August 19, 2018

REVIEW : DOA - DOYOK OTOY ALI ONCOM: CARI JODOH


“Jangankan bini, pacar aja lo belum punya.” 
“Gosipnya, lo kaga suka perempuan.” 
“Samber gledek. Aku ini pemilih.” 
“Pemilih yang kagak dipilih orang ya kagak jadi apa-apa juga.” 

Generasi muda jaman now, mungkin baru mengenal karakter tiga serangkai; Doyok, Otoy, dan Ali Oncom dari serial animasi bertajuk DOA (akronim dari tiga nama karakter utamanya) yang tayang di MNCTV sejak beberapa bulan silam. Tapi bagi generasi yang lebih sepuh, mereka bertiga telah dikenal sedari dipublikasikan secara terpisah dalam kolom Lembergar (Lembaran Bergambar) di harian Pos Kota. Karakteristik ketiganya yang merepresentasikan sebagian warga ibukota negara, bisa disederhanakan sebagai berikut; Doyok adalah perantau dari Jawa dengan pemikiran kritis serta hobi nyinyir, Otoy yang berasal dari Sunda kerap menjadi sasaran bulan-bulanan mertuanya yang galak, dan Ali Oncom yang anak Betawi asli seringkali berangan-angan memiliki segudang uang. Meski tak berada di satu jalur pengisahan dalam komik stripnya, mereka lantas dipertemukan satu sama lain di serial animasi DOA yang kemudian berlanjut diejawantahkan ke versi live action dengan judul DOA (Doyok, Otoy, Ali Oncom): Cari Jodoh. Seperti tertera dalam subjudulnya, film yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Comic 8, Insya Allah Sah! 2) ini menyoroti tentang sepak terjang ketiga karakter tituler dalam misi pencarian jodoh untuk Doyok (Fedi Nuril) yang masih betah melajang di usia memasuki kepala empat. 

August 18, 2018

REVIEW : ALONG WITH THE GODS: THE LAST 49 DAYS


“No humans are innately bad, there are only bad circumstances.” 


Dirilis di bioskop tanah air pada permulaan tahun ini, Along with the Gods: The Two Worlds yang disadur dari webtoon rekaan Joo Ho-min mampu membuat saya terkesima. Tanpa perlu mengerahkan seluruh tenaga untuk menceramahi penonton disana sini seperti sebagian besar film reliji buatan dalam negeri, The Two Worlds sanggup mendorong saya untuk buru-buru bertobat usai mengikuti perjalanan si protagonis dalam mengikuti persidangan di akhirat yang mengingatkan kita bahwa dosa sekecil apapun nantinya akan dipertanggungjawabkan. Glek! Dalam perjalanan tersebut, Kim Yong-hwa (200 Pounds Beauty, Take Off) selaku sutradara menunjukkan kreativitasnya dalam memvisualisasikan alam baka – terdapat kategorisasi neraka – dan kapabilitasnya dalam mengaduk-aduk emosi melalui narasi sederhana yang memperbincangkan tentang pengorbanan, karma, serta moralitas. Perjalanan ini memang menjumpai akhir bagi protagonis kita yang lantas mendapat label suri tauladan (Paragon) secara resmi, tapi si pembuat film tidak memberhentikan narasi hanya sampai di sana. Lewat babak kedua yang diberi subjudul The Last 49 Days, pengadilan akhirat dialihkan ke karakter si adik protagonis yang menjelma menjadi roh pendendam dan masa lalu dari ketiga malaikat kematian akhirnya dijlentrehkan. 

August 16, 2018

REVIEW : THE EQUALIZER 2


“We all got to pay for our sins.” 

Sepintas lalu, Robert McCall (Denzel Washington) tampak seperti pria paruh baya yang mencintai kedamaian. Jangankan beradu argumen dengan seseorang yang memiliki perspektif bertentangan dengannya, untuk sebatas membunuh seekor nyamuk yang berlalu lalang mengganggu tidurnya di malam hari saja, dia sepertinya enggan melakukannya. Ya, McCall terlihat sangat normal, sangat baik hati, dan sangat bijaksana. Orang-orang di sekitarnya merasa segan kepadanya karena dia menunjukkan wibawa dari seorang pria terhormat, bukan karena dia memiliki tatapan atau tendangan yang mematikan. Di jilid perdana The Equalizer yang didasarkan pada serial televisi berjudul sama dari era 1980-an, McCall tak ubahnya rekan kerja yang bijaksana dan bukan penggemar intrik kantor. Dalam The Equalizer 2 yang masih ditangani oleh Antoine Fuqua (Training Day, The Magnificent Seven), dia bertransformasi menjadi seorang pengemudi taksi online yang berkenan meminjamkan telinganya untuk mendengar keluh kesah penumpangnya sekaligus seorang tetangga yang ramah dan bersedia mengulurkan bantuan bagi siapapun yang membutuhkan. Jika berpatokan pada pembawaan serta penampilannya yang cenderung santun ini, siapa sih bisa mengira bahwa McCall dibekali pelatihan dan kemampuan mumpuni untuk membekuk lawannya dalam satu kali percobaan? 

August 13, 2018

REVIEW : SLENDER MAN


“He gets in your head like a virus. Some he takes, some he drives mad. Once you see him, you can't unsee him.” 

Dua hari silam selepas menonton Slender Man, saya berbincang dengan kekasih melalui telepon genggam. Saat saya mengatakan bahwa ini adalah film horor, terdengar nada terkaget-kaget dari ujung telepon. “Hah, ini film horor? Saya kira film superhero lho karena ada 'man-man'-nya,” begitu kata doi. Awalnya sih diri ini hanya bisa terkekeh mendengar kepolosannya, tapi kemudian tak berselang lama saya tersadar, siapa ya yang sekarang masih mengingat (atau setidaknya mengetahui) mengenai sosok Slender Man di Indonesia? Rasa-rasanya, kecuali mereka memang menaruh minat pada cerita supranatural dan gemar berselancar di dunia maya sedari satu dekade lalu, tidak banyak yang akrab dengan makhluk gaib fiktif rekaan Eric Knudsen ini. Ketenaran dari sosok yang dideskripsikan memiliki tubuh amat ramping, tanpa wajah, dan mengenakan jas ini sendiri dimulai usai sang kreator memenangkan kompetisi Something Awful. Penggambaran beserta mitologinya yang creepy (konon, dia mempunyai kebiasaan menculik anak kecil serta memburu siapapun yang mencari tahu tentang latar belakangnya!) membuatnya kerap diperbincangkan di internet sampai-sampai menginspirasi tercetusnya web series, permainan video, sampai upaya pembunuhan dari dua bocah berusia 12 tahun yang menggegerkan seantero Amerika di tahun 2014 silam. 

August 10, 2018

REVIEW : SEBELUM IBLIS MENJEMPUT


“Ada sesuatu di rumah ini. Sesuatu yang menunggu kita.” 

Melalui Pengabdi Setan (2017), Joko Anwar telah menetapkan standar baru bagi film horor Indonesia. Sebuah standar cukup tinggi yang menyebabkan puluhan film dari genre sejenis yang rilis selepasnya terlihat cemen lantaran kewalahan untuk merengkuhnya. Memang ada beberapa yang cukup mendekati, seperti Mereka yang Tak Terlihat, Mata Batin, sampai Kafir Bersekutu dengan Setan, tapi lebih banyak yang berakhir dengan kegagalan sekalipun telah mati-matian mengekor. Untuk sesaat, saya sempat skeptis dengan masa depan film horor tanah air yang kembali menunjukkan gelagat jalan di tempat. Akan tetapi, setelah satu demi satu kontender untuk menaklukkan kedigdayaan 'filmnya Ibu' bertumbangan dengan mudah, muncul secercah harapan tatakala Timo Tjahjanto yang memiliki afeksi sama tinggi terhadap tontonan seram seperti halnya Joko menjajal peruntungannya melalui Sebelum Iblis Menjemput. Apabila kamu telah menyaksikan kinerja Timo dalam mengkreasi tontonan seram lewat Rumah Dara (2009), L is for Libido (2012) maupun Safe Haven (2013) yang permainan visualnya sungguh sinting itu, tentu tidak memiliki keraguan terhadap Sebelum Iblis Menjemput. Dan memang, Timo tak mengkhianati kepercayaan mereka yang menaruh kepercayaan kepadanya karena film teranyarnya ini bersedia untuk mengelaborasi kata 'gila' kepada para penonton. 

August 9, 2018

REVIEW : THE MEG


“Men versus Meg is not a fight, it's slaughter.” 

Bagi pemburu tontonan eskapisme, film terbaru yang dibintangi oleh Jason Statham, The Meg, terlihat memenuhi segala kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi sajian penghempas beban pikiran. Betapa tidak, film ini mengedepankan Jason Statham yang notabene aktor laga seru-seruan di jajaran pemain utama, sederet promonya menjual The Meg sebagai perpaduan antara Jaws (1975) yang legendaris itu dengan Deep Blue Sea (1999) yang seru itu, dan premisnya menjanjikan kita sebuah pertarungan tak terlupakan antara manusia dengan hiu purbakala yang amit-amit gedenya. Sederet kombinasi yang tampaknya tak mungkin salah apabila ekspektasi kita dalam menyaksikannya di layar lebar telah diatur secara tepat, yakni memperoleh tontonan seru pengisi waktu senggang yang tidak memerlukan kinerja otak dan mempersilahkan para penontonnya untuk bernyaman-nyaman di kursi bioskop seraya mencemil berondong jagung. Saya pun memboyong ekspektasi senada ke gedung bioskop – bahkan jauh di dalam lubuk hati berharap film ini akan sereceh Sharknado (2013) – yang sayangnya itupun sulit dipenuhi oleh The Meg yang terasa kurang bergigi untuk ukuran sebuah film mengenai teror hiu ganas.
Mobile Edition
By Blogger Touch