January 2, 2016

10 FILM INDONESIA TERBAIK TAHUN 2015 VERSI CINETARIZ


Di penghujung tahun 2015 tersiar kabar membahagiakan yang menyatakan bahwa film terbaru Raditya Dika, Single, telah bergabung dengan klub 1 juta penonton bersama Surga Yang Tak Dirindukan dan Comic 8: Casino Kings Part 1. Memiliki tiga film nasional berhasil menembus angka keramat di tahun 2015, itu artinya ada kenaikan dari dua tahun terakhir yang hanya mengirimkan dua perwakilan. Sebuah catatan yang dapat memunculkan senyum lebar para pekerja sinema Indonesia sekalipun tak sedikit pula yang menderita dan (tetap saja) selera penonton masih belum bisa tertebak. Akan tetapi, tentu bukan prestasi dari sisi finansial yang akan saya bahas melalui artikel ini melainkan melanjutkan tradisi tahunan untuk mengulik deretan film-film tanah air yang meninggalkan kesan mendalam sepanjang setahun ke belakang. 

Dari jumlah tidak terlalu banyak, hanya ada sekitar 20-an film berkualitas diatas rata-rata tahun lalu, saya mengerucutkannya menjadi 10 judul (plus imbuhan 5 film yang nyaris menembus daftar) paling membekas di hati. Walau menggunakan embel-embel ‘Terbaik’ pada judul, tidak bisa dipungkiri bahwa daftar ini disusun secara subjektif menyesuaikan selera personal sehingga sangat mungkin ada ketidaksetujuan terhadapnya. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, berikut adalah deretan film-film Indonesia terbaik sepanjang tahun 2015 versi Cinetariz: 

Honorable Mentions (urutan sesuai abjad)

* 2014: Siapa Di Atas Presiden?

* Bulan Di Atas Kuburan 


* Nay 


* Single

* Siti 


Dan inilah sepuluh film Indonesia paling keren sepanjang tahun 2015 menurut Cinetariz: 

#10 Badoet 


Saat kebanyakan film horor dalam negeri memantik teror menggunakan trik murahan bermodalkan penampakan saban detik dan sound kencang, Awi Suryadi justru menerapkan prinsip ‘less is more’ pada Badoet. Hasilnya, malah lebih efektif dalam memunculkan teror. Sudah cukup lama saya tidak merasakan sensasi was-was seraya meringkuk tampan di kursi bioskop dengan kedua mata tersembunyi di balik telapak tangan selama menyaksikan film memedi asal Indonesia dan berkat Badoet, saya kembali merasakannya. 

#9 Nada Untuk Asa 


Nada Untuk Asa dihadirkan Charles Gozali sebagai tontonan soal penyakit mematikan secara ‘berbeda’, mengedukasi secara benar, serta mengapungkan harapan kepada para penderitanya alih-alih menjatuhkan lewat eksploitasi penderitaan yang mengerikan. Tanpa perlu dihujani tangis pilu berlebihan, Nada Untuk Asa malah berhasil mencuri perhatian, menghujam emosi sekaligus menginspirasi. Sebuah kombinasi yang jarang kamu temukan dari film sejenis buatan sineas dalam negeri, bukan? 

#8 Toba Dreams 


Menerapkan formula klasik pada sisi penceritaan dengan durasi yang tergolong panjang pula, Toba Dreams kreasi Benni Setiawan nyatanya tak pernah sedikit pun terpeleset menjadi tontonan melelahkan bercita rasa usang. Sebaliknya, berkat perpaduan sempurna antara skrip berisi yang turut mengajak kita sedikit banyak menelusuri kebudayaan Batak, performa penuh tenaga dari barisan pemainnya, serta visualisasi menyejukkan mata, Toba Dreams justru menjelma sebagai film mengesankan yang tak segan-segan mengoyak emosimu hingga titik maksimal. 

#7 Ngenest 


Siapa menduga Ernest Prakasa sanggup menjalankan tugas perdananya sebagai sutradara di Ngenest dengan begitu baik? Di film yang juga menempatkannya sebagai pelakon dan penulis naskah ini, Ernest memberi obat pelepas penat yang sangat mujarab berbekal chemistry ciamik jajaran pemain (plus cameo tepat guna dari rekan-rekannya sesama komika) pula kemampuan si pembuat film memantik derai tawa penonton lewat guyonan-guyonan cerdas yang sesekali menyentil tanpa pernah lupa memberikan hati ke guliran pengisahan. Sangat, sangat menghibur. 

#6 Hijab 


Seusai sederet film ‘serius’, Hanung Bramantyo mencoba kembali ‘bermain-main’ dalam Hijab yang seketika melambungkan ingatan ke Jomblo, Catatan Akhir Sekolah, maupun Get Married. Tak seperti judulnya yang mengindikasikan film akan bergerak di ranah reliji, Hijab justru dijelmakan sebagai film komedi satir cerdas, nakal, sekaligus mengasyikkan yang tanpa malu-malu berbicara soal kesetaraan jender, posisi perempuan, ajaran agama, moral, dan (tentunya) hijab sebagai bagian dari gaya hidup bukan lagi sekadar penanda keimanan seseorang. 

#5 3 (Alif Lam Mim)

“Bagaimana jadinya jika Indonesia dalam dua puluh tahun mendatang menjelma sebagai negara liberal yang menistakan agama, khususnya Islam, sehingga menganggapnya sebagai parasit yang harus dimusnahkan keberadaannya?.” Premis menggelegar 3 (Alif Lam Mim) tersebut berhasil diterjemahkan Anggy Umbara secara menawan ke bahasa gambar dengan dukungan ensemble cast yang menyumbangkan performa jempolan sehingga menghasilkan sebuah tontonan berlatar dystopia yang tidak saja seru, tetapi juga mencengkram erat emosi dan mempersilahkan penontonnya berkontemplasi. 

#4 Filosofi Kopi 


Saat kamu memutuskan untuk mengunjungi Filosofi Kopi, bersiaplah untuk memperoleh salah satu sensasi sajian terbaik yang pernah ditawarkan oleh sebuah film Indonesia. Sang pemilik kedai, dalam hal ini Angga Dwimas Sasongko beserta Jenny Jusuf, tidak semata-mata menyuguhkan kudapan dan kopi bercita rasa kuat nan menggoda selera sebagai jualan utama melainkan juga memberi pelanggan pengalaman menyenangkan saat bertandang ke kedai. Mereka tidak akan membiarkanmu pulang dengan tangan (dan hati) hampa. Ada ‘cinderamata’ yang bisa dibawa ikut serta. Cinderamata ini dimanifestasikan ke perasaan semangat, gembira, dan hangat. 

#3 Guru Bangsa Tjokroaminoto

Guru Bangsa Tjokroaminoto tidak sekadar bermain-main pada tampilan visual yang menonjolkan kesan ‘mahal’ tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempermainkan emosi penonton yang secara bergantian menciptakan tawa berderai-berderai, rasa tegang, hingga meneteskan air mata utamanya pada menit-menit terakhir saat kalimat termasyhur dari Tjokroaminoto dikumandangkan lalu ditutup oleh epilog berwujud kumpulan foto lawas yang menggetarkan hati. Sungguh, Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah sebuah film penting arahan Garin Nugroho terkemas selayaknya opera elok yang sebaiknya tidak kamu lewatkan begitu saja. 

#2 Kapan Kawin?

Meski telah menonton Kapan Kawin? sebanyak 5 kali sepanjang tahun 2015, kesenangan seperti pertama kali menyaksikannya masih tetap dirasakan setiap kali menonton ulang. Kapan Kawin? adalah pembuktian bahwa gagasan sederhana (malah sedikit banyak menyerupai FTV) pun bisa diterjemahkan ke bahasa gambar luar biasa memikat dibawah penanganan Ody C. Harahap yang cermat. Memunculkan kritik sosial dalam balutan humor-humor jitu yang tidak pernah sekalipun gagal mengundang tawa berkepanjangan plus beberapa momen manis hasil dari chemistry hebat duo Adinia Wirasti dan Reza Rahadian – sekaligus membuktikan bahwa Reza Rahadian memang bisa menjadi apa saja! – Kapan Kawin? adalah salah satu film komedi romantis terbaik yang pernah ada di khasanah sinema Indonesia. 

#1 Mencari Hilal

Mencari Hilal adalah sebuah tontonan mengenai hubungan antar manusia yang terajut begitu indah, jujur sekaligus bersahaja. Tanpa pernah terasa menggurui sekalipun berada di area reliji, film memunculkan keinginan pada diri untuk memberi pelukan hangat kepada ayah tercinta selepas menontonnya. Kombinasi sempurna dari penuturan penuh ‘rasa’ Ismail Basbeth, interaksi benci tapi sayang ‘pasangan ayah anak’ Deddy Sutomo-Oka Antara, tangkapan gambar-gambar penyejuk mata, serta lantunan tembang pengiring penyayat hati berulang kali membuat saya tertawa, tersentuh, hingga akhirnya tertohok untuk kemudian merenunginya dan melahirkan pertanyaan, “apakah selama ini saya telah menjadi seorang Muslim yang baik? Atau jangan-jangan sekadar memanfaatkan agama agar memiliki identitas sebagai bentuk eksistensi diri?.” Sulit dipungkiri, Mencari Hilal merupakan salah satu film Indonesia terbaik tahun ini, bahkan beberapa tahun terakhir. Definitely an instant classic!

19 comments:

  1. Kurang lebih setuju dengan jajaran film diatas ��

    #BanggaFilmIndonesia

    ReplyDelete
  2. Ehmm okelah ...stuju
    Film kapan kawin? Dn guru besar tjokroaminoto tidak di ragukan lagi..penutup tahun ada film yang mencuri perhatian bulan terbelah di langit amerika keren itu!!

    ReplyDelete
  3. bnyak film indo yg blm saya tonton tpi setuju kapan kawin dan single termasuk film terbaik tahun ini..

    ReplyDelete
  4. Wah, film siti nonton dimana ya mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film nay juga, kok gak pernah lewat di bioskop Kota saya ya? Hmmm nonton dimana ya, penasaran

      Delete
    2. Saya nonton Siti di Jogja Netpac Asian Film Festival. Tapi kabarnya dalam waktu dekat akan dirilis di bioskop kok. Tungguin saja.

      Kalau Nay sempat tayang di bioskop bulan November kemarin. Terbatas banget sih, emang, dan hanya bertahan seminggu :(

      Delete
  5. @Riza: Tos dulu kalau begitu! #BanggaFilmIndonesia

    @Toto: Wah, sungguh sayang saya tidak menyukai Bulan Terbelah di Langit Amerika.

    ReplyDelete
  6. Ayo ditonton, Mas @Angga. Beberapa diantaranya cukup sering bersliweran di layar televisi kok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemaren sempat lihat filosofi kopi di tv dan hijab dan memang cukup bagus ...

      Delete
  7. Negeri Van Oranye gak masuk ya mas Taufiq? hehe kurang lebih setuju sama list nya

    Btw dari semua film, ada nay yg blm ditonton krna trlalu cepat turun layar, siti karena gak tayang di bioskop :D, dan Badoet karena gak nyangka film nya keren.. mantap mas, moga makin sukses.. 4Jempol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... makasih banyak ya.

      Negeri Van Oranje bagus, cuma tidak seberkesan 15 film Indonesia lain di daftar ini. Mungkin akan masuk jika diperpanjang menjadi 20-25 film.

      Delete
  8. Mas...saya dari Malaysia.Salam perkenalan.Review filem di blog mas byk membantu saya dalam memilih karya2 berkualiti dari indonesi.Tq mas.Semoga sukses terus ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @mohd muqaddim: Aminnnn... sal kenal, Mohd Muqaddim. Terima kasih sudah mampir ke blog saya ya, senang review-review film Indonesia disini bisa membantumu memilih film berkualitas :)

      Delete
  9. Wah ada Badoet juga! Keren ya? *belum nonton*

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Timothy: Yup. Salah satu film horor Indonesia paling seram dalam beberapa tahun terakhir tuh (atau sejak Keramat).

      Delete
  10. bang, masukin blogku ke daftar blognya cinetariz dong heheheh... reviewer baru ini soalnya hehehe baru belajar ngeriview film sedikit-sedikit, terimakasih sebelumnya. salam kenal juga... dari dulu aku sering mampir blog ini, tapi g pernah ikut2an komentar hehehe

    ReplyDelete
  11. ^ Siap, akan segera dimasukkan blogmu di daftar blog Cinetariz. Salam kenal yah, Monster Riview!

    ReplyDelete
  12. Pada "3", saya melihat kosakata yg baru sama sekali saya dengar. "Berkontemplasi", seketika langsung mencari artinya.

    ber.kon.tem.pla.si
    Verba (kata kerja) merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian

    Ouch.

    ReplyDelete
  13. Bang rizal, blognya bagus, sngt membantu pecinta film luar maupun lokal untk memilih film yg berkualitas baik, bukan hny sekedar melihat siapa aktor/artisnya saja, tpi alur dri critanya

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch