29 Oktober 2014

REVIEW : HAPPY NEW YEAR


“In this world there are two types of people, winners and losers. But life definitely gives every loser that one chance in which he can become a winner.”

Apabila kamu mencari orisinalitas pada Happy New Year, nyaris mustahil untuk memperolehnya. Tengok saja pada plotnya: sekelompok pecundang yang terdiri atas sejumlah bintang Bollywood kelas A menyamar sebagai peserta kejuaraan tari tingkat dunia untuk mencuri sebuah berlian berharga. Terdengar, errr... begitu familiar? Sekilas akan membuatmu teringat kepada Ocean’s Eleven, Now You See Me, dan Step Up. Tetapi jika tujuanmu adalah memperoleh hiburan – tentunya ini adalah alasan mayoritas penonton bertandang ke bioskop – dan enggan peduli bahwa sebuah film harus memiliki tuturan kisah yang cerdas pula padat berisi, maka terimalah undangan dari Farah Khan – sebelumnya telah beberapa kali berkolaborasi bersama Shahrukh Khan lewat Kuch Kuch Hota Hai (sebagai koreografer), serta Main Hoon Na dan Om Shanti Om (sebagai sutradara) – untuk ikut berpesta pora dalam film arahannya selama kurang lebih 3 jam. Untuk bisa menikmati ‘pesta’ yang meriah dalam Happy New Year, Farah hanya memberi satu persyaratan kepada penonton: tinggalkan otakmu di luar gedung bioskop. Bersenang-senanglah! 

27 Oktober 2014

REVIEW : TAK KEMAL MAKA TAK SAYANG


Apabila diperkenankan untuk mengucap kejujuran, sebetulnya hati ini tiada memiliki ketertarikan untuk menyaksikan Tak Kemal Maka Tak Sayang. Well, selain bukan penggemar gaya Kemal Palevi dalam berkelakar di atas panggung, traumatis terhadap film teranyar Raditya Dika – sebagai sesama pelaku stand up comedy – yang begitu mengecewakan ditinjau dari berbagai sisi masih belum sepenuhnya mengenyahkan diri dari pikiran. Lagipula, apa yang menjadi bahan kupasan film yang beranjak dari buku laris berjudul sama rekaan Kemal Palevi ini yah, masih berkisar di kehidupan si comic yang dipenuhi oleh keabsurdan lengkap dengan tragedi percintaannya. Tidak benar-benar ditemui pembaharuan lantaran kurang lebih hanya mempergunakan formula yang diciptakan oleh Dika di film-film miliknya. Dengan hanya berpatokan pada ini, gairah menonton pun gagal terbentuk. Lalu, saya pun memutuskan untuk memberi kesempatan pada Tak Kemal Maka Tak Sayang yang tiada disangka-sangka... ternyata menghibur! Don’t judge a book by its cover, eh? 

25 Oktober 2014

REVIEW : CHEF


“I may not do everything great in my life, but I'm good at this. I manage to touch people's lives with what I do and I want to share this with you.” 

Saat memutuskan untuk menyantap film yang dikategorikan sebagai ‘food porn’ – well, kurang lebih ini film kuliner – kamu tentu telah mengetahui apa yang akan dihadapi. Pemandangan makanan menggiurkan mata bertebaran sepanjang durasi, menggoda iman perutmu yang senantiasa merintih-rintih memohon untuk diisi dengan sepiring makanan lezat yang kamu saksikan di layar lebar. Godaan yang jelas sangat sulit untuk ditolak. Glek. Bahkan mengantisipasinya dengan mengenyangkan diri bukanlah sebuah solusi terbaik karena pada akhirnya, yah, kamu akan kembali kelaparan. Coba saja saksikan apa yang telah diperbuat oleh Jon Favreau (Elf, Iron Man) di Chef ini. Tanpa memiliki sedikit pun belas kasihan, Favreau membiarkan para penonton ‘tersiksa’ dengan ‘panorama’ cantik yang dihidangkannya sepanjang 100 menit yang akan membuat siapapun mengurungkan niat untuk berdiet... setidaknya pada hari menyaksikan film ini. 

21 Oktober 2014

REVIEW : 3 NAFAS LIKAS


"Memilih cita-cita yang terpenting adalah apa yang mau kita capai di hari esok dengan cita-cita itu."

Mungkin, mayoritas penonton yang bersedia menyisihkan sedikit uang dan meluangkan sedikit waktu untuk menyaksikan film dengan salah satu desain poster tercantik tahun ini tidak benar-benar mengetahui siapa sosok Likas Tarigan dijadikan sebagai bahan pergunjingan di sini. Namanya begitu asing di telinga. Bahkan ketika kamu mengubek-ngubek buku sejarah untuk mencari latar belakangnya, kemungkinan akan dihadapkan pada jalan buntu saking minimnya (atau bahkan tidak ada!) informasi yang tersedia. Hal ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya terlebih film biopik di Indonesia selama ini umumnya memfokuskan diri terbatas pada tokoh-tokoh besar yang namanya telah dikenal seantero nusantara. “Siapa sesungguhnya Likas Tarigan? Apa yang membuatnya begitu istimewa sehingga dirasa perlu mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar?” adalah pertanyaan umum yang menyertai penonton kebanyakan sebelum melangkahkan kaki ke dalam gedung bioskop. Jika kamu benar-benar tidak tahu, biarkan ketidaktahuan itu menyertaimu hingga selesai menyaksikan 3 Nafas Likas untuk memberi daya tarik lebih pada guliran kisah. 

15 Oktober 2014

REVIEW : THE JUDGE


“My father is a lot of unpleasant things, but murderer is not one of them.” 

Kerinduan cukup besar terhadap sajian courtroom seru a la film dekade 90-an semacam A Time to Kill beserta adaptasi-adaptasi dari novel John Grisham (The Firm, The Rainmaker) yang berisi pengacara-pengacara kelas kakap bersilat lidah mengeluarkan jurus bujuk rayu untuk membuai para juri dengan sesekali diselingi investigasi adalah alasan utama yang mendasari saya menyaksikan The Judge. Tentu, selain ingin menyimak kolaborasi akting Robert Duvall bersama Robert Downey, Jr dalam peran berbedanya di luar Tony Stark maupun Sherlock Holmes di beberapa tahun terakhir ini. Akan tetapi, apa yang lantas tidak disangka-sangka adalah mampu memperoleh lebih dari sekadar keinginan untuk bernostalgia. The Judge bukan saja soal pertarungan sengit antara dua pengacara handal dalam memenangkan perkara di meja hijau, tetapi juga pertarungan ayah-anak dalam meredam ego masing-masing demi melepas masa lalu kelam yang selama ini senantiasa membayangi.  

11 Oktober 2014

REVIEW : STRAWBERRY SURPRISE


“Aku janji untuk menelan manis, asam, dan pahit hidup ini sama kamu. Aku siap hidupku meledak-ledak nggak tertebak bareng kamu.” 

Sulit untuk mengenyahkan begitu saja dari ingatan duet maut yang diperagakan oleh Reza Rahadian bersama Acha Septriasa melalui Test Pack: You’re My Baby, dua tahun silam. Bahkan, berkat penampilan emosional – sekaligus kemampuan membangun chemistry ciamik bersama lawan main – Acha Septriasa diganjar Piala Citra pertamanya di sini. Keduanya memberikan performa kelas wahid yang membuktikan kelayakan mereka untuk menempati posisi singgasana sebagai aktor-aktris muda terbaik di sinema Indonesia masa kini. Posisi Reza semakin dimantapkan, sementara khusus untuk Acha, tidak ada lagi yang berani meremehkan kemampuan berolah perannya. Ketika ‘pernikahan’ mereka bubar jalan, ada semacam kerinduan untuk menengok kembali pasangan penuh kemesraan ini dipersatukan kembali lewat film layar lebar. Inilah salah satu reuni yang dinanti-nantikan. Starvision yang menyadari penuh keinginan publik untuk melihat Acha dan Reza sekali lagi disandingkan dalam satu frame, mempertemukan keduanya lewat Strawberry Surprise

10 Oktober 2014

REVIEW : DRACULA UNTOLD


Tunggu, kita mendapat satu lagi film tentang, errr... Drakula? Sepertinya para sineas dunia begitu terobsesi mengeksploitasi makhluk pengisap darah dari novel klasik rekaan Bram Stoker ini sehingga tidak tanggung-tanggung ada banyak bermunculan versi dalam 5 tahun terakhir – termasuk film animasi yang disulih suara oleh Adam Sandler serta serial televisi yang menampilkan Jonathan Rhys Myers. They just can’t get enough of Dracula. Dengan beragam pendefinisian yang telah dilakukan terhadap kehidupan Count Dracula selama ini, maka boleh jadi tidak ada lagi sisi si vampir yang tersisa untuk dicelotehkan. Tapi, kamu tentu tidak berpikir Hollywood akan kehabisan akal, bukan? Jika mereka bisa mengacak-acak sejarah presiden favorit masyarakat Amerika, mengapa tidak untuk sebuah karakter literatur yang memang telah terbiasa menghadapi dekonstruksi? Lagipula, Gary Shore bersama dua rekan penulis skrip, Matt Sazama dan Burk Sharpless, menemukan sisi lain yang terlupakan dari Dracula untuk diceritakan di berbagai filmnya melalui Dracula Untold, yakni asal-muasalnya. 
Mobile Edition
By Blogger Touch