dihidangkan sebagai tontonan di layar lebar dibawah penanganan sutradara yang selama ini kondang berkat kepiawaiannya meramu adegan laga. Belum apa-apa, film sudah terdengar menggiurkan buat dicoba berkat kolaborasi dua maestro ini yang seolah menjanjikan bahwa ini bukanlah tontonan eskapisme biasa. Ini adalah pengalaman sinematis yang wajib dijajal. Tapi benarkah potensi sebesar itu memang sanggup dicapai?

February 3, 2019

REVIEW : GREEN BOOK


“Being genius is not enough. It takes courage to change people’s hearts.”

Para moviebuff tentu mengenali Peter Farrelly sebagai salah satu personil dari Farrelly Brothers. Dua bersaudara dibalik terciptanya film-film komedi rusuh semacam Dumb and Dumber (1994), There’s Something About Mary (1998), serta Me, Myself & Irene (2000) dimana disabled people kerap dijadikan sebagai objek candaan sehingga tak mengherankan jika film-film mereka terkesan ofensif bagi sebagian kalangan. Pun begitu – jika kita berkenan menyelaminya lebih dalam – sebenarnya Farrelly Brothers kerap menyematkan pesan bijaksana dalam karya mereka yang tak jarang tenggelam lantaran humor urakannya. Sensitivitas keduanya baru benar-benar bisa dirasakan melalui film komedi romantis bertajuk Shallow Hal (2001) yang mendorong penonton untuk berhenti menilai kualitas seseorang berdasarkan penampilan fisik semata. Deep, bro, deep! Memasuki era 2000-an, pencapaian duo ini tak lagi sesemarak di dekade sebelumnya dan perlahan tapi pasti, mereka memilih untuk vakum sejenak dari mengerjakan film komedi yang membesarkan nama. Berpisah jalan sementara demi mengerjakan proyek masing-masing, Peter Farrelly menjajal mengambil tantangan dengan membesut Green Book yang berpijak di genre drama. Tak hanya itu, film yang judulnya dicuplik dari buku panduan bagi masyarakat kulit berwarna dalam memilih penginapan dan restoran yang berkenan menerima mereka ini (The Negro Motorist Green Book, 1936-1966) turut mengapungkan sederet isu berat nan sensitif meliputi rasisme, prasangka, serta segregasi. Sebuah karya yang tak disangka-sangka bakal meluncur dari tangan salah satu personil Farrelly Brothers.

February 1, 2019

REVIEW : TERLALU TAMPAN


“Ternyata jadi orang ganteng itu nggak gampang ya.”

Sebagai seorang laki-laki bertampang pas-pasan, saya sering melihat ketampanan sebagai suatu berkah. Betapa tidak, ditengah masyarakat yang kerap menghakimi seseorang berdasarkan penampilan fisiknya, laki-laki tampan sering mendapatkan privilege. Dari hal paling mendasar seperti mudah melakukan pendekatan dengan perempuan yang ditaksir, lalu kemungkinan dijutekin sama mbak-mbak kasir yang mukanya sering dilipet-lipet kayak kardus pun kecil, kemudian kalau mau beli barang yang harganya agak mahalan dikit langsung dipepet sama si SPG (dan nggak dicibir “dih muka susah gitu emang mampu beli?”) sampai gampang dapet panggilan kerja karena foto kinclongnya menguarkan aura meyakinkan alih-alih suram tanpa harapan. Saking seringnya dapat pengalaman kurang mengenakkan seperti ini, saya sering mengalami insecure sampai-sampai melontarkan tanya bernada kurang syukur pada Tuhan, “apakah dulu wajah saya ini dicetak dari bahan sisa orang-orang ganteng ya?”. Betul, saya pernah terperosok dalam lembah hitam itu selama beberapa saat. Lembah hitam yang membuat rasa percaya diri tiarap. Membutuhkan waktu cukup panjang untuk kembali bangkit dan menemukan cara berfaedah agar berkenan mencintai diri sendiri secara apa adanya. Itu sulit lho! Saat menonton Terlalu Tampan yang disadur dari LINE Webtoon populer, saya sempat berulang kali dibuat terkekeh-kekeh. Bukan saja karena filmnya memang kocak, tetapi karena saya juga teringat lagi ke masa-masa suram itu. Dialog “ternyata jadi orang ganteng itu nggak gampang ya” menegaskan bahwa wajah rupawan tak lantas membuat hidup menjadi serba gampang. Pada akhirnya, penerimaan terhadap diri sendiri adalah solusi terbaiknya.
Mobile Edition
By Blogger Touch