January 31, 2011

REVIEW : THE SOCIAL NETWORK


Film tentang Facebook meraih banyak piala penghargaan ? Apa para juri penghargaan film di luar sana sudah mulai kehilangan akal sehatnya ? Jika kalian berpikiran seperti itu, alangkah baiknya cicipi dulu The Social Network sebelum menghakiminya. The Social Network berangkat dari buku non-fiksi karangan Ben Mezrich yang laku keras, The Accidental Billionaires, dan memang dalam pembuatan film ini tak ada satupun orang dari Facebook yang bersedia terlibat, termasuk Eduardo Saverin yang menjadi narasumber di buku Mezrich. Sempat mendapat tentangan dari Mark Zuckerberg, sang pendiri Facebook, namun pada akhirnya proyek ini terus berjalan meski halang rintangan menghadang *halah*. David Fincher yang ditunjuk sebagai sutradara akhirnya keluar dari 'zona gelapnya' dan mencoba untuk mengarahkan lagi film drama pasca kesuksesan The Curious Case of Benjamin Button. Sekali ini tidak mencoba merekrut bintang Hollywood papan atas, melainkan para aktor muda yang masih segar dengan kualitas akting yang mumpuni. Aaron Sorkin yang angkat nama berkat The West Wing yang sukses secara kualitas dan kuantitas dipilih untuk menuangkan tulisan Mezrich ke dalam bentuk naskah.

Jesse Eisenberg adalah Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard yang jenius dalam bidang komputer namun memiliki sifat yang brengsek menurut kekasihnya, Erica Albright (Rooney Mara). Karena tidak tahan lagi dengan sifat Zuckerberg itulah, Erica kemudian mencampakkannya. Kecewa dengan Erica, dia menuangkan kekesalannya ke dalam postingan di blog serta menciptakan sebuah web yang membandingkan para gadis cantik di Harvard. Rupanya hal ini malah justru membuat Erica menjauh, bahkan para gadis yang menjadi objek Zuckerberg pun ikut membencinya. Pihak Harvard sempat turun tangan karena Zuckerberg sempat mengacaukan jaringan internet di kampus, namun masalah ini tidak dibiarkan berlarut - larut. Kemudian kita dikenalkan pada sosok Eduardo Saverin (Andrew Garfield), seorang jenius Algoritma yang merupakan satu - satunya sahabat dari Zuckerberg. Bisa dikatakan dia memiliki andil yang sangat besar dalam proses terciptanya Facebook, sayangnya Zuckerberg malah justru 'mendepak' sahabatnya sendiri demi keuntungan pribadi. Facebook sendiri awalnya merupakan proyek dari Cameron dan Tyler Winklevoss (Armie Hammer), kembar identik atlit dayung di Harvard, beserta partner bisnis mereka, Divya Narendra (Max Minghella), setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh Zuckerberg. Mereka memiliki konsepnya, hanya tinggal butuh mencari seseorang jenius komputer yang mampu mengembangkannya. Sampai di titik ini, Zuckerberg mulai mengkhianati partnernya dan diam - diam mengembangkannya sendiri bersama Eduardo. Segalanya mulai menjadi rumit tatkala pendiri Napster, Sean Parker (Justin Timberlake), mulai turu campur dan dari sinilah awal retaknya hubungan harmonis antara Zuckerberg dengan Eduardo.

Sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pengalaman menonton yang menyenangkan tatkala menyaksikan The Social Network. Ini adalah sebuah film yang penggarapannya luar biasa bagus dan tertata dengan amat baik. David Fincher memang belum pernah menghasilkan film yang dibawah standar, namun apa yang dia tunjukkan dalam The Social Network adalah suatu kegemilangan. Cara dia mengarahkan pemain, editing hingga sinematografi, semuanya ditata dengan apik, hampir tanpa cela. Bahkan dia berhasil menempatkan opening scene The Social Network sebagai salah satu opening scene terbaik yang pernah ada. Sungguh jenius. Sulit untuk melupakan adu mulut nan memusingkan antara Erica dengan Mark yang dipenuhi dialog cepat nan cerdas. Ya, dialog hasil racikan Aaron Sorkin adalah alasan utama mengapa saya begitu mencintai The Social Network. Cepat, tajam, menggelitik, menyentuh sekaligus menohok, mengingatkan saya akan serial favorit saya, Gilmore Girls. Kelemahannya, penonton dituntut untuk berkonsentrasi tinggi disini jika tidak ingin kelewatan apa yang diucapkan oleh para karakter.

Sinematografi, editing dan music score berpadu dengan cantik disini, ketiganya saling melengkapi satu sama lain. Fincher berhasil menghadirkan shot - shot cantik yang tak terduga didukung dengan editing yang cepat nan menakjubkan, menghasilkan beberapa adegan yang menakjubkan. Bagi sebagian penonton mungkin menganggap adegan lomba dayung Winklevoss di Inggris terkesan tidak penting, namun coba cermati lebih baik, Fincher memiliki maksud tersendiri menyodorkan adegan ini. Saya rasa, di adegan inilah para juri penghargaan terpesona kepada The Social Network. Terkesan simple dan tidak penting, namun menyiratkan arti yang dalam serta menunjukkan bagaimana sinematografi, editing dan musik bisa disatukan dengan manis. Seluruh musik gubahan Trent Reznor dan Atticus Ross memang sangat brilian, terutama track 'In the Hall of the Mountain King' yang merupakan cover dari musik klasik. Coba dengarkan saja keseluruhan albumnya, sungguh indah, elegan, megah dan membius.

Jesse Eisenberg adalah nyawa dari film ini. Entah siapa lagi yang cocok memerankan Mark Zuckerberg selain dia, penampilan yang sangat brilian. Setelah sebelumnya berakting secara lumayan saja, Eisenberg menunjukkan kemajuan yang sangat pesat di The Social Network. Dia sukses membuat penonton gemas, simpati, balik sebal, kontra hingga pro kepada Zuckerberg. Berbagai sisi karakter dari Zuckerberg ditunjukkannya dengan meyakinkan hingga pada akhirnya kita susah memutuskan untuk bersimpati atau malah membenci Zuckerberg, manusiawi sekali. Andrew Garfield tak kalah bagusnya sebagai Eduardo Saverin. Sosok sahabat sejati yang dikhianati dimainkan dengan pas oleh Garfield, bahkan ada poin plus karena disini aksen Inggris Garfield yang kental lenyap dan digantikan oleh aksen Latin. Salut. Para pemain pendukung juga rata - rata bermain bagus, termasuk Rooney Mara, Armie Hammer, Brenda Song hingga Max Minghella. Justin Timberlake ada peningkatan, namun entah mengapa agak terkesan over acting di beberapa adegan.

Sulit rasanya untuk tidak menyukai The Social Network. Bagi saya, ini bukan hanya salah satu film terbaik tahun lalu, namun juga dalam satu dekade terakhir. Kapan lagi bisa menemukan sebuah film yang memiliki naskah yang kuat, akting yang menakjubkan hingga sisi teknis yang memukau ? Film yang sangat heart-warming, agak sulit bagi saya untuk menahan emosi seusai menonton The Social Network. Terdengar sangat berlebihan, ya ? Tapi itulah kenyataannya. Tidak salah rasanya jika kemudian berbagai penghargaan mampir. David Fincher menunjukkan kepada dunia bahwa dia tidak hanya ahli dalam mengolah film thriller, tetapi juga drama. The Curious Case of Benjamin Button dan The Social Network adalah buktinya. Jika kalian mengaku sebagai facebookers dan mencari tontonan yang bermutu serta berkelas, maka The Social Network adalah jawabannya. Menakjubkan.

Outstanding

Trailer :



January 30, 2011

2 IN 1 REVIEWS : UNSTOPPABLE + YOGI BEAR

UNSTOPPABLE


Tony Scott dan Denzel Washington kembali bersatu dalam sebuah film aksi yang lagi - lagi berhubungan dengan kereta api. Kali ini Washington, untungnya, tidak lagi dipasangkan dengan John Travolta pasca The Taking of Pelham 123 yang ternyata sama sekali tidak menggigit dan cenderung membosankan itu. Partner barunya adalah Chris Pine, aktor muda yang namanya melambung berkat Star Trek versi baru. Melihat susunan pemain ini, sudah bisa ditebak akan terjadi hubungan antara rookie dan senior-nya serta ketidakcocokan diantara mereka. Unstoppable memang sejatinya menawarkan sesuatu yang klise dan mudah ditebak, namun meski begitu film yang terinspirasi dari kisah nyata kecelakaan kereta api di Ohio tahun 2001 ini begitu lezat untuk disantap. Scott membuka film tanpa basa basi dan langsung masuk ke dalam inti permasalahan dimana karena keteledoran Dewey (Ethan Suplee), sebuah kereta bernomor 777 yang menarik puluhan gerbong, termasuk bahan kimia berbahaya, melaju kencang tanpa awak menuju pemukiman padat penduduk. Kisah lain menceritakan tentang hubungan seorang masinis baru, Will Colson (Chris Pine), dengan sang ahli mesin kawakan, Frank Barnes (Denzel Washington). Sering diwarnai cekcok di awal film, namun menjelang pertengahan, tatkala keduanya telah saling memahami dan kereta 777 ternyata satu jalur dengan mereka, keduanya dituntut untuk bekerja sama. Mengesampingkan masalah pribadi demi menyelamatkan nyawa ribuan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Hampir tidak pernah terbayangkan Unstoppable akan menyajikan sebuah suguhan yang sangat menyenangkan dan menegangkan seperti ini. Dengan lemahnya The Talking of Pelham 123, saya menduga film ini akan mengalami hal yang sama, bahkan trailernya pun tak membuat saya optimis. Satu - satunya yang bikin saya penasaran adalah kisahnya mengenai kereta api tanpa awak yang meluncur ke pemukiman padat penduduk, terdengar menjanjikan. Jika dalam Pelham Scott agak lambat dalam membangun ketegangan, maka disini dia main hajar tanpa ampun. Tak ada kesempatan buat penonton untuk permisi ke kamar kecil, bahkan datang terlambat 10 menit pun bisa berakibat fatal. Ouch. Ya, Unstoppable memang sungguh mengasyikkan untuk ditonton, walaupun naskahnya tergolong biasa saja. Chemistry antara Washington dan Pine memang tidak begitu kuat tapi masih mending daripada apa yang ditunjukkan Washington bersama John Travolta. Jika kalian mencari film popcorn ringan yang menegangkan, maka Unstoppable adalah jawabannya. Menurut saya, inilah film terbaik dari Tony Scott dalam periode 2000-an setelah sebelumnya menghasilkan sejumlah film aksi yang kurang menggigit. Sungguh disayangkan Unstoppable baru tayang di Semarang tahun 2011 ini, padahal jika film ini tayang serentak 2 bulan yang lalu, jelas akan masuk 20 Film Terbaik 2010 versi saya! Gah.

Exceeds Expectations

YOGI BEAR


Mungkin anak kecil jaman sekarang jarang ada yang mengetahui siapa beruang cerdas bertopi berdasi bernama Yogi ini. Maklum, karakter ini berasal dari serial animasi jadul berjudul The Yogi Bear Show yang mengudara di sekitar tahun 1960-an. Bagi pecinta animasi mungkin mengenalinya apalagi Yogi Bear ternyata sempat pula ditayangkan di Indonesia tatkala animasi bikinan Hanna-Barbera sedang jaya - jayanya disini. Dibuat film layar lebar dalam versi live-action dengan polesan CGI disana sini plus teknologi 3D, Yogi Bear terkesan kurang meyakinkan. Maklum, film adaptasi Hanna Barbera sebelumnya memiliki kualitas yang memprihatinkan meski jika ditilik dari segi komersil bisa dibilang cukup sukses. Eric Brevig yang pernah menyutradarai Journey to the Center of the Earth-nya Brendan Fraser, ditunjuk untuk mengomandoi film ini. Jellystone terancam ditutup karena keserakahan dari walikota (Andrew Daly) yang menganggap taman dimana Yogi Bear (Dan Aykroyd) dan Boo-Boo (Justin Timberlake) tinggal tersebut pendapatannya kurang menguntungkan. Bersama dengan Ranger Smith (Tom Cavanagh) yang sejatinya merupakan musuh bebuyutan Yogi, mereka pun bahu membahu untuk menyelamatkan taman tersebut dibantu oleh Rachel (Anna Faris), pembuat film dokumenter sekaligus love interest dari Ranger Smith.

Mencoba bernostalgia dan menyetting pikiran seperti layaknya pemikiran penonton cilik, rupanya masih tidak berhasil. Yogi Bear adalah film yang 'mengerikan' karena saking buruknya. Memang tidak separah apa yang dihadirkan oleh Vampires Sucks atau The Last Airbender, tapi cukup untuk membuat para produser serakah di Hollywood untuk berpikir ulang sebelum membuat adaptasi dari animasi Hanna-Barbera. Dibandingkan dengan pendahulunya macam The Flinstones beserta sekuelnya serta Scooby-Doo beserta sekuelnya, Yogi Bear adalah yang terparah. Tidak lucu sama sekali. Entah bagi para penonton cilik atau fans dari animasi ini, tapi bagi saya ini adalah sebuah lelucon yang tidak seharusnya dibuat dengan plot yang setipis kertas. Humornya garing, tidak segar dan merupakan pengulangan yang ke sekian dari film keluarga sebelumnya. Untungnya Aykroyd dan Timberlake cukup sukses membawakan suara Yogi Bear dan Boo-Boo, jika tidak mungkin saya akan menyandingkan film keluarga ini dengan dua film buruk di atas. Dengan CGI dan 3D yang juga biasa - biasa saja, alangkah lebih bijak jika Yogi Bear langsung diterjunkan ke dalam bentuk DVD atau film TV saja.

Poor

January 27, 2011

PARADE POSTER FILM TERBAIK OSCAR 2011


(Special) THE 83RD ANNUAL ACADEMY AWARDS NOMINATIONS


Bukan Oscar namanya jika tanpa drama dan bumbu masak bernama kontroversi. Rasanya setiap tahun selalu saja ada yang jadi bahan diskusi yang seru mengenai layak atau tidaknya sebuah film / movie people mendapat nominasi / menang. Kalau saya pribadi menganggap semua yang masuk ke dalam deretan nominasi memang sudah layak, namun yang membuatnya diperdebatkan tatkala ada yang lebih layak namun terlewatkan oleh AMPAS. Nominasi Oscar sendiri telah diumumkan oleh Tom Sherak, Presiden AMPAS, dan Mo'Nique, peraih Oscar Aktris Pendukung Terbaik 2009, di Samuel Goldwyn Theater, Beverly Hills, California, pada tanggal 25 Januari 2010 kemarin. Dari apa yang muncul, ternyata sebagian besar nominasi tidak jauh berbeda dengan awards lainnya dan prediksi para kritikus serta pecinta film, namun tetap saja Oscar harus memiliki sesuatu yang berbeda yang mampu membuatnya menjadi bahan perbincangan.

Yang paling mengejutkan tentu saja hilangnya Christopher Nolan dari deretan nominasi Best Director. Dimanakah dia ? Sutradara paling 'sinting' tahun lalu ini rupanya sama sekali tidak dilirik oleh AMPAS dan ini bukanlah yang pertama kalinya. Memento, Insomnia dan The Dark Knight yang begitu apik tak lantas membuatnya meraih Oscar, atau setidaknya nominasi. Saat Inception mendapat puja puji dan namanya berhembus kencang di berbagai ajang penghargaan, lagi - lagi Oscar melewatkannya. Apa yang salah dengan Nolan sehingga dia harus didepak dari bursa nominasi ? Sungguh mengecewakan, Oscar. Alhasil, masuknya The Coen Brothers menggantikan Nolan menjadi ssebuah topik diskusi yang sangat menarik di dunia maya maupun nyata. Serasa belum cukup, Oscar membuat saya menjerit kembali saat mengetahui Andrew Garfield dengan teganya 'dibuang' dari nominasi Best Supporting Actor oleh para juri. Dibandingkan dengan Nolan, hilangnya Garfield sebenarnya tidak terlalu mengejutkan mengingat dia tidak mendapat nominasi di Screen Actor Guild sehingga banyak yang telah memprediksinya. Tapi bagi saya yang dibuat terkagum - kagum dengan aktingnya, tentu ini suatu pukulan yang keras. Come on, Oscar !

Selain Nolan dan Garfield, kejutan dari Oscar lainnya tidak begitu membuat saya tercengang meskipun tetap saja tidak habis pikir dibuatnya. Film favorit saya, The Social Network, yang pada awalnya diprediksi akan memboyong banyak nominasi ternyata hanya diganjar 8 nominasi, kalah oleh The King's Speech yang mendapat 12 nominasi dan True Grit dengan 10 nominasi. Burlesque yang begitu dicintai oleh juri Golden Globe, terutama lagunya, tidak mendapat satu pun nominasi. You Haven't Seen The Last of Me rupanya kurang cocok bagi telinga juri Oscar. Masuknya Hereafter ke dalam nominasi Best Visual Effects menggantikan Tron Legacy dan sejumlah film dengan spesial fx dahsyat lainnya membuat saya tercengang. Sebegitu cintanya kah AMPAS kepada Clint Eastwood sehingga setiap filmnya layak mendapat nominasi, meski hanya satu ? Gosh. Bertebarannya The King's Speech di hampir setiap nominasi, termasuk nominasi yang 'aneh' untuk film drama, juga membuat kepala saya terasa cenat cenut.

Tapi secara keseluruhan saya cukup puas dengan nominasi Oscar, at least tidak semenggelikan yang dilakukan oleh HFPA untuk Golden Globe. The Social Network, Toy Story 3 dan Inception masih memperoleh cukup banyak nominasi, meski peluang untuk menang Best Picture menjadi semakin tipis. Hadirnya Unstoppable dan Harry Potter and the Deathly Hallows juga mampu membuat saya tersenyum bahagia. Malam puncak Academy Awards akan disiarkan langsung dari Kodak Theatre oleh ABC pada tanggal 27 Februari nanti (28 Februari pagi WIB) dengan Anne Hathaway dan James Franco bertindak selaku host.

Berikut ini adalah nominasi lengkapnya dan sedikit prediksi dari saya :

Best Picture

  • “Black Swan”
  • “The Fighter”
  • “Inception”
  • “The Kids Are All Right”
  • “The King’s Speech”
  • “127 Hours”
  • “The Social Network”
  • “Toy Story 3″
  • “True Grit”
  • “Winter’s Bone”

Prediksi >> Tentu saja saya menjagokan The Social Network. Namun melihat deretan nominasi Oscar dan apa yang terjadi di PGA, saya curiga AMPAS akan memberikan piala Best Picture kepada The King's Speech. Persaingan ketat terjadi antara The Social Network dan The King's Speech sementara True Grit menjadi kuda hitam. Kecil kemungkinan buat Inception untuk menang disini.

Best Director
  • “Black Swan”, Darren Aronofsky
  • “The Fighter”, David O. Russell
  • “The King’s Speech”, Tom Hooper
  • “The Social Network”, David Fincher
  • “True Grit”, Joel Coen and Ethan Coen

Prediksi >> Tolong berikan piala Oscar kepada David Fincher, please. Dengan hilangnya Nolan, peluang Fincher untuk menggondol piala semakin besar, namun jangan remehkan Tom Hooper dan Darren Aronofsky.

Best Actor

  • Javier Bardem in “Biutiful”
  • Jeff Bridges in “True Grit”
  • Jesse Eisenberg in “The Social Network”
  • Colin Firth in “The King’s Speech”
  • James Franco in “127 Hours”

Prediksi >> Sudah dikunci oleh Colin Firth. Namun bukan berarti segalanya usai kan ? Oscar suka memberi kejutan, siapa tahu jika kemudian justru Eisenberg atau Franco yang membawa pulang piala.

Best Actress

  • Annette Bening in “The Kids Are All Right”
  • Nicole Kidman in “Rabbit Hole”
  • Jennifer Lawrence in “Winter’s Bone”
  • Natalie Portman in “Black Swan”
  • Michelle Williams in “Blue Valentine”

Prediksi >> Persaingan yang sengit akan terjadi antara Annette Bening dengan Natalie Portman. Meski sepertinya Portman yang akan memenangkan persaingan, namun Bening tak bisa begitu saja disingkirkan.

Best Supporting Actor

  • Christian Bale in “The Fighter”
  • John Hawkes in “Winter’s Bone”
  • Jeremy Renner in “The Town”
  • Mark Ruffalo in “The Kids Are All Right”
  • Geoffrey Rush in “The King’s Speech”

Prediksi >> Kecewa Andrew Garfield didepak dari daftar nominasi, firasat saya mengatakan Christian Bale akan memenangkan kategori ini. Persaingan cukup merata, namun Oscar kelihatannya akan melirik Bale atau Rush.

Best Supporting Actress

  • Amy Adams in “The Fighter”
  • Helena Bonham Carter in “The King’s Speech”
  • Melissa Leo in “The Fighter”
  • Hailee Steinfeld in “True Grit”
  • Jacki Weaver in “Animal Kingdom”

Prediksi >> Suatu kejutan yang sangat manis jika Steinfeld membawa pulang piala Oscar disini. Tapi rasanya itu agak mustahil meski apapun bisa terjadi di Oscar. Peluang Melissa Leo terbuka sangat lebar disini, namun Jacki Weaver harus diwaspadai. Keduanya terhitung populer di berbagai ajang penghargaan sebelumnya.

Best Animated Feature Film

  • “How to Train Your Dragon”
  • “The Illusionist”
  • “Toy Story 3″

Prediksi >> Toy Story 3! Sudah terkunci, kecuali AMPAS ingin memberi kejutan lainnya.

Best Original screenplay

  • “Another Year”, Mike Leigh
  • “The Fighter”, Scott Silver and Paul Tamasy & Eric Johnson
  • “Inception”, Christopher Nolan
  • “The Kids Are All Right”, Lisa Cholodenko & Stuart Blumberg
  • “The King’s Speech”, David Seidler

Prediksi >> Saya pribadi berharap Inception yang menang, tapi naga - naganya The King's Speech lah yang akan berjaya. Kita lihat saja bagaimana hasil Writers Guild Awards nanti.

Adapted screenplay

  • “127 Hours”, Danny Boyle & Simon Beaufoy
  • “The Social Network”, Aaron Sorkin
  • “Toy Story 3″, Michael Arndt
  • “True Grit”, Joel Coen & Ethan Coen
  • “Winter’s Bone”, Debra Granik & Anne Rosellini

Prediksi >> Selama Oscar tidak ingin memberi kejutan, The Social Network yang akan keluar sebagai pemenangnya.

Best Art Direction

  • “Alice in Wonderland”, Production Design: Robert Stromberg, Set Decoration: Karen O’Hara
  • “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1″, Production Design: Stuart Craig, Set Decoration: Stephenie McMillan
  • “Inception”, Production Design: Guy Hendrix Dyas, Set Decoration: Larry Dias and Doug Mowat
  • “The King’s Speech”, Production Design: Eve Stewart, Set Decoration: Judy Farr
  • “True Grit”, Production Design: Jess Gonchor, Set Decoration: Nancy Haigh

Best Cinematography

  • “Black Swan”, Matthew Libatique
  • “Inception”, Wally Pfister
  • “The King’s Speech”, Danny Cohen
  • “The Social Network”, Jeff Cronenweth
  • “True Grit”, Roger Deakins

Best Costume Design

  • “Alice in Wonderland”, Colleen Atwood
  • “I Am Love”, Antonella Cannarozzi
  • “The King’s Speech”, Jenny Beavan
  • “The Tempest”, Sandy Powell
  • “True Grit”, Mary Zophres

Best Documentary Feature

  • “Exit through the Gift Shop”
  • “Gasland”
  • “Inside Job”
  • “Restrepo”
  • “Waste Land”

Prediksi >> Absennya Waiting For Superman disini membuat ini menjadi persaingan bagi siapa saja. Exit Through The Gift Shop dan Inside Job adalah kandidat terkuat, tapi Restrepo tak bisa diremehkan begitu saja. Akankah muncul kejutan disini ?

Best Film Editing

  • “Black Swan”, Andrew Weisblum
  • “The Fighter”, Pamela Martin
  • “The King’s Speech”, Tariq Anwar
  • “127 Hours”, Jon Harris
  • “The Social Network”, Angus Wall and Kirk Baxter

Best Foreign Language Film

  • “Biutiful”, Mexico
  • “Dogtooth”, Greece
  • “In a Better World”, Denmark
  • “Incendies”, Canada
  • “Outside the Law (Hors-la-loi)”, Algeria

Prediksi >> In a Better World memang berjaya di Golden Globe, tapi seringkali selera HFPA dan AMPAS untuk film asing tidak selaras. AMPAS biasanya menyukai film yang kisahnya agak suram dan dalam, prediksi saya piala ini akan jatuh kepada Incendies, wakil dari Kanada.

Best Makeup

  • “Barney’s Version”, Adrien Morot
  • “The Way Back”, Edouard F. Henriques, Gregory Funk and Yolanda Toussieng
  • “The Wolfman”, Rick Baker and Dave Elsey

Best Original Score

  • “How to Train Your Dragon”, John Powell
  • “Inception”, Hans Zimmer
  • “The King’s Speech”, Alexandre Desplat
  • “127 Hours”, A.R. Rahman
  • “The Social Network”, Trent Reznor and Atticus Ross

Prediksi >> Saya menyukai score indah dari A.R. Rahman serta John Powell yang membantu 127 Hours serta How to Train Your Dragon menjadi terasa lebih hidup. Namun tetap saja apa yang dihadirkan oleh Trent Reznor dan Atticus Ross bagi The Social Network lebih memikat saya. Bagaimana dengan Hans Zimmer ? Saya akui memang keren, namun hati sudah terlanjur kepincut dengan score gubahan Reznor dan Ross.

Best Original Song

  • “Coming Home” from “Country Strong”, Music and Lyric by Tom Douglas, Troy Verges and Hillary Lindsey
  • “I See the Light” from “Tangled”, Music by Alan Menken, Lyric by Glenn Slater
  • “If I Rise” from “127 Hours”, Music by A.R. Rahman, Lyric by Dido and Rollo Armstrong
  • “We Belong Together” from “Toy Story 3″, Music and Lyric by Randy Newman

Prediksi >> Sayang sekali lagu jagoan saya, There's a Place For Us, ternyata tidak tembus nominasi. Pupus harapan melihat Carrie Underwood di panggung Oscar. Tapi tak apa, saya menyukai semua lagu yang ada disini. If I Rise memiliki peluang yang cukup besar, sementara jika Coming Home menang maka selama dua tahun berturut - turut lagu Country menang di Oscar.

Best Animated Short

  • “Day & Night”
  • “The Gruffalo”
  • “Let’s Pollute”
  • “The Lost Thing”
  • “Madagascar, carnet de voyage (Madagascar, a Journey Diary)”

Best Live Action Short

  • “The Confession”
  • “The Crush”
  • “God of Love”
  • “Na Wewe”
  • “Wish 143″

Best Sound Editing

  • “Inception”, Richard King
  • “Toy Story 3″, Tom Myers and Michael Silvers
  • “Tron: Legacy”, Gwendolyn Yates Whittle and Addison Teague
  • “True Grit”, Skip Lievsay and Craig Berkey
  • “Unstoppable”, Mark P. Stoeckinger

Best Sound Mixing

  • “Inception”, Lora Hirschberg, Gary A. Rizzo and Ed Novick
  • “The King’s Speech”, Paul Hamblin, Martin Jensen and John Midgley
  • “Salt”, Jeffrey J. Haboush, Greg P. Russell, Scott Millan and William Sarokin
  • “The Social Network”, Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick and Mark Weingarten
  • “True Grit”, Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff and Peter F. Kurland

Best Visual Effects

  • “Alice in Wonderland”, Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas and Sean Phillips
  • “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1″, Tim Burke, John Richardson, Christian Manz and Nicolas Aithadi
  • “Hereafter”, Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojanski and Joe Farrell
  • “Inception”, Paul Franklin, Chris Corbould, Andrew Lockley and Peter Bebb
  • “Iron Man 2″, Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright and Daniel Sudick
Best Documentary Short
  • “Killing in the Name”
  • “Poster Girl”
  • “Strangers No More”
  • “Sun Come Up”
  • “The Warriors of Qiugang”

January 22, 2011

2 IN 1 REVIEWS : GULLIVER'S TRAVELS + THE LAST EXORCISM

Kesibukan kuliah dan lain - lain yang cukup menyita waktu membuat saya terpaksa tidak mereview beberapa film. Kebanyakan memang adalah film - film yang kualitasnya biasa saja, namun tidak sedikit pula film dengan gizi tinggi yang review-nya saya lewatkan. Karena itulah, mulai bulan ini saya mencoba mengompilasikan beberapa review film ke dalam satu postingan bertajuk Mini Review. Jadi, saya akan memadatkan pembahasan 2 hingga 4 film ke dalam satu pembahasan saja. Ide yang sudah lama tertanam sebenarnya, namun baru bisa direalisasikan sekarang dengan menggabungkan review Gulliver's Travels dan The Last Exorcism ke dalam satu pembahasan. Rencana ke depan untuk Mini Review adalah digunakan untuk membahas film - film yang terlambat tayang di Semarang atau tidak mampir ke bioskop Indonesia.

GULLIVER'S TRAVELS


"There's no small jobs - just small people." - Gulliver

Novel sastra Inggris klasik karangan Jonathan Swift, Gulliver's Travels, sudah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk film layar lebar, serial televisi maupun animasi. Fox yang mencoba mengangkatnya kembali ke layar lebar di akhir tahun 2010 kemarin tentu harus menerapkan sejumlah inovasi agar Gulliver's Travels versi baru ini mampu mencuri perhatian penonton dan berbeda dengan sejumlah adaptasi sebelumnya. Dengan Joe Stillman dipekerjakan sebagai penulis naskah bersama Nicholas Stoller, berbagai referensi budaya populer Amerika pun turut dituangkan disini. Bagi yang sudah membaca novelnya atau menyaksikan versi adaptasi terdahulu, tentu sudah akrab dengan inti kisah dari Gulliver's Travels. Gulliver (Jack Black) mendapat tugas dari Darcy (Amanda Peet) untuk membuat sebuah tulisan perjalanan ke daerah Segitiga Bermuda. Hanya bermodal nekat, Gulliver pun berangkat menuju daerah misterius tersebut namun sialnya malah justru tersedot pusaran air yang membuatnya terdampar di negeri liliput. Dari awalnya dianggap sebagai ancaman, Gulliver perlahan dianggap pahlawan oleh warga setempat setelah berhasil menyelamatkan keluarga kerajaan. Tentu semua tidak berjalan mudah apalagi Edward (Chris O'Dowd), pemimpin tentara kerajaan, secara jelas menunjukkan permusuhan dan berniat menyingkirikan Gulliver dari negeri liliput.

Sekali lagi saya dibuat muak dengan tampilan 3D yang jelas - jelas palsu karena Gulliver's Travels merupakan hasil konversi dari film 2D biasa. Untungnya, Gulliver's Travels ternyata tidak seburuk yang saya kira meski masih belum bisa dikatakan sebagai sebuah hiburan yang berkualitas. Dari hanya melihat trailernya saja kita sudah bisa mengetahui bagaimana film ini akan bertutur. Mengingat Gulliver's Travels memang ditujukan sebagai film keluarga, naskah yang teramat ringan dan alur yang gampang ditebak bisa dimaklumi. Berbagai humor yang hadir hasil racikan Stoller dan Stillman ternyata cukup efektif mengundang tawa, tentu itu juga tak lepas dari jasa Jack Black yang bisa dikatakan lumayan sukses membawakan peran sebagai Gullivers. Selain Black, hanya Emily Blunt yang aktingnya lumayan sementara sisanya terasa tidak pas dan mengecewakan. Pada akhirnya, Gulliver's Travels terselamatkan berkat kehadiran Jack Black. Entah apa jadinya film ini jikalau Black tidak turut bergabung, mungkin bisa jadi membosankan dan hanya bisa dinikmati para penonton kecil saja.

Overall = 6/10 (Acceptable)

THE LAST EXORCISM

Terima kasih kepada The Blair Witch Project yang telah memperkenalkan genre mockumentary berbalut kisah seram kepada khalayak ramai. Mungkin banyak pecinta film yang mengeluh karena film jenis ini akhir - akhir ini terus menerus dibuat, tapi bagi saya yang menggemarinya tentu ini berkah tersendiri dengan catatan penggarapannya tidak asal - asalan. Setelah tahun lalu dibuat ketakutan dengan Lake Mungo, hadir pula The Last Exorcism yang memiliki pendekatan mirip dengan The Exorcism of Emily Rose dan premis yang meyakinkan. Alkisah, Pendeta Cotton Marcus (Patrick Fabian) hilang keyakinannya pada Tuhan pasca kegagalan dalam sebuah prosesi exorcism yang berakibat pada tewasnya seorang anak. Berniat melakukan pengusiran setan untuk yang terakhir kalinya, Pendeta Cotton melibatkan dua kru televisi yang akan mendokumentasikan prosesi tersebut. Dari sejumlah surat permintaan kasus yang dilayangkan kepadanya, Pendeta Cotton memilih secara acak dan mendapatkan Nell (Ashley Bell), seorang gadis manis yang diduga oleh ayahnya (Louis Herthum) dirasuki oleh setan. Pada awalnya mereka menganggap ini dengan tidak serius, namun ternyata mereka dihadapkan pada 'kekuatan jahat' yang mengerikan.


Kunci utama untuk bisa menikmati The Last Exorcism adalah kesabaran. Ketegangan dibangun secara perlahan dan lambat sehingga berpotensi membosankan bagi mereka yang mengharapkan tontonan penggedor jantung yang mencekam sejak menit pertama. Namun justru disinilah menariknya, ketegangan dibangun secara intens dan selangkah demi selangkah. Saat kekuatan jahat tersebut muncul, tim penulis naskah masih menyisipkan sejumlah kejutan yang mengasyikkan. Apa yang dihadirkan disini memang mau tidak mau mengingatkan saya pada The Exorcism of Emily Rose, namun itu tak mengurangi kadar keseramannya. Daniel Stamm berhasil membuat penonton tegang saat menyaksikan Nell yang raganya mulai dikuasai oleh setan dan mereka yang ada di sekitarnya kewalahan menghadapinya. Dengan pemilihan cast yang tepat serta minimnya pemakaian special effect menambah daya tarik film ini. Yang cukup saya sayangkan adalah keputusan Stamm dan rekan penulis skenario untuk mengakhiri film ini. Terkesan terburu - buru dan agak janggal, bahkan bagi saya endingnya terasa kurang pas.



Overall = 7/10 (Acceptable)

January 17, 2011

(Special) THE 68th ANNUAL GOLDEN GLOBE AWARDS WINNERS LIST


Salah satu ajang penghargaan paling prestisius bagi dunia perfilman maupun pertelevisian baru saja selesai digelar. Bagaimana kesan - kesan kalian dengan Golden Globes tahun ini ? Untuk acaranya sendiri, saya merasa puas terlebih berkat hadirnya Ricky Gervais, selaku host, yang mampu membuat acara penghargaan ini terasa lebih hidup dan menghibur berkat jokes-nya yang sangat lucu. Tidak ada kesan dipanjang - panjangkan, semua terta dengan rapi, namun yang paling penting tentu absennya penampilan dari para musisi yang sangat tidak nyambung dengan acaranya seperti yang kerap dihadirkan oleh ep ep i *Upppsss*

Deretan pemenang sendiri sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena sesuai dengan prediksi kebanyakan masyarakat pecinta film dan para kritikus. Namun yang menghebohkan adalah Inception yang diganjar 4 nominasi nyatanya malah pulang dengan tangan hampa sementara The Social Network dan Glee berjaya, masing - masing mendapat 4 dan 3 piala emas berbentuk bola dunia tersebut. The Tourist yang menjadi kontroversi karena dinilai tidak layak mendapat nominasi harus rela menerima kenyataan dan menyerahkan pialanya untuk The Kids Are All Right dan Barney's Version.

Robert De Niro memperoleh penghargaan khusus Cecil B. DeMille Award atas sumbangsihnya selama ini kepada dunia perfilman.

Berikut ini adalah daftar pemenang dari 68th Golden Globe Awards :

DRAMA

Best Picture : The Social Network
Best Actor : Colin Firth (The King's Speech)
Best Actress : Natalie Portman (Black Swan)

COMEDY / MUSICAL

Best Picture : The Kids Are All Right
Best Actor : Paul Bettany (Barney's Vision)
Best Actress : Annette Bening (The Kids Are All Right)

FILMS

Best Director : David Fincher (The Social Network)
Best Screenplay : Aaron Sorkin (The Social Network)
Best Original Score : Trent Reznor & Atticus Ross (The Social Network)
Best Original Song : 'You Haven't Seen The Last of Me' (Burlesque)
Best Supporting Actor : Christian Bale (The Fighter)
Best Supporting Actress : Melissa Leo (The Fighter)
Best Animated Feature Film : Toy Story 3 Best Foreign Language Film : In a Better World (Denmark)

TELEVISION

Best TV Series (Drama) : Boardwalk Empire
Best TV Series (Comedy) : Glee
Best Mini Series or TV Film : Carlos

January 15, 2011

20 FILM TERBAIK 2010 VERSI CINETARIZ

Akhirnya saya bisa juga kembali ke blog kesayangan saya setelah berabad - abad lamanya terperangkap dengan tugas kuliah yang bejibun dan melelahkan. Fuh. Mengingat ini adalah blog yang khusus membahas tentang film, rasanya kurang pas ya kalau saya curhat disini kecuali kalau curhatnya tentang film, hehe. Kalau diteruskan, yang ada para pembaca malah mati kebosanan dan langsung kabur *nah loh mulai ngelantur kemana - mana*. Baiklah, meneruskan tradisi tahun lalu, Cinetariz kembali menghadirkan 10 film yang paling mengesankan sepanjang tahun 2010. Yang membedakan dari sebelumnya adalah saya tidak hanya menghadirkan top 10 saja, tetapi juga 7 film berkesan lainnya yang amat sangat disayangkan terpaksa menyingkir dari top 10 (Honorable Mentions) dan juga 3 film yang banyak dicaci maki kritikus luar serta pecinta film kebanyakan namun saya sangat menyukainya (Guilty Pleasures). Kembali, saya tidak menghadirkan film Indonesia disini karena sebelumnya telah dibahas secara tersendiri disini.

Sebelum memasuki hitung mundur, bagaimana kalau kalian menebak - nebak terlebih dahulu 20 film apa saja yang masuk ke dalam list ? Tidak begitu susah, terlebih sebagian diantaranya sudah pernah saya ulas secara mendalam. Mengingat saya bukan kritikus film dan penilaian terkadang sangat subjektif, para pembaca mungkin tidak 100 % setuju dengan pilihan saya ini, apalagi beberapa diantaranya saya pilih karena saya merasa ada ikatan batin di dalamnya *halah* Jadi saya tidak memaksa kalian untuk setuju dengan pilihan saya ini, maka komentar dari kalian saya tunggu :)

Untuk film yang masuk ke dalam list, tidak ada kriteria khusus. Pada awalnya saya ingin mencoba menerapkan seperti apa yang telah dilakukan oleh IMBlog Choice Awards, tapi saya merasa ada beberapa film yang akan sangat disayangkan jika tidak masuk ke dalam list *lagi - lagi personal reason* Intinya, film yang mampu meringsek ke dalam top 20 adalah film - film yang dirilis secara luas di Indonesia maupun negara lain sepanjang 2010. Sayangnya, ada beberapa film bagus tidak sempat saya saksikan karena alasan yang telah saya kemukakan di awal postingan ini. Jika ada waktu luang *berasa artis saja*, mungkin postingan ini akan saya edit atau film - film tersebut saya masukkan ke dalam list tahun depan. Jadi jangan protes jika Black Swan, Uncle Boonme, I Am Love, The Town hingga 127 Hours tidak masuk karena memang saya belum menontonnya.

Baiklah, tidak perlu panjang lebar lagi, saya mulai hitung mundur Film Paling Berkesan 2010 versi Cinetariz dimulai dengan Guilty Pleasures.

GUILTY PLEASURES


# The Tourist


Pemandangan Venesia yang cantik, Angelina Jolie yang anggun serta kisahnya yang super ringan rupanya berhasil membuatku terhibur. Ekspektasi yang tidak begitu tinggi serta mood yang tepat turut mempengaruhi penilaian saya terhadap film ini.

# Step Up 3D


Dance adalah salah satu kegemaran saya disamping musik dan film. Jadi saat ketiganya digabungkan, hadirlah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton. Didukung 3D yang ciamik, Step Up 3D terus membuatku bergoyang dan bersenang - senang sepanjang film.

# Takers


Takers memang bukan film perampokan yang brilian, tapi apa yang dihadirkan mampu membuat saya terhibur sekaligus terenyuh. Komposisi aksi dan drama terasa pas, bahkan endingnya masih sulit saya lupakan hingga kini. Lebay ? Tapi itulah kenyataannya.


HONORABLE MENTIONS

# The Kids Are All Right


Film mengenai dysfunctional family memang selalu asyik ditonton, apalagi jika itu berasal dari sebuah keluarga yang tidak biasa. Naskahnya memang sederhana, tapi mampu mengaduk emosi saya dan akting dari Annette Bening sungguh menakjubkan.


# How to Train Your Dragon


Sempat meragukan kualitas film animasi buatan Dream Works ini namun belakangan saya malah dibuat takjub olehnya. Animasinya sangat halus, naskahnya kuat dan dipenuhi dengan adegan yang mengasyikkan. Endingnya juga terbilang sangat berani untuk ukuran film animasi.

# Hachiko : A Dog's Story


Film ini sanggup membuat saya bercucuran air mata, haha. Kisahnya memang sederhana namun justru karena kesederhanaannya itulah sanggup membuat saya tersentuh. Film yang mengangkat tema tentang persahabatan dan kesetiaan memang selalu mengena di hati saya.

# Lake Mungo


Jika kalian menganggap Paranormal Activity sudah sedemikian menyeramkan, maka jajal dulu film horror dari Australia ini. Penuh dengan adegan yang mengerikan dan mengejutkan, Lake Mungo ditutup dengan apik dengan adegan yang sanggup membuat saya terperanjat.

# El Secreto De Sus Ojos


Film pemenang Best Foreign Language Films dalam Oscar tahun lalu ini sukses menghadirkan sebuah kisah misteri yang tidak hanya menegangkan tetapi juga sulit untuk ditebak. Didukung akting yang ciamik, saya dibuat penasaran hingga ending.

# Please Give


Sebuah film drama komedi yang unik namun mampu membuat saya mengaca setelah menontonnya. Komedi yang disajikan pun cenderung agak aneh dan dalam. Namun akting dari trio Keener, Peet dan Hall lah yang membuat saya mudah jatuh hati dengan film ini.

# Harry Potter and the Deathly Hallows Part I


Setelah dikecewakan habis - habisan dengan film sebelumnya yang maha membosankan, David Yates berhasil menebusnya di jilid terakhir bagian pertama ini. Komedi, aksi, drama yang muram serta sedikit sentuhan horror berhasil dipadukan dengan sangat baik.

Sekarang saatnya bagi kita untuk mengintip siapa saja penghuni top 10. Jangan lupa ambil nafas dulu dalam - dalam ya ? Haha. Inilah mereka.

TOP 10

10. How I Ended This Summer


Film dari Russia yang sangat sepi, dingin dan mencekam. Hanya didukung oleh dua aktor saja dan minim dialog tidak lantas membuat film ini terasa menjemukan, yang ada justru sebaliknya. Alexei Popogrebski mampu mengarahkannya dengan apik dan membuat kita menebak - nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kisah mengenai dua pria terisolasi di sebuah daerah yang sangat dingin dalam jangka waktu yang lama, batasan realita dan halusinasi mulai kabur, mereka pun mencurigai satu sama lain.

9.Despicable Me


Papoy, papoy. Film animasi 3D yang mengenalkan kita pada sekumpulan Minion lucu berwarna kuning ini adalah sebuah film yang sangat menghibur. Lucu dari awal hingga akhir, membuat saya tertawa terbahak - bahak hingga perut terasa sakit. Kisahnya pun unik. Namun yang menjadi poin plus adalah 3D-nya yang eye popping dan membuat tiket seharga 50 ribu tidak terasa sia - sia. Memang bukan film animasi yang paling bagus, namun Despicable Me sanggup membuat saya tertawa kencang.

8. Buried


Pernahkah membayangkan akan ada sebuah film yang hanya dibintangi oleh satu aktor saja dan settingnya pun hanya di satu tempat ? Itulah yang disajikan oleh Rodrigo Cortes dalam Buried. Selama 90 menit, Cortes membuat saya dan para penonton sesak nafas. Ryan Reynolds bermain gemilang dalam thriller yang sangat seru ini. Ditingkahi dengan naskah yang ajib, ending dihadirkan dengan memukau. Bagi yang mengidap Claustrophobia, sebaiknya menghindari film ini.

7. Easy A


Berita buruk memang cepat menyebar. Easy A memiliki gaya penuturan yang hampir mirip dengan Mean Girls, sebuah film remaja cerdas yang dipenuhi dengan dialog yang menyentil. Bukan tipe film yang menjual muatan seksual, Easy A justru banyak menghadirkan pesan moral bagi para penontonnya. Duo Emma Stone dan Amanda Bynes bermain sangat mengesankan disini terlebih Bynes yang sanggup tampil menyebalkan sekaligus lucu di waktu yang bersamaan. Tak bisa dipungkiri, Easy A adalah salah satu film remaja terbaik dalam satu dekade terakhir.

6. Kick-Ass


Siapa bilang komik hanya diperuntukkan bagi anak - anak ? Kick-Ass adalah buktinya. Sarat akan adegan kekerasan dan kata - kata kotor, Kick-Ass lebih cocok dikonsumsi oleh remaja dewasa. Yang paling mencuri perhatian tentu saja adalah Hit Girl dengan aksinya yang bisa bikin para orang tua mengurut dada dan geleng - geleng kepala. Menyajikan sekumpulan adegan aksi gila yang menyenangkan nan sadis, Kick-Ass membuat saya tak kuasa untuk mengontrol mulut yang terus menerus mengeluarkan umpatan haha.

5. The Ghost Writer


Poster tak meyakinkan, trailer biasa saja bahkan deretan cast-nya pun tak menggoda selera. Tapi ada Roman Polanski disini ! Awalnya, itulah satu - satunya alasan yang membuat saya tertarik mencicipi film ini, namun siapa yang menyangka jika The Ghost Writer kemudian menjadi film thriller berbalut politik yang menegangkan. Polanski menunjukkan kepada dunia bagaimana seharusnya sebuah film thriller dibuat. Didukung music score dan atmosfir yang mencekam serta akting + naskah yang memikat, The Ghost Writer layak mendapat acungan dua jempol.

4. Rapunzel


Jangan keburu pesimis dengan film ini. Rapunzel (atau Tangled) tidak seperti film televisi Barbie dan kawan - kawan yang sangat girly. Disney merancangnya agar Rapunzel bisa dinikmati oleh siapapun, termasuk para pria, dan itu terbukti berhasil. Setelah kegagalan demi kegagalan, Disney akhirnya siap untuk kembali meraih mahkota Raja Animasi setelah Rapunzel secara mengejutkan menjadi sebuah film animasi yang sangat menghibur. 3D-nya apik, animasinya memukau dan soundtrack-nya pun manis.

3. Inception


Christopher Nolan memang gendeng! Itulah yang pertama kali terlontar sesaat setelah menyaksikan Inception. Ide ceritanya hampir tak terpikirkan oleh siapapun, sungguh brilian. Hebatnya, dengan cerita yang tergolong berat, Nolan sanggup mengikat penonton untuk tetap berada di kursinya hingga ending. Efek visualnya mantab, musiknya menghanyutkan, dialognya cerdas dan penampilan ensemble cast juga sangat menawan. Suatu film yang sulit untuk dilupakan, terutama adegan perkelahian di anti-gravitasi (sampai aku jadikan banner blog hehe).

2. The Social Network


Agaknya saya memang mudah jatuh cinta dengan film/serial yang memiliki dialog - dialog cepat nan cerdas. Setelah kepincut dengan Gilmore Girls, sekarang hati saya berlabuh pada The Social Network yang sungguh memukau. Penuh dengan quotes yang cemerlang dan memorable, sebagai sebuah film drama The Social Network bergulir dengan cepat dan menegangkan. Film ini tidak hanya sekadar film tentang perjalanan Facebook belaka, tapi lebih dari itu. David Fincher mampu mengolahnya menjadi sebuah film drama berbobot yang ditingkahi dengan akting brilian para pemainnya. Klik 'Like'.

1. Toy Story 3


Sebagus apapun film yang dirilis tahun 2010 lalu, tak ada yang bisa menyingkirkan Toy Story 3 dari posisi 1 di hati saya. Pixar mengakhiri franchise Toy Story dengan amat sangat sempurna dan mungkin tak akan bisa lebih baik dari ini. 20 menit terakhir adalah bagian terbaik dari film ini. Toy Story 3 sanggup membuat saya tertawa, tegang, bersorak sorai hingga menangis sesenggukan di waktu yang hampir bersamaan. Sungguh merupakan film yang sangat brilian dan menurut saya, inilah karya terbaik dari Pixar. Brilliant, brilliant, brilliant !

IMBLOG CHOICE AWARDS 2011


Hello semuanya, Cinetariz kembali nih! Pasti udah pada kangen ya? hayooo, ngaku aja deh. Ntar saya kasih sepuluh lolipop gratis kalau ada yang ngaku, hihihihi. Kembalinya saya ke dunia blogger ini tidak hanya sekadar kembali buat posting review film seperti biasa, tapi kali ini saya juga membawa sebuah berita bagus buat kalian semua. Baiklah, langsung saja saya mulai, ehem ehemmm.. Begini lho jeung - jeung *halah*, para movie bloggers dari seluruh penjuru Indonesia memiliki hajat di tahun ini, namanya IMBlog Choice Awards 2011. Terdengar asing di telinga ? Ya, karena ini memang pertama kalinya bagi para movie bloggers mengadakan acara seperti ini. Ini semua berawal dari obrolan ringan kita di Twitter, namun lama kelamaan kita berpikir sepertinya seru juga kalau kita mengadakan sebuah award kecil - kecilan yang memilih film Indonesia terbaik dan terburuk serta film Asing terbaik. Sebenarnya sih ide ini muncul karena kekecewaan kita kepada hasil ep ep i yang luar biasa anehnya itu, ditambah pula Golden Globes juga ternyata mengejutkan.

Nah, IMBlog Choice Awards ini rencananya nanti bakalan jadi sebuah award online yang digelar setiap awal tahun. Yang bisa menjadi anggota adalah siapapun yang memiliki blog film dan sangat mencintai film. Dari sekitar 50 blogger yang mendapat undangan resmi, tercatat ada 36 movie bloggers yang aktif di mailing list dan mereka inilah yang mempunyai hak pilih. Siapa saja mereka? Beberapa diantaranya bisa dilihat di daftar link sebelah kanan ini. Setelah mendapat undangan, kita yang memiliki hak pilih langsung mengajukan beberapa kandidat film untuk dimasukkan ke dalam nominasi terbaik dan terburuk. Oh iya, di IMBlog Choice Awards kita tidak menyebutnya dengan sebutan terbaik maupun terburuk melainkan JAWARA, GAK BAKALAN JAWARA dan KACRUT (untuk film Indonesia terburuk). Setelah nominasi diumumkan, maka saatnya bagi kita untuk memilih siapa dan apa saja yang layak untuk menggondol piala IMBlog Choice Awards.

Jangan khawatir dulu, kawan - kawan. Kalian juga bisa berpartisipasi kok dalam memilih pemenang. Dimulai tanggal 20 Januari 2011, kalian sudah bisa ikut vote di situs majalah film online Flick Magazine. Para pemenang hasil pilihan kalian ini akan diberi titel TERSOHOR. Sebelum vote, maka intip dulu siapa dan apa saja yang masuk dalam deretan nominasi IMBlog Choice Awards 2011. Dicermati dengan baik ya, jangan sampai kalian menyesal karena telah salah pilih hoho. Sebelum melihat nominasinya, ada baiknya saya jelaskan dulu kriteria film yang bisa lolos di tahap awal seleksi. Jadi, kesepakatan kita adalah hanya memilih film - film yang pertama kali tayang resmi di Indonesia sepanjang tahun 2010, entah itu melalui bioskop, VCD/DVD atau festival film. Batasan lainnya adalah film tersebut telah dirilis secara resmi di negara asalnya sepanjang 2009 - 2010, jadi beberapa film produksi 2008 dan baru dilempar di Indonesia tahun lalu dengan sangat terpaksa kita sisihkan. Pengecualian dibuat untuk kategori HARUSNYA JADI JAWARA dan TRAILER JAWARA dimana film produksi 2010 dan belum dirilis resmi di Indonesia dapat menjadi nominasi.

Berikut ini adalah nominasi lengkapnya, cekidot!

KATEGORI FILM INDONESIA

FILM JAWARA
Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Hari Untuk Amanda
Minggu Pagi di Victoria Park
Sang Pencerah
3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

SUTRADARA JAWARA
Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda)
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)
Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)

NASKAH JAWARA
Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Salman Aristo & Ginatri S. Noer (Hari Untuk Amanda)
Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park)
Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

PELAKON UTAMA PRIA JAWARA
Lukman Sardi (Sang Pencerah)
Oka Antara (Hari Untuk Amanda)
Reza Rahardian (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Reza Rahardian (3 hati 2 Dunia 1 Cinta)
Arifin Putra (Rumah Dara)

PELAKON UTAMA WANITA JAWARA
Acha Septriasa (Menebus Impian)
Fanny Febriana (Hari Untuk Amanda)
Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)
Shareefa Daanish (Rumah Dara)
Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)

PELAKON PENDUKUNG PRIA JAWARA
Asrul Dahlan (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Slamet Rahardjo (Sang Pencerah)
Tio Pakusadewo (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Reza Rahardian (Hari Untuk Amanda)

PELAKON PENDUKUNG WANITA JAWARA
Henidar Amroe (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Kimmy Jayanti (I Know What You Did On Facebook)
Ayu Diah Pasha (Menebus Impian)
Imelda Therine (Rumah Dara)
Ella Hamid (Minggu Pagi di Victoria Park)

PENDATANG BARU JAWARA
Ihsan Taroreh (Sang Pencerah)
Pepeng Naif (Dawai 2 Asmara)
Kimmy Jayanti (I Know What You Did on Facebook)
Giring Nidji (Sang Pencerah)
Ananda Omesh (Aku Atau Dia)

PELAKON ANAK-ANAK JAWARA
Bulan Ayu (Demi Dewi)
Yehuda Rembindi (Tanah Air Beta)
Rangga Adhitya (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Sakurta Ginting (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Griffit Patricia (Tanah Air Beta)

PELAKON SENIOR JAWARA
Ulli Artha (Bebek Belur)
Rima Melati (Bebek Belur)
(Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Slamet Rahardjo (Sang Pencerah)
Widyawati (Satu Jam Saja)

POSTER JAWARA
I Know What You Did on Facebook
Madam X
Rumah Dara
Sang Pencerah
Darah Garuda

FILM KACRUT
18+
Diperkosa Setan
Selimut Berdarah
Cin, Tetangga Gue Kuntilanak!
London Virginia

SUTRADARA KACRUT
Findo Purnomo HW (Lihat Boleh, Pegang Jangan)
Petruska Karangan (Diperkosa Setan)
Nayato Fio Nuola (18+)
Ferry Ipey Assad (Selimut Berdarah)
Cheverly Amalia (London Virginia)

PELAKON PRIA KACRUT
Eko Noah (Obama Anak Menteng)
Hardy Hantono (Pengantin Topeng)
Teguh Julianto (Diperkosa Setan)
Dimaz Andrean (Selimut Berdarah)
Andreano Phillip (Rayuan Arwah Penasaran)

PELAKON WANITA KACRUT
Andy Soraya (Arisan Berondong)
Cynthiara Alona (Diperkosa Setan)
Cynthiara Alona (Cin, Tetangga Gue Kuntilanak!)
Pinkan Mambo (Selimut Berdarah)
Cheverly Amalia (London Virginia)

POSTER KACRUT
Pengakuan Seorang Pelacur
Bidadari Jakarta
Cin, Tetangga Gue Kuntilanak!
Dendam Pocong Mupeng
London Virginia

KATEGORI FILM ASING

FILM JAWARA
Inception
The Social Network
The Ghost Writer
Toy Story 3
Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives

SUTRADARA JAWARA
Christopher Nolan (Inception)
David Fincher (The Social Network)
Roman Polanski (The Ghost Writer)
Apichatpong Weerasethakul (Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives)
Jason Reitman (Up In The Air)

SKENARIO JAWARA
Inception (Christopher Nolan)
The Social Network (Aaron Sorkin)
Up In The Air (Jason Reitman & Sheldon Turner)
The Ghost Writer (Roman Polanski & Robert Harris)
Buried (Chris Sparling)

PELAKON UTAMA PRIA JAWARA
Jesse Eisenberg (The Social Network)
Leonardo DiCaprio (Shutter Island)
George Clooney (Up In The Air)
Ewan McGregor (The Ghost Writer)
Ryan Reynolds (Buried)

PELAKON UTAMA WANITA JAWARA
Carey Mulligan (An Education)
Noomi Rapace (The Girl With The Dragon Tattoo)
Catherine Keener (Please Give)
Yoon Jeon Hee (Poetry)
Sandra Bullock (The Blind Side)

PELAKON PENDUKUNG PRIA JAWARA
Andrew Garfield (The Social Network)
Stanley Tucci (The Lovely Bones)
Joseph Gordon-Levitt (Inception)
Justin Timberlake (The Social Network)
Tom Hardy (Inception)

PELAKON PENDUKUNG WANITA JAWARA
Anna Kendrick (Up In The Air)
Helena Bonham Carter (Alice In Wonderland)
Marion Cotillard (Inception)
Chloë Grace Moretz (Kick-Ass)
Olivia Williams (The Ghost Writer)

KUMPULAN PELAKON JAWARA
Inception
The Social Network
The Expendables
RED
Brooklyn’s Finest

PELAKON BARU JAWARA
Carey Mulligan (An Education)
Andrew Garfield (The Social Network)
Chloë Grace Moretz (Kick-Ass)
Anna Kendrick (Up In The Air)
Tom Hardy (Inception)

FILM DOKUMENTER JAWARA
Waiting For Superman
When You’re Strange
Babies
Oceans
Exit Through The Gift Shop

FILM ANIMASI JAWARA
Toy Story 3
How To Train Your Dragon
Fantastic Mr. Fox
Despicable Me
Rapunzel

LAGU TEMA JAWARA
“The Weary Kind” (Crazy Heart)
“I See The Light” (Rapunzel)
“There’s A Place For Us” (The Chronicles of Narnia: Voyage of The Dawn Treader)
“Cinema Italiano” (Nine)
“Alice” (Alice In Wonderland)

MUSIK PENGIRING JAWARA
Inception (Hanz Zimmer)
The Social Network (Trent Reznor & Atticus Ross)
TRON: Legacy (Daft Punk)
Toy Story 3 (Randy Newman)
Nine (Andrea Guerra)

OPENING JAWARA
The Social Network
Buried
Inception
Kick-Ass
Toy Story 3

ENDING JAWARA
Inception
Toy Story 3
Buried
The Ghost Writer
Shutter Island

POSTER JAWARA
Inception
Buried
Let Me In
The Social Network
TRON: Legacy

TAGLINE JAWARA
“You don’t get 500 million friends without making a few enemies” (The Social Network)
“Your mind is the scene of the crime” (Inception)
“An epic of epic epicness” (Scott Pilgrim vs The World)
“170,000 miles of desert, 90 minutes of oxygen, no way out” (Buried)
“Read between the lies” (The Ghost Writer)

TRAILER JAWARA
Inception
The Social Network
TRON: Legacy
Black Swan
The Tree Of Life

January 8, 2011

REVIEW : THE TOURIST


"Why is everyone trying to kill me ?" - Frank


Saat dua nama besar di Hollywood, Angelina Jolie dan Johnny Depp, disatukan dalam suatu film, para pecinta film tentu penasaran akan hasilnya. Mereka terkenal selektif dalam memilih peran, tak mungkin keduanya bersedia ‘berduet’ jika naskahnya tidak mumpuni Yang lebih menggiurkan lagi, proyek yang kemudian diberi judul The Tourist ini dikomandoi oleh Florian Henckel von Donnersmarck yang pernah membesut film peraih Oscar untuk kategori film berbahasa asing terbaik, The Lives of Others, pada 2007 silam. Dengan
dukungan dari ‘dream team’ seperti ini, siapa sih yang tidak tertarik untuk menyaksikan The Tourist ? Film berbujet $ 80 juta yang merupakan remake dari film Perancis bertajuk Anthony Zimmer ini memang bisa dikatakan menggiurkan meski daya tarik tersebut juga bisa menjadi bumerang bagi filmnya sendiri karena membuat ekspektasi penonton membumbung tinggi yang pada akhirnya jika film tak berjalan sesuai rencana tentu kekecewaan akan menjadi berkali – kali lipat.


Kisahnya sendiri cukup sederhana sebenarnya. Elise Ward (Angelina Jolie) dikuntit oleh dua pihak, Scotland Yard dan gembong mafia pimpinan Reginald Shaw (Steven Berkoff), yang berniat memanfaatkannya untuk memancing kehadiran sang mantan kekasih, Alexander Pearce, yang telah lama hilang dan tidak diketahui keberadaannya, bahkan wajahnya sekalipun. Konon, Pearce berhasil menggondol uang mafia sebesar $2,3 miliar dan memiliki tanggungan hutang kepada Scotland Yard sejumlah 744 juta poundsterling ! Tak heran jika kemudian Pearce menjadi buronan paling dicari saat ini. Tentu saja Elise mengetahui semua ini dan secara berkala dia berhubungan dengan Pearce melalui sebuah surat. Dalam suratnya yang terakhir, Pearce meminta Elise untuk mencari seorang pria dengan postur tubuh mirip dirinya dalam perjalanan menuju Venesia dengan tujuan untuk mengelabui kedua pihak tersebut. Pria yang tidak beruntung itu adalah seorang turis Amerika bernama Frank (Johnny Depp) yang pergi ke Eropa dalam rangka untuk mengobati sakit hatinya. Lelaki normal mana sih yang tidak tertarik saat ditemui seorang wanita cantik nan anggun seperti Elise. Frank pun langsung kepincut dengan Elise sejak pandangan pertama dan bersedia melakukan apa saja demi membantu Elise termasuk terlibat dalam permasalahan yang sebenarnya sama sekali tidak dimengerti oleh Frank ini.



Saran saya kepada calon penonton The Tourist adalah jangan berharap terlalu tinggi terhadap film ini dan nikmati saja filmnya. Jika mengharapkan ada sesuatu yang wah dari The Tourist lantaran formasi tim pendukung yang menjanjikan, maka hanya akan ada rasa kecewa yang dibawa pulang dari gedung bioskop. Jujur, The Tourist sama sekali tidak istimewa dan berjalan tentu biasa untuk ukuran film yang didukung oleh tim berkelas Oscar. Entah siapa yang harus disalahkan, namun yang jelas hasil akhir dari The Tourist pun bahkan tidak mendekati kualitas Anthony Zimmer yang apik itu. Jolie dan Depp terkesan disia – siakan lantaran Donnersmarck tidak maksimal memanfaatkan akting keduanya, bahkan chemistry diantara keduanya bisa dibilang nol. Tidak hanya mereka berdua yang menjadi korbannya, para pemain pendukung pun terkena imbasnya padahal mereka adalah pemain watak dengan jam terbang yang tinggi. Sangat disayangkan memang, padahal The Tourist sudah didukung sejumlah pemain hebat namun sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik.



Untuk ukuran sebuah film thriller, The Tourist berjalan cukup lambat, tidak seperti film sejenis yang biasanya memiliki tempo yang cepat. Adegan aksinya pun hanya ada beberapa dan tidak terlampau menegangkan, itupun disajikan hanya di paruh akhir saja sementara di babak awal lebih fokus pada hubungan Elise dan Frank yang saya bilang ‘awkward’. Untuk urusan yang satu ini saya masih bisa memakluminya karena memang Anthony Zimmer berjalan tidak jauh berbeda. Hanya saja yang membuat saya bingung, kenapa Donnersmarck dan tim tidak berusaha untuk menghilangkan ke-Eropaan film ini dan memasukkan cita rasa Hollywood ke dalamnya ? Apa mungkin karena Donnersmarck adalah orang Eropa dan dia menganggap semua itu normal untuk film Hollywood ? Bisa jadi. Untungnya The Tourist menawarkan pemandangan Eropa yang indah dan mbak Jolie yang terlihat begitu sedap dipandang disini sehingga saat rasa bosan mulai menghinggapi, maka itulah yang menjadi penawarnya.



Meskipun saya mengakui bahwa The Tourist memiliki banyak sekali kekurangan disana – sini, namun entah mengapa saya merasa cukup puas dengannya. Ya, Jolie dan Depp memang terkesan dipaksakan buat bersatu, naskahnya pun lemah dan tak ada adegan aksi yang menegangkan, tapi saya mencintai film ini. Saya menikmatinya dari detik pertama hingga akhir, bahkan beberapa humor pun membuat saya tertawa lepas. Agaknya harapan saya yang tidak begitu tinggi terhadap film ini turut mempengaruhinya. Walaupun demikian, saya masih tetap tidak setuju dengan keputusan dari juri Golden Globe yang memberikan tiga nominasi utama di kategori Musical / Comedy untuk film ini karena saya merasa masih ada beberapa film yang lebih layak ketimbang The Tourist.



Nilai = 6/10 (Acceptable)

Mobile Edition
By Blogger Touch