15 September 2014

REVIEW : AKU, KAU & KUA


“Setiap orang punya caranya masing-masing buat ngedapetin jodoh.” 

Starvision Plus bukanlah pemain baru dalam blantika film pernikahan. Salah satu franchise andalan mereka, Get Married, mempergunjingkan soal dua hati yang menautkan janji dalam ikrar suci. Begitu pula dengan beberapa rilisan lainnya semacam Honeymoon, Test Pack, maupun Operation Wedding. Mungkin merasa ‘berjodoh’, sang nahkoda dari judul terakhir, Monty Tiwa, kembali diboyong untuk mengomandoi keluaran terbaru dari rumah produksi bentukan Chand Parwez Servia ini yang sekali lagi mengupas tema serupa berdasar buku laris karya @TweetNikah. Hanya saja, tidak seperti deretan judul di atas, Aku, Kau & KUA memiliki cakupan kisah yang lebih kompleks, panjang, dan... banyak! Well, desain posternya yang disesaki oleh pasukan ensemble cast-nya telah mengindikasikan itu. Kini yang menjadi pertanyaan bagi Aku, Kau & KUA adalah, apakah rentetan pernikahan di dalam film akan membawa kemeriahan yang mengasyikkan seperti saat berjumpa kawan-kawan lama atau kekacauan menyesakkan selayaknya bertemu mantan yang telah menggandeng pasangan baru? Let’s see

13 September 2014

REVIEW : HERCULES


"You don't need to be a demi-god to be a god, but you just have to believe you can be a hero."

Hercules garapan Brett Ratner adalah bukti bahwa Hollywood masih belum bosan merekonstruksi ulang cerita klasik dengan tokoh fiksi ikonik di dalamnya yang telah melekat di benak khalayak ramai. Seperti para sedulur yang mengambil jalur serupa – katakanlah yang terhangat, Maleficent – film pun memulai penceritaannya dengan sebuah pertanyaan bernada menantang untuk penonton, “apakah kamu betul-betul yakin telah mengetahui semua kebenaran tentang cerita ini?”. Dengan pembuka semacam ini, tentu bisa langsung diketahui apa yang bisa penonton harapkan mengingat Ratner tidak akan mencelotehkan mitologi Yunani Kuno melalui cara yang sudah akrab di telinga kita. Kenyataan ini semakin diperkuat oleh fakta bahwa Hercules yang dimaksud di film ini berasal dari tokoh gubahan Steve Moore untuk novel grafisnya yang diterbitkan oleh Radical Comics, The Thracian Wars dan The Knives of Kush 

10 September 2014

[Preview] DAFTAR FILM INDONESIA SIAP RILIS SEPTEMBER 2014


September ceria... September ceria. Apakah deretan film Indonesia yang dilepas sepanjang bulan September ini akan membawa keceriaan bagi para penonton?We'll see later. Setidaknya telah ada 9 film yang dipersiapkan untuk menghibur Anda di waktu senggang dengan beragam genre ditawarkan dari mulai kisah percintaan remaja, teror seram memedi, laga yang menjadi ajang kembalinya Willy Dozan ke layar lebar, food movie pertama dari Indonesia, hingga komedi pengocok perut. 

Untuk lebih lengkapnya, inilah film-film Indonesia yang dirilis pada September 2014:

25 Agustus 2014

REVIEW : GUARDIANS OF THE GALAXY


“I am going to die surrounded by the biggest idiots in the galaxy.” - Gamora 

Walau sama-sama mengusung tim superhero sebagai peranan utamanya, Guardians of the Galaxy tidaklah setenar saudara seperguruannya di semesta Marvel semacam The Avengers maupun Fantastic Four. Hanya segelintir orang – kebanyakan adalah penggemar berat komik – yang tahu betul soal tim yang terdiri atas sekawanan kriminal berhati keras ini. Jika ada yang menarik minat penonton terhadap Guardians of the Galaxy, hampir bisa dipastikan itu dipicu oleh brand dari Marvel Studios yang telah begitu menjual setelah rangkaian film produksinya sukses menjerat hati penonton maupun kritikus. Maka ketika mereka merilis film baru dengan tokoh seekor rakun bermulut tajam dan sebuah pohon yang bisa berbicara berlatar luar angkasa, “siapa yang peduli, ini film Marvel!”. Itulah yang dianggap paling penting. Dan memang, sekalipun Guardians of the Galaxy masih terbilang asing bagi penonton awam, sekali lagi Marvel tak membuat penggemar yang memuja-mujanya kecewa. Ini adalah salah satu film terbaik dalam koleksi mereka. 

24 Agustus 2014

REVIEW : YASMINE


“Air dalam cawan akan menjadi cawan. Air dalam gelas akan menjadi gelas. Air dalam tangan, akan menjadi tangan. Jadilah seperti air.” 

Bagi sebagian orang, Yasmine boleh jadi tidak mempunyai daya tarik maksimal. Pertama, premis yang dikedepankan berkenaan ‘from zero to hero’ sudah terlampau kuno, berulang kali mengalami bongkar pasang di beragam film. Kedua, ini film asli buatan Brunei Darussalam (ingat, bukan Malaysia!) yang tentunya masih asing bagi selera penonton sini terlebih Yasmine adalah percobaan pertama dari rumah produksi Origin Films dalam setengah abad terakhir untuk membangunkan perfilman Brunei yang telah terlalu lama terlelap. Ketiga, desain poster di peredaran khusus Indonesia... errr, tak menggugah selera. Jika ada magnet utama yang tersisa, maka itu terletak pada masifnya dukungan sejumlah pekerja film asal Indonesia terhadap proses pembuatan film ini dimulai di posisi pemeran pendukung, penulisan skrip, editing, tata musik, hingga pengisian soundtrack. Sepintas tidak terlalu menggiurkan, memang, tapi jika Anda berani-berani meremehkan kemampuan Yasmine, maka bersiaplah untuk ditonjok keras-keras olehnya. 

16 Agustus 2014

REVIEW : THE EXPENDABLES 3


“You were stupid enough to get yourself into this mess! And we're the only ones crazy enough to get you out of it!” 

The Expendables is back! Sekumpulan kakek-kakek tua berotot yang dulunya rajin mengokang bedil di era 80 hingga 90’an kembali bereuni setelah The Expendables 2 yang menghebohkan. Beberapa nama, sayangnya, dipensiunkan atas berbagai macam alasan, namun personil kelompok yang dipimpin oleh Sylvester Stallone ini tetap belum kehilangan taringnya karena anggota baru pun turut direkrut. Chuck Norris boleh saja ‘say goodbye’, tapi kali ini kita mendapatkan Harrison Ford, Mel Gibson, Kelsey Grammer, Wesley Snipes, serta Antonio Banderas! Terbilang ramai, bukan? Bahkan, untuk sekali ini demi meningkatkan daya tarik The Expendables 3 sekaligus minat penonton generasi muda yang tidak banyak mengenal para sesepuh film aksi ini, diboyonglah sederet aktor berusia 20-an untuk turut memeriahkan layar dengan salah satunya kita kenal sebagai jebolan franchise laris Twilight, Kellan Lutz, serta seorang perempuan pemegang piala UFC, Ronda Rousey. 

15 Agustus 2014

REVIEW : TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES


"Cowabunga!"

Menyapa para manusia pertama kali di dekade 80-an dalam wujud komik, empat kura-kura mutan penggemar berat pizza yang lihai bela diri ciptaan Mirage ini lantas berkembang pesat sebagai salah satu produk pop culture yang popularitasnya merambah ke televisi, permainan video, hingga tiga jilid film layar lebar berbentuk live action. Keberadaannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil sebagian masyarakat dunia yang tergabung dalam generasi 80 dan 90’an sampai-sampai keempat reptil yang namanya dijumput dari pelukis Italia era Renaissance ini dielu-elukan bak pahlawan. Ah, sungguh masa kecil yang indah. Setelah popularitasnya semakin meredup – seiring berkembangnya zaman (dan teknologi) – percobaan untuk menghidupkan kembali ketenaran para kura-kura pun dilakukan lewat film animasi TMNT (2007) dan serial animasi produksi Nickelodeon yang tidak disangka-sangka memperoleh respon memuaskan dari khalayak ramai. Merasa bahwa tokoh fiksi ini memiliki masa depan cerah, Nickelodeon pun nekat memboyongnya ke layar lebar. 
Mobile Edition
By Blogger Touch