February 21, 2021

REVIEW : TWO WEEKS TO LIVE (TV SERIES)


“My whole life is a lie.”

Saat pertama kali melihat trailer Two Weeks to Live, sulit untuk tak melontarkan komentar, “apakah ini interpretasi modern dari Game of Thrones? Maksud saya, ada Maisie Williams di sana.” Ya, pemeran utama miniseri asal Inggris berjumlah enam episode hasil kolaborasi antara Sky UK dan HBO Max ini adalah Williams yang dikenal berkat perannya sebagai Arya Stark di serial fenomenal tersebut. Menariknya, kesamaan antara dua serial ini tidak terhenti hanya sampai disitu saja. Karakter yang dimainkan oleh Williams, Kim Noakes, mempunyai perjalanan hidup yang sedikit banyak mengingatkan kita pada Arya. Seorang perempuan mungil yang bertransformasi menjadi remaja pemberontak dan pembunuh keji. Melalui Two Weeks to Live, Kim dikisahkan tinggal dalam kabin yang tersembunyi nun jauh di pedalaman kabin ini dikisahkan membawa misi rahasia untuk memburu pembunuh sang ayah. Selama menjauhi peradaban manusia, ibunya, Tina (diperankan dengan sangat apik oleh Sian Clifford), menggembleng putri semata wayangnya ini untuk menjadi perempuan berdikari yang dapat membela dirinya sendiri dalam kesempatan apapun. Dibalik tampilan luarnya yang tampak polos nan mungil, seriously, you don’t want to mess with Kim.

Kim sendiri tinggal bersama Tina di kabin selama 15 tahun tanpa pernah sekalipun merasakan pengalaman hidup di “dunia luar”. Dia hanya pernah menonton film sebanyak empat judul saja (salah satunya adalah Home Alone 2), dirinya menganggap lirik lagu “I Will Survive” sebagai puisi asli buatan ibunya, dan Kim selalu mengonsumsi pil anti polusi yang tidak lain tidak bukan adalah permen mint biasa. Tapi saat usianya menginjak 21 tahun dan merasa sudah siap untuk membalas kematian ayahnya, Kim nekat melarikan diri dari kabin. Ditengah pelariannya ini, dia bertemu dengan dua saudara, Nicky (Mawaan Rizwan) yang cenderung culun dan Jay (Taheen Modak) yang sepertinya tidak kebagian jatah saat Tuhan bagi-bagi otak, di sebuah bar. Mengetahui bahwa Kim adalah perempuan polos yang bisa ditipu dengan mudah, keduanya pun membuat guyonan dengan mengatakan bumi sedang berada di ambang kehancuran dan mereka hanya punya waktu untuk hidup selama dua minggu saja. Tentu saja, berita bohong ini seketika membuat Kim panik. Kim yang tadinya berniat mengeksekusi “to do list” terlebih dahulu untuk menikmati pengalaman hidup yang tak pernah dirasakannya, lantas mengubah rencana. Sebelum dunia berakhir, dia harus menunaikan misi utamanya yakni mencabut nyawa orang yang bertanggung jawab dibalik kematian sang ayah. 


Menilik misi utama yang diemban oleh sang karakter inti, Two Weeks to Live memang terdengar seperti sajian kriminal dengan intensitas tinggi. Kurang lebih akan mengingatkanmu pada Hanna – baik versi layar lebar maupun serial – yang berceloteh soal seorang gadis yang digembleng menjadi mesin pembunuh di pedalaman. Akan tetapi, miniseri garapan Al Campbell yang naskahnya ditulis oleh Gaby Hull bersama Phoebe Eclair-Powell dan Lucy Montgomery ini memilih untuk menyajikannya dengan kandungan humor yang terhitung pekat. Bukan berbentuk komedi gelap dimana kelucuan-kelucuannya muncul dari peristiwa yang tidak semestinya ditertawakan, melainkan murni berwujud slapstick yang mencuat dari barisan karakter-karakternya yang seluruhnya digambarkan ajaib. Satu-satunya karakter “lurus” di sini adalah Tina yang itupun dibekali dialog-dialog kocak berisi nyinyiran dan sarkasme dengan metafora yang janggal. Lainnya? Kamu mungkin akan mengelus dada jika benar-benar bertemu dengan karakter seperti mereka. Dari Kim yang selalu takjub dengan apapun yang dilihatnya di peradaban modern, lalu Nicky yang tak bisa mengambil tindakan tegas, kemudian Jay dengan keputusan-keputusan bodohnya, sampai villain yang menganggap diri mereka keren meski kenyataannya, well… konyol. Duo Brooks dan Thompson (Jason Flemyng-Thalissa Teixeira) ini macam grup lenong yang memaksakan diri buat menjadi pembunuh bayaran.

Pun begitu, Campbell tak lantas mempreteli kebengisan mereka di sini. Keduanya tetap menjadi ancaman serius bagi Kim, Tina, Nicky, dan Jay lantaran tak segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi rencana mereka. Walau ya, adegan pembunuhannya tetap dibawakan secara komikal. Ditengah bombardir humor disana sini, Two Weeks to Live yang setiap episodenya berdurasi 24 menit ini nyatanya masih sanggup pula untuk tampil intens. Salah satu momen terbaik di Two Weeks to Live yang menampilkan duel antara Kim dengan pembunuh ayahnya membuat perhatianku lekat ke layar. Terasa seru, mendebarkan, sekaligus mengundang gelak tawa. Betapa tidak, dua karakter yang sedang berada dalam situasi hidup dan mati ini masih sempat-sempatnya ngelawak. Entah berbalas kata, main lempar-lemparan barang, hingga membahas soal norma-norma kesopanan. Ya, Kim tersinggung karena lawannya ini menusuk punggungnya saat dia sedang berbalik. “Rude!” begitu teriaknya dan hamba mengangguk-angguk setuju sambil ketawa terbahak-bahak. 

Kisah Kim yang menggelitik nan seru di Two Weeks to Live ini bisa kalian tonton di layanan streaming Mola TV. Sudah tersedia lengkap sampai episode ke-6 lho. Untuk bisa menontonnya, kamu cukup berlangganan paket standar seharga Rp. 12.500 untuk 30 hari atau paket HBO GO sebesar Rp. 65.000. Pembayarannya pun mudah bisa dilakukan melalui ATM maupun OVO. 



No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch