October 8, 2018

REVIEW : VENOM


“Eyes, lungs, pancreas. So many snacks, so little time!” 

Rencana untuk membuatkan satu film tersendiri bagi salah satu musuh bebuyutan Spider-Man, Venom, sejatinya telah mengemuka sejak lama. Di era 1990-an, New Line Cinema pernah mencetuskan gagasan tersebut yang tak pernah mendapat tindak lanjut, dan memasuki era 2000-an, gagasan tersebut beralih ke Sony Pictures yang tergoda untuk menciptakan mesin pencetak uang baru mengandalkan nama Venom yang dikenalkan ke publik melalui Spider-Man 3 (2007). Tapi serentetan masalah dibalik cap dagang Spider-Man (meliputi perbedaan kreatif diikuti kegagalan The Amazing Spider-Man 2) memaksa pihak studio untuk meninjau ulang rencana ambisisus mereka. Terlebih, apakah publik sudah siap dalam menerima film yang mengetengahkan sepak terjang sesosok supervillain? Terus mengalami tarik ulur selama beberapa tahun, proyek ini akhirnya memperoleh kejelasan status di tahun 2016 usai Sony berinisiatif menciptakan Marvel Universe milik mereka sendiri tanpa bersinggungan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) sekalipun Spidey telah bersarang di sana – meski tidak menutup kemungkinan buat dipersatukan mengingat Sony kekeuh mempertahankan Venom dengan rating PG-13 demi bisa dipersatukan bersama MCU. Guna merealisasikan Venom yang sekali ini tak memiliki relasi dengan Spidey, Ruben Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) pun dipercaya untuk mengomandoi proyek, sementara Tom Hardy diserahi posisi pelakon utama yakni seorang jurnalis yang dijadikan inang oleh si simbiot bernama Eddie Brock. 

Dalam Venom, Eddie Brock dideskripsikan sebagai seorang jurnalis yang berdedikasi terhadap pekerjaannya. Dia bukan tipe pencari sensasi lewat berita palsu, melainkan tipe jurnalis yang mengejar sensasi dari fakta mengejutkan yang belum banyak diketahui masyarakat. Demi memperoleh bahan-bahan untuk reportasenya tersebut, Eddie tak keberatan untuk mengumpulkan bukti-bukti dengan cara licik sekalipun jalan yang ditempuhnya tersebut dapat merugikan orang-orang di sekitarnya. Tunangannya, Anne Weying (Michelle Williams), adalah seseorang yang paling dirugikan ketika Eddie berusaha untuk menguak konspirasi besar yang disembunyikan oleh ilmuwan kaya, Carlton Drake (Riz Ahmed). Konon, Eddie mendapati adanya sejumlah kematian yang ditutup-tutupi di dalam tubuh perusahaan Life Foundation milik Carlton. Kuasa yang dimiliki oleh Carlton memungkinkan Eddie beserta Anne untuk kehilangan mata pencaharian masing-masing yang lantas memicu perpisahan diantara mereka. Terjebak dalam ratapan penyeselan selama berbulan-bulan, Eddie mendadak mendapat kesempatan untuk menebus kesalahannya usai salah satu bawahan Carlton membeberkan sebuah informasi penting. Dilatari oleh kepenasaran, keinginan menegakkan kebenaran, sekaligus balas dendam, Eddie pun nekat menyelinap masuk ke dalam markas Life Foundation tanpa mengetahui apa yang menantinya di sana. Perjumpaannya dengan sebuah simbiot (ingat, dia menolak disebut parasit!), organisme asing dari luar angkasa, bernama Venom seketika mengubah hidup Eddie untuk selamanya. 


Apabila kamu sudah terbiasa dengan film superhero rilisan beberapa tahun terakhir ini yang mulai berani menyelipkan subteks berkaitan dengan sosial politik ke dalam plot, dan menghadirkan warna penceritaan yang berbeda-beda ketimbang sebatas laga-komedi ringan, rasa-rasanya mudah untuk memberi label ‘B aja’ pada narasi yang dikedepankan Venom. Memang betul, guliran pengisahan dari Venom yang konon mencuplik komik bertajuk Venom: Lethal Protector ini (suatu edisi dimana Spidey tak banyak dilibatkan dan si karakter tituler lebih diposisikan sebagai antihero alih-alih villain) bisa dibilang tak istimewa. Jangankan penonton yang telah memiliki jam terbang tinggi, penonton awam yang hanya sesekali menonton film pun tidak akan mengalami kesulitan dalam menerka jalur yang akan bakal dilewati oleh si pembuat film tatkala menyampaikan cerita. Ada alien turun ke bumi, sesosok ilmuwan berhati kelam berusaha untuk memanfaatkannya, si protagonis yang tadinya tak peduli mendadak terseret ke dalam konflik, si protagonis dipaksa untuk bersatu dengan si alien, dan mereka berdua bersatu padu untuk menumbangkan si ilmuwan. Terdengar sangat familiar, kan? Ya, kita telah menjumpai plot berbasis origin story yang senada seirama seperti ini berulang kali, dan Fleischer bersama ketiga penulis skenario pun enggan memberi modifikasi yang berarti. Mereka memilih untuk melantunkan cerita dengan gaya konvensional yang cenderung lurus-lurus saja tanpa ada kelokan berarti sehingga penonton yang mendamba plot berisi akan berulang kali memutar bola mata – plus menjulurkan lidah – di sepanjang durasi. Tak hanya mudah diterka, narasinya pun kurang mengikat dan mengaplikasikan logika suka-suka gue demi memberikan kesenangan bagi penonton pencari pelipur lara. 

Apakah berhasil? Bagi saya sih, Fleischer sama sekali tak mengecewakan dalam kaitannya mempersembahkan tontonan hiburan bagi penonton. Dia memang pendongeng yang payah (walau masih jauh lebih mendingan ketimbang Fantastic Four (2015) yang sering dijadikan sebagai film pembanding oleh netijen julid), tapi dia jelas bukan penghibur yang buruk. Selepas babak introduksi yang terasa agak kelewat panjang lantaran materinya tidak cukup kuat untuk menambat atensi, Fleischer akhirnya mampu menemukan irama penceritaan yang tepat terhitung sedari ‘bersatunya’ Eddie dengan Venom. Pengejaran terhadap Eddie yang berlangsung di hutan, lalu disusul pengeroyokan terhadap Eddie oleh kroni-kroni Carlton di apartemen Eddie adalah titik balik yang menghantarkan Venom menuju kesenangan total. Kelucuan, keseruan, serta kandungan hiburannya tidak pernah lagi menurun sampai well, klimaksnya yang acak-acakan dan terburu-buru. Saya cukup meyakini ada beberapa diantara kalian yang bertanya-tanya, apa benar Venom semenghibur itu? Jika kamu belum menontonnya dan merasa skeptis, saya tidak menyalahkanmu karena memang ada banyak nada sumbang yang mengatakan bahwa humor di Venom tidaklah lucu, dan laganya pun tak impresif. Mungkin memang saya tidak keberatan mendengar banyolan nyeleneh – atau saya sedang teler, atau pada dasarnya betulan lucu – tapi interaksi antara Eddie dengan si karakter titular sanggup membuat saya tergelak-gelak… begitu pula ratusan penonton lain. 


Mereka sangat ekspresif tatkala menonton Venom, seperti terbahak menyaksikan ribut-ribut kecilnya si Eddie dengan Venom yang bersemayam di dalam tubuhnya dan suaranya terdengar amat jelas di kepalanya, lalu bersemangat melihat sekuens-sekuens laganya yang terbilang asyik. Mengingat Venom adalah satu jenis tontonan yang sangat disarankan ditonton di layar bioskop terbesar dengan jumlah penonton masif, saya beruntung bisa mendapatkan crowd yang tepat (inilah alasan kenapa pengalaman menonton di bioskop sulit tergantikan!) sehingga membantu saya dalam menikmati setiap menitnya. Seruuu! Ya, saking menikmati kandungan hiburannya, saya pun bersedia memberi pengampunan terhadap kualitas naskahnya kurang ciamik. Saya enggan ambil pusing, toh si pembuat film mampu mengompensasinya dengan sektor lain termasuk akting jajaran pemainnya. Performa Michelle Williams beserta Riz Ahmed memang terbilang baik, tapi performa Tom Hardy yang gemilang sebagai Eddie Brock yang angkuh, rapuh, sekaligus ‘sinting’ lah yang menghadirkan satu alasan mengapa Venom masih layak untuk ditebus dengan satu tiket bioskop. Kehadirannya memberikan energi pada film (tak heran saat dia absen di layar, film terasa loyo) terlebih ketika dia berjuang untuk mengontrol tubuhnya yang telah dikuasai oleh Venom. Ada elemen buddy movie yang mencuat dari interaksi mereka berdua, ada pula elemen body horror yang terasa dari perilaku si simbiot yang ganas terhadap manusia. 

Ketimbang mempermasalahkan naskah, saya justru menyayangkan keputusan studio untuk membatasi rating Venom di segmen PG-13. Andai saja Sony memberi kelonggaran, bisa dibayangkan betapa liarnya (dan makin asyiknya) film ini karena kawan Eddie dari planet lain ini tidak saja dibebaskan untuk menyerocos dengan selera humor nyentriknya tetapi juga untuk mempreteli kepala-kepala manusia secara eksplisit tanpa perlu khawatir menampilkan air mancur darah.

Info layanan masyarakat : Venom mempunyai dua adegan bonus di sela-sela dan penghujung end credit dengan durasi cukup panjang. Bertahanlah, bertahanlah.

Exceeds Expectations (3,5/5)


6 comments:

  1. Replies
    1. Iyaaa. Bakalan lebih liar dan asyik tuh.

      Delete
  2. Katanya durasi nya di potong ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Durasi penayangan di bioskop Indonesia? Nggak kok

      Delete
  3. penceritaannya terasa lambat di awal, juga di jalan cerita menuju munculnya Riot. Aku sampe mbatin, iki simbiot kenapa pindah2 orang mulu (Dari mbak2, ke mbah2, sampe bocah)? segmen itu narasinya kurang enak menurutku.
    Emang paling seru kalo dah ada Tom Hardy ketemu venom sih.

    n.b.: aku gagal paham sama dua adegan bonusnya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal kalau narasinya oke, bisa bikin deg-degan tuh. Konsep adegan simbiot pindah-pindah host itu sebenernya keren.

      Soal dua adegan bonus, kalau yang pertama itu musuh besar Venom. Dia dikenal sebagai Carnage. Kalau yang kedua sih cuplikan buat film Sony berikutnya: Spider-Man Into the Spider-Verse yang rilis Desember. Yes, ini film animasi.

      Delete

Mobile Edition
By Blogger Touch