June 18, 2017

REVIEW : IN THIS CORNER OF THE WORLD


“Thank you for finding me in this corner of the world.” 

Pada tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom atom uranium jenis bedil yang dikenal dengan nama Little Boy dijatuhkan oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima, Jepang. Pengeboman yang menelan ratusan ribu korban jiwa tersebut – sebagian besar diantaranya adalah masyarakat sipil – memberikan pukulan telak bagi Jepang sehingga tidak berselang lama mereka pun menyerah kepada pihak sekutu yang secara otomatis mengakhiri berlangsungnya Perang Dunia II. Inilah salah satu peristiwa penting dan berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Saking pentingnya, industri perfilman di Jepang pun tak ingin kelewatan untuk mengabadikannya melalui bahasa audio visual, baik berkenaan langsung dengan sejarahnya atau sekadar menjumputnya sebagai latar belakang penggerak kisah seperti dilakukan oleh film animasi pemenang beragam penghargaan berjudul In this Corner of the World (atau berjudul asli Kono Sekai no Katasumi ni). Ya, film arahan Sunao Katabuchi (Princess Arete, Mai Mai Miracle) yang disarikan dari manga bertajuk serupa ini bukanlah sebentuk rekonstruksi sejarah dengan alur kisah maupun karakter-karakter yang bisa dijumpai di buku teks melainkan sebentuk hikayat dengan bangunan cerita fiktif yang mencoba menawarkan perspektif perihal impak perang terhadap kemanusiaan. 

June 13, 2017

REVIEW : DETECTIVE CONAN: CRIMSON LOVE LETTER


Selepas The Darkest Nightmare yang merupakan salah satu seri terbaik dalam rangkaian film layar lebar Detective Conan, antisipasi terhadap jilid ke-21 yang diberi tajuk Crimson Love Letter pun seketika meninggi. Terlebih, dua karakter kesayangan para penggemar; Heiji Hattori dan Kazuha Toyama, yang terakhir kali menampakkan diri dalam Private Eye in the Distant Sea (2013) akan memiliki andil besar dalam penceritaan bukan sebatas numpang lewat untuk memeriahkan suasana. Terdengar menggoda, bukan? Tingginya antisipasi terhadap Crimson Love Letter arahan Kobun Shizuno (yang juga menyutradarai enam jilid terakhir) dapat dibuktikan melalui besarnya raihan pundi-pundi uang yang diperoleh selama masa pemutaran di bioskop-bioskop Jepang. Mengantongi $59 juta dalam 9 pekan, Crimson Love Letter tercatat sebagai seri film dari Detective Conan dengan pendapatan tertinggi melibas pencapaian jilid sebelumnya. Berkaca dari respon memuaskan yang diperolehnya ini, satu pertanyaan lantas terbentuk: apakah hype sedemikian kuat yang melingkungi instalmen ke-21 ini berbanding lurus dengan kualitas penceritaan yang diusungnya?

June 11, 2017

REVIEW : MANTAN


“Pernah nggak kamu kepikiran, orang yang deket sama kamu itu jodoh yang dikasih Tuhan apa nggak?” 

Setiap mantan kekasih pastinya menggoreskan cerita dan pengalaman berbeda-beda untuk dikenang. Ada yang menyenangkan, memilukan, menjengkelkan, sampai biasa-biasa saja. Tatkala kenangan buruk lebih sering menghinggapi selama menjalin tali asmara, umumnya hubungan berakhir secara tidak baik yang berdampak pada keinginan untuk tidak lagi saling berkomunikasi demi menghempaskan memori-memori buruk. Kurang lebih, seperti diutarakan Geisha dalam tembang “Lumpuhkan Ingatanku”. Akan tetapi, pernahkah terlintas di pikiran bahwa jalan terbaik untuk berdamai dengan masa lalu agar dapat melanjutkan hidup tanpa ada beban di hati adalah memaafkan alih-alih melupakan? Gandhi Fernando (The Right One, Midnight Show) agaknya mempunyai pemikiran senada karena seperti apa yang dituangkannya dalam film terbaru keluaran Renee Pictures, Mantan, yang menampilkannya sebagai pelakon sekaligus penulis skrip, mantan tidak semestinya dihempas begitu saja dari ingatan terlebih jika menyisakan persoalan belum terselesaikan di masa lampau. Semestinya kita bersilaturahmi dengan mantan, lalu mengajaknya untuk berkonsiliasi. Siapa tahu soulmate yang sesungguhnya untuk kita ada diantara mereka. Dalam? Ya. Tapi jelas tidak mudah untuk dilakukan. 

June 8, 2017

REVIEW : THE MUMMY


“Welcome to a new world of gods and monsters.” 

Disamping keranjingan mengeruk pundi-pundi dollar melalui sekuel, remake, reboot, atau apalah-apalah itu sebutannya, studio-studio raksasa di Hollywood tengah menggemari cara lain untuk membentuk sebuah franchise yakni menciptakan shared universe yang menghubungkan sejumlah judul film menggunakan ‘tali pengait’ berbentuk karakter, plot, sampai bangunan dunianya. Semesta-semesta film yang mengemuka dalam beberapa tahun terakhir antara lain Marvel Cinematic Universe, DC Extended Universe, MonsterVerse, hingga paling anyar Dark Universe yang menyatukan sederet makhluk jejadian legendaris dari dunia fiksi semacam Dracula, Frankenstein, Invisible Man, serta Wolf Man. Diinisiasi oleh Universal Pictures, Dark Universe mencoba mengawalinya dengan versi paling mutakhir The Mummy yang menggaet Tom Cruise untuk menempati garda terdepan menggantikan posisi Brendan Fraser dari trilogi sebelumnya dan menempatkan Alex Kurtzman yang lebih berpengalaman sebagai produser di kursi penyutradaraan. Apakah ini berhasil? Well, sayangnya saya harus mengatakan bahwa The Mummy versi Tom Cruise yang mengawinkan beragam genre ini bukanlah suatu upaya yang berhasil untuk memperkenalkan penonton kepada sebuah semesta film baru. Tidak buruk, hanya saja jauh dari kata greget. 

June 7, 2017

REVIEW : MINE


“My next step will be my last.” 

Coba bayangkan dirimu berada dalam situasi semacam ini: tersesat di padang gurun tanpa membawa persediaan hidup mencukupi, lalu tanpa sengaja menginjak sesuatu yang besar kemungkinan adalah sebuah ranjau. Apa yang akan kamu lakukan? Memutuskan berdiam diri hingga batas waktu tertentu seraya menunggu bala bantuan yang mungkin saja tidak akan pernah datang karena lokasimu amat terpencil dan berada di sekitar area konflik atau nekat memutuskan untuk melangkah dengan resiko akan kehilangan anggota tubuh tertentu? Situasi ini, kemudian pertanyaan-pertanyaan yang melanjutinya merupakan gambaran penceritaan secara garis besar dari film debut penyutradaraan duo Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro (memakai nama panggung Fabio & Fabio), Mine, yang promonya mengisyaratkan akan berada di jalur survival thriller. Hanya saja, berbeda dengan film-film yang mempunyai pokok persoalan serupa mengenai bertahan hidup di alam liar semacam 127 Hours (2010), Buried (2010), hingga paling anyar The Shallows (2016), Mine tidak semata-mata berceloteh mengenai upaya sang protagonis untuk bertahan hidup. Si pembuat film turut sibuk menyisipinya dengan muatan filosofis yang membicarakan tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. 

June 3, 2017

REVIEW : WONDER WOMAN


“I used to want to save the world, this beautiful place. But the closer you get, the more you see the great darkness within. I learnt this the hard way, a long, long time ago.” 

Sejujurnya, kepercayaan terhadap film-film hasil adaptasi komik keluaran DC Comics yang tergabung dalam DC Extended Universe (DCEU) telah menguap semenjak dikecewakan secara berturut-turut oleh dua film terakhirnya yang menjemukan serta sarat akan pesimisme, Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad. Kemuraman nada maupun pesan yang menghiasi kedua film tersebut nyatanya berimbas ke diri ini yang ditandai pupusnya harapan bakal memperoleh tontonan superhero berkualitas jempolan dari penghasil pahlawan-pahlawan fiktif berkekuatan mahadahsyat yang ikonik ini. Semacam, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan masa depan DCEU. Tatkala ekspektasi tidak lagi ditanamkan, keragu-raguan lebih sering mencuat, keajaiban yang didambakan justru datang menghampiri. Keajaiban yang diiringi setitik harapan tersebut dihantarkan oleh sutradara perempuan Patty Jenkins (Monster) melalui Wonder Woman yang menandai debutnya dalam mengarahkan film berskala blockbuster. Seolah telah belajar dari kesalahan film terdahulu, Wonder Woman menjauhkan diri dari nada penceritaan bermuram durja dan merangkul erat sikap optimistis yang menjadikannya terasa berenergi sekaligus menguarkan rasa beserta emosi yang kuat. Ya, Wonder Woman bukan saja akan membuatmu bersemangat oleh rangkaian aksi plus pesan positifnya tetapi juga tertawa oleh humornya dan tersentuh oleh sederet momen emosionalnya. 

May 30, 2017

10 FILM YANG COCOK DITONTON SAAT NGABUBURIT SELAMA RAMADHAN


Jika kamu berada di halaman ini – serta berencana membaca tulisan sampai tuntas – itu berarti kemungkinan besar kamu tengah menjalani puasa Ramadhan, kebelet ingin nonton film, namun merasa khawatir tidak bisa memilih tontonan aman yang tidak mengundang hawa nafsu. Kalau betul demikian, maka ya, ini adalah tempat yang tempat. Cinetariz telah mengurasi rentetan judul yang hilir mudik di pikiran (sejauh ingatan bisa mengingat) untuk ditempatkan dalam daftar ini. Mengingat daftar disusun di kala bulan Ramadhan, tak pelak film-film yang terpilih pun mayoritas bernafaskan Islami. 
Mobile Edition
By Blogger Touch