22 April 2014

REVIEW : THE LAST EXORCISM PART II


“There's a whole bunch of people out there who are definitely convinced that they are possessed.”

Tampaknya, jaringan bioskop terbesar di Indonesia sedang melakukan cuci gudang – Yeah, I’m talking to you, Cinema 21!. Tepat setelah parade film penggenggam penghargaan berakhir, satu persatu film yang telah mendarat di meja LSF sejak lama dan mengendap di gudang 21 hingga diselimuti jamur dinaikkan. Yang teranyar adalah The Last Exorcism Part II. Walau tak seusang ‘film gudang’ lainnya, jika Anda meyakini data yang tertera di laman Imdb, Indonesia adalah negara terakhir yang menayangkan film arahan Ed Gass-Donnelly ini di layar lebar. Sungguh mengesankan, bukan? Tentu saja penundaan berulang kali untuk melemparnya ke pasar ini bukannya tanpa alasan yang jelas. Berkaca kepada seluruh film gudang yang rilis pada kuartal pertama tahun 2014 ini, sebuah kesimpulan dapat ditetapkan; film-film tersebut berkualitas medioker dan tak terlampau menjual. The Last Exorcism Part II, sayangnya, juga mengalami nasib serupa. Mengharapkan film ini akan seseram pendahulunya adalah sebuah kesalahan. Memang tidak buruk, namun juga jauh dari kesan istimewa. 

21 April 2014

REVIEW : TRANSCENDENCE


“I don’t understand this is the future.” 

Ulasan ini akan dimulai dengan sebuah pengakuan; Johnny Depp adalah salah satu aktor favorit saya. Mengejutkan? Tentu saja tidak, karena dia adalah favorit dari banyak orang. Tapi pengakuan ini berlanjut ke pengakuan berikutnya (yang mungkin agak mengejutkan); saya sudah jenuh dengan Johnny Depp dan berniat menghapusnya dari daftar aktor favorit. Entahlah, dimulai sejak Alice in Wonderland hingga The Lone Ranger, pemeran Jack Sparrow ini seolah telah kehilangan sentuhan magis yang dimilikinya dulu dan film-filmnya tak lagi mempunyai daya pikat kuat... meski saya masih bisa menikmatinya (termasuk The Lone Ranger dan The Tourist yang dicaci maki itu!). Transcendence yang pada awalnya diharapkan sebagai sebuah kebangkitan dan penebusan dosa bagi Depp, sayangnya justru membuatnya semakin terperosok ke dalam.. dan ke dalam. Sepertinya, rasa jenuh telah menemui titik akumulasinya. 

20 April 2014

REVIEW : ME & YOU VS THE WORLD


“Cinta itu tak mengenal usia. Tapi cinta itu mengenal rasa.” 

Tidak bisa mengingat dengan jelas kapan sebuah film adaptasi novel percintaan yang menempatkan remaja SMA dalam sorot utama penceritaan berhasil membuat perhatian saya tertahan – satu hal pasti, tidak ada satu pun dari tahun lalu. Ketimbang memuaskan, rata-rata menjelma sebagai suguhan yang menjemukan. Apakah ini sebuah pertanda bahwa saya tidak lagi cocok menikmati sebuah film dengan target pasar utama adalah para remaja usia belasan? Tentu itu bukan menjadi alasan. Sebuah film remaja yang bagus, tentunya bisa dinikmati semua kalangan. Untuk saya, Me & You vs The World arahan Fajar Nugros termasuk salah satu dari sedikit yang berhasil. Memang, menilik dari sisi penceritaan tidak terlampau istimewa dan bisa dikatakan klise, namun Me & You vs The World masih begitu menyenangkan untuk disimak. Terlebih, segala kenangan manis dan pahit saya semasa SMA pun turut kembali mengemuka saat menyaksikan film ini.

15 April 2014

REVIEW : AUGUST: OSAGE COUNTY


“Eat the fish, bitch!” – Barbara 

Dalam kenangan yang terpatri, reuni keluarga besar kerap kali menghadirkan suasana penuh kehebohan yang mengasyikkan, mengharukan, serta meninggalkan kesan-kesan terbaik dalam hidup yang enggan untuk dienyahkan. Ketika pertemuan ini dihelat karena kepergian seseorang untuk selamanya, para anggota keluarga akan bergandeng tangan erat-erat memberi semangat hidup dan kado pelipur lara bagi orang terdekat yang ditinggal pergi... setidaknya itulah yang dilakukan oleh keluarga normal. Anda tidak akan menemukan nuansa penuh kehangatan ini dalam August: Osage County. Ketimbang saling menguatkan satu sama lain dalam bentuk pelukan, dekapan, genggaman, atau semacamnya, setiap anggota keluarga di sini lebih memilih untuk adu urat saraf dalam bentuk teriakan, bentakan, jambakan, tamparan hingga melempar-lempar barang pecah belah. Ruang keluarga pun seolah beralih fungsi menjadi medan pertempuran. 

13 April 2014

[Preview] DAFTAR FILM INDONESIA SIAP RILIS APRIL 2014


Perfilman Indonesia penuh sesak di bulan April ini. Betapa tidak, terdapat belasan film karya sineas dalam negeri yang akan memeriahkan bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Adaptasi dari novel laris masih menjadi unggulan utama di bulan ini. Selain itu, ada pula film seram berdasarkan urban legend, film yang menempatkan girl band sukses, aktris asing dan entertainer yang tengah naik daun sebagai pemain utama, hingga film dokumenter yang telah melanglang buana di beragam festival film tingkat internasional. 

Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis pada April 2014:

6 April 2014

REVIEW : CAPTAIN AMERICA: THE WINTER SOLDIER


“The price of freedom is high... and it's a price I'm willing to pay! You told me not trust anyone and this is how it ends: everything goes!” – Steve Rogers 

Apabila Anda menganggap Captain America adalah seorang superhero yang culun dengan kemampuan yang terbilang tak istimewa ketimbang rekan-rekan sesamanya yang berada di bawah naungan Marvel, mungkin anggapan tersebut akan berubah seketika setelah menyaksikan sepak terjangnya di Captain America: The Winter Soldier. Russo bersaudara – yang lebih dikenal sebagai sutradara sitkom televisi – memutuskan untuk merombak habis si kapten, dimulai dari desain tampilan kostum hingga tatanan penceritaan, usai jilid pertamanya yang terasa lembek dan cenderung mudah dilupakan. Selayaknya apa yang dialami oleh film lain dalam fase kedua Marvel Cinematic Universe (MCU) – ya, itu berarti Iron Man 3 dan Thor: The Dark World – yang nantinya akan bermuara di Avengers: Age of Ultron, maka Captain America: The Winter Soldier pun mereduksi keceriaan di dalamnya dan membawanya ke ranah yang lebih kelam dengan jalinan kisah yang lebih kompleks. 

29 Maret 2014

REVIEW : THE RAID 2: BERANDAL


“Saya bukannya nggak percaya sama kamu, tapi saya memang nggak percaya sama siapa-siapa.” - Bangun 

Baiklah. Izinkan saya untuk menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum mulai mengatakan sesuatu... dan saya pun mengizinkan Anda untuk bersiap-siap diliputi rasa penasaran atau (mungkin) beragam nyinyiran karena ulasan yang hendak Anda baca ini mungkin sedikit bernada hiperbolis. Ya, begitu sulit untuk tidak meluapkan kegembiraan setelah menyaksikan The Raid 2: Berandal. Segenap ekspektasi yang telah saya tanamkan untuk film ini, dilampaui dengan begitu mudahnya. Jika apa yang membuat Anda jatuh hati di jilid pertama adalah kegilaan aksinya, maka Gareth Evans meningkatkannya hingga berlipat-lipat di sini dengan kekerasan yang tak tertahankan. Jika jalinan pengisahan yang sedemikian tipis di film sebelumnya membuat Anda mendengus kecewa, maka Gareth Evans melunasinya di sini melalui tuturan yang lebih kompleks dan membutuhkan sedikit perhatian untuk bisa mencernanya dengan baik. Gareth Evans tidak lagi bermain-main demi terwujudnya sebuah sekuel yang epik... dan itu memang terwujud dalam The Raid 2: Berandal

Mobile Edition
By Blogger Touch