April 17, 2013

REVIEW : HARI INI PASTI MENANG


 "Ini suporter Indonesia, udah ke Piala Dunia, masih saja primitif." - Dimas

Apabila selama ini film sepakbola, terutama buatan dalam negeri (setidaknya dalam dwilogi Garuda di Dadaku atau Tendangan Dari Langit), identik dengan perjuangan menggapai mimpi atau jika ingin membelokkannya sedikit, maka itu berkaitan dengan konflik internal yang melingkupi sebuah tim yang tengah mencapai kejayaan, tidak halnya dengan film terbaru garapan Andibachtiar Yusuf. Di Hari Ini Pasti Menang, penonton tidak sekadar menyaksikan lapangan sepakbola-ruangan loker-rumah sang protagonis semata. Ruang lingkup penceritaan tidak sesempit itu. Penonton diajak untuk menelusuri lebih jauh, dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa sepakbola pun telah menjadi ladang bisnis, baik legal maupun ilegal. Kita melihat sisi lain (atau lebih tepatnya, sisi gelap) dari olahraga paling populer di Indonesia ini. Jelas, film yang skripnya digarap oleh Swastika Nohara ini tidak bertutur seringan yang banyak masyarakat kira. Banyak konflik tertuang di dalamnya yang menjadikan jalinan penceritaan tergolong padat dan rumit, namun bagusnya, tetap mengasyikkan untuk diikuti. 

Yang menjadi poros cerita adalah Gabriel Omar (Zendhy Zain) atau dikenal juga dengan ‘nama panggung’ GO8, striker andalan klub Jakarta Metropolitan yang kehidupannya kian bersinar usai Piala Dunia 2014. Melalui sosok Gabriel inilah, cabang-cabang cerita dengan serangkaian konflik yang mengikutinya dibentuk. Di 20 menit pertama – dalam sebuah pengenalan yang berlangsung cepat dan penuh sesak – kita dipertemukan sekilas dengan tokoh-tokoh yang akan berkontribusi terhadap pergerakan cerita. Ada Dimas Bramantyo (Ray Sahetapy), pelatih Jakarta Metropolitan yang berjasa besar dalam melejitnya karir Gabriel serta klub. Lalu diperkenalkan pula kepada ayahanda Gabriel (Mathias Muchus) yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, sang manajer (Deddy Mahendra Desta) yang penuh semangat, pemilik kartel judi raksasa (Hengky Solaiman), pengusaha muda (Verdi Solaiman) yang mempertaruhkan harta bendanya demi kekalahan Jakarta Metropolitan, serta Andini (Tika Putri), sahabat masa kecil Gabriel yang kini bekerja sebagai seorang jurnalis olahraga. Tokoh-tokoh ini dibenturkan pada permasalahannya masing-masing yang semuanya mengerucut kepada permasalahan besar, judi dan pengaturan skor. 

Pada awalnya, mungkin banyak yang beranggapan bahwa Hari Ini Pasti Menang mempunyai penuturan yang tidak jauh berbeda dengan film sepakbola terdahulu dari dalam negeri. Saya pun berpikiran serupa, menduga ini akan berkisah mengenai perjuangan atau jatuh bangun Timnas demi mencapai Piala Dunia 2014. Andibachtiar Yusuf dan Swastika Nohara, pada kenyataannya, tak pernah menjadikan Piala Dunia dan segala tetek bengeknya sebagai fokus utama dalam pengisahan. Ini hanya latar belakang untuk menghantarkan kisah. Apabila yang Anda idam-idamkan sejak awal adalah menyaksikan para pemain dari Timnas menciptakan alur bola yang cantik di lapangan hijau, maka sebaiknya rubah ekspektasi sekarang juga. Ya, itu memang ditampilkan dalam sejumlah adegan, namun tentunya secara singkat dan tidak benar-benar menjadi sajian yang dikedepankan. Pun demikian, dalam catatan saya, adegan pembuka yang memboyong penonton ke stadion untuk menyimak pertandingan antara Jakarta Metropolitan dan Bogalakon dapat ditampilkan secara panas, intense, dan cantik. Suasana pertandingan benar-benar terasa hidup. 

Dalam penyampaian kisah, sang pembuat film menciptakan sebuah ‘alternate universe’ dari Indonesia sehingga dalam berceloteh dapat lebih leluasa untuk senggol sana-sini serta dari sisi kewajaran pun masih bisa diterima. Ini memang tetap Indonesia, tetapi bukan Indonesia yang seperti kita kenal seperti sekarang ini. Detil-detil kecil yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang sepele, diperhatikan secara serius termasuk dengan menghadirkan jukstaposisi adegan, mata uang baru, stadion baru, hingga seragam tim. Betul-betul menarik. Sang pembuat film tidak segan-segan melancarkan berbagai kritik (dengan penuh cinta, tentunya) dan sindiran terhadap carut marutnya kondisi persepakbolaan di Indonesia. Dituturkan secara halus – tanpa pernah menjadi gejolak amarah yang membara – namun sungguh menancap di hati. Jleb! Siapapun kena tembak, tanpa terkecuali. 

Ya, inilah yang menjadikan Hari Ini Pasti Menang menjadi sebuah tontonan yang benar-benar menarik. Ini bukanlah sebuah hiburan kosong yang dapat menguap begitu saja seiring berjalannya waktu dan bermunculannya film-film sepakbola dengan penggarapan apik lainnya. Penonton dihadapkan pada setumpuk konflik rumit nan memikat yang merupakan refleksi dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam dunia persepakbolaan. Beberapa fakta mencengangkan dihamparkan. Betapa olahraga pun dapat dijadikan sebagai ladang untuk ‘bermain kotor’. Penggarapan yang cermat dan rapi dari Andibachtiar Yusuf ditunjang oleh naskah bernas olahan Swastika Nohara, skoring menawan dari Ananda Sukarlan, soundtrack yang menggugah dari Judika, sinematografi apik arahan Roni Arnold, tata artistik yang ciamik, serta jajaran pemain dengan performa yang luar biasa (pujian khusus saya sematkan kepada Tika Putri, Mathias Muchus, dan Verdi Solaiman) membuat ‘Indonesia versi Andibachtiar Yusuf’ ini terasa greget, mengikat, dan dapat dipercaya. Usai menyaksikan Hari Ini Pasti Menang, banyak bekal yang dapat Anda bawa pulang sebagai bahan diskusi yang seru bersama teman-teman sesama pecinta sepakbola, setidaknya itu berlaku bagi saya. Tidak mengherankan jika ada beberapa penonton di stadion yang mengangkat tinggi-tinggi tulisan 'I Love Andibachtiar Yusuf' apabila melihat hasil akhir yang memuaskan semacam ini.

Note : Bertahanlah hingga film benar-benar tuntas karena ada beberapa adegan saat credit title bergulir dan... semuanya penting!

Exceeds Expectations




6 comments:

  1. Cool review! Semoga CineTariz menonton di bioskop yang tidak menyalakan lampu saat credit title keluar sehingga penonton sempat melihat epilog setelah credit title.
    Dan project kami selanjutnya adalah Cahaya Dari Timur, tentang sepak bola di tengah konflik Ambon di awal th 2000 :D

    ReplyDelete
  2. boleh tukar link gak?

    arulfittron.blogspot.com

    link blog ini udah saya pasang di blog saya :)

    ReplyDelete
  3. ^ Oh, boleh. Dengan senang hati :)

    @sabai95 : Fuh, syukurlah tidak. Setelah saya komplain besar-besaran karena diusir sewaktu nonton Brave, sekarang bioskop di sini bersedia memutar film hingga benar-benar tuntas. Jadi ya, saya melihatnya :)

    Wooo... Saya sangat menantikannya! Semoga Cahaya Dari Timur pun segreget (atau malah lebih) dari film ini yah. Sukses!

    ReplyDelete
  4. Dear Cinetariz, boleh tukeran link juga nggak? :)

    Saya juga suka mereview film dan link blog kamu sudah saya pasang di blog saya.

    hawinwidyo.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. om, reviewnya taro di imdb dong. sukur2 skalian kasi rating buat pelemnya...matur tengkyu

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch