15 April 2014

REVIEW : AUGUST: OSAGE COUNTY


“Eat the fish, bitch!” – Barbara 

Dalam kenangan yang terpatri, reuni keluarga besar kerap kali menghadirkan suasana penuh kehebohan yang mengasyikkan, mengharukan, serta meninggalkan kesan-kesan terbaik dalam hidup yang enggan untuk dienyahkan. Ketika pertemuan ini dihelat karena kepergian seseorang untuk selamanya, para anggota keluarga akan bergandeng tangan erat-erat memberi semangat hidup dan kado pelipur lara bagi orang terdekat yang ditinggal pergi... setidaknya itulah yang dilakukan oleh keluarga normal. Anda tidak akan menemukan nuansa penuh kehangatan ini dalam August: Osage County. Ketimbang saling menguatkan satu sama lain dalam bentuk pelukan, dekapan, genggaman, atau semacamnya, setiap anggota keluarga di sini lebih memilih untuk adu urat saraf dalam bentuk teriakan, bentakan, jambakan, tamparan hingga melempar-lempar barang pecah belah. Ruang keluarga pun seolah beralih fungsi menjadi medan pertempuran. 

13 April 2014

[Preview] DAFTAR FILM INDONESIA SIAP RILIS APRIL 2014


Perfilman Indonesia penuh sesak di bulan April ini. Betapa tidak, terdapat belasan film karya sineas dalam negeri yang akan memeriahkan bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Adaptasi dari novel laris masih menjadi unggulan utama di bulan ini. Selain itu, ada pula film seram berdasarkan urban legend, film yang menempatkan girl band sukses, aktris asing dan entertainer yang tengah naik daun sebagai pemain utama, hingga film dokumenter yang telah melanglang buana di beragam festival film tingkat internasional. 

Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis pada April 2014:

6 April 2014

REVIEW : CAPTAIN AMERICA: THE WINTER SOLDIER


“The price of freedom is high... and it's a price I'm willing to pay! You told me not trust anyone and this is how it ends: everything goes!” – Steve Rogers 

Apabila Anda menganggap Captain America adalah seorang superhero yang culun dengan kemampuan yang terbilang tak istimewa ketimbang rekan-rekan sesamanya yang berada di bawah naungan Marvel, mungkin anggapan tersebut akan berubah seketika setelah menyaksikan sepak terjangnya di Captain America: The Winter Soldier. Russo bersaudara – yang lebih dikenal sebagai sutradara sitkom televisi – memutuskan untuk merombak habis si kapten, dimulai dari desain tampilan kostum hingga tatanan penceritaan, usai jilid pertamanya yang terasa lembek dan cenderung mudah dilupakan. Selayaknya apa yang dialami oleh film lain dalam fase kedua Marvel Cinematic Universe (MCU) – ya, itu berarti Iron Man 3 dan Thor: The Dark World – yang nantinya akan bermuara di Avengers: Age of Ultron, maka Captain America: The Winter Soldier pun mereduksi keceriaan di dalamnya dan membawanya ke ranah yang lebih kelam dengan jalinan kisah yang lebih kompleks. 

29 Maret 2014

REVIEW : THE RAID 2: BERANDAL


“Saya bukannya nggak percaya sama kamu, tapi saya memang nggak percaya sama siapa-siapa.” - Bangun 

Baiklah. Izinkan saya untuk menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum mulai mengatakan sesuatu... dan saya pun mengizinkan Anda untuk bersiap-siap diliputi rasa penasaran atau (mungkin) beragam nyinyiran karena ulasan yang hendak Anda baca ini mungkin sedikit bernada hiperbolis. Ya, begitu sulit untuk tidak meluapkan kegembiraan setelah menyaksikan The Raid 2: Berandal. Segenap ekspektasi yang telah saya tanamkan untuk film ini, dilampaui dengan begitu mudahnya. Jika apa yang membuat Anda jatuh hati di jilid pertama adalah kegilaan aksinya, maka Gareth Evans meningkatkannya hingga berlipat-lipat di sini dengan kekerasan yang tak tertahankan. Jika jalinan pengisahan yang sedemikian tipis di film sebelumnya membuat Anda mendengus kecewa, maka Gareth Evans melunasinya di sini melalui tuturan yang lebih kompleks dan membutuhkan sedikit perhatian untuk bisa mencernanya dengan baik. Gareth Evans tidak lagi bermain-main demi terwujudnya sebuah sekuel yang epik... dan itu memang terwujud dalam The Raid 2: Berandal

27 Maret 2014

REVIEW : DIVERGENT


“The future belongs to those who know where they belong.” – Jeanine 

Apakah Anda sudah jenuh dengan film adaptasi yang menjumput sari penceritaan dari novel Young Adult berseri? Entah jawaban yang Anda sodorkan adalah Ya atau Tidak, brace yourself... it’s not over yet. Tren ini masih belum akan berakhir dalam waktu dekat terlebih dengan sederetan judul telah mengantri panjang di tahun ini. Salah satu yang menyapa pertama kali adalah Divergent yang didasarkan pada novel laris berjudul sama rekaan Veronica Roth. Meniliknya secara sepintas, tidak ada keistimewaan yang melekat dalam tubuh Divergent; ini seolah hanya dibentuk atas elemen-elemen terbaik milik The Hunger Games, Harry Potter, Ender’s Game, hingga The Host. Lantas apa yang begitu istimewa dari Divergent hingga banyak yang menggandrunginya? Melalui versi film yang dinahkodai oleh Neil Burger (Limitless), saya memperoleh jawabannya. 

24 Maret 2014

REVIEW : NEED FOR SPEED


“I do not fear, for you are with me. All those who defied me, shall be ashamed and disgraced. Those who wage war against me, shall perish. I will find strength, find guidance, and I will triumph.” - Tobey

Lebih sering berakhir mengenaskan ketimbang memuaskan, itulah yang terjadi kepada film adaptasi yang sumber aslinya didasarkan pada video game. Kalaupun ada yang tepat sasaran, jumlahnya pun dapat dihitung dengan mudah menggunakan jari – salah satunya adalah seri Resident Evil. Pada umumnya, kegagalan bersumber pada ketidakmampuan si pembuat film dalam menangkap roh dari permainan bersangkutan kala memvisualisasikannya ke medium berbeda. Ini lantas diperparah oleh skrip yang tidak memadai dan casting yang salah kaprah. Maka ketika game balapan laris keluaran Electronic Arts (EA), Need For Speed, diangkat ke layar lebar, ekspektasi telah saya atur di tingkatan paling rendah. Apa yang bisa Anda harapkan dari sebuah film yang beranjak dari video game balap mobil yang isinya hanya... balapan? Sepertinya, sama sekali tidak ada dan... saya keliru.  

15 Maret 2014

REVIEW : HER


“I think anybody who falls in love is a freak. It's a crazy thing to do. It's kind of like a form of socially acceptable insanity.” - Amy

Her milik Spike Jonze ini bukanlah jenis tontonan yang akan membuat Anda mengucap, “betapa romantisnya!” yang berlanjut ke tindakan mengusap air mata di dalam bioskop... dan lalu melupakannya begitu saja tanpa pernah lagi peduli beberapa hari kemudian – setidaknya setelah menemukan film percintaan yang lebih mengoyak emosi. Bukan. Anda akan sulit untuk mengenyahkan film yang satu ini dengan mudah dari benak pikiran karena jelas, Her bukanlah film percintaan yang biasa-biasa saja. Ini sebuah sajian yang begitu istimewa. Bahkan, Anda akan mendapati berbagai macam rasa yang tertinggal usai menyaksikan Her. Tidak hanya sekadar menyisakan rasa manis, tetapi juga ada percampuran antara kehangatan, kebahagiaan yang tiada terkira, hingga getir yang menyayat hati.  
Mobile Edition
By Blogger Touch