October 27, 2018

REVIEW : JAGA POCONG


“Di rumah ini, banyak kejadian aneh.” 

Ditugasin buat jagain pocong sebenarnya bukan masalah besar asalkan jenazah yang dikafani itu kerabat dekat dan saya bukan satu-satunya orang yang masih bernapas di lokasi. Tapi jika jenazah tersebut adalah orang asing yang tak diketahui masa lalunya macam apa, tak ada orang lain di sekeliling yang mondar-mandir, dan lokasinya jauh dari pemukiman warga… yaaa monmaap, saya undur diri. Baru mendengarnya saja sudah bikin bergidik ngeri, tidak yakin mampu menjalaninya dengan tabah. Nah, Jaga Pocong yang menandai untuk pertama kalinya bagi Acha Septriasa dalam menjajal peran di film horor (kecuali kamu menghitung Midnight Show (2016) sebagai sajian horor) menggulirkan narasi berdasarkan premis tersebut: bagaimana jadinya saat tugas menjaga jenazah yang telah dikafani justru berbuah teror? Sebuah premis yang mesti diakui menggelitik rasa penasaran lebih-lebih karena sosok pocong sudah cukup lama tak dikedepankan sebagai peneror utama – padahal dari sekian banyak hantu yang mendiami Indonesia raya, sosoknya paling menakutkan bagi saya. Tambahkan dengan keterlibatan Acha Septriasa yang tergolong selektif memilih peran, Jaga Pocong terdengar seperti proyek film horor menjanjikan… sampai kemudian saya mengetahui jajaran kru di belakangnya yang seketika mendorong saya untuk menekan ekspektasi. 

Dalam Jaga Pocong, aktris penggenggam Piala Citra ini memerankan seorang suster bernama Mila yang bekerja di Rumah Sakit Sejahtera. Suatu ketika, Mila ditugaskan oleh atasannya untuk merawat Sulastri (Jajang C. Noer) di rumahnya yang jauh dari peradaban. Saking jauhnya, Mila tiba di rumah sang pasien jelang tengah malam padahal dia telah berangkat sedari hari masih terang. Perjalanan jauh yang ditempuh oleh Mila atas nama dedikasi ini sayangnya tak berakhir baik. Sulastri telah meninggal dan Radit (Zack Lee), putranya, meminta bantuan kepada Mila untuk memandikan jenazah ibunya lalu membungkusnya dengan kain kafan. Mengingat Radit bukanlah anak kandung Sulastri, maka pekerjaan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Mila. Tak ada kesulitan berarti bagi Mila dan hanya dalam waktu singkat, dia telah merampungkannya. Berniat untuk undur diri karena pekerjaannya telah selesai, tiba-tiba Radit menyodorkan satu permintaan terakhir kepada Mila: menjaga jenazah Sulastri. Alasannya, Radit berniat untuk pergi sejenak demi mengurus izin pemakaman sang ibu. Mila pun ditinggal seorang diri bersama putri Radit, Novi (Aqilla Herby), dan jenazah Sulastri di rumah yang sangat besar nan menyeramkan tersebut. Mulanya sih semua baik-baik saja, sampai kemudian Mila mendengar suara-suara yang entah darimana datangnya.


Sejujurnya, Jaga Pocong memulai segalanya dengan baik. Hadrah Daeng Ratu yang belum pernah bersentuhan dengan genre horor (filmografinya mencakup Mars Met Venus dan Super Didi) ternyata cukup jago dalam mengemasnya menjadi sajian horor atmosferik. Alih-alih membuat penonton terlonjak dari kursi bioskop dengan penampakan tanpa esensi yang dikit-dikit nongol serta iringan musik yang bikin penonton mesti ke dokter THT keesokan harinya, Hadrah memilih untuk membangkitkan rasa takut dengan memanfaatkan atmosfer yang mengusik kenyamanan. Resepnya sudah ada di tangan: rumah gedongan yang jauh dari pemukiman warga, tengah malam yang sunyi senyap, dan jenazah yang terbujur kaku di ruang tamu. Siapa coba yang tidak dirundung rasa ngeri apabila ditempatkan dalam situasi seperti yang dihadapi oleh Mila? Sekalipun tak ada sesuatu yang terjadi, pikiran pasti melayang kemana-mana. Apalagi jika kemudian terdengar suara-suara padahal hanya ada dirimu dan seorang bocah yang anteng. Hiii… Menilik fakta bahwa Jaga Pocong adalah sajian horor, kita tentu menyadari bahwa ada sesuatu yang salah di dalam rumah tersebut. Pertanyaanya adalah, ada apa dan kapan munculnya? Permainan antisipasi inilah yang menyebabkan saya tidak bisa duduk tenang selama paruh pertama karena bulu kuduk meremang seraya dibuat menerka-nerka arah kemunculan teror. 

Ketidaktenangan akibat mengetahui ada sesuatu mengerikan tengah mengintai ini sayangnya tak bertahan lama. Menapaki pertengahan durasi, Hadrah tampak kebingungan dalam memperlakukan Jaga Pocong sehingga terasa diulur-ulur dengan pola adegan senada: Mila naik turun tangga, lalu lari teriak-teriak. Naskah rekaan Aviv Elham (Alas Pati, Arwah Tumbal Nyai) berdasarkan cerita dari Baskoro Adi (Jailangkung, Gasing Tengkorak) yang menjadi sumber kekhawatiran saya sedari mengetahui mereka turut terlibat, secara tidak mengejutkan memang tidak bisa diharapkan. Jangankan memberi deskripsi untuk karakter Mila yang sangat tipis atau menyajikan setup demi menghindari kesan ujug-ujug di babak pengungkapan, si peracik skenario bahkan terkesan ogah-ogahan dalam menulis dialog. Coba hitung berapa kali nama Novi dipanggil tanpa ada variasi di dalamnya, dan amati pula dialog berikut ini yang muncul sebanyak dua kali: 

“kenapa harus saya?”

“karena harus kamu!” 

Ada yang merasa janggal? Tidak? Mari kita berpikiran positif, mungkin si pembuat skenario memegang prinsip bahwa tidak semua hal perlu penjelasan. Dia ingin menguarkan aroma misteri lebih kuat, dia ingin penonton menginterpretasi sendiri makna dibalik dialog tersebut. Saya yang tadinya bersemangat karena Jaga Pocong tersaji berbeda dibanding film horor Indonesia kebanyakan (berhasil pula!) pun seketika loyo begitu menyadari Aviv Elham masih belum berubah. Beruntung film ini masih mempunyai Acha Septriasa yang memiliki rentang emosi mengagumkan. Meski bukan dalam penampilan terbaiknya, Acha masih memungkinkan bagi film untuk berada di taraf bisa dinikmati karena dia memberikan gestur beserta ekspresi apik yang menunjukkan Mila tampak sangat ketakutan dan ingin segera mengakhiri penderitaannya. Andaikata peran Mila diserahkan kepada pelakon kurang kompeten, nasib Jaga Pocong akan berakhir: 1) membosankan lantaran si aktris hanya bisa teriak-teriak, atau 2) konyol menyaksikan keputusan-keputusan tak logisnya. Di tangan Acha, dua perkara tersebut berhasil diminimalisir dan oleh karenanya, Jaga Pocong mesti berterima kasih kepadanya.

Acceptable (3/5)


8 comments:

  1. film yang beginian nih, yang buat gua jadi was was kalau dirumah sendirian. kwkwkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalau mendadak terdengar suara macam 'dug dug dug'. Langsung kebayang yang nggak nggak 😂

      Delete
  2. Nilai 3/5 termasuk tinggi untuk horor indonesia.

    Sejajar dengan Kafir ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nope. Masih di bawah Kafir. Aku memberinya skor 3,5 tapi emang masalah dua film ini sama: babak ketiga. Dan ya, Jaga Pocong terhitung oke. Acha membantu sekali.

      Delete
  3. Katanya mirip Skeleton Key ya? atau memang terisnpirasi dr cerita?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup emang mirip begitu sampai pengungkapan. Nggak ada terinspirasi, jadi sepertinya yaaa... You know lah.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch