13 November 2014

REVIEW : INTERSTELLAR


“We used to look up at the sky and wonder at our place in the stars, now we just look down and worry about our place in the dirt.” 

Bagi sejumlah penggila film, Christopher Nolan adalah ‘dewa’ yang sepatutnya dipuja-puja. Usai menciptakan sederet twist cerdas pada karya-karya di awal karir, perlakuannya dalam memanusiawikan Batman serta menyisipkan teori mimpi ke penceritaan di Inception yang memicu perdebatan sampai detik ini, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika setiap ciptaan anyar dari sutradara yang angkat nama lewat Memento ini begitu diantisipasi kemunculannya. Maka ketika trilogi si kelelawar hitam tutup buku, kepenasaran berbalut antusiasme untuk mengetahui langkah Nolan berikutnya pun menyeruak. Terlebih, sekali ini Nolan kembali pada cerita orisinal (bukan franchise) yang dikerjakannya bareng sang adik, Jonathan Nolan, dan berhubungan dengan ruang antariksa. Satu pertanyaan yang lantas membarengi proyek ini adalah kecerdasan – atau katakanlah, kegilaan – macam apa lagi yang akan diperbuatnya? Siapapun tentu berharap, film terbaru Nolan ini akan melampaui, atau setidaknya menyamai, kualitas yang ditorehkan oleh Inception yang dianggap sebagai sebuah mahakarya. 

9 November 2014

REVIEW : BIG HERO 6


“Wait 'til my brother sees you! You're going to help so many people, buddy. So many!” 

Dengan merapatnya Marvel ke kubu Disney, apakah pernah terlintas di benakmu ide gila soal film animasi yang mempertemukan tuturan klasik khas Disney dengan kisah superhero khas Marvel? Apabila ya, well... ternyata kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membayangkannya terwujud menjadi kenyataan karena itulah yang akan kamu kudap di film animasi ke-54 produksi Walt Disney Animated Classic, Big Hero 6. Usai menyeret penonton memasuki dunia dongeng kerajaan antah berantah lewat Tangled dan Frozen serta dunia game penuh ‘penghormatan’ dalam Wreck-It Ralph, kini saatnya bagi mereka untuk mengikuti tren yang tengah digandrungi di industri perfilman – sekaligus memanfaatkan koleksi komik Marvel – dengan memboyongmu ke dalam dunia superhero. Terinspirasi dari salah satu komik rilisan Marvel berjudul sama, maka lahirlah sebuah film animasi penuh kesenangan berjudul Big Hero 6 yang seperti mengombinasikan Spider-Man, Fantastic Four, dan The Avengers

3 November 2014

REVIEW : OUIJA


“Keep telling yourself it's just a game.” 

Apabila kamu mendengus kecewa terhadap Annabelle lantaran tak cukup membuatmu ketakutan dan berharap Ouija mengobati luka hatimu, maka sebaiknya redam saja ekspektasimu karena, yah... hanya akan memercikkan kejengkelan lebih mendalam. Dipersiapkan sebagai salah satu dari sedikit film memedi untuk menyambut datangnya Halloween, produksi horor pertama dari perusahaan mainan Hasbro yang bekerja sama dengan Platinum Dunes kepunyaan Michael Bay ini hanya menerapkan kembali resep yang telah dipergunakan oleh, errr... seabrek film horor yang menyasar remaja sebagai target utama pasar. Coba saja intip plotnya; sekelompok remaja iseng-iseng melakukan pemanggilan arwah menggunakan papan permainan supranatural, Ouija, hanya untuk diserang serentetan teror yang berujung pada tewasnya satu persatu dari mereka. Bukankah ini sesuatu yang bahkan telah sering kamu jumpai di film-film horor buatan dalam negeri? 

1 November 2014

REVIEW : JOHN WICK


“People keep asking me if I'm back. Yeah. I'm thinking I'm back.” 

Kebanyakan dari kita mungkin telah menghapus predikat ‘bintang laga’ yang sempat tersemat pada sosok Keanu Reeves sejak bertahun-tahun lalu khususnya semenjak trilogi The Matrix tutup buku. Setelah melepaskan diri dari karakter ikonik bernama Neo, Reeves lebih banyak berkecimpung di ranah drama dan memang karir keaktorannya perlahan tapi pasti mulai meredup. Ketika dirinya memutuskan untuk berlaga ria lewat Man of Tai Chi dan 47 Ronin dengan harapan bisa bangkit, hasilnya malah sungguh memalukan yang semakin menodai deretan filmografinya. Maka ketika Keanu Reeves mencoba menebus kesalahannya lewat gelaran aksi bertajuk John Wick, siapa yang peduli? Hanya beberapa yang betul-betul memperhatikan. Akan tetapi, perspektifmu terhadap Reeves mungkin akan sedikit banyak berubah setelah menyaksikan apa yang bisa diperbuatnya di John Wick. Mungkin masih ada harapan baginya tetap menyandang predikat ‘bintang laga’. 

31 Oktober 2014

REVIEW : FURY


“Ideals are peaceful. History is violent.” 

Tersusun atas setumpuk kisah menarik dengan sudut-sudut yang belum sepenuhnya tereksplorasi, tidak mengherankan apabila Perang Dunia II menjadi salah satu topik perbincangan yang digemari oleh para sineas perfilman dunia. Bukan sebatas disukai di kalangan Blok Sekutu, tetapi merembet pula ke Blok Poros. Setiap tahun, kamu akan menjumpai film yang meletakkan perang akbar ini sebagai landasan utama untuk bertutur dengan kualitas yang beraneka ragam. Walau banyak pula yang tergarap secara baik, akan tetapi Steven Spielberg telah menetapkan standar tinggi untuk ‘war movies’ bersetting Perang Dunia II lewat Saving Private Ryan dua dekade silam sehingga film apapun dari genre ini yang terlahir paska 1998 tidak cukup sekadar berada di tingkatan ‘baik’ melainkan kudu mencapai ‘hebat’. Usai serangkaian rilisan yang timbul tenggelam – bahkan seringkali berlalu begitu saja – dalam beberapa tahun terakhir, David Ayer (U-571, End of Watch) dengan segala keambisiusannya melontarkan Fury yang diharapkan mampu menumbuhkan kembali semangat bagi war movies. Mampukah? 

29 Oktober 2014

REVIEW : HAPPY NEW YEAR


“In this world there are two types of people, winners and losers. But life definitely gives every loser that one chance in which he can become a winner.”

Apabila kamu mencari orisinalitas pada Happy New Year, nyaris mustahil untuk memperolehnya. Tengok saja pada plotnya: sekelompok pecundang yang terdiri atas sejumlah bintang Bollywood kelas A menyamar sebagai peserta kejuaraan tari tingkat dunia untuk mencuri sebuah berlian berharga. Terdengar, errr... begitu familiar? Sekilas akan membuatmu teringat kepada Ocean’s Eleven, Now You See Me, dan Step Up. Tetapi jika tujuanmu adalah memperoleh hiburan – tentunya ini adalah alasan mayoritas penonton bertandang ke bioskop – dan enggan peduli bahwa sebuah film harus memiliki tuturan kisah yang cerdas pula padat berisi, maka terimalah undangan dari Farah Khan – sebelumnya telah beberapa kali berkolaborasi bersama Shahrukh Khan lewat Kuch Kuch Hota Hai (sebagai koreografer), serta Main Hoon Na dan Om Shanti Om (sebagai sutradara) – untuk ikut berpesta pora dalam film arahannya selama kurang lebih 3 jam. Untuk bisa menikmati ‘pesta’ yang meriah dalam Happy New Year, Farah hanya memberi satu persyaratan kepada penonton: tinggalkan otakmu di luar gedung bioskop. Bersenang-senanglah! 

27 Oktober 2014

REVIEW : TAK KEMAL MAKA TAK SAYANG


Apabila diperkenankan untuk mengucap kejujuran, sebetulnya hati ini tiada memiliki ketertarikan untuk menyaksikan Tak Kemal Maka Tak Sayang. Well, selain bukan penggemar gaya Kemal Palevi dalam berkelakar di atas panggung, traumatis terhadap film teranyar Raditya Dika – sebagai sesama pelaku stand up comedy – yang begitu mengecewakan ditinjau dari berbagai sisi masih belum sepenuhnya mengenyahkan diri dari pikiran. Lagipula, apa yang menjadi bahan kupasan film yang beranjak dari buku laris berjudul sama rekaan Kemal Palevi ini yah, masih berkisar di kehidupan si comic yang dipenuhi oleh keabsurdan lengkap dengan tragedi percintaannya. Tidak benar-benar ditemui pembaharuan lantaran kurang lebih hanya mempergunakan formula yang diciptakan oleh Dika di film-film miliknya. Dengan hanya berpatokan pada ini, gairah menonton pun gagal terbentuk. Lalu, saya pun memutuskan untuk memberi kesempatan pada Tak Kemal Maka Tak Sayang yang tiada disangka-sangka... ternyata menghibur! Don’t judge a book by its cover, eh? 
Mobile Edition
By Blogger Touch