April 6, 2019

REVIEW : SHAZAM!


“Hey, what's up? I'm a superhero.”

Sebagai seseorang yang tidak pernah bisa cocok dengan gelap-gelapan ala DC Extended Universe (DCEU), saya tentu bersorak bahagia begitu mengetahui bahwa mereka telah mempertimbangkan untuk ganti haluan. Dimulai dari Wonder Woman (2017) yang mengedepankan isu women empowerment dengan penuh suka cita lalu disusul oleh Aquaman (2018) yang membuktikan bahwa “norak” tidak selalu berarti negatif, kini DCEU menghadirkan sebuah superhero movies yang paling ramah penonton cilik, Shazam! Tak seperti rekan-rekan sejawatnya dari semesta serupa yang memiliki nama besar, Shazam! bukanlah jagoan yang dielu-elukan oleh generasi muda masa kini. Bahkan tak sedikit pula yang bertanya-tanya, “siapakah sih dia sebenarnya?”.  Padahal karakter bernama asli Captain Marvel ini (well, setidaknya di awal kemunculannya sebelum kemudian diubah demi menghindari konflik dengan tetangga) telah diperkenalkan sedari tahun 1939 dan konon pernah pula disejajarkan dengan popularitas Superman. Versi layar lebarnya pun sejatinya sudah dipersiapkan sedari awal 2000-an tapi terus terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya yang salah satu sebabnya dipicu oleh ambisi Warner Bros. untuk menghadirkan nada penceritaan yang bermuram durja (!). Usai mengalami berbagai pengembangan sekaligus perombakan di sejumlah sektor, Shazam! yang ditangani oleh David F. Sandberg (Lights Out, Annabelle Creation) ini akhirnya diputuskan untuk dilepas sebagai tontonan dengan warna pengisahan mengikuti materi sumbernya. Itu berarti, bersinonim erat dengan kata sifat berbunyi: cerah ceria, kocak, serta penuh dengan kegembiraan. Tiga hal yang memang acapkali saya harapkan bisa diperoleh dari superhero movies.

Berhubung ada banyak sekali penonton film di dunia yang belum ngeh dengan Shazam!, maka tentu saja instalmen pembuka ini difungsikan sebagai origin story yang menginformasikan penonton dengan jati diri sang jagoan. Kita dipertemukan kepada seorang bocah berusia 14 tahun bernama Billy Batson (Asher Angel) yang hidupnya berpindah-pindah dari satu rumah asuh ke rumah asuh lain pasca ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Dia mengalami krisis kepercayaan kepada orang tua angkatnya dan sangat berdedikasi dalam mencari keberadaan sang ibu yang diyakininya masih menyayanginya. Dalam pencarian terbarunya, Billy bahkan bertindak nekat dengan mempermainkan dua polisi yang tak ayal mendorong petugas perlindungan anak untuk mencarikan keluarga baru bagi bocah bengal ini. Billy pun dititipkan ke satu keluarga yang konfigurasinya terdiri atas anak-anak adopsi. Meski Billy sendiri menunjukkan sikap acuh tak acuh, keluarga anyarnya ini justru menyambutnya dengan hangat terutama teman sekamarnya, Freddy Freeman (Jack Dylan Grazer), yang digambarkan sebagai penggila superhero. Ketidakpedulian Billy terhadap Freddy lantas berubah secara perlahan tapi pasti setelah dia mengalami peristiwa aneh dalam pelariannya menggunakan kereta api bawah tanah. Alih-alih tiba di stasiun tujuan, dia justru dibawa menuju Rock of Eternity dimana dia berkomunikasi dengan seorang penyihir (Djimon Hounsou) yang tiba-tiba menyerahinya dengan kekuatan ajaib. Billy dapat berubah menjadi pria bertubuh kekar (Zachary Levi) yang dikaruniai beberapa jurus seperti berlari dengan sangat cepat maupun mengeluarkan petir setiap dia mengucap mantra berbunyi “shazam!”. Dilingkupi rasa bahagia dan bingung di waktu bersamaan, Billy pun meminta bantuan Freddy untuk memandunya agar dia bisa bertindak selayaknya superhero sejati.


Ditinjau dari sisi penceritaan, Shazam! sebetulnya tak menawarkan pembaharuan. Si pembuat film masih patuh dalam mengikuti pola sebuah origin story dimana narasi lebih menekankan pada pencarian jati diri dari karakter pahlawan bersangkutan. Atau lebih spesifiknya, film mengaplikasikan tema “from zero to hero”. Klasik? Memang benar adanya. Tapi seperti kita tahu bersama, bukan soal ide ceritanya “segar atau usang” yang kemudian menjadi faktor penentu utama apakah suatu film dapat terhidang secara istimewa. Kunci paling krusial terletak pada eksekusi. Siapa yang menduga jika kemudian seorang David F. Sandberg yang lebih dikenal sebagai sineas horor ternyata mampu menghadirkan Shazam! sebagai sebuah tontonan kepahlawanan yang ciamik? Bagi mereka yang mendamba tontonan superhero sangat teramat serius dan penuh filosofi apalah-apalah seperti para petinggi di Warner Bros. yang referensinya adalah trilogi The Dark Knight kepunyaan Christopher Nolan, maka bersiaplah untuk mengomel-ngomel karena Sandberg tidak berniat sedikitpun mengarahkan film ke mode penceritaan tersebut. Menilik latar belakang si karakter tituler yang sejatinya sangat konyol (berlandaskan premis “bagaimana jadinya kalau bocah berusia 14 tahun tiba-tiba bisa berubah jadi pahlawan super?”), sudah barang tentu agak mustahil melihatnya dilantunkan tanpa taburan humor melimpah. Dan memang, film ini pun tidak pernah diniatkan untuk menganggap dirinya secara serius. Ada banyak sekali kegembiraan tersaji di setiap menitnya yang disebabkan oleh banyolan-banyolan sarat referensi budaya populer, lawakan bersifat slapstick, dan interaksi Shazam-Freddy dengan tingkah laku norak yang membuat diri ini berulang kali tergelak-gelak secara lepas.

Sensitivitas Sandberg dalam merancang elemen-elemen komedik menjadi satu alasan mengapa setiap humor yang dilontarkan di berbagai kesempatan dapat mengenai sasaran. Alasan lainnya dipengaruhi oleh performa jajaran pemain yang patut kita beri tepuk tangan meriah seperti Zachary Levi, Jack Dylan Grazer, Asher Angel, Faithe Herman sebagai si kecil Darla yang sangat teramat ceriwis (namun sangat menggemaskan!), serta Mark Strong yang diserahi tugas untuk melakonkan sang villain bernama Dr. Thaddeus Sivana. Mereka terlihat sangat menikmati peran masing-masing khususnya Levi yang kentara bersenang-senang sebagai Shazam yang masih menunjukkan kepolosan cara berpikir bocah berusia 14 tahun, dan Grazer yang membentuk chemistry asyik bersama Levi. Berkat interpretasi peran keduanya, kita bisa melihat Billy (dalam tubuh Shazam) beserta Freddy seperti dua bocah yang baru saja diberi mainan baru. Alih-alih memikirkan “bagaimana cara kita menyelamatkan dunia?” yang menurut Billy merupakan tanggung jawab Superman dan Batman, mereka lebih memilih mendayagunakan kekuatan Shazam untuk bermain-main. Mereka rekam segala aktivitas uji coba kekuatan si pahlawan, lalu mengunggahnya ke Youtube. Seperti bisa diterka oleh siapapun, sosok Shazam segera menjadi bahan perbincangan di jagat maya dan jagat nyata dalam film yang sebetulnya tidak lagi menganggap superhero sebagai suatu keajaiban. Seiring semakin meroketnya popularitas si pahlawan, hubungan persahabatan diantara Billy dengan Freddy pun terkena dampaknya yang sebagian besar disebabkan oleh keserakahan. Billy yang tak pernah mendapat perhatian orang tua berniat mengarahkan semua lampu sorot dari publik kepadanya. Dia membutuhkan pengakuan, dia menganggap dielu-elukan masyarakat sama artinya dengan memperoleh kasih sayang. Tapi benarkah demikian?


Dari sini, saya mulai menyadari bahwa Shazam! tidaklah seceria seperti terlihat di permukaannya dan tidak pula sesederhana “tontonan lucu-lucuan”. Ini adalah sebuah kisah tentang orang-orang yang terbuang, manusia-manusia kesepian, dan mereka yang tak sanggup mengikhlaskan masa lalu. Terdengar suram? Memang begitu adanya, walau Shazam! sendiri enggan untuk mengeksploitasinya dan lebih memilih untuk menghantarkan pesan positif yang membuatnya terasa seperti film keluaran Disney atau sajian coming of age dari era 80-an. Pesan yang dimaksud berkenaan dengan tanggung jawab, bersikap baik kepada sesama, sampai pentingnya menjaga hubungan harmonis dalam keluarga. Guna menyampaikan pesan tentang keluarga, penonton diberi studi kasus dalam wujud masa kecil Thaddeus yang sekaligus berfungsi untuk memberinya motivasi mengenai tindakan kejinya. Ada rasa benci kepadanya, ada pula rasa iba karena kita melihat dia telah diperlakukan tidak manusiawi oleh keluarga inti yang seharusnya memberi dukungan moril. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, bisakah kita memafhumi tindakannya? Berkaca pada apa yang juga dialami oleh Billy, jawabnya tentu tidak. Si pembuat film memang ingin berseru “wahai orang tua, tolong jangan lakukan ini kepada anak kalian!” tapi di waktu bersamaan dia pun ingin mengingatkan para anak bahwa mereka juga memiliki andil dalam menentukan masa depan sendiri. Alhasil, kesalahan tak bisa sepenuhnya dialamatkan kepada orang tua apabila mereka tersungkur akibat ketidakmampuan untuk memaafkan masa lalu. Sungguh deep deep gimanaaa gitu yaa?

Note : Ada dua adegan bonus dalam Shazam! yang lokasinya terletak di sela-sela end credit dan penghujung durasi. Bertahanlah, bertahanlah.

Outstanding (4/5)  


13 comments:

  1. Yaaa i know right? Sejak awal nonton trailer nya yg kocak aku udah naksir gitu. Definitely bakalan nonton ini! Tapi anyway, pastinya kan kalo mau nonton film superhero bakalan ekspektasi berantem2an, disini apa lebih condong ke drama coming of age nya dibanding berantem2 nya ya om? Trus apa seseru aquaman atau wonder woman?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih condong ke kisah coming of age. Berantemnya hanya sesekali doang dan nggak heboh jadi kalau ngarep banyak laga sih bakal kecewa. Tapi soal keseruan, buatku setara dengan Aquaman. Humornya bener-bener kocak.

      Delete
    2. Yah jadi emang berantem2an nya kurang ya?

      Delete
    3. Kurang di porsi kok. Kalau impaknya sih masih oke. Maklum baru film pertama dan karakter utamanya juga remaja labil yang belum bisa mengontrol kekuatannya.

      Delete
  2. Aku salah nih udah underestimate duluan (anak marvel). Eh pas nonton trnyata sangat menikmati. Super seruuuu!
    Cuman... Penyihirnya tu kurang "witchy" menurutku, dia malah nampak komedi penampilannya ��
    Aku suka nih tek tokkkannya billy-freddy-shazam. Lucu sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoih. Durasinya panjang dan nggak kerasa sama sekali. Malah jadi pengen nonton lagi dan berharap sekuelnya segera dibuat. Tektokan antar karakternya emang juara.

      Delete
  3. Kok gak ngebahas adegan laga nya min.. seru apa kagak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Porsinya dikit banget, itupun kebanyakan ada di klimaks. Bukan jualan utama film ini.

      Delete
    2. Ohh gitu ya,,, besok rencana nya baru sempat nonton nya...

      Delete
  4. Habis nonton film ini, Akhirnya bisa bilang, "Akhirnya DC bikin film Bener, Mantap". Semenjak trilogi The Dark Knight, filmnya ampas,.. dan akhirnya mulai membaik semenjak wonder woman & aquaman,..
    Green Lantern, Man of Steel, Suicide Squad, Dawn of Justice, Justice League, Tidak, tidak, tidak, ada yang kelewat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nginget lagi film yang kamu sebutin itu, migrain langsung kumat. Hahaha. Warner Bros ini ngoyo pengen film-film di DCEU punya tone dark kayak The Dark Knight tapi jadinya malah aneh. Untung akhirnya sadar sejak Wonder Woman sukses.

      Delete
    2. Man of steel jelek ya om? Kok aku suka ya hmmm

      Delete
    3. Man of Steel paling mendingan dibanding film Superman lain di DCEU,tapi tetep nggak bagus sih buatku. Hahaha.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch