April 26, 2019

REVIEW : AVENGERS: ENDGAME


“We lost. All of us. We lost friends. We lost family. We lost a part of ourselves. This is the fight of our lives.”

Sejujurnya, saya masih agak kesulitan dalam memformulasikan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan seperti apa pengalaman menonton Avengers: Endgame. Yang jelas, instalmen pamungkas dari sepuluh tahun terakhir Marvel Cinematic Universe (MCU) ini merupakan sebuah sajian spektakuler. Saya bisa mencapai kesimpulan demikian karena saya masih bisa dibuat menangis sesenggukan berulang kali (!) sementara di waktu yang sama, diri ini dihujani sederet gangguan yang sungguh mendistraksi fokus berupa:  a) sepasang kekasih di kursi sebelah asyik berdiskusi dengan volume suara cukup kencang seolah-olah sedang berada di kafe, b) krucil-krucil berusia tak lebih dari 5 tahun mengoceh tak karuan yang akhirnya baru berhenti setelah orang tuanya saya tegur, dan c) sinar ponsel yang menyilaukan dari penonton yang tak tahu caranya menurunkan brightness. Bisa dibayangkan dong betapa dongkolnya mesti berhadapan dengan manusia-manusia yang tidak mempunyai kepekaan semacam ini? Anehnya, Avengers: Endgame tetap membawa saya pada pengalaman menonton yang mungkin saja tidak akan dijumpai dalam waktu dekat. Ada banyak gegap gempita yang membuat saya girang bukan main bak bocah cilik yang baru saja diberi mainan baru, ada banyak canda tawa yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal sampai perut mengencang, ada banyak hamparan visual mencengangkan yang membuat rahang saya terjatuh ke lantai, dan ada banyak momen-momen emosional yang membuat saya urung ke toilet lantaran cairan dalam tubuh telah dikeluarkan melalui mata. Berlebihan? Tunggu hingga kalian mengetahui kalau tubuh saya bergetar selama bermenit-menit selepas menonton dan tidak tahu lagi harus mengucap apa.

Dengan impak sedemikian hebat, sudah barang tentu Avengers: Endgame telah melampaui segala ekspektasi yang saya tanamkan untuk film ini. Seusai menyaksikan Avengers: Infinity War (2018), saya sempat dirundung sikap skeptis. I mean, Infinity War sudah keburu menetapkan standar sangat tinggi bagi superhero movies. Pertarungannya liar sampai-sampai planet pun bisa dilempar-lempar seenaknya selaiknya bola basket, Thanos membuktikan bahwa dia adalah definisi dari supervillain yang sesungguhnya, dan babak klimaksnya… phew. Pertempuran di Wakanda beserta momen “I don’t feel so good” akan selalu dikenang oleh para penggila budaya populer sampai kapanpun. Jadi, apa yang bakal dikedepankan oleh Anthony dan Joe Russo selanjutnya demi menghadirkan “salam perpisahan” yang membekas kuat di ingatan para penggemar? Kepenasaran inilah yang menggelayuti benak tatkala hendak menyaksikan Endgame. Terlebih lagi, pihak Marvel Studios pun tidak banyak memberikan bocoran terkait kegilaan-kegilaan seperti apa yang bisa diantisipasi disini. Untuk materi promosi berupa trailer saja, mereka mencomotnya dari 15 menit pertama. Itu berarti, kita tidak diberi bayangan apapun mengenai 165 menit terakhir sekalipun ada beragam teori bermunculan di dunia maya. So exciting, rite? Dan ya, perasaan bersemangat yang membuncah-buncah ini tetap bertahan sampai lampu bioskop dimatikan lalu saya pun tenggelam ke dalam narasi (sampai kemudian disadarkan oleh penonton-penonton menyebalkan di atas kalau ini hanyalah film, damn it!). Ada beragam emosi yang mencuat secara silih berganti sedari menit pembuka sampai menit penutup sehingga sulit bagi saya untuk tidak berujar, “wow, wow, wow!”


Melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh Infinity War, penonton kembali dipertemukan dengan sejumlah personil Avengers yang masih tersisa seperti Tony Stark (Robert Downey Jr.), Steve Rogers (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner (Mark Ruffalo), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), Rocket (Bradley Cooper), James Rhodes (Don Cheadle), serta Clint Barton (Jeremy Renner). Selama setidaknya 30 menit pertama, Endgame memilih untuk menempatkan fokusnya pada fase berduka yang merongrong karakter-karakter ini pasca kegagalan mereka dalam menghentikan Thanos (Josh Brolin) untuk melenyapkan separuh penghuni alam semesta. Kita melihat Tony yang memilih untuk melanjutkan hidup bersama Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) di pedesaan, Bruce yang akhirnya mampu mendamaikan dirinya dengan alter egonya memilih untuk menjalani hidup sebagai selebriti kecil-kecilan, Thor yang mencari pelampiasan guna menutupi rasa bersalahnya lantaran telah gagal menjadi seorang pelindung, serta Steve yang memutuskan untuk membentuk group therapy bagi mereka yang belum mampu menerima kenyataan bahwa orang terkasih telah tiada. Ya, menit-menit awal yang berlangsung dengan nada penceritaan muram dan cenderung depresif ini, si pembuat film berupaya menunjukkan sisi lain dari para personil Avengers yang manusiawi. Mereka berbuat kesalahan, mereka gagal, dan mereka juga terpuruk. Yang kemudian membuat mereka layak menyandang gelar sebagai “pahlawan” adalah kesediaan untuk bangkit dari keterpurukan lalu sebisa mungkin memperbaiki kesalahan di masa lampau meski ada konsekuensi besar yang menanti. Inspiratif? Jelas. Menariknya lagi, Endgame tak hanya mengajak penonton untuk memperbincangkan perihal penerimaan dan melanjutkan hidup, tetapi juga soal keluarga, persahabatan, serta pengorbanan yang seketika menempatkan seri ini sebagai salah satu superhero movie dengan narasi paling kompleks.

Walau mengetengahkan bahan pembicaraan yang tergolong sendu dan gelap, Endgame tak pernah melupakan khitahnya sebagai tontonan superhero yang mengusung sikap optimis sekaligus sajian eskapisme yang bertujuan untuk memberi penghiburan kepada penonton yang membutuhkan obat pelepas penat. Itulah mengapa, sekalipun film merentang panjang hingga 3 jam lamanya, rasa kantuk bukanlah satu hal yang patut dirisaukan. Disela-sela narasi mengenai pergolakan batin yang ada kalanya depresif, Russo bersaudara beserta duo penulis naskah Christopher Markus-Stephen McFeely tak lupa untuk tetap menghadirkan ciri khas dari MCU, yakni humor dan hati. Penonton yang datang ke bioskop semata-mata ingin memperoleh hiburan dapat menjumpainya melalui pertempuran-pertempuran heboh di sepanjang durasi yang lantas mencapai titik kulminasinya pada satu jam terakhir yang membelalakkan mata saking epiknya, dan melalui asupan-asupan humor yang keseluruhannya mampu dilontarkan secara efektif. Entah itu dari celetukan-celetukan para karakter (saya ngakak lepas berderai-derai sewaktu Natasha membahas “email dari rakun”) yang tak sedikit diantaranya turut menyelipkan referensi ke budaya populer maupun dari tindakan-tindakan konyol para personil dimana setiap karakter protagonis diberi kesempatan untuk ngelaba. Paul Rudd sebagai Scott Lang memperoleh jatah terbesar mengingat pembawaan karakternya sendiri memang easygoing, lalu disusul oleh Chris Hemsworth yang bertransformasi dalam wujud Thor yang belum pernah kalian lihat sebelumnya, Mark Ruffalo kembali melipur lara penonton berkat interpretasinya sebagai Hulk yang sekali ini mampu mengelola emosi, dan Bradley Cooper juga lucu dalam menyuarakan Rocket yang ceriwisnya bukan kepalang. Kocak, kocak, kocak.


Berkelindan bersama segala kemeriahan medan pertempuran dan adu ngebanyol adalah sederet elemen dramatik yang membuat hati mencelos. Salah satu yang menjadi favorit saya secara pribadi (well, ini mungkin akan bersifat spoiler karena adegannya sendiri tak pernah dipromosikan) adalah ketika para personil Avengers memiliki kesempatan untuk menjelajah waktu ke tahun-tahun lampau demi mencuri “batu akik ajaib” agar tak jatuh ke tangan raksasa ungu berdagu getuk lindri tersebut. Diniatkan sebagai momen untuk bernostalgia dan penghormatan terhadap fase-fase MCU terdahulu, sebagian adegan yang muncul dalam misi penjelajahan waktu ini memiliki tonjokan hebat ke emosi. Adegan-adegan yang saya maksud antara lain saat Thor mendapat kesempatan untuk mengucap salam perpisahan kepada ibunda di menit-menit terakhir sebelum beliau berpulang, ketika Tony memperoleh quality conversation bersama ayahanda yang tak pernah dibayangkannya, serta tatkala Steve bisa melihat langsung belahan jiwanya. Disamping performa hebat dari jajaran pemain khususnya Robert Downey Jr. (serius, dia layak diganjar nominasi Oscar!), Chris Hemsworth, Chris Evans, Scarlett Johansson, dan Paul Rudd, kesanggupan penonton untuk menginvestasikan emosi pada banyak adegan merupakan hasil kerja keras para tim dalam membangun MCU selama sepuluh tahun terakhir secara terstruktur. 

Kita melewatkan banyak waktu bersama para personil Avengers, kita menyaksikan mereka bertumbuh sebagai karakter, kita mendengar kisah hidup mereka, dan kita pun menjadi saksi kunci atas perjuangan-perjuangan mereka yang tak pernah sekalipun mudah. Tanpa pernah disadari, mereka telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Maka begitu Endgame menghamparkan pertarungan terakbar dalam sejarah hidup setiap personil, sulit untuk membendung air mata. Ada kebahagiaan karena film memunculkan karakter-karakter favorit dalam satu titik, ada kebanggaan bisa melihat mereka sanggup mencapai posisi ini, dan ada kesedihan karena kemungkinan untuk tak lagi berjumpa terbuka begitu lebar. Saat film akhirnya mencapai ujung durasi, saya hanya bisa berkata lirih, “thank you, Stan Lee! Thank you, MCU! I love you 3000”. Endgame jelas merupakan persembahan yang sangat istimewa untuk para penggemar MCU yang telah setia menemani selama satu dekade terakhir. Jika saja saya menonton film ini bersama orang-orang terkasih, saya mungkin langsung memeluk mereka erat-erat setelah lampu bioskop dinyalakan. 

Note : Tidak ada adegan tambahan, tapi ada tribute kepada “The Original 6” di end credit yang mengharukan.

Outstanding (5/5)


63 comments:

  1. gilee...sempurna 5/5...ckckck..ntah marvel bisa ngulangin lagi atau tidak kedepannya yg seperti ini..nice review bang salam 3000 love..hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bagus sih, Marvel bisa lah ngulangin dalam waktu dekat. Tapi kalau yang sedahsyat ini, hmmm... Mari ditunggu saja. Penasaran sih gebrakan mereka di fase selanjutnya kayak apa.

      Delete
  2. Saya abis nguber cari action figure thor di end game..ga ada yg kayak di film nya...😅😅 bisa limited edition tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahahaha. Kalau dikeluarin bakal diburu banyak penggemar sama kolektor tuh. Unik sih 😂

      Delete
  3. Sekarang saya tau kalo mau nonton film ini sebaiknya jam paling malem, biar ga keganggu ya. masih nunggu seminggu lagi nih om,soalnya kehabisan muluuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Antara paling malem atau paling pagi. Yang jelas jangan pas hari libur sekolah. Rentan disusupi bocah-bocah.

      Delete
  4. Mksh review nya bang.. dan w setuju seratus persen..

    ReplyDelete
  5. durasi awal berasa dark kirain baru nonton DCEU 🤣 tapi lama kelamaan makin asik dengan rajutan kisahnya walau alurnya berasa lambat... love you 3000, MCU, g ada review hellboy bang? wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak nonton Hellboy nih. Gara-gara banyak yang ngeluhin soal sensor, jadi males. Ntar saja nunggu nongol di donlotan. Bahahaha.

      Delete
  6. Setelah saya menemukan Cinetariz menggunakan huruf Bold diantara paragraf yg saya baca, kemudian ada kata yang mematikan, seperti mantra Voldemort "Avada Kedavra" (baca : spoiler), saya langsung scroll secara cepat sambail merem ke end page, dan langsung melotot di rating. Damn, baru kali ini Cinetariz menggunakan spoiler. Btw, saya silent reader Cinetariz, yg lagi nunggu banget review film yg digadang2 gemgap gempita ini. Terimakasih sudah memilihkan film2 yg bagus, karna dari sekian banyak film yg saya tonton adalah film yg diberi rating minimal 4.5 dari Cinetariz. Takuut nyesel kalo ke bioskop, wkwkw.

    Insyaallah, cuss langsung nonton!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih udah jadi pembaca setia Cinetariz 🙏

      Sebenernya sih, yang aku tulis di atas bukan major spoiler. Tapi berhubung emang nggak dimunculin di materi promosi, aku pilih kasih warning karena bisa jadi ada yang berharap tidak tahu menahu. Akhir-akhir ini cukup sering kok pakai spoiler, kalau parah, biasanya sudah aku pasang di awal.

      Ditunggu kesan kesannya setelah nonton yaaa.

      Delete
  7. Berkali-kali mewek, bang. Apalagi melihat gimana ekspresi si 'bocah ceplas ceplos' pas mendekati si 'bapak' dan bilang "kita menang!", Ya Allah... Banjir, bang!
    Bangga bisa bersama menyaksikan MCU mulai awal sampai Endgame. Bahkan film ini sudah saya tempatkan di list teratas FILM TERBAIK SEPANJANG MASA YANG PERNAH SAYA TONTON!

    EPIC!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adegan ituuu... 😭😭😭

      Banyak banget adegan yang bikin mewek disini sampai ngerasa. INI FILM MELODRAMA APA YAAAA? Di awal-awal aja udah mbrebes mili, adegan Thor ketemu ibunya itu parah banget. Begitu masuk 1 jam terakhir emang gila. Lha wong lihat credit title aja mewek 😭😭😭

      Delete
    2. Yup... Gini kali ya kali udah cinta banget. Liat nama sama pic nya aja Ampe mewek😁
      Pas Falcon bilang; liat ke kiri, capt. Terus keluar atu2... Mewek! Yaelah... Cengeng bener kayaknya aku ini🤣

      Delete
  8. mencuri “batu akik ajaib” agar tak jatuh ke tangan raksasa ungu berdagu getuk lindri...wkwkwkwk..luar biasa reviewnya bang...ga sabar buat nonton filmnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Terima kasih. Tapi memang itulah yang terbersit di pikiran saat melihat infinity stones dan dagunya Thanos 🤣

      Delete
  9. Suka sekali dgn konsep cerita yg di ada dilm endgame ini,, gak nyakah bakal begitu... Banyak adegan yg buat kita bernostalgia.. tapi kalo boleh jujur saya agak kecewa dgn adegan action nya yg tdk terlalu banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, masa adegan aksi gila-gilaan di 1 jam terakhir masih kurang banyak? 😅

      Delete
    2. Iya harus nya lebih banyak,,, karena di infinity wars kemaren sdh banyak jadi berharap lebih action nya endgame ini. Tapi dibalik semua itu saya suka,,, alur ceritanya keren gak mudah ditebak dan banyak momen emosional nya. 😊😊😊

      Delete
    3. Konsekuensi, si pembuat film juga perlu memasukkan elemen dramatik ke film. Kalau porsi laganya ditambah, berpotensi mengurangi jatah momen-momen emosional yang ingin ditonjolkan.

      Delete
  10. Sudah nonton tp gak sempat lihat end creditnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan yang penting juga sih karena sifatnya tribute. Tapi ada sisi emosional di dalamnya yang membuatnya istimewa.

      Delete
  11. kalau IW lebih terasa action, intense, makan End Game lebih terasa mellow & drama. Kalau baca review2 Kaskus banyak yang lebih suka IW karena lebih banyak actionnya. Kalau lebih suka drama, bakal cocok sama EG, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Elemen dramanya emang wajib ada sih. EG nggak bakal sekuat itu kalau cuma nonjolin sisi laganya saja. Mesti ditunjukkin gimana impak dari momen "I don't feel so good" di film sebelumnya.

      Delete
  12. Wauw gila.
    Cinetariz kasih review 5/5.
    Sempurna...
    Kayaknya baru kali ini deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keluarga Cemara kalau ga salah 5..

      Delete
    2. Keluarga Cemara aku kasih 4,5.

      Kalau sejak blog ini berdiri, aku kasih 5 buat Life of Pi, La La Land, Toy Story 3, sama A Separation.

      Delete
    3. Tapi direview Keluarga cemara rate nya 5/5 min 😁😁

      Delete
    4. Oh iya. Kelupaan kalau ngasih 5/5 buat KC. Hahaha.

      Delete
  13. Makasih bang udah ngereview film ini. Minggu ini harus nonton. Baru kali ini lihat Cinetariz ngasih rating 5... 🤩🤩🤩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya udah pernah beberapa kali kok. Yang pertama Toy Story 3.😀

      Delete
  14. Filmnya bagus dan seru tp masih ada yg mengganjal di hati makanya poin sy 8/10
    1. Ada inkonsisten mengenai time travel, Bruce Banner menjelaskan bahwa konsep time travel berbeda seperti di film2 macam back to the future, merubah masa lalu tdk akan mempengaruhi masa depan, ini saat adegan ada ide membunuh bayi thanos agar peristiwa jentikan jari tdk terjadi. Namun di ending saat capt kembali ke masa lalu utk bertemu kekasihnya dan balik lagi menjadi tua dan mewariskan tamengnya itu sungguh bikin gw gak ngerti.

    2. Scott lang yg terjebak di medan quantum, akhirnya bisa kembali lagi setelah 5 tahun dan mendapati putrinya sdh remaja, tp kenapa Peter Parker yg kembali lagi setelah menjadi debu dpt kembali lagi ke sekolahnya? Harusnya dia sdh lulus krn sdh melewati kurun waktu 5 tahun dan teman2nya yg tdk terkena jentikan jari sdh pada kuliah

    3. Kemana Lady Sif ksatria asgardian, dia terakhir muncul di dark world, menghilang di ragnarok dan tdk ada penjelasan baik di IW maupun End Game

    Mohon penjelasannya kali aja sy yg melewatkan detailnya krn nonton midnight

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku coba jawab yaa.
      1. Captain nggak pernah diperlihatkan balik lagi lewat portal. Mungkin nunggu konfirmasi dari pembuat film untuk jawaban pastinya, tapi asumsiku, dia bertahan di masa lalu tanpa pernah kembali. Jadi dia menua secara organik lalu akhirnya memutuskan untuk menemui Avengers tepat di saat dia pergi ke masa lampau.

      2. Korban jentikkan jari Thanos tidak menua kan? Ingat saat Peter bilang kalau hal terakhir yang diingatnya adalah dia pingsan? Sebagian besar teman Peter, aku rasa juga bernasib sama dengannya jadi wajar saat mereka melanjutkan hidup seperti terakhir kali mereka meninggalkannya.

      3. Kalau ini udah dikonfirmasi oleh pihak berkepentingan. Alasan dia menghilang di Ragnarok semata-mata karena jadwal syutingnya bentrok lalu dia menjadi korban di IW. Bisa jadi alasan kenapa dia tidak muncul di EG karena perannya tidak memiliki impak pada penceritaan.

      Delete
    2. 1. Kalau Capt kembali ke masa lalu berarti ada 2 kapten amerika, satu yg beku dlm es dan satu lagi yg datang dari masa depan. Ingat konsep time travelnya gak sama dgn back to the future dll, jd seandainya pun capt memilih bertahan di masa lalu demi hidup bahagia dgn kekasihnya, ini tdk mempengaruhi apapun di masa depan krn mereka berbeda realitas. Seperti halnya nebula baik membunuh nebula jahat, nebula baik tdk ikut terbunuh krn mereka berbeda realita

      2. Justru krn yg terkena snap thanos tdk menua makanya aneh, kecuali memang 1 sekolahan itu terkena snap thanos. Jadi maksud sy, peter harusnya sdh tdk mengenali teman2 di sekolahnya karena dia sdh menghilang selama 5 tahun, teman2nya harusnya sdh pada tamat sekolah.

      3. Oke lah kalau alasannya itu.


      Oiya satu lagi yg bikin gw mikir, apabila di alam quantum perhitungan waktunya berbeda dgn di dunia, dimana di alam quantum waktu berjalan lebih lambat. Ada yg aneh dgn hal tsb, knp The Wasp senior, istri Hank Phym saat berhasil keluar fisiknya ikut menua seperti halnya suaminya?

      Delete
    3. 1. Yap, ada dua. Ingat nggak kalau suami Peggy nggak pernah disebutin identitasnya? Atau ada foto Steve di meja kerja Peggy sementara waktu itu dia sudah bersuami? Jadi Steve memang akhirnya memilih bertahan dengan Peggy sampai batas waktu tertentu lalu akhirnya kembali ke Avengers. Aku nggak yakin benar-benar paham dengan pertanyaanmu, jadi maksudnya, seandainya Steve tidak balik pun tidak jadi soal atau bagaimana?

      2. Pertanyaannya: bagaimana kalau ternyata seluruh sekolah menjadi korban? Kalaupun sebagian besar, itu artinya sebagian besar diantaranya masih bertahan di SMA. Aku tidak melihat ini sebagai plot holes yang perlu dirisaukan apalagi dalam waktu dekat Peter bakal balik.

      Soal quantum realm, alasan dari Kevin Feige sih sesederhana agar bisa merekrut Michelle Pfeiffer. Hahaha. Tapi lebih serius, ada lapisan-lapisan berbeda di quantum realm yang tidak sesederhana seperti penjelasan Scott. Bagaimana jika ternyata lapisan yang dimasuki oleh Janet mempunyai aturan waktu berbeda?

      Delete
    4. Saat steve roger memutuskan balik ke masa lalu, itu artinya di masa kini sdh gak ada lagi steve roger di realita masa kini. Jadi aneh kalau selama ini ada steve roger tua yg hidup di realita yg sama dgn para avengers. Karena meskipun steve yg balik ke masa lalu dan menikahi peggy dan menua bersama tidak akan mempengaruhi apa2 di realita masa kini (seperti penjelasan prof Hulk mengenai konsep time travel di film ini)

      Delete
    5. Kemungkinan paling masuk akal adalah Steve menggunakan portal dari dimensi berbeda untuk berpindah ke masa kini sehingga dia bisa menyerahkan 'tongkat estafet' ke Falcon dan bereuni dengan Avengers. Russo bersaudara udah mengonfirmasi, plot ini kemungkinan besar akan dijawab di film atau serial MCU berikutnya.

      Delete
    6. Steve pakai quantum realm buat balik ke timeline awal, min. Doi kan ngambil pym particle lebih di tahun 70 an jadi dia bisa balik lagi buat nemuin temen temennya

      Delete
  15. abis filmnya kelar, pengen meluk superheronya satu2 (kecuali Thor). That was a beautiful sayonara. Indah, tapi mengiris2.
    eh tapi, ada yg agak maksa menurutku (kalo boleh dibilang begitu), pas bagian ant man "dibalikin sm tikus". wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kenapa Thor nggak dipeluk? Padahal gembul gitu kan malah enak buat dipeyuk-peyuk. 😂

      Delete
    2. Masih mending dibalikin ama tikus...tp mesin itu nyala 5 taon yg bikin kepikiran akinya kuat bener.saya lupa nyalain lampu senja pas ke kantor aja pas pulang aku udh tekor...hahaha

      Delete
    3. Heiii... mereka saja bisa bikin portal lintas waktu lho. Masa bikin aki tahan lama tak bisa?

      Delete
  16. AKU UDAH NONTON! top 5 besar film yg terbaik yg aku tonton sepanjang masa.

    Btw vision kenapa ga balik ya? Lalu, kenapa ujuk2 batu akik nya bisa pindah ke tangan iron man? Dan bukannya valkyrie udah mati ya di awal IW (kan di film thor orang2 asgard pada ke kapal yang akhirnya dibantai pada openingnya IW). Terus, apakah berarti captain america itu gaada krn si steve pindah ke tahun 70an? Apalagi yaaa... Loki dan ibunya thor apa tetap mati?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lalu maksudnya si doctor strange bilang 1 dibanding 40000 kali ini dia bilang "kalau aku kasih tau ga bakal terjadi" apa ya? Si hawkeye ngapain bunuh2 orang?

      Delete
    2. Holaaa... Aku coba jawab pertanyaanmu atu-atu yaa.

      1. Vision sudah mati di Infinity War dan bukan karena snap. Ingat kan sewaktu Thanos mencabut mind stone darinya?
      2. Bukan ujuk-ujuk pindah. Iron Man merebutnya dalam 'pergelutan kecil' dengan Thanos dari alternate timeline.
      3. Emang Valkyrie pernah dilihatin mati? Orang-orang Asgard nggak semuanya mati lho. Yang selamat, bisa kamu lihat di desa Asgard.
      4. Captain America tetap ada karena dia pergi ke alternate reality dan sejarah tidak dirubah. Di ending dia juga kembali kan?
      5. Loki dan ibunya tetap mati.
      6. Karena Doctor Strange tahu kalau satu-satunya kemungkinan mereka menang adalah dengan Iron Man/Tony Stark . Jika dia mengatakannya, ada kemungkinan Tony atau karakter lain akan berusaha mengubahnya sehingga kemenangan itu urung didapat.
      7. Depresi. Hawkeye punya alter ego lain bernama Ronin yang salah satu tugasnya adalah menghabisi para kriminal. Ini cara dia berdamai dengan duka sekaligus menegakkan keadilan.

      Delete
  17. Btw aku kecewa banget si captain marvel sekilas doang disini. Padahal doi sendiri di film origin nya kurang greget. Eh disini malah bentar banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Captain Marvel jelas dipersiapkan buat fase keempat. Di Endgame ini emang lebih ditekankan untuk the original 6 (Iron Man, Captain America, Hulk, Thor, Black Widow, Hawkeye).

      Delete
  18. Dengan adanya konsep time travel di MCU seperti sekarang semuanya menjadi mungkin dan tidak pernah benar2 selesai, semua karakter yang mati juga pada akhirnya bisa dihidupkan kembali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, karakter komik apalagi superhero emang nggak sekaku itu sih. Jadi tanpa adanya plot time travel, karakter yang sudah mati pun bisa dihidupkan kembali . Ingat Superman di Justice League?

      Delete
  19. Kalau saya bang akan ngasih ⭐⭐⭐⭐ bintang.. bukan film yang sempurna menurut saya.. Actionnya tidak seepic Infinity War, atau Civil War atau The Avengers..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dimengerti sih karena tiga judul itu ada unsur unpredictable. Tapi buatku sih, Endgame ini gila. Apalagi saat korban snap muncul dan para superhero perempuan bersatu. That's what I called legendary moment.

      Delete
  20. Apa saya sendiri yang ngerasa film ini biasa2 aja, tipikal banget perang kolosalnya diakhir, dramanya kepanjangan, makin nggak jelas ngeliat Thor jadi mirip Obelix, Lang berubah2 jadi orok terus jadi kolot, Thanos pake kaos oblong (seinget saya dulu waktu di GOTG ni orang serem banget), Hulk yang jadi selebriti, Captain America bisa bawa Mjolnir...bikin saya nguap beberapa kali, mana orang disebelah saya bikin silau karena main hape mulu, anak2 mondar mandir...hehe
    #thedarkknightforever

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nontonnya kurang fokus si Abang..

      Delete
    2. Nggak ada yang salah kok dengan adegan-adegan itu. Menghibur sekali dan masih sesuai konteks. Mungkin kamu sudah keburu bete karena terganggu sama penonton di sebelah? Atau memang pada dasarnya tidak menyukai humor-humor receh?

      Delete
    3. Geez. Get a life, digdigger! You're taking it too serious. Those scenes are not even minor flaws and you hate this movie because of that? Really

      Delete
    4. @cinetariz : saya berharap epic-nya bakal sekelas The Return Of The King
      @Desi Maharani : There are no superhero movies like The Dark Knight Trilogy

      Delete
  21. Setuju ga kawan2 disini jika saya katakan film End Game big Plot Hole nya ada di konsep Time Travel..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak bisa dibilang plot hole juga sih selama masih dapat dijelasin dan nggak dirubah sesuka hati. Minor plot hole mungkin, tapi big plot hole sih nggak ya. Kalau big, filmnya udah kacau balau kemana mana.

      Delete
    2. Dikit dikit plot hole, dikit dikit plot hole. Masnya ngerti nggak maksud plot hole itu apa? Nonton lagi gih biar nggak langsung ngecap plot hole padahal jawabannya ada di film

      Delete
    3. Dasar Lebay Plot hole sok ngerti bahasa inggris, kontol mu goblok!!!!!.

      Delete
  22. I agree 100% with your review, min. Kayaknya ada berkali kali aku melongo sambil ngusap air mata saking epiknya. Kalau ngikutin dari awal, Endgame ini kerasa banget emosinya. Sumpah epic! Nggak paham lagi sama yang bilang film ini kebanyakan drama lah kebanyakan ngomong lah. Kalau nggak gitu ya nggak kerasa emosinya malihhhhh... Heran. Ntar kalau isinya berantem doang guyonan doang, diserang juga. Dasar netizen sok kritis. Sori jadi emosi min. Habis film sebagus ini masih ada aja yang nyacat.

    ReplyDelete
  23. https://www.kompasiana.com/bioskopkerenindoxxi/5cc2b96f3ba7f72d1c1fbcb2/bioskopkeren-indoxxi-review-avengers-end-game

    min cek link itu, kok bahasa review nya sama persis yak. apa emang mimin yang nulis?.

    btw saya stuju dengan review anda. baca sambil senyum senyum. pas email rakun juga, tapi mnurut saya yang bikin ngakak malah adegan nebula pas ngomong ada orang gila di landasan mendarat itu, hahah...

    nnton 2 kali sya. soalnya pas pertama salah ajak temen. nanya terus sepanjang film. ini siapa?, muncul karakter nanya lagi, hadehhh...

    Nungguin, final gross pendapatan film ini yg udah ngalahin titanic. semoga avatar kkedepak dari posisi pertama, heee

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch