30 Juli 2014

REVIEW : HIJRAH CINTA


“Maukah kamu menjadi saksi perubahan hidupku?” 
“Aku mau, sampai kapanpun...” 

Lewat tatapan penuh makna di sebuah dermaga, Uje (Alfie Affandy) melontarkan pertanyaan yang menyiratkan keinginannya membawa Pipik (Revalina S Temat) naik ke pelaminan, untuk mendampinginya dalam menemukan kembali jalan seharusnya setelah tersesatkan di neraka duniawi yang sekilas menawarkan kenikmatan tiada tara. Tanpa ada keraguan, meyakini bahwa lelaki di hadapannya memiliki tekad kuat untuk berubah sekaligus kemampuan menuntun ke arah yang diridhoi Allah SWT, Pipik memastikan kesediaannya. Air mata penonton pun serta merta berlinangan. Inilah salah satu momen terbaik yang bisa Anda kenang di Hijrah Cinta... dan bukan menjadi satu-satunya. Sebuah kejutan telah menanti bagi siapapun yang penuh kerelaan menyisihkan sedikit waktu pula uangnya yang berharga untuk menyimak Hijrah Cinta di layar lebar. Ini tidak seperti bayangan kebanyakan orang yang mengantisipasinya sebagai ‘film biopik berbumbu reliji lainnya, tak berbeda dengan sudah-sudah’, karena Hijrah Cinta lebih dari itu. 

27 Juli 2014

REVIEW : BAJAJ BAJURI THE MOVIE

“Berhati-hatilah bukan terhadap mereka yang jelas membencimu, tetapi berhati-hatilah terhadap mereka yang sangat baik di depanmu.” 

Apakah Anda masih teringat pada Bajaj Bajuri? Pertama kali mengudara di stasiun televisi Trans TV pada awal dekade 2000’an, sitkom ini begitu fenomenal dan digandrungi oleh beragam lapisan masyarakat kala itu lantaran tuturan kisahnya yang erat kaitannya dengan keseharian berpadu mulus bersama guyonannya yang membumi. Terwujud sebagai salah satu budaya populer di dunia hiburan Indonesia babak milenium baru, Bajaj Bajuri pun memproduksi barisan karakter ikonis yang meninggalkan kesan mendalam, melekat kuat di ingatan, berkat keunikannya masing-masing semacam Bajuri, Oneng, Ucup, Emak, Mpok Hindun, hingga Mpok Minah. Beberapa karakter ini pun telah merasuki jiwa – atau katakanlah, identik – dengan Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka, serta Nani Wijaya sehingga beberapa kalangan memunculkan ‘fatwa haram’ merekonstruksi Bajaj Bajuri tanpa melibatkan ketiga pemain utamanya. Akan tetapi, lewat bendera Starvision Plus, Chand Parwez bersama Fajar Nugros malah justru nekat melanggar, mengambil resiko besar dengan hadirkan wajah-wajah baru saat mewujudkan Bajaj Bajuri the Movie

26 Juli 2014

REVIEW : STEP UP: ALL IN


Menapaki instalmen kelima, franchise Step Up yang memulai langkahnya delapan tahun silam ini jajal hadir dalam suasana lebih gegap gempita dari sebelumnya. Caranya? Bukan saja lewat pertarungan tari yang dipersiapkan (sekaligus diharapkan) epik, tetapi juga lewat reuni akbar. Ya, Trish Sie mengambil alih posisi Scott Speer di tampuk penyutradaraan mengundang wajah-wajah lama pemeriah franchise dari angkatan pertama hingga Step Up: Revolution untuk diajak bernostalgia bersama para penggemar berat. Tidak semuanya bisa hadir, memang, seperti Channing Tatum, Jenna Dewan, Rick Malambri, Kathryn McCormick dan Robert Hoffman yang sungguh disayangkan malah absen (damn!). Tapi tenang, sekalipun kesan ditimbulkan mungkin tak secetar seharusnya, Step Up: All In masih memberikan suasana meriah yang diharapkan. Ya, seperti yang sudah-sudah, jilid ini pun dibekali rangkaian pertarungan tari apik walau untuk sekali ini tidak cukup kuat mengangkat film ke tataran terpuji dan menghapuskan kehampaan yang melingkupi. 

16 Juli 2014

REVIEW : DAWN OF THE PLANET OF THE APES


“Apes do not want war!” – Caesar 

Nyaris tidak ada yang peduli saat proyek reboot film legendaris Planet of the Apes – berjudul Rise of the Planet of the Apes, rilis 3 tahun silam – diumumkan ke khalayak ramai. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh versi remake-nya yang diolah Tim Burton bisa jadi menjadi salah satu kuncinya. Hingga... orang-orang menontonnya. Tiada yang kemudian menyangka bahwa jilid yang memulai franchise baru ini akan mencuat sebagai summer blockbuster sukses, gegap gempita, tetapi tetap memiliki kecerdasan dalam penuturannya. Sikap skeptisisme pun seketika lenyap, tergantikan oleh optimisme. Terlebih, masih banyak ruang bagi franchise ini untuk berkembang setelah klimaks epik di Golden Gate yang sulit dilupakan itu. Mungkin satu-satunya yang memberikan (sedikit) keraguan atas Dawn of the Planet of the Apes adalah Matt Reeves (Cloverfield, Let Me In) yang menggantikan posisi Rupert Wyatt di kursi penyutradaraan. Bukan sutradara yang buruk, tentu saja, tetapi sejauh manakah dia akan membawa jilid ini setelah instalmen sebelumnya telah menetapkan standar yang cukup tinggi? 

8 Juli 2014

REVIEW : BLENDED


“He's a bad daddy he made me look like The Walking Dead.” 

Ada satu alasan kuat yang melandasi mengapa Blended adalah sebuah film yang seharusnya tidak saya lewatkan begitu saja: ini adalah reuni kedua dari Adam Sandler dan Drew Barrymore di sebuah film beraliran romantic-comedy setelah pertemuan mereka yang begitu romantis, sulit terlupakan, dan membekas di hati lewat The Wedding Singer serta 50 First Dates. Ya, keduanya adalah raja dan ratu di film komedi romantis yang popularitasnya bahkan boleh disandingkan dengan pasangan Tom Hanks-Meg Ryan ataupun Richard Gere-Julia Roberts. Dengan tambahan kehadiran Frank Coraci (The Waterboy, Click) yang sebelumnya berkolaborasi bersama mereka dalam The Wedding Singer di kursi penyutradaraan, maka sudah barang tentu ajang temu kangen setelah 10 tahun terpisah ini wajib untuk dihadiri. Bukankah selalu mengasyikkan bisa berjumpa kembali dengan kawan lama yang begitu dicintai dalam suasana yang telah dikenal? 

3 Juli 2014

REVIEW : DELIVER US FROM EVIL


“You haven't seen true evil.” 

Jika sineas dalam negeri gemar mengeksploitasi pocong, kuntilanak, dan rekan-rekan sebangsanya dalam film seram, maka sineas Hollywood memiliki hobi bermain-main dengan exorcism (pengusiran setan). Sejak salah satu dedengkot, The Exorcist, yang sulit dilupakan itu hingga The Last Exorcism Part II yang ‘ya gitu deh’, entah sudah berapa judul diproduksi menyangkut upacara usir mengusir setan ini. Ada yang berhasil memuaskan semacam The Exorcism of Emily Rose, namun lebih banyak yang berakhir memprihatinkan hingga keberadaannya menguap begitu saja. Belum juga kapok meski jejak rekam film-film sejenis seringkali enggan mencatat keberhasilan, Screen Gems nekat melempar Deliver Us From Evil yang masih berada pada lajur sama di tengah riuhnya persaingan film musim panas. Melihat adanya nama sekelas Scott Derrickson dan produser kenamaan Jerry Bruckheimer di belakang layar bisa dimengerti darimana munculnya rasa percaya diri itu. Meski, kehadiran dua nama ini tidak lantas menjamin kualitas dari Deliver Us From Evil

30 Juni 2014

REVIEW : THE FAULT IN OUR STARS


“You gave me a forever within the numbered days, and for that I am eternally grateful.”

Komedi bukanlah sahabat terbaik bagi romansa tragis berembel-embel penyakit mematikan. Kerap diwujudkan penuh derita dan uraian air mata seolah kebahagiaan telah sirna, khususnya di khasanah melodrama Asia, penderita dieksploitasi sedemikian rupa sampai-sampai menyunggingkan senyuman pun membutuhkan perjuangan tersendiri untuk dilalui. Akan tetapi, Hollywood sepertinya sudah lelah dengan rengekan tak berkesudahan sehingga mencoba memandang subjek pahit ini lewat nada yang lebih positif. Anda mungkin paling mengingatnya paling jelas di 50/50, dan kali ini, Josh Boone pun mengaplikasikan formula yang sama kala menuangkan novel young adult sarat puja puji dari banyak kalangan karya John Green, The Fault in Our Stars, ke dalam bahasa gambar dengan meminimalisir kecengengan dan mengalunkan penceritaan secara dewasa pula bijaksana. Hasilnya? Malah justru lebih membekas di hati. 

Mobile Edition
By Blogger Touch