June 26, 2010

REVIEW : MESSENGERS 2 : THE SCARECROW


John Rollins (Norman Reedus) harus berjuang untuk menyelamatkan ladang dan keluarganya di saat yang bersamaan. Padang jagungnya mengalami kekeringan lantaran sistem irigasi yang tidak bekerja, semakin bertambah parah dengan hadirnya serombongan burung gagak. John juga berhutang pada bank. Seorang kawan lamanya membujuk John untuk menjual ladangnya, namun ia menolak dengan tegas karena mencium gelagat tidak baik dari kawannya tersebut. Suatu ketika, John menemukan pintu di gudang gandum miliknya dimana dia menemukan sebuah orang - orangan sawah berbentuk aneh. Atas saran dari Jude Weatherby (Richard Riehle), tetangga baru yang misterius, John memasang orang - orangan sawah tersebut di ladang jagung. Semenjak itu, kehidupan John berubah. Padang jagungnya subur dengan irigasi yang lancar, burung gagak bertumbangan hingga kondisi finansial yang membaik. Bukannya senang, John justru merasa takut karena untuk mendapatkan semuanya ini memerlukan tumbal. Siapapun yang menghalangi John akan disingkirkan, tidak terkecuali keluarganya sendiri.



Messengers 2 : The Scarecrow adalah prekuel dari film besutan the Pang Brothers, The Messengers. Dibintangi oleh aktris utama dari The Twilight Saga, Kristen Stewart, film tersebut mendulang dollar dalam jumlah yang lumayan banyak pada tahun 2007 lalu. Berharap meraih kesuksesan yang sama, Stage 6 Films memutuskan untuk membuat prekuelnya 2 tahun kemudian dan langsung dirilis ke dalam bentuk home video tanpa melalui layar bioskop di US. Untuk kawasan di luar Amerika, termasuk Indonesia, Messengers 2 : The Scarecrow sempat mencicipi masa tayang beberapa minggu di bioskop sebelum akhirnya terjun ke DVD tidak lama setelahnya.

Mengetahui bahwa film ini langsung diterjunkan ke dalam format video membuat saya tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap film ini, bahkan cenderung meng-underestimate. Poster film dan premis ceritanya sebenarnya cukup lumayan mengundang penasaran, namun sayangnya film arahan sutradara Denmark ini tidak demikian. Opening scene-nya cukup menegangkan tapi sangat spoiler. Bisa dibilang satu - satunya adegan yang bisa membuat kita sedikit menahan nafas adalah opening scene yang spoiler ini. Sementara yang hadir dalam sekitar 91 menit ke depan hanyalah film pengantar tidur. Alurnya begitu datar, predictable dan bertele - tele. Saya tak menemukan satupun adegan yang bisa menggedor jantung, kalaupun ada bukan disebabkan oleh adegan horor yang mencekam, melainkan neng Darcy Fowers yang tercatat dua kali beradegan telanjang secara frontal disini.

Menonton Messengers 2 : The Scarecrow tak ubahnya menonton film horror bikinan sineas lokal, apalagi keduanya memiliki formula yang sama. Cerita datar yang ditutupi dengan sound yang mengagetkan, gambar yang gelap dan pameran aurat dari perempuan bertubuh aduhai. Kalau boleh sedikit spoiler, ending film ini terkesan sangat konyol dan menggelikan, jauh dari kesan menegangkan. Seperti belum cukup parah, akting para pemainnya juga minta ampun datarnya. Entah apa yang terjadi dalam diri saya, tapi rasanya saya ingin sekali melindas Claire Holt dengan traktor. Lindsey Rollins yang berada dalam posisi yang tidak diuntungkan seharusnya mampu membuat penonton simpati, tapi yang ada justru membuat saya ingin mencabut pistol milik Sheriff Milton dan menembakkannya ke semua karakter sehingga film bisa berakhir dengan bahagia. Kenyataannya film ini belum juga berakhir dan saya masih berjuang mendengar teriakan penuh 'makna' dari Claire Holt, mengasihani Darcy Fowers yang tidak memiliki pakaian di saat cuaca begitu dingin hingga Scarecrow yang membuat saya mulas karena bentuknya yang menggelikan alih - alih menyeramkan. 94 menit yang cukup menyiksa. Yang membuat saya tidak percaya, Messengers 2 : The Scarecrow adalah buatan Amerika. Setidaknya film ini cukup tahu diri dengan tidak dirilis di bioskop. Ironisnya, film "super dahsyat" ini justru bertahan cukup lama di bioskop - bioskop negara kita. What the...?

Sayangilah waktu dan uang kalian yang begitu berharga dengan menghindari film semacam ini sebagai tontonan di waktu senggang. Masih banyak film berkualitas di luar sana yang bisa dicicipi. Tujuan saya menonton film ini tidak lain sebagai pemanasan menyambut summer movies berikutnya di bulan Juli dan Agustus. Toy Story 3 rupanya telah meninggikan standar summer movies sehingga dirasa perlu bagi saya untuk menonton film kosong melompong ini sehingga jika saya kembali semangat untuk menanti film yang akan tayang berikutnya.

Nilai = 3/10
Setidaknya masih ada beberapa unsur yang bisa dibilang cukup baik. Tidak hancur seutuhnya.


No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch