January 15, 2017

REVIEW : PATRIOTS DAY


“Welcome to Watertown, motherfuckers!” 

Hanya berselang tiga bulan sejak dilepasnya Deepwater Horizon – sebuah film berbasis peristiwa nyata mengenai kebakaran hebat pengeboran kilang minyak di lepas pantai – yang menandai kolaborasi kedua antara Peter Berg dengan ‘male muse’-nya, Mark Wahlberg, seusai Lone Survivor (2013) hadir film lain yang juga dicuplik dari kejadian penghias tajuk utama media-media Amerika Serikat beberapa waktu lampau yang sekali lagi (!) mempertemukan Berg bersama Wahlberg yakni Patriots Day. Didasarkan buku nonfiksi gubahan Casey Sherman dan Chris Wedge, Boston Strong, serta beberapa materi yang pernah ditayangkan oleh program televisi 60 Minutes, Patriots Day soroti tragedi pengeboman di Boston kala helatan tahunan Maraton Boston pada 2013 silam. Berbeda halnya dengan baik Lone Survivor yang luar biasa mencekam maupun Deepwater Horizon yang separuh awalnya cenderung lempeng jaya, Wahlberg tidak memerankan karakter betulan dalam Patriots Day. Sosok Tommy Saunders yang dimainkannya hanyalah tokoh bentukan untuk film yang terinspirasi dari sejumlah petugas-petugas kepolisian Boston. Keberadaan Tommy Saunders sendiri dimanfaatkan Berg sebagai ‘mata’ bagi penonton sekaligus demi menggenjot efek dramatis. 

January 13, 2017

REVIEW : LA LA LAND


“I'm letting life hit me until it gets tired. Then I'll hit back. It's a classic rope-a-dope.” 

Berkat Whiplash (2014), sebuah film musik tentang mimpi dari seorang penggebuk drum aliran Jazz yang intensitasnya amat kencang bak film laga, sutradara muda Damien Chazelle mendapat sorotan banyak pihak. Mumpung tengah menjadi bahan obrolan hangat, dia pun tidak menunggu waktu lama untuk melepas karya berikutnya – meski realitanya, butuh enam tahun buat meyakinkan para pendana dan rumah produksi! – yang masih berhubungan dengan musik Jazz dan tidak jauh-jauh dari pengalaman pribadi sang sutradara. Jika Whiplash terinspirasi dari gurunya yang luar biasa galak semasa menimba ilmu musik, maka karya terbarunya yang bertajuk La La Land diilhami oleh jatuh bangunnya selama merintis karir di Hollywood. Dalam La La Land, Chazelle mencoba lebih ‘besar’ dengan menggunakan pendekatan musikal yang secara khusus memberikan penghormatan terhadap film-film musikal era 50’an semacam Singin’ in the Rain (1952) atau The Band Wagon (1953) sekaligus merekrut bintang-bintang Hollywood kelas A seperti Ryan Gosling dan Emma Stone guna ditempatkan di lini utama. Hmmm... belum apa-apa sudah terdengar sangat menggiurkan, bukan? Dan kenyataannya, memang semenggiurkan apa yang tertuang di atas kertas. La La Land mempunyai jiwa di setiap hentak kaki, setiap alunan melodi, dan setiap untaian lirik yang menciptakan tawa, kekaguman, serta air mata. Sungguh magis!   

January 10, 2017

REVIEW : AT CAFE 6


“Everyone has a similar youth, but a different life.” 

Popularitas menjulang You are the Apple of My Eye di kalangan pecinta film seantero Asia berkat guliran pengisahannya yang legit-legit nyelekit pula sangat mewakili banyak jiwa-jiwa muda yang gundah gulana akibat cinta, menciptakan sebuah tren di kalangan sineas setempat (baca: Taiwan) maupun seberangnya (baca: Cina daratan) berupa film-film romansa yang mengetengahkan tema nostalgia masa muda dengan latar era 1990-an. Beberapa judul yang tergolong berhasil mengikuti jejak dari You are the Apple of My Eye antara lain So Young, Cafe Waiting Love dan film kesukaan saya, Our Times, yang mengamini untaian lirik dari Yuni Shara, “memang benar apa kata pepatah, kalau jodoh tak lari kemanaaa...” Dengan Our Times menorehkan pundi-pundi yang ajegile selama masa penayangannya di bioskop, tentu bisa diterka tren ini pun tak akan lari kemana-mana. Benar saja, pertengahan tahun lalu, Cina daratan bersama Taiwan tandem untuk melahirkan film remaja unyu-unyu lainnya yang materinya bersumber dari novel si pembuat film, Neal Wu. Tajuk dari film tersebut adalah At Cafe 6

January 6, 2017

(Special) 16 FILM INDONESIA TERBAIK 2016 VERSI CINETARIZ


Tahun 2016 menorehkan catatan manis bagi perfilman Indonesia. Betapa tidak, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seluruh penghuni daftar “sepuluh film Indonesia paling banyak ditonton pada tahun 2016” berhasil membukukan angka lebih dari satu juta penonton. Ditambah lagi, 2016 menjadi saksi sejarah atas terciptanya rekor baru untuk film Indonesia dengan raihan penonton tertinggi sepanjang masa usai Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 menorehkan jumlah kepermirsaan sebanyak 6,8 juta mengungguli pencapaian Laskar Pelangi yang mengumpulkan 4,6 juta penonton pada delapan tahun silam. Sungguh mengesankan, bukan? 

January 4, 2017

REVIEW : THE GIRL ON THE TRAIN


“You're not gonna get rid of me. You're gonna pay for this for the rest of your life.” 

Salah satu penyebab tingginya hype yang melingkungi The Girl on the Train adalah gencarnya penyematan label “the next Gone Girl” oleh berbagai kalangan. Komparasi keduanya memang sulit terelakkan mengingat ada keserupaan pada genre, tema, sampai gender sang penulis. Konflik besarnya boleh dikata segendang sepenarian terkait menghilang secara misteriusnya seorang perempuan yang telah menyandang status “istri”. Disandingkan-sandingkan berulang kali jelas menarik perhatian khalayak ramai. Menyandang predikat best-selling novel beserta memperoleh resepsi hangat kritikus, kentara sekali “si perempuan dalam kereta” memenuhi pengharapan banyak pihak yang seketika menghantarkannya ke tahapan lebih lanjut dari sebuah novel laris: adaptasi. Nah, tahapan inilah yang lantas membawa dua novel ini berpisah jalan. Gone Girl yang beruntung digaet oleh David Fincher mendapatkan jalan mulus nyaris tanpa hambatan berarti, sementara The Girl on the Train yang ditukangi Tate Taylor (The Help) memperoleh jalur bertolak belakang. Penuh lubang dimana-mana sehingga perjalanan pun berlangsung kurang nyaman dan hanya menyisakan keluh kesah usai menontonnya. 

January 1, 2017

REVIEW : PASSENGERS


“You can't get so hung up on where you'd rather be, that you forget to make the most of where you are.” 

Cenderung sulit untuk tidak tergoda pada Passengers. Betapa tidak, film ini mengapungkan premis menggiurkan – bahkan skripnya sendiri dulunya tergabung dalam barisan skenario paling diharapkan untuk diproduksi di The Black List – mengenai sepasang manusia yang hidupnya terombang-ambing pasca terbangun dari bilik hibernasi jauh lebih awal dalam perjalanan mengarungi jagat raya dan dua pelakon utamanya, Chris Pratt beserta Jennifer Lawrence, merupakan komoditi paling panas saat ini di Hollywood. Dengan ditambah adanya keterlibatan dari Morten Tyldum yang berjasa mengantarkan The Imitation Game ke panggung Oscars di kursi penyutradaraan, Passengers kian berteriak lantang meminta perhatian kita. Mudahnya, Passengers telah memenuhi semua kriteria untuk menjelma sebagai film yang: 1) dipuja-puji oleh para kritikus, dan 2) memuaskan dahaga penonton akan film fiksi ilmiah yang bukan semata-mata mengisi otak tetapi juga hati. Ekspektasi tinggi pun terbentuk diiringi oleh pertanyaan, “apa sih yang mungkin bisa salah dari ini?.” Nyatanya, sekalipun telah membopong bibit-bibit unggul, Passengers tak berhasil tersemai secara sempurna. Hasilnya memang tidak buruk namun menengok siapa-siapa saja yang terlibat, well... ini jelas tak memenuhi pengharapan.

December 29, 2016

REVIEW : CEK TOKO SEBELAH


"Nggak usah janji dulu kalau nggak yakin bisa menepati."

Dalam Cek Toko Sebelah, kita diperkenalkan kepada seorang pemilik toko kelontong bernama Koh Afuk (Chew Kin Wah). Memasuki usia senja yang menyebabkan dirinya sering sakit-sakitan, Koh Afuk berniat mewariskan tokonya ke putra bungsunya, Erwin (Ernest Prakasa). Mendengar keputusan ini, si sulung, Yohan (Dion Wiyoko), tentu naik pitam karena merasa dilangkahi terlebih lagi dia dan istrinya, Ayu (Adinia Wirasti), selama ini telah banyak mendedikasikan waktu mereka untuk merawat Koh Afuk. Bukannya tanpa alasan Koh Afuk lebih memilih Erwin ketimbang Yohan sebagai penerus kepemilikan toko. Masa lampau si sulung yang carut marut serta sifat cenderung temperamentalnya menyebabkan sang ayah sulit mempercayakan bisnis keluarga ke Yohan. Satu kalimat berbunyi, “mengurus hidup kamu sendiri saja belum bener, bagaimana kamu mengurus karyawan-karyawan toko?,” bentuk penegasan keputusan Koh Afuk. Di lain pihak, Erwin yang memperoleh kepercayaan justru mengalami kebimbangan. Karirnya tengah meroket dan kekasihnya, Natalie (Gisella Anastasia), terang-terangan menunjukkan keberatan menyusul kebersediaan Erwin untuk menjajal mengurus toko selama sebulan. Tak bisa terelakkan lagi, konflik dalam keluarga kecil ini yang sejatinya telah tersulut sedari bertahun-tahun silam pun akhirnya meledak juga. 

Mobile Edition
By Blogger Touch