28 Juli 2016

REVIEW : GHOSTBUSTERS


“It's really easy sit there and be the naysayer when you don't actually do anything.” 

Sebelum akhirnya diputuskan sebagai reboot dengan konfigurasi pemain lini utama dirombak drastis – termasuk beralih gender yang kemudian ditengarai sebagai pemantik kontroversi di kalangan penggemar setia – pada mulanya Ghostbusters direncanakan menjadi film kelanjutan kedua dari film asli rilisan tahun 1984. Terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya lantaran pengembangan naskah yang rumit menyusul keinginan hasil lebih baik dari film kedua, ketidaksetujuan salah satu pemain inti Bill Murray untuk bergabung, sampai meninggalnya Harold Ramis, memaksa Sony putar otak agar proyek ini tetap berjalan sesuai rencana. Solusinya adalah reboot yang membutuhkan penantian sepanjang dua dasawarsa lebih untuk direalisasikan oleh Sony Pictures terhitung sejak Ghostbusters II (1989). Dengan sang nahkoda dua jilid pertama, Ivan Reitman, memilih menduduki kursi produser tanggung jawab penyutradaraan diserahkan kepada Paul Feig (Bridesmaids, Spy) yang lalu merekrut aktris langganannya, Melissa McCarthy dan Kristen Wiig, guna mengisi jajaran pemain bersama duo komedian, Kate McKinnon dan Leslie Jones. Hasilnya, sekalipun memperoleh tentangan keras dari para penggemar bahkan jauh sebelum filmnya dirilis ke pasaran, nyatanya Ghostbusters versi Feig adalah salah satu tontonan musim berkadar hiburan paling tinggi tahun ini. 

26 Juli 2016

SHORT REVIEWS : SABTU BERSAMA BAPAK + ILY FROM 38.000 FT


“Menjalin suatu hubungan itu butuh dua orang yang kuat. Dan untuk menjadi kuat, itu adalah tanggung jawab masing-masing.” 

Diadaptasi dari novel bagus bukan jaminan sebuah film akan bagus juga. Sabtu Bersama Bapak adalah contohnya. Film arahan Monty Tiwa berdasarkan novel rekaan Adhitya Mulya yang bercerita mengenai kehidupan kakak beradik, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra), selepas mangkatnya sang ayah (Abimana Aryasatya), memang tidak berada dalam golongan presentasi yang buruk namun mengingat materi aslinya, terbilang mengecewakan. Kombinasi sisi drama penguras air mata dengan sisi komedinya tidak menyatu dengan baik, malah cenderung jomplang, dan peralihannya pun kurang mulus, terkadang janggal. Sabtu Bersama Bapak lebih bersinar saat ngebanyol daripada termehek-mehek. Bisa jadi, selain disebabkan pengarahan maupun naskah yang kurang matang, kekuatan dari dua kubu tidak berimbang. Dari kubu komedi ada Deva Mahenra yang tidak dinyana-nya jago ngelawak plus duet Ernest Prakasa – Jennifer Arnelita yang menjadi tombak kembar, sementara dari kubu drama murni hanya Acha Septriasa sebagai istri Satya yang sanggup menciptakan momen emosional. Arifin Putra? Terbata-bata menghadapi Acha. Ira Wibowo sebagai ibu Satya dan Cakra, lalu Abimana Aryasatya kurang mendapat ruang untuk mengeksplorasi kemampuan olah peran mereka. Penggunaan lens flare tidak pada tempatnya dan performa ganggu dua bocah yang memerankan anak-anak Satya adalah faktor lain yang membuat Sabtu Bersama Bapak urung tampil kuat seperti seharusnya. 

25 Juli 2016

REVIEW : KOALA KUMAL


“Jodoh jangan ditunggu, tapi dicari. Kamu boleh patah hati, tapi jangan tutup hati kamu.” 

Suka atau tidak, sulit untuk menyangkal bahwa Raditya Dika telah mempunyai basis penggemar yang terhitung masif dan loyal. Apapun buah karyanya dilahap habis. Satu kunci keberhasilan Dika merangkul banyak pengikut dari beragam lapisan usia dan jenjang sosial adalah materi kupasannya yang dekat dengan keseharian. Siapa sih belum pernah jatuh cinta? Siapa sih belum pernah dibuat galau lantaran naksir seseorang yang bahkan tidak menyadari keberadaan kita? Siapa sih belum pernah merasakan sakitnya patah hati? Rasa-rasanya, serentetan problematika ini pernah dirasakan hampir seluruh umat manusia. Dalam Koala Kumal – karya terbaru Dika yang menandai kembalinya dia ke Starvision – Dika berbincang secara spesifik soal patah hati yang berangkat dari satu pertanyaan, “apa sih patah hati terhebat kamu?.” Jawaban atas pertanyaan tersebut memang berisi masalah tipikal sang komika: hubungan percintaan berakhir tragis. Namun satu hal menarik, ada pemberian solusi yang lebih dewasa, manis, sekaligus hangat dari persoalan tersebut ketimbang sekadar ujug-ujug turun bidadari dari kayangan menuntaskan segalanya. 

22 Juli 2016

REVIEW : JILBAB TRAVELER: LOVE SPARKS IN KOREA


“Kamu mencuri mimpi-mimpiku. Tapi aku suka kamu yang mencuri mimpi-mimpiku.” 

Surprise, surprise. Siapa menyangka diantara sejumlah rilisan baru film Indonesia di libur Lebaran tahun ini, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea bakal tampil paling kuat dan meninggalkan kesan paling dalam? Tentu saja, tidak ada niatan mengucilkan atau meremehkan – bahkan Jilbab Traveler termasuk salah satu yang menarik perhatianku sedari awal berkat faktor Morgan Oey, adaptasi novel Asma Nadia, dan Korea Selatan – hanya saja menilik konten yang diusungnya kemudian menyandingkan dengan rilisan lain, agak sulit sebetulnya membayangkan Jilbab Traveler akan hadir begitu menonjol. Nyatanya, tanpa banyak berekspektasi kala menyimak film arahan Guntur Soeharjanto ini di layar perak, membawa keuntungan tersendiri. Jilbab Traveler tidak semata-mata membuai mata melalui hamparan pemandangan alam Korea Selatan maupun Indonesia yang keelokkannya sungguh menakjubkan, namun turut membuai hati berkat guliran pengisahan yang terhidang hangat, manis pula renyah buat dikudap. 

19 Juli 2016

REVIEW : RUDY HABIBIE


“Jadilah seperti mata air. Jika air yang keluar dari sana jernih, maka semuanya akan ikut jernih. Jika yang keluar dari sana kotor, maka semuanya jadi kotor.” 

Kala dipasarkan di bioskop-bioskop tanah air empat tahun silam, Habibie & Ainun produksi MD Pictures mencatat rekor gemilang. Setidaknya 4,5 juta pemirsa berduyun-duyun memenuhi gedung bioskop guna menjadi saksi kebesaran cinta Bacharuddin Jusuf Habibie bersama sang cinta sejati, Hasri Ainun Besari, selisih tipis dengan pencapaian jumlah penonton Laskar Pelangi yang sebelumnya telah ditahbiskan sebagai film Indonesia paling banyak disimak. Dengan torehan segemilang ini maka terdengar wajar saat MD Pictures mencetuskan gagasan adanya film kelanjutan. Tentu bukan meneruskan guliran kisah asmara Pak Habibie dengan almarhumah istrinya, melainkan membedah sisi lain dari kehidupan Pak Habibie atau dengan kata lain mengkreasi ‘Habibie Universe’. Upaya pertama diberlakukan di Rudy Habibie. Meski dijual menggunakan embel-embel Habibie & Ainun 2, kenyataannya film arahan Hanung Bramantyo ini lebih mengarah prekuel ketimbang sekuel. Fokusnya pun berbeda karena sekali ini lebih ditekankan pada perjuangan-perjuangan awal mantan Presiden Republik Indonesia tersebut kala berusaha memperjuangkan mimpinya untuk menjadi kenyataan. 

11 Juni 2016

REVIEW : THE CONJURING 2


"After everything we’ve seen there isn’t much that rattles either of us anymore. But this one, this one still haunts me."

Umumnya, sekuel dari sebuah film yang sukses secara kualitas mengalami hambatan berarti dalam melampaui – atau well, minimal menyamai – pencapaian dari instalmen pertama. Hanya segelintir judul yang sanggup membuyarkan ‘kutukan’ ini dan semakin mengerucut begitu kita membicarakan film dari teritori horor mengingat bukan perkara mudah untuk mengkreasi trik menakut-nakuti yang tidak sekadar pengulangan dari seri pendahulu demi memenuhi keinginan khalayak yang pastinya berharap lebih. Sulitnya menjumpai sekuel film seram dalam level “bagus” inilah yang mendasari skeptisisme menyambut kehadiran The Conjuring 2 sekalipun masih ada nama James Wan (Insidious, The Conjuring) di belakang kemudi. Ya mau bagaimana lagi, jilid perdananya merupakan salah satu film horor terbaik dalam beberapa dekade terakhir dengan teknik menebar teror kelas wahid dan ungkapan ‘lightning never strikes the same place twice’ lebih sering terbukti benar ketimbang keliru. Jadi untuk meminimalisir kekecewaan, satu-satunya pengharapan yang kemudian diboyong masuk ke gedung bioskop hanyalah, “semoga masih ada satu-dua momen pemantik jeritan lepas!.” 

6 Juni 2016

REVIEW : MONEY MONSTER


“The name is Lee Gates, the show is Money Monster. Without risk, there is no reward. Should I sell? Should I a loan? Get some balls!” 

Pernah nonton film thriller dari Negeri Gingseng berjudul The Terror Live arahan Kim Byung-woo? Kalau belum, begini garis besar ceritanya. Seorang mantan news anchor ternama bernama Yoon Young-hwa (Ha Jung-woo) yang kini dimutasi ke radio mendapatkan telepon gelap bernada ancaman. Mulanya menganggap hanya sekadar perbuatan iseng, tak disangka-sangka ancaman tersebut diwujudkan dalam bentuk pengeboman jembatan hingga menewaskan puluhan sipil tak bersalah. Alih-alih melaporkan ke pihak berwenang, Yoon Young-hwa justru melihat teror yang didapatnya sebagai kesempatan untuk melambungkan kembali karirnya. Didukung pula oleh sang atasan yang gila rating, telepon gelap ini diboyong ke siaran langsung program berita nasional tanpa menyadari besarnya bahaya yang mengintai mereka. Si protagonis tiba-tiba menjadi sandera dalam program televisi yang dipandunya dan menjadi tontonan seantero Korea Selatan. Sampai disini kamu mungkin bertanya-tanya, lalu apa keterkaitannya dengan Money Monster? Nah, nasib kurang lebih serupa dialami oleh Lee Gates (George Clooney), seorang pembawa acara seputar dunia saham dari film layar lebar keempat yang digarap Jodie Foster usai The Beaver ini. 
Mobile Edition
By Blogger Touch